Anda di halaman 1dari 35

M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 33

BAB III

TEGANGAN LENTUR, NORMAL,


KOMBINASI DAN TEGANGAN
GESER
M. SHOFIUL AMIN, ST.,MT
M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 34

III. TEGANGAN LENTUR, NORMAL, KOMBINASI DAN


TEGANGAN GESER

TUJUAN : Mahasiswa dapat mengerti terjadinya tegangan lentur, normal,


kombinasi dan tegangan geser serta dapat menghitung besaran
tegangan yang dimaksud.

Gaya-gaya dalam pada suatu balok yang berupa momen, gaya lintang dan gaya
normal akan menimbulkan tegangan pada masing-masing balok tersebut sesuai
dengan bahan yang dipikulnya.

Tegangan-tegangan tersebut dapat bekerja sendiri, juga bersamaan sekaligus bila


balok tersebut menerima beban luar yang mengakibatkan terjadinya momen, gaya
lintang dan gaya normal.

Tegangan lentur terjadi bila balok memikul beban dan terjadi lenturan pada balok
dimaksud. Tegangan lenutr dengan notasi L ini dipengaruhi oleh besarnya gaya
dalam momen yang terjadi.

Tegangan normal terjadi bila balok menerima beban sejajar sumbu bahan.
Tegangan normal dengan notasi N dapat berupa tegangan normal tekan bila gaya
yang bekerja adalah gaya tekan, tegangan normal tarik bila gaya tarik bekerja
pada balok tersebut.

Tegangan kombinasi bila pada balok terjadi tegangan lentur (L) secara
bersamaan. Tegangan kombinasi ini adalah penjumlahan antara tegangan lentur
dan tegangan normal.

Tegangan geser terjadi bila pada balok bekerja gaya dalamgeser atau lintang.
Tegangan geser ini diberi notasi .

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 35

Walaupun pada balok bekerja gaya dalam geser, momen dan normal secara
bersamaan, tegangan geser ini tidak dapat dijumlahkan. Sehingga tegangan geser
yang timbul bersama-sama dengan tegangan lentur maupun normal tidak dapat
dikatakan tegangan kombinasi.

Tegangan normal adalah gaya yang bekerja searah/sejajar sumbu bahan.

Pada tegangan lentur dipengaruhi dengan besaran momen yang bekerja pada
balok yang ditinjau, besarnya momen inersia balok tersebut serta serat yang
ditinjau. Demikian juga dengan tegangan geser, selain dipengaruhi besarnya, gaya
lintang dari bagian balok yang ditinjau juga dipengaruhi besarnya, gaya lintang
dari bagian balok yang ditinjau juga dipengaruhi oleh lebar balok, momen inersia
balok serta statis momen dan serat yang ditinjau garis netralnya atau terhadap titik
berat penampang.

III.1 Tegangan Lentur


Balok seperti tergambar menerima beban yang mengakibatkan balok tersebut
melentur. Dengan demikian balok tersebut akan menerima gaya dalam momen
(M).

A B

RAV RBV

Gambar III.1 Balok yang Mengalami Lentur

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 36

Tegangan lentur berbanding lurus dengan perkalian momen dan jarak serat yang
ditinjau terhadap garis netral atau titik beratnya dan berbanding terbalik dengan
momen inersia balok tersebut.

M.y
L = dimana : L = tegangan lentur
Ix

y = jarak serat ke garis netral


Ix = momen inersia terhadap sumbu x
y
serat atas
serat 1
1/2.h
y1
serat 2 garis
h netral x
titik berat
penampang
1/2.h

serat bawah
b

Gambar III.2 Penampang balok segi empat dengan dimensi b x h

Bila tegangan lentur pada serat atas maka y = h, karena garis netral adalah sama
dengan sumbu x. demikian juga tinjauan tegangan lentur untuk serat bawah, besar
y = h. sedangkan jarak y pada serat 1 adalah y1. Pada serat 2, jarak serat yang
ditinjau ke garis netral adalah nol, karena serat 2 berimpit dengan garis netral.

Momen inersia dipakai, bila penampang balok adalah segi empat maka
Ix = 1/12. b.h3. tetapi bila penampang balok adalah rangkaian dari 2 (dua) atau
lebih segi empat dimaksud maka momen inersia yang dipakai adalah Ix dimana
Ix = Ix + c2.A. dalam hal ini Ix adalah momen inersia masing-masing penampang
segi empat, A adalah luas masing-masing penampang sedangkan c adalah jarak
titik berat masing-masing segi empat ke titik berat penampang dalah arah y atau
ke sumbu x.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 37

Tanda tegangan lentur sesuai dengan sifat serat. Bila serat tertarik maka tegangan
lentur bernotasi positif (+), sebaliknya bila serat tertekan, tegangan lentur
bernotasi negatif (-).

III.2 Contoh Soal Tegangan Lentur


1. Suatu balok AB dengan perletakan rol dan sendi serta panjang, beban dan
penampang balok seperti tergambar. Hitung dan gambar tegangan lentur yang
terjadi pada balok di titik C sepanjang 1 m dari titik A ?

P=2 t
I
A B 15.0
C D
I
1.0
10.0
2.0 1.0

Penyelesaian :
a. Mencari reaksi perletakan
MB =0
-RAV.3 + P.1 = 0
-RAV.3 + 2.1 = 0
RAV = 2/3 ton ( )

MA =0
RBV.3 - P.2 = 0
RBV.3 - 2.2 = 0
RBV = 4/3 ton ( )

Kontrol : RV = P
RAV + RBV = P
2/3 + 4/3 = 2 ton (OK!)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 38

b. Mencari momen pada titik yang dicari


Mc = RAV.1 = 2/3.1 = 2/3 ton.m

c. Mencari titik berat penampang

garis netral x
15.0
titik berat
penampang
10.0
Titik berat untuk penampang persegi panjang yang tunggal dapat dicari dengan
menarik garis diagonalnya dimana perpotongan diagonalnya adalah titik berat
penampangnya.

Atau y = .h ; x = .b

Dengan demikian di dapat sumbu x dan y penampang yaitu garis yang saling
tegak lurus dan melewati titik beratnya.

Titik berat (x,y) = (5; 7,5)

Note : apabila penampangnya adalah gabungan dari beberapa segi


empat, maka titik berat dicari dengan metode STATIS MOMEN.
d. Mencari momen inersia sumbu x (Ix)
Untuk penampang empat persegi tunggal, maka:
Ix = 1/12.b.h3
Ix = 1/12.10.153
Ix = 2812,5 cm4

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 39

Note : apabila penampangnya adalah gabungan dari beberapa segi


empat, maka Ix dicari dengan menghitung Ix yaitu dihitung
momen inersia terhadap titik berat penampang atau terhadap
sumbu baru yaitu x.

Ix = (Ix + c2.A)

e. Menghitung tegangan lentur


Berdasarkan titik berat penampang, bisa diketahui garis netralnya, sehingga
tegangan lentur bagian atas dan bawah bisa digambar.
`
s LA
La

(-)
1/2.h

garis netral
15.0

x
titik berat
1/2.h

(+)
penampang
s Lb
LB

1/2.b 1/2.b

10.0

LA = LB jarak serat atas dan serat bawah ke garis netral adalah sama yaitu
.h (y = .h)
M.y
L = dimana : L = tegangan lentur
Ix

y = jarak serat ke garis netral


Ix = momen inersia terhadap sumbu x
Momen (M) yang dipakai adalah momen dititik C (MC) karena yang ditinjau
adalah momen di titik C (pada potongan I-I).
M.y
L =
Ix
MC = 2/3 ton.m = 2/3.1000.100 = 66666,667 kg.cm
y = .h = .15 = 7,5 cm

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 40

Ix = 2812,5 cm4

66666,667.7,5
LA= LB = = , kg/cm2
,

Note :
L-0 = tegangan lentur di titik 0, dimana titik 0 melewati garis netral
sehingga seratnya berimpit dengan garis netral dimana y = 0 L-0 = 0
kg/cm2.

L-3 = tegangan lentur di titik 3 cm dari garis netral, y = 3 cm


66666,667.3
LA-3= LB-3 = = , kg/cm2
,

Atau dengan perbandingan segitiga


3 3
LA-3= LB-3 = . LA = . , = , kg/cm2
, ,

Perhitungan dapat digunakan untuk serat-serat lain asal diketahui


jaraknya terhadap garis netralnya.

Karena momen pada titik C positif berarti terjadi momen seperti + ;


yang menandakan serat atas tertekan, tegangannya negatif dan serat
bawah tertarik berarti tegangannya positif (+).

f. Gambar tegangan lentur berdasarkan analisis di atas


y
La = 177,778 kg/cm2
(-)
1/2.h

garis netral
15.0

x
titik berat
1/2.h

(+)
penampang
Lb = 177,778 kg/cm2
diagram tegangan
1/2.b 1/2.b
lentur
10.0

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 41

III.3 Tegangan Normal


Tegangan normal terjadi bila balok menerima gaya dalam normal.

Tegangan normal adalah gaya normal per-satuan luas penampang.

gaya normal
N =
luas penampang
N kg
N = ( )
A cm2

Bila suatu balok mengalami gaya tekan, maka balok akan terjadi tegangan normal
tekan (negatif) dan bila suatu balok mengalami gaya tarik maka balok akan
mengalami tegangan normal tarik (positif).

A B
RAH C
=0

RAV=1/2.P RBV=1/2.P

1/2.L 1/2.L
L

BIDANG NORMAL (N)


Tidak mengalami gaya dalam normal
karena RAH = 0
A B
C

1/2.L 1/2.L
L

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 42

P.sin a
P

A B
RAH =
P.cos a
P.cos a

RAV=1/2.P RBV=1/2.P

1/2.L 1/2.L
L

BIDANG NORMAL (N)


Gaya dalam normal karena RAH = P.cos a

P.cos a (+) P.cos a


A B

1/2.L 1/2.L
L

Gambar III.3 Gaya Normal Balok

Perletakan sendi mengalami gaya horisontal dan vertikal. Sedangkan rol tidak
mengalami gaya horisontal, hanya mengalami gaya vertikal saja.

Persamaan yang dipakai adalah menggunakan metode kesetimbangan yaitu


H = 0 RH = PH atau RH = P.cos

Jadi :
.
= ( )

III.4 Contoh Soal Tegangan Normal


1. Suatu balok AB dengan perletakan rol dan sendi serta panjang, beban dan
penampang balok seperti tergambar. Hitung dan gambar tegangan normal yang
terjadi pada balok di titik C sepanjang 1 m dari titik A ?

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 43

P=2 t
I
45
A B 15.0
C D
I
1.0
10.0
2.0 1.0

Penyelesaian :
a. Mencari reaksi perletakan
Menguraikan beban diagonal menjadi beban vertikal dan beban horisontal.

PV=2.sin 45 = 1,414 ton


P=2 t

45
PV=2.cos 45 = 1,414 ton

MB =0
RAV.3 - PV.1 = 0
RAV.3 - 1,414.1 = 0
RAV = 0,471 ton ( )

MA =0
-RBV.3 + PV.2 = 0
-RBV.3 + 1,414.2 = 0
RBV = 0,943 ton ( )

Kontrol : RV = P
RAV + RBV = PV
0,471 + 0,943 = 1,414 ton (OK!)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 44

H =0
RAH P.sin = 0
RAH 2.sin 45 = 0
RAH = 1,414 ton ( )

b. Mencari gaya normal pada titik yang dicari


Nc = RAH = -1,414 ton (gaya normal tekan)

C
A B
D
(-)
1,414 ton 1,414 ton

1.0

2.0 1.0

c. Menghitung tegangan normal


NC kg
NC = ( 2)
A cm
1,414.1000 kg
NC = = 9,427 ( 2 )
10.15 cm

d. Gambar tegangan normal

y
Na = 9,427 kg/cm2
1/2.h

(-)
garis netral
15.0

x
titik berat
1/2.h

penampang
Nb = 9,427 kg/cm2
1/2.b 1/2.b
diagram
10.0 tegangan normal

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 45

III.5 Tegangan Kombinasi


Tegangan kombinasi bila pada balok tersebut bekerja gaya dalam momen dan
gaya dalam normal.

Kombinasi yang ada adalah


La = Lb = N

La N A = 0

(-)
(+)
garis netral + =

(+) (+)
(+)
Lb B = Lb + N

Kombinasi-kombinasi tegangan dapat terjadi dengan memperhatikan Tegangan


Normal (N) yang terjadi apakah positif atau negatif. Dan bisa pula
memperhatikan pada tegangan lentur serat tertekan (-) atau tertarik (+).

Perjanjian tanda:
a. Momen positif serat atas tertekan mengalami tegangan lentur negatif
(La = negatif)
b. Momen positif serat bawah tertarik mengalami tegangan lentur postif
(Lb = positif)
c. Momen negatif serat atas tertarik mengalami tegangan lentur postif
(La = positif)
d. Momen negatif serat bawah tertekan mengalami tegangan lentur negatif
(Lb = negatif)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 46

La
+ +++ + + (+)
+ ++ + +
(-) + +
- - - - - - - -
M M - - -
(-)
Lb
La
M M - - - (-)
- - - - - - - -
(+) + +
++ +
+ + +++ + ++
(+)
Lb
Na

N N
(-)

Nb
Na

N N
(+)

Nb

Langkah-langkah menganalisa Tegangan Kombinasi adalah


a. Mencari reaksi perletakkan
b. Mencari momen pada titik yang dicari
c. Mencari gaya normal pada titik yang dicari
d. Mencari titik berat penampang
e. Mencari momen inersia arah x (Ix) penampang
M.y
f. Mencari tegangan lentur pada titik yang dicari L =
Ix
N
g. Mencari tegangan normal pada titik yang dicari N=
A

h. Mencari tegangan kombinasi dari penjumlahan tegangan lentur dan tegangan


normal pada titik yang dicari.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 47

III.6 Contoh Soal Tegangan Kombinasi


1. Suatu balok AB dengan perletakan rol dan sendi serta panjang, beban terpusat
dan beban merata serta penampang balok seperti tergambar. Beban terpusat
mengalami sudut 45. Hitung dan gambar tegangan kombinasi yang terjadi
pada balok di titik D sepanjang 2 m dari titik A ?

P=2 t

q=2 t/m' 50
I
A B
C D 10 25
I
2.0 10 30 10 (cm)
penampang
1.5 2.5 batang

Penyelesaian :
PH = 2.cos 45 = 1,414 ton
2.sin 45

2 ton PV = 2.sin 45 = 1,414 ton


45
2.cos 45

a. Mencari reaksi perletakan


MB =0
RAV.4 PV.2,5 q.4.(1/2.4) = 0
RAV.4 1,414.2,5 2.4.(1/2.4) = 0
RAV = 4,884 ton ( )

MA =0
-RBV.4 + PV.1,5 + q.4.(1/2.4) = 0
-RBV.4 + 1,414.1,5 + 2.4.(1/2.4) = 0
RBV = 4,530 ton ( )

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 48

Kontrol : RV = P + q.L
RAV + RBV = PV + q.L
4,884 + 4,530 = 1,414 + 2.4
9,414 ton = 9,414 ton (OK!)

H =0
RAH PH = 0
RAH = PH
RAH = 1,414 ton ( )
(gaya normal tekan (-) karena gaya P menuju batang)

b. Mencari momen pada titik yang dicari (potongan I-I)


MD = RAV.2 q.2.(1/2.2) PV.0,5
= 4,884.2 2.2.(1/2.2) 1,414.0,5
= 5,061 ton.m

c. Mencari gaya normal pada titik yang dicari (potongan I-I)


ND = 0 ton

d. Mencari titik berat penampang

a
50.0
10.0 30.0 10.0

10.0 2
B
A C
15.0
1 3
b

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 49

Terhadap garis a
S1 + S2 + S3 = SL
(10.25.5) + (30.10.25) + (10.25.45) = {(10.25)+ (30.10)+ (10.25)}.x
20000 = 800.x
x = 25 cm (dari garis a)

Terhadap garis b
S1 + S2 + S3 = SL
(10.25.12,5) + (30.10.20) + (10.25.12,5) =
{(10.25)+ (30.10)+ (10.25)}.y
12250 = 800.y
y = 15,313 cm (dari garis b)

Titik berat (x; y) = (25; 15,313) cm


y'

50.0
10.0 30.0 10.0

10.0 2
B garis netral x'
A (25; 15,313) C
15.0
1 3

e. Mencari momen inersia penampang


Penampang 1
Ix1 = 1/12.b1.h13 = 1/12.10.253 = 13020,833 cm4

Penampang 2
Ix2 = 1/12.b2.h23 = 1/12.30.103 = 2500,0 cm4

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 50

Penampang 3
Ix3 = 1/12.b3.h33 = 1/12.10.253 = 13020,833 cm4

Momen Inersia Penampang


Ix = Ix1 + A1.2,8132 + Ix2 + A2.4,6872 + Ix1 + A3.2,8132
= 13020,833 + 10.25.2,8132 + 2500,0 + 30.10.4,6872 + 13020,833
+ 10.25.2,8132
= 39088,541 cm4

f. Mencari tegangan lentur


M.y
L =
Ix
(5,061.1000.100).9,687
LA = = 125,423 kgcm2
39088,541
(5,061.1000.100).15,313
LB = = 198,266 kgcm2
39088,541

g. Gambar tegangan lentur


y'

50.0
10.0 30.0 10.0 LA = 125,423 kgcm2
(-)
10.0 2
B garis netral x'
A (25; 15,313) C
15.0
(+)
1 3
LB = 198,266 kgcm2

h. Mencari tegangan normal


ND
N =
Atotal
0
NA = NB = = 0 kgcm2
800

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 51

i. Gambar tegangan normal


y'

50.0
10.0 30.0 10.0 LA = 0 kgcm2

10.0 2
B garis netral x'
A (25; 15,313) C
15.0
1 3
LB = 0 kgcm2

j. Mencari tegangan kombinasi


y'

50.0
10.0 30.0 10.0 LA = 125,423 kgcm2 NA = 0 kgcm2
(-)
10.0 2 9.7
B garis netral x'
A (25; 15,313) C
15.0 15.3
(+)
+
1 3

LB = 198,266 kgcm2 NB = 0 kgcm2

Serat atas :
a = La + Na = -125,423 0 = -125,423 kg/cm2
b = Lb + Nb = 198,266 0 = 198,266 kg/cm2

k. Gambar tegangan
y' kombinasi
50.0 Na = 0 kgcm2
10.0 30.0 10.0 La = 125,423 kgcm2 a = 125,423 kgcm2
(-) (-)
10.0 2 9.7
B garis netral x'
A (25; 15,313) C
15.0 15.3
(+)
+ =
1 3 (+)

= 0; Lb = 198,266 kgcm2 Nb = 0 kgcm2 b = 198,266 kgcm2

berada di garis netral, karena tegangan kombinasi sama dengan tegangan


lentur. Tegangan normal = 0 kg/cm2.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 52

2. Suatu balok AB dengan perletakan rol dan sendi serta panjang, beban terpusat
dan beban merata serta penampang balok seperti tergambar. Beban terpusat
mengalami sudut 45. Hitung dan gambar tegangan kombinasi yang terjadi
pada balok di titik D sepanjang 2 m dari titik A ?

P=2 t

I q=2 t/m' 50
A B
C D 10 25
I
2.0 10 30 10 (cm)
penampang
1.5 2.5 batang

Penyelesaian :
PH = 2.cos 45 = 1,414 ton
2.sin 45

2 ton PV = 2.sin 45 = 1,414 ton


45
2.cos 45

a. Mencari reaksi perletakan


MB =0
RAV.4 PV.2,0 q.4.(1/2.4) = 0
RAV.4 1,414.2,0 2.4.(1/2.4) = 0
RAV = 4,707 ton ( )

MA =0
-RBV.4 + PV.2,0 + q.4.(1/2.4) = 0
-RBV.4 + 1,414.2,0 + 2.4.(1/2.4) = 0
RBV = 4,707 ton ( )
Kontrol : RV = P + q.L
RAV + RBV = PV + q.L

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 53

4,707 + 4,707 = 1,414 + 2.4


9,414 ton = 9,414 ton (OK!)
H =0
RAH PH = 0
RAH = PH
RAH = 1,414 ton ( )
(gaya normal tekan (-) karena gaya P menuju batang)

b. Mencari momen pada titik yang dicari (potongan I-I)


MD = RAV.2 q.2.(1/2.2) PV.0
= 4,707.2 2.2.(1/2.2) 1,414.0
= 5,414 ton.m

c. Mencari gaya normal pada titik yang dicari (potongan I-I)


ND = -1,414 ton

d. Mencari titik berat penampang

a
50.0
10.0 30.0 10.0

10.0 2
B
A C
15.0
1 3
b

Terhadap garis a
S1 + S2 + S3 = SL
(10.25.5) + (30.10.25) + (10.25.45) = {(10.25)+ (30.10)+ (10.25)}.x
20000 = 800.x

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 54

x = 25 cm (dari garis a)

Terhadap garis b
S1 + S2 + S3 = SL
(10.25.12,5) + (30.10.20) + (10.25.12,5) =
{(10.25)+ (30.10)+ (10.25)}.y
12250 = 800.y
y = 15,313 cm (dari garis b)

Titik berat (x; y) = (25; 15,313) cm

y'

50.0
10.0 30.0 10.0

10.0 2
B garis netral x'
A (25; 15,313) C
15.0
1 3

e. Mencari momen inersia penampang


Penampang 1
Ix1 = 1/12.b1.h13 = 1/12.10.253 = 13020,833 cm4

Penampang 2
Ix2 = 1/12.b2.h23 = 1/12.30.103 = 2500,0 cm4

Penampang 3
Ix3 = 1/12.b3.h33 = 1/12.10.253 = 13020,833 cm4

Momen Inersia Penampang

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 55

Ix = Ix1 + A1.2,8132 + Ix2 + A2.4,6872 + Ix1 + A3.2,8132


= 13020,833 + 10.25.2,8132 + 2500,0 + 30.10.4,6872 + 13020,833
+ 10.25.2,8132
= 39088,541 cm4

f. Mencari tegangan lentur


M.y
L =
Ix
(5,414.1000.100).9,687
LA = = 134,245 kgcm2
39088,541
(5,414.1000.100).15,313
LB = = 212,094 kgcm2
39088,541

g. Gambar tegangan lentur


y'

50.0
10.0 30.0 10.0 LA = 134,245 kgcm2
(-)
10.0 2
B garis netral x'
A (25; 15,313) C
15.0
(+)
1 3
LB = 212,094 kgcm2

h. Mencari tegangan normal


ND
N =
Atotal
-1,414.1000
NA = NB = = 1,768 kgcm2
800

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 56

i. Gambar tegangan normal


y'

50.0
10.0 30.0 10.0 LA = 1,768 kgcm2

10.0 2 (-)
B garis netral x'
j. Mencari tegangan
A kombinasi
(25; 15,313) C
15.0 y' (-)
1 3

50.0 LB = 1,768 kgcm2


10.0 30.0 10.0 LA = 134,245 kgcm2 NA = 1,768 kgcm2
(-) (-)
10.0 2 9.7
B garis netral x'
A (25; 15,313) C
15.0 15.3
(+)
+ (-)
1 3

LB = 212,094 kgcm2 NB = 1,768 kgcm2

Serat atas :
a = La + Na = -134,245 1,768 = -136,013 kg/cm2
b = Lb + Nb = 212,094 1,768 = 210,326 kg/cm2

k. Gambar tegangan
y' kombinasi

50.0
Na = 1,768 kgcm2
10.0 30.0 10.0 La = 134,245 kgcm2 a = 136,013 kgcm2
(-) (-) (-)
10.0 2 9.7
B garis netral x'
A (25; 15,313) C tegangan =
15.0 15.3
(+)
+ (-)
= 0 berada di
bawah garis
1 3 (+) netral

Lb = 212,094 kgcm2 Nb = 1,768 kgcm2 b = 210,326 kgcm2

= 0; berada di bawah garis netral. Turunnya = 0 dapat dihitung dengan


perbandingan segitiga.

y a
=
h y b
y 136,013
=
25 y 210,326
210,326.y = 136,013.(25 y)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 57

210,326.y = 3400,325 136,013.y


346,339.y = 3400,325
y = 9,818 cm (dari serat atas)

Jadi tegangan kombinasi = 0 y = 9,818 cm dari serat atas atau


y = 9,818 9,687 = 0,131 cm di bawah
garis netral.

III.7 Tegangan Geser


Tegangan geser terjadi jika suatu konstruksi mengalami gaya lintang atau gaya
geser.

Tegangan geser adalah tegangan yang berbanding dengan gaya lintang yang
ditinjau dikalikan dengan statis momen yang ditinjau dan berbanding terbalik
dengan lebar serat penampang yang ditinjau dengan momen inersia sumbu x
penampang yang ditinjau.

D. S
=
b. Ix

Dimana : = tegangan geser (kg/cm2)


D = gaya lintang yang ditinjau (kg)
S = statis momen bidang yang ditinjau yaitu bidang atas atau bawah
dari serat yang dimaksud (cm3)
b = lebar serat yang ditinjau (cm)
Ix = momen inersia penampang arah x (cm4)

Perjanjian tanda :
Jika gaya lintang berupa :

a. (+) tegangan geser postif (+)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 58

b. (-) tegangan geser negatif (-)

Langkah-langkah menganalisa Tegangan geser adalah


a. Mencari reaksi perletakkan.
b. Mencari gaya lintang pada potongan yang dicari.
c. Mencari titik berat penampang.
d. Mencari momen inersia arah x (Ix) penampang.
e. Menentukan lebar serat yang ditinjau.
f. Mencari statis momen bidang atas atau bawah dari serat yang ditinjau
terhadap garis netral.
Pemilihan statis momen bidang atas atau bawah dari serat yang ditinjau
dipilih bentuk sederhana yaitu bentuk segi empat.
D.S
g. Mencari tegangan geser pada potongan yang dicari =
b.Ix

h. Dari tegangan geser pada point (g), diagram tegangan geser digambar.

III.8 Contoh Soal Tegangan Geser


1. Suatu balok AB dengan perletakan rol dan sendi serta panjang, beban dan
penampang balok seperti tergambar. Hitung dan gambar tegangan geser yang
terjadi pada balok di titik C sepanjang 1 m dari titik A ?
P=2 t
I
A B 15.0
C D
I
1.0
10.0
2.0 1.0

Penyelesaian :
a. Mencari reaksi perletakan
MB =0

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 59

-RAV.3 + P.1 = 0
-RAV.3 + 2.1 = 0
RAV = 2/3 ton ( )

MA =0
RBV.3 - P.2 = 0
RBV.3 - 2.2 = 0
RBV = 4/3 ton ( )

Kontrol : RV = P
RAV + RBV = P
2/3 + 4/3 = 2 ton (OK!)

b. Mencari gaya lintang pada potongan yang dicari


Dc = RAV = 2/3 ton (gaya lintang positif)

c. Mencari titik berat penampang

garis netral x
15.0
titik berat
penampang
10.0

Titik berat penampang persegi y = .h ; x = .b


Titik berat (x,y) = (5; 7,5)
d. Mencari momen inersia sumbu x (Ix)
Untuk penampang empat persegi tunggal, maka:
Ix = 1/12.b.h3

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 60

Ix = 1/12.10.153
Ix = 2812,5 cm4

e. Menghitung tegangan geser


D.S
=
b.Ix
y
serat a

7.5
1/2.h

garis netral serat b


15.0

7.5
1/2.h

serat c

1/2.b 1/2.b

10.0
Note:
Serat adalah acuan dalam menganalisa tegangan geser.
Penampang yang ditinjau adalah di atas atau dibawah serat.
Untuk memudahkan analisa, dibagi atas serat-serat yaitu serat bagian
atas, berhimpit dengan garis netral dan serat bagian bawah.

Ditinjau pada serat a


Di atas serat a
Di atas serat a tidak ada penampang sehingga :
S (statis momen) = A.y = 0.0 = 0 cm3

Di bawah serat a
Di bawah serat a terdapat penampang uk. 10 x 15 cm dimana titik beratnya
berimpit dengan garis netral, sehingga :
S (statis momen) = 10 x 15 x 0 = 0 cm3
2
D.S ( .1000).0
3 kg
Jadi pada serat a = = =0 cm2 = 0
b.Ix 10.2812,5

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 61

Ditinjau pada serat c


Di bawah serat c
Di bawah serat c tidak ada penampang sehingga :
S (statis momen) = A.y = 0.0 = 0 cm3

Di atas serat c
Di atas serat c terdapat penampang uk. 10 x 15 cm dimana titik beratnya
berimpit dengan garis netral, sehingga :
S (statis momen) = 10 x 15 x 0 = 0 cm3

2
D.S ( .1000).0
3 kg
Jadi pada serat c = = =0 cm2
b.Ix 10.2812,5

Ditinjau pada serat b


Di atas serat b = di bawah serat b
Di atas serat b terdapat penampang uk. 10 x 7,5 cm dimana titik beratnya
adalah
x = .10 = 5 cm
y = .7,5 = 3,75 cm
Sehingga :
S (statis momen) = 10 x 7,5 x 3,75 = 281,25 cm3

2
D.S ( .1000).281,25
3 kg
Jadi pada serat b = = = 6,667 cm2
b.Ix 10.2812,5

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 62

f. Diagram tegangan geser

y
a = 0 kg/cm2 serat a

7.5
1/2.h

garis netral serat b


15.0

b = mak =6,667 kg/cm2

7.5
1/2.h

serat c
1/2.b 1/2.b c = 0 kg/cm 2

10.0

Kesimpulan :
Untuk mencari statis momen, bisa melihat penampang di atas serat maupun
dibawah serat yang ditinjau.
Secara analitis, pada penampang segiempat, tegangan geser () pada serat
ditengah-tengah penampang adalah
D. S
tengah =
b. Ix
D. b. 12.h. 12.12.h
tengah = 1
b. 12 . b. h3
D. 18. b. h3
tengah = 1
b. 12 . b. h3
.
=
. .
Tegangan geser () pada serat ditengah-tengah pada segiempat adalah
tegangan geser () maksimum.
.
= =
. .

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 63

2. Suatu balok AB dengan perletakan rol dan sendi serta panjang, beban terpusat
dan beban merata serta penampang balok seperti tergambar. Beban terpusat
mengalami sudut 45. Hitung dan gambar tegangan geser yang terjadi pada
balok di titik D sepanjang 2 m dari titik A ?

P=2 t

q=2 t/m' 50
I
A B
C D 10 25
I
2.0 10 30 10 (cm)
penampang
1.5 2.5 batang

Penyelesaian :
PH = 2.cos 45 = 1,414 ton
2.sin 45

2 ton
PV = 2.sin 45 = 1,414 ton
45
2.cos 45

a. Mencari reaksi perletakan


MB =0
RAV.4 PV.2,5 q.4.(1/2.4) = 0
RAV.4 1,414.2,5 2.4.(1/2.4) = 0
RAV = 4,884 ton ( )

MA =0
-RBV.4 + PV.1,5 + q.4.(1/2.4) = 0
-RBV.4 + 1,414.1,5 + 2.4.(1/2.4) = 0
RBV = 4,530 ton ( )

Kontrol : RV = P + q.L

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 64

RAV + RBV = PV + q.L


4,884 + 4,530 = 1,414 + 2.4
9,414 ton = 9,414 ton (OK!)

H =0
RAH PH = 0
RAH = PH
RAH = 1,414 ton ( )
(gaya normal tekan (-) karena gaya P menuju batang)

b. Mencari gaya lintang pada potongan yang dicari (potongan I-I)


DD = RAV q.LAC PV q.LCD
= 4,884 2.1,5 1,414 2.0,5
= -0,53 ton (gaya lintang negatif)
c. Mencari titik berat penampang
a
50.0
10.0 30.0 10.0

10.0 2
B
A C
15.0
1 3
b

Terhadap garis a
S1 + S2 + S3 = SL
(10.25.5) + (30.10.25) + (10.25.45) = {(10.25)+ (30.10)+ (10.25)}.x
20000 = 800.x
x = 25 cm (dari garis a)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 65

Terhadap garis b
S1 + S2 + S3 = SL
(10.25.12,5) + (30.10.20) + (10.25.12,5) =
{(10.25)+ (30.10)+ (10.25)}.y
12250 = 800.y
y = 15,313 cm (dari garis b)

y'
Titik berat (x; y) = (25; 15,313) cm

50.0
10.0 30.0 10.0

10.0 2
B garis netral x'
A (25; 15,313) C
15.0
1 3

d. Mencari momen inersia penampang


Penampang 1
Ix1 = 1/12.b1.h13 = 1/12.10.253 = 13020,833 cm4

Penampang 2
Ix2 = 1/12.b2.h23 = 1/12.30.103 = 2500,0 cm4

Penampang 3
Ix3 = 1/12.b3.h33 = 1/12.10.253 = 13020,833 cm4

Momen Inersia Penampang


Ix = Ix1 + A1.2,8132 + Ix2 + A2.4,6872 + Ix1 + A3.2,8132
= 13020,833 + 10.25.2,8132 + 2500,0 + 30.10.4,6872 + 13020,833
+ 10.25.2,8132
= 39088,541 cm4

e. Mencari tegangan geser

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 66

D.S
=
b. Ix
y'

50.0
10.0 30.0 10.0 serat a

10.0 2 9.7
B garis netral serat b x'
A (25; 15,313) C serat c

15.0 15.3
1 3 serat d

Serat a
Tinjauan di atas serat a
Sa = A.y = 0 . 0 . 0 = 0 cm3
(-0,53.1000).0
a = = 0 kgcm2
50.39088,541
Serat b pada garis netral
Tinjauan di atas serat b
Sb = A.y = 50.9,687.4,8435 = 2345,949 cm3
(-0,53.1000).2345,949
b = = 0,636 kgcm2
50.39088,541

Serat c
Karena di serat c terdapat peralihan penampang, maka terdapat dua
tegangan geser

Tinjauan di atas serat c


Sc-1 = A.y = 50.10.4,687 = 2343,5 cm3
(-0,53.1000).2342,5
c-1 = = 0,635 kgcm2
50.39088,541

Tinjauan di bawah serat c


Sc-2 = A.y = 10.15.7,813 = 1171,95 cm3

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III


M e c h a n i c s o f m a t e r i a l s | 67

(-0,53.1000).1171,95
c-1 = = 1,589 kgcm2
10.39088,541

Serat d
Tinjauan di bawah serat d
Sd = A.y = 0.0.0 = 0 cm3
(-0,53.1000).0
d = = 0 kgcm2
10.39088,541

f. Diagram tegangan geser

50.0
10.0 30.0 10.0 serat a a =0kg/cm2
2 9.7
B garis netral serat b b = -0,636kg/cm2
serat c
A (25; 15,313) C c-1 = - c-2 = -1,589kg/cm2
15.3
1 3 serat d
d =0kg/cm2

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL D-III

Anda mungkin juga menyukai