Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

Ophthalmic ultrasonography adalah alat diagnostik yang secara primer digunakan dalam
oftalmologi untuk deteksi dan diferensiasi lesi intraokular dan orbita, lokasi benda asing
intraokular, biomikroskopi, dan biometri (untuk kalkulasi IOL power dan pengukuran ketebalan
jaringan). Penggunaan pertama ultrasound untuk diagnosis oftalmik dilaporkan pada tahun 1956
oleh Mund dan Hughes, yang menggunakannya untuk memeriksa mata normal dan mata dengan
tumor intraokular. Penggunaan klinis pertama A-scan pada diagnostik okular dijabarkan pada
tahun 1957 oleh Oksala.

B-scan diagnosis pertama sekali dikembangkan oleh Baum dan Greenwood pada tahun
1958. Mereka membuat sejumlah besar observasi pada evaluasi B-scan mata dan orbita. Usaha
Baum dikhususkan untuk pengembangan peralatan dengan peningkatan akurasi dan resolusi
yang lebih baik. Purner dan Skolu menggunakan prototipe B-scan yang sama dan membuat
banyak observasi yang lebih lanjut yang berpengaruh besar pada diagnosis B-scan.
Laboratoriumnya menunjukkan evaluasi B-scan orbita dan memungkinkan klasifikasi sistematik
pertama jaringan orbita dengan B-scan ultrasonography.

Pengukuran biometri merupakan hal yang rutin dilakukan dalam praktik oftalmologi
sehari-hari guna merencanakan suatu operasi ekstraksi katarak. Pengukuran dengan
menggunakan ultrasonografi (USG) merupakan alat yang paling sering dipakai untuk
mendapatkan nilai axial length. 3,4

Pada makalah ini akan dibahas mengenai biometri B-scan.

1
BAB II

BIOMETRI B-SCAN

2.1. Prinsip Dasar

Ultrasonografi oftalmik adalah suatu alat diagnostik yang noninvasif dan efisien untuk
mendeteksi dan membedakan berbagai kelainan okular dan orbital. Penggunaannya dalam
bidang oftalmologi pertama kali dilakukan oleh Mundth dan Hughes pada tahun 1956 sebagai
USG A-scan dan Katz mengembangkannya secara spesifik untuk tujuan pengukuran axial length
pada tahun 1976. USG merupakan alat yang mutlak diperlukan dalam pengukuran axial length
untuk kalkulasi kekuatan IOL, evaluasi segmen posterior dibelakang katarak yang padat atau
perdarahan vitreus, diagnosis kondisi-kondisi vitreoretina dan dalam membedakan massa-massa
okular. USG, tidak seperti modalitas pencitraan yang lain, tergantung pada keahlian
pemeriksanya dan memerlukan keterampilan yang tinggi. 5,6

Pemeriksaan ultrasonik jaringan lunak menggunakan sistem reflektif (pulse-echo)


analog dengan yang digunakan pada radar dan sonar. Pendekatan ini mmungkinkan pemeriksaan
dalam irisan tipis melalui struktur jaringan.Transduktor piezoelektric berperan sebagai
pemancar dan penerima ultrasonik. Ini menimbulkan ledakan pendek energi ultrasonik yang
menyebar melalui mata dan mengalami refleksi parsial pada batas jaringan yang menunjukkan
perubahan tiba-tiba pada properti mekanik, termasuk densitas dan rigiditas. Refleksi atau echoe
ini kembali ke transduktor dimana dideteksi secara elektronik. A-mode, atau A-scan, sistem yang
yang secara grafis menampilkan echoe ini sebagai fungsi waktu pada monitor video. Sistem B-
mode menghasilkan cross-sectional gray-scale image (gray scale berhubungan dengan
amplitudo A-scan) oleh scanning, amplitudo dari echo yang diterima mengontrol brightness (
atau gray scale) sepanjang garis yang berhubungan dari video image (B-scan). Istilah A-scan dan
B-scan sama halnya dengan C-scan dan M-scan berasal dari istilah-istilah radar dini,
menggunakan tampilan PPI (pulse position indicator).

Prinsip kerja USG berdasarkan pada transmisi, refleksi, dan atenuasi dari gelombang
suara. Pada bidang oftalmologi, gelombang suara yang digunakan untuk biometri memiliki

2
frekuensi sebesar 10 MHz. Gelombang suara dengan frekuensi tinggi ini memiliki penetrasi yang
rendah tetapi memiliki resolusi yang baik dari struktur-struktur yang sangat kecil pada mata dan
orbita. 6,7

Kecepatan dari gelombang suara tergantung pada medium yang dilewatinya. Ketika
gelombang suara berjalan melewati suatu jaringan, sebagian dari gelombang mengalami refleksi
kembali menuju probe. Gelombang yang terefleksi tersebut disebut sebagai echo. Echo
ditimbulkan oleh batas akustik antarmedium yang dibentuk pada pertemuan media dengan
kecepatan suara yang berbeda. Semakin besar perbedaan pada kecepatan suara dari media pada
batas antarmediumnya, semakin kuat echonya. 6,7

2.2 Komponen Biometri B-scan

Suatu unit USG terdiri dari 4 elemen dasar yaitu pulser, receiver, dan layar displai,
kesemuanya terletak dalam suatu perangkat dan dihubungkan dengan transducer yang terletak
pada ujung probe, yang berfungsi sebagai alat pengirim dan penerima. Pulser akan menghasilkan
sinyal-sinyal elektrik yang akan memicu kristal piezoelektrik pada transducer probe untuk
menghasilkan gelombang-gelombang suara. Echo yang kembali diterima oleh transducer dan
ditransformasi menjadi sinyal-sinyal elektrik, yang akan diproses di receiver dan ditampilkan
pada layar sebagai echogram. Tampilan dari USG dapat berupa 2 mode yaitu A-scan atau B-
kurascan. 6,8,9

Biometri B-scan digunakan untuk evaluasi topografik dari lesi (lokasi, bentuk, insersi,
dan hubungannya ke struktur normal), untuk estimasi dimensi lesi, dan untuk penilaian kinetik
dari mobilitas dan konsistensi lesi. B-scan 10-20 MHz digunakan untuk segmen mata posterior
dan orbita anterior, B-scan 25-50 MHz lebih dipilih untuk evaluasi segmen mata anterior.

UBM 50 MHz menghadirkan satu eksepsi; pengukuran B-scan yang sangat penting dan
menggantikan evaluasi segmen mata anterior. Lima puluh teknik B-scan MHz distandarisasi
seperti teknik B-scan frekuensi rendah, supaya

3
Gambar 1. Biometri A-scan dan skema 4 komponen dasar pembentuknya. 6,7

2.3. Teknik Pemeriksaan Biometri B-scan

Untuk mengukur struktur biologi dengan ultrasound beberapa syarat mutlak diperlukan:

1. Velositas suara harus diketahui.


2. Harus dapat mengkorelasikan perantara akustik dengan struktur anatomi.
Propagation velocity dari ultrasound digunakan untuk tujuan diagnostik pada 37o
untuk akuos dan vitreus 1532nm/s, untuk lensa 1641 m/s, untuk kornea 1639 m/s.
Untuk teknik pengukuran ultrasonografi globe mewakili sekumpulan perantara sferis. Pusat-
pusat kurvaturanya terdapat pada aksis optik mata. Susunan ini menjelaskan mengapa hanya arah
pemeriksaan ini yang akan memicu echo maksimal dari perantara akustik. Berbagai deviasi
transduktor dari aksis optik mengurangi amplitudo spike, karena dari sekelilingnya hanya satu
dari perantara akan dicitrakan maksimal.
Syarat untuk biometri ultrasonik adalah pengaturan posisi yang teliti dari transduktor,
yang harus disesuaikan. Posisi ini harus dipertahankan sampai semua perantara terlibat
menghasilkan echo dari amplitudo maksimal.
Sebagian besar ultrasound geometri dilengkapi dengan alat berpola pengenalan yang
memfasilitasi pemeriksaan rutin. Banyak pengarang (Gernett 1966, 1973, Lepper 1984, Strobel
et al. 1978) menunjukkan bahwa terdapat kekeliruan untuk menerima pengukuran tidak kritis
yang diperoleh melalui suatu metode. Alat mengenali dan menyimpan pola sinyal, buka struktur
anatomi. Karena itu, retinal detachment yang melibatkan polus posterior dapat menyerupai
lapisan mata normal yang memicu kesalahan diagnostik serius.

4
Kornea dan dinding okular posterior adalah struktur mata yang dapat juga diukur dengan
ultrasound di luar aksis optikal. Keduanya digambarkan melalui permukaan konsentris sehingga
diperoleh intensitas sinyal maksimal (amplitudo maksimal) untuk menentukan ketika bermasalah
dengan potongan akustik vertikal. Pengukuran ketebalan pada kornea jernih dapat dicapai
dengan instrumen optikal.
Instrumen ini memungkinkan lebih jauh untuk menentukan ketebalan kornea jika terdapat
kerusakan endotel yang mengikuti berbagai teknik ekstraksi katarak. Instrumen ini belum dapat
diterima sebagai alat diagnostik rutin.

Terdapat dua teknik pemeriksaan biometri A-scan yang saat ini digunakan. Yang pertama
adalah teknik aplanasi kontak. Teknik ini dilakukan dengan meletakkan probe USG pada
permukaan kornea sentral setelah sebelumnya diteteskan anestesi topikal. Hal ini dapat dilakukan
dengan probe terpasang pada slit lamp atau dipegang dengan tangan. Teknik ini mudah
dilakukan dalam menentukan axial length tetapi kesalahan dalam pengukuran selalu terjadi
akibat indentasi kornea dan pendangkalan kamera okuli anterior oleh probe. Karena kesalahan
akibat penekanan bervariasi, maka hal tersebut tidak dapat dikompensasikan dengan penggunaan
suatu konstanta. Kalkulasi kekuatan IOL menggunakan metode ini akan menyebabkan perkiraan
yang lebih tinggi dari kekuatan IOL. 6,7,10

Gambar 2. Probe dan teknik pemeriksaan pada biometri A-scan aplanasi kontak. 6,7

5
Gambar 3. Tampilan biometri A-scan dengan teknik aplanasi kontak. C: kornea/probe,
A: permukaan anterior lensa, P: permukaan posterior lensa, R: retina, S: sklera. 6

Teknik kedua adalah teknik imersi, yang memerlukan penempatan suatu wadah sklera
yang berisi cairan fisiologis di antara probe dan mata. Setelah diteteskan anestesi topikal, wadah
diletakkan di antara palpebra di atas kornea dan probe kemudian ditempatkan tepat di bawah
permukaan cairan. Pada teknik ini, tidak ada kontak langsung antara probe dengan kornea.
Karena probe tidak menimbulkan tekanan langsung pada kornea, kompresi dari kamera okuli
anterior dapat dihindari. Nilai axial length yang didapatkan pada teknik imersi lebih besar sekitar
0,24 mm dibandingkan dengan teknik aplanasi kontak sehingga secara umum teknik imersi
menunjukkan hasil pengukuran yang lebih akurat dibanding teknik aplanasi kontak. 6,7,10

Gambar 4. Wadah sklera dan pemeriksaan biometri A-scan dengan teknik imersi. 6,7

Perbedaan tampilan A-scan pada teknik imersi dibandingkan dengan aplanasi kontak
yaitu terpisahnya spike kornea dengan spike probe karena probe tidak berkontak langsung
dengan kornea. Selain itu pada spike kornea juga menunjukkan puncak ganda, yang
melambangkan permukaan anterior dan posterior dari kornea. 6,7,10

6
Gambar 5. Tampilan biometri A-scan dengan teknik imersi. IS: probe, C1: permukaan anterior
kornea, C2: permukaan posterior kornea, L1: permukaan anterior lensa, L2:
permukaan posterior lensa, R: retina, S: sklera, O: jaringan lunak orbita. 6

Kesalahan dalam penempatan arah probe mengakibatkan jalur gelombang suara yang
ditransmisikan tidak sejajar dengan aksis visual yang dapat menyebabkan kesalahan pada
pengukuran panjang aksial. Ketidaksejajaran jalur gelombang suara dengan aksis visual ditandai
dengan terlihatnya amplitudo yang rendah dari spike permukaan lensa anterior dan posterior.
Pengukuran axial length sebaiknya diulangi dalam hal ini sehingga didapatkan spike dengan
amplitudo yang tinggi. 6,7

Gambar 6. Tampilan biometri A-scan yang menunjukkan adanya ketidaksejajaran jalur


gelombang suara dengan aksis visual. Terlihat amplitudo yang menurun dari spike
permukaan posterior lensa (panah). A: permukaan anterior lensa, P: permukaan
posterior lensa, R: retina. 6

2.3. Pengukuran Axial Length

7
Axial length diukur dari verteks kornea ke fovea. Aksis visual tersebut diukur dengan
menggunakan biometri A-scan. Biometri A-scan tidak mengukur axial length secara langsung
tetapi mengukur waktu yang diperlukan oleh gelombang suara untuk berjalan dari suatu
generator gelombang suara (probe) hingga dipantulkan kembali ke probe yang sama dan dengan
mengetahui kecepatan dari gelombang suara, jarak dari probe ke jaringan yang memantulkan
gelombang suara dapat dihitung. 1,7,11

Gambar 7. Jalur gelombang suara melalui berbagai jaringan okular pada biometri A-scan. 1

Kecepatan dari gelombang suara melalui suatu media, dalam hal ini jaringan okular,
bervariasi tergantung dari kepadatan media. Semakin padat suatu media maka semakin cepat
berjalannya gelombang suara. Sehingga gelombang suara akan berjalan lebih cepat ketika
melewati lensa dibandingkan ketika melewati akuous dan vitreous. 7,11

Tabel 1. Kecepatan gelombang suara ketika melewati berbagai media pada mata. 12

Pada tabel diatas, terlihat bahwa gelombang suara memiliki kecepatan yang tertentu pada
tiap-tiap media okular sehingga pengukuran axial length yang terbaik adalah berdasarkan
kecepatan gelombang suara pada tiap-tiap media tersebut. Meskipun demikian, penggunaan

8
kecepatan rata-rata gelombang suara sebesar 1553 m/s tidak menimbulkan kesalahan pengukuran
yang bermakna secara klinis. Pengecualian pada mata dimana vitreus telah diganti dengan cairan
silikon. Cairan silikon menghamburkan gelombang suara dan terjadi atenuasi gelombang suara.
Kecepatan gelombang suara yang melewati cairan silikon juga lebih rendah (990 m/s)
dibandingkan vitreus sehingga didapatkan axial length yang lebih panjang. Dalam hal ini,
pengukuran panjang vitreus dilakukan secara terpisah. Panjang vitreus yang sebenarnya
didapatkan dengan rumus :

Panjang vitreus sebenarnya = 990/1532 x Panjang vitreus pada kecepatan 1532 m/s

Nilai panjang vitreus yang didapat lalu ditambahkan dengan kedalaman kamera okuli anterior
dan ketebalan lensa yang telah diperoleh dari pengukuran biometri untuk mendapatkan axial
length yang sebenarnya. Bagaimanapun, rumus tersebut hanya dapat digunakan jika cairan
silikon mengisi keseluruhan rongga vitreus. 1,11,12,13

Gambar 8. Tampilan biometri A-scan pada mata dimana rongga vitreus telah diisi cairan silikon.
Terlihat amplitudo yang rendah dari spike retina dan axial length terukur lebih
panjang. 1

Untuk mengukur jarak dari permukaan kornea ke retina, alat biometri perlu mengetahui
spike mana yang akan dibandingkan. Hal ini dilakukan dengan mengontrol hal yang disebut
gates pada unit USG. Biometri A-scan modern menggunakan hingga 4 gates dimana kecepatan
gelombang suara yang spesifik tehadap masing-masing media okular dapat dipisahkan untuk
meningkatkan akurasi pada pengukuran panjang aksial. Posisi keempat gates tersebut diprogram
bertepatan dengan batas akustik antarmedium primer pada mata yaitu kornea, permukaan
anterior dan posterior lensa, dan retina. Dengan demikian dapat diukur kedalaman kamera okuli
anterior, ketebalan lensa, dan axial length dengan tepat. 11,14,15

9
Axial length rata-rata dari bola mata manusia normal di sepanjang aksis visual yaitu
sekitar 23,45 mm yang tersusun atas ketebalan kornea (0,50 mm), kedalaman kamera okuli
anterior (3,15 mm), ketebalan lensa (4,0 mm) dan panjang vitreus (15,8 mm) tetapi telah
dilaporkan terdapat axial length sependek 15,09 mm dan sepanjang 34,66 mm. Kesalahan
pengukuran axial length sebesar 100 m pada mata dengan axial length 23,5 mm akan
mengakibatkan kesalahan refraksi pascaoperasi sebesar 0,25 D. Kesalahan pengukuran pada bola
mata dengan axial length yang pendek (21 mm) akan mengakibatkan kesalahan refraksi yang
lebih besar yaitu sebesar 0,31 D/100 m. Sedangkan kesalahan pengukuran pada bola mata
dengan axial length yang panjang (26 mm) hanya mengakibatkan kesalahan refraksi yang sedikit
yaitu sebesar 0,20 D/ 100 m. 11,16,17

Pengukuran axial length sebaiknya diulang jika axial length yang terukur kurang dari 22
mm atau lebih dari 25 mm, perbedaan ukuran di antara kedua mata lebih dari 0,3 mm, atau nilai
axial length yang didapatkan tidak cocok dengan keadaan refraksi pasien. 11,16,17

BAB III

KALKULASI KEKUATAN IOL

3.1. Formula Kalkulasi Kekuatan IOL

Penentuan kekuatan IOL untuk memberikan hasil refraksi pascaoperasi yang diharapkan
memerlukan pengukuran dari 2 variabel utama yaitu kurvatura kornea anterior pada 2 meridian
orthogonal dengan keratometri (baik manual maupun automatic) dan axial length dengan
biometri A-scan. Hasil pengukuran dari kedua variabel ini selanjutnya dimasukkan ke dalam
formula kalkulasi yang tepat untuk mendapatkan kekuatan IOL yang diperlukan. Terdapat 2
klasifikasi utama dari formula kalkulasi kekuatan IOL yaitu formula teoritis dan formula
regresi/empiris. 1,18,19

3.1.1. Formula Teoritis

Formula teoritis pertama kali dikemukakan oleh Fyodorov pada tahun 1967. Beberapa
peneliti juga mengemukakan formula teoritisnya dalam rumusan yang berbeda beberapa tahun

10
kemudian, tetapi perbedaannya hanya berupa sedikit variasi pada nilai ketebalan retina dan
indeks refraksi kornea. Perbedaan konstanta antarformula ini hanya menyebabkan selisih kurang
dari 0,5 D pada hasil kalkulasinya. Semua formula ini berdasarkan pada suatu model optik dari
mata dengan sistem 2 lensa yaitu kornea dan IOL. Suatu persamaan optik dijelaskan untuk
menentukan kekuatan IOL yang diperlukan untuk memfokuskan cahaya dari suatu obyek yang
jauh ke retina. Pada formula yang berbeda, asumsi yang berbeda dibuat mengenai indeks refraksi
kornea, jarak dari kornea ke IOL, jarak dari IOL ke retina sebagaimana faktor yang lain. Formula
ini disebut formula teoritis karena formula ini berdasarkan pada suatu model optik teoritis dari
mata. Kesemua dari persamaan-persamaan teoritis ini membuat asumsi yang disederhanakan
mengenai optik dari mata, dan oleh karena itu, memberikan suatu prediksi yang baik dari
kekuatan IOL. Semua formula teoritis secara aljabar dapat ditransformasi menjadi formula
berikut:

P = [nv/(L - C)] - [K/( l-K C/na)]

dimana P = kekuatan dioptri IOL untuk mendapatkan emetropia, nv = indeks refraktif vitreous
(1336), na = indeks refraktif akuous (1336), L = axial length (mm), C = ACD (anterior chamber
depth) = ELP (estimated lens position) = jarak dari permukaan anterior kornea ke bidang utama
IOL (mm)., dan K = kekuatan dioptri rata-rata dari kornea sentral. 18,19,20,21

Formula yang paling populer dalam kelompok ini adalah formula Binkhorst. Binkhorst
menggunakan formula aslinya sendiri untuk emmetropia dan menggunakan kedalaman kamera
okuli anterior yang berbeda-beda menurut panjang aksialnya. Formula Binkhorst yaitu :

P=1336 (4RL)/(LC) (4RC)

dimana P = kekuatan dioptri IOL untuk mendapatkan emetropia, R = radius kurvatura


permukaan anterior kornea (mm), L = axial length (mm), C = ACD (anterior chamber depth) =
ELP (estimated lens position) = jarak dari permukaan anterior kornea ke bidang utama IOL
(mm). Pada mata dengan axial length kurang dari 23,45 mm, nilai C dikurangi 0,17 mm untuk
setiap milimeter kekurangannya sedangkan jika axial length lebih dari 23,45 mm, nilai C
ditambah 0,17 mm untuk setiap milimeter kelebihannya. 19,21

11
Formula teoritis modern (Hoffer Q, Holladay I, dan SRK/T) menggabungkan analisis
regresi ke dalam persamaannya sehingga didapatkan akurasi kalkulasi kekuatan IOL yang lebih
baik. Pada formula teoritis modern, pengukuran kedalaman kamera okuli anterior berbeda-beda,
tidak hanya berhubungan dengan panjang aksial, tetapi juga dengan kurvatura kornea. Kamera
okuli anterior lebih dalam pada kornea yang lebih melengkung dan lebih dangkal pada kornea
yang lebih datar. 13,19,21

Formula Hoffer Q menggunakan formula Hoffer sebagai dasarnya dengan formula


tambahan untuk memperkirakan kedalaman kamera okuli anterior yang disebut pACD
(personalized ACD). Hoffer menemukan bahwa terdapat hubungan tangensial antara axial length
dengan kedalaman kamera okuli anterior. Formula Hoffer Q yaitu :

P= 1336 - 1336
L-C-0.05 1336 - C+0.05
K+R 1000
dimana P = kekuatan dioptri IOL untuk mendapatkan emetropia, L = axial length (mm),
C = ACD (anterior chamber depth) = ELP (estimated lens position) = jarak dari permukaan
anterior kornea ke bidang utama IOL (mm), K = kekuatan dioptri rata-rata dari kornea sentra,
R = kelainan refraksi pada kornea (D). ACD dihitung dengan rumus
pACD (personalized ACD) = [(0.5663 x A) - 62.005]/0.9704 dengan A merupakan konstanta
spesifik bagi masing-masing tipe IOL. 13,19,21

Formula Holladay I menggunakan surgeon factor (SF), yaitu jarak dari bidang anterior
iris ke bidang optik IOL, dalam memperkirakan kedalaman kamera okuli anterior pascaoperasi
(ELP) yang lebih akurat. Formula Holladay I yaitu :

dimana IOL = kekuatan dioptri IOL untuk mendapatkan emetropia, AL = axial length (mm),
ELP = jarak dari permukaan anterior kornea ke bidang utama IOL (mm)., K= kekuatan dioptri
rata-rata dari kornea sentral, DPostRx = status refraksi pascaoperasi (D), dan V = jarak verteks

12
(mm). SF dihitung dengan rumus SF = (0.5663 x A) - 65.6 dengan A merupakan konstanta
spesifik bagi masing-masing tipe IOL. Nilai SF yang didapat kemudian digunakan dalam
pengukuran ELP dengan rumus ELP = (SF + 3.595)/0.9704. 18,19,20

Formula SRK/T , berkebalikan dengan formula SRK I dan SRK II, merupakan formula
teoritis yang berdasarkan formula Fyodorof dan menggunakan metodologi regresi empirik untuk
optimalisasi perkiraan ACD pascaoperasi, faktor koreksi ketebalan retina, dan indeks refraksi
kornea. Formula SRK/T yaitu :

Dimana IOLemme = kekuatan dioptri IOL untuk mendapatkan emetropia, na = 1336, n = 1333,
ncm1 = 0.333, r = 337.5/K dimana r adalah radius kurvatura kornea (mm) dan K adalah kekuatan
dioptri rata-rata dari kornea sentral, LOPT (optical axial length) = L + RETHICK,
RETHICK (retinal thickness) = 0.65696 0.02029 x L, L = axial length (mm),
ACDestimate = H + offset dimana H adalah tinggi kornea (jarak antara kornea dengan iris) dan
offset = ACDconstant 3.336. 19,22

Perkembangan formula teoritis modern terkini (Haigis dan Holladay II) menitikberatkan
pada perbaikan metode dalam memperkirakan ELP. Formula Haigis menggunakan 3 konstanta
yaitu a0, a1 dan a2 yang diturunkan dari analisis regresi multivariabel untuk mengukur ELP
dengan rumus ELP = a0 + (a1 x ACD) + (a2 x AL) dimana konstanta a0, seperti halnya
konstanta A atau SF, mengubah posisi kurva prediksi kekuatan IOL ke atas (kekuatan IOL yang
lebih besar disarankan) atau ke bawah (kekuatan IOL yang lebih kecil disarankan), konstanta a1
terikat pada kedalaman kamera okuli anterior, dan konstanta a2 terikat pada panjang aksial.
Penggunaan 3 konstanta memungkinkan perhitungan yang lebih akurat dalam rentang axial
length yang lebar. Formula Holladay II menggunakan pengukuran dari 7 variabel dalam
menentukan nilai ELP yaitu diameter kornea horizontal, kedalaman kamera okuli anterior,
ketebalan lensa, umur pasien, status refraksi preoperasi, kekuatan dioptri rata-rata dari kornea
sentral dan axial length. Penggunaan kedua formula tersebut rumit dan tidak mudah digunakan
untuk kalkulasi secara sederhana. Bagaimanapun, program komputer seperti Holladay IOL
Consultant telah tersedia secara luas dan dapat mengatasi masalah ini. 13,18,20
13
Pada mata dengan axial length normal yaitu 22-24,5 mm, semua formula teoritis sama-
sama memiliki hasil kalkulasi yang akurat. Di luar rentang axial length tersebut, beberapa
penelitian telah menunjukkan bahwa formula Hoffer Q lebih akurat pada mata dengan panjang
kurang dari 22 mm, formula Holladay I pada mata dengan panjang 24,5-26 mm, dan formula
SRK/T pada mata dengan panjang lebih dari 26 mm. Formula Haigis dan Holladay II merupakan
yang paling baik di antara formula-formula tersebut karena memiliki hasil kalkulasi yang akurat
pada mata dengan berbagai panjang aksial. 13,19,21

3.1.2. Formula Regresi/Empiris

Formula ini berasal dari data empiris dan berdasarkan pada analisis retrospektif dari
refraksi pascaoperasi setelah implantasi IOL. Hasil dari implantasi IOL dalam jumlah yang besar
diformulasi dengan mengacu kepada kekuatan kornea, axial length, dan kekuatan IOL emetrop.
Persamaan yang paling tepat kemudian ditentukan dengan prosedur statistik dari analisis regresi
data. Tidak seperti formula teoritis, tidak ada asumsi yang dibuat mengenai model optik dari
21,23
mata.

Kalkulasi kekuatan IOL dapat dilakukan secara lebih akurat melalui penggunaan formula
regresi yang berdasarkan pada analisis hasil-hasil aktual dari tindakan implantasi IOL yang
banyak pada operasi-operasi katarak sebelumnya. Karena analisis regresi berdasarkan pada hasil-
hasil operasi sebenarnya, maka formula tersebut sudah mencakup faktor-faktor yang tidak pasti
dari mata dan alat-alat pengukur. 21,23

Formula regresi yang paling populer adalah formula SRK yang dikembangkan oleh
Sanders, Retzlaff dan Kraff pada tahun 1980 dengan persamaannya yaitu :

P = A2.5 L0.9 K

dimana P = kekuatan dioptri IOL untuk mendapatkan emetropia, L = axial length (mm), K =
kekuatan dioptri rata-rata dari kornea sentral, dan A = konstanta spesifik bagi masing-masing
tipe IOL. 19,21,23

14
Formula SRK telah didapatkan memiliki hasil yang akurat pada mata dengan axial length
di antara 22 mm dan 24,5 mm yang ditemukan pada sekitar 75% kasus. Sementara 14% kasus
memiliki axial length lebih besar dari 24,5 mm, dan 10% memiliki axial length kurang dari 22
mm. Formula yang dimodifikasi lalu dikembangkan untuk mengoreksi kesalahan pada formula
ini yang terjadi pada mata dengan axial length yang pendek dan panjang. Formula SRK II
merupakan modifikasi dari formula SRK original dengan tambahan suatu faktor koreksi yang
meningkatkan kekuatan lensa pada mata dengan axial length yang pendek dan menurunkan
kekuatan lensa pada mata dengan axial length yang panjang. 19,21,23

Tabel 2. Metode modifikasi formula SRK menjadi SRK II. 23

3.2. Pemilihan Kekuatan IOL

Terdapat 2 faktor utama yang harus dipertimbangkan dalam memilih kekuatan IOL yang
akan diimplantasikan yaitu status refraksi pasien dan ada tidaknya katarak pada mata sebelahnya.
Jika pasien memiliki katarak binokular, pemilihan kekuatan IOL lebih mudah ditentukan karena
status refraksi kedua mata pasien dapat diubah. Penentuan yang paling penting adalah apakah
pasien lebih memilih menjadi miopia dan dapat membaca tanpa kacamata, atau mendekati
emetropia dan dapat mengemudi tanpa kacamata. Pada beberapa kasus, ahli bedah dan pasien
dapat memilih jarak intermediet (-1.00 D) untuk kesepakatan terbaik yang memungkinkan pasien
untuk melakukan sebagian besar aktivitas tanpa memerlukan pemakaian kacamata. Sedangkan
jika pasien memiliki katarak monokular, pemilihan kekuatan IOL menjadi lebih terbatas karena
status refraksi mata yang sebelahnya telah tetap. Prinsip umum adalah bahwa perbedaan
kekuatan dioptri mata yang dioperasi dengan yang tidak harus berada dalam rentang 2 D untuk
mencegah terjadinya anisometropia yang tidak dapat ditoleransi. Jika status refraksi mata yang
tidak dioperasi sebesar -5.00 D maka target status refraksi pada mata yang dioperasi adalah
sebesar -3.00 D. 10,24,25

15
BAB IV

KESIMPULAN

1. Biometri A-scan merupakan pengukuran axial length menggunakan USG dan umumnya
digunakan untuk pengukuran kekuatan IOL yang akan ditanam pada operasi katarak.
2. Biometri A-scan dengan teknik imersi menunjukkan hasil pengukuran axial length yang lebih
akurat dibanding biometri A-scan aplanasi kontak.
3. Penentuan kekuatan IOL untuk memberikan hasil refraksi pascaoperasi yang diharapkan
memerlukan pengukuran dari 2 variabel utama yaitu kurvatura kornea anterior dengan
keratometer dan axial length dengan biometri A-scan. Pengukuran preoperatif dari axial
length dianggap sebagai penentu utama dalam mendapatkan perhitungan yang akurat dari
kekuatan IOL yang akan diimplantasikan.

16
4. Formula kalkulasi kekuatan IOL dapat dikelompokkan ke dalam 2 kategori utama yaitu
formula teoritis dan formula regresi/empiris. Pada perkembangan terkini, formula teoritis
modern juga menggabungkan analisis regresi ke dalam persamaannya untuk meningkatkan
akurasi dari hasil kalkulasinya.
5. Masing-masing formula kalkulasi IOL mempunyai kelebihan tersendiri dalam memperoleh
hasil kalkulasi yang akurat tergantung dari nilai axial length yang didapat. Formula SRK I
dan II merupakan formula yang paling banyak dipakai saat ini karena kemudahan dan
keakuratan dalam kalkulasinya.

17