Anda di halaman 1dari 9

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Krisis karakter adalah fenomena yang kini melanda bukan saja di Indonesia

tapi juga hampir di seluruh negara di dunia. Krisis karakter ini tidak saja melanda

generasi tua, tetapi juga generasi muda bahkan anak-anak. Kini sering sekali

tersaji di media massa baik di televisi, radio atau surat kabar, berita-berita tentang

kasus pembunuhan, korupsi, konflik antar warga, antar suku, tawuran pelajar,

perilaku menyimpang dan lain-lain, yang juga dapat ditemukan di lingkungan

hidup masyarakat luas, juga di sekolah-sekolah.

Konflik-konflik yang terjadi dan melanda hidup manusia, misalnya

pertengkaran antar teman, tetangga atau antara kelompok masyarakat yang

pemicunya hanyalah hal-hal kecil, menyadarkan semua pihak bahwa ke manakah

rasa toleransi, empati, atau rendah hati yang merupakan warisan budaya negara

kita? Menurut Balitbang Kemendiknas (2010:3), budaya diartikan sebagai

keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan (belief) manusia

yang dihasilkan masyarakat. Sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan

itu adalah hasil dari interaksi manusia dengan sesamanya dan lingkungan

alamnya. Namun bangsa kita saat ini sepertinya telah kehilangan kearifan lokal

yang menjadi budaya bangsa sejak dahulu.

Krisis karakter pada generasi muda akhir-akhir ini nampak amat

memprihatinkan. Dari hal-hal sederhana seperti tata krama sampai hal-hal

1
2

kompleks seperti seks bebas atau kasus kriminal (pemerkosaaan, pembunuhan).

Menurut Lickona (2012:12), terdapat 9 indikasi yang perlu mendapat perhatian

agar generasi muda berubah ke arah yang lebih baik,

(1) Kekerasan dan tindakan anarki (pembunuhan, kekerasan fisik,


pembunuhan dll), (2) Pencurian, (3) Tindakan curang (misalnya
menyontek), (4) Pengabaian terhadap aturan yang berlaku, (5)
Tawuran antarsiswa, (6) Ketidaktoleran (contohnya pada masalah
SARA), (7) Penggunaan bahasa yang tidak baik, (8) Kematangan
seksual yang terlalu dini dan penyimpangannya, (9) Sikap
perusakan diri (penyalahgunaan miras dan narkoba).

Krisis karakter ini jika terus dibiarkan bagaimana keadaan generasi muda

bangsa/negara ini pada 5, 10, atau 20 tahun ke depan? Lebih ironis lagi ketika

sebagian generasi tua membudayakan praktik korupsi dengan wajah yang penuh

senyuman bahkan terlihat tanpa dosa walau sudah diputuskan bersalah. Kegiatan

politik uang akan bermunculan terutama pada kegiatan pemilu yang sebentar lagi

akan berlangsung. Akan semakin banyak muncul koruptor-koruptor atau pelaku-

pelaku kriminal baru di masa yang akan datang, karena generasi tua ini menjadi

cerminan generasi muda saat ini.

Saat ini krisis karakter yang sering ditemui pada generasi muda khususnya

pada siswa SMK Negeri 1 Tanah Miring diantaranya terlambat datang/masuk

sekolah, membolos, ucapan-ucapan yang tidak sopan/memaki, menyontek, tidak

jujur/berbohong, malas berusaha/tidak mau bekerja keras, kurangnya rasa hormat

pada orang yang lebih tua, membuang sampah sembarangan, merokok, bahkan

jika diadakan pemeriksaan alat telekomunikasi/HP, terdapat gambar-gambar atau

video yang bersifat pornografi. Di luar lingkungan sekolah pun tidak kalah

banyaknya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan generasi muda. Pelanggaran


3

lalu lintas, kebut-kebutan, mabuk-mabukkan bahkan seks bebas sepertinya sudah

menjadi hal yang umum dilakukan. Bagaimanakah nasib anak cucu kita ke

depannya? Sebelum generasi muda khususnya pelajar terjerumus dalam degradasi

karakter ini, maka menjadi kewajiban kita semua untuk mengatasi krisis karakter

ini.

Dalam pedoman pengembangan budaya dan karakter bangsa Kemendiknas

(2010:1), dituliskan bahwa:

salah satu alternatif yang banyak dikemukakan untuk mengatasi,


paling tidak mengurangi, masalah budaya dan karakter bangsa yang
dibicarakan itu adalah pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai
alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan membangun
generasi baru bangsa yang lebih baik. Sebagai alternatif yang
bersifat preventif, pendidikan diharapkan dapat mengembangkan
kualitas generasi muda bangsa dalam berbagai aspek yang dapat
memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah budaya
dan karakter bangsa. Memang diakui bahwa hasil dari pendidikan
akan terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak segera, tetapi
memiliki daya tahan dan dampak yang kuat di masyarakat.

Pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah harus dioptimalkan, karena ini

merupakan salah satu solusi bangsa ini dalam membendung krisis karakter pada

peserta didik. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan,

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk


watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan pendidikan nasional itu merupakan rumusan mengenai kualitas

manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Oleh

karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam


4

pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa. Walaupun masalah

pembentukan karakter bukan hanya tugas dunia pendidikan, melainkan juga tugas

bangsa secara keseluruhan, termasuk orang tua serta masyarakat, namun tentunya

dunia pendidikan berperan sangat penting untuk membangun generasi yang

berkarakter. Mereka yang disebut berkarakter kuat dan baik adalah perseorangan,

masyarakat atau bahkan bangsa yang memiliki akhlak, moral dan budi pekerti

yang baik, kata Presiden (Aqib, 2011:3). Pendidikan karakter di sekolah harus

dilaksanakan oleh segenap komponen sekolah, masyarakat, pemerintah dan

segenap stake-holders pendidikan. Karena tanpa adanya kerjasama yang baik,

pendidikan karakter di sekolah ini tidak akan berfungsi apa-apa. Orang tua pun

mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembentukan karakter anak.

Sekolah dan keluarga berpengaruh terhadap pembentukan karakter bangsa

peserta didik. Hal ini didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan Riyadi

(2013), bahwa peran keluarga dan peran sekolah berpengaruh secara simultan dan

parsial terhadap pembentukan karakter bangsa pada peserta didik Sekolah

Menengah Pertama di Distrik Kurik Kabupaten Merauke. Dengan semakin

baiknya peran keluarga yang diberikan maka akan diikuti dengan meningkatnya

pembentukan karakter bangsa pada peserta didik. Hasil penelitian ini sesuai

dengan pernyataan Kemendikbud (2012) yang menyatakan budaya yang

menyebabkan peserta didik tumbuh dan berkembang dimulai dari keluarga.

Keluarga adalah sumber belajar yang pertama dan terutama bagi anak. Anak akan

mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya. Apabila orangtua memberikan


5

contoh keteladanan yang baik, maka anak akan mencontoh perilaku tersebut. Hal

ini mempengaruhi pembentukan karakter anak.

Namun kerjasama antara sekolah dengan orangtua yang belum sinergis

semakin menambah beban implementasi pendidikan karakter di sekolah. Sekolah

yang berusaha menanamkan pendidikan karakter kadang kurang didukung oleh

lingkungan keluarga dan masyarakat. Keluarga seolah lepas tangan dengan

menganggap bahwa merupakan tanggung jawab sekolah dalam membentuk

karakter anak. Anak terabaikan di rumah, bahkan rumah menjadi wadah krisis

karakter karena adanya konflik yang terjadi di keluarga. Orang tua hanya sibuk

memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, sehingga persoalan non fisik seolah

terlupakan. Padahal justru sejak dalam kandungan, dan dilanjutkan pada masa

kanak-kanak, pembentukan karakter anak mulai dibentuk. Karena walaupun

lingkungan masyarakat tidak mendukung, namun jika keluarga telah menanamkan

dan membentuk karakter yang baik sejak awal, niscaya lingkungan tidak akan

terlalu banyak mengubah karakter seseorang.

Sudah saatnya sekolah mengefektifkan kembali pendidikan karakter secara

optimal. Pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah sebaiknya dimulai dari guru

sebagai orang yang digugu dan ditiru, yang paling sering berinteraksi langsung

dengan peserta didik. Guru terlebih dahulu harus memperbagus karakternya,

karena menjadi panutan sehari-hari peserta didik di sekolah. Misalnya dengan

berpakaian rapi, disiplin dan bertanggung jawab. Menurut Rifai (2011:103):

di dalam kelas, guru memiliki daya utama yang menentukan


norma-norma di dalam kelasnya dan otoritas guru sukar dibantah.
Guru menentukan apa yang harus dilakukan oleh murid agar ia
belajar. Ia menuntut agar anak-anak menghadiri setiap pelajaran
6

agar mereka berlaku jujur dalam ulangan, datang pada waktunya ke


sekolah, dan melakukan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.

Dan mengenai implementasi pendidikan karakter di lingkungan

pendidikan, sebenarnya sudah sejak dulu kurikulum di Indonesia telah

mengajarkan karakter bangsa yang sesuai dengan Pancasila, seperti pada mata

pelajaran PKn dan Agama. Namun hal ini dirasa tidak cukup dalam membentuk

karakter siswa, sehingga karakter bangsa ini kini diimplementasikan ke dalam

semua mata pelajaran di sekolah. Pada prinsipnya, pengembangan budaya dan

karakter bangsa tidak dimasukkan sebagai pokok bahasan tetapi terintegrasi ke

dalam mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya sekolah. Oleh karena itu,

guru dan sekolah perlu mengintegrasikan nilai-nilai yang dikembangkan dalam

pendidikan budaya dan karakter bangsa ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP), Silabus dan Rencana Program Pembelajaran (RPP) yang

sudah ada.

Silabus dan RPP di SMK Negeri 1 Tanah Miring belum semuanya memuat

nilai-nilai pendidikan karakter. Walaupun pendidikan karakter ini telah lama

dicanangkan oleh pemerintah, saat ini masih ditemui guru yang belum

memasukkan nilai pendidikan karakter ke dalam RPP yang dibuat. Berdasarkan

beberapa identifikasi masalah yang ditemui tersebut, sehingga dilakukan

penelitian dengan judul: Implementasi Manajemen Pendidikan Karakter di SMK

Negeri 1 Tanah Miring Kabupaten Merauke.


7

1.2. Fokus Penelitian

Berdasarkan identifikasi masalah pada latar belakang di atas, maka fokus

penelitian dibatasi pada beberapa unsur pokok berikut:

1. Penyusunan rencana yang implementatif sehingga pendidikan karakter dapat

diterapkan di SMK Negeri 1 Tanah Miring.

2. Pengorganisasian pendidikan karakter di SMK Negeri 1 Tanah Miring.

3. Pelaksanaan program implementasi pendidikan karakter di SMK Negeri 1

Tanah Miring.

4. Pengawasan implementasi pendidikan karakter di SMK Negeri 1 Tanah

Miring.

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi pendidikan karakter di SMK

Negeri 1 Tanah Miring.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan fokus penelitian tersebut, dapat dirumuskan masalah sebagai

berikut:

1. Bagaimana penyusunan rencana yang implementatif sehingga pendidikan

karakter dapat diterapkan di SMK Negeri 1 Tanah Miring?

2. Bagaimana pengorganisasian pendidikan karakter di SMK Negeri 1 Tanah

Miring?

3. Bagaimana pelaksanaan program implementasi pendidikan karakter bangsa

di SMK Negeri 1 Tanah Miring?


8

4. Bagaimana pengawasan terhadap implementasi pendidikan karakter bangsa di

SMK Negeri 1 Tanah Miring?

5. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi implementasi pendidikan karakter di

SMK Negeri 1 Tanah Miring?

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini dilakukan dengan

tujuan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui penyusunan rencana yang implementatif sehingga

pendidikan karakter dapat diterapkan di SMK Negeri 1 Tanah Miring.

2. Untuk mengetahui pengorganisasian pendidikan karakter di SMK Negeri 1

Tanah Miring.

3. Untuk mengetahui pelaksanaan program implementasi pendidikan karakter

bangsa di SMK Negeri 1 Tanah Miring.

4. Untuk mengetahui pengawasan terhadap implementasi pendidikan karakter

bangsa di SMK Negeri 1 Tanah Miring.

5. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi

pendidikan karakter di SMK Negeri 1 Tanah Miring.

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan harapan agar bisa memberikan manfaat

secara praktis dan teoritis sebagai berikut .


9

1.5.1 Manfaat Teoritis:

1. Memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan di

bidang manajemen pendidikan khususnya pada bidang pendidikan

karakter.

2. Menjadi referensi kepustakaan bagi SMK Negeri 1 Tanah Miring dan

menambah wawasan mengenai pendidikan karakter bangsa.

1.5.2 Manfaat Praktis:

1. Memberikan kontribusi berupa masukan kepada SMK Negeri 1 Tanah

Miring tentang implementasi pendidikan karakter di sekolah tersebut.

2. Sebagai bahan masukan bagi guru khususnya di SMK Negeri 1 Tanah

Miring mengenai perannya dalam pembentukan karakter peserta didik.

3. Sebagai bahan masukan bagi orang tua mengenai pentingnya peran

mereka sebagai sumber belajar awal dalam pembentukan karakter

anak.

4. Sebagai bahan rujukan atau referensi bagi penelitian lanjutan yang

relevan.