Anda di halaman 1dari 29

Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Sampah merupakan suatu bentuk padatan yang dibuang setiap hari sebagai
limbah oleh semua makhluk hidup terutama manusia. Sampah pada dasarnya
merupakan suatu bahan yang yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi
atau sesuatu yang dibuang berasal dari suatu sumber hasil aktivitas manusia
maupun proses-proses alam yang mempunyai nilai yang negatif karena dalam
penanganannya, baik untuk membuang atau membersihkannya memerlukan biaya
yang cukup besar.
Pengelolaan persampahan dapat diartikan sebagai suatu usaha atau
kegiatan yang mengontrol jumlah timbulan sampah, pewadahan, pengumpulan,
transfer dan transpor, daur ulang serta pembuangan sampah dengan
memperhatikan faktor kesehatan masyarakat, ekonomi, teknik, konservasi
lingkungan, estetika, dan pertimbangan lingkungan lainnya (Tchobanoglous,
1993). Sampah yang tidak terurus dengan baik akan menyebabkan
menurunnya kesehatan dan nilai estetika lingkungan karena pencemaran air,
udara, dan berkembangnya hama penyakit, sehingga permukiman penduduk
di sekitar tumpukan sampah tersebut tidak layak lagi bagi penduduk.
Dengan meningkatnya laju pembangunan, pertambahan penduduk, serta
aktivitas dan tingkat sosial ekonomi masyarakat telah memicu terjadinya
peningkatan jumlah timbulan sampah. Timbulan sampah ini perlu ditangani secara
serius yaitu dengan pengelolaan sampah dari sumber hingga TPA. Pengelolaan
sampah yang dilakukan dimaksud untuk dapat mengurangi residu sampah yang
masuk ke TPA, namun pada kenyataannya sampah tidak akan tereduksi hingga
zero dan pasti akan di buang ke TPA.
Tempat pemrosesan akhir menjadi unsur pokok dalam penanggulangan
sampah, karena merupakan tempat untuk memproses dan memusnahkan sampah
ke dalam lingkungan. Di Indonesia, pada umumnya tempat pemrosesan akhir
masih menggunakan sistem Open Dumping yaitu dengan menimbun sampah

Potjut Siti Sara/082001400049

1
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

diatas tanah tanpa diurug dan mengakibatkan permasalahan bagi lingkungan yaitu
timbulnya bau, tercemarnya air tanah, timbulnya asap, dsb. Dengan demikian
pemerintah telah memberikan regulasi berdasarkan UU No. 18/2008 yaitu
mengisyaratkan bahwa ketentuan penutupan TPA open Dumping menjadi Sanitary
Landfill (untuk kota besar & metro) dan Controlled Landfill (untuk kota kecil &
sedang) dalam waktu lima tahun sehingga diperlukan berbagai upaya untuk
melakukan revitalisasi TPA.
Dengan demikian, maka tiap daerah memerlukan teknik penegolalaan dan
pemrosesan akhir sampah yang sehat dan lebih baik dari sistem open dumping.
Pemilihan lokasi TPA yang tepat juga menjadi perencanaan teknis TPA agar tidak
mencemari dan menganggu estetika di lingkungan disekitarnya.

1.2 Maksud dan Tujuan


Maksud dari disusunnya laporan ini yaitu merencanakan TPA di Kabupaten
Aceh Besar. Adapun tujuan dari penulisan tugas ini adalah sebagi berikut:
1. Memilih lokasi yang sesuai dengan persyaratan pemilihan lokasi TPA
2. Mengetahui luas lahan TPA untuk waktu 10 tahun
3. Menghitung volume sampah berdasarkan komposisi sampah
4. Menghitung komposisi kimia sampah yang dihasilakan.
5. Menghitung produksi gas sampah di TPA tersebut

Potjut Siti Sara/082001400049

2
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

BAB II
GAMBARAN UMUM

2.1 Kondisi Wilayah


2.1.1 Letak Geografis, Topografi dan Kondisi Geologi
Kabupaten Aceh Besar adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia.
Secara geografis Kabupaten Aceh Besar terletak pada posisi 5,2 - 5,8 LU dan
95,0 95,8 BT. Adapun batas wilayah administrasi Kabupaten Aceh Besar adalah
sebagai berikut:
Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka dan Kota Banda Aceh.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Aceh Jaya.
Sebelah Timur degan Kabupaten Pidie.
Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia.

Gambar 2.1 Peta Administrasi Kabupaten Aceh Besar


Luas wilayah Kabupaten Aceh Besar adalah 2.903,50 km2, sebagian besar
wilayahnya berada di daratan dan sebagian kecil berada di kepulauan. Sekitar
10% desa di Kabupaten Aceh Besar merupakan desa pesisir. Kabupaten Aceh
Besar terdiri dari 23 Kecamatan, 68 Mukim, dan 604 Gampong/Desa. Jarak antara
pusat-pusat kecamatan dengan pusat kabupaten sangat bervariasi. Kecamatan
Lhoong merupakan daerah yang paling jauh, yaitu berjarak 106 km dengan pusat
ibukota kabupaten (ibukota terletak di Kecamatan Kota Jantho).

Potjut Siti Sara/082001400049

3
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

Kabupaten Aceh Besar juga memiliki Kawasan Hutan baik berupa Kawasan
Lindung maupun Kawasan Budidaya. Kawasan Lindung memiliki luas
171.367,22 hektar, dimana Hutan Lindung merupakan areal terluas yaitu
mencapai 41,08 persen dari luas kawasan lindung yang ada atau seluas 70.402,49
hektar. Kemudian disusul dengan Hutan Produksi seluas 68.594,43 hektar.
Sedangkan Kawasan Budidaya yang merupakan Hutan Produksi Tetap memiliki
luas 41,28 hektar.
Kabupaten Aceh Besar memiliki topografi yang beragam yang terdiri dari 4
kelas yakni terdiri atas dataran rendah (0-2%), berombak (3-15 %), berbukit-bukit
(16-40 %), dan bergunung (>40 %), dan sebagiannya merupakan wilayah
kepulauan. Yang merupakan daerah dataran umumnya terdapat di wilayah Pesisir
Timur dan Utara serta Pesisir Barat. Keadaan Lereng sangat bervariasi, dari
bentuk dataran sampai curam. Berdasarkan persen lereng (slope), proporsi luas
lahan yang paling besar adalah kemiringan lebih dari 40 %, yaitu 1.313 km 2 atau
44.17 % dari luas wilayah. Khusus untuk wilayah eksplorasi untuk penambangan
besi merupakan daerah berbukit yang memiliki kelerengan 15 - 40% sebagaimana
tabel berikut:

Tabel 2.1 Kelas Kemiringan Lereng di Kabupaten Aceh Besar

No Kemiringa Meliput
. n i(%)
1. 02% 14.26
2. 3 15 % 17.99
3. 16 40 % 23.58
4. 40 % lebih 44.17

Sumber : Buku Aceh Besar Dalam Angka 2010

Jenis tanah yang terdapat di kabupaten Aceh Besar dikategorikan menjadi 9


jenis dengan karakteristik yang berbeda. Jenis tanah yang mendominasi wilayah
berupa tanah jenis Podzolid Merah Kuning yaitu sekitar 31,55 persen dari seluruh
jenis tanah yang ada di Kabupaten ini, dan yang terkecil adalah jenis tanah litosol
yang hanya sebesar 2,4%. Jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Aceh Besar
adalah sebagai berikut :

Potjut Siti Sara/082001400049

4
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

Tabel 2.2 Jenis Tanah

2.1.2 Iklim dan Cuaca


Kabupaten Aceh Besar terletak dekat dengan garis khatulistiwa, sehingga
wilayah ini tergolong beriklim tropis. Kabupaten Aceh Besar pada umumnya
beriklim tropis dengan dua musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan.
Musim kemarau berkisar antara bulan Januari -Juni. Musim hujan, biasanya
berkisar antara bulan Juli sampai Desember. Pada tahun 2015, suhu udara rata-
rata berkisar antara 26C - 28C. Untuk data curah hujan di Kabupaten Aceh
Besar adalah sebagai berikut:

Tabel 2.3 Data Curah Hujan

Potjut Siti Sara/082001400049

5
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

2.2 Deskripsi Calon TPA


Kabupaten Aceh Besar menjadi wilayah perencanaan dalam pembangunan
Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Dalam perencanaan TPA ini terdapat 3 Calon
lokasi TPA. Perencanaan TPA ini dinilai penting karena sampai saat ini upaya
pengurangan sampah di sumber belum berhasil dan pengolahan sampah tetap
menghasilkan residu yang harus ditangani lebih lanjut. Tiga calon lokasi di
Kabupaten Aceh Besar terdapat di 3 kecamatan yaitu Kecamatan Sukamakmur,
Kecamatan Kuta cot Glie, dan Kecamatan Kota Jantho. Calon lakosi tersebut
dipilih berdasarkan SNI 03-3241-1994 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi
Tempat Pembuangan Akhir Sampah dan melihat kondisi hidrogeologi. Adapun
deskripsi dari ketiga calon TPA adalah sebagai berikut :

Potjut Siti Sara/082001400049

6
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

Tabel 2.1 Deskripsi Calon TPA


Calon Deskripsi
Calon 1 (Desa Lamgeu Baro,
Kecamatan Sukamakmur,
Kabupaten
Calon 2 (DesaAceh
SironBesar.
Blang, Terletak dalam batas administrasi. Pemilik hak tanah lebih dari satu
Kecamatan Kuta cot Glie,
Kabupaten Aceh Besar. Terletak dalam batas administrasi. Pemilik hak tanah pemerintah
Calon Deskripsi
Calon 3 (Desa Jalin, Terletak dalam batas administrasi. Pemilik hak tanah pemerintah
Kecamatan Kota Jantho, daerah pribadi (satu). Kapasitas lahan 12 tahun. Jumlah pemilik
Kabupaten Aceh Besar. tanah 1 kk. Partisipasi masyarakat digerakkan. Harga kelulusan

BAB III

METODE PERENCANAAN TPA

3.1 Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data adalah dengan data sekunder yaitu yang didapat
dari mengumpulkan data-data Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

Potjut Siti Sara/082001400049

7
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

(RPJMD) Kabupaten Aceh Besar, Badab Pusat Statisik (BPS) Kabupaten Aceh
Besar dan website resmi kabupaten serta dari jurnal-jurnal penelitian.
3.2 Metode Pengolahan Data
Teknik pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan perhitungan
statistik Microsoft excel untuk memprediksi jumlah penduduk pada 10 tahun yang
akan dating. Pengolahan data meliputi kegiatan:
1. Editing
Pengecekan atau pengoreksian data yang telah terkumpul, tujuannya untuk
menghilangkan kesalahan-kesalahan yang terdapat pada pencatatan dilapangan
dan bersifat koreksi.
2. Pemberian skor atau nilai
Dalam pemberian skor digunakan metode skoring yang merupakan salah satu
cara untuk menentukan skor. Skor pada penilian diperoleh dari SNI 19-3241-
1994. Kriteria penilaian ini digolongkan dalam 3-5 tingkatan tergantung dari
parameter yang dianalisis.
3. Tabulasi
Pembuatan tabel-tabel yang berisi data yang telah sesuai dengan analisis yang
dibutuhkan. Dalam melakukan tabulasi diperlukan ketelitian agar tidak terjadi
kesalahan.
4. Analisis Data
Memperkirakan atau dengan menentukan besarnya pengaruh secara kuantitatif
dari suatu kejadian terhadap suatu kejadian lainnya, serta memperkirakan atau
meramalkan kejadian lainnya. Kejadian dapat dinyatakan sebagai perubahan nilai
variabel. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang
diperoleh baik dari RPJMD Kabupaten Aceh Besar, Badab Pusat Statisik (BPS)
Kabupaten Aceh Besar dan website resmi kabupaten serta dari jurnal-jurnal
penelitian.
3.3 Kriteria Desain TPA
Berikut adalah beberapa kriteria yang digunakan dalam perencanaan TPA :

Tabel 3.1. Kriteria Desain TPA

Potjut Siti Sara/082001400049

8
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

N Keterangan Satuan Kriteria Sumber


o desain

1 Faktor pemadatan Kg/m3 850


di TPA
2 Slope/ kemiringan % 20 SNI 03-3241-1994
zona
3 Faktor koreksi
terasering:
Untuk 1,3 Permen PU no 3/2003
timbunan
sementara
Untuk 1,2 Permen PU no 3/2003
timbunan
permanen
4 Ketebalan sel M 3-9 Tchobanoglous,1993
5 Ketinggian sel M 2,5-3,6 Tchobanoglous,1993
6 Tanah penutup M 0,1-0,15 Permen PU no 3/2003
harian
M 0,15-0,3 Tchobanoglous,1993
7 Tanah penutup M 0,3-0,4 Permen PU no 3/2003
antara
8 Tanah penutup M 0,5-0,6 Permen PU no 3/2003
akhir
M >0,46 EPA
9 Tinggi M 3-4,2 Tchobanoglous,1993
lift/tingkatan
o
10 Kemiringan lereng 20-30 Permen PU no 3/2003
11 Tinggi liner
(lapisan dasar)
Untuk tanah M 0,6-1,2 Tchobanoglous,1993
lempung
M (2x0,3) Permen PU no 3/2003

Untuk mm 1,5-2 Permen PU no 3/2003


geomembran
12 Koefisien Cm/deti <10-6 Permen PU no 3/2003
permeabilitas liner k
13 Slope final cover % 3-6 Tchobanoglous,1993
landfill
14 Slope pipa % 1-2 Tchobanoglous,1993
leachate
15 Lebar jembatan M >3,5 m Permen PU no 3/2003
tiimbang
16 Beban tertahan ton >5 Permen PU no 3/2003

Potjut Siti Sara/082001400049

9
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

N Keterangan Satuan Kriteria Sumber


o desain

pada jembatan

BAB IV
HASIL PERHITUNGAN

4.1. Menentukan Lokasi TPA

Potjut Siti Sara/082001400049

10
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

Dalam menentukan calon lokasi TPA dilakukan penilaian/skoring masing-


masing calon lokasi TPA menggunakan SNI 03-3241-1994 tentang Tata Cara
Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah dan menggunakan metode
Le Grand untuk melihat dari kondisi hidrogeologi. Penilaian ini dilakukan dengan
melihat gambaran umum wilayah dari masing - masing calon yang terdapat pada
Bab II diatas. Berikut adalah pemberian nilai sesuai 3 calon lokasi TPA :

Tabel 4.1 Scoring pemilihan TPA (SNI)

Potjut Siti Sara/082001400049

11
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

Potjut Siti Sara/082001400049

12
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

Potjut Siti Sara/082001400049

13
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

Untuk perhitungan Legrand diperlukan data kondisi hidrogeologi dari ketiga


calon TPA, yaitu sebagai berikut:
Tabel 4.2 Kondisi Hidrogeologi Calon TPA
Parameter Calon 1 Calon 2 Calon 3
Landai- Agak
Landai: Agak curam:
Curam:
Topografi 126,00 s/d 354,00 s/d
132,00 s/d
127,00 363,00
137,00 s/d
Tidak terdapat 600 m sungai 1000 m sungai
Hidrologi Permukaan
sungai besar di hilir kecil di hulu
Golongan Peruntukan Sungai - pertanian pertanian
Sumur Pantau:
> MAT Tanah di bagian hulu + 29,00 + 21,00 + 15,00
> MAT Tanah di bagian hilir + 24,00 + 20,00 + 12,00
> Jarak antar sumur pantau (m) 200 195 40
> Fraksi pasir (%) 70 40 20
> Fraksi clay (%) 10 60 30
> Fraksi silt (%) 20 10 50
semi
Batuan dasar Impermeabel Impermeabel
permeabel
Jarak muka tanah ke batuan dasar
43 46 40
(dianggap sebagai tebal akuifer)
Jarak ke pemukiman terdekat yang
980 m di 450 m di 3090 di
menggunakan sumur dangkal
bagilan hilir bagian hulu bagian hilir
sebagai sumber air minum

Tabel 4.3 Penilaian Metode Le Grand


Nilai
Keterangan
Calon 1 Calon 2 Calon 3
Langkah 1: Jarak Sumber Pencemar
2 2 1
ke Titik Pemanfaatan Air
Langkah 2: Kedalaman Muka Air 2 2 3
Tanah dari Dasar Sumber Pencemar
Langkah 3: Gradien Muka Air Tanah 5 2 5
dari Sumber Pencemar
Langkah 4: Permeabilitas Sorption 8 0 2
Langkah 5: Tinggi
B B B
Ketelitian/Keakuratan Data
Langkah 6.1: Sumber Air Sekitar
W S S
Lokasi
Langkah 6.2: Informasi Tambahan
- - -
Tentang Calon Lokasi
Rekapitulasi Deskriptif Hidrogeologi 17 + B + W 6+B+S 11 + B + S

Potjut Siti Sara/082001400049

14
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

Derajat Kepekaan akuifer 5 dan 7 5 dan 7 5 dan 7


Derajat kepekaan jenis limbah 3 3 3
Peringkat PAR (Protection of Aquifer
Rating) Nilai PAR dengan melihat (6) C (-20) A (-15) A
tabel situasi peringkat penilaian
Sulit
Kemungkinan Pencemar Sangat Kecil Sangat Kecil
Terkategori
Terima atau Kemungkinan Kemungkinan
Derajat Pencemaran
tolak terima terima

Dari hasil penilaian Scoring SNI terlihat bahwa calon lokasi 2 memiliki
nilai yang paling tinggi disbanding dengan calon lainnya, dan jika dilihat
penilaian dengan metode le grand maka didapatkan kondisi hidrogeologi yang
masuk kategori A adalah calon lokasi 2 dan 3. Dengan demikian, maka lokasi
yang terpilih menjadi lokasi TPA adalah lokasi 2 di Desa Siron Blang, Kecamatan
Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar.
4.2. Perhitungan Lahan TPA
Dalam menentukan kebutuhan lahan TPA yang harus diketahui
sebelumnya adalah timbulan sampah yang masuk ke dalam TPA. Data timbulan
sampah yang digunakan dalam perencanaan ini adalah data timbulan sampah dari
tugas Pengelolaan Sampah sebelumnya. Timbulan sampah di TPA yang digunakan
adalah data timbulan sampah dar sumber langsung ke TPA dan data timbulan dari
TPS ke TPA. Adapun beberapa data yang dapat membantu perhitungan kebutuhan
lahan adalah :
Faktor pemadatan TPA = 600 kg/m3
Faktor pemadatan truk = 300 kg/m3
Faktor pemadatan Amroll truck = 150 kg/m3
Kebutuhan tanah penutup (20% timbulan sampah/tahun)
Ketinggian penimbunan sampah dari dasar landfill = 15 m
Faktor koreksi = 0,7
Kebutuhan luas lahan TPA = 1,2 kebutuhan luas lahan ladnfill
Rumus dan perhitungan sebagai berikut :

Densitas disumber
Timbulan sampah kompaksi=Timbulan sampah x
Densitas Di TPA

Potjut Siti Sara/082001400049

15
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

Volume tanah=Timbulan sampah kompaksi x 20

Luas lahan TPA=A landfill x 1,2


Timbulan sampahkompaksi +Voltanah
A landfill=Faktor koreksi x
15

Dengan menggunakan rumus diatas maka didapatkan perhitungan untuk


menentukan luas lahan TPA. Hasil perhitungan lahan TPA dapat dilihat pada tabel
dibawah ini.
Tabel 4.4 Perhitungan Luas Lahan TPA

4.3. Perhitungan Volume Sampah Berdasarkan Jenis Sampah


Dalam menentukan volume sampah berdasarkan jenis digunakan presentase
jenis sampah. Jenis sampah tersebut dapat dibagi menjadi sampah organik dan
non-organik. Sampah organik terdiri dari sampah organik sulit terurai dan sampah
organik cepat terurai. Persentase dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.5 Persetase Jenis Sampah

Potjut Siti Sara/082001400049

16
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

Presentase
Jenis Sampah
(%)
> Organik
1. cepat terurai
a. sisa makanan 50.58
b. kertas 12.48
2. sulit terurai
a. plastik 18.58
b. kayu/halaman 8.62
c. kain/tekstil 0.88
d. karet 0.96
Presentase
Jenis Sampah
(%)
> Non Organik
1. Logam 3.28
2. Kaca/gelas 4.54
3. B3 0.08
Total 100

Dengan menggunakan data diatas maka dilakukan perhitungan dengan


menggunakan rumus sebagai berikut :

Volume sampah=vol . sampah diTPA x jenis sampah

Dengan menggunakan rumus diatas maka didapatkan perhitungan untuk


menentukan volume sampah berdasarkan jenis sampah di TPA. Hasil perhitungan
volume sampah berdasarkan jenis sampah di TPA dapat dilihat pada tabel dibawah
ini.
Tabel 4.6 Tabel Perhitungan Volume Sampah di TPA

Potjut Siti Sara/082001400049

17
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

4.4. Perhitungan Berat Komposisi Sampah


Dalam menentukan berat komposisi sampah diperlukan data densitas
komposisi sampah. Presentasi dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 4.7 Tabel Densitas Komposisi Sampah

Jenis Sampah Komposisi Sampah Densitas (kg/m2)

Organik cepat terurai Sisa makanan 290

Kertas 88
Organik suli terurai Plastik 65
Kain/tekstil 65
Karet 130
Non Organik Logam 520
Kaca/gelas 195
B3 195

Potjut Siti Sara/082001400049

18
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

Dengan menggunakan data diatas maka dilakukan perhitungan dengan


menggunakan rumus sehingga didapatkan perhitungan berat sampah berdasarkan
densitas komposisi sampah di TPA. Rumus dan hasil perhitungan berat sampah
adalah sebagai berikut :

Berat sampah=timbulan sampah x densitas sampah

Tabel 4.8 Perhitungan Berat Sampah Berdasarkan Densitas Komposisi Sampah

4.5. Komposisi Kimia Dalam Sampah


Perhitungan ini merupakan perhitungan untuk karakteristik kimia yang
meliputi Proximate analysis (kadar air, volatile, fixed carbon, dan abu) ultimate
analysis (kadar karbon, hydrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, fosfor) dan
kandungan energi (Tchobanoglous, 1993)
a. Proximate Analysis
Dalam menentukan komposisi sampah kimia secara Proximate Analysis harus
diketahui persentase komposisi kadar air, volatile matter, fixed karbon, dan non-
combustible yang ada pada sampah sesuai dengan jenisnya. Berikut adalah
persentase komposisi sampah uji proximate analysis:
Tabel 4.9 Persentase Komposisi Sampah Proximate

Potjut Siti Sara/082001400049

19
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

Non
Jenis Volatile Fixed
Komponen Kadar Air Cumbustibl
Sampah Matter Carbon
e
Organik Sisa Makanan 70.0% 21.4% 3.6% 5.0%
Cepat Terurai Kertas 10.2% 75.9% 8.4% 5.4%
Plastik 0.2% 95.8% 2.0% 2.0%
Organik Sulit Kayu/halaman 60.0% 30.0% 9.5% 0.5%
Terurai Kain/tekstil 10.0% 66.0% 17.5% 6.5%
Karet 1.2% 83.9% 4.9% 9.9%
Logam 5.0% 0.0% 0.0% 95.0%
Non Organik Kaca/gelas 2.0% 0.0% 0.0% 98.0%
B3 3.2% 20.5% 6.3% 70.0%

Rumus yang dipakai pada perhitungan kadar sampah Proximate adalah:

Berat Kadar (Proximate) = %Kadar x Berat Sampah per Komposisi

Tabel hasil perhitungan kadar komposisi kimia dalam sampah berdasarkan


Proximate Analysis untuk sampah Organik Cepat Terurai, lama terurai, dan Non-
organik adalah sebagi berikut:

Tabel 4.10 Berat Kadar Air Dalam Sampah

Tabel 4.11 Berat Kadar Volatile Matter Dalam Sampah

Potjut Siti Sara/082001400049

20
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

Tabel 4.12 Berat Kadar Fixed Carbon Dalam Sampah

Tabel 4.13 Berat Kadar Non combustible Dalam Sampah

b. Ultimate Analysis

Potjut Siti Sara/082001400049

21
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

Dalam perhitungan komposis (berat) kimia dengan ultimate analysis


dibutuhkan data persentase komposisi kimia Carbon, Hydrogen, Oxygen,
Nitrogen, Sulfur dan Ash. Selain itu, digunakan juga data dari perhitungan
sebelumnya berupa kadar air (proximate) untuk menghitung kadar sampah. Data
persentase komposisi kimia dapat dilihat dibawah ini :

Tabel 4.14 Komposisi Kimia Dalam Sampah Berdasarkan Ultimate Analysis

Berikut beberapa rumus yang digunanak dalam perhitungan Ultimate


Berat kering sampah
Berat kering sampah merupakan berat sampah yang ada di TPA yang tidak
memiliki kadar air lagi. Berat kering sampah dihitung dengan:

Berat Kering Sampah = Berat Sampah Kadar air(Proximate)


Tabel 4.15 Berat kering Sampah

Berat Kadar Ultimate

Berat Kadar(Ultimate) = %Komposisi x Berat Kering Sampah

Potjut Siti Sara/082001400049

22
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

Tabel Berat Kadar Komposisi Sampah(Ultimate) Organik Cepat terurai, lama


terurai, dan Non- organic adalah sebagi berikut :
Tabel 4.16 Berat Kadar Carbon dalam Sampah

Tabel 4.17 Berat Kadar Oxygen dalam Sampah

Tabel 4.18 Berat Kadar Nitrogen dalam Sampah

Potjut Siti Sara/082001400049

23
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

Tabel 4.19 Berat Kadar Sulfur dalam Sampah

4.6. Perhitungan Rumus Molekul dan Volume Gas


Gas yang dihasilkan dari degradasi sampah yang dapat dipanen menjadi
energi merupakan gas Metana (CH) dan Karbondioksida (CO). Gas-gas ini
berasal dari sampah organic dan oleh sebab itu hal-hal yang harus diperhitungkan
adalah:
Mol Sampah Cepat Terurai
Sampah organik cepat terurai berasal dari sisa makanan dan kertas.

Total Karbon SampahOrganik Cepat Terurai


Mol(x) =
Mr( x)

Mol Sampah Sulit Terurai


Untuk sampah organik sulit terurai berasal dari sampah plastik, kayu halaman,
kain/tektil, dan karet.

Potjut Siti Sara/082001400049

24
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

Total Karbon SampahOrganik Sulit Terurai


Rumus Moekul (x) =
Mr (x)

Penyederhanaan Rumus Kimia Sampah

Mol Karbon Sampah (Cepat / Sulit )Terurai


Karbon (C) =
Mol Nitrogen (Cepat /Sulit )Terurai
Mol Hidrogen Sampah (Cepat /Sulit )Terurai
Hidrogen (H) =
Mol Nitrogen (Cepat /Sulit )Terurai
Mol Oksigen Sampah(Cepat /Sulit )Terurai
Oksigen (O) =
Mol Nitrogen(Cepat / Sulit )Terurai

Tabel 4. 20 Penyederhanaan Koefisien Gas Cepat Terurai


JENIS RUMUS PENYEDERHANAA RUMUS
Mr
GAS MOLEKUL N MOLEKUL
Carbon 12.01 1418.426782 25
Hydrogen 1.01 2249.758339 40

16 C25H40O16N
Oxygen 16 876.6100638
1
Nitrogen 14.01 56.18190043

Tabel 4. 21 Penyederhanaan Koefisien Gas Sulit Terurai


JENIS RUMUS PENYEDERHANAA RUMUS
Mr
GAS MOLEKUL N MOLEKUL
Carbon 12.01 543.0666942 88
Hydrogen 1.01 806.6705181 131 C88H131O29
Oxygen 16 178.7284364 29 N
Nitrogen 14.01 6.153678298 1

Berat total senyawa dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :

CaHbOcNd + [ 4 ab2c +3 d
4 ] HO [4 ab2c +3 d
4 ] CH + [ 4 ab2c +3 d
4 ] CO
+dNH

Keterangan : a = Hasil penyederhanaan Karbon


b = Hasil penyederhanaan Hidrogen

Potjut Siti Sara/082001400049

25
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

c = Hasil penyederhanaan Oksigen


d = Hasil penyederhanaan Nitrogen

Selanjutnya didapatkan persamaan kimia sebagai berikut :


Organik Cepat Terurai :
C25H40O16N + X H2O YCH4 + ZCO2 + dNH3
Organik Sulit Terurai :
C90H132O29N + X H2O YCH4 + ZCO2 + dNH3

Nilai X, Y dan Z dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

4 ab2 c+3 d 4 a+b2 c3 d 4 ab+2 c +3 d


X= Y= Z=
4 8 8

Selanjutnya dilakukan perhitungan volume gas dari persamaan rumus kimia dan
diperlukan data densitas gas serta berat kering total organik yaitu sebagai berikut :

Tabel 4.22 Data Densitas Gas dan Berat Kering Total

Keterangan Nilai Satuan

Densitas CH4 0.7817 kg/m3


Densitas CO2 1.978 kg/m4
Berat Kering Total Organik
Cepat Terurai 36124.04 Kg
Berat Kering Total Organik
Sulit Terurai 11567.27 Kg

Adapun rumus untuk perhitungan volume gas adalah:


Volume gas CH4

Berat Total CH 4 x Berat Kering Total


Volume Gas (CH) =
Berat Total Senyawa Sampah x Berat Spesifik CH 4

Volume gas CO2

Berat Total CO 2 x Berat Kering Total


Volume Gas (CO) =
Berat Total Volume
Tabel 4.23 Perhitungan SenyawaGas
Sampah x Berat
Sampah Spesifik
Cepat TeruraiCO 2

Potjut Siti Sara/082001400049

26
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

Tabel 4.24 Perhitungan Volume Gas Sampah SulitTerurai

BAB V

Potjut Siti Sara/082001400049

27
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

KESIMPULAN

Simpulan dari Laporan Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah di


Kabupaten Aceh Besar adalah sebagai berikut :
1. Pada Kabupaten Aceh Besar, lokasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang
terpilih sesuai degan penilaian SNI 03-3241-1994 dan Le Grand adalah Desa
Siron Blang, Kecamatan Kuta Cot Glie.
2. Perencanaan TPA dilakukan dalam jangka waktu 10 tahun yaitu dimulai dari
tahun 2016 2026 dengan metode Sanitary Landfill.
3. Luas lahan TPA yang dibutuhkan sampai dengan tahun 2026 yaitu 2118.72 m
atau 0.211872 Ha.
4. Jenis sampah di TPA dipisahkan menjadi 3 yaitu sampah organik cepat terurai,
sampah organik sulit terurai dan non-Organik.
5. Berat total sampah yag dihasilkan oleh Kabupaten Aceh Besar adalah
17815.49 kg/hari.
6. Volume gas sampah organik cepat terurai yang dihasilkan berupa Metana
(CH) sebesar 16308.01085 m3 dan Karbondioksida (CO) sebesar 15740.64997
m3.
7. Volume gas sampah organik sulit terurai yang dihasilkan berupa Metana (CH)
sebesar 7515.194106 m3 dan Karbondioksida (CO) sebesar 5448.537792 m3 .
8. Dilihat dari volume gas yang dihasilkan, gas Metana (CH) memiliki volume
gas yang lebih besar dibanding Karbondioksida (CO).
9. Sampah organik cepat terurai lebih banyak menghasilkan gas dibanding
sampah organik sulit terurai.

DAFTAR PUSTAKA

Potjut Siti Sara/082001400049

28
Teknik Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah

BPS Kabupaten Aceh Besar. https://acehbesarkab.bps.go.id/acehbesarV2/pdf_


publikasi/Kabupaten-Aceh-Besar-Dalam-Angka-2016.pdf diakses pada 22
April 2017.
SNI 03-3241-1994 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan
Akhir Sampah.
Tchobanoglous., 1993. Integrated Solid Waste Management Engineering
Principles and Management Issues. New York: Mc Graw Hill Inc.

Potjut Siti Sara/082001400049

29