Anda di halaman 1dari 19

BAB II

DASAR TEORI
2.1 WCDMA (Wideband Code Division Multiple Access)
UMTS merupakan platform teknologi seluler yang dikembangkan oleh
3GPP (3rd Generation Partership Project) dan dikenal sebagai teknologi
generasi ketiga (3G). UMTS dikenal juga dengan nama WCDMA yang
berbasis pada teknologi Code Divison Multiple Access (CDMA) yang
menggunakan kode random untuk memisahkan tiap user dalam satu paket
data. Pada dasarnya, teknik CDMA sendiri hanya digunakan sebagai teknik
antarmuka udara (air interface) pada WCDMA,dan interface WCDMA tersebut
digunakan dalam standar 3G pada UMTS yang merupakan pengembangan dari
teknologi GSM[1]. Alokasi frekuensi untuk sistem 3G dibagi menjadi dua yaitu :
1. Sistem Time Division Duplex (TDD) : Range frekuensi adalah 1900
MHz 1920 MHz dan 2010 2025 yang digunakan kedua range
tersebut untuk transmisi uplink dan downlink secara bersamaan.
2. Sistem Frequency Division Dulplex (FDD) : Range frekuensi adalah
1920 1980 MHz untuk transmisi downlink dan 2110 2170 untuk
frekuensi uplink.
2.1.1 Konsep Dasar Sistem WCDMA/UMTS
WCDMA adalah singkatan dari Wideband Code Devison Multiple
Access yang diperkenalkan secara umum pada tahun 2001-2002 di Jepang dan
selanjutnya memasuki daratan Eropa. Di Amerika Serikat beberapa alternatif
sistem jaringan komunikasi 3G dapat diperoleh operator GSM dan TDMA yang
berkembang ke arah EDGE dengan WCDMA.Sistem standard 3G yang dipakai
di Indonesia menggunakan teknologi WCDMA dimana dengan teknologi ini
memungkinkan kecepatan data mencapai 384 Kbps. Teknologi WCDMA adalah
teknologi radio yang digunakan pada sistem 3G/UMTS.
Teknologi WCDMA sangat berbeda dengan teknologi jaringan GSM.
Pada jaringan 3G dibutuhkan kualiatas suara yang lebih baik, data rate yang
yang semakin tinggi (mencapai 2Mbps dengan menggunakan release 99, dan
mencapai 10 Mbps dengan menggunakan HSDPA) oleh sebab itu bandwidth
sebesar 5 MHz dibutuhkan pada sistem WCDMA. Posibilitas setiap user untuk
mendapatkan bandwidth yang bervariasi sesuai permintaan layanan user adalah
salah satu fitur keunggulan jaringan UMTS. Teknik diversitas digunakan untuk
meningkatkan kapasitas user downlink dan karena hanya satu frekuensi yang
digunakan, aktifitas frekuensi planning yang rumit pada jaringan GSM tidak
perlu dilakukan. Packet data cheduling tergantung pada kapasitas jaringan
sehingga lebih efisien dibandingkan jaringan GSM yang bergantung pada
kapasitas timeslot.
Wideband Code Division Multiple Access merupakan teknik multiple
access yang berdasarkan spektral tersebar, dimana sinyal informasi disebar pada
pita frekuensiyang lebih besar daripada lebar pita sinyal aslinya (informasi).
Sistem WCDMA hanyamemerlukan satu channel frekuensi radio untuk semua
pemakainya, masing-masingpemakai diberi kode yang membedakan antara
pengguna satu dengan yang lain.
Skema metode akses yang digunakan untuk penyebaran sinyal WCDMA
adalah direct sequence dimana code sequence digunakan secara langsung untuk
memodulasi sinyal radio yang dipancarkan dengan menggunakan sinyal penebar.
Sistem WCDMA dapat mereduksi fading karena sinyal WCDMA ditebar dalam
bandwidth yang lebar (5-15 MHz). Pada range frekuensi (1800 2000) MHz
akanmenghasilkan fluktuasi sinyal fading selebar 1 2 MHz.
Bandwidth fading ini disebut sebagai coherence bandwidth. Sehingga
dalam sistem CDMA harus ada cadangan fading yang harus dilebihi. Dalam
sinyal WCDMA ini terdapat sebagian sinyal yang terdegradasi akibat mutipath
fading sehingga diperlukan teknik pemrosesan sinyal untuk mengantisipasi
degradasi sinyal. Aplikasi dari komunikasi spread spectrum adalah pada
komunikasi seluler dimana teknik ini tahan terhadap jamming dan tipis
kemungkinan untuk dimasuki noise. Selain itu, teknologi WCDMA saat ini
sudah diaplikasikan secara komersial pada sistem tertentu karena kelebihannya
yang menahan frekuensi dari sistem lain dan dapat mereduksi interferensi dari
sistem lain yang menggunakan frekuensi yang sama.[1]
2.1.2 Arsitektur Jaringan UMTS
Teknologi telekomunikasi wireless generasi ketiga yaitu UMTS
(Universal Mobile Telecommunication System). Dimana, interface radionya
adalah WCDMA yang mampu melayani transmisi data dengan kecepatan yang
lebih tinggi, kecepatan data yang berbeda untuk aplikasi-aplikasi dengan QoS
yang berbeda.
UMTS merupakan suatu revolusi dari GSM yang mendukung
kemampuan generasi ketiga (3G). UMTS menggunakan teknologi akses
WCDMA dengan sistem DS-WCDMA (Direct Sequence Wideband CDMA).
Terdapat dua mode yang digunakan dalam WCDMA dimana yang pertama
menggunakan FDD (Frequency Division Duplex) dan kedua dengan
menggunakan TDD (Time Division Duplex). FDD dikembangkan di Eropa dan
Amerika sedangkan TDD dikembangkan di Asia. Pada WCDMA FDD,
digunakan sepasang frekuensi pembawa 5 MHz pada uplink dan downlink
dengan alokasi frekuensi untuk uplink yaitu 1945 MHz 1950 MHz dan untuk
downlink yaitu 2135 MHz 2140 MHz.[2]

Gambar 2.1 Jaringan Arsitektur UMTS[3]


Dari gambar 2.3 terlihat bahwa arsitektur jaringan UMTS terdiri dari perangkat-
perangkat yang saling mendukung.
1. UE (User Equipment)[4]
User Equipment merupakan perangkat yang digunakan oleh pelanggan
untuk dapat memperoleh layanan komunikasi bergerak yang harus digunakan
bersama dengan kartu SIM (Subscriber Identity Module) yang berisi nomor
identitas pelanggan dengan kode khusus mengenai informasi pelanggan yang
disebut IMSI (International Mobile Subscriber Identity) dan juga algoritma
security untuk keamanan seperti authentication algorithm dan algoritma
enkripsi.
2. UTRAN (UMTS Terresterial Radio Access Network)[3]
Akses radio UMTS dikenal dengan nama Universal Terrestrial Radio
Access (UTRA), berbasis WCDMA, yang mencakup baik dengan teknik
FDD maupun TDD. Jaringannya disebut UTRAN, huruf N terakhir
merupakan singkatan dari Network. Untuk air interface nya, WCDMA
memiliki lebar pita nominal 5 MHz. Jarak spasi sinyal pembawanya 5 MHz,
namun dimungkinkan juga dengan spasi sinyal pembawa mulai dari 4.4 MHz
merentang sampai 5 MHz, dengan jarak variasi potongan yang tetap sebesar
200 KHz. Variasi ini diperlukan untuk mencegah terjadinya interferensi,
terutama pada blok 5 MHz berikutnya jika dialokasikan untuk sinyal
pembawa lainnya. Dengan pilihan pada teknologi WCDMA/FDD, dimana
disediakan frekuensi downlink 2110 MHz 2170 MHz dan frekuensi uplink
1920 MHz 1980 MHz. Pemisahan diantara keduanya sebesar 190 MHz.
UTRAN terdiri dari beberapa Radio Network Subsystem (RNS), yang
merupakan kumpulan dari Radio Network Controller (RNC) dan beberapa
buah Node B yang ditanganinya. RNS adalah bagian atau subsystem dari
UTRAN yang bertugas menangani manajemen radio resource untuk
membangun hubungan antara UE dan UTRAN.

Gambar 2.2 Jaringan Arsitektur UTRAN[4]


Ada empat interface yang digunakan dalam UMTS yaitu:
1) Uu Interface
Uu merupakan Interface untuk menghubugkan UE dengan Node B
2) Iub Interface
Iub merupakan Interface untuk menghubugkan Node B ke RNC
3) Iur Interface
Iur merupakan Interface untuk kontrol dan manajemen data exchange antar RNC
4) Iu Interface
Iur merupakan Interface untuk menghubungkan RNC ke GSM phasa 2+ (MSC,
VLR,SGSN)
a. RNC (Radio Network Controller)
Fungsinya mirip seperti BSC pada GSM. RNC berhubungan satu sama
lainnya dengan interface Iur, sedangkan RNC dengan node B berhubungan
dengan interface Iub. Tugas RNC adalah mengontrol beberapa node B,
bertanggung jawab pada load dan congestioncontrol, dan hampir semua
proses RRM terjadi di sini (layer 3: RRC), handover, outer loop power
control dan merupakan tempat berakhirnya protokol RRC (Radio Resource
Control) yang mendefinisikan pesan dan prosedur antara mobile user dengan
UTRAN.
b. Node B
Node B sama dengan Base Station di dalam jaringan GSM. Node B
merupakan perangkat pemancar dan penerima yang memberikan pelayanan
radio kepada UE. Fungsi utama node B adalah melakukan proses pada layer
antara lain : channel coding, interleaving, spreading, de-spreading,
modulasi, demodulasi dan lain-lain. Node B juga melakukan beberapa
operasi RRM (Radio Resouce Management), seperti handover dan power
control.
3. CN (Core Network)
Core Network berfungsi sebagai switching pada jaringan UMTS,
memanajeman jaringan serta sebagai interface antara jaringan UMTS dengan
jaringan yang lainnya. Komponen Core Network UMTS terdiri dari:
Gambar 2.3 Arsitektur dari Core Network
a. MSC (Mobile Switching Center)
MSC didesain sebagai switching untuk layanan berbasis circuit
switchseperti video, video call.
b. VLR (Visitor Location Register)
VLR merupakan database yang berisi informasi sementara
mengenaipelanggan terutama mengenai lokasi dari pelanggan pada
cakupan area jaringan.
c. HLR (Home Location Register)
HLR merupakan database yang berisi data-data pelanggan yang
tetap.Data-data tersebut antara lain berisi layanan pelanggan, service
tambahan sertainformasi mengenai lokasi pelanggan yang paling akhir
(Update Location)
d. SGSN ( Serving GPRS Support Node)
SGSN merupakan gerbang penghubung jaringan BSS/BTS ke
jaringanGPRS. Fungsi SGSN adalah sebagai berikut:
1. Mengantarkan packet data ke MS
2. Update pelanggan ke HLR
3. Registrasi pelanggan baru
e. GGSN ( Gateway GPRS Support Node )
GGSN berfungsi sebagai gerbang penghubung dari jaringan GPRS
kejaringan paket data standard (PDN). GGSN berfungsi dalam
menyediakan fasilitasinternetworking dengan eksternal packet-switch
network dan dihubungkan denganSGSN via Internet Protokol (IP).
GGSN akan berperan antarmuka logik bagiPDN, dimana GGSN akan
memancarkan dan menerima paket data dari SGSNatau PDN.[4]
2.1.3 Metode Akses UMTS
Dalam sistem telekomunikasi WCDMA, teknik multiple access yang
digunakan adalah Code Divison Multiple Access. Pada teknik multiple access
ini, setiap user menggunakan resource frekuensi dan waktu yang sama namun
dibedakan oleh kode masing masing yang unik. Hal ini lah yang
memungkinkan WCDMA memiliki kecepatan transmisi data yang jauh
lebih tinggi dari pada GSM.
Di samping itu, kelebihan dari WCDMA adalah kapasitas pengguna
yang dapat dilayani pada suatu cell sifatnya lebih fleksible dan dapat diatur.
Hal ini dapat dilakukan juga karena sistem multiple access CDMA. Antara
pengguna satu dengan pengguna lain akan berperan sebagai noise bagi
sesamanya. Kapasitas dapat diatur berdasarkan level kualitas yang
dimungkinkan atau yang dikehendaki dalam suatu cell. Semakin tinggi kualitas
layanan yang ditetapkan pada suatu cell maka kapasitas pengguna pun
berkurang, begitu juga sebaliknya jika kualitas layanan dikurangi, maka
kapasitas pengguna pada suatu cell akan meningkat
2.1.4 Alokasi Frekuensi UMTS
Rekomendasi untuk me-reserve frekuensi WCDMA/3G dimulai oleh
ITU-R pada konferensi Administrasi Radio Dunia pada February 1992 (WARC-
92). Frekuensi 3G dipakai di atas frekuensi DCS1800. Frekuensi 3G dipatenkan
berada di 1885 2025 MHz dan 2110 2200 MHz.
Pada frekuensi 2100 MHz digunakan untuk layanan UMTS dan terdapat
5 operator yang menggunakan frekuensi ini dengan masing-masing memiliki
lebar pita 10 MHz atau 2 blok alokasi frekuensi. Total lebar pita frekuensi ini
adalah 60 MHz. Pita frekuensi ini memiliki 12 blok frekuensi dengan masing-
masing lebar pita 5 MHz. Dari 12 blok frekuensi ini masih terdapat 2 blok
frekuensi yang masih kosong. HCPT (3), NTS (Axis), XL, Indosat dan
Telkomsel masing-masing memiliki 2 blok frekuensi sebesar 2 x 5 MHz. Lokasi
frekuensi ini berdasarkan pemetaan hasil lelang tahun 2006-2008. Pemberian
blok frekuensi kedua telah dilakukan pada tahun 2009 kepada Telkomsel dan
Indosat dan pada tahun 2010 untuk XL. Pada bulan Desember 2011 lalu
pemerintah memberikan blok frekuensi kedua untuk HCPT (3) dan Axis.
Adanya pengalokasian gabungan antara PCS-1900 (Smart Telcom) yang
beroperasi sejak tahun 2007 dan UMTS ini akan berpotensi terjadi interference.

Gambar 2.4 Alokasi frekuensi 2100[5]


2.2 Antena Sektoral
Antena Sektoral adalah yang memiliki gain sinyal yang tinggi di
bandingkan dengan antenna lainnya. Antenna sektoral memiliki gain sekitar 10-
19 dBi. Biasanya antenna ini di gunakan untuk perangkat telekomunikasi,
khususnya untuk komunikasi di sistem tower BTS, untuk memancarkan sinyal
yang dapat di terima oleh pengguna layanan telekomunikasi. Antenna ini bisa
memancarkan sinyal sejauh 6-8 km sesuai dengan pengaturan kebutuhannya.
Antena ini hanya memancarkan sinyal dari sudut depannya, sedangkan bagian
belakang antena tidak bisa memancarkan sinyal, jadi antenna ini mengarah ke 1
sudut lurus yang luas dan menyebar.

Gambar 2.5 antena sektoral


Antena sektoral seperti halnya Antena Omnidirectional mempunyai
polarisasi vertikal & dirancang untuk digunakan pada base stasion (BTS).
Berbeda dengan antena omnidirectional yang dapat memberikan service dalam
jangkauan 360 derajat. Antena sektoral hanya memberikan service pada wilayah
atau sektor yang terbatas. Biasanya 45-180 derajat saja. Pengaturan pancaran
antena BTS menjadi sektoral dilakukan dengan beberapa alasan teknis.
Diantaranya adalah meningkatkan kapasitas jaringan. Sudut sektor yang umum
biasanya di operasionalkan biasanya 120 derajat, sementara sudut sektor 90
derajat juga di terapkan di beberapa BTS. Keuntungan yang diperoleh dengan
membatasi wilayah service tersebut, antena sektoral mempunyai gain yang lebih
besar.[6]
2.2.1 Tilting Antena Sektoral
Salah satu teknik optimasi untuk mengatasi permasalahan yang
diakibatkan cakupan sel yang pendek atau overshoot dan mengurangi adanya
interferensi maka banyak para engineer menggunakan metode atau teknik
tilting antena. Teknik tilting antena akan berpengaruh pada beamwidth. Ilustrasi
sinyal beamwidth ditunjukan pada gambar berikut.

Gambar 2.6 Ilustrasi Tilting


Untuk metode tilting antena menggunakan rumus berikut :

= arctan( ) (2.1)

3
= + (2.2)
2

Keterangan :
= Factor geometrical
= Tinggi antena BTS
= Tinggi antena MS
d = jarak antena ke MS
3 = Vertical Beamwidth antena
= Downtilt Geometrical
2.2.2 Antena Downtilt
Standar vertikal beamwidth adalah pointing ke arah horizon.
Mengaplikasikan downtilt pada antkena dapat memberikan beberapa keuntungan
antara lain power yang diradiasikan akan lebih terfokus ke objective coverage
area pada setiap sektor, dengan mengurangi power pada arah horizon maka
problem interferensi juga dapat dikurangi. Kasus overshoot coverage dimana
coverage sebuah site melebihi area objective coverage-nya dan menyebabkan
meningkatnya interferensi pada jaringan juga dapat diminimalisir dengan
melakukan downtilt.
Tapi disisi lain downtilt juga dapat mengurangi besarnya coverage. Oleh
sebab itu setiap aktivitas downtilt atau uptilt perlu terlebih dahulu disimulasikan
dengan software planning dan diverifikasi hasilnya dengan drivetest. Proses
optimasi dengan melakukan physical tunning adalah hal wajar yang dilakukan
untuk meningkatkan performance.
a. Mechanical Tilting
Mechanical tilting yaitu perubahan antena dengan mengubah tilt
angel yang terletak pada antena sectoral. Mechanical tilting
mengakibatkan perubahan bentuk pada horizontal pattern. Semakin
besar derajat mechanical tilt maka coverage pada main lobe berkurang
sedangkan pada sisi side lobe akan melebar. Berikut ini gambaran
mechanical tilting.

Gambar 2.7 Mechanical Tilting


b. Electrical Tilting
Electrical Tilting adalah mengubah coverage antenna dengan
cara mengubah fasa antena, sehingga terjadi perubahan pada beamwidth
antena. Mengubah fasa antena dapat dilakukan dengan cara mengubah
konfigurasi electrical tilt pada bagian bawah antenna dimana skala
maksimum derajat kemiringan 0-14o (dalam kondisi normal 0-8o) baik
dilakukan secara manual maupun di control oleh remote.

Gambar 2.8 electrical tilting


2.2.3 Azimuth Antenna
Azimuth antena pada antena sektoral adalah suatu pengaturan sudut
antenna secara Horizontal atau mendatar yang fungsinya untuk mengatur
sudut pancar antena untuk menetapkan area yang akan menerima cakupan
sinyal secara horizontal.[7]

Gambar 2.9 Azimuth Antena[7]


(1+2)
cos
AZ = 1 2
(2.3)

Keterangan :
AZ = azimuth antena
B = selisih koordinat garis bujur
U1 = koordinat garis lintang 1
U2 = koordinat garis lintang 2
U = selisih koordinat lintang
2.3 Key Performance Indicator (KPI)
1. RSCP (Received Signal Code Power)
RSCP digunakan untuk mengukur kuat sinyal yang diterima oleh UE
(dalam satuan dBm). Skala nilai RSCP ialah -47 dBm s.d. -112 dBm (-47
sampai -98 dBm baik dan -98 sampai 112 dBm kurang baik)
2. EC/NO
EC/NO menunjukkan kualitas sinyal yang diterima oleh UE. EC/NO
adalah perbandingan antara energi setiap chip sinyal informasi terhadap
sinyalinterferensi atau sinyal derau (noise) yang menyertainya skala nilai
yang digunakan EC/NO ialah 0 s.d. -16 ( 0 sampai -11 dBm baik, -11 s.d. -
16 dBm buruk ).[8]
2.4 Coverage planning
Perencanaan jaringan secara umum bertujuan untuk membangun jaringan
se-efektif dan se-efisien mungkin. Hasil akhir dari perencanaan tersebut adalah
jumlah site yang diperlukan di suatu area belum termasuk planning detail berapa
azimuth antena yang digunakan.
Sedangkan untuk perhitungan perencanaan secara coverage pertama-
tama menghitung MAPL (Maximum Allowable Path Loss) untuk uplink dan
downlink . Membandingkan antara MAPL uplink dan MAPL downlink ,
kemudian memilih MAPL yang paling kecil diantara keduanya karena link
budget antara downlink dan uplink harus balance. Yang sering terjadi di
lapangan adalah secara downlink power radiasi dari antena bisa sampai ke sisi
UE tetapi dari sisi uplink power yang dipancarkan dari UE tidak bisa sampai ke
NodeB karena disebabkan power UE yang lemah. Dengan mengetahui nilai
MAPL maka dapat mengetahui berapa jarak maksimum antara NodeB dengan
sebuah UE.
Coverage planning merupakan langkah perencanaan jaringan dari
spesifikasi alat dan parameter input jaringan secara teknik, diantaranya dengan
mempertimbangkan daya pancar, daya terima, pathloss, sensitivitas alat dan lain-
lain. Parameter yang dipergunakan dalam perencanaan coverage area terdiri dari
beberapa parameter tertentu yaitu daya pancar, daya terima, pathloss,
sensitivitas perangkat, perhitungan radius sel dan jumlah sel.[9]
2.3.1 Radio Link Budget
Perhitungan radio link budget perlu dilakukan pada saat proses
perencanaan, gunanya adalah untuk mengetahui pelemaahan sinyal maksimum
yang masih diperbolehkan antara antena eNodeB dengan antena UE atau yang
biasa disebut dengan Maximum Allowable Path Loss (MAPL).
Table 2.3 Uplink dari Link Budget

Table 2.4 Downlink dari Link Budget[10]


A. Perhitungan MAPL
Terdapat dua arah MAP L yaitu MAP L arah downlink dan MAP L
arah uplink.
1 . MAPL arah downlink
MAPL arah downlink adal ah daya pelemahan sinyal dari antena
NodeB kearah UE.
MAPL = d - m + n - o - p - q - r + s (2.4)
d = equivalent isotropic tadiated power (EIRP) (dBm)
m = efektifitas sensitivitas penerima (dBm)
n = gain antena BS (dBi)
o = rugi -rugi feeder dan konektor BS (dB)
p = fast fading margin (dB)
q = log normal fading margin (dB)
r = rugi rugi gedung (dB)
s = gain soft handoff (dB)
2. MAPL arah uplink
MAPL arah uplink adalah daya pelemahan sinyal dari antena UE
kearah NodeB.
MAPL = d - m + n - o - p - q - r + s (2.5)
d = equivalent isotropic tadiated power (EIRP) (dBm)
m = efektifitas sensitivitas penerima (dBm)
n = gain antena BS (dBi)
o = rugi -rugi feeder dan konektor BS (dB)
p = fast fading margin (dB)
q = log normal fading margin (dB)
r = rugi rugi gedung (dB)
s = gain soft handoff (dB)
2.3.2 Model Propagasi[11]
Untuk mendapatkan konfigurasi planning berdasarkan coverage
diperlukan pemodelan kanal propagasi. Untuk frekuensi 2100 MHz
menggunakan cost walfisch ikegami model atau yang disingkat menjadi cost 231
dengan rentang frekuensi 800 MHz dan 2200 MHz.
Adapun parameter untuk model ini adalah sebagai berikut :
Frekuensi carrier (fc) : 800 2200 MHz
Tinggi Antena (hb) : 4 50 m
Tinggi MS (hm) :13m
Jarak (d) : 20 m 5 km
Adapun persamaan dari model Cost 231 adalah sebagai berikut[1] :
Lurban = 46,3 + 33,9log(fc) 13,82 log(hb) a(hm) + (44,9 6,55 log(hb))log10 d + CM
(2.6)
Adapun faktor koreksi untuk daerah perkotaan dengan luas daerah kecil
dan menengah menggunakan persamaan 2.2 berikut ini[1] :
a(hm) = (1.1 log(fc) 0.7) hm (1.56 log(fc) 0.8)
(2.7)
Sedangkan untuk daerah perkotaan yang memiliki luas daerah yang luas
menggunakan persamaan 2.3 dan 2.4 berikut ini[1] :
a (hm) = 8,29 (log (1,54 hm))2 1,1 untuk f 300 MHz (2.8)
a (hm) = 3,2 (log (11,75 hm))2 4,97 untuk f 300 MHz (2.9)
Keterangan :
CM = 0 dB untuk ukuran medium kota dan daerah suburban.
CM = 3 dB untuk daerah pusat kota (metropolitan).
a. Luas Sel
Setelah memperoleh radius sel maka akan diperoleh NodeB coverage
area atau luas sel. Luas sel diperoleh dari persamaan 2.7 [6]
Luas Sel = 2,6 x d2 (2.10)
Dimana :
L = luas sel
D = radius sel
b. Jumlah NodeB
Setelah memperoleh nilai luas sel, maka akan diperoleh jumlah NodeB
yang terdapat pada suatu cluster atau pada suatu site dengan persamaan sebagai
berikut[6] :
Luas area
Jumlah = (sel) (2.11)
Luas hexagonal

2.5 Atoll[12]
Atoll merupakan sebuah software radio planning yang
menyediakan satu set alat dan fitur yang komperhensif dan terpau yang
memungkinkan user untuk membuat suatu proyek perencanaan microwave
ataupun perencanaan radio dalam satu aplikasi.

Gambar 2.10 Tampilan software Atoll


2.6 Gnet Tilt
Gnet tilt merupakan tool 3D antenna untuk mengatur tilting dan azimuth pada
antena. Tampilan darignet tilt ditampilkan dalam bentuk 3D menggunakan
google earth.

Gambar 2.11 Tampilan Gnet Tilt


2.7 Google earth
Google earth merupakan perangkat lunak yang memiliki kemampuan untuk
memperlihatkan gambar dan kondisi geografis permukaan bumi. Google earth
menampilkan gambar kondisi permukaan geografis bumi berdasarkan hasil
gambar dari satelit . Pada Proyek Akhir ini Google earth digunakan untuk
melihat profil ketinggian dan kelandaian suatu daerah.

Gambar 2.12 Tampilan Google earth