Anda di halaman 1dari 13

Evaluasi Proyek Pembangunan Pemerintah ( Studi Kasus Proyek Jembatan Suramadu )

I. PENDAHULUAN

Indonesia sebagai sebuah negara berkembang terus memacu pertumbuhan ekonominya agar semakin dapat
menyejahterakan rakyatnya di masa ini maupun di masa yang akan datang. Usaha untuk terus bertumbuh salah
satunya adalah dengan proyek-proyek pemerintah yang dapat menunjang kegiatan perekonomian di negara ini.
Namun proyek-proyek pemerintah tersebut bukannya tanpa kesulitan, karena terdapat kesulitan dalam
pelaksanaannya baik dalam hal manfaat sebagai alat ukur yang efektif bagi perbaikan taraf hidup masyarakat,
maupun dalam pencapaiannya (Anwar, 2011:7).

Pembangunan di Indonesia seharusnya dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat agar mampu
menolong diri sendiri, yang dapat dilakukan dengan memberdayakan dan menempatkan masyarakat sebagai pelaku
pembangunan itu sendiri. Selain itu, pembangunan hasruslah berwawasan kearifan lokal sebagai salah satu usaha
dalam menguatkan potensi lokal yang dimiliki sekaligus untuk menguatkan daya saing. Produk dengan dasar
kearifan lokal akan mempunyai ciri khas atau trademark yang menjadikan produk tersebut lain daripada yang lain...

Pembangunan nasional diharapkan dapat kemanfaatan riil yang dapat dinikmati oleh seluruh warga negara dalam
jangka panjang, sehingga diperlukan sebuah usaha analisis dan evaluasi yang cermat dan komperhensif terhadap
suatu rencana pembangunan, agar pembangunan tidak memboroskan sumber daya yang dapat merugikan negara dan
masyarakat. Berbagai informasi dalam evaluasi dikumpulkan untuk menentukan apakah proyek akan berjalan sesuai
dengan rencana, dan apakah suatu proyek sesuai dengan tujuan program serta apkaah proyek sesuai dengan waktu
yang ditentukan. Evaluasi proyek diharapkan dapat memberikan informasi untuk mengembangkan proyek yang
meliputi pembangunan dan pelaksanaannya.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Evaluasi Proyek

Evaluasi proyek adalah melihat perkembangan kemajuan proyek, dibandingkan dengan rencana apa sudah
perkembangannya, bila menyimpang sejauh mana penyimpangan misal proyek pembangunan jalan, rencana selesai
100% dalam tempo 3 bulan. kemudian pada bulan ke 2 diadakan evaluasi proyek, ternyata baru selesai 50 %, berarti
ada penyimpangan keterlambatan.

2.2 Studi Kelayakan Bisnis

Study kelayakan bisnis, yaitu membuat study suatu bisnis, apa saja peluang yg ada, apa tantangan yg akan terjadi,
berapa modal yg dibutuhkan dan akhirnya bisnis tersebut menguntungkan tau rugi. Bila untung berapa, apakah
keuntungan seimbang dg biaya yg dikeluarkan, dan akhirnya apakah proyek tersebut layak atau tidak.
2.3 Infrastruktur

Infrastruktur sebagai fasilitas-fasilitas fisik yang dikembangkan atau dibutuhkan oleh agen-agen publik untuk
fungsi-fungsi pemerintahan dalam penyediaan air, tenaga listrik, pembuangan limbah, transportasi dan pelayanan-
pelayanan lainnya untuk memfasilitasi tujuan-tujuan ekonomi dan sosial. Sistem Infrastruktur merupakan
pendukung utama fungsi-fungsi sistem sosial dan sistem ekonomi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat (Stone,
2003).

Infrastruktur merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Dari alokasi pembiayaan publik dan swasta,
infrastruktur dipandang sebagai lokomotif pembangunan nasional dan daerah. Secara ekonomi makro ketersediaan
dari jasa pelayanan infrastruktur mempengaruhi marginal productivity of private capital, sedangkan dalam konteks
ekonomi mikro, ketersediaan jasa pelayanan infrastruktur berpengaruh terhadap pengurangan biaya produksi (Kwik
Kian Gie, 2002).

Sistem infrastruktur dapat didefinisikan sebagai fasilitas- fasilitas atau struktur-struktur dasar, peralatan-peralatan,
instalasi-instalasi yang dibangun dan yang dibutuhkan untuk berfungsinya sistem sosial dan sistem ekonomi
masyarakat (Grigg, 2003).

Infrastruktur dibagi menjadi tiga (The World Bank, 1994), yaitu:

1. Infrastruktur ekonomi, merupakan infrastruktur fisik yang diperlukan untuk menunjang aktivitas ekonomi,
meliputi public utilities (tenaga, telekomunikasi, air, sanitasi, gas), public work (jalan, bendungan, kanal, irigasi dan
drainase) dan sektor transportasi (jalan, rel, pelabuhan, lapangan terbang dan sebagainya).

2. Infrastruktur sosial, meliputi pendidikan, kesehatan, perumahan dan rekreasi.

3. Infrastruktur administrasi, meliputi penegakan hukum, kontrol administrasi dan koordinasi.

C. PEMBAHASAN

3.1 Manfaat Evaluasi Proyek

Sumber daya yang terbatas, ketersediaan sarana prasarana yang masih kurang, teknologi yang masih lemah, dan
kesempatan investasi yang terbatas membuat setiap keputusan dalam memanfaatkan sumber daya berapapun
besarnya harus sangat diseleksi. Besarnya pengorbanan atau opportunity cost dari setiap penggunaan sumber daya
milik bersama mengharuskan setiap pembangunan dapat menghasilkan inceremental benefit yang lebih besar dari
opportunity cost yang dikorbankan agar kesejahteraan masyarakat dapat tercipta.

Evaluasi dapat diartikan sebagai penyelidikan terhadap nilai suatu tujuan. Dalam sebuah evaluasi harus dapat
menjelaskan berbagai hal-hal penting, yaitu bagaimana evaluasi dapat memberikan informasi mengenai peluang
pengembangan proyek, bagaimana suatu proyek dapat berjalan dengan baik dan lancar, adanya informasi keterkaitan
antara perencanaan dan pelaksanaan proyek. Evaluasi proyek ini merupakan langkah awal dalam sebuah proyek. Di
dalam evaluasi ini juga harus dapat memberikan informasi dan bukti pada pemangku kebijakan bahwa suau proyek
memberikan manfaat yang baik.

Secara garis besar, analisis terhadap proyek dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu Ex-Ante Evaluation, keputusan
evaluasi pada tahap ini menyangkut kebijakan alokasi sumber daya dan penetapan keputusan apakah suatu proyek
layak dijalankan atau tidak. Di dalam pengambilan keputusan ini akan sangat penting dikarenakan jika proyek yang
diputuskan jalan ternyata tidak layak, maka akan sangat merugikan. Tahap evaluasi berikutnya adalah On Going
Evaluation dan Ex-Post Evaluation. Pada tahap ini dilakukan setelah proyek berjalan, sehingga tidak mampu
memberikan jawaban mengenai keputusan alokasi sumber daya, tetapi kedua tahap evaluasi proyek ini sangat baik
dalam memberikan pembelajaran atau informasi mengenai nilai aktual dari suatu proyek.

3.2 Mengukur Manfaat Proyek Transportasi

Setiap proyek memiliki karakteristik masing-masing, sehingga diperlukan pendekatan yang berbeda pula dalam
menilai dan mengukur nilai ekonomi suatu proyek. Terdapat beberapa masalah terkait dengan penerapan evaluasi di
berbagai sektor, misalnya masalah terkait data, kesulitan menetapkan shadow price, dan kesulitan dalam
menerapkan ketidakpastian dan resiko proyek. Terdapat perbedaan di proyek berbagai sektor, antara lain terkait
penilaian cost, benefit, eksternalitas, dan pertimbangan sosial ekonomi.

Di dalam proyek transportasi, terdapat perbedaan antara di negara maju dan di negara berkembang. Pertama, shadow
price jarang digunakan di negara maju dikarenakan pasar yang berjalan mendekati sempurna dibandingkan dengan
negara berkembang. Kedua, tujuan utama pembangunan transportasi di negara maju adalah untuk menghemat waktu
dan menurunkan angka kecelakaan, sedangkan di negara berkembang untuk menurunkan biaya operasi transportasi.
Ketiga, negara berkembang lebih memperhatikan produksi yang tangible seperti makanan dan perumahan
dibandingkan pembangunan kualitas lingkungan.

Pendekatan yang sering digunakan dalam proyek transportasi adalah dengan menilai manfaat proyek dari adanya
penghematan biaya karena adanya perbaikan infrastruktur. Sebagai contoh, dengan adanya pembangunan jalan tol
akan mengurangi biaya bahan bakar karena tidak akan terjadi macet, membuat ban kendaraan lebih tahan lama,
mengurangi angka kecelakaan, dan sebagainya. Ini adalah suatu hal yang penting sebagai dasar dalam menghitung
manfaat proyek hanya dari sisi penghematan biaya karena jika tidak ada perbaikan jalan, maka akan lebih banyak
biaya yang harus dikeluarkan oleh pengguna jalan.

Dalam contoh kasus pembangunan jalan tol, idealnya dalam menilai manfaat adalah dengan konsep with and
without project, yaitu membandingkan perbedaan antara manfaat yang diakibatkan oleh tidak adanya kemacetan
yang terjadi dengan adanya proyek, dengan kemacetan dengan tidak adanya proyek tersebut. Penghematan uang
dijadikan ukuran manfaat proyek. Melakukan evaluasi terhadap kemacetan membutuhkan tambahan estimasi
mengenai nilai tambahan biaya akibat kemacetan itu sendiri. Misalnya bertambahnya konsumsi bahan bakar dan
bertambahnya waktu. Sedangkan manfaat tidak langsung pembangunan jalan tol adalah tumbuhnya industri di
sekitar jalan tol.
3.3 Aspek-Aspek dalam Analisis Proyek Pemerintah

Proyek-proyek yang dibangun oleh pemerintah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga
perlu memperhatikan aspek yang dianalisis sehingga pembangunan dapat memenuhi harapan luas dari seluruh
komponen masyarakat.

3.3.1 Aspek Teknis

Analisis teknis akan menjelaskan mengenai batasan dalam menentukan berbagai model, asusmsi, dan data berupa
angka dan informasi yang diperlukan. Intinya, analisis aspek teknis harus memuat penjelasan teknis mulai dari tahap
pra konstruksi, konstruksi, sampai dengan pelaksanaan proyek. Selain itu pada tahap ini juga mengurusi masalah
perizinan, pelelangan, pembebasan lahan, penjajagan pendanaan, dan lain-lain. Data yang dibutuhkan dalam analisis
aspek teknis beragam tergantung pada jenis proyeknya, namun dalam beberapa proyek, data yang dibutuhkan antara
lain data topografi, keadaan tanah, keadaan lokasi, transportasi menuju lokasi, dan keadaan penduduk sekitar.

3.3.2 Aspek Lingkungan

Proyek pemerintah yang dibangun harus ramah lingkungan dan tidak mengurangi kualitas lingkungan itu sendiri.
Menurut Pasal 16 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 mengenai Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan
Lingkungan Hidup menyatakan bahwa setiap rencana kegiatan yang diperkirakan akan mempunyai dampak penting
terhadap lingkungan wajib dilengkapi analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).

3.3.3 Aspek Organisasi dan Manajemen

Dalam pelaksanaan proyek perlu diperhatikan mengenai penanganan dalam sebuah organisasi yang sistematis dan
terstruktur sesuai dengan kegiatan proyek. Dalam aspek ini harus membahas keterkaitan dan keterlibatan lembaga-
lembaga yang terkait dengan proyek, misalnya perbankan atau lembaga masyarakat. Aspek kelembagaan merupakan
sarana prasarana proyek yang sangat diperlukan untuk mendukung aspek manajemen melaksanakan kegiatannya.

Hubungan baik dengan lembaga masyarakat dan dengan masyarakat itu sendiri akan memberikan dampak positif
terhadap proyek. Keterlibatan masyarakat sekitar juga tidak boleh dilupakan. Masyarakat di sekitar proyek dapat
menjadi penghambat maupaun menjadi pendukung jalannya proyek., tergantung dari pendektan dan perlakuan
terhadap mereka.

3.3.4 Aspek Ekonomi

Dalam aspek ini dibahas mengenai sumbangan proyek bagi perekonomian dan masyarakat secara keseluruhan.
Penggunaan sumber daya oleh suatu proyek ada pengorbanannya (opportunity cost). Oleh karena itu manfaat yang
dihasilkan oleh proyek harus lebih besar dari pengorbanannya sehingga memberikan kemanfaatan bagi masyarakat
dan perekonomian.
3.3.5 Aspek Sosial

Adanya suatu proyek dapat memberikan dampak kepada masyarakat, naik negatif maupun positif. Unsur-unsur
dalam masyarakat yang dapat terpengaruh dengan adanya proyek antara lain:

1. Jumlah penduduk, komposisi usia, dan jenis kelamin

2. Pendapatan masyarakat dan distribusinya

3. Nilai-nilai dalam masyarakat

4. Tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat

5. Persepsi masyarakat dam melihat tatacara kehidupan

6. Pola konsumsi masyarakat

Keberadaan suatu proyek diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara langsung maupun tidak kepada
masyarakat sekitar, misalnya:

1. Penciptaan lapangan kerja

2. Peningkatan Pendapatan Masyarakat

3. Perubahan sosial terhadap nilai-nilai baru

4. Perubahan taraf hidup seperti pendidikan dan kesehatan

5. Perbaikan distribusi pendapatan

3.3.6 Aspek Komersial

Aspek komersial juga harus diperhatikan oleh proyek-proyek pemerintah, antara lain dengan melihat pasar untuk
input dan output proyek, harganya, dan sebagainya. Faktor-faktor ini dapat memengaruhi keberhasilan atau
kegagalan suatu proyek. Beberapa faktor penting yang perlu dianalisis yang termasuk aspek komersial proyek,
antara lain:

1. Permintaan (demand), yaitu siapa yang akan menggunakan hasil dari proyek yang dibangun, berapa jumlah
konsumennya, apakah konsumen merupakan konsumen akhir yang menggunakan produk sebagai pemenuhan
kebutuhan konsumsi, atau konsumennya merupakan industri yang menggunakan produk sebagai input untuk
produksi lebih lanjut.

2. Penawaran (supply), siapa saja supplier komoditi yang dibutuhkan proyek, bagaimana kelangsungannya,
kualitasnya, apakah merupakan supllier yang terbaik dan termurah?
3. Struktur pasarnya, keadaan persaingan di pasar, akan sangat penting dalam mengambil posisi di pasar serta dalam
membuat kebijakan terkait harga, jumlah produksi, dan sebagainya.

3.4 Manfaat Proyek Pembangunan Pemerintah

Proyek yang dilaksanakan oleh pemerintah bertujuan untuk menyejahterakan masyarakat, yang bukan hanya yang
dapat diukur secara fisik namun juga yang tidak langsung. Kesejahteraan masyarakat akan meningkat jika ada
kenaikan nilai produk suatu barang dan jasa yang dihasilkan dari proyek atau kegiatan yang dapat meningkatkan
terpenuhinya kebutuhan masyarakat baik secara fisik maupun non fisik. Manfaat dari proyek pembangunan
pemerintah yaitu:

1. Manfaat Langsung (Direct Benefit)

Manfaat langsung proyek timbul karena adanya kenaikan nilai output proyek atau menurunnya biaya yang
disebabkan oleh:

a. Kenaikan dalam nilai produk fisik

Proyek yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat adalah proyek yang mampu menghasilkan tambahan
output barang atau jasa secara nyata, karena kenaikan produk secara fisik tersebut dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat.

b. Perbaikan kualitas produk

Ada kalanya proyek yang dibangun tidak untuk menghasilkan produk secara fisik, namun untuk meningkatkan
kualitas suatu barang atau jasa. Dengan peningkatan kualitas tersebut membuat kesejahteraan masyarakat menjadi
meningkat.

c. Perubahan lokasi, waktu penjualan, dan perubahan bentuk

Nilai suatu barang dapatnaik karena perbedaan tempat, perbedaan waktu penjualan, atau perbedaan bentuk.

d. Manfaat proyek dapat dilihat dari penghematan biaya yang diakibatkan karena pemanfaatan teknologi informasi
dan pembaharuan alat pengangkutan.

2. Manfaat Tidak Langsung (Indirect Benefit)

Manfaat ini timbul karena adanya suatu proyek, namun timbul di luar proyek tersebut. Manfaat ini harus tetap
diperhitungkan sebagai salah satu manfaat adanya proyek.

a. Induced Multiplier Effect yaitu manfaat yang diperoleh dari kegiatan-kegiatan yang timbul sebagai akibat
dibangunnya suatu proyek.
b. Manfaat yang timbul karena adanya Economoies of scale, adanya proyek membuat adanya peningkatan efisiensi
penggunaan sumber daya sebagai akibat skala usaha yang lebih besar, sehingga harga menjadi lebih murah dan daya
beli masyarakat akan meningkat.

c. Manfaat yang timbul karena adanya perbaikan mutu tenaga kerja (dynamic secondary effect). Proyek besar
menggunakan teknologi tertentu yang membutuhkan tenaga kerja khusus. Untuk memenuhi hal tersebut, maka
tenaga kerja akan ditingkatkan kemampuannya melalui pelatihan-pelatihan, sehingga selain skill tenaga kerja akan
meningkat, akan terjadi transfer teknologi dari proyek kepada masyarakat.

3. Manfaat yang Sulit Diukur (Intangible effect)

Tidak semua manfaat yang dihasilkan suatu proyek dapat diukur, ada manfaat yang tidak dapat diukur dengan uang,
tetapi dapat diidentifikasi, misalnya:

a. Perbaikan lingkungan hidup

b. Perbaikan distribusi pendapatan

c. Perbaikan keamanan

Manfaat proyek yang sulir diukur ini tetap harus dipertimbangkan dan harus disebutkan dalam usulan.

4. Consumer Surplus

Consumer surplus timbul jika output proyek menyebabkan turunnya harga output. Rendahnya harga menyebabkan
konsumen dapat menghemat biaya dari perbedaan antara kemampuan dan kemauan untuk membayar dengan apa
yang benar-benar mereka bayarkan. Consumer surplus juga dapat terjadi akibat pengaturan harga oleh pemerintah
sehingga harga yang terjadi lebih rendah dari harga semestinya.

3.5 Studi Kasus Proyek Pembangunan Pemerintah Jembatan Suramadu

3.5.1 Latar Belakang Proyek Jembatan Suramadu

Peningkatan infrastruktur akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur juga berpengaruh penting bagi
peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan manusia, antara lain dalam peningkatan nilai konsumsi, peningkatan
produktivitas tenaga kerja dan akses kepada lapangan kerja, serta peningkatan kemakmuran nyata dan terwujudnya
stabilisasi makro ekonomi, yaitu keberlanjutan fiskal, berkembangnya pasar kredit, dan pengaruhnya terhadap pasar
tenaga kerja. The World Bank (1994)

Mengapa Infrastruktur dibutuhkan? Kembali ke konsep dan definisi dasar Infrastruktur. Menurut Grigg 1988 definisi
infrastruktur adalah :
a. Infrastruktur merupakan sistem fisik yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam lingkup
sosial dan ekonomi

b. Infrastruktur merupakan pendukung utama fungsi-fungsi sistem sosial dan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat

b. Infrastruktur berfungsi sebagai mediator antara sistem ekonomi dan sosial dalam tatanan kehidupan manusia
dengan lingkungan (alam)

Infrastruktur yang kurang atau tidak berfungsi akan memberikan dampak yang besar bagi manusia. Sebaliknya
infrastruktur yang terlalu berlebihan untuk kepentingan manusia tanpa memperhatikan kapasitas daya dukung
lingkungan akan merusak lingkungan tersebut dan pada hakekatnya juga akan merugikan manusia dan makhluk
hidup lainnya (sebagai bagian dari ekosistem). Infrastruktur harus dimengerti dan dipahami fungsinya sebagai suatu
alat untuk menata kehidupan manusia dengan memperhatikan alam.

Struktur perekonomian Indonesia secara spesial pada triwulan III/2013 masih didominasi oleh kelompok provinsi di
Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 58,20 persen untuk
pertumbuhan ekonomi di pulau lainnya hanya menyumbang kurang dari 50 persen. Di mana, masing-masing untuk
Pulau Sumatera sebesar 23,75 persen, Pulau Kalimantan 8,45 persen, Pulau Sulawesi 4,87 persen, dan sisanya 4,73
persen di pulau-pulau lainnya
(http://www.suaramerdeka.com/v2/index.php/read/news/2013/11/06/178550/Pertumbuhan-Ekonomi-Masih-
Didominasi-Pulau-Jawa, diakses 23 Maret 2014).

Oleh karena pertumbuhan ekonomi menjadi kunci penting dalam perkembangan sebuah wilayah, maka diperlukan
suatu infrastruktur untuk melakukan pemerataan pertumbuhan ekonomi tersebut. Provinsi Jawa Timur sebagai salah
satu provinsi pintu gerbang Indonesia Timur memegang peranan penting dalam pertumbuhan industri, perdagangan,
dan ekonomi di wilayah Indonesia Timur. Oleh karena itu, jalur transportasi menjadi bagian penting dalam
perkembangan roda industri dan roda perekonomian.

Sementara itu, Pulau Madura yang menjadi bagian dari provinsi Jawa Timur, mengalami kondisi yang kurang
menguntungkan. Laju pertumbuhan ekonomi yang lambat dan pendapatan perkapita tertinggal. Pergerakan jalur
transportasi yang terhambat antara Provinsi Jawa Timur dan Pulau Madura membuat pembangunan Jembatan
Suramadu dinilai penting dan strategis untuk perkembangan Pulau Madura di masa yang akan datang. Dengan
Jembatan Suramadu, yang akan menghubungkan Surabaya dengan Pulau Madura melalui jalan darat diharapkan
dapat mereduksi waktu tempuh sehingga perkembangan Pulau Madura diharapkan dapat menjadi kawasan ekonomi
yang berkembang seperti Pulau Batam dan lainnya yang telah maju.

Jembatan Nasional Suramadu adalah jembatan yang melintasi Selat Madura, menghubungkan Pulau Jawa (di
Surabaya) dan Pulau Madura (di Bangkalan, tepatnya timur Kamal), Indonesia. Dengan panjang 5.438 m, jembatan
ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini. Jembatan Suramadu terdiri dari tiga bagian yaitu jalan
layang (causeway), jembatan penghubung (approach bridge), dan jembatan utama (main bridge). Pembangunan
Jembatan Suramadu ini diselesaikan selama 6 tahun. Tepatnya, dimulai dari Breaking Ground pada tanggal 20
Agustus 2003 yang dilakuakan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri yang menjabat Presiden pada saat itu. Dan
diresmikan oleh Presiden SBY pada tanggal 10 Juni 2009. Biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan jembatan ini
berkisar 4,5-5 Triliun Rupiah.

Transportasi merupakan bagian penting untuk dapat menimbulkan dampak pergerakan orang ataupun barang.
Pergerakan jalur transportasi yang terhambat membuat pembangunan jembatan Suramadu dinilai penting sebagai
pembuka awal. Dengan Jembatan Suramadu, yang akan menghubungkan Surabaya dengan Pulau Madura melalui
jalan darat, diharapkan ketimpangan sosial dapat segera direduksi. Arus transportasi yang cepat dan efektif akan
membuat perkembangan Madura segera melejit bersaing dengan daerah-daerah lain. Tata wilayah dan tata guna
lahan juga akan terbentuk secara proporsional. Kawasan jembatan Suramadu memiliki potensi sebagai generator
pembangkit, namun apabila tidak dikendalikan maka diprediksi akan membawa pengaruh perubahan terhadap
pengembangan wilayah di kawasan Kawasan Kaki Jembatan Suramadu dan sekitarnya baik pada sisi Surabaya
maupun Bangkalan. Fenomena perubahan tersebut dapat terlihat antara lain dengan menurunnya fungsi bangunan
dan kualitas lingkungan. Disinilah pentingnya suatu perencanaan melalui suatu konsep penataan bangunan yang
terpadu dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang terkait antara lain pertimbangan ekologi, ekonomi, sosial
budaya dan regional, supaya dapat menghasilkan suatu wajah kawasan yang terkendali dan dapat menunjukkan jati
dirinya.

3.5.2 Tujuan Proyek Jembatan Suramadu

Pembangunan jembatan ini ditujukan untuk mempercepat pembangunan di Pulau Madura, meliputi bidang
infrastruktur dan ekonomi di Madura, yang selama ini dikenal sebagai daerah paling tertinggal diantara 38
kabupaten/kota di Jawa Timur.

Menurut Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto, bila dilihat dari peran Jembatan Suramadu, maka yang
dijadikan tolak ukur adalah

Arus transportasi, dilihat dari terjadinya kelancaran arus manusia,barang,dan jasa.

Pertumbuhan perekonomian, melalui terjalinnya potensi sumber daya kawasan, khususnya di wilayah Madura.

Pemerataan ekonomi, Kesenjangan ekonomi antara Pulau Madura dengan kawasan lain di provinsi Jatim berkurang.

Peningkatan infrastruktur, meningkatnya aksesibilitas dan mobilitas secara signifikan.

Penerimaan sosial-budaya, memfasilitasi terjalinnya interaksi budaya antara Jawa dan Madura dalam era
modernisasi.
3.5.3 Dampak Proyek Jembatan Suramadu

Pertumbuhan ekonomi menjadi kunci penting dalam perkembangan sebuah wilayah. Propinsi Jawa Timur dengan
jumlah penduduk mencapai 33 juta jiwa, menjadi salah satu propinsi dengan kerapatan penduduk yang padat. Di
Madura, umumnya kegiatan ekonomi masih bertumpu pada sektor pertanian primer (tanaman pangan, peternakan,
perikanan, perkebunan dan kehutanan). Artinya pertanian atau sektor tradisional menjadi sektor andalan yang
nampak dari perolehan PDRB terbesar dibandingkan sektor lain. Sektor lainnya adalah pertambangan dan
penggalian, industri pengolahan, listrik, gas, air bersih, bangunan, perdagangan, hotel, restoran, angkutan, pos,
komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan.

Menurut Kuznets (dalam Todaro dan Smith,2003:99) Pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam
jangka panjang dari Negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya.

Dengan dioperasikannya jembatan Suramadu, maka arus urbanisasi diharapkan bisa ditekan. Meningkatnya jumlah
penduduk di Madura juga akan merangsang naiknya permintaan barang dan jasa. Selanjutnya akan merangsang
meningkatnya kegiatan perekonomian, berkembangnya usaha di sektor pertanian, industri, perdagangan, jasa dan
meningkatnya arus barang masuk ke Pulau Madura. Dengan semakin lancarnya arus lalu lintas berarti menghemat
waktu dan biaya. Dengan lancarnya arus transportasi, pembangunan menjadi lebih lancar.

Lancarnya transportasi adalah prasyarat lancarnya pembangunan, apalagi Indonesia merupakan negara kepulauan.
Permasalahan perekonomian yang dihadapi bangsa ini sangat kompleks, antara lain karena letak antara pulau satu
dengan pulau yang lainnya sangat berjauhan. Pembangunan tidak merata. Mau tidak mau, pemerintah harus
menyelesaikan permasalahan akar ini, yaitu ketimpangan pembangunan dan perekonomian di berbagai wilayah
Indonesia. Walau tak bisa dipungkiri dampak buruk selalu menyertai setiap proses. Namun tentu tak sebanding
dengan kebaikan dan kemanfaatan yang diperoleh.

Sebelum dibangunnya Jembatan Suramadu, secara berturut-turut kabupaten yang terbanyak penduduknya adalah
Sumenep, Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Ternyata Kabupaten Bangkalan merupakan kabupaten yang
menerima kelimpahan penduduk paling tinggi dibanding 3 kabupaten lainnya. Pada tahun 2035 atau setelah 30
tahun dibangunnya Jembatan Suramadu, maka jumlah penduduk di Kabupaten Bangkalan berjumlah 2,79 juta jiwa
atau hampir dua kali lipat (98,98%) dibanding pertumbuhannya tanpa jembatan (1,40 juta jiwa). Dalam keadaan
tersebut, tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun berkisar antara 2,02% 3,16%. (Rubiyantoro, Yohan, Suramadu
Pacu Pertumbuhan Ekonomi Madura, http://nasional.kontan.co.id/news/suramadu-pacu-pertumbuhan-ekonomi-
madura, diakses 23 Maret 2014)

Di Kabupaten Pamekasan, Sumenep, dan Sampang, tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun secara berturut-turut
masing-masing berkisar antara 0,71%-0,51% atau dengan pertumbuhan yang cenderung menurun, 0,66%-1,45% dan
0,44%-0,50%. Jika jumlah penduduk dibandingkan dengan dan tanpa Jembatan Suramadu maka jumlah penduduk
rata-rata per tahun di Bangkalan akan bertambah sebanyak 59,30%, Pamekasan (23,42%), Sumenep (18,65%), dan
Sampang (12,62%). (Rubiyantoro, Yohan, Suramadu Pacu Pertumbuhan Ekonomi Madura,
http://nasional.kontan.co.id/news/suramadu-pacu-pertumbuhan-ekonomi-madura, diakses 23 Maret 2014)

Semakin lancarnya transportasi ternyata akan meningkatkan kegiatan ekonomi yang selanjutnya akan meningkatkan
pertumbuhan. Income per kapita merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat.
Sebelum dibangunnya Jembatan Suramadu, secara berturut-turut kabupaten yang tertinggi income per kapitanya
adalah Kabupaten Bangkalan, Sumenep, Sampang, dan Pamekasan. Namun, sejak adanya jembatan Suramadu
secara berturut-turut kabupaten yang tertinggi income per kapitanya adalah Kabupaten Bangkalan, Sumenep,
Pamekasan, dan Sampang. Jika income per kapita dibandingkan dalam keadaan dengan dan tanpa Jembatan
Suramadu, maka income per kapita rata-rata per tahun di Bangkalan adalah akan bertambah sebanyak 93,63%,
Pamekasan (48.68%). Sampang (42,57%) dan Sumenep (20,03%). (Rubiyantoro, Yohan, Suramadu Pacu
Pertumbuhan Ekonomi Madura, http://nasional.kontan.co.id/news/suramadu-pacu-pertumbuhan-ekonomi-madura,
diakses 23 Maret 2014). Sesudah dibangunnya Jembatan Suramadu, secara berturut-turut kabupaten yang tertinggi
income per kapitanya adalah Kabupaten Bangkalan, Sumenep, Pamekasan, dan Sampang. Berbagai dampak yang
diakibatkan oleh pembangunan jembatan Suramadu. Dari dampak positif yang menguntungkan masyarakat Madura,
ataupun dampak negative yang diperkirakan merugikan masyarakat Madura.

3.5.3.1 Dampak Positif Proyek Jembatan Suramadu

1. Kelancaran Lalu Lintas

Manfaat langsung dari pembangunan Jembatan Suramadu adalah meningkatnya kelancaran arus lalu lintas atau
angkutan barang dan orang khususnya dalam menghubungkan pulau Madura dan pulau Jawa. Dengan semakin
lancarnya arus lalu lintas berarti lebih mengefisiensikan waktu dan biaya.
(http://nasional.kontan.co.id/news/suramadu-pacu-pertumbuhan-ekonomi-madura, diakses 23 Maret 2014).

2. Merangsang Tumbuhnya Aktivitas Perekonomian

Manfaat langsung ini sudah langsung terasa ketika pertama kali Jembatan Nasional Suramadu dibuka. Diantaranya
adalah tumbuhnya aktivitas perekonomian di sekitar jembatan Suramadu. Sebagai contoh adanya aktivitas PKL di
sekitar kaki jembatan Suramadu.

(http://finance.detik.com/read/2012/10/16/135722/2063860/4/pedagang-kaki-lima-menjamur-di-jembatan-suramadu,
diakses 23 Maret 2014)

3. Pertumbuhan PDRB di Madura

Semakin lancarnya transportasi akan menimbulkan dampak pergerakan orang maupun barang. Dengan demikian
akan memicu peningkatan jumlah penduduk khususnya di sekitar Jembatan Suramadu. Meningkatnya jumlah
penduduk akan merangsang naiknya permintaan barang dan jasa. Selanjutnya akan merangsang meningkatnya
kegiatan perekonomian, berkembangnya usaha di sektor pertanian, industri, perdagangan, jasa dan meningkatnya
arus barang masuk ke Pulau Madura (http://www.enciety.co/suramadu-ekonomi-madura/, diakses 23 Maret 2014).

4. Pertumbuhan Income Perkapita

Semakin lancarnya transportasi ternyata akan meningkatkan kegiatan ekonomi yang selanjutnya akan meningkatkan
pertumbuhan. Income per kapita merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat.
(http://www.maduraterkini.com/berita-bangkalan/per-kapita-bangkalan-diklaim-naik.html, diakses 23 Maret 2014).

5. Meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia Masyarakat Madura

Tiap tahun, IPM di empat kabupaten Madura terus alami kenaikan. Pada tahun 2012, IPM kabupaten Bangkalan
65.69 naik 1,94 persen dibandingkan tahun 2011, Kabupaten Sampang memiliki nilai IPM 61,67 naik sebesar 2,27
persen, untuk Kabupaten Sumenep nilai IPM pada 2012 sebesar 66.41 dengan kenaikan sebesar 1.18 persen.
Kenaikan tertinggi dicapai Kabupaten Pamekasan, yakni 66,51 naik sebesar 2,98 persen.

(http://www.enciety.co/suramadu-ekonomi-madura/, diakses 23 Maret 2014)

3.5.3.2 Dampak Negatif Proyek Jembatan Suramadu

1. Bangkrutnya Pengusaha Mobil Pengangkut Umum (MPU) di Madura

Adanya Jembatan Nasional Suramadu menyebabkan perpindahan konsentrasi aktivitas perekonomian. Selain itu,
banyak penumpang yang lebih memiliih Jembatan Suramadu dengan menumpang bus. Dengan demikian,
pendapatan pemilik MPU mengalami penurunan serta banyak pengusha Mobil Pengangkut Umum (MPU) di
Madura yang bangkrut.

(http://www.surabayapagi.com/index.php?
3b1ca0a43b79bdfd9f9305b812982962776ee2828d1dd2f687ef620f5cf98f8e, diakses 24 Maret 2014)

2. Menurunnya Pendapatan Industri Jasa Penyeberangan di Selat Madura

Jumlah penumpang fery yang turun drastis (mencapai hingga 40%) membuat perusahaan penyeberangan mulai
merumahkan karyawannya. Merumahkan disini berarti mepekerjakan pekerjanya dengan sistem kerja 3 hari sekali.
(http://skalanews.com/berita/detail/167092/Terus-Merugi-PT-ASDP-Kurangi-Layanan-Penyeberangan-Surabaya-
Madura, diakses 24 Maret 2014).

3. Pertumbuhan PKL di Kaki Suramadu Tidak Terkendali

Adanya Jembatan Suramadu telah memicu aktivitas perekonomian di kaki Jembatan Suramadu. Hal ini ditunjukkan
dengan adanya kegiatan PKL. Akan tetapi, tidak adanya penataan PKL di kaki Suramadu telah menimbulkan
pertumbuhan jumlah PKL yang tidak terkendali. Hal ini tentunya akan merusak estetika kaki Jembatan Suramadu.
Pada tahun 2010, jumlah PKL di jembatan suramadu sebanyak sekitar seribu PKL dan jumlah ini terus bertambah
(http://www.tempo.co/read/news/2010/04/14/058240244/PKL-di-Kaki-Jembatan-Suramadu-Semrawut, diakses 23
Maret 2014).

4. Dampak Sosial-Budaya

Madura dikenal dengan budaya keagamaan yang kuat. Fakta lapangan menunjukkan kualitas SDM (Sumber Daya
Manusia) di Madura masih rendah. Apabila masyarakat Madura tidak dipersiapkan, maka dikhawatirkan budaya
lokal akan semakin luntur. Hal ini dikarenakan belum siapnya SDM di Madura melakukan integrasi budaya lokal
dengan budaya modern. Saat ini sekitar 70 persen masyarakat madura masih berpendidikan di bawah SMA
(http://radarmadura.co.id/2014/02/70-persen-pendidikan-di-bawah-sma-sdm-madura-masih-rendah/, diakses 23
Maret 2014).

D. KESIMPULAN

1. Pembangunan nasional diharapkan dapat kemanfaatan riil yang dapat dinikmati oleh seluruh warga negara dalam
jangka panjang, sehingga diperlukan sebuah usaha analisis dan evaluasi yang cermat dan komperhensif terhadap
suatu rencana pembangunan, agar pembangunan tidak memboroskan sumber daya yang dapat merugikan negara dan
masyarakat

2. Aspek-aspek yang ada di dalam evaluasi proyek antara lain aspek teknis, aspek lingkungan, aspek organisasi dan
manajemen, aspek ekonomi, aspek sosial, dan aspek komersial.

3. Manfaat dari proyek pembangunan pemerintah dapat dibagi menjadi empat, yaitu manfaat langsung, manfaat
tidak langsung, manfaat yang sulit diukur, dan consumer surplus.