Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

SURVEILANS EPIDEMIOLOGI

Disusun Oleh:
Kevin Kenny - 0915146

Pembimbing:
dr. July Ivone, M.K.K, M.Pd. Ked.

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
BANDUNG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

Keberhasilan pembangunan Indonesia sangat ditentukan oleh ketersediaan sumber daya


manusia, yang berkualitas, dimana pembangunan sektor kesehatan merupakan salah satu unsur
penentu. Kesehatan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang perlu terus mendapat
perhatian. Untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas, masyarakat harus bebas
dari berbagai penyakit, termasuk penyakit menular yang masih menjadi hal yang terus
diupayakan untuk diselesaikan. Dalam rangka perencanaan, pengendalian, dan evaluasi
pelaksanaan kegiatan kesehatan terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan serta kondisi
yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit perlu dilakukan surveilans
epidemiologi. (5)(4)(2)
Prioritas surveilans penyakit yang perlu dikembangkan adalah penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi, penyakit yang potensial menimbulkan wabah atau kejadian luar biasa,
penyakit menular dan keracunan, demam berdarah dan demam berdarah dengue, malaria,
penyakit-penyakit zoonosis antara lain antraks, rabies, leptospirosis, filariasis serta tuberkulosis,
diare, tipus perut, kecacingan dan penyakit perut lainnya, kusta, frambusia, penyakit HIV/AIDS,
penyakit menular seksual, pneumonia, termasuk penyakit pneumonia akut berat (severe acute
respiratory syndrome), hipertensi, stroke dan penyakit jantung koroner, diabetes mellitus,
neoplasma, penyakit paru obstuksi menahun, gangguan mental dan gangguan kesehatan akibat
kecelakaan. (6)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Pengertian Surveilans Epidemiologi


Surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus-menerus
terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi
terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut,
agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses
pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada
penyelenggara program kesehatan. (6)
Mulai tahun 1950 istilah surveilans dipakai dalam hubungan suatu penyakit seluruhnya
dan bukan pada penderita saja. Program pemberantasan penyakit yang dijalankan pertama
kali adalah program untuk penyakit malaria, cacar, dan kusta. Cara untuk mengetahui
keberhasilan dari program tersebut adalah dengan melihat menurunnya jumlah kejadian dan
dimana terdapat kejadian tersebut. Karena surveilans ini memerlukan ilmu epidemiologi,
maka kemudian disebut epidemiological surveillance, yang dalam bahasa Indonesia
diterjemahkan menjadi surveilans epidemiologi. Dengan demikian, surveilans epidemiologi
mencakup keterangan-keterangan mengenai penderita, tempat, waktu, keadaan vektor, dan
faktor-faktor lain yang ada hubungannya dengan penyakit. (3)
Surveilans epidemiologi dapat disimpulkan dengan ciri sebagai berikut:
Pengumpulan data epidemiologi yang sistematis dan teratur secara terus-menerus
Pengolahan, analisis, dan interpretasi data yang telah didapat yang menghasilkan
suatu informasi
Penyebaran hasil informasi (perolehan data) kepada orang-orang atau lembaga yang
berkepentingan
Menggunakan informasi (data) tersebut dalam rangka memantau, menilai, dan
merencanakan kembali program-program atau pelayanan kesehatan

1.2 Ruang Lingkup Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan


Masalah Kesehatan dapat disebabkan oleh berbagai sebab, sehingga tidak dapat
diselesaikan oleh sektor kesehatan sendiri dan diperlukan tatalaksana terintegrasi dan
komprehensif dengan kerjasama yang harmonis antar sektor dan antar program. Untuk itu
dikembangkan subsistem surveilans yang terdiri dari: (5)
1. Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular
Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit menular dan faktor
risiko untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit menular.
2. Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular
Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit tidak menular dan
faktor risiko untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit tidak menular.
3. Surveilans Epidemiologi Kesehatan Lingkungan dan Perilaku
Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit dan faktor risiko
untuk mendukung program penyehatan lingkungnan.
4. Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan
Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap masalah kesehatan dan faktor
risiko untuk mendukung program-program kesehatan tertentu.
5. Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra
Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap masalah kesehatan dan faktor
risiko untuk upaya mendukung program kesehatan matra.

1.3 Sasaran Penyelenggaraan Surveilans Epidemiologi


Secara rinci sasaran penyelenggaraan sistem surveilans epidemiologi kesehatan
adalah sebagai berikut: (5)
1. Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular
Prioritas sasaran penyelenggaraan surveilans epidemiologi penyakit menular
adalah :
a. Surveilans penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
b. Surveilans AFP
c. Surveilans penyakit potensial wabah atau kejadian luar biasa penyakit
menular dan keracunan
d. Surveilans penyakit demam berdarah dan demam berdarah dengue
e. Surveilans malaria
f. Surveilans penyakit-penyakit zoonosis, antraks, rabies, leptospirosis dan
sebagainya
g. Surveilans penyakit filariasis
h. Surveilans penyakit tuberkulosis
i. Surveilans penyakit diare, tipus perut, kecacingan dan penyakit perut lainnya
j. Surveilans penyakit kusta
k. Surveilans penyakit frambosia
l. Surveilans penyakit HIV/AIDS
m. Surveilans penyakit menular seksual
n. Surveilans penyakit pnemonia, termasuk penyakit pneumonia akut berat
(severe acute respiratory syndrome)
2. Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular
Prioritas sasaran penyelenggaraan surveilans epidemiologi penyakit tidak
menular adalah :
a. Surveilans hipertensi, stroke dan penyakit jantung koroner
b. Surveilans diabetes mellitus
c. Surveilans neoplasma
d. Surveilans penyakit paru obstuksi kronis
e. Surveilans gangguan mental
f. Surveilans kesehatan akibat kecelakaan
3. Surveilans Epidemiologi Kesehatan Lingkungan dan Perilaku
Prioritas sasaran penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan
lingkungan dan perilaku adalah :
a. Surveilans sarana air bersih
b. Surveilans tempat-tempat umum
c. Surveilans pemukiman dan lingkungan perumahan
d. Surveilans limbah industri, rumah sakit dan kegiatan lainnya
e. Surveilans vektor penyakit
f. Surveilans kesehatan dan keselamatan kerja
g. Surveilans rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan lainnya, termasuk
infeksi nosokomial
4. Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan
Prioritas sasaran penyelenggaraan surveilans epidemiologi masalah kesehatan
adalah :
a. Surveilans gizi dan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG)
b. Surveilans gizi mikro kurang yodium, anemia gizi besi, kekurangan vitamin A
c. Surveilans gizi lebih
d. Surveilans kesehatan ibu dan anak termasuk reproduksi.
e. Surveilans kesehatan lanjut usia.
f. Surveilans penyalahgunaan obat, narkotika, psikotropika, zat adiktif dan
bahan berbahaya
g. Surveilans penggunaan sediaan farmasi, obat, obat tradisionil, bahan
kosmetika, serta peralatan
h. Surveilans kualitas makanan dan bahan tambahan makanan

5. Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra


Prioritas sasaran penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan matra
adalah :
a. surveilans kesehatan haji
b. Surveilans kesehatan pelabuhan dan lintas batas perbatasan
c. Surveilans bencana dan masalah sosial
d. Surveilans kesehatan matra laut dan udara
e. Surveilans pada kejadian luar biasa penyakit dan keracunan

1.4 Tujuan Umum dan Khusus Surveilans


Adapun tujuan umum surveilans adalah: (8)
Menilai status kesehatan masyarakat
Menentukan prioritas kesehatan masyarakat
Mengevaluasi program
Melaksanakan riset
Adapun tujuan khusus dari surveilans adalah: (8)
Menganalisis keadaan penyakit yang ditelitinya. Jika dalam pengamatan masih
didapatkan kasus baru, berarti keadaan penyakit belum dapat diatasi

Pekerjaan surveilans dihentikan bila dalam waktu dua kali masa tunas tidak
ditemukan lagi kasus tersebut

1.5 Kegunaan Surveilans Epidemiologi


Surveilans epidemiologi pada umumnya digunakan untuk (3):
Mengetahui dan melengkapi gambaran epidemiologi dari suatu penyakit
Menentukan penyakit mana yang diprioritaskan untuk diobati atau diberantas
Memprediksi terjadinya wabah
Menilai dan memantau pelaksanaan program pemberantasan penyakit menular
dan program-program kesehatan lainnya, seperti program mengatasi kecelakaan,
program kesehatan gigi, program gizi, dan lainnya
Mengetahui jangkauan atau cakupan dari pelayanan kesehatan

1.6 Unsur-Unsur Surveilans Epidemiologi


Kegiatan surveilans dapat berjalan dengan baik, karena adanya unsur yang
mendukung. Unsur tersebut merupakan data yang dikumpulkan dari berbagai sumber.
Adapun unsur-unsur tersebut, antara lain: (3)
a. Pencatatan Kematian
Pencatatan kematian yang dilakukan di tingkat desa dilaporkan ke tingkat
kelurahan seterusnya ke tingkat kecamatan dan puskesmas, lalu selanjutnya
dilaporkan ke kabupaten daerah tingkat II. Pada beberapa daerah tertentu, Amil
( yang memandikan mayat) berperan dalam melaporkan kematian tertentu di desa-
desa. Beberapa seminar di Indonesia telah diadakan pula untuk menilai dan
membahas usaha untuk meningkatkan kelengkapan pencatatan kematian, yang
validitasnya relative lebih baik karena didiagnosis oleh dokter. Unsur ini akan
bermanfaat bila data pada pencatatan kematian itu cepat diolah dan hasilnya
segera diberitahukan kepada yang berkepentingan.

b. Laporan Penyakit
Unsur ini penting untuk mengetahui distribusi penyakit menurut waktu,
apakah musiman atau siklus. Dengan demikian dapat diketahui pula ukuran
endemis suatu penyakit. Bila terjadi lonnjakan frekuensi penyakit melebihi ukuran
endemis berarti terjadi kejadian luar biasa pada daerah atau lokasi tertentu.
Macam data yang diperlukan sesederhana mungkin, variable orang hanya
diperlukan data mengenai nama dan umurnya, sedangkan variable tempat hanya
diperlukan data mengenai alamatnya. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah
diagnosis penyakit dan kapan mulai timbulnya penyakit tersebut.
c. Laporan Wabah
Penyakit tersebut terjadi dalam bentuk wabah, misalnya keracunan
makanan, influenza, demam berdarah, dan lainnya. Laporan wabah dengan
distribusi penyakit menurut waktu, tempat, dan orang, penting artinya untuk
menganalisis dan menginterpretasikan data dalam rangka mengetahui sumber dan
penyebab wabah tersebut.
d. Pemeriksaan Laboratorium
Laboratorium merupakan suatu sarana yang penting untuk mengetahui
kuman penyebab penyakit menular dan pemeriksaan tertentu untuk penyakit-
penyakit lainnya, misalnya kadar gula darah untuk penyakit diabetes mellitus,
trombosit untuk penyakit demam berdarah, dan lainnya.
e. Penyakit Kasus
Penyelidikan kasus dimaksudkan untuk mengetahui riwayat alamiah
penyakit yang belum diketahui secara umum yang terjadi pada seorang atau lebih
individu.
f. Penyelidikan Wabah atau Kejadian Luar Biasa
Bila terjadi lonjakan frekuensi penyakit yang melebihi frekuensi biasanya,
maka perlu diadakan penyelidikan wabah pada tempat dimana bila diadakan
analisis data sekunder, dapat diketahui terjadinya peningkatan kasus, untuk itu
diperlukan diagnosis klinis dan laboratoris disamping penyelidikan epidemiologi
di lapangan. Wabah sering dikenal dengan istilah kejadian luar biasa (KLB).
Kejadian luar biasa adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian
kesakitan dan/atau kematian yang bermakna secara epidemiologi pada suatu
daerah dalam kurun waktu tertentu, dan merupakan keadaan yang dapat menjurus
pada terjadinya wabah. (7)
Penderita atau tersangka penderita penyakit yang dapat menimbulkan KLB
dapat diketahui jika dilakukan surveilans yang merupakan kegiatan pengamatan
yang dilakukan secara teratur, teliti, dan terus-menerus, meliputi pengumpulan,
pengolahan, analisi (interpretasi), penyajian data, dan pelaporan. Apabila hasil
pengamatan menunjukkan adanya tersangka, maka perlu diadakan penyelidikan
epidemiologis, yaitu semua kegiatan yang dilakukan untuk mengenal sifat-sifat
penyebab dan faktor-faktor yang dapat memengaruhi terjadinya dan
penyebarluasan KLB tersebut disamping tindakan penanggulangan seperlunya.
Penyakit yang dimaksud dalam hal ini, yaitu semua penyakit menular yang dapat
menimbulkan KLB serta penyakit akibat keracunan makanan atau keracunan
lainnya, yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
Timbulnya suatu penyakit atau penyakit menular yang sebelumnya tidak
ada atau tidak dikenal
Peningkatan kejadian penyakit atau kematian terus-menerus selama 3
kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu,
bulan, tahun)
Peningkatan kejadian penyakit atau kematian, dua kali atau lebih
dibandingkan dengan periode sebelumnya (hari, minggu, bulan, tahun)
Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikkan dua kali
lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dari
tahun sebelumnya
Case Fatality Rate (CFR) dari suatu penyakit dalam suatu kurun waktu
tertentu menunjukkan kenaikkan 50% atau lebih disbanding CFR dari
periode sebelumnya
Propotional Rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentu
menunjukkan kenaikkan dua kali atau lebih dibanding periode yang sama
dan kurun waktu atau tahun sebelumnya.
Beberapa penyakit kusus: Kolera, DHF/DSS
o Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah
endemis)
o Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4
minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari
penyakit yang bersangkutan
Beberapa penyakit yang dialami oleh satu atau lebih penderita
o Keracunan makanan
o Keracunan pestisida
Penanggulangan KLB dikenal dengan nama Sistem Kewaspadaan Dini
(SKD-KLB), yang merupakan upaya KLB secara dini dengan melakukan
antisipasi KLB. Kegiatan yang dilakukan berupa pengamatan yang sistematis dan
terus-menerus yang mendukung sikap waspada atau tanggap yang cepat dan tepat
terhadap adanya suatu perubahan status kesehatan masyarakat, pengumpulan data
kasus baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi terjadi KLB secara mingguan.
Data-data yang telah terkumpul dilakukan pengolahan dan analisis untuk
penyusunan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi.
g. Survei
Suatu cara penelitian epidemiologi untuk mengetahui prevalensi penyakit.
Dengan ukuran ini dapat diketahui luasnya masalah penyakit tersebut. Bila setelah
survei pertama dilakukan pengobatan terhadap penderita, maka dengan survei
kedua dapat ditentukan keberhasilan pengobatan tersebut.
h. Penyelidikan Tentang Distribusi Dari Vektor dan Reservoir Penyakit
Penyakit zoonosis terdapat pada manusia dan hewan, dalam hal ini
manusia dan binatang merupakan reservoir. Penyakit malaria ditularkan oleh
vektor nyamuk Anopheles dan penyakit demam berdarah ditularkan oleh vektor
nyamuk Aedes aegypti. Vektor tersebut perlu diselidiki ahli entomologi untuk
mengetahui apakah mengandung plasmodium malaria atau virus dari demam
berdarah.

i. Penggunaan Obat-Obatan Serum dan Vaksin


Keterangan yang menyangkut penggunaan bahan-bahan tersebut, yaitu
mengenai banyak, jenis, dan waktu memberi petunjuk kepada kita mengenai
masalah penyakit. Disamping itu, dapat pula dikumpulkan keterangan mengenai
efek samping dari bahan-bahan tersebut.
j. Keterangan Mengenai Penduduk dan Lingkungan
Keterangan mengenai penduduk penting untuk menetapkan population at
risk. Persediaan bahan makanan penting diketahui apakah ada hubungan dengan
kekurangan gizi, faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kependudukan da
lingkungan ini perlu selalu dipikirkan dalam rangka analisis epidemiologis. Data
atau keterangan mengenai kependudukan dan lingkungan itu tentu harus didapat
di lembaga-lembaga non-kesehatan.
Dari Unsur-unsur di atas, seorang epidemiologis mendapat keterangan
untuk mengetahui dan melengkapi gambaran epidemiologi suatu penyakit. Untuk
mendukung tercapainya unsur-unsur tersebut diperlukan unsur dasar dari
kegiatan, diantaranya:
Jaringan yang baik dari orang-orang bermotivasi tinggi
Definisi kasus dan mekanisme pelaporan yang jelas
Sistem komunikasi yang efesien
Epidemiologi dasar namun berbunyi
Ada dukungan laboratoris
Umpan balik yang baik dan respon yang cepat

1.7 Langkah-Langkah Surveilans


Adapun langkah-langkah kegiatan perencanaan sistem surveilans:(8)
1. Tetapkan objek
2. Menjabarkan definisi kasus
3. Menentukan sumber data atau mekanisme
4. Mengembangkan instrument pengumpulan
5. Metode uji lapangan
6. Mengembangkan cara analitik pendekatan
7. Mekanisme diseminasi
8. Menjamin manfaat analisis dan interpretasi

1.8 Evaluasi Sistem Surveilans


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan evaluasi sistem surveilans:(8)
1. Sensitifitas
2. Ketepatan waktu
3. Respresentatif
4. Nilai duga positif
5. Daya terima
6. Keluwesan
7. Kesederhanaan
8. Untung-rugi
9. Tindakan yang tepat

1.9 Penyelenggaraan Surveilans


Jenis penyelenggaraan surveilans epidemiologi terdiri dari 3 macam berdasarkan
metode dan aktifitas pengumpulan data: (5) (8)
1. Surveilans Pasif
2. Surveilans Aktif
3. Surveilans sentinel (kusus dan terpadu)
A. Surveilans Pasif
Merupakan surveilans yang pasif dalam pengumpulan atau pelaporan data
surveilans epidemiologi, bukan pada analisis maupun pada diseminasi informasi
epidemiologinya. Ciri surveilans pasif, pertama unit surveilans epidemiologi
membiarkan penderita melaporkan diri pada klinik/rumah sakit/unit pelayanan yang
berfungsi sebagai unit-unit surveilans terdepan dalam pengumpulan data surveilans.
Kedua, unit surveilans mendatangi setiap sumber data untuk meminta data surveilans
epidemiologi yang dibutuhkan sehingga tidak ada satupun sumber data yang tidak
terekam datanya.(5)

B. Surveilans Aktif
Merupakan surveilans yang aktif dalam pengumpulan data. Data kelengkapan
laporan menjadi wajib dilakukan agar kuantitas dan kualitas datanya tetap terjaga dan
terukur. Kelengkapan yang dimaksud adalah kelengkapan unit data, bukan pada unit
surveilans di kabupaten/ kota atau di provinsi. Ciri surveilans aktif, pertama
melakukan skrining dari rumah ke rumah, sehingga tidak ada satupun kasus yang
lepas dari pendataan. Kedua, unit surveilans mendatangi setiap unit sumber data
untuk meminta data surveilans epidemiologi yang dibutuhkan sehingga tidak ada
satupun sumber data yang tidak terekam datanya.(5)
C. Surveilans Sentinel (terpadu dan kusus)
Surveilans sentinel merupakan surveilens epidemiologi pada populasi dan wilayah
terbatas untuk mendapatkan signal adanya masalah kesehatan pada suatu populasi
atau wilayah yang lebih luas. Surveilans kusus yaitu penyelenggaraan surveilans
epidemiologi terhadap suatu kejadian, permasalahan, faktor resiko, atau situasi kusus
kesehatan.(5)

1.10 Jenis-Jenis Surveilans


Adapun Jenis-jenis surveilans, yaitu: (1)
1. Surveilans Individu
Mendeteksi dan memonitor individu-individu yang mengalami kontak dengan
penyakit serius, misalnya pes, cacar, tuberkulosis, demam kuning, sifilis. Surveilans
individu memungkinkan dilakukannya isolasi institusional segera terhadap kontak,
sehingga penyakit yang dicurigai dapat dikendalikan. Sebagai contoh, karantina
merupakan isolasi institusional yang membatasi gerak dan aktivitas orang-orang atau
binatang yang sehat tetapi telah terpapar oleh suatu kasus penyakit menular selama
periode menular. Tujuan karantina adalah mencegah transmisi penyakit selama masa
inkubasi seandainya terjadi infeksi (Last, 2001).
Isolasi institusional pernah digunakan kembali ketika timbul AIDS 1980an dan
SARS. Dikenal dua jenis karantina: (1) Karantina total; (2) Karantina parsial.
Karantina total membatasi kebebasan gerak semua orang yang terpapar penyakit
menular selama masa inkubasi, untuk mencegah kontak dengan orang yang tak
terpapar. Karantina parsial membatasi kebebasan gerak kontak secara selektif,
berdasarkan perbedaan tingkat kerawanan dan tingkat bahaya transmisi penyakit.
Contoh, anak sekolah diliburkan untuk mencegah penularan penyakit campak, sedang
orang dewasa diperkenankan terus bekerja. Satuan tentara yang ditugaskan pada pos
tertentu dicutikan, sedang di pospos lainnya tetap bekerja. Dewasa ini karantina
diterapkan secara terbatas, sehubungan dengan masalah legal, politis, etika, moral,
dan filosofi tentang legitimasi, akseptabilitas, dan efektivitas langkah-langkah
pembatasan tersebut untuk mencapai tujuan kesehatan masyarakat (Bensimon dan
Upshur, 2007).
2. Surveilans Penyakit
Surveilans penyakit (disease surveillance) melakukan pengawasan terus-menerus
terhadap distribusi dan kecenderungan insidensi penyakit, melalui pengumpulan
sistematis, konsolidasi, evaluasi terhadap laporan-laporan penyakit dan kematian,
serta data relevan lainnya. Jadi fokus perhatian surveilans penyakit adalah penyakit,
bukan individu. Di banyak negara, pendekatan surveilans penyakit biasanya didukung
melalui program vertikal (pusat-daerah). Contoh, program surveilans tuberkulosis,
program surveilans malaria. Beberapa dari sistem surveilans vertikal dapat berfungsi
efektif, tetapi tidak sedikit yang tidak terpelihara dengan baik dan akhirnya kolaps,
karena pemerintah kekurangan biaya. Banyak program surveilans penyakit vertikal
yang berlangsung paralel antara satu penyakit dengan penyakit lainnya, menggunakan
fungsi penunjang masing-masing, mengeluarkan biaya untuk sumberdaya
masingmasing, dan memberikan informasi duplikatif, sehingga mengakibatkan
inefisiensi.
3. Surveilans Sindromik
Syndromic surveillance (multiple disease surveillance) melakukan pengawasan
terus-menerus terhadap sindroma (kumpulan gejala) penyakit, bukan masing-masing
penyakit. Surveilans sindromik mengandalkan deteksi indikator-indikator kesehatan
individual maupun populasi yang bisa diamati sebelum konfirmasi diagnosis.
Surveilans sindromik mengamati indikator-indikator individu sakit, seperti pola
perilaku, gejala-gejala, tanda, atau temuan laboratorium, yang dapat ditelusuri dari
aneka sumber, sebelum diperoleh konfirmasi laboratorium tentang suatu penyakit.
Surveilans sindromik dapat dikembangkan pada level lokal, regional, maupun
nasional. Sebagai contoh, Centers for Disease Control and Prevention (CDC)
menerapkan kegiatan surveilans sindromik berskala nasional terhadap penyakit-
penyakit yang mirip influenza (flu-like illnesses) berdasarkan laporan berkala praktik
dokter di AS. Dalam surveilans tersebut, para dokter yang berpartisipasi melakukan
skrining pasien berdasarkan definisi kasus sederhana (demam dan batuk atau sakit
tenggorok) dan membuat laporan mingguan tentang jumlah kasus, jumlah kunjungan
menurut kelompok umur dan jenis kelamin, dan jumlah total kasus yang teramati.
Surveilans tersebut berguna untuk memonitor aneka penyakit yang menyerupai
influenza, termasuk flu burung, dan antraks, sehingga dapat memberikan peringatan
dini dan dapat digunakan sebagai instrumen untuk memonitor krisis yang tengah
berlangsung (Mandl et al., 2004; Sloan et al., 2006). Suatu sistem yang mengandalkan
laporan semua kasus penyakit tertentu dari fasilitas kesehatan, laboratorium, atau
anggota komunitas, pada lokasi tertentu, disebut surveilans sentinel. Pelaporan
sampel melalui sistem surveilans sentinel merupakan cara yang baik untuk memonitor
masalah kesehatan dengan menggunakan sumber daya yang terbatas (DCP2, 2008;
Erme dan Quade, 2010).

4. Surveilans Berbasis Laboratorium


Surveilans berbasis laboartorium digunakan untuk mendeteksi dan menonitor
penyakit infeksi. Sebagai contoh, pada penyakit yang ditularkan melalui makanan
seperti salmonellosis, penggunaan sebuah laboratorium sentral untuk mendeteksi
strain bakteri tertentu memungkinkan deteksi outbreak penyakit dengan lebih segera
dan lengkap daripada sistem yang mengandalkan pelaporan sindroma dari klinik-
klinik (DCP2, 2008).
5. Surveilans Terpadu
Surveilans terpadu (integrated surveillance) menata dan memadukan semua
kegiatan surveilans di suatu wilayah yurisdiksi (negara/ provinsi/ kabupaten/ kota)
sebagai sebuah pelayanan publik bersama. Surveilans terpadu menggunakan struktur,
proses, dan personalia yang sama, melakukan fungsi mengumpulkan informasi yang
diperlukan untuk tujuan pengendalian penyakit. Kendatipun pendekatan surveilans
terpadu tetap memperhatikan perbedaan kebutuhan data khusus penyakitpenyakit
tertentu (WHO, 2001, 2002; Sloan et al., 2006).
Karakteristik pendekatan surveilans terpadu: (1) Memandang surveilans sebagai
pelayanan bersama (common services); (2) Menggunakan pendekatan solusi
majemuk; (3) Menggunakan pendekatan fungsional, bukan struktural; (4) Melakukan
sinergi antara fungsi inti surveilans (yakni, pengumpulan, pelaporan, analisis data,
tanggapan) dan fungsi pendukung surveilans (yakni, pelatihan dan supervisi,
penguatan laboratorium, komunikasi, manajemen sumber daya); (5) Mendekatkan
fungsi surveilans dengan pengendalian penyakit. Meskipun menggunakan pendekatan
terpadu, surveilans terpadu tetap memandang penyakit yang berbeda memiliki
kebutuhan surveilans yang berbeda (WHO, 2002).
6. Surveilans Kesehatan Masyarakat Global
Perdagangan dan perjalanan internasional di abad modern, migrasi manusia dan
binatang serta organisme, memudahkan transmisi penyakit infeksi lintas negara.
Konsekunsinya, masalah-masalah yang dihadapi negara-negara berkembang dan
negara maju di dunia makin serupa dan bergayut. Timbulnya epidemi global
(pandemi) khususnya menuntut dikembangkannya jejaring yang terpadu di seluruh
dunia, yang manyatukan para praktisi kesehatan, peneliti, pemerintah, dan organisasi
internasional untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan surveilans yang melintasi
batas-batas negara. Ancaman aneka penyakit menular merebak pada skala global,
baik penyakit-penyakit lama yang muncul kembali (re-emerging diseases), maupun
penyakit-penyakit yang baru muncul (newemerging diseases), seperti HIV/AIDS, flu
burung, dan SARS. Agenda surveilans global yang komprehensif melibatkan aktor-
aktor baru, termasuk pemangku kepentingan pertahanan keamanan dan ekonomi
(Calain, 2006; DCP2, 2008).

BAB III
PENUTUP

Surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus-menerus


terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya
peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat
melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan
data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program
kesehatan.
Surveilans dilakukan dengan tujuan menilai status kesehatan masyarakat, menentukan
prioritas kesehatan masyarakat, mengevaluasi program, melaksanakan riset, menganalisis
keadaan penyakit yang ditelitinya. Surveilans epidemiologi sendiri berguna untuk, mengetahui
dan melengkapi gambaran epidemiologi dari suatu penyakit, menentukan penyakit mana yang
diprioritaskan untuk diobati atau diberantas, memprediksi terjadinya wabah, menilai dan
memantau pelaksanaan program pemberantasan penyakit menular dan program-program
kesehatan lainnya, seperti program mengatasi kecelakaan, program kesehatan gigi, program
gizi, dan mengetahui jangkauan atau cakupan dari pelayanan kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Amiruddin, Ridwan. 2013. Mengembangkan Evidence Based Public Health HIV dan
AIDS berbasis surveilans. Jurnal AKK. 2(2): 48-55
2. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 2009. Pedoman
Surveilan Malaria.
3. Efendi, Ferry dan Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan
Praktik Dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
4. Hargono, Arief. 2015. Aplikasi Surveilans Epidemiologi Penyakit Potensial Wabah Pada
Anak Sekolah Menggunakan Epi Info. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Airlangga. Surabaya

5. Keputusan Menkes RI No.1116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang Pedoman


Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan.
6. Keputusan Menkes RI No. 1479/Menkes/SK/X/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan
Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu.
http://www.pdk3mi.org/?p=download&action=go&pid=96.17/3/2017
7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1501/MENKES/PER/X/2010
tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu Yang Dapat Menimbulkan Wabah Dan Upaya
Penanggulangan
8. Rajab, Wahyudin. 2008. Buku Ajar Epidemiologi Untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.