Anda di halaman 1dari 11

Racik Meracik Ilmu - Dinasti Umayyah berasal dari nama

Umayyah ibn Syams salah satu pemimpin kabilah Quraisy


yang dikenali sebagai Bani Umayyah. Umayyah merupakan
anak saudara sepupu Hasyim ibn Abd Manaf yaitu nenek
moyang Rasulullah SAW. Bani Hasyim dan Umayyah sering
bersaing merebut kekuasaan di kota Makkah di zaman
jahiliyah akan tetapi Bani Hasyim lebih berpengaruh karena
mendapat kekuasaan yang diturunkan Qusay, kemudian
kepada Abd Manaf dan seterusnya kepada Hasyim.

Kedudukan Bani Umayyah sangat mantap di Syam. Hal ini di


karenakan, Umayyah pernah kalah dalam pertarungan
dengan Bani Hasyim telah melarikan diri dan menetap disana
selama 10 tahun. Pada zaman khalifah Usman bin Affan,
Yazid bin Abi Sufyan menjadi Gubernur di Syam kemudian
diikuti oleh adiknya, Muawiyyah ibn Abi Sufyan menjadi
Gubernur selama 20 tahun.[1]

Bani Umayyah juga berpengaruh di Makkah karena


merupakan golongan bangsawan yang dihormati oleh
masyarakat. Di zaman Jahiliyyah, Abd Syam, Umayyah, Harb
dan seterusnya Abi Sufyan diberi kepercayaan memimpin
pasukan tentara di Makkah secara turun temurun. Selain itu,
mereka juga terkenal dalam bidang perdagangan. Bani
Umayyah mempunyai berpengaruh yang sangat besar
sebelum Islam dan juga selepas Islam. Mereka adalah di
antara golongan yang terakhir memeluk agama Islam.

Muawiyah ibn Abu Sufyan merupakan pengaggas dinasti bani


Umayyah. Bapaknya Abu Sufyan ibn Harb merupakan salah
seorang pemimpin Quraisy yang terkemuka di kota Makkah
terutama sebelum beliau memeluk Islam. Abu Sufyan juga
ketua kaum musyrikin Makkah yang menjadi puncak
berlakunya perang Badar dan menjadi ketua kaum Quraisy
Makkah dalam perang Uhud. Sebelum Muawiyyah mengambil
alih jawatan Khalifah dari Hassan Ibn Ali, telah berlaku konflik
antara Muawiyyah dan Sayyidina Ali sehingga berlakunya
Perang Siffin di tebing sungai Furat pada 13 Safar 37H.
Konflik ini adalah rentetan dari peristiwa pembunuhan Usman
dan Sayyidina Ali gagal menyelesaikan masalah tersebut
sesuai dengan kehendak Muawiyyah. Sayyidina Ali juga
mempunyai alasan tertentu yang menyebabkan ia tidak dapat
bertindak terhadap pembunuhan tersebut.

Peperangan Siffin ini telah membawa kepada berlakunya


Majlis Tahkim. Majlis Tahkim ini berlaku atas kebijaksanaan
politik Amr ibn al-As yang mengangkat mushaf al-Quran
ketika tentara Muawiyyah hampir kalah. Terdapat juga
golongan yang tidak setuju dengan perdamaian tersebut dan
mengiginkan peperangan diteruskan. Namun, disebabkan
yang mendukung lebih banyak, Sayyidina Ali mengambil
keputusan untuk menerima Majlis Tahkim. Golongan yang
tidak setuju ialah Al-Asytar bin Malik dan pengikutnya, Al-
Ashas bin Qais dan pengikutnya serta seluruh orang Yaman.

Al-Asytar dan pengikut-pengikutnya yang tidak setuju dengan


Sayyidina Ali telah keluar dari situasi tersebut menuju ke
Harura dan digelar Khawarij. Jumlah mereka adalah sekitar
12,000 orang. Persidangan Tahkim dimenangi oleh Muawiyah
atas kebijaksanaan Amr bin al-As. Tetapi Khalifah Ali terus
menjadi khalifah tanpa dibaiat oleh penduduk Syam sehingga
baginda wafat pada tahun 40H / 660M karena dibunuh oleh
Abdul Rahman bin Muljam, salah seorang pengikut Khawarij.
Muawiyyah menjadi khalifah dan membentuk dinasti
Umayyah dengan sistem turun temurun.

Kendatipun pemerintahan Bani Umayyah tidak menganut


sistem demokrasi bukan berati tidak mengalami
perkembangan dan kemajuan dimasa pemerintahannya. Hal
ini meliputi berbagai aspek baik sistem pemerintahan,
administrasi, ilmu pengetahuan, sastra ekonomi, seni dan
budaya.

A. PERKEMBANGAN SASTRA

Beberapa cabang seni budaya/sastra meningkat pada masa


Bani Umayyah terutama seni bahasa, seni suara, seni rupa
dan seni bangunan (arsitektur). Sementara seni tari tidak
dimasukkan dalam kategori seni budaya, sekalipun tari-tarian
berkembang luas khususnya dalam istana-istana dan gedung-
gedung orang kaya.[2]
Bani umayyah berusaha untuk mempertahankan kemurnian
bangsa Arab, mereka berusaha untuk meninggikan derajat
bangsa Arab sebagai bangsa penguasa di antara bangsa lain
yang dikuasai. Karena kefanatikannya kepada bangsa Arab,
khalifah Abdul Malik Ibn Marwan mewajibkan bahasa Arab
menjadi bahasa resmi Negara sehingga semua perintah dan
peraturan serta komunikasi secara resmi memakai bahasa
Arab. Akibatnya bahasa Arab dipelajari orang. Tumbuhlah
ilmu qowaid dari ilmu lain untuk mempelajari bahasa Arab.
Bahasa Arab menjadi bahasa resmi Negara sampai sekarang
pada banyak Negara: Irak, Siria, Mesir, Libanon, Libia,
Tunisia, Aljazair, Maroko, di samping Saudi Arabia, Yaman,
Emirat Arab dan sekitarnya.[3]

Para penguasa Bani Umayyah semuanya menggunakan


tenaga-tenaga penyair, muawiyah mempunyai seorang
penyair yang bernama Al-Akhthal. Penyair yang bernama
Jarir jatuh ke tangan keluarga Zubair. Ia pernah dihadapkan
kepada Al-Hajjaj, dan kedatangannya diterima dengan
hormat. Al-Hajjaj ingin menarik simpati Jarir dengan bersikap
baik-baik kepadanya, karena itu Jarir lalu memuji Al-Hajjaj
dengan berbagai kasidah.[4]

Di bidang seni bangunan (arsitektur), Bani Umayyah berhasil


mendirikan beberapa bangunan mewah diantaranya; Mesjid
Baitul Maqdis di Yerussalem yang terkenal dengan kubah
batunya (Qubbah al-Sakhara) yang dibangun oleh khalifah
Abdul Malik pada tahun 691 M dan istana Qusayr Amrah yang
terbuat dari kapur berwarna bening kemerah-merahan.[5]

Di samping syair (puisi), seni suara juga tumbuh subur di


Hijaz. Pada masa itu hijaz mengirimkan banyak biduan dan
biduanita ke istana para khalifah dan yang pertama ialah
Muawiyah. Ia merasa asyik mendengarkan hikmah syair
yang didendangkan dengan irama menarik.

Di antara banyak biduanita yang terkenal pada zaman


kekuasaan Bani umayyah ialah seorang wanita yang bernama
Salamah Al-Qis. Ia belajar seni suara kepada Mabad, Ibnu
Aisyah dan Jamilah. Ada lagi seorang pria terkenal mahir
menyanyi, yaitu Thuwais Al-Mughanniy. Ia juga pandai
menabuh rebana. Penguasa Madinah yang bernama Aban bin
Utsman senang bergaul dengannya dan suka mendengarkan
lagu-lagu yang dibawakannya.[6]

B. ILMU PENGETAHUAN

Salah satu aspek dari kebudayaan adalah mengembangkan


ilmu pengetahuan. Kalau masa Nabi dari khulau ar-rasyidin
perhatian terpusat pada memahami Alquran dan hadis Nabi
untuk memperdalam pengajaran akidah, akhlah, ibadah,
muamalah dari kisah-kisah Alquran, maka perhatian sesudah
itu, sesuai dengan kebutuhan zaman, tertuju pada ilmu-ilmu
yang diwariskan oleh bangsa-bangsa sebelum munculnya
Islam.

Daerah kekuasaanya, selain yang diwariskan oleh khulafau


arrasyidin, telah pula menguasai Andalus, Afrika Utara,
Syam, Irak, Iran, Khurosan, terus ke timur sampai ke
benteng tiongkok. Dalam daerah kekuasaannya ada kota-
kota pusat kebudayaan. Yunani Iskandariyah, Antiokia,
Harran, Yunde Sahpur, yang dikembangkan oleh ilmuwan-
ilmuwan itu setelah masuk Islam tetap memelihara ilmu-ilmu
peninggalan Yunani itu, bahkan mendapat perlindungan. Di
antara mereka ada yang mendapat jabatan tinggi di istana
khalifah. Ada yang menjadi dokter pribadi, bendaharawan,
atau wazir, sehingga kehadiran mereka sedikit banyak
mempengaruhi perkembangan Khalid ibn Yazid, cucu
Muawiyah, tertarik pada ilmu kimia dari ilmu kedokteran. Ia
menyediakan sejumlah harta untuk menyuruh para sarjana
Yunani yang bermukim di Mesir untuk menerjemahkan buku-
buku Kimia dari kedokteran ke dalam bahasa Arab dan itu
menjadi terjemahan pertama dalam sejarah. Al Walid ibn
Abdul Malik memberikan perhatian kepada bimaristan, yaitu
rumah sakit sebagai tempat berobat dari perawatan orang-
orang sakit serta sebagai tempat studi kedokteran.

Khalifah Umar Ibn Abbas Azis menyuruh ulama secara resmi


untuk membukukan hadis-hadis Nabi. Khalifah ini juga
bersahabat dengan Ibn Abjar, seorang dokter dari
Iskandariyah yang kemudian menjadi dokter pribadinya.[7]

Ilmu pengetahuan pada masa Daulah Bani Umayyah terbagi


menjadi dua yaitu:

1. Al-Adaabul Hadisah (ilmu-ilmu baru), yang terpecah


menjadi dua bagian:

Al-Ulumul Islamiyah, yaitu ilmu-ilmu Alquran, al-hadist, al-


Fiqh, al-ulumul Lisaniyah, at-Tarikh dan al-Jughrafi.
Al-Ulumud Dakhiliyah, yaitu ilmu-ilmu yang diperlukan oleh
kemajuan Islam, seperti ilmu thib, fisafat, ilmu pasti dan
ilmu-ilmu eksakta lainnya yang disalin dari bahasa Persia
dan Romawi.

2.Al-Adaabul Qadimah (ilmu-ilmu lama), yaitu ilmu-ilmu yang


telah ada di zaman Jahiliah dan di zaman khalafaur
rasyidin, seperti ilmu-ilmu lughah, syair, khitabah dan
amsaal.

Pada permulaan masa Daulah Bani Umayyah orang Muslim


membutuhkan hukum dan undang-undang, yang bersumber
pada al-Quran. Oleh karena itu mereka mempunyai minat
yang besar terhadap tafsir Alquran. Ahli tafsir pertama dan
termashur pada masa tersebut adalah Ibnu Abbas. Beliau
menafsirkan Alquran dengan riwayat dan isnaad. Kesulitan-
kesulitan kaum muslimin dalam mengartikan ayat-ayat
Alquran dicari dalam al-Hadis. Karena terdapat banyak hadis
yang bukan hadis, maka timbullah usaha untuk mencari
riwayat dan sanad al-hadis, yang akhirnya menjadi ilmu hadis
dengan segala cabang-cabangnya. Maka kitab tentang ilmu
hadis mulai banyak dikarang oleh orang-orang Muslim.
Diantara para muhaddistin yang termashur pada zaman itu,
yaitu: Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin
Abdullah bin Syihab az-Zuhry, Ibnu Abi Malikah (Abdullah bin
Abi Malikah at-Tayammami al-Makky, Al-AuzaI Abdur
Rahman bin Amr, Hasan Basri Asy-Syabi.[8]
C. KEMAJUAN BIDANG EKONOMI

Pada masa Bani Umayyah ekonomi mengalami kemajuan


yang luar biasa. Dengan wilayah penaklukan yang begitu
luas, maka hal itu memungkinkannya untuk mengeksploitasi
potensi ekonomi negeri-negeri taklukan. Mereka juga dapat
mengangkut sejumlah besar budak ke Dunia Islam.
Penggunaan tenaga kerja ini membuat bangsa Arab hidup
dari negeri taklukan dan menjadikannya kelas pemungut
pajak dan sekaligus memungkinkannya mengeksploitasi
negeri-negeri tersebut, seperti Mesir, Suriah dan Irak.[9]

Pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan diadakan


pergantian mata uang. Ia mengeluarkan mata uang logam
Arab. Sebelumnya, pada masa Nabi Muhammad saw., dan
khalifah Abu Bakar, mata uang Romawi dan Persia khususnya
pada masa khalifah Umar bin al-Khattab telah banyak yang
rusak.

Pembaharuan mata uang yang dilakukan adalah jenis mata


uang baru yang bisa dibilang sebagai mata uang resmi
pemerintahan Islam. Mata uang tersebut terbuat dari emas,
perak dan perunggu yang dalam bahasa Romawi disebut
dengan Dinar (uang emas), Dirham (uang perak) dan Fals
atau Fuls (uang perunggu).[10]

Gubernur Irak yang pada waktu itu dijabat oleh Hajjaj bin
Yusuf ternyata banyak melakukan perbaikan dan
pembangunan di Irak ketika ia menjadi gubernur di wilayah
itu. Ia berhasil memakmurkan negeri itu setelah diporak-
porandakan oleh peperangan yang berlangsung selama
kurang lebih 20 tahun. Ia memperbaiki irigasi dengan
mengalirkan air Sungai Tigris dan Eufrat jauh ke pelosok
negeri, sehingga kesuburan tanah pertanian terjamin. Ia
melarang keras perpindahan orang desa ke kota. Kehidupan
ekonomi pun dibangun dengan memperbaiki system
keuangan, alat timbangan, takaran dan ukuran. Ia juga
menyempurnakan tulisan mushaf Alquran dengan
membubuhkan tanda titik pada huruf tertentu.[11]

Masa pemerintahan al-Walid I menampakkan puncak


kejayaan dinasti Umayyah. Wilayah kekuasaannya pun
bertambah luas sampai ke spanyol di barat dan Sind (India)
di Timur. Kesejahteraan rakyat mendapat perhatian besar. Ia
mengumpulkan anak yatim, memberi mereka jaminan hidup
dan menyediakan guru untuk mengajar mereka. Bagi orang
cacat, ia menyediakan pelayan khusus yang diberi gaji. Orang
buta diberi penuntun dan bagi orang lumpuh disediakan
perawat. Ia juga mendirikan bangunan khusus untuk orang
kusta agar mereka dapat dirawat sesuai dengan persyaratan
kesehatan. Al-Walid I juga membangun jalan raya, terutama
jalan ke Hedzjaz. Di sepanjang jalan itu digali sumur untuk
menyediakan air bagi orang yang melewati jalan. Untuk
mengurus sumur-sumur tersebut ia mengangkat pegawai.
Peninggalan al-Walid yang masih dapat disaksikan sampai
kini adalah Masjid Agung Damaskus.

Sektor industri tak luput dari perhatian Umayyah dengan


peningkatan produksi handycraft. Industri ini menjadi tulang
punggung ekonomi setelah pertanian.[12]

Abdul Malik bin Marwan mengembangkan lembaga ata atau


pembagian harta rampasan perang secara perlahan-lahan
kepada bangsa Syiria. Ketika Yazid I terancam keresahan di
Iraq dan pemberontakan Ibnu Zubair di Hijaz, dia merasa
berkewajiban untuk menyerahkan garnizum Cyprus kepada
Syiria yang praktis merupakan satu-satunya kelompok
pasukan yang mendapat pembayaran gaji, demikian pula
pasukan yang memblokade Ibnu Zubair di Mekkah dibayar
100 dinar.[13]

Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99 H/717 M), ia terkenal


dengan kesederhaan, keadilan dan kebijaksanaannya.
Sebelum menjadi khalifah, hidupnya diliputi oleh kemewahan
dan kemegahan. Sebagai seorang bangsawan, ia memiliki
kekayaan yang melimpah dan gaya hidup gemerlap. Setelah
menjadi khalifah, gaya hidupnya berubah. Ia memilih hidup
sangat sederhana, ia menjual pakaian dan perhiasannya yang
bagus dan mahal, lalu memasukkkan hasilnya ke dalam
perbendaharaan Negara (baitul mal).

Selanjutnya ia melakukan pembersihan di kalangan keluarga


Bani Umayyah. Tanah-tanah atau harta orang lain yang
pernah diberikan kepada orang tertentu dimasukkannya ke
dalam baitulmal. Kebijakannya di bidang fiskal mendorong
orang non-muslim untuk memeluk agama Islam.[14]
Umar bin Abdul Aziz pernah menghimpunkan sekumpulan ahli
fikih dan ulama kemudian beliau berkata kepada mereka:
Aku menghimpunkan kamu semua untuk bertanya pendapat
tentang perkara yang berkaitan dengan barangan yang
diambil secara zalim yang masih berada bersama-sama
dengan keluarga aku? Lalu mereka menjawab: Wahai
Amirul Mukminin! perkara tersebut berlaku bukan pada masa
pemerintahan kamu dan dosa kezaliman tersebut ditanggung
oleh orang yang mencerobohnya. Walau bagaimanapun
Umar tidak puas hati dengan jawapan tersebut sebaliknya
beliau menerima pendapat daripada kumpulan yang lain
termasuk anak beliau sendiri Abdul Malik yang berkata
kepada beliau: Aku berpendapat bahawa ia hendaklah
dikembalikan kepada pemilik asalnya selagi kamu
mengetahuinya. Sekiranya kamu tidak mengembalikannya,
kamu akan menanggung dosa bersama-sama dengan orang
yang mengambilnya secara zalim. Umar berpuas hati
mendengar pendapat tersebut lalu beliau mengembalikan
semula barangan yang diambil secara zalim kepada pemilik
asalnya.[15]

Khalifah Umar bin Abdul Azis juga memperingan pajak yang


diwajibkan kepada Kaum Nasrani di Cyprus dan Eilah (dekat
laut merah). Ia memperlakukan kaum mawali Muslimin
(bekas-bekas budak yang telah memeluk Islam) dengan
perlakuan seperti yang diberikan kepada kaum Muslimin
Arab. Mereka dibebaskan dari kewajiban membayar pajak
yang dahulu ditetapkan oleh khalifah Umar ibnul Khattab. Ia
juga mengizinkan kaum muslimin memiliki tanah-tanah lahan
di negeri-negeri yang termasuk di dalam wilayah kekuasaan
Islam.[16]

Selama masa pemerintahannya, Umar melakukan berbagai


perbaikan dan pembangunan sarana pelayanan umum,
seperti perbaikan lahan pertanian, penggalian sumur baru,
pembangunan jalan, penyediaan tempat penginapan bagi
para musafir, perbanyakan masjid dan lain-lain. Orang sakit
mendapat bantuan dari pemerintah. Dinas pos juga diperbaiki
agar tidak hanya melayani pengiriman surat resmi para
gubernur dan pegawai khalifah atau sebaliknya, tetapi juga
melayani pengiriman surat rakyat.[17]
Kesejahteraan masyarakat digambarkan oleh Umar bin Usaid
dalam ungkapannya; Demi Allah, Umar bin Abdul Aziz tidak
meninggal hingga seorang laki-laki datang kepada kami
dengan sejumlah harta dalam jumlah besar dan dia berkata
salurkan harta ini sesuai dengan kehendakmu, ternyata
tidak ada yang berhak menerima harta itu. Sungguh Umar
bin Abdul Aziz telah membuat manusia berkecukupan.[18]

Upaya untuk meningkatkan perekonomian itu, diantaranya


dilakukan dengan membangun sarana jalan dan bendungan
guna menunjang kelancaran transportasi dan meningkatkan
penghasilan masyarakat. Pembangunan perkebunan kapas
dan pabrik tenun kesungguhan bagi kemajuan ekonomi
masyarakat.[19]

D. KEMAJUAN BIDANG ADMINISTRASI

Guna memenuhi tuntutan perkembangan wilayah dan


administrasi kenegaraan yang semakin kompleks.
Administrasi pemerintahan pada masa Bani Umayyah
meliputi; jabatan khalifah (kepala negara) yang memiliki
kekuasaan penuh untuk menentukan jabatan-jabatan dan
jalannya pemerintahan, wizarah (kementerian) yang bertugas
membantu atau mewakili khalifah dalam melaksanakan
tugasnya sehari-hari, kitabah (kesekretariatan), dan hijabah
(pengawalan pribadi).

Selain mengangkat majelis penasehat sebagai pendamping,


khalifah Bani Umayyah dibantu oleh beberapa orang al-
Kuttab (secretaries) untuk membantu pelaksanaan tugas,
yang meliputi:

1. Katib ar-Rasail; sekretaris yang bertugas


menyelenggarakan administrasi dan surat menyurat
dengan pembesar-pembesar setempat.
2. Katib al-Kharraj; sekretaris yang bertugas
menyelenggarakan penerimaan dan pengeluaran Negara.
3. Katib al-Jundi; sekretaris yang bertugas menyelenggarakan
hal-hal yang bekaitan dengan ketentaraan.
4. Katib as-Syurtah; sekretaris yang bertugas
menyelenggarakan pemeliharaan keamanan dan ketertiban
umum.
5. Katib al-Qudat; sekretaris yang bertugas
menyelenggarakan tertib hokum melalui badan-badan
peradilan dan hakim setempat.[20]

Perbaikan di bidang administrasi pemerintahan dan


pelayanan umum dilaksanakan oleh khalifah Abdul Malik dan
gubernurnya. Di bidang administrasi pemerintahan ia
memerintahkan penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa
resmi di setiap kantor pemerintah. Sebelum itu bahasa
Yunani di di gunakan di Suriah, bahasa Persia dan bahasa
Qibti di Mesir. Abdul Azis bin Marwan, saudara Abdul Malik
yang menjadi gubernur di Mesir, berjasa dalam
pembangunan Mesir pada masanya. Ia membuat pengukur
air Sungai Nil, membangun jembatan dan memperluas Masjid
Jami Amr bin As.[21]

Hisyam bin Abdul Malik (106-126 H/724-743M) dikenal


sebagai khalifah yang cermat dan teliti. Ia memperbaiki
administrasi keuangan Negara sehingga pemasukan dan
pengeluaran berjalan dengan teratur tanpa terjadi
penggelapan atas uang baitulmal. Karena sangat teliti di
bidang keuangan, ia dianggap sebagai khalifah yang pelit.
Uang Negara tidak bias dikeluarkan kecuali untuk hal yang
sangat perlu sekali.[22]

KESIMPULAN

1. Seni budaya/sastra meningkat pada masa Bani Umayyah


terutama seni bahasa, seni suara, seni rupa dan seni
bangunan (arsitektur). Sementara seni tari tidak
dimasukkan dalam kategori seni budaya, sekalipun tari-
tarian berkembang luas khususnya dalam istana-istana dan
gedung-gedung orang kaya.
2. Ilmu pengetahuan pada masa Daulah Bani Umayyah
terbagi menjadi dua yaitu:
a. Al-Adaabul Hadisah (ilmu-ilmu baru), yang terpecah
menjadi dua bagian:

- Al-Ulumul Islamiyah

- Al-Ulumud Dakhiliyah

b. Al-Adaabul Qadimah (ilmu-ilmu lama), yaitu ilmu-ilmu


yang telah ada di zaman Jahiliah

3. Perkembangan ekonomi bani umayyah ditandai dengan


penggunaan mata uang dinar, dirham dan perunggu.

4. Administrasi pemerintahan pada masa Bani Umayyah


meliputi; jabatan khalifah (kepala negara) yang memiliki
kekuasaan penuh untuk menentukan jabatan-jabatan dan
jalannya pemerintahan, wizarah (kementerian) yang bertugas
membantu atau mewakili khalifah dalam melaksanakan
tugasnya sehari-hari, kitabah (kesekretariatan), dan hijabah
(pengawalan pribadi).