Anda di halaman 1dari 21

Pendekatan Diagnosis Anemia

Pendekatan Diagnosis Anemia

KATA PENGANTAR

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Dengan menyebut nama ALLAH SWT. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
kami dari KATUPAT panjatkan Puji Syujur atas ke Hadirat Nya, yang telah
melimpahkan Rahmat, Hidayah dan Inayah Nya, sehingga kami dari KATUPAT dapat
membuat buku saku kecil tentang berbagai penyakit, diagnosis dan tata laksananya
serta manajemen kesehatan.

Buku saku ini kami susun dengan kontributor anggota KATUPAT dari berbagai
keahlian di bidang Kedokteran untuk pedoman bagi sejawat adik-adik dokter umum
yang bekerja di Fasilitas Kesehatan Primer untuk dapat lebih tepat mendiagnosis dan
tata cara penanggulangannya di tempat mereka bekerja di Fasilitas Kesehatan Primer.
Dengan harapan dapat membantu sejawat adik-adik dalam menghadapi masalah
penyakit yang ada sehingga dapat menangani pasien secara optimal.

Terlepas dari semua ini, kami KATUPAT menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka kami KATUPAT menerima segala
saran dan masukan dari rekan rekan sejawat senior kami agar dapat memperbaiki
buku kecil ini.

Ahir kata kami KATUPAT berharap semoga buku saku Diagnosis dan Tata Laksana
berbagai Penyakit yang sering dijumpai di Fasilitas Kesehatan Primer atau praktek
dapat bermanfaat bagi sejawat adik-adik yang bekerja di Fasilitas Kesehatan Primer
atau praktik sehari hari.

Wassalam,

Bandung, Juli 2017

dr. H. RESNO HADIONO ADELA Sp.PD


Ketua KATUPAT F.K. UNPAD
Pendekatan Diagnosis Anemia

AngKAtan TUjuh EmPAT


Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
Pendekatan Diagnosis Anemia

PENDEKATAN DIAGNOSIS ANEMIA

PENDAHULUAN
Anemia adalah salah satu masalah kesehatan dunia saat ini. Terdapat sekitar
1,62 milyar penduduk dunia yang mengalami anemia. Anemia bukan penyakit,
melainkan keadaan yang disebabkan oleh penyakit lain, namun anemia juga dapat
menimbulkan berbagai komplikasi.
Istilah anemia berasal dari bahasa Yunani anaimia yang artinya tanpa darah.
Turunnya konsentrasi hemoglobin dan jumlah eritrosit menyebabkan hipoksia
jaringan. Eritrosit atau sel darah merah mempunyai fungsi fisiologis penting dalam
menghantarkan Oksigen ke jaringan. Hemoglobin di dalam eritrosit mempunyai
kapasitas yang besar untuk mengikat Oksigen dalam paru-paru dan kemudian
melepaskannya ke jaringan.
Terdapat berbagai jenis dan penyebab anemia. Anemia sering merupakan
sebab atau dihubungkan dengan penyakit lain. Menentukan penyebab yang pasti dan
karakteristik suatu anemia merupakan hal penting bagi klinisi agar dapat menentukan
penatalaksanaan dengan baik.
Anemia biasanya dihubungkan dengan menurunnya kadar hemoglobin (Hb),
dan terkadang juga dengan hematokrit (Ht), atau jumlah eritrosit. Pada keadaan yang
jarang ditemukan, yaitu adanya hemoglobin abnormal tertentu, mempunyai
kamampuan mengikat Oksigen yang sangat kuat, sehingga Oksigen tidak dapat
dilepaskan ke jaringan. Akibatnya jaringan akan kekurangan Oksigen dan akan muncul
berbagai gejala klinis sebagai konsekuensinya, walaupun kadar Hb dan persentase Ht
normal, atau bahkan meningkat.

DEFINISI ANEMIA
Secara umum anemia didefinisikan sebagai ketidakmampuan darah untuk
menyuplai jaringan dengan Oksigen secara adekuat untuk fungsi metabolisme yang
sempurna.

1
Pendekatan Diagnosis Anemia

PENYEBAB ANEMIA
Anemia dapat disebabkan oleh berbagai hal, secara umum dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
Defisiensi nutrisi (Fe, vitamin B12, asam folat)
Perdarahan
Peningkatan destruksi eritrosit (imun dan non-imun)
Bone marrow replacement
Infeksi
Keracunan
Kerusakan sel punca hematopoietik
Defek hemoglobin (herediter atau didapat)
Kelainan enzim eritrosit atau defek metabolisme lainnya.

KLASIFIKASI ANEMIA
Klasifikasi anemia dapat dibagi berdasarkan beberapa hal. Klasifikasi
berdasarkan dinamika sumsum tulang adalah anemia hipoproliferatif atau percepatan
destruksi/hemolitik atau kombinasi keduanya. Keadaan ini disebut hematopoiesis
inefektif.
Secara klinis anemia dikelompokkan berdasarkan penyebabnya, seperti:
kehilangan darah (perdarahan), defisiensi besi, hemolisis, infeksi, metastase
keganasan ke sumsum tulang, atau defisiensi nutrisi.
Anemia juga dapat diklasifikasikan berdasarkan persentase hematokrit, kadar
hemoglobin, dan indeks eritrosit (misalnya normokromik, hipokromik, mikrositik,
normositik atau makrositik. (Harmening)

DIAGNOSIS KLINIS ANEMIA


Diagnosis klinis anemia ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan laboratorium.
1. Anamnesis
Dalam anamnesis anemia, klinisi dapat menanyakan gejala dan tanda yang
berhubungan dengan anemia, mulai dari gejala umum atau sindrom anemia sebagai
salah satu kompensasi tubuh terhadap menurunnya kadar hemoglobin.

2
Pendekatan Diagnosis Anemia

Gejala dan tanda anemia seringkali tidak khas, misalnya lemah badan, lekas
lelah dan mungkin juga terjadi gejala gastrointestinal seperti mual, konstipasi atau
diare. Pada anemia berat, pasien juga mungkin mengeluh sesak nafas (dyspnea
deffort) setelah melakukan aktivitas sehari-hari yang biasa dilakukannya, namun
keluhan sesak ini tidak pernah dikeluhkan sebelumnya. Selain gejala umum, dapat
pula kita tanyakan mengenai penyakit yang menyertainya, untuk menentukan
penyebab anemia tersebut. Sebagai contoh, dapat ditemukan keluhan buang air besar
berwarna hitam (melena) beberapa minggu sebelumnya; yang bila saat itu diperiksa
kadar Hb nya kemungkinan besar sekitar 8 g/dL. Anemia pada pasien ini
dikelompokkan ke dalam anemia akibat perdarahan saluran cerna.

2. Pemeriksaan Fisik Anemia


Pada pemeriksaan fisik anemia, kita dapat menemukan tanda dan penyebab
anemia dari kelainan fisik yang ditemukan. Misalnya adanya tanda-tanda malnutrisi
dan perubahan neurologis seperti kehilangan proprioseptor dan tremor pada pasien
dengan anemia akibat defisiensi vitamin B12.
Contoh lain mungkin kita temukan pasien sangat pucat, lidahnya licin, serta
adanya selaput pada oesophagus. Ini ditemukan pada pasien anemia defisiensi besi
yang berat. Keadaan lain juga mungkin ditemukan yaitu kulit yang pucat, juga terlihat
pada membran mukosa serta kuku. Pada pasien dengan anemia hemolitik tertentu
dapat ditemukan temperatur yang sedikit meningkat.
Pada pemeriksaan jantung, murmur mungkin dapat terdengar, yang
merupakan sekunder terhadap anemia yang berhubungan dengan meningkatnya
kerja jantung yang dibutuhkan untuk membawa Oksigen ke jaringan. Pasien dengan
endocarditis bakterialis akan menunjukkan adanya demam, murmur dan anemia.
Penyakit ini adalah contoh kerusakan katup jantung akibat infeksi dan murmur, secara
etiologis berhubungan dengan anemia. Alat pacu jantung buatan dan graft arterial
atau Disseminated Intravascular Coagulation dapat menyebabkan salah satu bentuk
anemia hemolitik yang disebut Microangipathic Hemolytic Anemia.
Selain itu masih ada anemia yang disebut anemia aplastik, yaitu pansitopenia
yang disebabkan oleh kegagalan produksi sumsum tulang. Sedangkan hipoproliferatif
anemia adalah kegagalan sumsum tulang dalam produksi eritrosit saja.

3
Pendekatan Diagnosis Anemia

Gambar 1. Konjungtiva anemia Gambar 2. Kuku: pucat dan cekung

3. Pemeriksaan Laboratorium
Berdasarkan sudut pandang laboratorium, parameter umum yang digunakan
untuk menegakkan diagnosis anemia adalah: pemeriksaan kadar Hemoglobin (Hb),
persentase hematokrit (Ht), serta penentuan jumlah eritrosit. Namun untuk
menentukan jenis dan penyebab anemia, masih diperlukan pemeriksaan lain,
misalnya: Indeks eritrosit, jumlah retikulosit, pemeriksaan sediaan hapus darah tepi
serta pemeriksaan sediaan hapus sumsum tulang.(Harmening).
Diagnosis laboratorium anemia berdasarkan World Health Organization
(WHO) ditandai dengan adanya penurunan kadar:
Hemoglobin
Hematokrit
Jumlah eritrosit

Pemeriksaan laboratorium untuk diagnosis anemia:


Hemoglobin
Hematocrit
Jumlah eritrosit
Indeks eritrosit
Sediaan (H)apus darah tepi
Jumlah retikulosit*
Sediaan hapus sumsum tulang*

4
Pendekatan Diagnosis Anemia

Hemoglobin dan Hematokrit


Pengukuran kadar Hb dan Ht (Packed Cell Volume = PCV) adalah metode
yang umum dipakai untuk menentukan ada/tidaknya anemia. Nilai-nilai ini dipengaruhi
oleh umur, jenis kelamin, keadaan hidrasi, posisi pasien saat darahnya diambil, serta
populasi pengunjung laboratorium. Metode pemeriksaan hemoglobin yang menjadi
standar saat ini adalah berdasarkan spektrofotometer yaitu dengan membaca
absorbansi larutan sianmethemoglobin pada panjang gelombang tertentu,
dibandingkan dengan absorbansi larutan standar. Sedangkan hematocrit atau Packed
Cell Volume (PCV) diperiksa dengan melakukan sentrifugasi pada bahan pemeriksaan
yang dapat berupa darah kapiler atau darah vena, atau dengan alat analisis
hematologi otomatis yang beredar saat ini hematokrit dapat diukur secara langsung.
Nilai referensi hematokrit berbeda untuk setiap laboratorium/metode yang dipakai
umumnya pada laki2 dewasa 47%+5% dan pada perempuan 42%+5%.
Berdasarkan nilai Hb dan Ht, anemia dapat diklasifikasikan menjadi ringan
sedang dan berat, atau sebagai anemia akut atau kronis berdasarkan onset gambaran
klinisnya. Hubungan antara kadar Hb dan persentase Ht dapat digambarkan sebagai
ratio 1: 3, yang dapat berubah karena pengaruh indeks eritrosit terutama MCV.

Berdasarkan kadar hemoglobin, anemia diklasifikasikan:


Ringan (Hb 10-11 g/dL)
Sedang (Hb 7-10 g/dL)
Berat (Hb < 7 g/dL)

Nilai rujukan normal hemoglobin (tergantung alat dan metode yang dipakai)

5
Pendekatan Diagnosis Anemia

Pemeriksaan Indeks Eritrosit


Indeks eritrosit terdiri dari MCV (Mean Corpuscular Volume), MCH (Mean
Corpuscular Hemoglobin) serta MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration).
Walaupun nilai-nilai ini kurang tepat, akan tetapi bila ditambah dengan pemeriksaan
morfologi sediaan hapus darah tepi yang dilakukan dengan cermat, kita dapat
mengetahui keadaan eritrosit, apakah normositik, mikrositik, makrositik, normokromik
atau hipokromik.

Anemia

Indeks Eritrosit

MCV MCH MCHC

1. Mean Corpuscular Volume (MCV)


Merupakan rerata eritrosit dan menggambarkan ukuran eritrosit rata-rata.
Dihitung dengan rumus:
Hematokrit (%)
MCV =
Jumlah eritrosit (juta/uL)

Nilai normal MCV = 76-96 fL (tergantung metode laboratorium)


Bila MCV kurang dari nilai normal dinamakan mikrositik yang artinya ukuran
eritrosit lebih kecil dari normal
Bila MCV lebih dari normal dinamakan makrositik

2. Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH)


Merupakan rerata kandungan hemoglobin eritrosit yang menggambarkan
kromasi (warna) eritrosit rata-rata.
Dihitung dengan rumus:
Hemoglobin(d/dL)
MCH = x 100 pg
Jumlah eritrosit (juta/uL)

Nilai normal MCH = 27-32 pg (tergantung metode laboratorium)


Bila MCH kurang dari nilai normal dinamakan hipokrom yang artinya bagian
pucat eritrosit lebih kecil dari normal

6
Pendekatan Diagnosis Anemia

3. Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC)


Merupakan rerata konsentrasi hemoglobin eritrosit yang menggambarkan
kromasi (warna) keseluruhan eritrosit rata-rata.
Dihitung dengan rumus:
Hemoglobin(g/dL)
MCHC = x 100 pg
Hematokrit (%)

Nilai normal MCHC = 32-36 g/dL (tergantung metode laboratorium).


Bila MCHC kurang dari nilai normal dinamakan hipokrom yang artinya konsentrasi
hemoglobin eritrosit lebih kecil dari normal.

Klasifikasi Anemia Berdasarkan Indeks Eritrosit

Gambar 3. Sel darah merah normal dan anemia mikrositik

Dengan menggunakan indeks eritrosit dalam diagnosis banding anemia dapat


diketahui apa yang terjadi secara klinis. Anemia normositik normokromik mungkin
disebabkan oleh kegagalan sumsum tulang, anemia hemolitik, atau keadaan-keadaan
lain yang akibat kedua keadaan ini. Dalam membuat diagnosis banding kegagalan

7
Pendekatan Diagnosis Anemia

sumsum tulang, dibutuhkan informasi tentang produksi eritrosit. Informasi ini dapat
diperoleh dari jumlah retikulosit, yang dapat menunjukkan apakah masih ada
kemampuan sumsum tulang untuk meningkatkan produksi eritrosit. Karena destruksi
eritrosit dapat melebihi kapasitas produksinya, maka jumlah retikulosit efektif untuk
mengukur efektivitas kapasitas produksi eritrosit.
Anemia hemolitik terjadi bila terdapat penurunan masa hidup eritrosit, yang
merupakan hasil dari eliminasi ekstravaskuler, destruksi intravaskuler, atau keduanya.
Anemia makrositik normokromik biasanya terjadi berhubungan dengan
defisiensi asam folat atau vitamin B12. Anemia yang paling banyak terjadi adalah
anemia mikrositik hipokromik, biasanya berhubungan dengan defisiensi besi. Beta-
Thalassemia, suatu penyakit berupa defek herediter pembentukan rantai globin,
adalah penyebab lain anemia mikrositik hipokromik yang sering ditemukan.
Anemia yang lebih jarang ditemukan adalah anemia sideroblastik, yang juga
dihubungan dengan penurunan MCV.
Pada gambar 4 berikut ini dapat dilihat algoritma pembuatan keputusan pada
pasien dengan gejala anemia.

Gambar 4. Algoritma Pengambilan Keputusan Dalam Diagnosis Pasien dengan Gejala


Anemia.

8
Pendekatan Diagnosis Anemia

Keterbatasan Kadar Hemoglobin dan Hematokrit dalam Menegakkan


Diagnosis Anemia
Pada beberapa keadaan, nilai kadar hemoglobin dan hematokrit memiliki
keterbatasan untuk digunakan dalam menegakkan diagnosis anemia. Keadaan ini
antara lain pada:
Volume plasma relatif lebih meningkat dibandingkan massa eritrosit.
Hydremia of pregnancy
Congestive splenomegaly
Recumbency (vs upright)
Volume plasma relatif lebih rendah dibandingkan dengan massa eritrosit (Hb
tinggi, normal atau rendah, tetapi relatif tinggi terhadap Ht)
Dehidrasi
Diare
Peritoneal dialysis dengan cairan hipertonik
Diabetic acidosis
Luka bakar
Stress erythrocytosis, spurious polycythemia
Perdahan akut
Penyakit kronis

Pemeriksaan Laboratorium Sederhana untuk Diagnosis Anemia


Kadar Hemoglobin
Presentase Hematokrit
Jumlah Eritrosit
Indeks Eritrosit
Pemeriksaan kadar Hemoglobin dapat dilakukan dengan Kolorimetri (secara
manual) yang bertujuan untuk membandingkan warna, terdiri dari dua metode yaitu
metode Talqvist dan metode sahli serta pemeriksaan fotometris (secara otomatis).

1. Pemeriksaan Kadar Hemoglobin


Pemeriksaan Kadar Hemoglobin Metode Talqvist

9
Pendekatan Diagnosis Anemia

a. Prinsip : Membandingkan warna darah dengan warna skala


pada buku Talqvist.
b. Bahan pemeriksaan : Darah kapiler, darah vena EDTA
c. Alat : Buku skala Talqvist, blood lancet, dan kapas
alkohol
d. Cara kerja :
- Teteskan darah pada kertas saring
- Bandingkan segera warna pada kertas
saring dengan warna yang terdapat pada
buku skala Talqvist
- Pembacaan pada skala yang sesuai
menunjukkan persentase kadar
hemoglobin
- Kadar 100% pada skala Talqvist = 15,8 g/dL oksihemoglobin dalam
100 mL darah.
e. Keterangan :
f. Pemeriksaan hemoglobin dengan metode Talqvist ini hasilnya sangat
kasar.
g. Keuntungan :
h. Mudah dilakukan sehingga memungkinkan untuk dilakukan di tingkat
Puskesmas.
i. Kerugian : warna skala pada buku tidak tahan lama.

Pemeriksaan Kadar Hemoglobin Metode Sahli


a. Prinsip : Darah yang dicampurkan dengan HCl 0,1 akan
menjadi asam hematin berwarna coklat. Warna coklat tersebut
dibandingkan dengan warna standar.
b. Bahan pemeriksaan : darah kapiler atau darah vena dengan
antikoagulan EDTA
c. Alat dan Reagens : terdiri dari hemoglobinometer, HCl 0,1 N, tissue

10
Pendekatan Diagnosis Anemia

d. Cara kerja :
- Masukkan 5 tetes HCl 0,1 N ke dalam tabung Sahli
- Isap 20 uL darah dengan pipet Sahli. Bersihkan darah yang menempel
pada bagian luar pipet.
- Masukkan darah tersebut dengan hati-hati ke dalam tabung Sahli
yang sudah berisi HCl 0,1 N.

11
Pendekatan Diagnosis Anemia

- Bilas darah dalam pipet dengan menghisap dan mengeluarkan


campuran beberapa kali.
- Biarkan 4 menit agar
hemoglobin berubah menjadi
asam hematin.
- Encerkan larutan dengan
aquadest tetes demi tetes
sambil dikocok tiap kali
menambahkan aquadest,
sampai warna larutan sama dengan warna standar.
- Hasil harus dibaca dalam waktu 5 menit.
e. Kerugian Metode Sahli
- Kurang teliti, kesalahannya besar
- Warna asam hematin yang terbentuk tidak stabil
- Warna standar dapat berubah dalam beberapa bulan
- Kaliberasi pada tabung sangat rapat
- Jumlah darah yang dipakai sedikit sekali, sehingga
kelebihan/kekurangan sedikit saja, sudah menyebabkan kesalahan
besar.
f. Syarat-syarat:
- Pada waktu menghisap darah dengan Pipet Sahli, kolom darah tidak
boleh berisi gelembung-gelembung udara
- Pemeriksaan harus dilakukan dalam cahaya yang terang.

2. Pemeriksaan Hematokrit
Hematokrit (Packed Cell Volume = PCV) menghitung volume eritrosit dalam
100 mL darah dan dinyatakan dalam %.

Nilai Hct digunakan untuk:


Mengetahui ada tidaknya anemia
Menghitung MCV

12
Pendekatan Diagnosis Anemia

Cara Makro dan mikro*

Kekurangan:
Kesalahan dalam kalibrasi centrifuge
Pemilihan tempat sampel
Kesahan rasio antikoagulan
pembacaan hasil mengalami kerusakan (error)

3. Hitung Jumlah Eritrosit (manual)


Prinsip : Darah diencerkan dengan larutan Hayem (Na Sulfat 2,05 g + Natrium
Klorida 0,50 g + Mercuri Chlorida 0,25 g + aquadest 100 mL).

Kamar Hitung Improved Neubauer


Bidang hitungnya berukuran 3 mm X 3 mm yang terbagi atas 9 bidang besar,
yang masing-masing berukuran 1 mm X 1 mm.
Bidang besar yang berada di tengah terbagi atas 25 bidang dengan ukuran
masing-masing 0,2 mm X 0,2 mm (Bidang 1, 2, 3, 4, dan 5), dan bidang ini
masing-masing terbagi lagi atas 16 bidang kecil yang masing berukuran 0,05
mm X 0,05 mm.

Cara kerja membuat pengenceran


Dengan menggunakan pipet Thoma Eritrosit, isap darah sampai tanda 0,5.
Bersihkan sisa darah pada bagian luar pipet dengan kertas tissue.

13
Pendekatan Diagnosis Anemia

Kemudian isap larutan Hayem perlahan-lahan sampai tanda 101.


Lepaskan karet penghisap dan pegang pipet dengan jari tekunjuk dan ibu jari.
Kocok campuran perlahan-lahan dengan gerakan membuat angka 8 sebanyak
3 kali.
Pengenceran: jumlah seluruh cairan/vol.darah = 100/0,5 = 200 kali.

Mengisi kamar hitung


Letakkan kamar hitung dengan hati-hati di bawah mikroskop dalam keadaan
rata air.
Turunkan kondensor atau kecilkan diafragma. Gunakan pembesaran kecil
untuk mecari daerah yang akan dihitung.
Setelah itu penghitungan sel dilakukan dengan menggunakan lensa objektif
10 X dan lensa okuler 40 X.
Hitung semua eritrosit yang ada pada bisang 1, 2, 3, 4 dan 5. Sehingga volume
yang dihitung adalah luas bilik yang dihitung X tinggi kamar hitung.
Tinggi kamar hitung = 0,1 mm
Volume yang dihitung = 5 X 0,02 X 0,02 X 0,1 mm3 = 0,02 uL.
Arah gerakan menghitung harus tetap, misalnya dimulai dari kotak kiri paling
atas, kemudian ke bawa, setelah paling bawah pindah ke sebelah kanan dst.
Untuk eritrosit yang terpotong garis, kita harus menetapkan yang akan kita
hitung. Bila kita menghitung eritrosit yang terpotong garis atas dan kanan
kotak, maka eritrosit yang terpotong garis kiri dan bawah tidak kita hitung.
Demikian sebaliknya.

14
Pendekatan Diagnosis Anemia

Pendekatan Laboratorium untuk Mendiagnosis Anemia Defisiensi Besi


Berdasarkan World Health Organization (WHO), Anemia Defisiensi Besi (ADB)
merupakan jenis anemia yang paling umum yaitu sekitar 2 juta orang mengalami
anemia defisiensi besi. Dan biasanya terjadi pada kurang lebih 3% anak-anak dengan
umur kurang dari 2 tahun, mencapai 3% pada remaja perempuan serta kurang dari
1% pada remaja laki-laki.
Dalam mendiagnosis ADB, diperlukan beberapa informasi melalui anamnesis,
pemeriksaan fisik serta pemeriksaan laboratorium.
Perubahan kadar besi dalam tubuh, dapat dinilai dengan pendekatan
laboratorium yang sistematis, dimulai dari mencari penyakit yang menyertainya serta
diperlukan beberapa parameter.

Jika ditemukan pasien dengan hasil laboratorium:


Hb, Ht, eritrosit menurun -> Anemia
Indeks morfologi eritrosit-> hipokrom mikrositik
Status besi -> defisiensi

15
Pendekatan Diagnosis Anemia

Kemudian, langkah apa yang harus dilakukan di Puskesmas?


Hitung Indeks Mentzer (MCV/jumlah eritrosit)
a. IM > 13 -> kemungkinan besar anemia defisiensi Fe
b. IM < 13 -> kemungkinan besar Thalassemia beta minor
Bila suspek (anemia) defisiensi Fe maka segera berikan terapi Fe dan
kontrol Hb tiap bulan selama 3 bulan

RANGKUMAN
Anemia adalah masalah kesehatan dunia karena sebagian besar penduduk
dunia, terutama wanita dan anak-anak di Negara berkembang, menderita anemia.
Diagnosis anemia ditegakkan berdasarkan keluhan pasien, pemeriksaan fisik serta
pemeriksaan laboratorium. Parameter laboratorium yang digunakan untuk
menegakkan diagnosis anemia adalah: pemeriksaan kadar hemoglobin, persentase
hematokrit serta jumlah eritrosit. Berdasarkan kadar hemoglobinnya WHO membagi
anemia menjadi anemia sedang bila Hb antara 7-10 g/dL, dan anemia berat bila Hb <
7 g/dL.

16
Pendekatan Diagnosis Anemia

DAFTAR PUSTAKA

1. Glassman AB. Anemia: Diagnosis and Clinical Consideration. In: Harmening DM.
Clinical Hematology and Fundamentals of Hemostasis. 5th eds. FA Davis Co:
Philadelphia, 2009.
2. Mehta RP. Anemias: Red Blood Cell Morphology and Approach to Diagnosis. In:
Rodak BF, Fritsma GA, Keohane EM. Hematology Clinical Principles and
Applications. 4th eds. Elsevier Saunders: Printed in China. 2012.
3. Manchanda N. Anemias: Red Blood Cell Morphology and Approach to diagnosis.
In: Keohane EM, Smith LJ, Walenga JM. Rodaks Hematology Clinical Principes and
Applications. 5 the eds. Elsevier: St Louis. 2016.
2. Means Jr RT, Glader B. In: Greer JP, Arber DA, Glader B, et al. Wintrobes Clinical
Hematology. 13th eds. Wolters Kluwers, Lippincott, Williams & Wilkins:
Philadelphia. 2014.
3. Prchal JT. Clinical Manifestation and Classification of Erythrocyte Disorders. In:
Kaushansky K, Lichtman M, Levi M et al. Williams Hematology. 9th eds. Mc Graw
Hill: e book. 2016.
4. Turgeon ML. Clinical Hematology Theory and Procedures. 4th edition. Lippincott
Willliams & Wilkins. Baltimore. 2005.
5. Bain BJ, Briggs C. Basic Hematological Techniques. In: Baik BJ, Bates, Laffan MA.
Dacie and Lewis Practical Hematology. 12th eds. Elsevier. 2017
6. Adamson JW, Longo DL. Anemia and Polycythemia. In: Longo DL. Harrisons
Hematology and Oncology. China. 2010.

------------------------------------------

17
Pendekatan Diagnosis Anemia

TIM PENYUSUN

Penulis:

dr. Nadjwa Z Dalimoenthe, SpPK (K)

Medicinus:

Okky Husain, dr

Nunuy Nuraeni, S.Ked

Atri Laranova, S.Ked

Dyah Prabaningrum

Adinda Syarifah N

Dian Elok Permataningtyas

Editor:

dr. Primal Sudjana, SpPD-KPTI

dr. Nadjwa Z Dalimoenthe, SpPK (K)

dr. Kadarsyah, MS