Anda di halaman 1dari 159
Bab 1 Penyelesaian Rekayasa Berbasis Komputer 1.1 Pendahuluan Program komputer rekayasa (SAP2000, ETABS, STAD-III, GT-STRUDL, ANSYS, ABAQUS, ADINA) berbeda dengan program komputer umum (Word, Photoshop, Excel, AutoCAD) karena pengguna program komputer rekayasa dituntut untuk memahami latar belakang metode penyelesaian dan batasan-batasan yang dihasilkan program tersebut. Pada umumnya, developer program tidak mau berianggung jawab untuk setiap kesalahan yang timbul akibat pemakaian program yang tidak benar, itu dapat dilihat dari berbagai kutipan disclaimer yang dinyatakan pada setiap manualnya seperti berikut. .. The program has been thoroughly tested and used. in using the program, however, the user accepts and understands that no warranty is expressed or implied by the developers or the distributors on the accuracy or the reliability of the program. The user must explicity understand the assumptions of the program and must independent verity the results. SAP2000 - Computers and Structures, Inc., Berkeley, California, USA CARSI does not guarantee the corectness or usefulness of the results obtained using PCGLSS, CASS! is not liable for any conclusion or actions based on the resuft. It is the responsibility of the user to confirm the accuracy and usefulness of the results. ANSYS — Computational Applications and System Integration ine., Urbana, IL, USA This manual is intended for qualified users who will exercise sound engineering judgment and expertise. The ABAQUS Software is inherently complex, .... Users are cautioned to themselves as to the accuracy and results of their analyses. ABAQUS, Inc. will not be responsible for the accuracy or usefulness of any analysis performed using the ABAQUS Software or the procedures, examples, or explanations in this manual. ABAQUS, inc., 166 Valley Street, Providence, Ri 02909, USA Meskipun demikian, dalam manualnya selalu disajikan bukti perbandingan analisis yang menunjukkan bahwa program yang dibuatnya telah teruji, dapat menyelesaikan kasus-kasus tertentu yang telah terbukti hasilnya. Aplcas! Rekayasa Kersrusi dergan SAPQDO0 1 1.2 Komputer Rekayasa Struktur 1.2.1 Bukan Sekadar Alat Komputer yang artinya penghitung merupakan alat bantu yang pertama-tama dikembangkan untuk bidang sain dan rekayasa. Hanya saja, sekarang telah berkembang semakin jauh, tidak hanya penghitung, tetapi juga penulis, pelukis, maupun penghibur dengan video dan tata-suaranya, serta lain-lain. Dikaitkan dengan rekayasa konstruksi atau struktur, atau tepatnya structural engineering maka tugas utama komputer adalah sebagai penghitung seperti maksud awal alat tersebut diciptakan, yaitu dari asal kata to compute. Akan tetapi, berbeda dengan alat hitung sebelumnya, ternyata komputer mengubah pola pikir bekerjanya insinyur dalam melakukan analisa struktur. Jika tradisi sebelumnya, untuk dapat memahami perilaku struktur dengan benar, maka harus memahami metode-metode perhitungan manual yang dilakukan, tetapi dengan tersedianya komputer untuk analisa struktur, maka tanpa mengetahui metode yang digunakan, insinyur dapat dengan mudah dan cepat memperoleh hasil yang diinginkan. Selain itu, berbagai model struktur dapat dengan mudah dibuat, termasuk manipulasi matematik yang diper- lukan. Meskipun demikian, tidak ada jaminan bahwa itu semua membuat para insinyur dapat memahami perilaku struktur sebenamya karena untuk itu perlu (a) paham asumsi-asumsi dasar analisis; (b) paham perilaku struktur yang sebenamya; (c) mampu membuat model struktur dan validasi hasilnya. Komputer untuk bidang rekayasa adalah alat bantu yang sangat berguna, bagi pengguna kompeten, maka dapat dihasilkan pemahaman yang lebih dalam tentang permasalahan bidang rekayasa, yang mana teknik-teknik tradisionil sebelumnya tidak mampu atau kesulitan mendapatkannya. 1.2.2 Prinsip Dasar Pemodelan Struktur Pemodelan struktur adalah pembuatan data numerik (matematis) mewakili struktur real yang digunakan sebagai input data komputer. MacLeod (1990) mengusulkan sebaiknya dalam pembuatan model struktur adalah: 1. Jangan terlalu rumit dari yang diperlukan, Jika dapat dibuat model yang simpel tetapi representatif, maka umumnya itu yang akan berguna. 2. Berkaitan hal di atas, dalam pemodelan kadang-kadang perlu beberapa tahapan model. Ada yang secara keseluruhan (makro model) dan lainnya pada bagian-bagian tertentu saja tetapi lebih detail (mikro model). Jangan berkeinginan membuat model secara keseluruhan dengan ketelitian yang sama untuk setiap detail yang diinginkan (lihat uraian Sub-subbab 7.2.1). Aplkas Rekayasa Konan! dengan SAP2D00 3 Cara lain dengan mempelajari strategi perencanaan suatu struktur yang telah sukses dilaksanakan, memahami prediksi di atas kertas, dan mem- bandingkan dengan kinerja sesungguhnya. Mempelajari Asumsi Dasar: setiap metode analitis memerlukan asumsi atau batasan yang perlu dipahami, tidak ada metode yang berlaku general. Asumsi yang digunakan kadang-kadang dapat mengelompokkan jenis struktur mana yang ‘sesuai’ atau ‘tidak sesuai’ untuk metode tersebut sehingga dapat sekaligus dipelajari perilaku khas masing-masing struktur. 3. Mempelajari Dasar Matematis Model: persamaan differensial banyak digunakan dalam metode analitis. Itu didasarkan pada beberapa parameter tertentu juga, yang pada masing-masing struktur bisa berbeda. Memahami parameter tersebut secara benar bisa juga sekaligus karakter struktumya. 4, Studi Parametris: tersedianya komputer berkapasitas besar dan cepat memungkinkan dibuat berbagai macam model dengan parameter yang beda. Pengaruh variasi parameter tersebut selanjutnya dipelajari dan dapat diambil suatu kesimpulan. Misal rangka batang (truss), maka parameter yang berpengaruh adalah A (luas), bentuk penampang tidak berpengaruh, sedangkan balok adalah I (inersia) bentuk penampang berpengaruh, dsb. 5. Memakai Model Sederhana: yang dapat diselesaikan secara manual dapat digunakan sebagai bahan perbandingan hasil solusi komputer. Dan apabila terdapat perbedaan, maka perlu dicari tahu dari mana itu terjadi. Misalnya hitungan portal dengan. cara Cross dan komputer (lihat Bab 8). x 1.2.4 Penggunaan Komputer Rekayasa Wilayah kerja bidang rekayasa struktur/structural engineering perlu dipa- hami agar komputer dapat dimanfaatkan secara optimal, yaitu meliputi: ‘% Proses perancangan (analisis, desain, dan pembuatan gambar struktur) + Proses fabrikasi (mengimplementasikan gambar dan spesifikasi rencana) % Proses erection/pengangkutan/perakitan atau pelaksanaan itu sendiri Perawatan/perbaikan (redrofit)/evaluasi struktur Dari berbagai tahapan di atas, yang paling banyak melibatkan komputer untuk maksud sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya adalah dalam proses perancangan (dan evaluasi struktur), yang meliputi: 1. Pemodelan Sistem Struktur dan Analisanya Tahap awal sebelum dilakukan analisa struktur adalah membuat model struktur, sebagai simulasi perilaku fisik struktur real agar dapat diproses melalui pendekatan_numerik memakai komputer. Pemodelan tidak terbatas pada penyiapan data saja, tetapi model harus disesuaikan dengan problem Aplicasi Rekayasa Konark! dangan SAP2BOD 5 yang dianalisis, apakah itu tegangan, thermal, atau apa saja. Jadi, pembuat model dituntut harus memahami permasalahan yang akan diselesaikan. Apakah problem yang ditinjau dipengaruhi waktu (misal creep), apakah ada unsur-unsur non-linier (misal masalah keruntuhan), dan sebagainya. Dengan demikian, dapat ditentukan apakah suatu parameter harus ada, atau dapat dihilangkan tanpa mengurangi ketelitian, Dengan memahami permasalahan, dapat disusun suatu model analisis, tentu saja model dibatasi dengan keter- sediaan metode penyelesaiannya. Berbagai pendekatan dalam analisis model struktur untuk mengetahui perilaku terhadap pemberian beban, dikategorikan sebagai berikut. * Linier - Elastik Kata elastik menunjukkan bahwa suatu struktur akan berdeformasi jika diberi suatu pembebanan, dan akan kembali ke posisi awal jika pembebanan tersebut dihilangkan. Sedangkan linier menunjukkan hubungan antara beban dan deformasi bersifat linier/proporsional. Ciri-ciri penyelesaian linier-elastik adalah hasil penyelesaian dapat dilakukan superposisi antara satu dengan yang lain. Contoh Slope Deflection, Cross, dan Metode Matrik Kekakuan. + Non-Linier Analisa ini adalah lawan dari analisa Linier-Elastik, yaitu perilaku hubungan deformasi dan beban tidak proporsional. Deformasi pada suatu kondisi beban tidak bisa digunakan memprediksi deformasi pada kondisi beban lain hanya dengan mengetahui ratio beban-beban tersebut. Kondisi yang menyebabkan struktur dapat berperilaku non-linier dapat dikategorikan sebagai berikut. © Non-Linier geometri: P-A efek, large deformation analysis © Non-Linier material: Plastik, Yield © Non-Linier tumpuan: gap (comtact problem) Analisa non-linier pada umumnya tidak untuk mencari kuantitas gaya-gaya internal atau lendutan yang terjadi, tetapi lebih diutamakan untuk mengetahui perilaku struktur terhadap pembebanan yang menyebabkan batas-batas dari persyaratan elastik-linier tidak terpenuhi. Misal perilaku keruntuhan struktur terhadap beban gempa, apakah bersifat daktail atau getas, dan sebagainya. Ciri penyelesaian non-linier umumnya memakai iterasi dan hasilnya spesifik, tidak dapat disuperposisikan antara hasil satu dengan hasil yang lainnya. Catatan: tidak semua software dapat menyelesaikan problem non-linier, non-linier geometri SAP2000 versi 7.40 hanya tahap P-A saja. Untuk darge deformation analysis tidak mampu, sedang ANSYS (www.ansys.com) atau ABAQUS (swww.abaqus.com) dapat dengan mudah melakukannya. 6 Bab 1: Penyelesaian Rekayasa Berbasis Komputer 2. Desain Penampang Diperlukan untuk mengevaluasi apakah penampang yang dipakai dalam analisa struktur memenuhi syarat kekuatan, kekakuan, atau daktilitas yang ditetapkan dalam peraturan yang berlaku. Acuan untuk evaluasi adalah design-code yang umumnya dikategorikan dalam dua cara, yaitu: «= Elastik/tegangan izin, misal Allowable Stress Design dari AISC, peraturan baja, atau kayu Indonesia yang lama. = Ultimate/Limit State Design, misal ACI 318 - 2002 untuk struktur beton atau AISC-LFRD 1993 untuk struktur baja yang diadopsi di Indonesia sebagai SNI 03 - 1729 — 2000 yang baru. Analisis struktur dan desain penampang adalah dua bagian yang berbeda. Meskipun demikian, pada program-program tertentu, misalnya SAP2000, kedua opsi tersebut tersedia. Oleh sebab itu, memakainya harus hati-hati. Contoh, rangka batang/truss dengan profil siku tunggal dan H tidak ada bedanya dalam analisa struktur, tetapi dalam desain penampang, kedua profil mempunyai prosedur yang berbeda. Desain penampang profil siku tunggal belum ada di SAP2000 v 7.4, tetapi program dapat menghitung karena profil tersebut dianggap sama seperti profil H (Beta dan Wiryanto 2006). 3, CAD (Computer Aided Drawing! Design) Agar dapat diwujudkan, perlu digambar struktur hasil rancangan. Untuk itu, tentu diperlukan program rekayasa lain yang khusus untuk penggambaran, yang paling populer di Indonesia adalah AutoCAD. 1.3 Solusi Umum Berbasis Komputer Untuk memahami perilaku solusi berbasis komputer, diperlihatkan contoh penyelesaian klasik matematik dari luasan bidang sebagai berikut. Linier vo mt 0 710 Gambar 1.2 Luas Persegi Empat Oleh karena bentuknya sederhana, maka dengan mudah dihitung las daerah dengan arsir, yaitu A=1*10+(3-1)*10/2= 20, penyelesaian aljabar biasa. Untuk bentuk-bentuk tertentu, agar dapat diselesaikan secara konsisten, maka cara integral adalah suatu pilihan yang masuk akal. ‘pllcae| Rekayasa Konstrkei dengen GAP2000 7 A= [lb+oana-pa } =10+0.1810? =20 Bentuk integral di atas sangat berguna untuk menyelesaikan perhitungan luas penampang di bawah kurva yang bentuknya kompleks seperti berikut. yOa)=sings) Gambar 1.3 Luas Kurva Sinus Untuk mencari luas dengan aritmetika biasa, tentu saja susah, Penyelesaian eksak dengan cara integral akan lebih mudah, yaitu: A=2 [i sineae = -cos(x)f = 4 Penyelesaian cksak integral di atas tidak dapat secara mudah atau langsung diselesaikan dengan komputer, perlu suatu metode tertentu, yaitu metode numerik yang menyelesaikan problem tersebut dengan cara pendekatan. Penyelesaian numerik untuk integral Cara pendekatan, misal seperti berikut, — unit pendekatan ee syn” pendekatan ~ = amma’ endekatar a} error besar Gambar 1.4 Pendekatan Mencari Luas di Bawah Kurva Ciri-ciri penyelesaian numerik untuk integral mencari uasan di bawah kurva di atas dapat dirangkum sebagai berikut: Problem diselesaikan secara pendekatan, © Unit pendekatan > suatu formulasi yang dianggap dapat mewakili fungsi yang ditinjau berdasarkan data sesedethana mungkin. * n~pendekatan -> semakin banyak semakin teliti. e Ada proses pengulangan, iterasi, looping. 8 ‘Bab 1: Penyelessian Rekayasa Berbasis Komputer 1.4 Analisa Struktur Berbasis Komputer Penyclesaian dilakukan dengan membagi model menjadi element-clement kecil. Adapun clement (# elemen) adalah identik dengan ‘unit pendekatan’, yaitu suatu formulasi matematis dari suatu model struktur yang dianggap sebagai representasi yang paling mendekati sifat struktur real. Sifat struktur real tentu dapat berbeda-beda, umumnya dapat difokuskan pada sifat-sifat dominan yang ada, mulai dari kondisi tumpuan (tanah/pondasi), cara penyaluran beban (lentur atau aksial atau keduanya) maupun sifat fisik struktur itu sendiri, batang langsing atau bidang atau solid 3D. fo \~ Diskretisas! Model Pe A \ AE oA? Pondasi> — Tumpuan 9 Rigid Representasi Fisik Mode! MEH Gambar 1.5 Tahapan Umum dalam Pemodelan Struktur Gambar 1.5 memperlihatkan proses pemodelan tiang non-prismatis dengan beban sentris. Mula-mula tanah pondasi dapat dianggap sebagai tumpuan rigid karena hanya menahan gaya aksial. Anggapan tersebut belum tentu benar jika beban yang bekerja adalah eksentris hingga timbul momen guling. Kondisi tiang non-prismatis selanjutnya didekati sebagai tiang-tiang pris- matis yang ukurannya bervariasi dari bawah ke atas, Ingat, semakin banyak tiang-tiang prismatis yang digunakan, maka perilakunya akan semakin mendekati kondisi tiang real (tiang non-prismatis). Selanjutnya tiang-tiang prismatis akibat beban sentris hanya akan mengalami deformasi aksial saja sehingga bila tiang prismatis tersebut dimodelkan sebagai element satu dimensi masih memungkinkan. Adapun parameter geometri yang dominan adalah luasan (A) dan panjang (L) penampang tiang prismatis. Element satu dimensi pada program SAP2000 adalah element FRAME. Dalam kenyataannya, tidak semua struktur selalu dapat dimodelkan sebagai element satu dimensi. Untuk kasus-kasus tertentu diperlukan model element dua dimensi atau bahkan tiga dimensi, seperti terlihat pada Gambar 1.6. Apliasi Rakayass Konstruksi dengan SAP2000 9 ‘Sagiempat Benda dua-dimensi Etemen segiempat (a) dan tagitiga Benda tigacimensi Elamen prismna segienam (b) Gambar 1.6 Pemodelan Struktur 2D dan 3D 1.5 Sumber Pustaka 1. Beta Patrianto dan Wiryanto Dewobroto, Evaluasi Metode Perencanaan Batang Aksial Murni SNI-03-1729-2000 dan AISC-LRFD, Civil Engineering Conference: Toward Sustainable Civil Engineering Practice, Universitas Kristen PETRA, Surabaya, 25-26 Agustus 2006. 2. Ian A. MacLeod, Analytical Modelling of Structural Systems: an entirely new approach with emphasis on the behaviour of building structures, Ellis Horwood, England, 1990. 3. Manual Program, SAP2000" Integrated Finite Element Analysis and Design of Structures: ANALYSIS REFERENCE, Computers and Structures, Inc., Berkeley, California, USA, Version 7.0, October 1998. 10 Bab 1: Penyeiesaian Rekayasa Berbasis Komputer Bab 2 Formulasi Element FRAME 2.1 Metode Matrik Kekakuan Dasar teori penyelesaian statik yang digunakan program SAP2000 adalah metode matrik kekakuan, di mana suatu persamaan keseimbangan struktur dapat ditulis dalam bentuk matrik sebagai berikut. [xJo}=tr} Notasi: [K] adalah matrik kekakuan yang dalam pembahasan sebelumnya dapat disebut sebagai ‘unit pendekatan’ yang merupakan formulasi matematik yang merupakan representasi perilaku mekanik element yang ditinjau. {8} adalah vektor perpindahan atau deformasi (translasi atau rotasi) struktur. {F] adalah vektor gaya/momen yang dapat berbentuk beban pada titik nodal bebas atau gaya reaksi tumpuan pada titik nodal yang di-restraint. Formulasi persamaan keseimbangan di atas memperlihatkan bahwa besamya deformasi berbanding lurus dengan gaya yang diberikan, di mana matrik (K] adalah sesuatu yang menghubungkan perpindahan (deformasi) dan beban. Lebih tepatnya lagi, matrik [K] adalah besarnya gaya yang diperlukan untuk menghasilkan perpindahan (deformasi) sebesar satu satuan. Jika isi matrik [K] konstan dalam keseluruhan analisis, maka kondisi tersebut menunjukkan bahwa jenis analisa struktur yang digunakan adalah elastik linier schingga perlu diingat batasan-batasan sebagai berikut: © Geometri struktur sebelum dan sesudah dibebani dianggap tidak mengalami perubahan, Oleh Karena itu, perlu diperiksa apakah deformasi pada salah satu nodal bebas sesudah program dijalankan besamya relatif kecil dibanding geometri secara keseluruhan, Misalnya untuk simpel-beam, lendutan di tengah bentang harus << L/360. Aplikasi Rekayasa Konstruksl dengan SAP2000 a @). Geometri Non-Linier 7 geometri semula (lentur dominan) geometri setelah dibebani (aksial dominan) Beban tumpuan rol menjadi sendl ~ dinding menanan transiasi horizontal b). Problem Gap atau Kontak Gambar 2.1 Peritaku Struktur Non-Linier * Hubungan tegangan-regangan material struktur yang diwakili konstanta Modulus Elastisitas harus mengikuti hukum Hooke, yaitu elastik linier. Oleh karena itu, perlu dicek apakah gaya-gaya internal batang yang terjadi dari proses perhitungan menghasilkan tegangan pada penampang yang masih pada batas proporsionalnya atau tidak. Tentunya kalau sudah melewati tegangan Jeleh (misalnya pada material baja), maka kondisi tersebut menunjukkan bahwa hasil analisis yang ada tidak valid lagi. ~ perilaku material terhadap beban batas proporsional 1 € daerah valid a — 6 Gambar 2.2 Pengaruh Tegangan Material Terhadap Hasil Analisis 2.2 D.O.F (Degree of Freedom) Joint atau nodal mempunyai peran sangat penting pada pemodelan analisa struktur. Nodal merupakan titik di mana elemen-clemen batang bertemu dan terhubung (menyatu) sehingga mempunyai bentuk yang bermakna, yaitu geometri struktur itu sendiri. Selain itu, juga digunakan sebagai lokasi untuk mengetahui besarnya deformasi yang terjadi dari suatu struktur. Pada waktu 12 Bab 2; Formulas! Element FRAME menggambar geometri struktur rangka dengan antarmuka grafis SAP2000, nodal otomatis dibuat dan ditempatkan pada ke-2 ujung element Frame. Degree of freedom (d.o.f) adalah jumlah derajat kebebasan suatu titik nodal untuk mengalami deformasi yang dapat berupa translasi (perpindahan) maupun rotasi (perputaran) terhadap tiga sumbu pada orientasi ruang/3D. Transiasi Rotas! R < y y ¢ Y oe = e ain | Gambar 2.3 Deformasi pada Nodal Jadi, untuk suatu nodal dapat terjadi 6 bentuk deformasi jika berada pada suatu kondisi ruang bebas, yaitu 3 translasi (5,, 5,, 5.) dan 3 rotasi (@,, 0, 9,). Suatu nodal yang tidak bebas berdeformasi (tertahan) karena diberi restraint yang menyebabkan @ = 0 atau / dan 6 = 0 disebut tumpuan. Sedangkan nodal yang mempunyai kondisi yang dapat berdeformasi sampai pada batas tertentu, disebut sebagai tumpuan elastis (spring support), misalnya pondasi pada tanah lunak, tumpuan balok anak ke balok induk, dan sebagainya. Penempatan restraint pada d.o.f nodal sehingga menjadi nodal tumpuan adalah sangat penting sekali karena menentukan stabilitas struktur tersebut. Jika tidak stabil, suatu struktur tidak dapat dianalisa dan harus diubah dulu. “sy Gambar 2.4 Tumpuan Sebagai Nodal dengan d.o.f Ditahan ‘Aplikasi Rekayasa Konstruksi dengan SAPZ000 13 2.3 Element Frame SAP2000 Element Frame pada SAP2000 telah disiapkan untuk memodelkan struktur yang dapat diidealisasikan sebagai rangka (element garis atau element satu dimensi) dalam orientasi ruang/3D, Selain itu, dapat juga memodelkan balok yang dikenal dengan sebutan balok tinggi (deep beam), yaitu suatu balok yang mempunyai ratio L/d relatif kecil (menurut peraturan beton jika L/d < 5). Pada balok tinggi, deformasi akibat gaya geser akan menjadi dominan'. Agar teliti, balok seperti itu sebaiknya dianalisis memakai element bidang atau 2D, yaitu element Shell yang dibahas pada Bab 7. Dalam satu sisi, kelengkapan formulasi pada element Frame dapat digunakan untuk menyelesaikan (memodelkan) berbagai bentuk struktur rangka. Meski- pun demikian, dalam banyak hal khususnya struktur-struktur yang banyak dijumpai dalam praktek, temyata formulasi yang lebih sederhana telah mencukupi. Jadi, element Frame SAP2000 terlalu lengkap dan dapat menyulitkan karena input-data yang diisikan menjadi lebih banyak dan perlu pemahaman yang benar dari pemakai untuk hasil yang diharapkan. Catatan: banyaknya data yang diproses tidak menjadi masalah bagi komputer, apalagi processor dan memori (maupun hard disk) yang tersedia di pasaran semakin hari semakin cepat dan murah. 2.3.1 Formulasi Portal Ruang (Space Frame) Formulasi matrik [K] dari element FRAME? mencakup keseluruhan d.o.f pada nodal-nodal di clement, yang diperlihatkan dalam gambar berikut. jh L 4 Po ie vob iva web On a, Ay ua Gxz x 4 4a Gambar 2.5 D.O.F Lengkap Element FRAME (Space Frame) ' Formulasi pengaruh deformasi geser terhadap balok dibahas dalam buku Timoshenko (1955) halaman 170 (conjugate beam) dan 318 (strain energy) ? RD. Cook et. al (2002) halaman 27, nilai yang dtambil untuk luas geser efektif berbeda dari Timoshenko, hitungan pada program SAP2000 mengikuti Cook, 14 ‘Bab 2: Formulasi Element FRAME x0 0 0 0 Of-¥ 0 0 0 0 O)y, ¥o 0 0 Hi 0 -F 0 0 0 ly Z 0-2, 010 0 -Z 0 -Z, 0| w, 5S 0 0'0 0 0 -5 0 9/6, Z% o;0 0 0 Z% 0/4, } (e|- di mana 42 = ok x= 525 4, oH __ RET, y, «Sle * AGE ae Ura E Gey) ET, y, _ 4+, der + 6 DE GONE 12EI. ke. 12E/, 6EI, pe ae Ze= 2 Z,-— #: AGE +E e+e E (4+, )Ely _ 4+¢,)Ely G+9)L OF DLE Avky adalah luas efektif geser untuk deformasi geser transversal arah y. Telah umum diterima bahwa faktor k, = 1.2 untuk penampang persegi solid dan k,=2 untuk penampang melintang tabung dinding tipis. Jika penampang semakin langsing, $ = nol. Sedangkan A,/k, adalah luas efektif geser untuk deformasi geser transversal arah z. Modulus Geser, G untuk menghitung deformasi geser dan kekakuan torsi, dengan angka Poisson, v terkait dengan parameter Modulus Elastisitas, E. Ketiganya membentuk hubungan berikut. E A1+0) ‘Aplikas! Rekayasa Konstruksi dengan SAP2000 1s Tabel 2.1: Luas Efektif Geser Menurut SAP2000 Penampang Penjelasan Luas Efektif Geser L | Penampang persegi A a Gaya geser yang bekerja bd b harus dalam arah paralel 12 Lebo terhadap arah b atau d. Penampang [ Gaya geser yang bekerja Sib harus dalam arah paralel terhadap arah b. Penampang I Gaya geser yang bekerja ta harus dalam arah paralel tethadap arah d. Penampang Gelang Gaya geser dalam art segala arah bekerja. Circular Solid Gaya geser dalam 0.92 r? segala arah bekerja. Keuntungan dengan memasukkan parameter untuk menghitung deformasi gaya geser adalah dapat digunakan untuk memodelkan struktur dinding geser (shear wail), khususnya jika digabung dengan option Rigid Offset. K pada formulasi GK/L menunjukkan sifat mekanik penampang terhadap torsi yang disebut konstanta torsi. Sedangkan G adalah modulus geser dan L adalah panjang element. Hanya pada penampang pipa atau solid, seperti tabung silinder, maka konstanta torsi K sama dengan J momen inersia polar penampang terhadap sumbu centroid. Untuk penampang dinding tipis, seperti balok I, profil U, maka K adalah bagian kecil dari nilai J. Formulasi konstanta torsi K yang disajikan diambil dari Roark & Young (1989). 16 ab 2: Formulas Element FRAME. Tabel 2.2: Konstanta Torsi untuk Struktur Space Frame dan Grid Rumus K pada Kekakuan Torsi (GK/L) Penampang Untuk a> b K=ab's-3364(1-4]] 12a" Untuk a>b 1F(b=4F at+ by -P-1 o.5n((r+ey' -r) vegyte | K-2K\+K,+2aD*, di mana RR ; cig, | k=abhy-o2rs-5) DF b £ aa Ky=4ed a= +(0.15+0.14) tb jikabd ti=d jikad>b ‘Aplcasi Rekayasa Kenstruksi dengan SAP2000 Contoh aplikasi element FRAME lengkap (space frame) seperti berikut. Gambar 2.7 Idealisasi Kolom dengan Element FRAME 18 Bab 2: Formulasi Element FRAME. Dalam banyak kasus, sebenarnya struktur 3D (ruang) dapat diidealisasikan sebagai struktur 2D (bidang). Seperti yang banyak digunakan pada metode penyelesaian klasik manual, yaitu Slope Deflection, Cross, Kani, Takabeya. Bentuk-bentuk struktur dan namanya masing-masing hasil penyederhanaan dari struktur Space Frame adalah sebagai berikut. a) Rangka Bidang bb), Rangka Ruang (Plane Truss) (Space Truss) P a +), Grid 4 pi petengkung fd 4), Portal Bidang (Plane Frame) ote! ph pei ©). Balok (Beanr) Gambar 2.8 Model Struktur yang Diselesaikan dengan Element FRAME Apticasi Rekayaen Konetuksi dengan 6AP2000 19 2.3.2 Formulasi Portal Bidang (Plane Frame) Selanjutnya akan ditinjau formulasi dari struktur-struktur tersebut di atas. Struktur portal bidang (2D) relatif paling banyak digunakan. Element-nya dapat menerima gaya aksial sehingga dapat memanjang/memendek. Selain itu, dapat menerima beban transversal berupa gaya atau momen sehingga akan mengalami lentur dan geser, Gamibar 2.9 D.O.F Element FRAME Sebagai Portal Bidang (Portal Frame) Adapun isi matrik (k] adalah: di mana yede L _ 1B, ky / 12ET, % =— SE * AGE a+) A+¢,)L y= Copel y= Ct ode (4+ ODL (4G, )E 20 Bab 2: Formmulasi Element FRAME Jika deformasi terhadap gaya geser diabaikan, rumusan matrik kekakuan di atas menjadi: Catatan: Input luas penampang di SAP2000 dibedakan menjadi 3 sebagai berikut. 1. Cross-section (axial) area, A (untuk deformasi aksial rangka batang). 2. Shear area in 2-direction, Ay 1.2 (untuk deformasi geser bidang 1-2), digunakan untuk struktur bidang (portal 2D). 3. Shear area in 3-direction, A, ;.3 (untuk deformasi geser bidang 1-3), digunakan untuk struktur ruang (portal 3D). Untuk melihat input data section property yang akan digunakan dalam formulasi element FRAME, caranya klik menu Define — Frame Sections — Modify/Show Section, maka akan ditampilkan sifat-sifat penampang yang telah didefinisikan sebelumnya. Sedangkan untuk mendefinisikan penampang yang baru, digunakan perintah Define — Frame Sections — Add ... (diisi dengan data penampang yang tersedia pada kotak dialog yang ada). Tampilan di bawah ini merupakan tampilan penampang type General, yaitu yang nilai-nilainya harus diberikan satu per satu secara manual. Untuk mendefinisikan, gunakan perintah Define - Frame Sections - Add General. Gambar 2.10 Property Data untuk Element FRAME AptikastRekayasa Konsindal dengan SAP2000 21 Jadi, jika pengaruh gaya geser tidak mau ditinjau, misalnya untuk dibanding- kan dengan metode analisa struktur cara konvensional dengan cara manual, seperti metode Cross, Slope Deflection, maka input data untuk item Shear area in 2-direction dan Shear area in 3-direction di dalam kotak dialog Property Data harus dihilangkan dengan memberi nilai nol. Parameter AE/L pada matrik [k] portal bidang (juga portal ruang) merupakan representasi kekakuan element searah sumbu aksial. Jika nilai A besar, berarti perpendekan/perpanjangan batang terhadap beban aksial akan kecil, dan sebaliknya. Kondisi itu menunjukkan bahwa deformasi aksial dihitung. 2.3.3 Formulasi Balok (Beam) Untuk struktur Balok di mana hanya gaya transversal saja yang diper- hitungkan, deformasi aksial tidak periu diperhitungkan. v L “id iva 1 2 —<—<—$_____________=,. ’ x “” “ zy Sn 822 Gambar 2.11 D.O.F Element FRAME Sebagai Balok Formulasi matrik [k] untuk struktur Balok adalah: Di mana _ REL, ky 12EI, y, = SEs 7 4,GE (+6 )E 2 GE _ +O JEL, _4+9, EI, UGE BE 22 Bab 2: Formulasi Element FRAME Jika deformasi terhadap gaya geser diabaikan, rumusan matrik kekakuan di atas menjadi: 2.3.4 Formulasi Grid Struktur Grid hampir mirip dengan struktur Portal. Bedanya hanya pada pembebanan, yaitu tegak lurus bidang, tidak ada deformasi aksial tetapi ada torsi pada balok. Adanya torsi, maka pada formulasi matrik [K] memerlukan data mengenai G; konstanta torsi K dan inersia Polar J. XO WI-K 0 BIH o Ss O10 -S 0] 4 1 ee AD ar =F] v2 0 -s 010 Ss 0/8, ho 0 Ki-h 0 Klja, a 2Elehy IDET, 6EI, AGE (+02 (+9) yt edele _ +8, DEL. (146 )E OL Aptis Fekayane Kerala dengen SAP2500 23 Jika deformasi terhadap gaya geser diabaikan (analisa balok langsing), rumusan matrik kekakuan di atas berubah menjadi: Bly 0 | ¢@, [l= Ha. 2.3.5 Formulasi Rangka Batang (Truss) Yang terakhir dari penyederhanaan element Frame adalah element Truss, yaitu element yang hanya dapat menghitung deformasi aksial saja. y L 7 1 2 RD uy uz x Gambar 2.13 D.O.F Element FRAME Sebagai Truss Oleh karena hanya memperhitungkan pengaruh aksial, maka pada element ini tidak ada pengaruh deformasi geser, dan merupakan element matrik yang paling sederhana, yaitu: Catatan: Untuk menganalisa struktur rangka batang yang stabil dengan program SAP2000, data properti penampang yang dipertukan hanya A (Cross-section = axial area). Sedangkan data properti penampang lain, khususnya untuk kekakuan lentur (momen inersia penampang), kekakuan torsi aksial G dan K dapat dihilangkan (diberi nilai nol). Jika digunakan A (Cross-section —axial area), element batang tidak perlu di- release untuk menjadi element truss. Tapi ingat, konfigurasi geometri harus mengikuti syarat truss, yaitu R + M - 2J 2 0 (truss 2D) atau R + M3720 (truss 3D), di mana M = £ member; R = E gaya reaksi, dan J=5 titik nodal. 24 Bab 2: Formulas Element FRAME 2.4 Rigid Offset Dalam membuat model struktur, umumnya mengabaikan dimensi dari titik sambungan, yang dianggap sebagai suatu titik saja yang sangat kecil/infinite small. Cara tersebut cukup memadai untuk sebagian besar struktur rangka. Pada konstruksi beton, sering dijumpai ukuran kolom yang relatif besar dibandingkan panjang as-ke-as balok yang menghubungkannya. Jika ukuran sambungan diabaikan, dapat menghasilkan kesalahan yang signifikan. __Jarak kolom aske as a. a). Fisik Struktur yang Sebenarnya beat dy b). Pemodelan biasa (as ke as) element sangat kak (terhadap lentur saja) ©). Pemodelan dengan Rigid Offset Gambar 2.14 Pengaruh Dimensi Terhadap Pemodelan Jika ditinjau suatu struktur rangka beton yang baloknya menyatu ke kolom yang dianggap sangat kaku seperti yang diindikasikan pada gambar, ukuran dari bagian yang sangat kaku tersebut (tetapi tidak selalu) adalah sama dengan tinggi balok yang dihubungkannya. Jika ukuran sambungan cukup kecil dibanding ukuran element kolom atau balok, pengaruhnya daerah yang sangat kaku terhadap analisis rangka secara keseluruhan relatif kecil sehingga dapat diabaikan, Untuk itu, dalam analisis dapat dilakukan “pemodelan biasa” di mana panjang balok adalah L+d,+d,, yaitu jarak as kolom ke as kolom berikutnya. ‘Apliasl Rekayasa Konetruksi dengan SAP2000 25 Jika ukuran sambungan tidak kecil seperti pada struktur beton tersebut, pengaruhnya harus diperhitungkan dalam analisis. Daerah pada sambungan yang dianggap mempunyai kekakuan yang relatif besar (rigid) tersebut jika dimodelkan disebut sebagai rigid offset atau dalam istilah SAP2000 disebut juga sebagai end offset, yaitu daerah yang diberi arsir pada Gambar 2.14. Ada dua cara pendekatan yang umum digunakan untuk menghitung pengaruh rigid offset. Pendekatan pertama, rigid offset dianggap sebagai element batang yang sangat kaku I=, misalnya I = 1000 * Iyiger. Ini biasa dilakukan jika dipakai formulasi matrik standar yang ada (jumlah element bertambah). Kerugian yang ditimbulkannya adalah jumlah nodal dan element yang dianalisis akan berlipat sehingga proses analisis lebih lama dan evaluasi hasil akan lebih banyak (kemungkinan timbulnya kesalahan juga semakin besar). Alternatif pendekatan lain adalah memasukkan pengaruh rigid offset pada formulasi matrik kekakuan. Keuntungannya adalah element batang yang digunakan tetap asli jumlah element tidak bertambah), bersama-sama dengan rigid offset dapat diproses sebagai satu element batang saja. Hal ini sudah tercakup pada formulasi element Frame pada SAP2000. Gambar 2.15 Rigid Offset atau End Offsets Untuk dapat mengakses, pilih terlebih dahulu element yang akan diaktifkan, Selanjutnya dari menu Assign — Frame - End Offsets akan ditampilkan kotak dialog Frame End Ofisets seperti Gambar 2.15. Rigid-Zone Offsets tidak memberi pengaruh deformasi aksial maupun torsi karena tidak ada daerah rigid untuk kedua deformasi tersebut. Nilai default untuk Rigid Zone Factor = 0. Jika Rigid Zone Factor = 1 maka dianggap end-offset sebagai element yang sangat kaku (fully rigid). Pembuat program menyarankan untuk menggunakan engineering judgment dalam memilih parameter yang tepat. Sebab hal tersebut bergantung pada bentuk geometri dan tipe sambungan struktur, dan dapat berbeda untuk setiap sambungan yang ada. Secara umum, manual program menyatakan bahwa Rigid Zone Factor < 0.5. 26 Bab 2: Formulas Element FRAME 2.5 Efek P-Delta 2.5.1 Pendahuluan Analisa struktur orde pertama dari bangunan kolom/dinding vertikal yang secara simultan menerima gaya transversal dan aksial gravitasi (vertikal), hanya akan menghasilkan perpindahan horizontal yang diakibatkan gaya lateral saja. Pengaruh interaksi aksial gravitasi terhadap perpindahan horizontal tidak diperhitungkan dalam analisis dan dianggap tidak ada. Kenyataannya, saat beban transversal bekerja menyebabkan drift, A yang menyebabkan timbul eksentrisitas beban gravitasi terhadap sumbu vertikal kolom atau dinding. Eksentritas akan menghasilkan momen tambahan internal yang dapat mempengaruhi momen hasil analisis orde pertama. Pengaruh beban gravitasi P pada perpindahan horizontal A dikenal dengan sebutan efek P-Delta, dicari dengan analisa orde ke-2 atau analisa P-Delta. Bangunan yang didesain baik tidak banyak terpengaruh oleh efek P-Delta. Misal suatu bangunan dengan gaya lateral sama, satu dianalisis efek P-Delta dan satunya tidak. Jika temyata memperlihatkan selisih lendutan lateral > 5%, itu menunjukkan bahwa bangunan terlalu fleksibe! dan perlu re-design. Element Frame SAP2000 telah memasukkan formulasi efek P-Delta. Jika diaktifkan, program akan memperhitungkan pengaruh beban aksial yang besar terhadap perilaku momen lentur transversal. Gaya aksial tekan akan mengurangi kekakuan lentur, sedangkan gaya aksial tarik memperkaku. Meskipun termasuk analisa non-linier geometti, tetapi analisa P-delta dengan program SAP2000 belum memperhitungkan efek lendutan yang besar (/arge deformation analysis). Jadi, asumsi geometri struktur sebelum dan sesudah dibebani dianggap sama (geometrinya tidak berubah). Option P-Delta sangat berguna untuk memperhitungkan pengaruh beban gravitasi terhadap kekakuan lateral bangunan bertingkat yang diatur dalam spesifikasi khusus pada peraturan perencanaan, seperti ACI dan AISC. Pada bangunan yang bergoyang (sway) untuk desain beton, pembesaran momen harus dilakukan dengan analisa orde ke-2. Oleh karena itu, dalam perencanaan struktur beton bertulang dengan rangka langsing, analisa P-Delta diperlukan. Kecuali itu, dapat juga digunakan untuk menganalisa struktur kabel, seperti yang terdapat pada jembatan gantung, jembatan cable-stayed, dan peng- angkuran pada menara (guyed towers), atau aplikasi lain yang sejenis. Pengaruh P-Delta secara nyata mengubah karakteristik struktur sehingga berpengaruh terhadap hasi! analisa termasuk analisa statik/dinamik, garis pengaruh, dan beban bergerak pada jembatan. ‘Apbkast Rekayasa Kenetrisi dengan SAP2000 27 2.5.2 Konsep Dasar Efek P-Delta Konsep dasar dari pengaruh P-Delta digambarkan sebagai berikut. a). Konfigurasi Awal Sebelum Berdeformasi F 'b), Konfigurasi Akhir Setetah Berdeformasi t P Gambar 2.16 Kantilever Dibebani Gaya Aksial dan Transversal Sekaligus Balok kantilever diberi beban aksial P dan gaya transversal F di ujungnya (Gambar 2.16). Gaya aksial balok sama dengan P. Jika ditelaah pada konfigurasi awal sebelum berdeformasi, momen tumpuannya M = F*L, dan berkurang sampai nol di ujung balok. Jika ditinjau kondisi berdeformasi, maka ada tambahan momen akibat gaya P dan eksentrisitas akibat deformasi transversal A dari beban F. Momen tidak lagi bervariasi linear sepanjang balok, tetapi bergantung pada bentuk lendutan yang dihasilkan gaya F tadi. Pada perhitungan P-Delta yang menyebabkan momen tambahan, hanya eksentrisitas akibat deformasi transversal saja yang dihitung agar tidak perlu iterasi berlebihan, teknik ini biasa disebut sebagai second order analysis. a 2.5.3 Tekuk/Buckling Gaya aksial tekan P-Delta yang besar menyebabkan struktur mengalami tekuk (buckle). Tekuk lokal pada clement atau struktur secara keseluruhan dapat mungkin terjadi, tetapi program SAP2000 tidak dapat membedakannya. Jika program mendeteksi tekuk, program akan berhenti dan tidak ada hasitnya, Kondisi itu terjadi karena tekuk memerlukan analisa yang perlu memasukkan efek lendutan besar yang tidak ada pada program SAP2000. Pemyataan di atas hanya cocok untuk program SAP2000 v 7.4, sedangkan untuk program versi terbaru v 10.0, telah tersedia fitur canggih untuk menghitung besarnya beban tekuk seperti yang diperlihatkan pada Bab 9. 23 Bab 2: Formulasi Element FRAME 2.5.5 Aplikasi Praktis Beberapa petunjuk praktis yang diambil dari manual mengenai pemakaian P-Delta dalam analisis adalah sebagai berikut. Struktur Bangunan Gedung Pada gedung bertingkat (bangunan tinggi), efek P-Delta mungkin dominan jika kolom-kolomnya langsing. Akibat beban gravitasi dapat menyebabkan kolom semakin lentur ketika menerima beban lateral (angin atau gempa) schingga deformasinya bertambah besar. Peraturan perencanaan (ACI 1995; AISC 1994) mengenali ada dua tipe efek P-Delta, yaitu 1) akibat struktur secara keseluruhan yang bergoyang; dan 2) akibat deformasi pada bagian dari element di antara kedua nodal ujungnya. Kondisi pertama umumnya lebih signifikan, dapat dihitung akurat untuk setiap beban vertikal total akibat beban gravitasi saja dan tidak terpengaruh beban lateral. Sedangkan untuk kondisi yang kedua, umumnya hanya terjadi pada kolom yang langsing. Untuk itu, dalam analisanya memerlukan gaya aksial gravitasi sekaligus gaya lateral. SAP2000 dapat menghitung kedua macam P-Delta tadi. Meskipun demikian, direkomendasikan bahwa kondisi pertama dihitung dalam tahapan analisis, sedangkan kedua dihitung dalam tahap desain (post-processing) memakai faktor pembesaran momen sesuai cade perencanaan (White and Hajjar 1991). Dengan cara itulah, progtam SAP2000 mendesain struktur beton dan baja. Struktur Kabel Efek P-Delta penting untuk menghasilkan kekakuan jembatan gantung, cable-stayed, atau struktur kabel yang lain. Kekakuan kabel tethadap gaya lateral sepenuhnya adalah dari gaya aksial tarik karena kabel sangat lentur jika tidak diberi tegangan tarik. Cara yang paling mudah untuk memodelkan adalah dengan memberikan. langsung gaya aksial P-Delta pada kabel tersebut, jika gayanya diketahui. Jika tidak memungkinkan, beban kombinasi P-Delta dapat diberikan asalkan lendutan yang terjadi jangan sampai mengubah banyak geometri. Pada banyak struktur kabel, gaya tarik pada umumnya disebabkan gaya gravitasi sehingga relatif tidak dipengaruhi oleh beban yang lain. Jika demikian, sebaiknya mendefinisikan beban kombinasi P-Delta sesuai dengan beban kombinasi yang realistik dari beban mati dan beban hidup. Hal tersebut sangat penting karena kekakuan lateral kabel kira-kira proporsional dengan gaya aksial P-Delta. Apikasi Rekayana Konstruksi dangon SAP2000 29 Untuk memodelkan kabel, dipakai element Frame. Jika ada beban terpusat, element tunggal cukup. Akan tetapi, jika bebannya merata (termasuk berat sendiri), sebaiknya didekati dengan beberapa element. Perlu diingat bahwa beban terpusat tidak boleh diberikan sebagai pembebanan pada element batang, tetapi harus dijadikan beban nodal. Setiap clement untuk memodelkan kabel, harus cukup kecil dan mempunyai kekakuan yang realistik. Jika tidak, struktur dapat mengalami ketidakstabilan pada saat iterasi meskipun gaya tarik yang diperlukan untuk kekakuan kabel belum tercapai. Untuk suatu alasan (manual tidak menjelaskan), kedua ujung element kabel tidak boleh di-release. Bentuk geometri dari kabel sepenuhnya bergantung pada pembebanan yang ada. Oleh karena SAP2000 hanya dapat menghitung lendutan kecil, maka sangat penting untuk mendefinisikan geometri kabel (koordinat nodalnya) agar mendekati bentuk struktur setelah dibebani. Untuk itu, mungkin perlu penyesuaian ulang bentuk geometrinya setelah suatu analisis awal (iterasi). Jika geometri berubah akibat pertambahan panjang kabel dan mengalami rotasi yang besar, maka hasil analisa P-Delta akan tidak akurat lagi. Efek P-Delta hanya berpengaruh pada kekakuan transversal dan bukan aksial. Oleh karena itu, element Frame yang memodelkan kabel dapat memikul gaya aksial tekan sama baiknya dengan gaya aksial tarik, meskipun hal tersebut tentu saja tidak realistik sehingga harus selalu dipantau agar tidak terjadi. Konvergensi pada struktur yang mengalami stiffening lebih lambat dari struktur yang softening schingga diperlukan beberapa kali interasi. Guyed Towers Guyed fowers atau menara yang ditahan kabel atau sejenisnya, kabelnya diberi gaya aksial besar melalui ‘alat khusus” yang menyebabkan ‘kabel memendek’. Struktur itu selanjutnya dapat dianalis seperti struktur kabel. Fungsi alat khusus yang dapat digunakan untuk menimbulkan efek ‘kabel memendek’ dapat dilakukan pada analisis struktur dengan memberikan beban thermal pada element Frame. Selanjutnya beban tersebut dan beban lain yang menyebabkan gaya yang signifikan pada kabel harus dimasukkan untuk analisis efek P-Delta. Untuk mendapatkan beban thermal yang menghasilkan efek gaya tarik pada kabel, kadangkala perlu dilakukan beberapa kali iterasi. Dalam setiap iterasi perlu diperhatikan kondisi geometri struktumya. Alternatif lain, gaya aksial P-Delta dapat diberikan langsung pada kabel. 30 ‘Bab 2: Formulas! Element FRAME 2.6 Sistem Sumbu Koordinat (Global & Lokal) Sistem koordinat digunakan untuk menempatkan geometri model struktur dan menentukan arah pembebanan, perpindahan, gaya internal, dan tegangan yang terjadi. Semua sistem koordinat yang digunakan dalam pemodelan dinyatakan terhadap satu sistem koordinat global, sedangkan setiap bagian (nodal, element, atau constraint) dapat memiliki sistem sumbu koordinat tersendiri (koordinat lokal). Gambar 2.17 Sistem Sumbu dengan Kaidah Tangan Kanan Sistem koordinat yang digunakan adalah sistem koordinat tiga dimensi persegi (Cartesion) yang mengacu kaidah tangan kanan. Dengan tangan kanan (ibu jari, telunjuk, dan jari tengah) membentuk garis yang saling tegak Turus satu sama lain, dan arah yang ditunjukkan oleh ketiga jari tangan kanan menunjukkan arah positif sistem sumbu koordinat. Di mana ibu jari sebagai sumbu X, telunjuk sebagai sumbu Y, dan jari tengah sebagai sumbu Z. f™ ‘Gambar 2.18 Rotasi Positif dengan Kaidah Tangan Kanan Translasi atau gaya mempunyai arah positif jika selaras dengan sistem sumbu koordinat arah positif. Sedangkan untuk rotasi dan momen yang berarah positif, ditentukan dengan bantuan tangan kanan juga. Untuk menjelaskan ‘Aplixasi Rekayasa Konstruksi dengan SAP2000° 31 rotasi atau momen, tangan kanan yang digunakan diminta dalam posisi menggenggam dan ibu jari mengarah ke luar, seperti diperlihatkan pada Gambar 2.18. Arah jempol menunjukkan arah sumbu putaran, sedangkan arah yang ditunjukkan oleh keempat jari-jari yang menggenggam menun- jukkan arah putaran momen dan rotasi. ‘Surbu tok Batang) tergantang rentas elemant Bidong 4-2 * Gambar 2.19 Sistem Koordinat Persegi (Cartesian) dalam SAP2000 SAP2000 sclalu menganggap sumbu Z terletak vertikal dengan sumbu +2Z ke atas. Sistem koordinat lokal dari nodal, element, atau akselerasi tanah dinyatakan terhadap sumbu vertikal tersebut, Berat sendiri struktur (sel/- weight loading) arahnya selalu ke bawah dalam arah sumbu -Z . Bidang X-Y adalah horizontal. Arah horizontal utama adalah +X, Suatu sudut pada bidang horizontal diukur dari sumbu positif X dengan sudut bernilai positif jika membentuk arah berlawanan dengan arah jarum jam (jika dilihat dari atas pada bidang X-Y). Sistem koordinat global disebut sebagai sistem koordinat tetap karena digunakan untuk menetapkan semua geometri model struktur keseluruhan. Nodal, element, atau constraint model struktur dapat mempunyai sistem koordinat tersendiri yang disebut sebagai sistem koordinat lokal yang diberi nama sumbu 1, 2, dan 3. Tetapan default, sistem koordinat sumbu lokal 1-2-3 dari suatu nodal adalah identik dengan sistem koordinat global X-Y-Z. Meskipun demikian, diperlukan sistem koordinat lokal yang berbeda pada beberapa nodal jika ditemui hal-hal berikut. 32 ‘Bab 2: Formulas! Element FRAME, © Skewed Restraints (tumpuan pada bidang miring). [ | © ~— Constraints akibat pengaruh simetri suatu rotasi. © Perpindahan nodal dan gaya ditentukan lain dari sistem koordinat global. Jika tidak, semua nodal mengacu koordinat global. 2.6.1 Orientasi Sumbu Lokal Element Untuk element Frame, Shell, dan Nilink, salah satu sumbu element akan ditentukan dari kedudukan geometri element tersebut terhadap sumbu global, dan selanjutnya kedua sumbu lain dapat ditetapkan tersendiri berdasarkan suatu vektor acuan atau nilai sudut rotasi tertentu. Adapun tetapan default untuk sistem koordinat lokal pada element Frame adalah sebagai berikut. Sumbu 1 - Longitudinal Sumbu loka! 1 selalu terletak pada sumbu longitudinal element batang yang arah positipnya adalah dari nodal I ke arah nodal J element batang (ditentukan pada saat membuat geometri struktur). Orientasi Default Orientasi default sumbu 2 dan sumbu 3 ditentukan dari hubungan antara sumbu | dan sumbu Z global, sebagai berikut: © Bidang 1-2 terletak vertikal, sejajar dengan sumbu Z. * — Sumbu 2 lokal pada arah vertikal ke atas (+Z) kecuali element yang berorientasi vertikal (kolom) di mana sumbu 2 lokal terletak pada bidang horizontal searah dengan sumbu +X. * Sumbu 3 lokal terletak pada bidang horizontal (bidang X-Y). Orientasi suatu element dianggap vertikal jika sinus sudut sumbu lokal 1 dan sumbu global Z kurang dari 0.001. ‘Aplicas| Rekayasa Konstruksi dengan SAP2000 33 PERHATIAN: Pelajari dengan baik perbedaan orientasi sumbu lokal antara clement vertikal (kolom) dan element bukan vertikal (balok). Hanya dengan menggeser sedikit saja salah satu ujung kolom schingga nilai sinus sudut sumbu 1 > 0.001 maka yang tadinya disebut kolom berubah menjadi balok schingga mengikuti perjanjian tanda sebagai balok. Gambar 2.20 Orientasi Default Batang Terhadap Sumbu Global Mengubah Orientasi Element ON ang=90° Gambar 2.21 Mengubah Orientasi Sumbu 2 dan 3 34 Bab 2: Formulasi Element FRAME Orientasi default sangat cocok untuk pemodelan portal bidang karena bidang default di layar adalah bidang XZ, sedangkan arah kuat kolom terletak pada bidang tersebut (sumbu 3 adalah sumbu kuat kolom, terletak tegak lurus bidang XZ, lihat Gambar 2.21). Pada keadaan tersebut nilai ang = 0. Selanjutnya untuk pemodelan portal ruang perlu mengetahui bagaimana mengubah orientasi clement. Untuk mengubah orientasi sumbu lokal 2 dan lokal 3 dilakukan dengan mengubah sudut koordinat element, ang. Jika nilai ang # 0: maka sudut sumbu lokal 2 dan 3 akan berputar terhadap sumbu lokal 1 positif, sedangkan sumbu lokal 1 positip selalu dari nodal i ke nodal j. 2.6.2 Orientasi Sumbu Lokal Nodal Orientasi sistem koordinat lokal dari suatu titik nodal adalah sama dengan orientasi sistem koordinat global (default). Apabila diperlukan, selanjutnya dapat diubah berdasarkan parameter sudut a, 6, dan c yang diberikan melalui perintah Assign — Joint - Local Axis, yang mengacu pada perputaran sumbu dengan urutan-urutan langkah sebagai berikut. Gambar 2.22 Langkah 1: Pemutaran Nodal 1. Pertama kali, sistem sumbu lokal sebelum diputar mempunyai orientasi sama dengan sumbu global, yaitu Sumbu +3 = Sumbu +Z. Selanjutnya orientasi nodal diubah dengan memutar terhadap sumbu +3 sebesar sudut a, Oleh karena dilakukan pemutaran pada sumbu Z atau 3, maka vektor arah sumbu Z atau sumbu 3 tidak mengalami perubahan, Sedangkan vektor arah sumbu X atau 1, dan sumbu Y atau 2 berputar, Arah positif jika berlawanan dengan arah jarum jam, dan sebaliknya. Ingat kaidah tangan kanan (lihat Gambar 2.19). ‘Aplicasi Rekayasa Konstruksi dengan SAP2000 35 Gambar 2.23 Langkah 2: Pemutaran Nodai 2. Selanjutnya sumbu lokal diputar lagi terhadap sumbu +2 (yang telah berubah kedudukannya) sebesar sudut b. 3. Yang terakhir, sumbu lokal diputar terhadap sumbu +1 sebesar sudut c. Gambar 2.24 Langkah Terakhir Pemutaran Nodal Tentu saja untuk melakukan tindakan di atas, jangan lupa memilih (Select) terlebih dahulu nodal-nodal yang akan diputar sumbu lokalnya, 36 Bab 2: Formulasi Elernent FRAME Untuk mengetahui informasi suatu titik nodal termasuk orientasi sumbu lokalnya, gunakan mouse untuk memilih nodal dan klik tombol mouse kanan sehingga akan ditampilkan Joint Information sebagai berikut. Gambar 2.25 Informasi Mengenai Suatu Nodal yang Dipilih 2.6.3 Sistem Koordinat Silinder dan Spherikal Posisi nodal dan arah selain menggunakan sistem koordinat Cartesian juga dapat menggunakan sistem koordinat silinder atau spherikal. Hanya sistem koordinat silinder yang dapat didefinisikan melalui menu grafis SAP2000. Gambar 2.26 Sistem Koordinat Silinder Untuk pemodelan permukaan (element Shell), sistem koordinat Spherikal sangat membantu, tetapi menu grafis tidak tersedia dan harus diakses dengan memasukkan data menggunakan file. ‘Aplikasi Rekayasa Konstrukei dengan SAP2000 37 Gambar 2.27 Sistem Koordinat Spherikal Catatan: koordinat nodal non-kartesian akan dikonversi ke sistem koordinat kartesian sumbu global ketika dicetak ke file output *.EKO. 2.7 Pemodelan dengan Beban Bergerak 2.7.1 Pemodelan Jembatan Karakteristik analisa struktur jembatan berbeda karena bebannya bergerak, juga adanya jalur jalan yang berbeda arah menyebabkan bebannya tidak sama sehingga timbul cksentrisitas, khususnya geometri jembatan yang kompleks seperti interchange. SAP2000 menyediakan opsi khusus menyelesaikannya. Opsi khusus digunakan menentukan perilaku struktur jembatan akibat beban hidup bergerak, mencari endutan atau gaya-gaya maksimum dan minimum dari beban yang ditempatkan pada jalur jalan majemuk (multiple lane) dari jembatan yang kompleks. Efeknya kemudian dapat dikombinasikan dengan beban statik dan dinamik, serta nilai envelopes-nya dapat dihitung. Untuk analisa struktur jembatan dipakai element Frame untuk memodelkan superstructure dan substructure. Lendutan, gaya reaksi dan gaya internal pada clement Frame akibat beban bergerak dapat dihitung. Jenis element yang lain (Shell, Plane, Asolid, Solid) hanya menyumbang kekakuan struktur dan tidak dapat digunakan menganalisa efek beban bergerak (vehicles). Lanes atau jalur jalan didefinisikan pada superstructure untuk mewakili jalur tempat beban bergerak berada, bentuknya tidak perlu harus sejajar atau sama panjang schingga pola lalu lintas yang kompleks dapat dibuat. Selanjutnya dihitung garis pengaruh (inflence lines) dari semua pembebanan pada Lane. 38 Bab 2: Formulasi Element FRAME Beban hidup bergerak dapat dipilih dari pustaka program (Standard Vehicles) atau didefinisikan sendiri (General Vehicle), dan akan bergerak bolak-balik di setiap Lane secara otomatis mencari kondisi maksimum dan minimum. Beban hidup dapat ditentukan beraksi pada setiap Lane yang ada atau terbatas pada Lane tertentu saja. Adapun tahapan analisis dengan SAP2000 adalah: 1. Pemodelan struktur jembatan dengan element Frame. 2. Menetapkan Lanes/jalur tempat beban hidup bergerak (vehicle) berada. 3. Menetapkan vehicle yang digunakan dalam perencanaan jembatan. 4. Menetapkan Vehicle Classes (grup) yang berisi satu atau lebih vehicles yang akan beraksi bergantian pada model struktur jembatan. 5. Menetapkan Moving Load Cases yang menandai Vehicle Classes yang akan bekerja pada jalur jalan atau Lanes dalam berbagai kombinasi. 6. Menetapkan nodal dan clement Frame yang perlu dievaluasi terhadap Moving Load yang diberikan. Kondisi ekstrim (nilai maksimum/minimum) respons struktur akan dihitung pada untuk setiap kasus Moving Load yang didefinisikan. Pemodelan jembatan 3D seperti di bawah ini hanya perlu jika strukturnya kontinyu, tetapi mungkin berlebihan jika jembatannya hanya simpel-beam. dalam satu “Roadways" Terdapat sats “Lane” atau lebih a), Tampak Atas Element FRAME Beban bergerak ("Vehicle") _, sebagai Rosdways™ b). Tampak Samping Gambar 2.28 Pemadelan Sistem Jembatan dengan Element FRAME ‘Aplikasi Rekayasa Konstruksi dengan SAPZ000 39 Pada sistem jembatan yang kontinyu, properti penampang harus dipilih agar mewakili sepenuhnya properti kekakuan efektif dari element superstructure dan substructure. Penampang harus ditempatkan pada sumbu netral element. 2.7.2 Roadways atau Lanes Beban hidup bergerak bekerja pada jalur Lanes yang jumlah dan spasinya sesuai peraturan jalan yang berlaku, di sepanjang lintasan roadway di atas deck jembatan yang dimodelkan sebagai clement satu dimensi dengan element Frame. Untuk jembatan sederhana lintasan tunggal, Lanes umumnya paralel dan mempunyai spasi tertentu yang sama sepanjang lintasan, Untuk jembatan yang kompleks seperti interchanges, lintasan majemuk dapat digunakan. Lintasan-lintasan tersebut dapat digabung atau dipisah sehingga Lanes tidak harus parale! atau mempunyai panjang yang sama. Jumlah Lanes pada lintasan dapat bervariasi sepanjang lintasan untuk menyesuaikan atau transisi jika ada penggabungan jalur. Lanes adalah lintasan beban hidup bergerak, panjangnya sesuai readway dan posisinya ditetapkan pada eksentrisitas relatif dari roachvay tersebut. Setiap Lane pada tiap lintasan umumnya mengacu pada roadway sama, meskipun eksentrisitasnya berbeda dan bervariasi dalam arah memanjang. Lane dibuat dengan mendaftarkan secara berurutan nomor-nomor element model struktur, ditempatkan sesuai urutan, dan tak tergantung arah elevasi lalu-lintas. Eksentrisitas positip jika dari samping jembatan, Lane-nya dari kiri-kanan. Lanes yang berada di belakang lintasan mempunyai eksentrisitas positif, Alternatif, pengemudi pemakai Lanes dari kiri-kanan, maka Lane di kiri lintasan cksentrisitasnya positif (ingat, mengemudi mobil di US di jalur sebelah kanan). Eksentrisitas sangat penting untuk menentukan momen torsi struktur jembatan atau momen lentur pada struktur bawah; efek sekunder dapat terjadi pada struktur kompleks. Pemodelan dengan eksentrisitas memakan waktu lebih lama dan perlu sumber daya komputer yang lebih banyak. Jadi, sebaiknya cksentrisitas = 0 untuk semua Lanes. yang ada. 2.7.3 Contoh Pemodelan Jembatan Jembatan Sederhana Suatu jembatan sederhana lebar 24 ft memikul dua jalur lalu lintas (Lane) dengan lebar masing-masing 12 ft. Jalan raya dan juga setiap jalur jalan (Lane) dimodelkan dengan empat element Frame bernomor 1, 2, 3, 4 yang ditempatkan pada garis tengah jembatan dari timur-barat. Eksentrisitas konstan pada +6 ft untuk Lane 1, dan -6 ft untuk Lane 2. 40 ‘Bab 2: Formulasi Element FRAME