Anda di halaman 1dari 25

Tugas Food Dietery Culinary (FDC)

CONTOH KASUS PENDERITA AUTIS

OLEH :

SARI WAHYUNI

P00313014018

TINGKAT III

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KENDARI

JURUSAN GIZI PRODI D-IV

2017
Kasus 1 :

Seorang anak laki-laki umur 6 tahun, BB 20, TB 110 cm, memiliki


kelainan yaitu : tidak bisa menguasai atau sangat lamban dalam penguasaan
bahasa sehari-hari hanya bisa mengulang-ulang beberapa kata, mata yang tidak
jernih atau tidak bersinar dari segi perilaku tidak suka berbicara dengan orang lain
serasa dia punya dunianya sendiri. Dari hasil diagnosa dokter dan pemeriksaan
anak tersebut pengidap penyakit Autis, dengan diperkuat pemaparan dari Ibu anak
tersebut sejak bayi mengkonsumsi susu sapi dan sering mengkonsumsi makanan
olahan tepung-tepungan sejak umur 1 tahun. Saat ini dilakukan penanganan di
Rumah Sakit dengan pemberian Diet Bebas Gluten. Hitunglah Kebutuhan serta
Susunan menu DBG !!

Kasus 2 :

Seorang anak perempuan umur 12 tahun dengan ciri-ciri fisik seribu wajah
atau istilah lain mengidap sindrom down, sejak umur 8 tahun mengalami kelainan
penyakit autism diperkuat hasil pemeriksaan dan diagnosa dokter positif
mengalami penyakit autism. Menurut genetik, saudara kandung dari ayah anak
tersebut mengalami kelainan yang sama dengan anak tersebut. Hitunglah
Kebutuhan serta Susunan menu DBG !!
CONTOH KASUS : Anak Mengidap Autis

Nia (25) tak pernah menduga akan dikaruniai anak autis. Tapi apa daya, ia pun hanya
bisa pasrah kepada Tuhan. Hanya usaha yang bisa ia lakukan agar kelak putranya itu
bisa hidup layaknya anak normal.

Kevin adalah adalah anak pertama pernikahan Nia dengan Anton Simbolon. Kini
usianya beranjak 5 tahun. Kelainan pada bocah lelaki kelahiran Medan, 1 Oktober
2002 ini mulai nampak ketika ia berusia dua tahun. Di usia itu ia belum bisa bicara
dengan jelas.

Sebelumnya ia tampak normal. Responnya pun masih normal. Jika dipanggil


misalnya, ia akan menoleh dan melihat siapa yang memanggilnya itu, kenang Nia
perempuan berdarah Sunda itu.
Cara bicara Kevin yang lambat dan tidak jelas sebelumnya dianggap Nia dan
keluarga hanyalah masalah keterlambatan pertumbuhan saja. Dan mereka yakin,
Kevin pasti bisa berbicara layaknya anak normal seiring dengan pertumbuhan usianya
nanti. Dan Kevin pun sempat mengikuti sekolah playgroup dengan sesama anak
normal lainnya.

Namun hingga enam bulan kemudian, anggapan itu tenyata keliru. Kevin belum
menampakkan perubahan. Bahkan, perilaku Kevin tampak semakin tidak seperti
biasanya. Hal inilah yang akhirnya menyadarkan Nia bahwa ia perlu memeriksakan
apa sebenarnya yang terjadi pada anaknya itu.

Karena kurangnya informasi tentang kelainan Kevin, Nia kemudian membawa Kevin
ke Bandung. Dokter pertama yang ditemuinya adalah dr Dadang Sharief (spesialias
anak) yang mengatakan, Kevin mengalami masalah (gangguan) pada pencernaan.

Dugaan-dugaan diagnosa yang belum jelas tentang kelainan yang terjadi pada Kevin
sempat membuat Nia bingung. Hingga akhirnya atas rujukan dr Dadang Syarif
sendiri, Nia pun bertemu dengan dr Meli Budiman (Ketua Yayasan Autis Indonesia).

Kebetulan waktu itu dr Meli Budiman sedang berkunjung ke Bandung. Dan atas
diagnosa sang dokter, Kevin dijelasakan positif mengidap autis. Dokter langsung
tahu setelah memeriksa tingkah laku Kevin, jelas Nia. Dan menyarankan agar Kevin
menjalani terapi rutin.

Sayangnya, Kevin hanya bisa menjalani terapi selama enam bulan karena terkendala
masalah biaya. Terus terang saya akui, sebagai orang tua yang masih muda, waktu
itu kami masih belum mapan secara finansial dan pengalaman, kata Nia.

Maka dengan terpaksa Nia pun kembali ke Medan dengan harapan mendapat
dukungan dari orangtua dan keluarga. Namun kenyataan yang terjadi justru
sebaliknya. Nia tidak mendapat respon dan dukungan dari mereka, yang bahkan tidak
menerima kenyataan yang menimpa Kevin.
Meski demikian, Nia dan suami tidak menyerah. Saya dan ayah Kevin berusaha
berjuang sendiri tanpa ada dukungan dari pihak keluarga dengan usia yang masih
muda, dengan keadaan yang belum mapan, kata Nia.

Dengan keterbatasan itu, Nia pun merawat Kevin sendirian. Selama satu tahun
Kevin kami rawat di rumah, tanpa bimbingan medis, katanya. Ibu muda ini hanya
merawat anaknya dengan mengandalkan buku-buku dan video.

Hingga pada tahun berikutnya, Nia dan suami yang bekerja sebagai pegawai swasta,
memutuskan agar Kevin kembali mengikuti terapi dan pendidikan di Yayasan
YAKARI, yayasan khusus untuk penanganan bagi anak penderita autis di Kota
Medan.

Meski demikian, tak banyak harapan Nia pada Kevin. Harapan yang hampir sama
bagi ibu yang juga memiliki anak penderita autis, yang juga terjadi bagi Mama Yudha
misalnya; juga orang tua lain yang menghadapi kondisi yang sama.

Harapan yang sangat sederhana sebenarnya. Bisa mandiri saja sudah cukup, pinta
Nia. Kenyataanya, hingga kini Kevin masih kesulitan untuk makan sendiri, buang air
kecil (besar) sendiri. Yang jelas, semuanya masih mengharapkan uluran tangan orang
lain, meskipun untuk melakukan hal semudah apapun.

Semakin Sayang Karena Autis

Bagi Nia, menerima kenyataan memiliki anak menderita autis awalnya sangatlah
tidak mudah. Apalagi Kevin adalah putra pertamanya dari perkawinan mudanya.

Rasa minder pun sering dialaminya. Tapi perasaan itu justru menyadarkannya bahwa
ia harus menerima Kevin bagaimanapun ia adanya. Sikap menerima adalah kunci
ketabahan bagi setiap orangtua yang memiliki anak autis, jelas Nia. Sikap yang pada
awalnya sulit ia lakukan.
Kalau bukan orangtua yang berusaha mendekatkan diri, maka semakin sulit bagi
penderita autis untuk hidup berkembang seperti yang diharapkan, katanya.

Nia pun mengaku semakin sadar akan makna cinta sesungguhnya. Juga semakin
sadar bahwa anak adalah titipan Tuhan yang bagaimanapun ia adanya haruslah dijaga
dan dibesarkan dengan ikhlas. Bahkan dengan rasa syukur.

Jika Kevin tidak menderita autis, mungkin cinta saya tidak sebesar ini. Jika Kevin
tumbuh normal, mungkin saya tidak akan merasakan kebahagiaan yang pasti tidak
dirasakan orangtua lain, tambahnya.

Kebahagiaan orangtua yang memiliki anak autis seperti Nia memang berbeda dengan
kebahagiaan yang dirasakan oleh orangtua yang memiliki anak normal.

Nia mengaku akan bahagia jika misalanya, Kevin menunjukkan ekspresinya ketika
dipanggil oleh ibunya; jika ia berbicara dengan baik atau ketika anaknya itu mampu
melakukan hal lain yang bisa dilakukan anak normal, meski tak banyak.

Mungkin kedengaran biasa saja bagi orang lain. Tapi itulah kebagiaan saya sebagai
orang tua yang memiliki anak pengidap autis, katanya dengan raut wajah sedih.

Pengalaman itu sekaligus membuat ia semakin sayang kepada Kevin. Saya dan
suami akan merawatnya semampu kami. Apa pun akan kami lakukan demi Kevin.
Sebab inilah tanggungjawab kami sebagai orangtua. Tak terasa matanya tampak
basah memerah.

Orangtua, Terapis Autis Sesungguhnya

Apakah autis bisa disembuhkan? Semua orangtua seperti Nia pasti mengharapkan
jawaban yang sama, yaitu: ya. Ini pulalah yang menjadi dasar keyakinan mereka
sehingga berbagai upaya pun mereka tempuh.
Penanganan autis sejauh ini dilakukan dengan terapi, seperti terapi perilaku, wicara
dan sensori (okupasi). Upaya lain adalah mencari gangguan metabolisme yang
mungkin menjadi menjadi faktor pencetus gejala autis. Dilakukan melalui
serangkaian pemeriksaan darah, faecus, urine dan rambut (terapi biomedis).

Inilah upaya yang juga dilakukan YAKARI sejauh ini. Namun Arief Budi Santoso,
konsultan pendidikan di yayasan itu mengatakan, berhasil tidaknya upaya itu tak
lepas dari peran orangtua sendiri. Sebab orangtualah orang yang terdekat dengan
anaknya.

Arief menjelaskan contoh kasus yang pernah dialami Catherine Maurice, seorang ibu
yang memiliki tiga anak yang sama-sama mengidap autis. Seorang ibu yang terbilang
berhasil hingga bukunya (Let Me Hear Your Voice), banyak menjadi acuan terapi
bagi seluruh orangtua yang memiliki anak autis di seluruh dunia. Catherine telah
membuktikannya, jelas Arief.

Penyebab autis

Sejauh ini penyebab autis dipastikan terjadi karena faktor genetik. Namun meskipun
anak membawa predisposisi genetik, bila tidak ada faktor pencetus dari luar,
diperkirakan gejala autis tidak timbul.

Selain itu adalah faktor pencetus sebelum kelahiran, seperti keracunan logam berat,
terkena infeksi virus rubella, CMV, toxoplasma, jamur. Juga dikarenakan ibu
memakan obat-obatan keras terutama pada saat trimester pertama masa kehamilan.
Hal ini bisa mengganggu struktur susunan syaraf pusat janin sehingga anak akan
menunjukkan gejala autis sejak akhir.

Autis juga muncul akibat faktor pencetus setelah kelahiran. Hal ini bisa disebabkan
oleh terjadinya infeksi virus, jamur atau bakteri, terutama dalam usus. Adanya
gangguan pencernaan yang menyebabkan berbagai macam alergi makanan,
keracunan logam berat, seperti pB, Hg, As, dan Sb. Akibatnya, terjadi gangguan
kekebalan tubuh (imunodefisiensi) sehingga anak sering sakit.

Juga diakibatkan banyaknya exorphin (casomorphin dan gliadorphin) yaitu protein


yang berasal dari casein (susu sapi) dan gluten (tepung terigu) yang tidak dapat
dicerna anak. Sehingga memberikan efek seperti morphin. Untuk diketahui, fungsi
otak yang dipengaruhi morphin adalah bidang prilaku, perhatian, kecerdasan dan
emosi.

Bila hal ini terjadi, maka munculah apa yang disebut autis regresif. Gejalanya
bermacam-macam. Ketika anak sudah sempat berkembang normal, tapi kemudian
terjadi kemunduran pada umur 18-24 bulan. Bahkan, perkembangannya bisa terhenti.

Gejala lain adalah, apa yang telah dipelajari dan dikuasai si anak menghilang
perlahan-lahan. Misalnya, anak sudah mampu berbicara, tapi kemudian kemampuan
bicara itu hilang disertai dengan munculnya gejala-gejala autis. Gejala ini terlihat dari
prilakunya yang tidak normal.

Published in:

CONTOH KASUS : Anak Mengidap Autis

on Juni 4, 2010 at 2:46 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Tanda tanda Autisme

tidak bisa menguasai atau sangat lamban dalam penguasaan bahasa sehari-hari
hanya bisa mengulang-ulang beberapa kata
mata yang tidak jernih atau tidak bersinar
tidak suka atau tidak bisa atau atau tidak mau melihat mata orang lain
hanya suka akan mainannya sendiri (kebanyakan hanya satu mainan itu saja yang
dia mainkan)
serasa dia punya dunianya sendiri
tidak suka berbicara dengan orang lain
tidak suka atau tidak bisa menggoda orang lain
Penyebab Autisme Penyebab Autisme sampai sekarang belum dapat ditemukan
dengan pasti. Banyak sekali pendapat yang bertentangan antara ahli yang satu dengan
yang lainnya mengenai hal ini. Ada pendapat yang mengatakan bahwa terlalu banyak
vaksin Hepatitis B yang termasuk dalam MMR (Mumps, Measles dan Rubella )bisa
berakibat anak mengidap penyakit autisme. Hal ini dikarenakan vaksin ini
mengandung zat pengawet Thimerosal, yang terdiri dari Etilmerkuri yang menjadi
penyebab utama sindrom Autisme Spectrum Disorder. Tapi hal ini masih
diperdebatkan oleh para ahli. Hal ini berdebatkan karena tidak adanya bukti yang kuat
bahwa imunisasi ini penyebab dari autisme, tetapi imunisasi ini diperkirakan ada
hubungannya dengan Autisme.
Sering timbul kekuatiran jika anak kita terlambat bicara atau bertingkah laku tidak
lazim , apakah anak menderita autisme. Kata autisme saat ini sering kali
diperbincangkan , angka kejadian di seluruh dunia terus meningkat. Banyak
penyandang autisme terutama yang ringan masih tidak terdeteksi dan bahkan sering
mendapatkan diagnosa yang salah , atau bahkan terjadi overdiagnosis . hal tersebut
tentu saja sangat merugikan anak.

Published in:

CONTOH KASUS : Anak Mengidap Autis


TANDA - TANDA AUTISME

Dr Widodo Judarwanto pediatrcian

Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan
adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku,
komunikasi dan interaksi sosial.
Autis adalah penyakit yang dipengaruhi oleh multifaktorial. Mengingat
demikian banyak dan luas teori penyebab autis maka terapi yang bisa diberikan
sangat banyak dan bervariasi. Dalam penanganannya mutlak harus dilakukan
secara holistik atau menyeluruh dengan melibatkan berbagai terapi sesuai
kebutuhan penderita. Banyak peneliti melaporkan hasil penelitiannya dalam
terapi autis dengan cara yang berbeda tergantung berdasarkan berbagai teori
yang dianut atau pengalaman peneliti. Terapi yang ideal harus sesuai dengan
kondisi imunopatobiologis yang sering berbeda satu penderita autis dengan
penderita lainnya. Dengan mengidetifikasi penyebab atau penyakit lain yang
bisa mempengaruhi secara cermat, maka dapat ditentukan strategi penanganan
dan terapi untuk penderita.
Secara umum pendekatan terapi autis dikelompokkan berdasarkan kajian
ilmiah berbasis bukti, terapi medis murni kedokteran, gabungan terapi medis
kedokteran tradisional atau terapi tradisional lainnya. Pembagian tersebut
dapat dikelompokkan dalam 3 bagian diantaranya adalah : terapi konvensional,
terapi inovatif dan terapi alternatif.

Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan
adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku,
komunikasi dan interaksi sosial. Autis dapat terjadipada semua kelompok masyarakat
kaya miskin, di desa dikota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok
etnis dan budaya di dunia.

Jumlah anak yang terkena autis semakin meningkat pesat di berbagai belahan dunia.
Di Kanada dan Jepang pertambahan ini mencapai 40 persen sejak 1980. Di California
sendiri pada tahun 2002 di-simpulkan terdapat 9 kasus autis per-harinya. Di Amerika
Serikat disebutkan autis terjadi pada 60.000 15.000 anak dibawah 15 tahun.
Kepustakaan lain menyebutkan prevalens autis 10-20 kasus dalam 10.000 orang,
bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002
bahkan dilaporkan angka kejadian autis meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara
10 anak menderita autisma. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini
belunm diketahui berapa persisnya jumlah penderita namun diperkirakanjumlah anak
autis dapat mencapai 150 -200 ribu orang.Perbandingan antara laki dan perempuan
adalah 2,6 4 : 1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala
yang lebih berat.

PENYEBAB AUTIS

Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autis
disebabkan karena multifaktorial. Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat
gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh
gangguan psikiatri/jiwa. Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan
oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang
terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus
besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk
autis.
Beberapa teori yang didasari beberapa penelitian ilmiah telah dikemukakan
untuk mencari penyebab dan proses terjadinya autis. Beberapa teori penyebab
autis adalah : teori kelebihan Opioid, teori Gulten-Casein (celiac), Genetik
(heriditer), kolokistokinin, teori oksitosin Dan Vasopressin, teori metilation,
teori Imunitas, teori Autoimun dan Alergi makanan, teori Zat darah penyerang
kuman ke Myelin Protein Basis dasar, teori Infeksi karena virus Vaksinasi,
teori Sekretin, teori kelainan saluran cerna (Hipermeabilitas Intestinal/Leaky
Gut), teori paparan Aspartame, teori kekurangan Vitamin, mineral nutrisi
tertentu dan teori orphanin Protein: Orphanin.

MANIFESTASI KLINIS DAN DIAGNOSIS

Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai


dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang komunikasi,
gangguan dalam bermain, bahasa, perilaku, gangguan perasaan dan emosi,
interaksi sosial, perasaan sosial dan gangguan dalam perasaan sensoris.
Gangguan dalam komunikasi verbal maupun nonverbal meliputi kemampuan
berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara.
Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim
digunakan.Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya
dapat berkomunikasi dalam waktu singkat. Kata-kata yang tidak dapat
dimengerti orang lain (bahasa planet). Tidak mengerti atau tidak
menggunakan kata-kata dalam konteks yang sesuai. nEkolalia (meniru atau
membeo), menirukan kata, kalimat atau lagu tanpa tahu artinya. Bicaranya
monoton seperti robot. Bicara tidak digunakan untuk komunikasi dan imik
datar
Gangguan dalam bidang interaksi sosial meliputi gangguan menolak atau
menghindar untuk bertatap muka. Tidak menoleh bila dipanggil, sehingga
sering diduga tuli. Merasa tidak senang atau menolak dipeluk. Bila
menginginkan sesuatu, menarik tangan tangan orang yang terdekat dan
berharap orang tersebut melakukan sesuatu untuknya. Tidak berbagi
kesenangan dengan orang lain. Saat bermain bila didekati malah menjauh.
Bila menginginkan sesuatu ia menarik tangan orang lain dan mengharapkan
tangan tersebut melakukan sesuatu untuknya.
Gangguan dalam bermain diantaranya adalah bermain sangat monoton dan
aneh misalnya menderetkan sabun menjadi satu deretan yang panjang,
memutar bola pada mainan mobil dan mengamati dengan seksama dalam
jangka waktu lama. Ada kelekatan dengan benda tertentu seperti kertas,
gambar, kartu atau guling, terus dipegang dibawa kemana saja dia pergi. Bila
senang satu mainan tidak mau mainan lainnya. Tidak menyukai boneka, tetapi
lebih menyukai benda yang kurang menarik seperti botol, gelang karet, baterai
atau benda lainnya Tidak spontan / reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam
bermain. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai
permainan yang bersifat pura pura. Sering memperhatikan jari-jarinya sendiri,
kipas angin yang berputar atau angin yang bergerak. Perilaku yang ritualistik
sering terjadi sulit mengubah rutinitas sehari hari, misalnya bila bermain harus
melakukan urut-urutan tertentu, bila bepergian harus melalui rute yang sama.
Gangguan perilaku dilihat dari gejala sering dianggap sebagai anak yang
senang kerapian harus menempatkan barang tertentu pada tempatnya. Anak
dapat terlihat hiperaktif misalnya bila masuk dalam rumah yang baru pertama
kali ia datang, ia akan membuka semua pintu, berjalan kesana kemari, berlari-
lari tak tentu arah. Mengulang suatu gerakan tertentu (menggerakkan
tangannya seperti burung terbang). Ia juga sering menyakiti diri sendiri seperti
memukul kepala atau membenturkan kepala di dinding. Dapat menjadi sangat
hiperaktif atau sangat pasif (pendiam), duduk diam bengong dengan tatap
mata kosong. Marah tanpa alasan yang masuk akal. Amat sangat menaruh
perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun orang. Tidak dapat
menunjukkan akal sehatnya. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya
sendiri. Gangguan kognitif tidur, gangguan makan dan gangguan perilaku
lainnya.
Gangguan perasaan dan emosi dapat dilihat dari perilaku tertawa-tawa sendiri,
menangis atau marah tanpa sebab nyata. Sering mengamuk tak terkendali
(temper tantrum), terutama bila tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum)bila keinginannya tidak
didapatkannya, bahkan bisa menjadi agresif dan merusak.. Tidak dapat
berbagi perasaan (empati) dengan anak lain
Gangguan dalam persepsi sensoris meliputi perasaan sensitif terhadap cahaya,
pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai
berat. Menggigit, menjilat atau mencium mainan atau benda apa saja. Bila
mendengar suara keras, menutup telinga. Menangis setiap kali dicuci
rambutnya. Meraskan tidak nyaman bila diberi pakaian tertentu. Tidak
menyukai rabaan atau pelukan, Bila digendong sering merosot atau
melepaskan diri dari pelukan. Tidak menyukai rabaan atau pelukan, Bila
digendong sering merosot atau melepaskan diri dari pelukan.
Menegakkan diagnosis autis memang tidaklah mudah karena membutuhkan
kecermatan, pengalaman dan mungkin perlu waktu yang tidak sebentar untuk
pengamatan. Sejauh ini tidak ditemukan tes klinis yang dapat mendiagnosis
langsung autis. Diagnosis Autis hanyalah melalui diagnosis klinis bukan
dengan pemeriksaan laboratorium. Gangguan Autism didiagnosis berdasarkan
DSM-IV. Banyak tanda dan gejala perilaku seperti autis yang disebabkan oleh
adanya gangguan selain autis. Pemeriksaan klinis dan penunjang lainnya
mungkin diperlukan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab lain
tersebut.

PENANGANAN UMUM AUTISM

Mengingat demikian luas teori penyebab autis maka penanganan atau terapi
yang bisa diberikan sangat banyak dan bervariasi. Banyak peneliti melaporkan
hasil penelitiannya dalam terapi autis berbeda tergantung berdasarkan
berbagai teori yang dianut atau pengalaman peneliti. Pada umumnya mereka
melaporkan hasil yang baik, meskipun berbagai hasil penelitian tersebut perlu
dikaji lebih jauh secara ilmiah. Terapi yang ideal harus sesuai dengan kondisi
imunopatobiologis yang sering berbeda satu penderita autis dengan penderita
lainnya. Dengan mengidetifikasi penyebab atau penyakit lain yang bisa
mempengaruhi secara cermat, maka dapat ditentukan strategi penanganan dan
terapi untuk penderita.
Secara umum pendekatan terapi autis dikelompokkan berdasarkan kajian
ilmiah berbasis bukti, terapi medis murni kedokteran, gabungan terapi medis
kedokteran dan tradisional atau terapi tradisional lainnya. Pembagian tersebut
dapat dikelompokkan dalam 3 bagian diantaranya adalah : terapi
konvensional, terapi inovatif dan terapi alternatif.

TERAPI DIETETIK
Alergi Makanan Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak
yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang
kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Autism hingga
saat ini masih belum jelas penyebabnya. Dari berbagai penelitian klinis
hingga saat ini masih belum terungkap dengan pasti penyebab autisme. Secara
ilmiah telah dibuktikan bahwa Autisme adalah suatu penyakit yang
disebabkan oleh muktifaktorial dengan banyak ditemukan kelainan pada
tubuh penderita. Tetapi beberapa penelitian menunjukkan keluhan autism
dipengaruhi dan diperberat oleh banyak hal, salah satunya karena manifestasi
alergi. Renzoni A dkk tahun 1995 melaporkan autis berkaitan erat dengan
alergi. Menage P tahun 1992 mengemukakan bahwa didapatkan kaitan IgE
dengan penderita Autism. Obanion dkk, tahun 1987 melaporkan setelah
melakukan eliminasi makanan beberapa gejala autisme dan autisme infantil
tampak membaik secara bermakna. Lucarelli dkk, tahun 1995 juga telah
melakukan penelitian dengan eliminasi diet didapatkan perbaikkan pada
penderita autisme infantil. Didapatkan juga IgA antigen antibodi specifik
terhadap kasein, lactalbumin atau beta-lactoglobulin dan IgG, IgM terhadap
kasein Hal ini dapat juga dibuktikan dalam beberapa penelitian yang
menunjukkan adanya perbaikan gejala pada anak autism yang menderita
alergi, setelah dilakukan penanganan elimnasi diet alergi. Beberapa laporan
lain mengatakan bahwa gejala autism semakin buruk bila manifestasi alergi
itu timbul. Penelitian yang dilakukan Vodjani dkk, tahun 2002 menemukan
adanya beberapa macam antibody terhadap antigen spesifik neuron pada anak
autisme, diduga terjadi reaksi silang dengan protein ensefalitogenik dari susu
sapi., Chlamydia pnemoniae dan streptococcus group A. Penderita Autis
disertai alergi makanan sering mengalami gangguan sistem imun. Diantaranya
adalah adanya gangguan beberapa tipe defisiensi sistem imun berupa
defisiensi myeloperoxidase, Severe Combined Immunodeficiency Disease
(SCID), defisiensi Ig A selektif, defisiensi komplemen C4b dan kelainan
autoimun lainnya. Adanya gangguan tersebut mengakibatkan adanya
gangguan sistem imun yang berfungsi menghancurkan jamur, virus dan
bakteri. Hal ini mengakibatkan penderita autisme sering mengalami gangguan
infeksi jamur (candidiasis), infeksi saluran napas dan mudah terkena penyakit
infeksi lainnya secara berulang.
Diet Bebas Gluten dan Kasein Gluten adalah senyawa protein yang secara
alami dapat ditemukan di beberapa makanan seperti gandum, jelai, dan
gandum hitam; kasein adalah senyawa protein pada susu. Penderita autisme
diduga memiliki leaky gut atau sistem pencernaan yang bocor sehingga
tidak dapat memecah protein glutein dan kasein dengan sempurna. Akibatnya,
sisa pencernaan protein gluten dan kasein ini dapat terserap masuk dan
mengganggu kerja otak. Sesuai dengan namanya, program terapi diet anak
autis bebas gluten dan kasein meliputi penghindaran semua jenis makanan
anak autis yang mengandung gluten dan kasein. Diet ini merupakan salah satu
diet yang paling banyak diikuti oleh penderita autisme. Sekitar 65% dari
orang tua penderita autisme yang mengikuti diet ini melaporkan adanya
perbaikan kondisi pada anak mereka. Namun, penelitian menunjukkan bahwa
bukti ilmiah mengenai manfaat diet ini masihlah belum cukup memadai.
Feingold Diet dan Failsafe Diet untuk anak autis yang dikembangkan oleh
Ben Feingold ini awalnya ditujukan untuk anak-anak yang hiperaktif. Ben
Feingold meyakini bahwa dengan tidak mengonsumsi makanan yang
mengandung pewarna buatan, perisa buatan, pengawet, serta beberapa jenis
pemanis buatan seperti neotam dan alitam), kondisi anak-anak yang hiperaktif
dapat menjadi lebih baik. Selain bahan tambahan pangan sintetis, menghindari
senyawa salisilat (salicylates) juga diyakini bermanfat. Senyawa salisilat
adalah senyawa yang secara alami terdapat pada beberapa jenis buah dan
sayur seperti tomat, timun, apel, jeruk, anggur, persik, plum, buah beri, ceri,
dan kacang almond4,8. Sekitar 54% dari orang tua penderita autisme yang
mengikuti diet ini melaporkan adanya perbaikan kondisi pada anak mereka.
Namun, penelitian mengenai efektivitas diet ini sesungguhnya masih belum
cukup memadai. Modifikasi lain dari Feingold Diet adalah Failsafe Diet yang
dikembangkan oleh Sue Dengate sebagai salah satu terapi diet anak autis
untuk anak dengan autisme. Pada terapi ini, disarankan untuk menghindari
bahan tambahan pangan buatan, senyawa salisilat, senyawa amine, dan
penguat rasa seperti MSG.
Diet Specifik Karbohidrate Terapi diet anak autis yang dikembangkan oleh
Elaine Gottschall ini awalnya ditujukan untuk penderita penyakit colitis atau
peradangan usus. Menurut Specific Carbohydrate Diet, karbohidrat adalah
sumber makanan utama untuk mikroba usus yang dapat menyebabkan
gangguan pencernaan. Selain itu, sisa karbohidrat yang tidak tercerna diyakini
dapat mendorong terbentuknya senyawa asam dan racun yang dapat merusak
usus dan mengganggu sistem pencernaan. Diet ini kemudian diperkenalkan
untuk penderita autisme dengan tujuan mengurangi gangguan sistem
pencernaan. Pada dasarnya, diet yang lebih ketat daripada diet bebas gluten
dan kasein ini adalah diet bebas biji-bijian, laktosa, dan gula. Jenis makanan
anak autis yang diijinkan adalah daging, telur, beberapa jenis sayuran seperti
kubis, bayam, bawang bombai, dan paprika, serta beberapa jenis kacang-
kacangan misalnya kacang almond dan walnut. Sebaliknya, beberapa jenis
makanan yang dilarang pada diet ini antara lain:
Gula sukrosa, fruktosa, atau gula olahan lainnya
Sayuran dalam kemasan kaleng
Semua jenis biji-bijian seperti jagung, gandum, oat, beras, jelai, dan lainnya
Beberapa jenis kacang-kacangan termasuk kacang kedelai dan kacang hijau
Kentang, ubi, dan lobak
Rumput laut dan agar-agar
Daging olahan dan daging dalam kemasan kaleng
Susu dan produk olahan susu
Roti dan pasta

Sekitar 66% dari orang tua penderita autisme yang mengikuti diet ini
melaporkan adanya perbaikan kondisi pada anak mereka. Namun
sesungguhnya, masih dibutuhkan banyak penelitian untuk mempelajari
efektivitas diet ini dengan lebih baik karena bukti yang tersedia belumlah
cukup kuat.

Diet Rotasi
Terapi ditetik lainnya

BERBAGAI KONTROVERSI DAN CARA MENSIKAPINYA

Melihat demikian banyaknya cara terapi penderita autis, seringkali membuat


bingung baik orang tua bahkan kalangan klinisi sendiri. Kontroversi seringkali
timbUl karena beberapa peneliti mengklaim bahwa pendekatan terapi yang
dilakukan paling efektif dan bermanfaat. Hal ini semakin membingungkan
ketika para peneliti mengeluarkan berbagai teori penyebab yang sangat
berbeda. Banyak peneliti melaporkan hasil penelitiannya dalam terapi dengan
cara yang berbeda tergantung berdasarkan berbagai teori yang dianut atau
pengalaman peneliti.
Berdasarkan pengalaman klinis berbasis bukti tampaknya terapi konvensional
secara ilmiah lebih dapat dipertanggungjawabkan hasilnya dibandingkan
terapi inovatif dan tradisional lainnya. Sehingga cara terapi ini banyak
digunakan oleh para klinisi dan orang tua. Tetapi hal ini tidak berarti terapi
inovatif dan terapi alternatif lainnya secara klinis tidak bermanfaat. Di masa
mendatang diperlukan penelitian yang lebih baik dan berstruktur untuk
membuktikan bahwa terapi tersebut nantinya dapat dihandalkan.
Dalam keadaan seperti ini sebaiknya kita harus bijak dalam mencermatinya.
Bila kita tidak cermat maka waktu dan biaya yang harus dikeluarkan untuk
pemberian terapi sangat besar. Terapi yang ideal harus sesuai dengan kondisi
imunopatobiologis yang sering berbeda satu penderita autis dengan penderita
lainnya. Dengan mengidetifikasi penyebab atau penyakit lain yang bisa
mempengaruhi secara cermat, maka dapat ditentukan strategi penanganan dan
terapi untuk penderita. Selain kecermatan, juga dibutuhkan pengalaman dan
kompetensi profesionalitas sesuai bidang ilmu yang dimiliki dalam
penanganan kelainan yang menyertai. Harus melibatkan disiplin ilmu minat
gastroenterologi anak, alergi anak, neurologi anak, endokrinologi anak dan
sebagainya Beberapa contoh kasus misalnya seorang yang tidak mengalami
alergi makanan dilakukan pendekatan eliminasi makanan alergi meskipun hal
tersebut berdasarkan tes alergi. Contoh lainnya seseorang yang tidak
mengalami intoleransi terhadap gluten dan kasein tetapi dilakukan eliminasi
terhadap makanan tersebut.
Cara termudah yang mungkin bisa diikuti adalah apabila setelah melakukan
jenis terapi tertentu penderita mengalami perbaikkan yang bermakna.
Sebaiknya kita harus mempercayai fakta tersebut meskipun terapi tersebut
masih menjadi kontroversi. Sebaliknya meskipun pendekatan terapi tersebut
telah terbukti secara ilmiah baik, tetapi saat diberikan terhadap penderita tidak
menunjukkan hasil yang berarti maka jangan dipaksakan untuk meneruskan
terapi tersebut. Kemungkinan kelainan yang dialami oleh penderita tidak
sesuai dengan strategi terapi yang diberikan. Jangan terlalu terburu-buru
dalam menilai keberhasilan atau ketidakberhasilan terapi. Diperlukan
konsultasi ulang kepada dokter yang merawat paling banyak dua atau tiga kali
pertemuan untuk mengevaluasi hasilnya. Bila dalam dua atau tiga kali
pertemuan konsultasi tidak terdapat kemajuan, mungkin harus dicermati terapi
yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan penderita.
Harus diperhatikan dalam penanganan penderita Autis hendaknya dilakukan
secara holistik atau menyeluruh dengan melibatkan beberapa dokter atau
klinisi dari beberbagai disiplin ilmu sesuai dengan gangguan yang ada. Semua
gangguan organ tubuh atau gangguan perilaku yang ada harus diperbaiki
secara bersamaan. Misalnya, penderita Autis dengan gangguan persepsi
sensoris dan gangguan saluran cerna. Telah dilakukan perbaikkan gangguan
persepsi sensorisnya dengan terapi okupasi sensori integration. Tetapi
perbaikan gangguan saluran cernanya,dengan mencermati jenis makanan yang
dikonsumsi seperti alergi makanan atau gluten tidak dilakukan atau
sebaliknya. Seringkali terjadi bila satu terapi dilakukan ada perbaikkan, orang
tua tidak memperhatikan gangguan lainnya. Keadaan ini menjadi rumit, ketika
dokter atau terapis sudah merasa yakin bahwa terapi yang diberikan
merupakan satu-satunya terapi yang terbaik bagi penderita autis. Hal ini
mengakibatkan perbaikan gangguan perilaku pada autis tersebut tidak optimal.

PENUTUP

Autis adalah penyakit yang dipengaruhi oleh multifaktorial, sehingga


demikian luas teori penyebab autis. Maka tidak heran bila terapi yang bisa
diberikan sangat banyak dan bervariasi. Terapi yang ideal harus sesuai dengan
kondisi imunopatobiologis yang sering berbeda satu penderita autis dengan
penderita lainnya. Dengan mengidetifikasi penyebab atau penyakit lain yang
bisa mempengaruhi secara cermat, maka dapat ditentukan strategi penanganan
dan terapi untuk penderita. Pendekatan terapi harus dilakukan holistic atau
menyeluruh dengan melibatkan berbagai dislin ilmu.
Berdasarkan pengalaman klinis berbasis bukti tampaknya bebnerapa terapi
konvensional secara ilmiah lebih dapat dipertanggungjawabkan hasilnya
dibandingkan terapi inovatif dan tradisional lainnya. Tetapi hal ini tidak
berarti terapi inovatif dan terapi alternatif lainnya secara klinis tidak
bermanfaat. Di masa mendatang diperlukan penelitian yang lebih baik dan
berstruktur untuk membuktikan bahwa terapi tersebut nantinya memang dapat
dihandalkan.

DAFTAR PUSTAKA
o American of Pediatrics, Committee on Children With Disabilities.
Technical Report : The Pediatricians Role in Diagnosis and
Management of Autistic Spectrum Disorder in Children. Pediatrics
!107 : 5, May 2001)
o Anderson S, Romanczyk R: Early intervention for young children with
autism: A continuum-based behavioral models. JASH 1999; 24: 162-
173.
o APA: Diagnostic and statistic manual of mental disorders. 4th ed.
Washington, DC: American Psychiatric Association; 1994.
o Bettelheim B: The Empty Fortress: Infantile Autism and the Birth of
the Self. New York, NY: Free Press; 1977.
o Brett EM: Paediatric Neurology. 2nd ed. London: Churchill
Livingstone; 1991.
o British Medical Journal: Childhood autism and related conditions. Br
Med J 1980 Sep 20; 281(6243): 761-2
o Buka SL, Tsuang MT, Lipsitt LP: Pregnancy/delivery complications
and psychiatric diagnosis. A prospective study. Arch Gen Psychiatry
1993 Feb; 50(2): 151-6
o Burd L, Kerbeshian J: Psychogenic and neurodevelopmental factors in
autism. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry 1988 Mar; 27(2): 252-
3[Medline].
o Burd L, Severud R, Kerbeshian J, Klug MG: Prenatal and perinatal
risk factors for autism. J Perinat Med 1999; 27(6): 441-50
o Adams JB, Audhya T, McDonough-Means S, Rubin RA, Quig D, Geis
E, Gehn E, Loresto M, Mitchell J, Atwood S, Barnhouse S, Lee W.
.Effect of a vitamin/mineral supplement on children and adults with
autism. BMC Pediatr. 2011 Dec 12;11:111. doi: 10.1186/1471-2431-
11-111
o Cohen DJ, Volkmar FR: Handbood of Autism and Pervasive
Developmental Disorders. NY: Wiley; 1996.
o Horvath K, Papadimitriou JC, Rabsztyn A, et al: Gastrointestinal
abnormalities in children with autistic disorder. J Pediatr 1999 Nov;
135(5): 559-63[Medline].
o Hoshino Y, Yashima Y, Tachibana R, et al: Sex chromosome
abnormalities in autistic childrenlong Y chromosome. Fukushima J
Med Sci 1979; 26(1-2): 31-42
o Hutt SJ, Hutt C, Lee D, Dunstead C: A behavioural and
electroencephalographic study of autistic children. J Psychiatr Res
1965 Oct; 3(3): 181-97
o Johnson MH, Siddons F, Frith U, Morton J: Can autism be predicted
on the basis of infant screening tests? Dev Med Child Neurol 1992
Apr; 34(4): 316-20
o Lainhart JE, Piven J: Diagnosis, treatment, and neurobiology of autism
in children. Curr Opin Pediatr 1995 Aug; 7(4): 392-400
o Lamb JA, Moore J, Bailey A: Autism: recent molecular genetic
advances. Hum Mol Genet 2000 Apr 12; 9(6): 861-8
o Lovaas I: The Autistic Child: Language Development through
Behavior Modification. NY: Irvington Press; 1977.
o Lovaas OI, Koegel RL, Schreibman L: Stimulus overselectivity in
autism: a review of research. Psychol Bull 1979 Nov; 86(6): 1236-54
o Martineau J, Barthelemy C, Garreau B, Lelord G: Vitamin B6,
magnesium, and combined B6-Mg: therapeutic effects in childhood
autism. Biol Psychiatry 1985 May; 20(5): 467-78
o Poustka F, Lisch S, Ruhl D, et al: The standardized diagnosis of
autism, Autism Diagnostic Interview- Revised: interrater reliability of
the German form of the interview. Psychopathology 1996; 29(3): 145-
53[Medline].
o Prior MR, Tress B, Hoffman WL, Boldt D: Computed tomographic
study of children with classic autism. Arch Neurol 1984 May; 41(5):
482-4[
o Singer HS: Pediatric movement disorders: new developments. Mov
Disord 1998; 13 (Suppl 2): 17.
o Skjeldal OH, Sponheim E, Ganes T, et al: Childhood autism: the need
for physical investigations. Brain Dev 1998 Jun; 20(4): 227-33
o Stern JS, Robertson MM: Tics associated with autistic and pervasive
developmental disorders. Neurol Clin 1997 May; 15(2): 345-55
o Taylor B, Miller E, Farrington CP, et al: Autism and measles, mumps,
and rubella vaccine: no epidemiological evidence for a causal
association. Lancet 1999 Jun 12; 353(9169): 2026-9
o Teitelbaum P, Teitelbaum O, Nye J, et al: Movement analysis in
infancy may be useful for early diagnosis of autism. Proc Natl Acad
Sci U S A 1998 Nov 10; 95(23): 13982-7
o Volkmar FR: DSM-IV in progress. Autism and the pervasive
developmental disorders. Hosp Community Psychiatry 1991 Jan;
42(1): 33-5
o Volkmar FR, Cicchetti DV, Dykens E, et al: An evaluation of the
Autism Behavior Checklist. J Autism Dev Disord 1988 Mar; 18(1):
81-97
o Volkmar FR, Cohen DJ: Neurobiologic aspects of autism. N Engl J
Med 1988 May 26; 318(21): 1390-2
o Vostanis P, Smith B, Chung MC, Corbett J: Early detection of
childhood autism: a review of screening instruments and rating scales.
Child Care Health Dev 1994 May-Jun; 20(3): 165-77
o Vostanis P, Nicholls J, Harrington R: Maternal expressed emotion in
conduct and emotional disorders of childhood. J Child Psychol
Psychiatry 1994 Feb; 35(2): 365-76
o Vrono MS, Bashina VM: [Problem of adaptation of patients with the
syndrome of early childhood autism]. Zh Nevropatol Psikhiatr Im S S
Korsakova 1987; 87(10): 1511-6.
o Werner E, Dawson G, Osterling J, Dinno N: Brief report: Recognition
of autism spectrum disorder before one year of age: a retrospective
study based on home videotapes. J Autism Dev Disord 2000 Apr;
30(2): 157-62
o Wilkerson DS, Volpe AG, Dean RS, Titus JB. Perinatal complications
as predictors of infantile autism. Int J Neurosci 2002 Sep;112(9):1085-
98
o Wolraich M, Bzostek B, Neu RL, Gardner LI: Lack of chromosome
aberrations in autism. N Engl J Med 1970 Nov 26; 283(22): 1231
o Yirmiya N, Sigman M, Freeman BJ: Comparison between diagnostic
instruments for identifying high- functioning children with autism. J
Autism Dev Disord 1994 Jun; 24(3): 281-91
o Zeanah CH, Davis S, Silverman M: The question of autism in an
atypical infant. Am J Psychother 1988 Jan; 42(1): 135-50
o Zwaigenbaum L, Szatmari P, Jones MB: Decreased obstetric
optimality in autism is a function of genetic liability to the broader
autism phenotype. J Dev Behav Pediatr 1999; 20 (5): 398-399

Anda mungkin juga menyukai