Anda di halaman 1dari 56

10

BAB II

KAJIAN TEORITIS

2.1 Kajian Pustaka

Dalam penelitian ini digunakan berbagai teori yang relevan untuk menjadi

dasar dalam penyelesaian masalah sebagai berikut.

2.1.1 Pendidikan

Pendidikan atau bisa dikatakan ilmu pendidikan dan

pedagogi/pedagogika merupakan suatu disiplin ilmu yang terkait dengan proses

pemeradaban, pemberbudayaan manusia, dan pendewasaan manusia (Rifai,

2011:55). Pendidikan bagi umat manusia adalah kebutuhan yang harus dipenuhi

sepanjang hidupnya. Manusia adalah makhluk yang dinamis, sehingga

mempunyai keinginan atau cita-cita untuk meraih kehidupan yang lebih baik dan

sejahtera, baik secara lahiriah maupun batiniah. Semakin tinggi cita-cita manusia,

maka menuntut peningkatan mutu pendidikan sebagai sarana untuk mencapai cita-

cita tersebut. Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam

keluarga, sekolah dan masyarakat.

2.1.1.1 Pengertian Pendidikan

Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani, Paedagogy, yang

mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang sekolah diantar seorang

pelayan. Sedangkan pelayan yang mengantar dan menjemput dinamakan

10
11

paedagogos. Dalam bahasa Romawi, pendidikan diistilahkan dengan educate

yang berarti mengeluarkan sesuatu yang berada di dalam. Dalam bahasa Inggris,

pendidikan diistilahkan to educate yang berarti memperbaiki moral dan melatih

intelektual (Noeng Muhadjir (2000), yang dikutip Suwarno, 2008:19).

Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau

kelompok orang dl usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan

pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik (Kamus Besar Bahasa Indonesia,

2008:326).

Fuad Ihsan (2010:7) menguraikan pengertian pendidikan sebagai berikut.

Pendidikan adalah aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan


kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yaitu
rohani (pikir, karsa, rasa, cipta dan budi pekerti) dan jasmani (panca
indera serta keterampilan-keterampilan).
Pendidikan juga berarti lembaga yang bertanggung jawab menetapkan
cita-cita (tujuan) pendidikan, isi, sistem dan organisasi pendidikan.
Lembaga-lembaga ini meliputi keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Pendidikan berarti pula hasil atau prestasi yang dicapai oleh
perkembangan manusia dan usaha lembaga-lembaga tersebut dalam
mencapai tujuannya.

Beberapa pengertian pendidikan yang dikutip oleh Suwarno (2008:21-22)

antara lain:

Menurut Driyarkara (1980), inti pendidikan adalah pemanusiaan manusia


muda. Pada dasarnya pendidikan adalah pengembangan manusia muda
ke taraf insane.
Menurut Ki Hajar Dewantara (1977:20), pendidikan merupakan tuntutan
bagi pertumbuhan anak-anak. Artinya, pendidikan menuntut segala
12

kekuatan kodrat yang ada pada diri anak-anak, agar mereka sebagai
manusia sekaligus sebagai anggota masyarakat dapat mencapai
keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Dalam UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tercantum
pengertian pendidikan:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peseta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa, dan
negara.

Berdasarkan beberapa pengertian pendidikan di atas, penulis menyimpulkan

bahwa pendidikan merupakan suatu usaha sadar dan sistematis dalam

mengembangkan potensi seseorang (terutama anak) yang diusahakan oleh

masyarakat dan bangsa dengan tujuan tertentu dalam mempersiapkan generasi

mudanya bagi keberlangsungan kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki

pengetahuan dan keterampilan, menjadi manusia yang berkarakter, berakhlak

mulia, berbudi pekerti luhur, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

2.1.1.2 Dasar, Fungsi, dan Tujuan Pendidikan Nasional

Berikut ini merupakan dasar, fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang

dikemukakan oleh Suwarno (2008:31-32).

a. Dasar

Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional


13

tercantum bahwa Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-

Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

b. Fungsi

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk

watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan

kehidupan bangsa.

c. Tujuan

Tujuan pendidikan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh kegiatan

pendidikan. Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi

peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada

Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,

mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

2.1.1.3 Komponen Pendidikan

Komponen pendidikan adalah semua hal yang berkaitan dengan jalannya

proses pendidikan. Jika salah satu komponen tidak ada, proses pendidikan tidak

akan bisa dilaksanakan. Berikut penjelasan komponen-komponen pendidikan

menurut Suwarno (2008:33-46).

a. Tujuan

Tujuan pendidikan menurut jenisnya terbagi dalam beberapa jenis, yaitu

tujuan nasional, institusional, kurikuler, dan instruksional. Tujuan nasional adalah

tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh suatu bangsa; tujuan institusional

adalah tujuan pendidikan yang ingin dicapai suatu lembaga pendidikan; tujuan
14

kurikuler adalah tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh suatu mata pelajaran

tertentu; dan tujuan instruksional adalah tujuan pendidikan yang ingin dicapai

oleh suatu pokok atau sub-pokok bahasan tertentu.

Sutari Imam Barnadib (1984:50-51) membedakan enam tujuan pendidikan

yaitu:

1. Tujuan umum

Merupakan tujuan yang akan dicapai di akhir proses pendidikan, yaitu

tercapainya kedewasaan jasmani dan rohani anak didik.

2. Tujuan khusus

Tujuan khusus adalah pengkhususan tujuan umum atas dasar usia, jenis

kelamin, sifat, bakat, inteligensi, lingkungan sosial budaya, tahap-tahap

perkembangan, tuntutan syarat pekerjaan, dan sebagainya.

3. Tujuan tidak lengkap

Adalah tujuan yang menyangkut sebagian aspek manusia, misalnya aspek

psikologis, biologis, atau sosiologis saja.

4. Tujuan sementara

Tujuan sementara adalah tujuan yang sifatnya sementara. Ketika tujuan

sementara berhasil dicapai, tujuan itu ditinggalkan dan diganti dengan tujuan

lain.

5. Tujuan intermediet

Tujuan intermediet adalah tujuan perantara bagi tujuan lainnya yang pokok.
15

6. Tujuan insidental

Tujuan insidental adalah tujuan yang ingin dicapai pada saat-saat tertentu, yang

sifatnya seketika dan spontan.

Menurut Bloom, tujuan pendidikan dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1. Cognitive domain

Meliputi kemampuan-kemampuan yang diharapkan dapat tercapai setelah

dilakukannya proses belajar mengajar. Kemampuan tersebut meliputi

pengetahuan, pengertian, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Keenam

kemampuan ini bersifat hierarkis, artinya untuk mencapai semuanya harus

sudah memiliki kemampuan sebelumnya.

2. Affective domain

Berupa kemampuan untuk menerima, menjawab, menilai, membentuk, dan

mengkarakterisasi.

3. Psychomotor domain

Terdiri dari kemampuan persepsi, kesiapan, dan respon terpimpin.

b. Peserta Didik

Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan

potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan

jenis pendidikan tertentu. Dasar hakiki diperlukannya pendidikan bagi peserta

didik adalah karena manusia merupakan makhluk susila yang dapat dibina dan

diarahkan untuk mencapai derajat kesusilaan. Peserta didik menurut sifatnya dapat

dididik, karena mereka mempunyai bakat dan disposisi-disposisi yang

memungkinkan untuk diberi pendidikan, diantaranya:


16

1. Tubuh anak sebagai peserta didik selalu berkembang sehingga semakin lama

semakin dapat menjadi alat untuk menyatakan kepribadiannya.

2. Anak dilahirkan dalam keadaan tidak berdaya. Keadaan ini menyebabkan

anak terikat pada orang dewasa di sekitarnya yang bertanggung jawab.

3. Anak membutuhkan pertolongan dan perlindungan serta membutuhkan

pendidikan

4. Anak mempunyai daya eksplorasi, mempunyai kekuatan untuk menemukan

hal-hal baru.

5. Anak mempunyai dorongan untuk mencapai emansipasi dengan orang lain.

c. Pendidik

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:326), pendidik artinya orang

yang mendidik. Menurut Suwarno (2008: 37-38), Pendidik adalah orang yang

dengan sengaja mempengaruhi orang lain untuk mencapai tingkat kemanusiaan

yang lebih tinggi. Dengan kata lain, pendidik adalah orang yang lebih dewasa

yang mampu membawa peserta didik ke arah kedewasaan. Sedangkan secara

akademis, pendidik adalah tenaga kependidikan, yaitu anggota masyarakat yang

mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan

yang berkualifikasi sebagai pendidik, dosen, konselor, pamong belajar,

widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan

kekhususannya, serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan.

Jadi, pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan

dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan

pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada


17

masyarakat, terutama bagi pendidik pada pendidikan tinggi. Artinya, pendidik

harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang

kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan

untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Pendidik atau guru dengan penuh kesadaran terus berusaha untuk

meningkatkan kinerjanya sesuai dengan tuntutan masyarakat dan negara, karena

keefektifan pendidikan diawali dengan kualitas perilaku mengajar pendidik/guru.

Kualitas guru dalam mengajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik itu eksternal

maupun internal, seperti tingkat pendidikan, penguasaan subjek, pengalaman, dan

kepribadian. Hal yang paling menyulitkan guru adalah menyeimbangkan antara

tuntutan untuk berbuat sesuai dengan norma yang ideal, yang menjadikannnya

panutan, dan suasana kehidupan masa kini yang ditandai dengan pola kehidupan

yang materialis, individual, konsumtif, kompetitif, dan sebagainya.

Faktor mendasar yang terkait dengan kinerja profesional guru adalah

kepuasaan kerja yang berkaitan dengan kesejahteraan guru. Menurut Surya yang

dikutip Rifai (2011: 114), Faktor-faktor yang melatarbelakangi kepuasan kerja

guru antara lain: imbalan jasa, rasa aman, hubungan antarpribadi, kondisi

lingkungan kerja, dan kesempatan untuk pengembangan dan peningkatan diri.

Tampaknya kelima faktor tersebut belum dapat sepenuhnya terwujud dalam

lingkungan guru masa kini.


18

d. Alat

Alat pendidikan adalah hal yang tidak saja membuat kondisi-kondisi yang

memungkinkan terlaksananya pekerjaan mendidik, tetapi juga mewujudkan diri

sebagai perbuatan atau situasi yang membantu pencapaian tujuan pendidikan.

Suwarno (2008: 38-39) mengutip Abu Ahmadi membedakan alat

pendidikan ini dalam beberapa kategori:

1. Alat pendidikan positif dan negatif

Alat pendidikan positif dimaksudkan agar anak mengerjakan sesuatu yang

baik, misalnya pujian agar anak mengulangi perbuatan yang baik. Alat

pendidikan negatif dimaksudkan agar anak tidak mengulangi perbuatan yang

buruk. Misalnya larangan atau hukuman bagi anak agar tidak mengulangi

perbuatan yang buruk menurut norma.

2. Alat pendidikan preventif dan korektif

Alat pendidikan preventif merupakan alat untuk mencegah anak mengerjakan

sesuatu yang tidak baik. Misalnya peringatan atau larangan.

Alat pendidikan korektif adalah alat untuk memperbaiki kesalahan atau

kekeliruan yang telah dilakukan peserta didik, misalnya hukuman.

3. Alat pendidikan yang menyenangkan dan tidak menyenangkan

Alat pendidikan yang menyenangkan merupakan alat yang digunakan agar

peserta didik menjadi senang, misalnya dengan hadiah atau ganjaran.

Sedangkan alat pendidikan yang tidak menyenangkan dimaksudkan

membuat peserta didik merasa tidak senang, misalnya dengan hukuman atau

celaan.
19

e. Lingkungan/Milieu

Lingkungan pendidikan merupakan lingkungan yang berkaitan dengan

terjadinya proses pendidikan. Lingkungan pendidikan meliputi lingkungan

keluarga, sekolah dan masyarakat. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan

yang pertama dan utama bagi anak. Mulai janin dalam kandungan, dilahirkan, dan

dibesarkan, pendidikan awal terletak pada keluarga. Untuk itu, agar kemampuan

dan kepribadian anak optimal, keluarga harus pula mengoptimalkan suasana

pendidikan di lingkungan keluarganya sedini mungkin. Pendidikan agama, ilmu

pengetahuan, dan keterampilan perlu dibekali agar anak nantinya dapat mandiri

dan bermanfaat bagi kehidupan sosial, bangsa dan agamanya.

Sedangkan sekolah sebagai lembaga resmi untuk menyelenggarakan

proses pendidikan, tidak kalah penting peranannya dalam mengembangkan

kemampuan sosial anak, mengembangkan keterampilan, kreatifitas, pengetahuan,

dan pengembangan nilai-nilai luhur. Sekolah sebagai salah satu lingkungan

pendidikan merupakan wahana yang mencerdaskan dan memberikan perubahan

kehidupan anak didik.

Lingkungan pendidikan yang tidak sistematis yang juga berkaitan dengan

kualitas pendidikan anggotanya, yaitu lingkungan masyarakat. Menurut Suwarno

(2008:47), masyarakat melanjutkan pendidikan dalam lingkup yang lebih luas,

termasuk di dalamnya pemahaman terhadap etika dan norma masyarakat tempat

peserta didik bergaul dan berinteraksi.

Untuk mengoptimalkan kemampuan, bakat, minat, dan kepribadian peserta

didik, dibutuhkan lingkungan pendidikan yang mendukung. Artinya lingkungan


20

keluarga, sekolah, dan masyarakat harus seimbang dan saling bekerja sama

dengan baik, sehingga tujuan pendidikan secara utuh dapat dicapai secara optimal

(Suwarno, 2008:48).

2.1.1.4 Perencanaan Pendidikan

Merencanakan pada dasarnya menentukan kegiatan yang hendak dilakukan

pada masa depan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengatur berbagai sumber

daya agar hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan. Menurut Fattah

(2000:54-60), ada beberapa jenis perencanaan pendidikan yaitu:

a. Menurut Besarannya (Magnitude)

1) Perencanaan Makro

Perencanaan makro adalah perencanaan yang menetapkan kebijakan-

kebijakan yang akan ditempuh, tujuan yang ingin dicapai dan cara-cara

mencapai tujuan itu pada tingkat nasional. Rencana pembangunan nasional

dewasa ini meliputi rencana dalam bidang ekonomi dan sosial. Dipandang

dari sudut perencanaan makro, tujuan yang harus dicapai negara

(khususnya dalam bidang peningkatan SDM) adalah pengembangan sistem

pendidikan untuk menghasilkan tenaga pembangunan baik secara

kuantitatif maupun kualitatif. Secara kuantitatif pendidikan harus

menghasilkan tenaga yang cukup banyak sesuai dengan kebutuhan

pembangunan. Sedangkan secara kualitatif harus dapat menghasilkan

tenaga pembangunan yang terampil sesuai dengan bidangnya dan memiliki

jiwa Pancasila.
21

2) Perencanaan Meso

Kebijaksanaan yang telah ditetapkan pada tingkat makro, kemudian

dijabarkan ke dalam program-program yang berskala kecil. Pada tingkat

ini perencanaan sudah lebih bersifat operasional disesuaikan dengan

departemen atau unit-unit (intermediate unit).

3) Perencanaan Mikro

Perencanaan mikro diartikan sebagai perencanaan pada tingkat

institusional dan merupakan penjabaran dari perencanaan tingkat meso.

Kekhususan dari lembaga mendapatkan perhatian, namun tidak boleh

bertentangan dengan apa yang telah ditetapkan dalam perencanaan makro

ataupun meso.

b. Menurut Tingkatannya

1) Perencanaan Strategik (Renstra)

Perencanaan strategik disebut juga dengan perencanaan jangka panjang.

Strategi itu menurut R.G. Muurdick (1983) diartikan sebagai konfigurasi

tentang hasil yang diharapkan tercapai pada masa depan. Bentuk

konfigurasi terungkap berdasarkan: (1) Ruang lingkup, (2) Hasil

persaingan, (3) Target, (4) Penataan sumber-sumber .

2) Perencanaan koordinatif (managerial)

Perencanaan koordinatif ditujukan untuk mengarahkan jalannya

pelaksanaan, sehingga tujuan yang telah ditetapkan itu dapat dicapai secara

efektif dan efisien. Perencanaan koordinatif biasanya sudah terperinci dan

menggunakan data statistik. Namun demikian kadang-kadang juga


22

menggunakan pertimbangan akal sehat. Perencanaan ini mempunyai

cakupan semua aspek koperasi suatu sistem yang meminta ditaatinya

kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan pada tingkat perencanaan

strategik.

3) Perencanaan Operasional

Perencanaan operasional memusatkan perhatian pada apa yang akan

dikerjakan pada tingkat pelaksanaan di lapangan dari suatu rencana

strategik. Perencanaan ini bersifat spesifik dan berfungsi untuk

memberikan petunjuk konkrit tentang bagaimana suatu program atau

proyek khusus dilaksanakan menurut aturan prosedur, dan ketentuan lain

yang ditetapkan secara jelas sebelumnya. Itulah sebabnya rencana

operasional ini telah dijabarkan dan diterjemahkan ke dalam data

kuantitatif yang dapat diukur dan biasanya dipergunakan juga dimensi

uang. Dengan demikian, rencana operasional mudah diukur, peranan

keberhasilan unit-unit mudah dibandingkan dan sekaligus dapat dijadikan

ukuran keberhasilan.

c. Menurut Jangka Waktunya

1) Perencanaan jangka pendek

Perencanaan jangka pendek adalah perencanaan tahunan atau perencanaan

yang dibuat untuk dilaksanakan dalam waktu kurang dari 5 tahun, sering

disebut sebagai rencana operasional. Perencanaan ini merupakan

penjabaran dari rencana jangka menengah dan jangka panjang.

2) Perencanaan jangka menengah


23

Perencanaan jangka menengah mencakup kurun waktu pelaksanaan 5-10

tahun. Perencanaan ini penjabaran dari rencana jangka panjang, tetapi

sudah lebih bersifat operasional.

3) Perencanaan jangka panjang

Perencanaan jangka panjang meliputi cakupan waktu di atas 10 tahun

sampai dengan 25 tahun. Perencanaan ini memiliki jangka menengah,

lebih-lebih lagi jika dibandingkan dengan perencanaan jangka pendek.

Dengan demikian perencanaan tahunan bukan hanya sekedar pembabakan

dari rencana 5 tahun, tetapi merupakan penyempurnaan dari rencana itu

sendiri.

2.1.2 Kepemimpinan Pendidikan

Penjelasan tentang kepemimpinan pendidikan akan dijabarkan melalui

pengertian kepemimpinan pendidikan, syarat dan fungsi kepemimpinan

pendidikan, tipe-tipe kepemimpinan pendidikan, keterampilan kepemimpinan

pendidikan, model-model kepemimpinan dalam pendidikan, serta karakteristik

dan strategi kepemimpinan dalam pendidikan.

2.1.2.1 Pengertian Kepemimpinan Pendidikan

Kepemimpinan berarti kemampuan dan kesiapan yang dimiliki oleh

seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun,

menggerakkan, mengarahkan, dan kalau perlu memaksa orang atau kelompok

agar menerima pengaruh tersebut dan selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat

membantu tercapainya suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan


24

(Makawimbang, 2012:29). Masih menurut Makawimbang (2012:29),

kepemimpinan pendidikan merupakan kemampuan untuk menggerakkan

pelaksanaan pendidikan, sehingga tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat

tercapai secara efektif dan efisien.

Menurut Soetopo dan Soemanto (1982) seperti yang dikutip

Makawimbang (2012:30) kepemimpinan pendidikan adalah kemampuan untuk

mempengaruhi dan menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan pendidikan

secara bebas dan sukarela.

Dari beberapa pengertian tersebut, penulis menyimpulkan bahwa

kepemimpinan pendidikan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi

dan menggerakkan orang lain (pelaksana pendidikan), dalam mencapai tujuan

pendidikan.

2.1.2.2 Syarat dan Fungsi Kepemimpinan Pendidikan

a. Syarat-syarat Kepemimpinan Pendidikan

Pemimpin pendidikan dalam perannya guna peningkatan mutu pendidikan

harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Menurut Makawimbang (2012:30),

syarat-syarat yang harus dimiliki pemimpin pendidikan tersebut antara lain:

1) Rendah hati dan sederhana

2) Bersifat suka menolong

3) Sabar dan memiliki kestabilan emosi

4) Percaya kepada diri sendiri

5) Jujur, adil dan dapat dipercaya


25

6) Keahlian dalam jabatan

b. Fungsi Kepemimpinan Pendidikan

Fungsi utama kepemimpinan pendidikan adalah kelompok untuk belajar

memutuskan dan bekerja, antara lain:

1) Pemimpin membantu terciptanya suasana persaudaraan, kerjasama, dengan

penuh rasa kebebasan.

2) Pemimpin membantu kelompok untuk mengorganisir dari yaitu ikut serta

dalam memberikan rangsangan dan bantuan kepada kelompok dalam

menetapkan dan menjelaskan ujian.

3) Pemimpin membantu kelompok dalam menetapkan prosedur kerja, yaitu

membantu kelompok dalam menganalisis situasi untuk kemudian menetapkan

prosedur mana yang lebih praktis dan efektif.

4) Pemimpin bertanggung jawab dalam mengambil keputusan bersama dengan

kelompok. Pemimpin memberi kesempatan kepada kelompok untuk belajar

dari pengalaman.

5) Pemimpin bertanggung jawab dalam mengembangkan dan mempertahankan

eksistensi organisasi. (Makawimbang, 2012:31)

2.1.2.3 Tipe-tipe Kepemimpinan Pendidikan

Adapun tipe-tipe kepemimpinan pendidikan menurut Makawimbang

(2012:31-33) sebagai berikut.


26

a. Tipe Otoriter

Seorang pemimpin yang tergolong otokratik memiliki serangkaian

karakteristik yang biasanya dipandang sebagai karakteristik yang negatif.

Seorang pemimpin otokraik adalah seorang yang egois. Pemimpin ini cenderung

menganut nilai organisasional yang berkisar pada pembenaran segala cara yang

ditempuh untuk pencapaian tujuannya, dan akan menunjukkan sikap yang

menonjolkan keakuannya dalam bentuk:

1) Kecenderungan memperlakukan bawahan sama dengan alat lain dalam

organisasi.

2) Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas.

3) Pengabaian peranan bawahan dalam proses pengambilan keputusan.

b. Tipe Demokratis

Ditinjau dari segi persepsinya, seorang pemimpin yang demokratik

biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator. Pemimpin

tipe ini menyadari bahwa organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga

menggambarkan secara jelas aneka tugas dan kegiatan yang harus dilaksanakan

demi tercapainya tujuan organisasi. Seorang pemimpin demokratik melihat

bahwa dalam perbedaan sebagai kenyataan hidup, harus terjamin kebersamaan.

Gaya kepemimpinan tipe ini:

1) Pandangan bahwa sumber daya dan dana yang tersedia bagi organisasi,

hanya dapat digunakan oleh menusia dalam organisasi untuk pencapaian

tujuan dan sasarannya.

2) Selalu mengusahakan pendelegasian wewenang yang praktis dan realistik.


27

3) Bawahan dilibatkan secara aktif dalam proses pengambilan keputusan.

4) Kesungguhan yang nyata dalam memperlakukan bawahan sebagai makhluk

politik, sosial, ekonomi, dan individu dengan karakteristik dan jati diri yang

khas.

5) Pengakuan bawahan atas kepemimpinannya didasarkan pada pembuktian

kemampuan memimpin organisasi dengan efektif.

c. Tipe Laissez-faire

Persepsi seorang pemimpin yang laissez-faire melihat perannya dengan

anggapan bahwa anggota organisasi sudah mengetahui dan cukup dewasa untuk

taat pada peraturan yang berlaku. Pemimpin ini cenderung memilih peran yang

pasif dan membiarkan organisasi berjalan menurut temponya sendiri. Ciri-ciri

tipe kepemimpinan ini:

1) Pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif

2) Pengambilan keputusan diserahkan kepada pejabat pimpinan yang lebih

rendah

3) Status quo organisasional tidak terganggu

4) Pengembangan kemampuan berpikir dan bertindak yang inovatif dan kreatif

diserahkan kepada anggota organisasi

5) Intervensi pemimpin dalam perjalanan organisasi berada pada tingkat yang

minimal.

d. Tipe Pseudo Demokratis

Tipe ini disebut juga demokratis semu atau manipulasi demokratik.


28

Pemimpin bertipe ini hanya tampaknya saja bersifat demokratis padahal

sebenarnya ia bersifat otokratis.

2.1.2.4 Keterampilan Kepemimpinan Pendidikan

Seorang pemimpin yang bermutu harus memiliki beberapa keterampilan

berikut:

a. Keterampilan dalam Memimpin

Pemimpin harus menguasai cara-cara kepemimpinan, memiliki keterampilan

memimpin supaya dapat bertindak sebagai pemimpin yang baik. Untuk hal

tersebut pemimpin harus mengetahui caranya menyusun rencana bersama,

mengajak anggota berpartisipasi, memberi bantuan kepada anggota

kelompok, bersama-sama membuat keputusan, membagi dan menyerahkan

tanggung jawab, dan sebagainya.

b. Keterampilan dalam Hubungan Insani

Pemimpin harus menjalin hubungan fungsional atau hubungan personal yang

biasa dikenal saling menghargai.

c. Keterampilan dalam Proses Kelompok

Pemimpin harus memiliki kemampuan dalam meningkatkan partisipasi

anggota kelompok setinggi-tingginya sehingga potensi yang dimiliki para

anggota dapat diefektifkan secara maksimal sehingga tanggung jawab

bersama terhadap perkembangan organisasi terjadi.

d. Keterampilan dalam Administrasi Personil

Pemimpin harus menggunakan keahlian dan kesanggupan yang dimiliki oleh

anggota kelompok secara efektif dan efisien dalam kegiatan seleksi,


29

pengangkatan, penempatan, penugasan, orientasi, pengawasan, bimbingan

dan pengembangan serta kesejahteraan.

e. Keterampilan dalam Menilai

Pemimpin harus mengetahui sampai di mana suatu kegiatan dalam organisasi

atau sampai di mana suatu tujuan sudah tercapai. (Makawimbang, 2012:34)

2.1.2.5 Model-model Kepemimpinan Dalam Pendidikan

Ada beberapa model kepemimpinan dalam pendidikan (Makawimbang,

2012:35-38), yaitu:

a. Kepemimpinan Visioner

Kepemimpinan visioner adalah kemampuan seorang pemimpin dalam

bagaimana mencipta, merumuskan, mengkomunikasikan/ mensosialisasikan dan

mengimplementasikan pemikiran-pemikiran ideal yang berasal dari dirinya atau

sebagai hasil interaksi sosial di antara anggota organisasi dan stakeholder yang

diyakini sebagai cita-cita organisasi di masa depan yang harus diraih atau

diwujudkan melalui komitmen semua personil. Seorang pemimpin yang visioner

mempunyai konsep tentang:

1) Bagaimana merekayasa masa depan untuk menciptakan pendidikan yang

produktif.

2) Menjadikan dirinya sebagai agen perubahan.

3) Memposisikan sebagai penentu arah organisasi.

4) Pelatih atau pembimbing yang professional.


30

5) Mampu menampilkan kekuatan pengetahuan berdasarkan pengalaman

profesional dan pendidikannya.

b. Kepemimpinan Karismatik

Teori kepemimpinan karismatik dari House menekankan kepada

identifikasi pribadi, pembangkitan motivasi oleh pemimpin dan pengaruh

pemimpin terhadap tujuan-tujuan dan rasa percaya diri para pengikut.

Kepemimpinan karismatik lebih menekankan kepada identifikasi pribadi sebagai

proses utama mempengaruhi dan internalisasi sebagai proses sekunder.

c. Kepemimpinan Transformasional

Bass (1985) mengemukakan sebuah teori kepemimpinan transformasional

(transformational leadership) yang dibangun atas gagasan-gagasan yang lebih

awal dari Burns (1978). Tingkatan sejauh mana seorang pemimpin disebut

transformasional terutama diukur dalam hubungannya dengan efek

kepemimpinannya tersebut terhadap para pengikutnya. Di mana para pengikut

dari seorang pemimpin transformasional merasa adanya Kepercayaan (Trust),

Kekaguman, Kesetiaan (Loyalty), dan Hormat Terhadap Pemimpin tersebut,

serta mereka termotivasi untuk melakukan lebih daripada yang awalnya

diharapkan terhadap mereka/terdorong untuk lebih sukses dari pemimpinnya.

2.1.2.6 Karakteristik dan Strategi Kepemimpinan Pendidikan

Makawimbang (2012:38-39), mengemukakan karakteristik kepemimpinan

pendidikan, strategi kepemimpinan pendidikan dan peran kepemimpinan

pendidikan sebagai berikut.


31

a. Karakteristik Kepemimpinan Pendidikan

Dalam menjalankan fungsi dan tugas, setiap pimpinan lembaga pendidikan harus

memperhatikan keputusan yang baik sebagaimana dikemukakan oleh S.P.

Siagian (1995) yang dikutip Makawimbang (2012:38) yaitu memenuhi syarat:

1) Keputusan yang dibuat harus berkaitan langsung dengan tujuan dan

berbagai sasaran yang ingin dicapai.

2) Keputusan yang diambil harus memenuhi syarat rasionalitas dan logika.

3) Keputusan yang diambil menggunakan pendekatan ilmiah digabung dengan

gaya berpikir yang kreatif, inovatif, intuitif, dan bahkan emosional.

4) Keputusan yang diambil harus dapat dilaksanakan.

5) Keputusan yang diambil harus diterima dan dipahami semua pihak.

b. Strategi Kepemimpinan Pendidikan

Lashway (1996) dalam Makawimbang (2012:39), strategi ialah pola

perilaku yang dirancang untuk mencapai kerjasama dari para anggota untuk

mencapai tujuan organisasi. Saat ini kepala sekolah memiliki tiga strategi, yaitu:

hirarkikal, transformasional, dan fasilitatif.

1) Penggunaan Strategi Hirarki oleh Kepala Sekolah, strategi hirarki

memberikan cara pandang luas, cara penerimaan luas dalam mengelola

organisasi, menyampaikan janji dan efisiensi, pengawasan dan rutinitas

yang direncanakan.

2) Penggunaan Strategi Transformasional, strategi transformasional berjalan

atas persuasi, idealisme, dan kekaguman intelektual, emotivasi pegawai

melalui nilai, symbol dan membagi visi.


32

3) Penggunaan Strategi Fasilitatif, kepemimpinan fasilitatif sebagai suatu

perilaku yang kemampuan kebersamaan dari sekolah untuk beradaptasi,

pemecahan masalah dan peningkatan kinerja.

c. Peran Kepemimpinan Pendidikan

Peran kepala sekolah sebagai pimpinan bertanggung jawab secara umum

terhadap kelancaran serta keberhasilan fungsi dan kegiatan sekolah. Menurut

Roe da Drake (1980:14) dalam Makawimbang (2012:39), dalam analisis tugas

dari kepala sekolah dibagi dalam dua kategori: penekanan pada

manajemen/administrasi, dan kegiatan yang menekankan kepada kepemimpinan

pengajaran.

2.1.3 Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Pendidikan

Manusia adalah makhluk Tuhan yang salah satu keunikan mendasar dalam

kehidupannya adalah dibekali dengan hakekat manusiawi yang terdiri dari hakekat

individualitas, hakekat sosialitas dan hakekat moralitas. Dalam hal hakekat

sosialitas manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kecenderungan untuk

saling berinteraksi dengan orang lain. Organisasi diciptakan manusia untuk

mencapai tujuan bersama. Organisasi adalah suatu sistem perserikatan formal

dari dua orang atau lebih yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu

(Hasibuan, 2011:5). Organisasi adalah sarana atau wadah kegiatan dari orang-

orang yang bekerja sama dalam pencapaian tujuan bersama. Organisasi juga

merupakan sekumpulan orang-orang yang disusun dalam kelompok-kelompok

yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Organisasi jika dilihat dari
33

sudut tujuannya dikenal organisasi perusahaan (business organization) dan

organisasi sosial (public organization)( Hasibuan, 2011:6).

Sekolah merupakan salah satu contoh organisasi sosial yang formal.

Dengan sekolah, kita diajarkan pergaulan yang baik, dapat memperbesar

kemampuan dari masing-masing siswa, dari yang tidak tahu menjadi tahu,

menghemat waktu yang diperlukan bagi siswa, tenaga pengajar, maupun dinas

setempat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pemimpin pendidikan pada

tingkat sekolah adalah kepala sekolah.

2.1.3.1 Pengertian Kepala Sekolah

Kepala sekolah merupakan kunci dalam membentuk kultur sekolah. Kepala

sekolah harus dapat membentuk budaya positif. Kepala sekolah harus dapat

menjalin hubungan dengan kelompok internal dan eksternal sekolah. Kepala

sekolah adalah seorang fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu

sekolah di mana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat di mana

terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima

pelajaran( Makawimbang, 2012:61).

2.1.3.2 Kompetensi Kepala Sekolah

Kepala sekolah yang bermutu harus memiliki kompetensi. Kompetensi

adalah kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan sesuatu)

(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008:719). Kompetensi kepala sekolah adalah

pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan seorang


34

kepala sekolah dalam kebiasaan berpikir, dan bertindak secara konsisten yang

memungkinkannya menjadi kompeten atau berkemampuan dalam mengambil

keputusan tentang penyediaan, pemanfaatan dan peningkatan potensi sumber daya

yang ada untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya (Makawimbang,

2012:64). Adapun kompetensi kepala sekolah tersebut.

1) Kompetensi kepribadian

2) Kompetensi manajerial

3) Kompetensi kewirausahaan

4) Kompetensi supervisi

5) Kompetensi sosial.

2.1.3.3 Tugas Pokok Kepala Sekolah

Kepala sekolah sebagai pimpinan tertinggi di dalam suatu sekolah

mempunyai tugas yang kompleks dan sangat menentukan maju mundurnya suatu

sekolah. Meskipun demikian, menurut Makawimbang (2012:81-87) standar

minimal prosedur tugas kepala sekolah dapat digolongkan menjadi tujuh pokok

sebagai berikut.

1. Kepala sekolah sebagai pendidik (Edukator):

a. Mengajar di kelas

b. Memberikan bimbingan kepada para guru

c. Memberikan bimbingan kepada karyawan

d. Memberikan bimbingan kepada siswa

e. Mengikuti perkembangan IPTEK


35

f. Memberi contoh bimbingan konseling/karier

2. Kepala sekolah sebagai manajer

a. Menyusun program sekolah

b. Menyusun organisasi kepegawaian di sekolah

c. Mengembangkan staf (guru dan karyawan)

d. Mengoptimalkan sumber daya sekolah

3. Kepala sekolah sebagai administrator

a. Mengelola administrasi KMB dan BK

b. Mengelola administrasi kesiswaan

c. Mengelola administrasi ketenagaan

d. Mengelola administrasi keuangan

e. Mengelola administrasi sarana/prasarana

f. Mengelola administrasi persuratan

4. Kepala sekolah sebagai supervisor (penyelia)

a. Menyusun program supervisi

b. Melaksanakan program supervisi

c. Memanfaatkan hasil supervisi

5. Kepala sekolah sebagai leader (pemimpin)

a. Memiliki kepribadian yang kuat

b. Memahami kondisi guru, karyawan dan siswa dengan baik

c. Memiliki visi dan memahami misi sekolah

d. Kemampuan mengambil keputusan

e. Kemampuan berkomunikasi
36

6. Kepala sekolah sebagai inovator

a. Kemampuan mencari/menemukan gagasan baru untuk pembaharuan

sekolah

b. Kemampuan melaksanakan pembaharuan di sekolah

7. Kepala sekolah sebagai motivator

a. Kemampuan mengatur lingkungan kerja

b. Kemampuan mengatur suasana kerja

c. Kemampuan menetapkan prinsip penghargaan dan hukuman (reward and

punishment)

2.1.3.4 Kepala Sekolah Yang Bermutu

Kepala sekolah memiliki peranan yang sangat kuat dalam

mengkoordinasikan, menggerakkan, dan menyerasikan semua sumber daya

pendidikan yang ada di sekolah. Kepala sekolah dituntut mempunyai kemampuan

manajemen dan kepemimpinan yang memadai agar mampu mengambil inisiatif

dan prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah. Manajemen sekolah merupakan

salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Menurut Rohman dan

Amri (2012:113) manajemen pendidikan mengandung pengertian proses untuk

mencapai tujuan pendidikan. Proses manajemen meliputi:

a. Perencanaan

b. Pengorganisasian

c. Pengarahan

d. Pemantauan
37

e. Penilaian

Menurut Makawimbang (2012:93-94), ciri-ciri kepala sekolah yang

bermutu dan memiliki kemampuan dalam menerapkan fungsi-fungsi manajemen

dengan sangat bagus sebagai berikut.

1. Dalam perencanaan meliputi (1) Kepala sekolah dapat menetapkan program-

program sekolah, (2) Kepala sekolah dapat merumuskan kebijakan-kebijakan

sekolah, (3) Kepala sekolah dapat menyusun program kerja sekolah, (4)

Kepala sekolah dapat merumuskan langkah-langkah pelaksanaan program.

2. Dalam pengorganisasian meliputi (1) Kepala sekolah dapat menempatkan

guru sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki dalam KBM, (2)

Kepala sekolah dapat mengatur penggunaan sarana dan prasarana yang ada

sesuai dengan kebutuhan siswa, guru, dan personel lain sehingga terjalin

kerjasama yang baik, (3) Kepala sekolah dapat memberikan solusi terhadap

berbagai masalah yang dihadapi oleh guru dan personel sekolah lainnya, (4)

Kepala sekolah dapat mengatur kerjasama dengan pihak atau instansi lain

untuk menyukseskan program-program sekolah.

3. Dalam penggerakan meliputi (1) Kepala sekolah dapat memotivasi guru

sehingga guru merasa mampu dan yakin untuk melaksanakan program-

program sekolah, (2) Kepala sekolah dapat memimpin dan mengarahkan

guru-guru dengan baik, (3) Kepala sekolah dapat mendorong guru-guru untuk

mengembangkan profesionalisme sesuai dengan bidangnya, (4) Kepala

sekolah dapat mendorong guru bekerja dengan tujuan untuk pencapaian

prestasi.
38

4. Dalam pengendalian meliputi (1) Kepala sekolah dapat mengevaluasi

program-program sekolah seperti yang telah ditetapkan dalam tahap

perencanaan, (2) Kepala sekolah dapat mengevaluasi kinerja guru dan

personel sekolah lainnya, (3) Kepala sekolah dapat memperbaiki

kesalahan/kelemahan yang telah dibuat oleh guru dan personal lainnya.

Sebagai pemimpin, ada beberapa faktor yang mempengaruhi efektifitas

kepala sekolah. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas pemimpin yaitu:

a. Kepribadian, pengalaman masa lalu dan harapan pemimpin

b. Pengharapan dan perilaku atasan

c. Karakteristik, harapan dan perilaku bawahan

d. Kebutuhan tugas

e. Iklim dan kebijakan organisasi mempengaruhi harapan dan perilaku bawahan

f. Harapan dan perilaku rekan (Rohman dan Amri, 2012:105)

Dalam hal kepribadian, kepala sekolah yang amanah merupakan salah satu

hal yang harus diperhatikan untuk menyukseskan pendidikan. Kepala sekolah

yang amanah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah dalam

mewujudkan visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolah melalui program-program

yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap (E. Mulyana, 2011:29).

2.1.4 Implementasi Pendidikan Karakter

Penjelasan tentang implementasi pendidikan karakter, meliputi hal-hal

antara lain: hakekat pendidikan karakter, pendidikan karakter bangsa, tujuan

pendidikan karakter, implementasi pendidikan karakter, indikator keberhasilan


39

pendidikan karakter, peran guru dalam implementasi pendidikan karakter, peran

kepala sekolah dalam implementasi pendidikan karakter, serta sistem penilaian

pendidikan karakter.

2.1.4.1 Hakikat Pendidikan Karakter

Adanya krisis karakter/moral akhir-akhir ini, banyak memunculkan usaha-

usaha untuk memperbaiki hal tersebut. Apalagi jika hal ini terjadi pada generasi

muda yang merupakan generasi harapan bangsa untuk membangun bangsa ini di

masa yang akan datang. Adanya tawuran pelajar, tawuran mahasiswa,

penyalahgunaan narkoba, miras, seks bebas, dan banyak lagi hal negatif lain

membuat siapapun menyesali hal tersebut. Berikut ini merupakan 9 indikasi yang

perlu mendapat perhatian agar generasi muda berubah ke arah yang lebih baik.

(Lickona, 2012:20).

1. Kekerasan dan tindakan anarki

Semakin banyaknya kasus tindak kekerasan (pembunuhan, kekerasan fisik,

pembunuhan dan lain-lain) yang dilakukan pemuda/remaja.

2. Pencurian

3. Tindakan curang (misalnya menyontek)

4. Pengabaian terhadap aturan yang berlaku

5. Tawuran antarsiswa

6. Ketidaktoleran (contohnya pada masalah SARA)

7. Penggunaan bahasa yang tidak baik

8. Kematangan seksual yang terlalu dini dan penyimpangannya


40

9. Sikap perusakan diri (penyalahgunaan miras dan narkoba).

Berdasarkan penelitian sejarah dari seluruh negara yang ada di dunia ini,

pada dasarnya pendidikan memiliki dua tujuan, yaitu membimbing para generasi

muda untuk menjadi cerdas dan memiliki perilaku berbudi. Mendidik seseorang

hanya untuk pintar tanpa disertai pendidikan moral berarti membangun suatu

ancaman bagi kehidupan. Hal mendasar dalam pendidikan adalah membangun

generasi yang cerdas dan berbudi. Menurut Lickona(2012:61-62), terdapat dua

macam nilai dalam kehidupan ini yaitu moral dan nonmoral. Nilai-nilai moral

seperti kejujuran, tanggung jawab, dan keadilan adalah hal-hal yang dituntut

dalam kehidupan ini. Nilai-nilai moral meminta kita untuk melaksanakan apa

yang sebaiknya kita lakukan. Kita harus melakukannya bahkan kalaupun

sebenarnya kita tidak ingin melakukannya. Nilai-nilai non moral tidak membawa

tuntutan-tuntutan seperti di atas. Nilai tersebut lebih menunjukkan sikap yang

berhubungan dengan apa yang kita inginkan ataupun yang kita suka.

Menurut Tadkiroatun Musfiroh, karakter mengacu kepada serangkaian

sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan

(skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti to mark atau

menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam

bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus,

dan berperilaku jelek lainnya dikatakan orang berperilaku jelek. Sebaliknya orang

yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter

mulia(Aqib dan Sujak, 2011:2-3).


41

2.1.4.2 Pendidikan Karakter Bangsa

Menurut Ardy Wiyani (2012:43), pendidikan karakter adalah proses

pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang

berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa. Menurut

Balitbang Kemendiknas (2010:3-4), Budaya diartikan sebagai keseluruhan sistem

berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan

masyarakat. Sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan itu adalah hasil

dari interaksi manusia dengan sesamanya dan lingkungan alamnya... Karakter

adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil

internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai

landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak Pendidikan

adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi

peserta didik. Pendidikan adalah juga suatu usaha masyarakat dan bangsa dalam

mempersiapkan generasi mudanya bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat

dan bangsa yang lebih baik di masa depan Berdasarkan pengertian budaya,

karakter bangsa, dan pendidikan yang telah dikemukakan di atas maka pendidikan

budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan

nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka

memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai

tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara

yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif .

Pendidikan karakter adalah usaha menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang

baik (habituation) sehingga peserta didik mampu bersikap dan bertindak


42

berdasarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya. Dengan kata lain,

pendidikan karakter yang baik harus melibatkan pengetahuan yang baik (moral

knowing), perasaan yang baik atau loving good (moral feeling) dan perilaku yang

baik (moral action) sehingga terbentuk perwujudan kesatuan perilaku dan sikap

hidup peserta didik.

Bagan 2.1
Alur Pikir Pembangunan Karakter

Sumber : Kemendiknas 2011

Berdasarkan alur pikir pada bagan 2.1 di atas, pendidikan merupakan salah

satu strategi dasar dari pembangunan karakter bangsa yang dalam pelaksanaannya

harus dilakukan secara koheren dengan beberapa strategi lain. Strategi tersebut

mencakup: sosialisasi atau penyadaran, pemberdayaan, pembudayaan, dan

kerjasama seluruh komponen bangsa. Pembangunan karakter dilakukan dengan

pendekatan sistematik dan integratif dengan melibatkan keluarga, satuan


43

pendidikan, pemerintah, masyarakat sipil, anggota legislatif, media massa, dunia

usaha, dan dunia industri (Kemendiknas, 2011:6).

2.1.4.3 Tujuan Pendidikan Karakter

Dalam panduan pelaksanaan pendidikan karakter Kemendiknas (2011:7),

pendidikan karakter bertujuan mengembangkan nilai-nilai yang membentuk

karakter bangsa yaitu Pancasila, meliputi: (1) mengembangkan potensi peserta

didik agar menjadi manusia berhati baik, berpikiran baik, dan berprilaku baik; (2)

membangun bangsa yang berkarakter Pancasila; (3) mengembangkan potensi

warganegara agar memiliki sikap percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya

serta mencintai umat manusia.

Masih dalam panduan tersebut, pendidikan karakter berfungsi.

(1) membangun kehidupan kebangsaan yang multikultural; (2)


membangun peradaban bangsa yang cerdas, berbudaya luhur, dan
mampu berkontribusi terhadap pengembangan kehidupan umat
manusia; mengembangkan potensi dasar agar berhati baik,
berpikiran baik, dan berperilaku baik serta keteladanan baik; (3)
membangun sikap warganegara yang cinta damai, kreatif,
mandiri, dan mampu hidup berdampingan dengan bangsa lain
dalam suatu harmoni.

Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yaitu keluarga,

satuan pendidikan, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan media massa. Nilai-

nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa

diidentifikasi dari sumber-sumber berikut ini.

1. Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena

itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran

agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun


44

didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan

itu, maka nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan

pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.

2. Pancasila: negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-

prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila.

Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut

dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang

terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan

politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni. Pendidikan

budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi

warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki

kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam

kehidupannya sebagai warga negara.

3. Budaya: sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup

bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui

masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian

makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antar anggota

masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan

masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan

budaya dan karakter bangsa.

4. Tujuan Pendidikan Nasional: sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki

setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan

pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat


45

berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh

karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional

dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa (Kemendiknas,

2010:7-8).

RUANG LINGKUP PENDIDIKAN KARAKTER beriman dan bertakwa,


jujur, amanah, adil,
cerdas, kritis, bertanggung jawab,
kreatif, inovatif, berempati, berani
ingin tahu, berpikir mengambil resiko,
terbuka, produktif, OLAH OLAH pantang menyerah, rela
berorientasi Ipteks, PIKIR HATI berkorban, dan berjiwa
dan reflektif patriotik

ramah, saling
OLAH
OLAH menghargai, toleran,
bersih dan sehat, RASA/
peduli, suka menolong,
RAGA
disiplin, sportif, KARSA
gotong royong,
tangguh, andal, nasionalis, kosmopolit ,
berdaya tahan, mengutamakan
bersahabat, kepentingan umum,
kooperatif, bangga menggunakan
determinatif, bahasa dan produk
kompetitif, ceria, Indonesia, dinamis,
dan gigih kerja keras, dan beretos
kerja

Bagan 2.2
Konfigurasi Pendidikan Karakter
(Sumber: Kemendiknas 2011)

2.1.4.4 Implementasi Pendidikan Karakter

Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter pada

satuan pendidikan, berdasarkan empat sumber tersebut (agama, pancasila, budaya,


46

dan tujuan diknas), telah teridentifikasi 18 nilai, yaitu: (1) Religius, (2) Jujur, (3)

Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6) Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokratis,

(9) Rasa Ingin Tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12)

Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/Komunikatif, (14) Cinta Damai, (15) Gemar

Membaca, (16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, (18) Tanggung Jawab.

No Nilai Deskripsi

1 Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan


ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap
pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan
pemeluk agama lain
2. Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya
sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam
perkataan, tindakan, dan pekerjaan
3. Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama,
suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang
berbeda dari dirinya.
4. Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh
pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5. Kerja Keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh
dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas,
serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya
6. Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara
atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7. Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada
orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8. Demokratis Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama
hak dan kewajiban dirinya dan orang
9. Rasa Ingin Tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk
mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang
dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
47

No Nilai Deskripsi
10. Semangat Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang
Kebangsaan menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas
kepentingan diri dan kelompoknya.
11. Cinta tanah air Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan
kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi
terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya,
ekonomi, dan politik bangsa.
12. Menghargai Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk
Prestasi menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan
mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13. Bersahabat/ Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara,
Komunikatif bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
14. Cinta Damai Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang
lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15. Gemar Membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai
bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16. Peduli Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah
Lingkungan kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan
mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki
kerusakan alam yang sudah terjadi
17. Peduli Sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan
pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18. Tanggung Jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas
dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap
diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan
budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Tabel 2.1

Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Sumber: Kemendiknas 2010


48

Meskipun telah dirumuskan 18 nilai pembentuk karakter bangsa, namun

sekolah dapat menentukan prioritas untuk melanjutkan nilai-nilai prakondisi yang

telah dikembangkan. Pemilihan nilai-nilai tersebut didasarkan pada kepentingan

dan kondisi sekolah masing-masing, yang dilakukan melalui analisis konteks,

sehingga dalam implementasinya dimungkinkan terdapat perbedaan jenis nilai

karakter yang dikembangkan antara satu sekolah dengan sekolah lainnya.

Implementasi nilai-nilai karakter yang akan dikembangkan dapat dimulai dari

nilai-nilai yang penting, sederhana, dan mudah dilaksanakan, seperti: bersih, rapi,

nyaman, disiplin, sopan dan santun.

Pada prinsipnya, pengembangan budaya dan karakter bangsa tidak

dimasukkan sebagai pokok bahasan tetapi terintegrasi ke dalam mata pelajaran,

pengembangan diri, dan budaya sekolah. Oleh karena itu, guru dan sekolah perlu

mengintegrasikan nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan

karakter bangsa ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Silabus

dan Rencana Program Pembelajaran (RPP) yang sudah ada.

Prinsip pembelajaran yang digunakan dalam pengembangan pendidikan

budaya dan karakter bangsa mengusahakan agar peserta didik mengenal dan

menerima nilai-nilai budaya dan karakter bangsa sebagai milik mereka dan

bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya melalui tahapan mengenal

pilihan, menilai pilihan, menentukan pendirian, dan selanjutnya menjadikan suatu

nilai sesuai dengan keyakinan diri. Dengan prinsip ini, peserta didik belajar

melalui proses berpikir, bersikap, dan berbuat. Ketiga proses ini dimaksudkan

untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam melakukan kegiatan


49

sosial dan mendorong peserta didik untuk melihat diri sendiri sebagai makhluk

sosial (Kemendiknas, 2010:11).

MATA PELAJARAN

NILAI PENGEMBANGAN DIRI

BUDAYA SEKOLAH

Bagan 2.3 Pengembangan Nilai-nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Setiap mata pelajaran dapat mengembangkan nilai pendidikan budaya dan

karakter bangsa. Untuk melihat gambaran keterkaitan antara mata pelajaran

dengan nilai yang dapat dikembangkan untuk pendidikan budaya dan karakter

bangsa, pada tabel berikut.

MATA NILAI BERDASARKAN JENJANG KELAS


PELAJARAN 10-12
PKn Semangat Kebangsaan Toleran
Cinta Tanah air Disiplin
MenghargaiPrestasi Kerja keras/cerdas
Bersahabat Kreatif
Komunikatif Mandiri
Cinta Damai Demokratis
Senang membaca Rasa ingin tahu
Peduli sosial Respek
Peduli lingkungan Bertanggung jawab
Religius Saling berbagi
Jujur
Bahasa Religius Menghargai Prestasi
50

Indonesia Jujur Bersahabat/Komunikatif


Toleransi Cinta Damai
Disiplin Peduli Sosial
Kerja Keras Peduli Lingkungan
Kreatif Berani *
Mandiri Kritis *
Demokratis Terbuka *
Rasa Ingin Tahu Humor *
Semangat Kebangsaan Kemanusiaan*
Cinta Tanah Air
Matematika Teliti Pantang menyerah
Kreatif Rasa ingin Tahu
Sejarah Semangat Kebangsaan Jujur
Cinta Tanah Air Toleransi
Mengharagai Prestasi Disiplin
Bersahabat/Komunikatif Kerjakeras
Cinta Damai Kreatif
Senang Membaca Mandiri
Peduli Sosial Demokratis
Peduli Lingkungan Rasa Ingin Tahu
Religius
Biologi Peduli Kesehatan Bersahabat/komunikatif
Religius Peduli sosial
Mandiri Tanggungjawab
Toleransi Peduli lingkungan
Fisika Rasa ingin tahu Toleransi
Senang membaca Cinta damai
Semangat kebangsaan Kerja keras
Jujur Berani
Peduli lingkungan Kreatif
Ekonomi Jujur Cinta tanah air
Peduli sosial Kerja keras
51

Rasa ingin tahu Disiplin


Kreatif Semangat kebangsaan
Mandiri Demokratis
Geografi Semangat kebangsaan Jujur
Cinta tanah air Toleransi
Menghargai prestasi Disiplin
Bersahabat Kerja keras
Cinta damai Kreatif
Senang membaca Mandiri
Peduli sosial Demokratis
Peduli lingkungan Rasa ingin tahu
Religius
Bahasa Inggris Bersahabat Mandiri
Komunikatif Kerja keras
Peduli sosial Disiplin
Rasa ingin tahu Senang membaca
Demokratis
Kimia Rasa Ingin tahu Peduli sosial
Jujur Religius
Peduli lingkungan Disiplin
Senang membaca Komunikatif
Kritis Mandiri
Kreatif Cinta tanah air
Toleran Cinta damai
Sosiologi Bersahabat Toleransi
Komunikasitif Disiplin
Cinta Damai Kerja Keras
Peduli Sosial Kreatif
Peduli Lingkungan Demokratis
Religius Rasa Ingin Tahu
Tabel 2.2 Peta Nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
Pada Jenjang Pendidikan Menengah
Sumber: Kemendiknas 2010
52

2.1.4.5 Indikator Keberhasilan Pendidikan Karakter

Dalam panduan pelatihan pengembangan pendidikan budaya dan karakter

bangsa (Kemendiknas, 2010:23-30), disebutkan ada dua jenis indikator yang

dikembangkan, pertama indikator untuk sekolah dan kelas, kedua indikator untuk

mata pelajaran. Indikator sekolah dan kelas adalah penanda yang digunakan oleh

kepala sekolah, guru, dan personalia sekolah dalam merencanakan, melaksanakan,

dan mengevaluasi sekolah sebagai lembaga pelaksana pendidikan budaya dan

karakter bangsa. Indikator ini berkenaan juga dengan kegiatan sekolah yang

diprogramkan dan kegiatan sekolah sehari-hari (rutin). Indikator mata pelajaran

menggambarkan perilaku efektif seorang peserta didik berkenaan dengan mata

pelajaran tertentu.

Indikator dirumuskan dalam bentuk perilaku peserta didik di kelas dan di

sekolah yang dapat diamati melalui pengamatan guru ketika seorang peserta didik

melakukan suatu tindakan di sekolah, tanya jawab dengan peserta didik, jawaban

yang diberikan peserta didik terhadap tugas dan pertanyaan guru, serta tulisan

peserta didik dalam laporan dan pekerjaan rumah.

Perilaku yang dikembangkan dalam indikator pendidikan budaya dan

karakter bangsa bersifat progresif. Artinya, perilaku tersebut berkembang semakin

kompleks antara satu jenjang kelas ke jenjang kelas di atasnya (1-3; 4-6; 7-9; 10-

12) dan bahkan dalam jenjang kelas yang sama. Guru memiliki kebebasan dalam

menentukan berapa lama suatu perilaku harus dikembangkan sebelum

ditingkatkan ke perilaku yang lebih kompleks. Indikator berfungsi bagi guru

sebagai kriteria untuk memberikan pertimbangan tentang perilaku untuk nilai


53

tertentu telah menjadi perilaku yang dimiliki peserta didik. (Kemendiknas,

2010:23-24)

2.1.4.6 Peran Sekolah Dalam Implementasi Pendidikan Karakter

Guru adalah pendidik profesional yang mempunyai tugas utama mendidik,

mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi

peserta didik atau siswa. Menurut Rifai (2011:115), di dalam kelas, guru harus

mampu menunjukkan kewibawaannya. Guru harus mampu mengendalikan,

mengontrol, dan mengatur kelakuan anak. Dengan kewibawaan yang dimiliki,

guru dapat menegakkan disiplin demi kelancaran proses belajar mengajar.

Dalam konteks pencapaian tujuan pendidikan karakter, guru menjadi ujung

tombak keberhasilan tersebut. Guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru,

mempunyai peran penting dalam aplikasi pendidikan karakter di sekolah maupun

di luar sekolah. Sebagai seorang pendidik, guru menjadi sosok figur dalam

pandangan anak, guru akan menjadi patokan bagi sikap anak didik.

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional diamanatkan bahwa

seorang guru harus memiliki kompetensi kepribadian yang baik. Kompetensi

kepribadian tersebut menggambarkan sifat pribadi dari seorang guru. Satu yang

penting dimiliki oleh seorang guru dalam rangka pengembangan karakter anak

didik adalah guru harus mempunyai kepribadian yang baik dan terintegrasi dan

mempunyai mental yang sehat. Profesi guru mempunyai 2 (dua) tugas penting,

yaitu mengajar dan mendidik. Kedua tugas tersebut selalu mengiringi langkah

sang guru baik pada saat menjalankan tugas maupun di luar tugas (mengajar).
54

Mengajar adalah tugas membantu dan melatih anak didik dalam memahami

sesuatu dan mengembangkan pengetahuan. Sedangkan mendidik adalah

mendorong dan membimbing anak didik agar maju menuju kedewasaan secara

utuh. Kedewasaan yang mencakup kedewasaan intelektual, emosional, sosial,

fisik, seni spiritual, dan moral. Pendidikan karakter dewasa ini menjadi solusi

alternatif bagi perkembangan siswa menjadi insan ideal.

Kepala sekolah dan guru memegang peranan penting dalam merancang,

merencanakan, melaksanakan, dan mengontrol kegiatan di sekolah. Situasi ini

bisa dijadikan sebagai potensi untuk bisa merancang tujuan pendidikan jangka

panjang di sekolah tersebut. Sudah saatnya setiap satuan pendidikan di Indonesia

melaksanakan pendidikan karakter di sekolah masing-masing. Guru harus mampu

mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam setiap mata pelajaran, termasuk

kegiatan ekstrakurikuler. Dengan demikian setiap satuan pendidikan telah proaktif

dalam proses internalisasi dan pengamalan nilai dan norma dalam kehidupan

nyata. Pendidikan karakter dikembangkan dan dilaksanakan di sekolah dengan

harapan mampu membentuk karakter ideal dalam diri siswa. Namun, sekolah

harus menyadari bahwa idealisme tersebut akan terhalang oleh sifat bawaan

seseorang maupun lingkungan mereka. Akhirnya, dengan diterapkannya sistem

pendidikan yang ideal maka bangsa Indonesia ini akan terbentuk menjadi sebuah

bangsa yang besar. Bangsa yang mampu menterjemahkan sebuah perbedaan

menjadi rahmat. Selain itu, sinergitas antara idealisme sistem pendidikan dengan

profesionalitas guru akan mampu menelorkan siswa-siswa yang ideal pula, yakni

menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
55

berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga

Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Copyright www.m-

edukasi.web.id Media Pendidikan Indonesia).

Sekolah merupakan wahana yang mencerdaskan dan memberikan

perubahan kehidupan anak-anak didik. Sekolah menjadi lembaga pendidikan

sebagai media berbenah diri dan membentuk nalar berpikir yang kuat dengan ilmu

pengetahuan dan teknologi serta membentuk karakter peserta didik dengan nilai-

nilai luhur.

Di sekolah, anak mengalami perubahan dalam tingkah lakunya. Proses

perubahan tingkah laku dalam diri anak sesuai dengan nilai-nilai sosial dan

kebudayaan yang tertuang dalam kurikulum. Kurikulum pendidikan yang

dilaksanakan oleh guru, salah satunya berfungsi untuk membentuk tingkah laku

menuju kepribadian yang dewasa secara optimal. Di sekolah, berlangsung proses

transformasi nilai-nilai luhur melalui pendidikan karakter. Pendidikan karakter

merupakan kata kunci dari proses transformasi nilai-nilai luhur di sekolah. Guru

menjadi transformer nilai-nilai luhur kepada peserta didik untuk menjadi bagian

dari masyarakat yang berbudaya (Ardy Wiyani, 2012:35).

Menurut Ibid yang dikutip Novan Ardy Wiyani (2012:35), fungsi

transformasi nilai-nilai luhur yang dilaksanakan oleh sekolah mencakup lima

dimensi, yaitu:

a. Pendidikan tidak hanya mencakup pengetahuan dan keterampilan semata

tetapi juga sikap, nilai, dan kepekaan pribadi.


56

b. Peran seleksi sosial (mencakup tidak hanya pemberian sertifikat, tetapi juga

melakukan seleksi terhadap peluang kerja).

c. Fungsi indoktrinasi.

d. Fungsi pemeliharaan anak.

e. Aktivitas kemasyarakatan.

2.1.4.7 Pengembangan Kurikulum

Dalam Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter Kemendiknas (2011:18-

20), prosedur pengembangan kurikulum yang mengintegrasikan pendidikan

karakter di satuan pendidikan dilakukan melalui tahapan perencanaan,

pelaksanaan, evaluasi, dan pengembangan.

1. Sosialisasi

a. Melaksanakan sosialisasi pendidikan karakter dan melakukan komitmen

bersama antara seluruh komponen warga sekolah/satuan pendidikan

(stakeholder).

b. Membuat komitmen dengan semua stakeholder (seluruh warga sekolah,

orang tua siswa, komite, dan tokoh masyarakat setempat) untuk mendukung

pelaksanaan pendidikan karakter.

2. Perencanaan

a. Melakukan analisis konteks terhadap kondisi sekolah/satuan pendidikan

(internal dan eksternal) yang dikaitkan dengan nilai-nilai karakter yang akan

dikembangkan pada satuan pendidikan yang bersangkutan. Analisis ini

dilakukan untuk menetapkan nilai-nilai dan indikator keberhasilan yang


57

diprioritaskan, sumber daya, sarana yang diperlukan, serta prosedur penilaian

keberhasilan.

b. Menyusun rencana aksi sekolah/satuan pendidikan berkaitan dengan

penetapan nilai-nilai pendidikan karakter.

c. Membuat program perencanaan dan pelaksanaan pendidikan karakter serta

memasukkan karakter utama yang telah di tentukan dalam:

Pengintegrasian melalui pembelajaran

Pengintegrasian melalui muatan lokal

Kegiatan lain yang dapat diintegrasikan nilai-nilai pendidikan karakter,

misalnya pengembangan diri, pengembangan kepribadian profesional

pada pendidikan kesetaraan.

d. Membuat perencanaan pengkondisian, seperti:

Penyediaan sarana

Keteladanan

Penghargaan dan pemberdayaan

Penciptaan kondisi/suasana sekolah atau satuan pendidik

Mempersiapkan guru/pendidik melalui workshop dan pendampingan

3. Pelaksanaan

a. Melakukan penyusunan KTSP yang memuat pengembangan nilai-nilai

pendidikan karakter.

Mendata kondisi dokumen awal (mengidentifikasi nilai-nilai pendidikan

budaya dan karakter bangsa dalam dokumen I)


58

Merumuskan nilai-nilai pendidikan karakter di dalam Dokumen I (latar

belakang pengembangan KTSP, Visi, Misi, Tujuan Sekolah/satuan

pendidikan, Struktur dan Muatan Kurikulum, Kalender Pendidikan, dan

program Pengembangan Diri/pengembangan kepribadian profesional)

Mengembangkan peta nilai yang telah terpilih dari tahun pertama sampai

tahun terakhir satuan pendidikan

Mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan karakter yang telah terpetakan

dalam dokumen II (silabus dan RPP)

b. Melakukan pengkondisian, seperti:

Penyediaan sarana

Keteladanan

Penghargaan dan pemberdayaan

Penciptaan kondisi/suasana sekolah

Mempersiapkan guru melalui workshop dan pendampingan

4. Evaluasi

Melakukan penilaian keberhasilan dan supervisi:

Untuk keberlangsungan pelaksanaan pendidikan karakter perlu dilakukan

penilaian keberhasilan dengan menggunakan indikator-indikator berupa

perilaku semua warga dan kondisi sekolah/satuan pendidikan yang teramati.

Penilaian ini dilakukan secara terus menerus melalui berbagai strategi.

Supervisi dilakukan mulai dari menelaah kembali perencanaan, kurikulum, dan

pelaksanaan semua kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan karakter, yaitu:


59

Implementasi program pengembangan diri berkaitan dengan

pengembangan nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa dalam

budaya sekolah/satuan pendidikan.

Kelengkapan sarana dan prasarana pendukung implementasi

pengembangan nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa

Implementasi nilai-nilai pendidikan karakter dalam pembelajaran

Implementasi belajar aktif dalam kegiatan pembelajaran

Ketercapaian Rencana Aksi Sekolah/satuan pendidikan berkaitan dengan

penerapan nilai-nilai pendidikan karakter

Penilaian penerapan nilai pendidikan karakter pada pendidik, tenaga

kependidikan, dan peserta didik (sebagai kondisi akhir)

Membandingkan kondisi awal dengan kondisi akhir dan merancang

program lanjutan.

5. Pengembangan

a. Menetapkan/menentukan nilai karakter baru yang akan dikembangkan

b. Menemukan cara-cara baru dalam mengembangkan nilai-nilai karakter yang

lama dan baru

c. Memperkaya sarana dan prasarana yang mendukung pelaksanaan nilai-nilai

karakter yang dipilih

d. Meningkatkan komitmen dan kesadaran masyarakat untuk mendukung

program Pendidikan Karakter


60

2.1.4.8 Sistem Penilaian Pendidikan Karakter

Penilaian pencapaian pendidikan nilai budaya dan karakter didasarkan

pada indikator. Penilaian dilakukan secara terus menerus, setiap saat guru berada

di kelas atau di sekolah. Model anecdotal record (catatan yang dibuat guru ketika

melihat adanya perilaku yang berkenaan dengan nilai yang dikembangkan) selalu

dapat digunakan guru. Selain itu, guru dapat pula memberikan tugas yang

berisikan suatu persoalan atau kejadian yang memberikan kesempatan kepada

peserta didik untuk menunjukkan nilai yang dimilikinya. Sebagai contoh, peserta

didik dimintakan menyatakan sikapnya terhadap upaya menolong pemalas,

memberikan bantuan terhadap orang kikir, atau hal-hal lain yang bersifat bukan

kontroversial sampai kepada hal yang dapat mengundang konflik pada dirinya.

Dari hasil pengamatan, catatan anekdotal, tugas, laporan, dan sebagainya,

guru dapat memberikan kesimpulan atau pertimbangan tentang pencapaian suatu

indikator atau bahkan suatu nilai. Kesimpulan atau pertimbangan itu dapat

dinyatakan dalam pernyataan kualitatif sebagai berikut ini.

BT : Belum Terlihat (apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda-tanda

awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator).

MT : Mulai Terlihat (apabila peserta didik sudah mulai memperlihatkan adanya

tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator tetapi belum

konsisten).

MB : Mulai Berkembang (apabila peserta didik sudah memperlihatkan berbagai

tanda perilaku yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten).


61

MK : Membudaya (apabila peserta didik terus menerus memperlihatkan perilaku

yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten).

Pernyataan kualitatif di atas dapat digunakan ketika guru melakukan

asesmen pada setiap kegiatan belajar sehingga guru memperoleh profil peserta

didik dalam satu semester tentang nilai terkait (jujur, kerja keras, peduli, cerdas,

dan sebagainya). Guru dapat pula menggunakan BT, MT, MB atau MK tersebut

dalam rapor. Posisi nilai yang dimiliki peserta didik adalah posisi seorang peserta

didik di akhir semester, bukan hasil tambah atau akumulasi berbagai

kesempatan/tindakan penilaian selama satu semester tersebut. Jadi, apabila pada

awal semester seorang peserta didik masih dalam status BT sedangkan pada

penilaian di akhir semester yang bersangkutan sudah berada pada MB maka untuk

rapor digunakan MB. Ini membedakan penilaian hasil belajar pengetahuan dengan

nilai dan ketrampilan. (Kemendiknas, 2010:22-23)

2.2 Hasil Penelitian yang Relevan

Hasil penelitian yang mendukung penelitian ini diantaranya.

1. Riyadi (2013), judul Pengaruh Peran Keluarga dan Sekolah Terhadap

Pembentukan Karakter Bangsa Pada Peserta Didik Sekolah Menengah

Pertama di Distrik Kurik Kabupaten Merauke. Dari hasil penelitiannya

diperoleh simpulan bahwa secara umum pembentukan karakter bangsa pada

peserta didik Sekolah Menengah Pertama di Distrik Kurik Kabupaten

Merauke dipengaruhi oleh dua variabel, yaitu peran keluarga dan peran

sekolah. Dengan menggunakan analisis regresi linier berganda ditarik


62

kesimpulan bahwa peran keluarga dan peran sekolah berpengaruh secara

simultan terhadap pembentukan karakter bangsa pada peserta didik Sekolah

Menengah Pertama di Distrik Kurik Kabupaten Merauke, yaitu sebesar

33,5%. Peran keluarga sebesar 35,6% dan peran sekolah sebesar 28,5%

berpengaruh secara parsial terhadap pembentukan karakter bangsa pada

peserta didik Sekolah Menengah Pertama di Distrik Kurik Kabupaten

Merauke.

2. R. Nahrawati (2013) tentang pentingnya penanaman karakter kejujuran dalam

proses pembelajaran. Hasil penelitian ini yaitu SMK Bina Banua Banjarmasin

sejak dicanangkan oleh pemerintah sudah melaksanakan pembelajaran

berbasis karakter. Sekolah ini memasukkan nilai-nilai karakter pada setiap

pelajaran. Meskipun belum diprogramkan secara tertulis, setiap pembelajaran

yang diajarkan selalu ditanamkan nilai-nilai karakter khususnya nilai-nilai

kejujuran. Namun dari hasil temuan diketahui bahwa tidak semua siswa SMK

Bina Banua Banjarmasin bertindak jujur, masih saja ada siswa yang tidak

menerapkannya dalam pembelajaran. Penyebab ketidakjujuran siswa ini

karena faktor kesulitan (malas untuk belajar) dan faktor keadaan suasana

belajar yang tidak kondusif sehingga siswa tidak dapat mengembangkan

potensi dirinya untuk memiliki sikap karakter, pengendalian diri dan jujur.

3. Muhammad Erwansyah (2010) tentang Pendidikan Karakter Di Sekolah

Menengah Atas Oleh Guru Bimbingan dan Konseling (BK).

Hasil penelitiannya adalah faktor pendukung pendidikan karakter di sekolah

A adalah komponen sekolah yang sudah bisa menjadi uswatun hasanah,


63

menggunakan sistem asrama. Sedangkan faktor penghambatnya kurang

memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh para guru untuk menjadi public

figure bagi peserta didik. Faktor pendukung di sekolah B adalah adanya

kerjasama dan komunikasi yang solid, fasilitas mengajar yang lengkap dan

mendukung. Sedangkan faktor penghambatnya adanya beberapa pihak yang

belum paham tentang tujuan penerapan pendidikan karakter di sekolah.

Faktor pendukung di sekolah C adalah lingkungan atau suasana sekolah yang

kondusif dan mendukung, selain itu kegiatan yang diadakan di sekolah sudah

rutin dan terjadwal. Sedangkan faktor penghambatnya tidak seimbangnya

antara jumlah guru BK dan peserta didik.

4. Sri Setyowati (2011), judul Pendidikan di Negeri Multikultur Sebuah

Pemikiran Pendidikan Berkarakter Bangsa, guru harus bisa menjadi teladan,

harus berkepribadian terpuji, tidak hanya mengajar, tapi juga mendidik.

Dalam memperoleh visi yang jelas tentang pendidikan berkarakter

kebangsaan yang multikultur ini, diperlukan penyadaran dari diri pendidik

lebih dulu, mengidentifikasi karakter sendiri, tidak larut oleh fadisme,

mengusahakan diri sebagai teladan yang baik dan kuat, menghargai

keberagaman budaya bangsa, mempergunakan hak otonomi profesional yang

kreatif dan mandiri, serta bertanggung jawab dalam menemukan jati diri

bangsa sendiri.

2.3 Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran dalam penelitian ini:


64

1. Pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah harus dioptimalkan, karena ini

merupakan salah satu solusi bangsa ini dalam membendung krisis karakter

pada peserta didik. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan, Pendidikan nasional

berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa

yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan

untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang

beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,

berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis

serta bertanggung jawab.

2. Pada prinsipnya, pengembangan budaya dan karakter bangsa tidak

dimasukkan sebagai pokok bahasan tetapi terintegrasi ke dalam mata

pelajaran, pengembangan diri, dan budaya sekolah. Oleh karena itu, guru dan

sekolah perlu mengintegrasikan nilai-nilai yang dikembangkan dalam

pendidikan budaya dan karakter bangsa ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP), Silabus dan Rencana Program Pembelajaran (RPP) yang

sudah ada.

3. Prosedur pengembangan kurikulum yang mengintegrasikan pendidikan

karakter di satuan pendidikan dilakukan melalui tahapan perencanaan,

pelaksanaan, evaluasi, dan pengembangan.

4. Diharapkan dengan implementasi pendidikan karakter bangsa di sekolah,

terbentuk peserta didik yang berkarakter sesuai dengan 18 nilai karakter

bangsa.
65

Pendidikan Karakter Bangsa

SMK Negeri 1 Tanah Miring

Perencanaan Pengorganisasian Pelaksanaan Pengawasan

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi

Peserta Didik Berkarakter

Bagan 2.4
Kerangka Pemikiran