Anda di halaman 1dari 13

KORUPSI DI SEKTOR PENDIDIKAN

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah PBAK


yang diampu oleh Giri Susilo Adi, M.Kep.

Disusun oleh kelompok II:

Endri Normawati (2520142434)

Eni Ernawati (2520142435)

Eva Aprilia San A. (2520142436)

Fajar Fashiih A. (2520142437)

Hesti Intan Sari (2520142438)

Imelda Putriana D. (2520142439)

Indrawati (2520142440)

AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUMO

YOGYAKARTA

2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
tentang Korupsi Di Sektor Pendidikan ini dengan baik. Dan juga kami berterima
kasih pada Bapak Giri Susilo Adi, M.Kep., selaku dosen mata kuliah Pendidikan
Budaya Anti Korupsi (PBAK) yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai arti dari korupsi, macam-macam korupsi
di sektor pendidikan, dampak korupsi di sektor pendidikan dan solusi untuk korupsi
di sektor pendidikan. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun
yang membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi
kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf
apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon
kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.
Akhir kata kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai semua usaha kita. Amin.
Terimakasih.

Yogyakarta, 21 Oktober 2015

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Korupsi adalah tindakan melawan hukum yang dilakukan oleh orang yang
memiliki kewenangan, kesempatan yang ada padanya karena jabatan atau
kedudukan guna memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi
yang dapat merugikan negara atau perekonomian negara. Korupsi telah
memasuki berbagai bidang dalam pemerintahan birokrasi, swasta, hukum,
politik dan berbagai bidang yang memungkinkan terjadinya tindak pidana
korupsi. Korupsi saat ini seperti penyakit tumor yang ganas yang telah
menggerogoti tubuh manusia, sehingga, korupsi menjadi ancaman eksistensi
dari negara Indonesia.

Dunia pendidikan merupakan salah satu bidang yang memiliki porsi


anggaran yang cukup besar dari APBN dan APBD yaitu 20% sebagai amanat
dari UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945. Sehingga pendidikan menjadi
salah satu bidang yang rawan dalam tindakan korupsi. Oleh karena itu, dalam
bidang pendidikan telah terjadi korupsi yang sistematik dan sistemik. Walaupun
korupsi dari tiap-tiap oknum kecil tetapi jika di akumulasi maka akan menjadi
nilai yang sangat besar yang merugikan negara.

Kerugian korupsi dalam bidang pendidikan bukan hanya tentang nominal


angagran yang dikorup tetapi berdampak langsung terhadap peserta didik karena
menyebabkan menurunnya kualitas pendidikan bahkan pelanggaran HAM
karena pendidikan merupakan Hak asasi Manusia (warga negara).

B. Tujuan
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Korupsi

Korupsi berasal dari bahasa latin, Corruptio-Corrumpere yang artinya


busuk, rusak, memutar balik atau menyogok. Menurut Dr. Kartini Kartono,
korupsi adalah tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan
guna memperoleh kepentingan pribadi dan merugikan kepentingan umum.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) korupsi adalah


penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk
keuntungan pribadi atau orang lain. Jadi kelompok kami menyimpulkan bahwa
korupsi adalah tindakan yang melanggar hukum dimana orang tersebut
menyalahgunakan atau memanfaatkan kewenangan atau kedudukan guna
memperoleh keuntungan pribadi.

B. Macam-macam Kasus Korupsi di Bidang Pendidikan

Tindak korupsi yang terjadi dalam bidang pendidikan dapat di anatomi menjadi
beberapa aktivtas yang rawan terjadi korupsi yaitu:

1. Pengangkatan jabatan kepala sekolah

2. Pengadaan sarana dan prasarana termasuk (seragam, buku, gedung,


peralatan,laboratorium dsb)

3. Penggunaan dana BOS,

4. Penerimaan siswa baru

5. Undangan untuk memasuki PTN melalui Undangan

6. Pengangkatan guru honorer menjadi CPNS


Enam kasus dari tindak pidana korupsi diatas merupakan aktivitas yang terjadi
dalam dunia pendidikan saat ini. Tindak pidana ini melibatkan beberapa oknum
mulai dari oknum guru, oknum kepala sekolah, dinas pendidikan, kepala daerah
bahkan sampai tingkat pusat.

Dalam makalah ini kelompok kami mencoba untuk menjelaskan mengenai ke-
enam kasus tindak pidana korupsi di bidang pendidikan sebagai berikut:

1. Pengangkatan jabatan kepala sekolah


Pengangakatan kepala sekolah terutama terjadi di sekolah-sekolah negeri
(publik), tetapi tidak menurup kemungkinan di sekolah Swasta/ Yayasan.
Pengisian jabatan kepala sekolah, sudah menjadi rahasia umum dan
kebiasaan bahwa untuk menjadi seorang kepala sekolah harus memberikan
uang kepada dinas bahkan kepada kepala daerah di daerah tersebut. Bahkan
jumlah uang disetorkan dari seorang kepala sekolah bahkan tiap tingkatan
berbeda, SD sekitar puluhan juta rupiah, SMP dan SMA bahkan mencapai
angka ratusan juta rupiah. Bahkan di salah satu kabupaten, kepala sekolah
menyetor kepada kepala daerah tiap tahunnya agar tidak dinon-jobkan.
Tindak korupsi di dunia pendidikan dengan pengisian jabatan ini pastinya
akan berdampak sistemik karena sang calon kepala sekolah yang sudah
menyetor kepada dinas dan kepala sekolah akan mencari uang pengganti
modal yang ia setor dengan mengambil dari anggaran sekolah. Karena nilai
tunjangan fungsional yang ia terima tidak akan mampu menutupi modal yang
ia keluarkan. Selanjutnya, hal ini akan berdampak pada kualitas sekolah
karena tidak maksimalnya program-program yang dilaksanakan, bahkan
menjadi program fiktif. Pengadaan sarana dan prasarana termasuk seragam,
buku, gedung, peralatan, laboratorium, dsb.
2. Penggunaan dana BOS, anggaran sekolah dan sejenisnya
Penyalahgunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), anggaran
sekolah dan sejenisnya merupakan salah satu dampak dari praktik korupi
dalam pengisian jabatan kepala sekolah, sebagaimana poin pertama. Dana
BOS, anggaran Sekolah, bantuan dan sejenisnya, menjadi lahan basah untuk
suburnya tindak pidana korupsi. Sehingga dengan berbagai cara dan upaya
agar anggaran bisa masuk ke dalam kantong pribadi sang pemegang jabatan.
Penyalahgunaan ini dapat berupa pembuatan program-program fiktif atau
pembuatan program hanya sekedar formalistik untuk menghabiskan
anggaran tanpa dilandasi atas kebutuhan nyata untuk meningkatkan kualitas
pendidikan di sekolah tersebut. Walaupun, nominalnya tidak besar tetapi
seharunya ada upaya penindakanyang tegas dan pengungkapan dari
penyalahgunaan anggaran dalam bidang pendidikan.
3. Penerimaan siswa baru
Penerimaan siswa baru juga merupakan lahan basah dari tindak korupsi
dalam bidang pendidikan. Walau nominalnya kecil, tetapi tetap tindak
pidana korupsi karena akan sangat merugikan masyarakat umum. Memasuki
Sekolah Negeri merupakan hak seluruh warga negara, selain mendapatkan
subsidi yang besar dari pemerintah, kualitas sekolah cukup terjaga. Minat
yang tinggi ini menjadi lahan basah terjadinya tindak pidana korupsi di
sekolah (bidang pendidikan). Jabatan publik yang dimiliki Kepala Sekolah,
Wakil Kepala Sekolah dan guru disalah gunakan dalam penerimaan siswa
baru ini. Oleh karena itu harus dibangun sistem dan pengawasan untuk dapat
mengecilkan tindak pidana korupsi dalam penerimaan siswa.
4. Undangan untuk memasuki PTN
Sama seperti penerimaan siswa baru, undangan untuk memasuki PTN dapat
menjadi kesempatan penyalahgunaan jabatan publik dari Kepala Sekolah,
Wakil Kepala Sekolah dan guru. Dengan menyembunyikan atau
memberikan informasi secara tidak luas kepada seluruh siswa untuk
mendapatkan hak yang sama bersaing dalam jalur undangan dari PTN.
Orang tua guru dapat saja memberikan gratifikasi untuk mempengaruhi
keputusan sekolah tentang siswa yang akan menjadi peserta dalam jalur
undangan ini. Hasil dengan nominal yang kecil seakan perbuatan ini menjadi
perbuatan biasa saja. Padahal sebagai pejabat publik tidak boleh menerima
gratifikasi dari masyarakat terutama terkait degan jabatannya menetukan
sesuatu hal. Perbuatan seperti ini sebenarya menimbulkan lingkungan yang
tidak sehat bagi berkembangnya sikap anti korupsi dari peserta didik.
5. Pengangkatan guru menjadi CPNS
Pengangkatan guru menjadi CPNS merupakan rahasia umum, hal ini terjadi
dari seleksi umum CPNS dan Seleksi dari honorer menjadi CPNS. Kedua-
duanya memiliki peluang yang sama untuk menjadi lahan yang subur
terjadinya tindak pindana korupsi dengan menyalahgunakan jabatan publik
yang mereka pegang.
6. Pungutan Liar
Di sekolah yang korup akan menjadikan pungutan liar ini menjadi salah satu
sumber mendapatkan anggaran untuk dapat diselewengkan. Banyak dalih
dalam pungutan liar ini, mulai dari pengambilan ijazah, raport, pembuatan
surat, sumbangan ke sekolah dan sebagainya perbuatan-perbuatan yang terus
berkembang untuk mendapatkan uang. Pungutan liar ini bisa saja salah
satu efek dari pengangkatan kepala sekolah dengan tarif sebagaimana poin
pertama, sehingga kepala sekolah beserta jajaranya mengada-ada soal
kebuthan dana, padahal sudah ada anggaran dari pemerintah untuk
operasional.

C. Dampak dari Tindakan Korupsi di Bidang Pendidikan

Korupsi sepertinya sudah membudaya dalam kehidupan bangsa Indonesia.


Perbuatan-perbuatan yang kita anggap biasa seperti memberikan sesuatu kepada
orang yang kita hormati dapat digolongkan tindak korupsi. Ketika telah menjadi
budaya maka pemberantasan korupsi juga harus terstruktur dalam pendidikan,
karena pendidikan merupakan saluran dari proses pembudayaan warga negara.
Tetapi ketika bidang pendidikan terjadi tindakan-tindakan korup maka proses
pembudayaan masyarakat anti korupsi seperti menanam benih di padang pasir
yang tandus. Perbuatan korupsi di bidang pendidikan akan berdampak langsung
pada peserta didik sebagai orang yang pertama mendapatkan dampak dari
perbuatan korup ini. Karena tindak korupsi di bidang pendidikan dapat saja
melanggar Hak Asasi Manusia para peserta didik untuk mendapatkan
pendidikan yang berkualitas. Berikut dampak korupsi dari bidang pendidikan:

1. Kualitas Pendidikan
Kualitas pendidikan menjadi hal pertama yang diserang oleh tindak kourpsi
dalam bidang pendidikan. Merosotnya kualitas penddidikan ditandai
dengan tidak adanya atau rendahnya perlengkapan yang berkaualitas,
adanya ukuran-ukuran mutu yang rendah dan adanya kandidat yang
berkualifikasi dan/atau bermotivasi rendah yang terpilih (atau membeli
posisi) untuk guru dan jabatan lainnya (Kesuma. Et. al2009:33).
2. Kerugian Finansial
Kerugian finansial jelas menjadi salah satu dampak dari perilaku korup para
pemegang jabatan publik dalam dunia pendidikan. Walau jika dilihat secara
oknum nominalnya tidak besar sehingga tidak dapat di tindak dengan KPK
tetapi jika diakumulasikan maka akan muncul jumlah yang sangat besar.
3. Ketidakadilan sosial
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, merupakan sila ke-lima dari
Pancasila. Melalui perilaku pengisian jabatan guru dan kepala sekolah
selanjutnya perilaku korup dalam penerimaan siswa baru dan undangan dari
PTN akan menciderai rasa keadilan dari seluruh warga negara Indonesia.
Semua warga negara Indonsia berhak mendapatkan pendidikan yang
berkualitas. Ketika terjadi tindak pidana korupsi dalam bidang pendidikan
akan mematikan potensi dari warga negara muda karena mereka akan
kehilangan pendidikan yang berkualitas, dan kesempatan untuk mengabdi
kepada negara.
4. Pengurangan tingkat partisipasi
Partisipasi warga negara dalam pendidikan merupakan usaha agar
mewujudkan warga negara yang terdidik. Semakin banyak partisipasi maka
semakin banyak pula warga negara yang terdidik dan hal ini merupakan
modal utama negara dalam pembangunan. Tetapi ketika sarana dan
prasanara tidak tersedia yang diakibatkan dari tindak korupsi, maka akan
menurunkan jumlah partispasi warga negara dalam pendidikan dan ini jelas
mengurangi potensi warga negara terdidik.
5. Hilangnya akhlak mulia
Pendidikan Indonesia bukan merupakan pendidikan yang sekuler,
yang memisahkan agama dalam membentuk warga negara yang baik.
Tindak Pidana korupsi dalam bidang pendidikan menjadikan peserta didik
kehilangan teladan bahkan kepercayaan terhadap sekolah dalam mebentuk
mereka. Sehingga muncul generasi yang memiliki akhlak yang sejalan
dengan pejabat dibidang pendidikan. Pendidikan Anti Kourpsi harus
didasari keimanan terhadap Tuhan YME, warga negara yang cerdas,
beriman dan bertaqwa merupakan modal utama dari jiwa anti korupsi. Oleh
karena itu, sekolah harus menjadi lingkungan yang anti korupsi sehingga
tidak terjadi pendekatan formaslistik dalam pendidikan anti korupsi tetapi
pendekatan pembudayaan anti korupsi.

D. Solusi Untuk Tindakan Korupsi di Dunia Pendidikan

1. Meningkatkan kualitas SDM pengelola pendidikan.


Kualitas SDM diyakini berpengaruh langsung terhadap kualitas kinerjanya.
Oleh karena itu, sistem perekrutan pekerja pendidikan harus dibenahi.
Selama ini, ada indikasi bahwa sistem rekrutmen pekerja dunia pendidikan
tidak berlangsung dengan jujur, objektif, adil, dan transparan. Berbagai
kecurangan mewarnai setiap perekrutan, seperti penggunaan uang pelicin,
permainan kerabat pejabat, dan bahkan manipulasi hasil tes.
Akibatnya, calon pegawai yang cerdas tersingkir, karena tidak mampu
membayar lebih atau melobi para pejabat. Celakanya, calon pegawai dengan
kualitas rendah baik dari intelektualitas maupun mentalitas melenggang
dengan mulus. Kondisi ini merupakan awal yang buruk untuk meningkatkan
kinerja pekerja pendidikan. Bahkan, sangat mudah terpengaruh tindakan
melawan aturan, seperti korupsi. Oleh karena itu, pembenahan sistem
rekrutmen pekerja pendidikan adalah keniscayaan.
2. Meningkatkan kesejehateraan para pekerja pendidikan.
Hal ini dikarenakan mereka adalah implementator di lapangan. Sebaik
apapun perencanaan, jika pelaksananya bobrok maka hasilnya dipastikan
hancur. Apalagi mereka berhadapan dengan dana besar dan cakupan
wilayah yang sangat luas, sehingga rawan penyelewengan. Dengan
meningkatkan kesejahteraan, diyakini dapat meningkatkan kinerja dan
tanggung jawab mereka sebagai pelayan sektor pendidikan. Mereka bekerja
murni untuk kepentingan dunia pendidikan tanpa ada pemikiran
memperoleh pendapatan tambahan lain, apalagi yang tidak halal.
3. Pendidikan anti korupsi untuk semua.
Pendidikan ini tak hanya untuk peserta didik di semua jenjang pendidikan,
tetapi juga pejabat dan politisi yang memiliki otoritas atas kebijakan dan
anggaran pendidikan.
4. Membangun sistem anti korupsi terutama dalam sistem perencanaan,
penganggaran, dan implementasi belanja dana pendidikan. Sistem terutama
pada pembagian kewenangan yang memadai pada berbagai institusi
pendidikan serta pengawasan atas penggunaan kewenangan tersebut.
5. Tata kelola dalam sistem anti korupsi membuka informasi seluas-luasnya
kepada publik terkait pengelolaan anggaran pendidikan dan akses terhadap
bukti-bukti pertanggung jawaban. Publik dapat melakukan audit sosial
guna melihat kepatuhan pengelolaan publik atas peraturan perundang-
undangan dan melaporkan kepada pengawas internal dan eksternal
pemerintah jika menemukan ketidak patuhan dalam pengelolaan dana
tersebut. Publik juga dapat menggunakan dokumen pertanggung jawaban
sebagai bukti tindak pidana korupsi dalam laporan kepada penegak hukum.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Korupsi adalah tindakan melawan hukum yang dilakukan oleh orang yang
memiliki kewenangan guna memperkaya diri sendiri atau orang lain atau
suatu korporasi yang dapat merugikan negara atau perekonomian Negara.
Tindak korupsi yang terjadi dalam bidang pendidikan dapat di anatomi
menjadi beberapa aktivtas yang rawan terjadi korupsi yaitu
pengangkatan jabatan kepala sekolah, pengadaan sarana dan prasarana
termasuk (seragam, buku, gedung, peralatan, laboratorium, dsb),
penggunaan dana BOS, penerimaan siswa baru, undangan untuk memasuki
PTN melalui undangan, pengangkatan guru honorer menjadi CPNS.
Dampak dari tindakan korupsi di bidang pendidikan diantaranya adalah
kualitas pendidikan, kerugian finansial, ketidak adilan sosial, pengurangan
tingkat partisipasi dan hilangnya akhlak mulia.
Solusi untuk tindakan korupsi di uunia pendidikan adalah meningkatkan
kualitas SDM pengelola pendidikan, meningkatkan kesejehateraan para
pekerja pendidikan, pendidikan anti korupsi untuk semua dan tata kelola
dalam sistem anti korupsi membuka informasi seluas-luasnya kepada publik
terkait pengelolaan anggaran pendidikan dan akses terhadap bukti-bukti
pertanggungjawaban.

B. Saran

1. Meningkatkan kualitas SDM pengelola pendidikan.


Kualitas SDM diyakini berpengaruh langsung terhadap kualitas kinerjanya.
Oleh karena itu, sistem perekrutan pekerja pendidikan harus dibenahi.
2. Meningkatkan kesejehateraan para pekerja pendidikan, sehingga para
pekerja meningkatkan kinerja dan tanggung jawab mereka sebagai pelayan
sektor pendidikan.
3. Pengawasan juga pengontrolan dari setiap sistem perencanaan, penganggaran
& pelaksanaan yang ketat.
DAFTAR PUSTAKA

Fransisca, D. Tahun. Tindakan Korupsi Di Bidang Pendidikan (online),

(http://www.academia.edu/9377429/TINDAKAN_KORUPSI_DI_BIDANG_PEN
DIDIKAN#) diunduh tanggal 21 Oktober 2015