Anda di halaman 1dari 55

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan sekaligus investasi sumber daya
manusia, serta memiliki kontribusi yang besar untuk meningkatkan Indeks
Pembangunan Manusia (IPM). Pemeliharaan, peningkatan, serta pemeliharaan
kesehatan menjadi suatu keharusan semua pihak dalam terwujudnya kesejahteraan
bagi seluruh rakyat Indonesia .1
Dalam mengupayakan kesehatan diperlukan suatu pembangunan kesehatan.
Makna umum pembangunan di Indonesia adalah untuk meningkatkan kualitas
manusia dan kualitas kehidupan masyarakat. Pada umumnya kualitas kehidupan
masyarakat pedesaan di negara kita masih rendah terutama segi pendidikan,
kesehatan dan pemukiman.1
Pembangunan nasional yang sedang dilaksanakan sekarang ini masih
menghadapi masalah-masalah antara lain mengenai kependudukan, pendidikan,
kesehatan dan lingkungan hidup. Tugas pembangunan tersebut hanya akan
terlaksana apabila didukung oleh sumber daya alam dan sumber daya manusia yang
berbudi luhur, tangguh, cerdas dan terampil, serta berorientasi ke masa depan untuk
menciptakan kondisi kehidupan yang lebih baik. Ciri kehidupan masyarakat yang
baik antara lain tercermin pada perilaku manusia dan kondisi pemukiman yang
sehat.1
Sebagian besar penduduk Indonesia bertempat tinggal di daerah pedesaan.
Pada umumnya mereka masih berada pada tingkat kesejahteraan dan kualitas hidup
yang rendah. Diperkirakan penduduk Indonesia yang berada di bawah garis
kemiskinan berjumlah dua puluh juta orang dan sebagian besar diantaranya berada
di daerah pedesaan. Hal ini mengisyaratkan bahwa masyarakat pedesaan patut lebih
mendapat perhatian dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup.1

1
Derajat kesehatan masyarakat yang optimal dapat terwujud jika masyarakat
indonesia hidup dalam lingkungan dan perilaku yang sehat. Hal ini merupakan
salah satu dari indikator Indonesia Sehat 2010 dan target dari Millenium
Development Goal (MDG) tahun 2015. Rumah yang sehat merupakan salah satu
sarana untuk mencapai derajat kesehatan yang optimum.2
Masalah perumahan sendiri telah diatur dalam undang-undang Republik
Indonesia tentang perumahan dan kawasan Pemukiman No. 1/2011 yang berbunyi
Bahwa setiap warga Negara berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat
tinggal dan sehat, yang merupakan kebutuhan dasar manusia dan mempunyai peran
yang sangat strategis dalam pembentukan watak serta kepribadian bangsa sebagai
salah satu upaya membangun manusia seutuhnya, berjati diri, mandiri dan
produktif.3
Berdasarkan perhitungan Direktorat Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan, Kemenkes RI, 2015, secara nasional di Indonesia terdapat 61,81%
rumah yang memenuhi syarat kesehatan. Hasil ini belum memenuhi target Renstra
Kementrian Kesehatan tahun 2014 yaitu 77%. Provinsi yang dengan persentase
tertinggi adalah Bali yaitu 88,12% dan Maluku Utara dengan 81,80%. Untuk daerah
Jawa Tengah sendiri yaitu 70,40%, masih dibawah target Renstra Kementrian
Kesehatan tahun 2014.4
Untuk Kabupaten Magelang sendiri, setelah dilakukan pendataan pada tahun
2014 didapatkan hasil cakupan rumah sehat di kabupaten Magelang adalah 58,80%
dan pencapaian rumah sehat sendiri sebesar 41,20%. Hal ini masih terus
ditingkatkan di kabupaten Magelang demi meningkatkan upaya rumah sehat.5
Dari hasil Standar Pelayanan Minimal (SPM) wilayah kerja Puskesmas
Tempuran periode Januari Desember 2016, didapatkan cakupan rumah tangga
sehat sebesar 47.17%, nilai ini masih kurang bila dibandingkan dengan target
Dinkes Magelang tahun 2016 yaitu sebesar 70%. Sedangkan untuk desa Girirejo
sendiri sudah memenuhi target pencapaian dari Dinas kesehatan, yaitu sebesar
89,20% namun terdapat masalah pada beberapa dusun di desa tersebut karena
kurangnya cakupan rumah sehat. Berdasarkan hasil inspeksi sanitasi yang
dilaksanakan pada tanggal 13 Februari 2017 didapatkan hasil cakupan rumah sehat

2
di Dusun Ngemplak sebanyak 3,33% dan pencapaianya sebesar 4,75% dengan
perincian dari 30 rumah yang diperiksa hanya 1 rumah yang memenuhi indikator
rumah sehat. Hal ini menunjukan bahwa pencapaian rumah sehat di dusun
Ngemplak masih dibawah target dinas kesehatan Magelang. Oleh karena itu perlu
dicari penyebab dari banyaknya rumah sehat yang belum sesuai harapan
Berdasarkan data diatas dapat kita ketahui bahwa rumah di Indonesia masih
jauh dari definisi sehat yang sebenarnya. Oleh karena itu, saya perlu mengadakan
penelitian yang berjudul Rencana Peningkatan Cakupan Rumah Sehat Dusun
Ngemplak, Desa Girirejo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang Periode
Januari-Desember 2016.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, diatas maka dirumuskan masalah
rendahnya rumah sehat di Dusun Ngemplak, Desa Girirejo, apa yang menjadi faktor
penyebab rendahnya cakupan rumah sehat dan bagaimana cara mencari alternatif
pemecahan masalah yang sesuai dengan penyebab masalah yang ditemukan?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Menganalisa penyebab kurangnya cakupan rumah sehat di Dusun Ngemplak,
Desa Girirejo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang dan memberikan
solusi kesehatan lingkungan di dusun tersebut.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui data umum (keadaan geografis, demografis, dan sosial
ekonomi) di Dusun Ngemplak, Desa Girirejo, Kecamatan Tempuran,
Kabupaten Magelang.
b. Mengetahui penyebab masalah rendahnya cakupan rumah sehat di Dusun
Ngemplak, Desa Girirejo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang
melalui pendekatan sistem (input, output, dan lingkungan).
c. Mengetahui sudah atau terlakasananya kegiatan yang berkaitan dengan
promosi kesehatan mengenai rumah sehat seperti penyuluhan, pengawasan

3
rumah sehat, serta pendataan rumah sehat secara langsung di Dusun
Ngemplak, Desa Girirejo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang.
d. Mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat Dusun Ngemplak, Desa
Girirejo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang mengenai rumah
sehat.
e. Mencari pemecahan masalah rumah tidak sehat di Dusun Ngemplak, Desa
Girirejo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang.

D. Manfaat Penelitian
1. Laporan penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan data
tentang cakupan rumah sehat di Dusun Ngemplak, Desa Girirejo,
Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang.
2. Melalui penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan
masyarakat mengenai kriteria rumah sehat, sehingga dapat meningkatkan
derajat kesahatan warga Dusun Ngemplak, Desa Girirejo, Kecamatan
Tempuran, Kabupaten Magelang.
3. Sebagai masukan bagi Puskesmas Tempuran dalam pengambilan
keputusan dalam program kesehatan lingkungan.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Rumah Sehat
1. Definisi Rumah Sehat
Menurut WHO, rumah adalah struktur fisik atau bangunan untuk tempat
berlindung, dimana lingkungan berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani serta
keadaan sosialnya baik demi kesehatan keluarga dan individu. Arti kata sehat
menurut WHO yang lebih terperinci sebagai keadaan kesehatan jasmani, rohani,
dan sosial yang baik dan lengkap, bukan hanya terhindar dari penyakit atau
kelemahan.6,7
Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan
Permukiman, perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari permukiman,
baik perkotaan maupun pedesaan, yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan
utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni.3 Rumah
adalah sebuah tempat tujuan akhir dari manusia. Rumah menjadi tempat berlindung
dari cuaca dan lingkungan sekitar, menyatukan sebuah keluarga, meningkatkan
tumbuh kembang kehidupan setiap manusia, dan menjadi bagian dari gaya hidup
manusia.8
Rumah sehat dapat diartikan sebagai tempat berlindung, bernaung, dan
tempat untuk beristirahat, sehingga menumbuhkan kehidupan yang sempurna baik
fisik, rohani, maupun sosial. Rumah harus dapat mewadahi kegiatan penghuninya
dan cukup luas bagi seluruh pemakainya, sehingga kebutuhan ruang dan aktifitas
setiap penghuninya dapat berjalan dengan baik. Lingkungan rumah juga sebaiknya
terhindar dari faktor-faktor yang merugikan kesehatan.8

2. Persyaratan Rumah Sehat


Persyaratan rumah sehat yang tercantum dalam Residental Environment dari WHO
antara lain : 6

5
a. Harus dapat berlindung dari hujan, panas, dingin, dan berfungsi sebagai
tempat istirahat.
b. Mempunyai tempat-tempat untuk tidur, memasak, mandi dan mencuci,
kakus, dan kamar mandi.
c. Dapat melindungi bahaya kebisingan dan bebas dari pencemaran.
d. Bebas dari bahan bangunan berbahaya.
e. Terbuat dari bahan bangunan yang kokoh dan dapat melindungi
penghuninya dari gempa, keruntuhan, dan penyakit menular.
f. Memberi rasa aman dan lingkungan tetangga yang asri.

3. Kriteria Rumah Sehat


Rumah sehat harus memiliki kriteria tertentu. Berikut merupakan beberapa
kriteria rumah sehat yang dikutip dari Winslow antara lain :9
a. Harus dapat memenuhi kebutuhan fisiologis
b. Harus dapat memenuhi kebutuhan psikologis
c. Harus dapat menghindarkan terjadinya kecelakaan
Hal ini sejalan dengan kriteria rumah sehat menurut American Public Health
Asociation (APHA), yaitu :10
a. Memenuhi kebutuhan dasar fisik
Sebuah rumah harus dapat memenuhi kebutuhan dasar fisik seperti :
1) Rumah tersebut harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat
dipelihara atau dipertahankan temperature lingkungan yang penting
untuk mencegah bertambahnya panas atau kehilangan panas secara
berebihan.
2) Rumah tersebut harus terjamin pencahayaanya yang dibedakan atas
cahaya matahari (penerangan alamiah) serta penerangan dari nyala
api lainnya (penerangan buatan).
3) Rumah tersebut memiliki ventilasi. Luas lubang ventilasi atap
minimum 10% dari luas lantai ruangan.
4) Rumah tersebut harus melindungi penghuni dari bising yang
berlebihan.

6
5) Rumah tersebut harus memiliki luas yang cukup untuk aktifitas
anak-anak bermain.

b. Memenuhi kebutuhan psikologis


a. Cukup aman dan nyaman bagi penghuni.
b. Ruang duduk dapat dipakai sekaligus sebagai ruang makan keluarga.
c. Sebaiknya di sekitar tetangga yang memiliki tingkat ekonomi yang
relatif sama.
d. Dalam meletakkan kursi dan meja di ruangan jangan sampai
menghalangi lalu lintas ruangan.
e. WC (water closet) dan kamar mandi harus ada dalam satu rumah dan
terpelihara kebersihannya.
c. Melindungi dari penyakit
d. Melindungi dari kemungkinan kecelakaan

B. Parameter dan Indikator Penilaian Rumah Sehat


Berdasarkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, lingkup penilaian
rumah sehat dilakukan terhadap kelompok komponen rumah, sarana sanitasi, dan
perilaku penghuni.10
a. Kelompok komponen rumah, meliputi langit-langit, dinding, lantai jendela
kamar tidur, jendela ruang keluarga dan ruang tamu, ventilasi, sarana
pembuangan asap dapur dan pencahayaan.
b. Kelompok sarana sanitasi, meliputi sarana air bersih, sarana pembuangan
kotoran, saluran pembuangan air limbah, sarana pembuangan sampah.
c. Kelompok perilaku penghuni, meliputi membuka jendela kamar tidur,
membuka jendela ruang keluarga, membersihkan rumah dan halaman,
membuang tinja bayi dan balita ke jamban, membuang sampah pada
tempat sampah.
Parameter penilaian rumah sehat dapat menggunakan kuesioner formulir
pendataan rumah sehat yang terdiri dari kuesioner komponen rumah, kuesioner
sarana sanitasi dan kuesioner perilaku penghuni sebagai berikut:

7
Tabel 2.1 Kuesioner Komponen Rumah
No Komponen Kriteria Nilai
Rumah (Bobot 31)
1 Langit langit a. Tidak ada 0
b. Ada, kotor, sulit dibersihkan 1
dan rawan kecelakaan
c. Ada, bersih dan tidak rawan 2
kecelakaan
2 Dinding a. Bukan tembok (terbuat dari 0
anyaman bambu/ilalang
b. Semi permanen/ setengah 1
tembok/ pasangan bata atau
batu yang tidak di plester/
papan kedap air
c. Permanen (tembok/pasangan 2
batu bata yang diplester)
papan kedap air
3 Lantai a. Tanah 0
b. Papan/anyaman bambu dekat 1
dengan tanah/plesteran yang
retak dan berdebu
c. Diplester/ubin/keramik/papan 2
(rumah panggung)
4 Jendela kamar a. Tidak ada 0
b. Ada 1
5 Jendela ruang a. Tidak ada 0
keluarga b. Ada 1
6 Ventilasi a. Tidak ada 0
b. Ada, lubang ventilasi < 10% 1
dari luas lantai

8
c. Ada, lubang ventilasi > 10% 2
dari luas lantai
7 Lubang asap dapur a. Tidak ada 0
b. Ada, lubang ventilasi dapur < 1
10% dari luas lantai dapur
c. Ada, lubang ventilasi dapur > 2
10% dari luas lantai dapur
(asap keluar dengan
sempurna) atau ada exhaust
fan atau ada peralatan lain
yang sejenis
8 Pencahayaan a. Tidak terang, tidak dapat 0
dipergunakan untuk
membaca 1
b. Kurang terang, sehingga
kurang jelas untuk membaca
dengan normal 2
c. Terang dan tidak silau
sehingga dapat digunakan
untuk membaca dengan
normal

Tabel 2.2 Kuesioner Sarana Sanitasi


No Sarana Sanitasi Kriteria Nilai
(Bobot 25)
1 Sarana air bersih a. Tidak ada 0
(SGL/SPT/PP/KU/PAH) b. Ada, bukan milik 1
sendiri dan tidak

9
memenuhi syarat
kesehatan 2
c. Ada, milik sendiri
dan tidak
memenuhi syarat 3
kesehatan
d. Ada, bukan milik
sendiri dan
memenuhi syarat 4
kesehatan
e. Ada, milik sendiri
dan memenuhi
syarat kesehatan
2 Jamban (sarana a. Tidak ada 0
pembuangan kotoran) b. Ada, bukan leher 1
angsa, tidak ada
tutup, disalurkan ke
sungai/kolam
c. Ada, bukan leher 2
angsa, ada tutup
disalurkan ke
sungai/kolam
d. Ada, bukan leher 3
angsa, ada tutup,
septictank
e. Ada, leher angsa, 4
septiktank
3 Sarana Pembuangan Air a. Tidak ada, sehingga 0
Limbah (SPAL) tergenang tidak
teratur di halaman

10
b. Ada, diresapkan 1
tetapi mencemari
sumber air (jarak
dengan sumber air
< 10 m)
c. Ada dialirkan ke 2
selokan terbuka
d. Ada, diresapkan 3
dan tidak
mencemari sumber
air (jarak dengan
sumber air > 10 m)
e. Ada, dialirkan ke 4
selokan tertutup
(saluran kota) untuk
diolah lebih lanjut
4 Sarana Pembuangan a. Tidak ada 0
b. Ada, tetapi tidak 1
kedap air dan tidak
ada tutup
c. Ada, kedap air dan 2
tidak tertutup
d. Ada, kedap air dan 3
bertutup

Tabel 2.3 Kuesioner Perilaku Penghuni


NO Perilaku Penghuni Kriteria Nilai
(Bobot 44)
1 Membuka jendela a. Tidak pernah dibuka 0
kamar tidur b. Kadang kadang 1

11
c. Setiap hari dibuka 2
2 Membuka jendela a. Tidak pernah dibuka 0
ruang keluarga b. Kadang kadang 1
c. Setiap hari dibuka 2
3 Membersihkan a. Tidak pernah 0
rumah dan halaman b. Kadang kadang 1
c. Setiap hari 2
4 Membuang tinja a. Dibuang ke 0
sungai/kebun/kolam
sembarangan
b. Kadang kadang ke 1
jamban
c. Setiap hari dibuang ke 2
jamban
5 Membuang sampah a. Dibuang ke 0
pada temaptnya sungai/kebun/kolam
sembarangan
b. Kadang kadang 1
dibuang ke tempat
sampah
c. Setiap hari dibuang ke 2
tempat sampah

Cara menghitung: Hasil penilaian x Bobot


Penilaian : Rumah sehat: 1068 1200
Rumah tidak sehat: < 1068

C. Variabel Penelitian
1. Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu apa yang terjadi setelah orang
melakukan terhadap sesuatu atau objek. Pengetahuan atau kognitif

12
merupakan dominan yang sangat penting dalam membentuk tindakan
seseorang. Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari
pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Pengetahuan mempunyai
enam tingkatan, antara lain:11
a. Tahu (know)
b. Memahami (comprehension)
c. Aplikasi (Aplication)
d. Analisis (analysis)
e. Sintesis (sinthesis)
f. Evaluasi (evaluation)
2. Perilaku
Perilaku dipandang dari segi biologis adalah suatu keinginan atau aktivitas
organisme yang bersangkutan. Perilaku dan gejala yang tampak pada
organisme tersebut dipengaruhi baik oleh faktor keturunan dan lingkungan.
Secara umum dapat dikatakan faktor keturunan dan lingkungan merupakan
penentu dari perilaku makhluk hidup termasuk dari manusia. Faktor
keturunan adalah konsepsi dasar atau modal untuk perkembangan perilaku
makhluk hidup itu untuk selanjutnya. Sedangkan faktor lingkungan
merupakan lahan untuk perkembangan perilaku tersebut. Pengukuran
perilaku dapat dilakukan dengan cara wawancara dan angket.11
3. Penyuluhan
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan
cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak
saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bias melakukan suatu
anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan. Sehingga diharapkan
pengetahuan dan kesadaran masyarakat meningkat setelah dilakukannya
penyuluhan mengenai rumah sehat dan dapat tercapainya kesehatan
lingkungan yang semakin meningkat.11

13
D. Kerangka Pikir Pemecahan Masalah
1. Kerangka Pikir Pemecahan Masalah
Masalah merupakan kesenjangan antara keadaan yang diharapkan dengan
keadaan yang dihasilkan yang menimbulkan rasa tidak puas. Urutan
pemecahan masalah, yaitu:12
a. Identifikasi masalah
Menetapkan keadaan spesifik yang diharapkan, yang ingin dicapai,
menetapkan indikator tertentu sebagai dasar pengukuran kinerja.
Kemudian mempelajari keadaan yang terjadi dengan menghitung atau
mengukur hasil pencapaian. selanjutnya membandingkan antara keadaan
nyata yang terjadi, dengan keadaan tertentu yang diinginkan atau indikator
tertentu yang sudah ditetapkan.
b. Penentuan penyebab masalah
Penentuan penyebab masalah digali berdasarkan data atau kepustakaan
dengan curah pendapat. Penentuan penyebab masalah hendaknya jangan
menyimpang dari masalah tersebut.
c. Menentukan alternatif pemecahan masalah
Seringkali pemecahan masalah dapat dilakukan dengan mudah dari
penyebab yang sudah diidentifikasi. Jika penyebab sudah jelas maka dapat
langsung pada alternatif pemecahan masalah.
d. Penetapan pemecahan masalah terpilih
Setelah alternatif pemecahan masalah ditentukan, maka dilakukan
pemilihan pemecahan terpilih. Apabila diketemukan beberapa alternatif
maka digunakan metode Matriks untuk menentukan/memilih pemecahan
terbaik.
e. Penyusunan rencana penerapan
Rencana penerapan pemecahan masalah dibuat dalam bentuk Plan of
Action atau Rencana Kegiatan (POA).
f. Monitoring dan evaluasi
Ada dua segi pemantauan yaitu apakah kegiatan penerapan pemecahan
masalah yang sedang dilaksanakan sudah diterapkan dengan baik dan

14
menyangkut masalah itu sendiri, apakah permasalahan sudah dapat
dipecahkan.

Identifikasi masalah

Penentuan penyebab
Monitoring dan
masalah paling
Evaluasi
mungkin

Penyusunan rencana Menentukan alternatif


penerapan pemecahan masalah

Penetapan
pemecahan masalah
terpilih

Gambar 1. Kerangka Pikir Pemecahan Masalah

E. Analisis Penyebab Masalah


Penentuan penyebab masalah digali berdasarkan data atau kepustakaan
dengan curah pendapat. Untuk membantu menentukan kemungkinan penyebab
masalah dapat dipergunakan diagram fish bone. Metode ini berdasarkan pada
kerangka pendekatan sistem, seperti yang tampak pada gambar di bawah ini :13

15
INPUT

MAN
MONEY
METHODE

MACHINE MATERIAL

MASALAH

P1
P3
P2
LINGKUNGAN
PROSES

Gambar 2. Diagram fish bone

F. Penentuan Alternatif Pemecahan Masalah


Setelah melakukan analisis penyebab maka langkah selanjutnya yaitu
menyusun alternatif pemecahan masalah. Penentuan pemecahan masalah dengan
kriteria matriks mengunakan rumus MxIxV/C. Setelah menemukan alternatif
pemecahan masalah, maka selanjutnya dilakukan penentuan prioritas alternatif
pemecahan masalah. Penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah dapat
dilakukan dengan menggunakan metode kriteria matriks MxIxV/C. Berikut ini
proses penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan
metode kriteria matriks :13
a. Magnitude(M) adalah besarnya penyebab masalah dari pemecahan masalah
yang dapat diselesaikan. Makin besar (banyak) penyebab masalah yang dapat
diselesaikan dengan pemecahan masalah, maka semakin efektif.
b. Importancy (I) adalah pentingnya cara pemecahan masalah. Makin penting
cara penyelesaian dalam mengatasi penyebab masalah, maka semakin efektif.
c. Vulnerability (V) adalah sensitifitas cara penyelesaian masalah. Makin
sensitif bentuk penyelesaian masalah, maka semakin efektif.
d. Cost (C) adalah perkiraan besarnya biaya yang diperlukan untuk melakukan
pemecahan masalah. Masing-masing cara pemecahan masalah diberi nilai 1-
5.

16
G. Pembuatan Plan of Action dan Gann Chart
Setelah melakukan penentuan pemecahan masalah maka selanjutnya
dilakukan pembuatan plan of action serta Gantt Chart, hal ini bertujuan untuk
menentukan perncanaan kegiatan.13

17
BAB III

ANALISIS MASALAH

A. Analisis Masalah
Pada pelaksanaan kegiatan programnya, Puskesmas Tempuran memiliki
beberapa cakupan kegiatan program yang belum mencapai target yang ditetapkan
Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang. Belum tercapainya beberapa program ini
merupakan salah satu hal yang harus diketahui penyebabnya dan diupayakan
penyelesainnya.
Tabel 3.1 Cakupan Rumah Sehat Wilayah Puskesmas Tempuran Tahun 2015
No Desa Jumlah Rumah Rumah yang Persentase
memenuhi syarat
1 Girirejo 645 570 89,2%
2 Tempurejo 1665 783 77.67%
3 Prajegsari 442 281 63,57%
4 Tugurejo 374 232 60,41%
5 Jogomulyo 1462 690 65,96%
6 Bawang 205 44 23,28%
7 Kernutuk 109 74 83,14%
8 Pringombo 185 163 88,10%
9 Temangga 150 28 20,43%
10 Growong 286 146 67,28%
11 Kalisari 707 55 7,77
12 Tanggulrejo 1129 744 88,15%
13 Sidoagung 1671 1277 84,73%
14 Sumberarum 1325 660 87,41%
15 Ringinanom 1583 744 75,15%
Jumlah 11916 6491
Sumber : Data Sekunder dari Bpk. Sigit, Puskesmas Tempuran

18
Berdasarkan hasil inspeksi sanitasi yang diambil, kemudian dibuat
rekapitulasi dari hasil kegiatan kunjungan ke rumah warga pada tanggal 13 Februari
2017 di dusun Ngemplak, Desa Girirejo yang tidak memenuhi syarat rumah sehat
yaitu 30 rumah, sedangkan kategori rumah sehat sendiri dilakukan penentuan
dengan sistem skoring yang dilampirkan pada Lampiran. Data yang didapat adalah
sebagai berikut:

Tabel 3.2 Komponen Rumah


No Komponen Kriteria Jumlah Persen
Rumah
1 Langit langit a. Tidak ada 30 100%
b. Ada, kotor, sulit dibersihkan 0 0%
dan rawan kecelakaan
c. Ada, bersih dan tidak rawan 0 0%
kecelakaan
2 Dinding a. Bukan tembok (terbuat dari 14 46,67%
anyaman bambu/ilalang
b. Semi permanen/ setengah 13 43,33%
tembok/ pasangan bata atau
batu yang tidak di plester/
papan kedap air
c. Permanen (tembok/pasangan 3 10,00%
batu bata yang diplester)
papan kedap air
3 Lantai a. Tanah 3 10,00%
b. Papan/anyaman bambu dekat 20 66,67%
dengan tanah/plesteran yang
retak dan berdebu
7 23,33%

19
c. Diplester/ubin/keramik/papa
n (rumah panggung)
4 Jendela kamar a. Tidak ada 21 70,00%
b. Ada 9 30,00%
5 Jendela ruang a. Tidak ada 13 43,33%
keluarga b. Ada 17 56,67%
6 Ventilasi a. Tidak ada 15 50,00%
b. Ada, lubang ventilasi <10% 9 30,00%
dari luas lantai
c. Ada, lubang ventilasi > 10%
dari luas lantai 6 20,00%
7 Lubang asap a. Tidak ada 14 46,67%
dapur b. Ada, lubang ventilasi dapur < 11 36,67%
10% dari luas lantai dapur
c. Ada, lubang ventilasi dapur > 5 16,67%
10% dari luas lantai dapur
(asap keluar dengan
sempurna) atau ada exhaust
fan atau ada peralatan lain
yang sejenis
8 Pencahayaan a. Tidak terang, tidak dapat 1 3,33%
dipergunakan untuk
membaca
b. Kurang terang, sehingga 24 80,00%
kurang jelas untuk membaca
dengan normal
c. Terang dan tidak silau 5 16,67%
sehingga dapat digunakan
untuk membaca dengan
normal

20
Tabel 3.3 Sarana Sanitasi
No Sarana Sanitasi Kriteria Jumlah Persen
(Bobot 25)
1 Sarana air bersih a. Tidak ada 0 0,00%
(SGL/SPT/PP/KU/PAH) b. Ada, bukan 0 0,00%
milik sendiri
dan tidak
memenuhi
syarat
kesehatan
c. Ada, milik 0 0,00%
sendiri dan
tidak
memenuhi
syarat
kesehatan
d. Ada, bukan 30 100%
milik sendiri
dan memenuhi
syarat
kesehatan
e. Ada, milik 0 0,00%
sendiri dan
memenuhi
syarat
kesehatan

21
2 Jamban (sarana a. Tidak ada 14 46,67%
pembuangan kotoran) b. Ada, bukan 5 16,67%
leher angsa,
tidak ada
tutup,
disalurkan ke
sungai/kolam
c. Ada, bukan 0 0,00%
leher angsa,
ada tutup
disalurkan ke
sungai/kolam
d. Ada, bukan 11 36,67%
leher angsa,
ada tutup,
septictank
e. Ada, leher 0 0,00%
angsa,
septiktank

3 Sarana Pembuangan Air a. Tidak ada, 2 6,67%


Limbah (SPAL) sehingga
tergenang
tidak teratur di
halaman
b. Ada, 2 6,67%
diresapkan
tetapi
mencemari
sumber air
(jarak dengan

22
sumber air <
10 m)
c. Ada dialirkan 20 66,67%
ke selokan
terbuka
d. Ada, 6 20,00%
diresapkan dan
tidak
mencemari
sumber air
(jarak dengan
sumber air >
10 m)
e. Ada, dialirkan 0 0%
ke selokan
tertutup
(saluran kota)
untuk diolah
lebih lanjut
4 Sarana Pembuangan a. Tidak ada 16 53,33%
b. Ada, tetapi 7 23,33
tidak kedap air
dan tidak ada
tutup
c. Ada, kedap air 1 3,33
dan tidak
tertutup
d. Ada, kedap air 6 20,00
dan bertutup

23
Tabel 3.4 Perilaku Penghuni
NO Perilaku Kriteria Jumlah Persen
Penghuni (Bobot 44)
1 Membuka a. Tidak pernah dibuka 20 66,67%
jendela kamar b. Kadang kadang 9 30,00%
tidur c. Setiap hari dibuka 1 3,33%
2 Membuka a. Tidak pernah dibuka 14 46,67%
jendela ruang b. Kadang kadang 7 23,33%
keluarga c. Setiap hari dibuka 9 30,00%
3 Membersihkan a. Tidak pernah 0 0,00%
rumah dan b. Kadang kadang 5 16,67%
halaman c. Setiap hari 25 83,33%
4 Membuang tinja a. Dibuang ke 16 53,33%
sungai/kebun/kolam
sembarangan
b. Kadang kadang ke 0 0,00%
jamban
c. Setiap hari dibuang 14 46,67%
ke jamban
5 Membuang a. Dibuang ke 20 70,00%
sampah pada sungai/kebun/kolam
temaptnya sembarangan
b. Kadang kadang 8 23,33%
dibuang ke tempat
sampah
c. Setiap hari dibuang 2 6,67%
ke tempat sampah

24
Tabel 3.5 Rekapitulasi Total
NO Kriteria Rumah Jumlah Persentase
1 Sehat 1 3,33%
2 Tidak sehat 29 96,67%

Rumah sehat merupakan salah satu indikator dari kegiatan program kesehatan
lingkungan. Perlu dilakukan pemecahan masalah pada beberapa rumah untuk
meningkatkan cakupan rumah sehat agar sesuai target Dinkes Kabupaten Magelang
yaitu sebesar 70%. Jumlah cakupan rumah dengan yang memenuhi syarat rumah
sehat di Dusun Ngemplak, Desa Girirejo adalah :
Besar cakupan = (Jumlah rumah sehat yang memenuhi syarat /
jumlah yang diawasi) x 100%
(1/30)x 100% = 3,33%
Dari hasil didapatkan besar cakupan rumah sehat yang memenuhi syarat
rumah sehat di Dusun Ngemplak, Desa Girirejo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten
Magelang periode Januari - desember 2016 lebih rendah dari target Dinkes
Kabupaten Magelang yaitu 70%.
Jumlah pencapaian rumah sehat yang memenuhi syarat di Dusun Ngemplak,
Desa Girirejo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang periode Januari-
Desember 2016 adalah :
Pencapaian = (besar cakupan/target dinkes) x 100
(3,33/70) x 100% = 4,75%
Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pencapaian rumah sehat pada
Dusun Ngemplak, Desa Girirejo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang
belum mencapai target yang ditetapkan oleh Dinkes.
Hasil diatas merupakan sampel dari 30 kepala keluarga saat dilakukan survei
yang dilakukan pada tanggal 13 Februari 2017, hal ini dilakukan untuk
memberikan gambaran secara keseluruhan tentang rumah sehat yang berada di
Dusun Ngemplak.

25
BAB IV
KERANGKA PENELITIAN

A. Kerangka Teori

Proses
Input:
P1: Perencanaan
Man: Petugas program
jadwal inspeksi
kesehatan lingkungan
rumah sehat dan
Puskesmas Tempuran,
penyuluhan
Kader
P2: Pelaksanaan
Money: Dana operasional
inspeksi rumah sehat
puskesmas Tempuran
P3: Penilaian,
Method: Inspeksi rumah
pencatatan dan
sehat dengan kunjungan
pelaporan inspeksi
langsung ke masyarakat
rumah sehat
Material: Rumah kader,
sarana transportasi
Machine: Formulir inspeksi
rumah sehat, kamera

Lingkungan:
Pengetahuan
Output:
masyarakat tentang
Cakupan rumah sehat
rumah sehat
Pandangan masyarakat
tentang pentingnya
rumah sehat
B. Kerangka Konsep

Gambar 3. Kerangka Teori

26
Petugas kesehatan Pengetahuan masyarakat
lingkungan beserta kader tentang rumah sehat

Perilaku masyarakat tentang Penyuluhan


rumah sehat

Cakupan rumah sehat Dusun


Ngemplak, Desa Girirejo,
Kecamatan Tempuran,
Kabupaten Magelang

Gambar 4. Kerangka Konsep

27
BAB V
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Data yang Diambil


1. Data primer, diperoleh dari daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah disusun
sebelumnya sesuai tujuan survey yang dilakukan. Kemudian pertanyaan tersebut
ditujukan kepada responden yaitu penduduk yang memiliki rumah yang tidak
sehat di dusun Ngemplak, Desa Girirejo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten
Magelang yang merupakan salah satu wilayah kerja Puskesmas Tempuran.
Sampel yang diambil sebanyak 30 Kepala Keluarga.
2. Data sekunder didapat dari data Standar Pelayanan Minimal (SPM) Puskesmas
Tempuran dan data dari pemegang program kesehatan keliling puskesmas
Tempuran Bapak Sigit.
Data yang diperoleh dianalisis melalui pendekatan sistem, dengan melihat
fungsi manajemen baik input (man, money, method, material, machine), proses
(perencanaan/P1, pelaksanaan/P2, pengawasan/P3), serta lingkungan dengan
tujuan mengetahui permasalahan secara menyeluruh. Data kemudian diolah untuk
mengidentifikasi permasalahan. Selanjutnya dianalisis masalah dengan mencari
kemungkinan penyebab melalui pendekatan sistem. Penyebab masalah tersebut
dimasukkan ke dalam Fish Bone, kemudian dilakukan konfirmasi penyebab
masalah dengan wawancara langsung kepada petugas kesehatan terkait
(koordinator kesehatan lingkungan). Kemudian ditentukan prioritas pemecahan
masalah dengan menggunakan kriteria matriks dengan rumus m.i.v/c. Selanjutnya
menyusun rencana kegiatan berdasarkan masalah yang terpilih.

B. Batasan Judul
Laporan kegiatan dengan judul Rencana Peningkatan Cakupan Rumah
Sehat Dusun Ngemplak, Desa Girirejo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten
Magelang Periode Januari - Desember 2016 mempunyai batasan pengertian judul
sebagai berikut :

28
1. Rencana
Rencana adalah proses pemikiran ke depan.
2. Peningkatan
Peningkatan adalah proses meningkatkan.
3. Cakupan
Cakupan adalah batasansuatu masalah.
4. Rumah sehat
Rumah sehat adalah suatu rumah untuk tempat tinggal permanen,
berfungsi sebagai tempat untuk bermukim, beristirahat, berekreasi, dan
sebagai tempat berlindung dari pengaruh lingkungan yang memenuhi
persyaratan fisiologis, psikologis, dan bebas dari penularan penyakit.
5. Dusun Ngemplak
Adalah salah satu dusun yang terletak di Desa Girirejo.
6. Desa Girirejo
Desa Girirejo merupakan salah satu desa dari 15 desa yang berada dalam
wilayah kerja Puskesmas Tempuran.
7. Kecamatan Tempuran
Kecamatan Tempuran adalah salah satu kecamatan di wilayah
Kabupaten Magelang.
8. Kabupaten Magelang
Kabupaten Magelang adalah salah satu kabupaten di wilayah Provinsi
Jawa Tengah.
9. Periode Januari Desember 2016
Adalah periode waktu yang digunakan untuk melakukan evaluasi
mengenai cakupan warga yang memiliki rumah sehat.

C. Definisi Operasional
1. Sasaran adalah warga (subjek) dan rumah (objek) di daerah Dusun
Ngemplak, Desa Girirejo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang.
2. Cakupan adalah persentase hasil perbandingan antara jumlah rumah yang
memenuhi syarat rumah sehat dengan jumlah seluruh rumah yang

29
diperiksa di Dusun Ngemplak, Desa Girirejo, Kecamatan Tempuran,
Kabupaten Magelang.
3. Pengetahuan adalah hasil dari Tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan
terjadi melalui panca indra manusia, yaitu: indra penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan (knowledge) adalah
proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari
kesadarannya sendiri. Dalam peristiwa ini yang mengetahui (subjek)
memilliki yang diketahui (objek) di dalam dirinya sendiri sedemikian aktif
sehingga yang mengetahui itu menyusun yang diketahui pada dirinya
sendiri dalam kesatuan aktif. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita
ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan
diatas
a. Tingkat pengetahuan baik bila skor > 75%-100%
b. Tingkat pengetahuan cukup bila skor 60%-75%
c. Tingkat pengetahuan kurang bila skor < 60%
4. Perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat
diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.
5. Kriteria rumah sehat yang memenuhi syarat pada penelitian ini
berdasarkan pada kriteria rumah sehat Jawa Tengah 2010 memenuhi
komponen rumah, sarana sanitasi, perilaku, dan komponnen lain-lain. Dari
setiap kategori mempunyai bobot masing-masing lalu diberikan skor dan
dijumlahkannya skornya. Bila skor dari 1068-1200 maka termasuk
kategori rumah sehat. Jika skor dari < 1068 maka termasuk kategori rumah
tidak sehat.

D. Ruang Lingkup
1. Lingkup lokasi: Dusun Ngemplak, Desa Girirejo, Kecamatan Tempuran,
Kabupaten Magelang.
2. Lingkup waktu: Januari Desember 2016.
3. Lingkup sasaran: 30 rumah.

30
4. Lingkup metode: Kuesioner, wawancara, pencatatan, pengamatan dan
penilainan.
5. Lingkup materi: Evaluasi cakupan rumah sehat.

E. Kriteria Inklusi dan Eksklusi


Kriteria inklusi
Kriteria inklusi dalam laporan ini adalah:
Kepala atau anggota keluarga dari setiap rumah yang bertempat tinggal di
Dusun Ngemplak, Desa Girirejo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten
Magelang yang memiliki rumah tidak sehat yang bersedia untuk dinilai
rumahnya, diwawancarai dan berada di tempat.
Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi dalam laporan ini adalah :
a. Kepala atau anggota keluarga dari setiap rumah yang bertempat
tinggal di Dusun Ngemplak, Desa Girirejo, Kecamatan Tempuran,
Kabupaten Magelang yang memiliki rumah tidak sehat yang tidak
bersedia untuk dinilai rumahnya dan diwawancara atau tidak berada
di tempat.
b. Kepala atau anggota keluarga dari setiap rumah yang bertempat
tinggal di Dusun Ngemplak, Desa Girirejo, Kecamatan Tempuran,
Kabupaten Magelang yang memiliki rumah sehat.

31
BAB VI
HASIL PENELITIAN

A. Data Umum Desa Girirejo


1. Keadaan Geografis
Desa Girirejo merupakan salah satu desa di Jawa Tengah yang terletak di
Kecamatan Tempuran dengan batas desa :

Batas Sebelah Utara : Desa Jogomulyo


Batas Sebelah Selatan : Desa Madyogondo
Batas Sebelah Timur : Desa Tanggulrejo
Batas Sebelah Barat : Desa Kalisari

Gambar 5. Peta Desa Girirejo

Luas wilayah Desa Girirejo 628,287 Ha yang terbagi menjadi 10 dusun,


dengan 24 RT meliputi:
1. Dusun Demesan Kidul
2. Dusun Wetan

32
3. Dusun Jarakan
4. Dusun Demesan Lor
5. Dusun Ngemplak
6. Dusun Jurang
7. Dusun Kali putih Lor
8. Dusun Kali Putih Kidul
9. Beji Lor
10. Beji Kidul

2. Keadaan Demografi
Jumlah Kepala Keluarga di Desa Girirejo adalah 670 KK, dengan jumlah
penduduk menurut jenis kelamin :

Tabel 6.1 Jumlah penduduk Desa Girirejo menurut tingkat pendidikan


No Tingkatan Jumlah

1. Tidak tamat SD 333

2. Tamat SD - SLTP 1436

3. Tamat SLTA 87

4. Tamat Perguruan Tinggi 41

Total 1.897

Tabel 6.2 Jumlah penduduk Desa Girirejo menurut mata pencaharian


No Mata Pencaharian Jumlah

1. Pengrajin 14

2. Buruh tani 28

3. Petani 650

33
4. Pedagang 15

5. Peternak 5

6. Buruh/swasta 75

7. PNS 14

Jumlah 2.217

3. Sarana Kesehatan
Dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat di bidang kesehatan,
pemerintah Desa Tempuran bekerjasama dengan pihak pelayanan kesehatan yang
diwakili oleh bidan desa.

Tabel 6.3 Sarana kesehatan Desa Girirejo


No Sarana Jumlah

1. Puskesmas 1

2. Pos Kesehatan -

3. Klinik Kesehatan FKTP 1 -

4. Klinik dokter swasta -

5. Bidan / Perawat 1

6. Dukun Bayi -

B. HASIL SURVEI
Pada hari Senin tanggal 13 Februari 2017 telah dilakukan pengambilan data
dengan cara pengisian kuesioner yang dilakukan di Dusun Ngemplak, Desa Girirejo

34
yaitu dengan melakukan kunjungan ke rumah Kader Kesehatan. Berikut ini adalah
pemaparan hasil kuesioner berdasarkan data yang didapat.

Tabel 6.4 Hasil Wawancara Input


No Pertanyaan Jawaban
1 Man Berapa jumlah kader kesehatan Ada 1
di Dusun Ngemplak?

Apakah ada kader khusus yang Kader memegang semua bagian dari
menagani program rumah kesehatan lingkungan, jadi tidak ada kader
sehat? khusus mengenai rumah sehat.
2 Money Apakah ada biaya oprasional Tidak ada.
khusus untuk menangani
program rumah sehat?
3 Method Bagaimana anda mengetahui Melalui pengamatan, penilaian dan
seberapa jauh masyarakat telah wawancara dengan cara kunjungan ke
memahami dan membangun masyarakat untuk dilakukan pendataan.
rumah sehat?

Bagaimana cara penyuluhan Ya, sudah melakukan. Penyuluhan langsung


rumah sehat dilakukan dan kepada pemilik rumah yang rumahnnya masih
apakah anda sudah melakukan belum memenuhi kriteria rumah sehat saat
penyuluhan tersebut? dilakukannya pendataan.
4 Material Dimana penyuluhan mengenai dirumah Ibu kader, dan bila terdapat acara di
rumah sehat dilakukan? desa tersebut di lakukan penyuluhan di tempat
5 Machine Apakah ada buku untuk Ada, buku data rumah sehat yang dibuat oleh
melakukan pencatatan data koordinator Kesehatan Lingkungan untuk
rumah sehat? memudahkan pencatatan yang dibagikan
kepada para kader Kesehatan Lingkungan.

35
Apakah terdapat blanko Ada, namun belum diperbaharui.
kuesioner untuk pemeriksaan
rumah sehat?

Tabel 6.5 Hasil Wawancara Proses


No Pertanyaan Jawaban
1 P1 Apakah ada jadwal tertulis untuk Tidak ada.
perencanaan pelaksanaan rumah
sehat?

Apakah sudah terdapat program Ada.


promosi kesehatan?
2 P2 Apakah pelaksanaan pemerikasaan Sudah, namun pada saat
rumah sehat sudah dilaksanakan pelaksanaan kegiatan belum
dan dilakukan secara merata? berjalan secara optimal. Dan
juga hanya di jalankan 1 tahun
sekali

Kapan dilakukan penyuluhan Penyuluhan secara massal


rumah sehat? sangat jarang dilakukan karena
keterbatasan dana, hanya bila
terdapat acara saja di dusun
tersebut.
3 P3 Bagaimana cara menilai Terdapatnya pencatatan dan
pelaksanaan kegiatan rumah sehat pelaporan dari kader kesehatan
telah berjalan? lingkungan pada buku data.

Apakah evaluasi yang dilakukan Evaluasi yang dilakukan ada,


telah berjalan optimal? namun belum optimal.

36
C. Hasil Survey Penyebab Masalah
Kuesioner terdiri dari beberapa pertanyaan kuesioner penyebab masalah,
yaitu mencari penyebab banyak rumah penduduk yang tidak memenuhi syarat.
Kuesioner dilakukan pada 30 rumah untuk mencari rumah yang tidak memenuhi
syarat rumah yang sehat. Dimana terdapat 1 rumah yang memenuhi rumah sehat,
dan terdapat 29 rumah yang tidak memenuhi syarat rumah sehat.

D. Kuesioner Penyebab Masalah


Dilakukan penyebaran kuesioner untuk mencari penyebab masalah pada
tanggal 13 Februari 2017 kepada 30 responden yang bertempat tinggal di Dusun
Ngemplak, Desa Girirejo, Kecamatan Tempuran. Pertanyaan terdiri atas pertanyaan
mengenai pengetahuan tentang rumah sehat, perilaku hidup sehat dan penyebab
masalah lain.

1. Kuesioner Pengetahuan tentang Rumah Sehat


Kuesioner terdiri dari 9 pertanyaan yang dibuat untuk mengukur pengetahuan
responden tentang rumah sehat. Untuk setiap pertanyaan dengan jawaban iya
diberi nilai 1, sedangan untuk jawaban tidak diberi nilai 0. Nilai dari jawaban
setiap responden dijumlahkan, kemudian dipresentasekan untuk mengetahui
seberapa besar tingkatan pengetahuan respnden. Penilaiann :
Tingkat pengetahuan baik bila skor : 75%-100%
Tingkat pengetahuan cukup bila skor : 60%-75%
Tingkat pengetahuan kurang bila skor : <60%

2. Kuesinoer Perilaku Hidup Sehat


Kuesioner terdiri dari 5 pertanyaan yang dibuat untuk menilai perilaku hidup
sehat dari penghuni rumah.

3. Kuesioner Penyebab Lain


Kuesioner terterdiri dari 4 pertanyaan yang dibuat untuk mencari penyebab
masalah lain disampinng pengetahuan tentang rumah sehat dan perilaku sehat.

37
Tabel 6.6 Kuesioner Pengetahuan Tentang Rumah Sehat
No Pertanyaan Jawaban
1 Mennurut anda apakah perlu terdapat lubang asap dapur? a. Ya
b. Tidak
2 Menurut anda perlukah mempunyai jamban di dalam rumah dan a. Ya
dialirkan ke septic tank? b. Tidak
3 Menurut anda apakah perlu dibuat jendela di kamar dan di ruang a. Ya
keluarga? b. Tidak
4 Menurut anda perlukah memiliki tempat sampah yang kedap air dan a. Ya
tertutup? b. Tidak
5 Menurut anda apakah penting langit-langit di dalam rumah? a. Ya
b. Tidak
6 Menurut anda apakah perlu lantai rumah lantai rumah dibuat dari a. Ya
bahan yang kedap air? b. Tidak
7 Menurut anda apakah perlu dibuat ruang keluarga? a. Ya
b. Tidak
8 Menurut anda apakah perlu ada ventilasi di rumah a. Ya
b. Tidak
9 Menurut anda apakah penting pencahyaan yang terang di dalam a. Ya
rumah? b. Tidak

Tabel 6.7 Pengetahuan Warga Tentang Rumah sehat


No Pertanyaan Nilai Persen Kategori
1 2 3 4 5 6 7 8 9
1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 9 100,00% Baik
2 1 1 1 1 0 1 1 1 1 9 100,00% Baik
3 1 0 0 1 1 1 0 1 1 9 100,00% Baik
4 0 1 1 0 1 0 1 1 1 9 100,00% Baik
5 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 100,00% Baik

38
6 1 0 1 0 1 1 1 1 1 8 88,89% Baik
7 1 0 1 1 0 1 0 1 0 9 100,00% Baik
8 1 1 1 1 0 1 1 1 1 9 100,00% Baik
9 1 0 1 0 1 1 0 1 0 9 100,00% Baik
10 0 1 1 1 1 1 1 1 1 6 66,67% Cukup
11 1 0 1 1 1 0 1 1 1 5 55,56% Kurang
12 1 1 1 1 0 0 1 1 1 7 77,78% Baik
13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 7 77,78% Baik
14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 100,00% Baik
15 1 1 1 0 1 1 1 1 1 9 100,00% Baik
16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 100,00% Baik
17 0 1 0 1 0 1 1 1 1 7 77,78% Baik
18 1 1 1 1 1 1 1 1 1 7 77,78% Baik
19 0 1 1 1 1 1 1 1 1 9 100,00% Baik
20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 100,00% Baik
21 0 1 0 1 0 1 1 1 1 6 66,67% Cukup
22 1 1 0 1 0 1 1 1 1 9 100,00% Baik
23 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 100,00% Baik
24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 100,00% Baik
25 1 1 1 1 1 1 1 1 1 5 55,56% Kurang
26 0 1 1 1 0 1 1 1 1 5 55,56% Kurang
27 1 0 1 0 1 0 1 1 1 6 66,67% Cukup
28 1 0 1 0 1 0 1 1 1 5 55,56% Kurang
29 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 44,44% Kurang
30 1 0 1 0 1 0 1 1 1 6 66,67% Cukup

Tabel 6.8 Rekapitulasi Tingkatan Pengetahuan tentang Rumah Sehat


Tingkat Pengetahuan Jumlah Responden Persen (%)
75%-100% Baik 21 70,00
60-75% Cukup 4 13,33

39
< 60% kurang 5 16,66

Dari tabel diatas sekitar 16,66% penduduk Dusun Ngemplak, Dessa Girirejo,
Kecamatan Tempuran memiliki pengetahuan kurang tentang rumah sehat.

Tabel 6.9 Kuesioner Perilaku Hidup Sehat


No Komponen Kriteria Jumlah Persen %
Penilaian
1 Membuka jendela a. Tidak pernah dibuka 19 63,33
kamar tidur? b. Kadang-kadang 9 30,00
c. Setiap hari dibuka 2 6,67
2 Membuka Jendela a. Tidak pernah dibuka 14 46,67
ruang keluarga ? b. Kadang kadang 7 23,33
9 30,00
c. Setiap hari dibuka
3 Membersihkan rumah a. Tidak pernah 0 0,00
dan halaman b. Kadang kadang 5 16,67
c. Setiap hari 25 83,33

4 Membuang tinja a. Dibuang ke sungai/kebun/kolam 16 53,33


sembarangan
b. Kadang kadang ke jamban 0 0,00
c. Setiap hari dibuang ke jamban 14 46,67

5 Membuang sampah a. Dibuang ke 21 70,00


pada temaptnya sungai/kebun/kolam
sembarangan
b. Kadang kadang dibuang ke 7 23,33
tempat sampah
c. Setiap hari dibuang ke tempat 2 6,67
sampah

40
Dari tabel diatas perilaku warga desa yang tidak sesuai dengan hidup sehat
adalah masih adanya warga yang tidak pernah dan jarang membuka jendela kamar
tidur, tidak pernah dan jarang membuka jendela ruang keluarga, jarang
membersihkan rumah dan halaman, membuang tinja di sungai dan membuang
sampah ke sungai atau kebun.

Tabel 6.10 Rekapitulasi Kuesioner Penyebab Lain


No Pertanyaan Jawaban Jumlah Persen (%)
1 Kenapa anda tidak a. Kurang biaya 18 60,00
menerapkan hal b. Keadaan tempat tinggal 2 6,67
tersebut (yang terdapat c. Kurang mengerti tentang 10 33,33
dalam kuesioner rumah sehat
pengetahuan tentang
rumah sehat) dalam
kehidupan sehari-hari?
2 Apakah anda tahu a. Ya 28 93,33
bahwa permasalahan b. Tidak 2 6,67
diatas dapat
menimbulkan dampak
yang buruk bagi
kesehatan?
3 Apakah di dusun ini a. Ya 1 3,33
sering dilakukan b. Tidak 29 96,67
penyuluhan tentang
rumah sehat?

Dari tabel diatas terlihat bahwa warga mengerti dan memahami efek dari
rumah yang tidak sehat terhadap kesehatan (93,33%), namun kurangnya biaya
(60,00%) dan kurangnya penyuluhan mengenai rumah sehat (33,33%) menjadi
faktor penyebab kurang sehatnya rumah warga di dusun Ngemplak, Desa Girirejo.

41
BAB VII
PEMBAHASAN

A. Kesimpulan Hasil Penelitian


Berdasarkan hasil survey pengamatan, kuesioner, dan wawancara yang telah
dilakukan di Dusun Ngemplak, Desa Girirejo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten
Magelang didapatkan penyebab masalahnya sebagai berikut, yaitu didapatnya
sebesar 96,67% rumah yang tidak memiliki kriteria rumah sehat. Sebesar 33,33%
penduduk memiliki pengetahuan kurang tentang rumah sehat. Sedangkan penyebab
lain yang paling tinggi adalah kurangnya biaya untuk merenovasi rumah yaitu
sebesar 60,00% dan kurangnya penyuluhan mengenai rumah sehat yaitu mencapai
96,67%, walaupun 96,67% warga menyadari hubungan antara rumah sehat dengan
kesehatan.

Tabel 7.1. Penyebab Masalah dari Segi Input


INPUT KELEBIHAN KEKURANGAN
Man Tersedia kader di Dusun Kurangnya personil dan keaktifan
(Tenaga Kerja) Ngemplak, Desa kader dalam melakukan 5P.
Tempuran.

Terdapatnya petugas Kurangnya koordinasi petugas


pengawas program program kesling dengan kader.
kesling
Money Adanya bantuan Tidak ada masalah.
(Pembiayaan) operasional kesehatan.
Melalui dana
operasional puskesmas
yang dapat

42
dimanfaatkan untuk
kegiatan luar gedung.
Methode Melakukan pengamatan, Hanya dilakukan penilaian setiap
(Metode) penilaian dan bulan, namun belum ada
wawancara dengan cara penyuluhan secara berkala tentang
kunjungan ke rumah yang memenuhi syarat
masyarakat untuk kesehatan.
dilakukan pendataan.
Penyuluhan langsung Pelatihan terhadap kader belum
kepada pemilik rumah optimal, hanya dilakukan setahun
mengenai rumah sehat sekali.
Tersedianya kendaraan Tidak ada masalah.
Material operasional bagi
(Perlengkapan) petugas kesling
Tersedianya balai desa
Machine Terdapat blanko Kurang media promosi (leaflet dan
(Peralatan) kuesioner untuk poster).
pemeriksaan rumah
sehat.

Tabel 7.2 Penyebab Masalah Dari Segi Proses dan Lingkungan


PROSES KELEBIHAN KEKURANGAN
P1 Perencanaan pemeriksaan Belum adanya jadwal tertulis
(Perencanaan) rumah sehat sudah ada. tentang perencanaan pelaksanaan
Terdapat program promosi pengawasan rumah sehat.
kesehatan.

43
P2 Pelaksanaan pemeriksaan Pelaksanaan program kegiatan
(Pelaksanaan) rumah sehat sudah kesehatan lingkungan belum bisa
dilaksanakan. berjalan secara optimal.
Saat pendataan berlangsung, Pelaksanaan penyuluhan kurang
diberikan penyuluhan tentang berkelanjutan.
rumah sehat.

P3 Terdapatnya pencatatan dan Kurang optimalnya evaluasi dari


(Penilaian, pelaporan mengenai jumlah kegiatan yang dilakukan.
Pengawasan rumah yang memenuhi syarat
Pengendalian) rumah sehat.
Terdapatnya pencatatan dan
pelaporan mengenai kegiatan
yang dilakukan.
Warga dusun cukup Kurangnya pengetahuan dan
Lingkungan kooperatif saat petugas kesadaran masyarakat mengenai
melakukan pendataan. rumah sehat.
Terbatasnya dana untuk merenovasi
rumah.

B. Rekapitulasi Analisa Penyebab Masalah


1. Kurangnya keaktifan kader dalam melakukan 5P (Pendataan, Pendekatan,
Pemberdayaan, Pengembangan, dan Pemantauan) dalam mewujudkan
rumah sehat.
2. Kurangnya kordinasi petugas program kesling dengan kader.
3. Belum ada penyuluhan secara berkala tentang rumah sehat.
4. Pelatihan terhadap kader belum optimal.
5. Kurangnya media promosi tentang rumah sehat seperti leaflet atau poster.
6. Belum adanya jadwal tertulis tentang perencanaan pelaksanaan

44
pengawasan rumah sehat.
7. Pelaksanaan program kegiatan kesehatan lingkungan belum bisa berjalan
secara optimal.
8. Pelaksanaan penyuluhan kurang berkelanjutan.
9. Kurangnya evaluasi dari kegiatan yang dilakukan.
10. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai rumah sehat.
11. Terbatasnya dana masyarakat untuk merenovasi rumah.

C. Penyebab Masalah
Setelah dilakukan konfirmasi dengan petugas Puskesmas Kecamatan
Tempuran bagian koordinator program Kesehatan Lingkungan melalui wawancara
langsung dan juga berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan di Dusun
Ngamplek, Desa Girirejo didapatkan penyebab masalahnya sebagai berikut :
1. Kurangnya keaktifan kader dalam melakukan 5P (Pendataan, Pendekatan,
Pemberdayaan, Pengembangan, dan Pemantauan) dalam mewujudkan
rumah sehat.
2. Belum ada penyuluhan secara berkala dan terjadwal tentang rumah yang
memenuhi syarat kesehatan.
3. Kurangnya media promosi tentang rumah sehat, seperti leaflet atau poster.
4. Belum adanya jadwal tertulis tentang perencanaan pelaksanaan
pengawasan rumah sehat.
5. Pelaksanaan penyuluhan kurang berkelanjutan.
6. Kurangnya evaluasi dari kegiatan yang dilakukan.
7. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai rumah sehat.
8. Terbatasnya dana masyarakat untuk merenovasi rumah.

45
- Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat
mengenairumah tangga sehat
- Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat
mengenai dampak yang dapat ditimbulkan jika
PROSES LINGKUNGAN rumah tidak memenuhi syarat kesehatan
- Terbatasnya dana masyarakat untuk merenovasi
rumah
Belum ada jadwal tertulis tentang -
P1
perencanaan pelaksanaan
pengawasan rumah sehat

P2
Pelaksanaan penyuluhan kurang berkelanjutan

MASALAH
Evaluasi dari kegiatan yang
dilakukan (penyuluhan) belum P3
optimal
Cakupan Rumah Sehat
Dusun Ngemplak, Desa
Girirejo, Kecamatan
Belum ada penyuluhan
METHODE Kurangnya media Tempuran periode
secara berkala tentang
promosi tentang rumah Januari Desember 2016
rumah yang memenuhi MACHINE
sehat sebesar 3,33%, masih
syarat kesehatan dan
jauh lebih rendah dari
pelatihan kader belum
target Dinkes sebesar
optimal
70%
MATERIAL Tidak ada masalah

Kurangnya pengetahuan MAN


dan keaktifan kader dalam
melakukan 5P
MONEY Tidak ada masalah Gambar 6. Diagram Fish-Bone

47

INPUT
D. Penentuan Alternatif Pemecahan Masalah
Setelah diperoleh daftar penyebab masalah yang paling mungkin maka
langkah selanjutnya menentukan alternatif pemecahan masalah.

Tabel 7.3 Pemecahan Masalah


Penyebab Masalah Alternatif pemecahan masalah
1. Belum ada penyuluhan secara 1) Memberikan penyuluhan secara
berkala tentang rumah yang berkala kepada masyarakat tentang
memenuhi syarat kesehatan rumah sehat dan dampak yang
oleh tenaga kesehatan. ditimbulkan akibat rumah tidak sehat.

2. Kurangnya media promosi 2) Pembuatan, leaflet atau poster,


(leaflet atau poster) tentang tentang rumah yang memenuhi
rumah sehat. kriteria sehat.

3. Belum adanya jadwal tertulis 3) Pembuatan jadwal tentang


tentang perencanaan perencanaan pelaksanaan
pelaksanaan pengawasan pengawasan rumah sehat oleh
rumah sehat. koordinator kesehatan lingkungan.

4. Pelaksanaan penyuluhan 4) Memberikan penyuluhan secara


kurang berkelanjutan. berkala kepada masyarakat tentang
rumah sehat dan perilaku hidup sehat
dan dampak yang ditimbulkan akibat
rumah tidak sehat dan perilaku tidak
sehat.

5. Kurangnya evaluasi dari 5) Rapat evaluasi antara petugas


kegiatan yang diajukan. sanitarian dan kader
6. Kurangnya pengetahuan 6) Memberikan penyuluhan secara
masyarakat mengenai rumah berkala kepada masyarakat tentang
sehat. rumah sehat dan perilaku hidup sehat
dan dampak yang ditimbulkan akibat
rumah tidak sehat dan perilaku tidak
sehat.

7. Terbatasnya dana masyarakat 7) Mengumpulkan iuran bulanan dari


untuk merenovasi rumah. masyarakat dan mengajukan
proposal ke PNPM-MD.

48
E. Penggabungan Alternatif Penyebab Masalah

Belum adanya penyuluhan secara


berkala tentang rumah yang
memenuhi syarat kesehatan. Memberikan penyuluhan secara
berkala kepada masyarakat
tentang rumah sehat dan dampak
yang ditimbulkan akibat rumah
Pelaksanaan penyuluhan kurang
tidak sehat dan perilaku tidak
berkelanjutan.
sehat.

Kurangnya pengetahuan
masyarakat mengenai rumah
sehat..

Kurangnya media promosi (leaflet Pembuatan leaflet atau poster


atau poster) tentang rumah sehat. penyuluhan tentang rumah sehat.

Belum adanya jadwal tertulis Pembuatan jadwal tentang


tentang perencanaan pelaksanaan perencanaan pelaksanaan
pengawasan rumah sehat. pengawasan rumah sehat oleh
Koordinator Kesling.

Kurangnya evaluasi dari kegiatan Rapat evaluasi


yang dilakukan.

Terbatasnya dana masyarakat untuk Mengumpulkan iuran bulanan dari


merenovasi rumah sehingga masyarakat dan mengajukan
memenuhi syarat sebagai rumah proposal ke PNPM-MD.
sehat.

Gambar 7. Penggabungan Alternatif Pemecahan Masalah

49
F. Prioritas Pemecahan Masalah
Setelah menemukan pemecahan masalah yang paling mungkin, maka
selanjutnya dilakukan penentuan prioritas pemecahan masalah yang akan
dilakukan. Penentuan prioritas pemecahan masalah yang akan dilakukan. Prioritas
pemecahan masalah yang dapat dilakukan dengan menggunakan metode criteria
matriks :
a. Magnitude ( m ) = besarnya penyebab masalah dari pemecahan masalah
dapat diselesaikan. Makin besar (banyak) penyebab masalah yang dapat
diselesaikan dengan pemecahan masalah, maka makin efektif.
b. Importancy ( i ) = pentingnya cara pemecahan masalah. Maka pentingnya
cara penyelesaian dalam mengatasi penyebab masalah, maka makin
efektif.
c. Vulnerability (v) = sensitifitas cara penyelesaian masalah. Makin sensitive
bentuk penyelesaian masalah maka makin efektif.
d. Cost ( c ) = perkiraan besarna biaya yang diperlukan untuk melakukan
pemecahan masalah. Kriteria cost (c) diberi nilai 1-5.

Tabel 7.4 Matriks Prioritas Penyelesaian Masalah

Nilai Kriteria Hasil Akhir


Penyelesaian masalah Urutan
M I V C (M.I.V)/C

Memberikan penyuluhan secara berkala 5 4 4 2 40 I


kepada masyarakat tentang rumah sehat

Pembuatan leaflet atau poster 2 3 4 3 8 III


penyuluhan tentang rumah sehat.

Pembuatan jadwal tentang perencanaan


pelaksanaan pengawasan rumah sehat 3 3 4 1 36 II
oleh Koordinator Kesling.

Rapat evaluasi. 1 3 2 1 6 IV

50
Mengumpulkan iuran bulanan dari
masyarakat dan mengajukan proposal ke 1 2 3 2 3 V
PNPM-MD.

51
G. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Kegiatan

Tabel 8.3 Plan of Action


No. Kegiatan Tujuan Sasaran Lokasi Pelaksanaan Waktu Dana Metode Tolak ukur
1 Penyuluhan Meningkatkan Seluruh Balai Petugas Dimulai Bantuan Penyuluhan Tolak ukur proses
rumah sehat dan pengetahuan warga Dusun kesehatan dari bulan operasional secara langsung, Terlaksananya
perilaku hidup tentang rumah Dusun Ngamplek lingkungan November Kesehatan diskusi, tanya kegiatan penyuluhan
sehat sehat dan Ngamplek atau rumah dan kader 2016 dan jawab dan 2x dalam satu tahun
memberikan Desa kader seterusnya pembuatan
motivasi kepada Tempuran tiap 6 bulan poster mengenai Tolak ukur hasil
masyarakat cara membangun Meningkatnya
tentang rumah sehat pengetahuan
pentingnya masyarakat mengenai
perilaku hidup rumah sehat dan
sehat perilaku hidup sehat

2 Pembuatan Tersusunnya Kordinator Puskesmas Kordinator Dimulai Dana Membuat jadwal Tolak ukur Proses
jadwal tentang jadwal kegiatan kesling Tempuran kesehatan dari bulan operasional Terlaksananya
perencanaan, yang baik, lingkungan November puskesmas pembuatan jadwal
pelaksanaan, sistematis 2016, 2 kali
pengawasan sehingga proses dalam Tolak ukur hasil
rumah sehat berjalan optimal setahun Tersusun jadwal
kegiatan yang baik
dan sistematis

52
3 Pembuatan Meningkatkan Seluruh Puskesmas Petugas Dimulai Bantuan Pembagian dan Tolok Ukur proses
leaflet dan pengetahuan warga Tempuran kesehatan dari bulan operasional penjelasan
poster masyarakat Dusun lingkungan, Desember kesehatam poster dan leaflet Terlaksananya
penyuluhan tentang rumah Ngemplak Kader 2016, 2 kali pembuatan dan
tentang rumah sehat secara , Desa dalam pembagian leaflet dan
sehat pasif Tempuran setahun poster
Tolak ukur hasil
Meningkatya
pengetahuan
masyarakat tentang
rumah sehat

4 Rapat evaluasi Mengevaluasi Kordinator Puskesmas Petugas Mulai Dana Musyawarah Tolak ukur proses
program kesling Promkes, Tempuran kesehatan bulan operasional Terselenggaranya
rumah sehat, Kepala lingkungan Desember puskesmas rapat yang membahas
agar dapat Puskesmas 2016, 2 kali data cakupan rumah
meningkatkan dalam sehat
cakupan rumah setahun
sehat. Tolak ukur hasil
Meningkatnya
pendataan cakupan
rumah sehat
5 Pengumpulan Membantu Seluruh Rumah Petugas Disesuaika Dana Mengumpulkan Tolak ukur proses
iuran bulanan masyarakat yang warga kepala kesehatan n operasional iuran bulanan Terselenggaranya
dari masyarakat tidak memiliki dusun dusun lingkungan, puskesmas dan membuat pengumpulan iuran
dan mengajukan biaya dalam Ngemplak kepala dusun, proposal ke bulanan dan
membangun yang kader PNPM-MD pembuatan proposal
rumah sehat memiliki

53
proposal ke rumah Tolak ukur hasil
PNPM-MD. tidak sehat Turunnya dana BLM

H. Gantt Chart
Tabel 7.6 Gantt Chart

Januari Februari Maret April Mei


KEGIATAN
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

I
2
3
4
5
Keterangan:
1. Penyuluhan rumah sehat dan perilaku hidup sehat
2. Pembuatan jadwal tentang perencanaan, pelaksanaan, pengawasan rumah sehat
3. Pembuatan leaflet dan poster penyuluhan tentang rumah sehat.
4. Rapat evaluasi program kesling tentang rumah sehat.
5. Mengumpulkan iuran bulanan dari masyarakat dan mengajukan proposal ke PNPM-MD.

54
BAB VIII
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hasil penelitian yang telah dilakukan pada tanggal 13 Februari 2017 di Dusun
Ngamplek, Desa Girirejo, yang merupakan bagian cakupan wilayah Puskesmas
Tempuran, dari 30 rumah hanya 1 rumah yang memenuhi kriteria rumah sehat,
sehingga cakupan presentase rumah sehat hanya sebesar 3,33%, dimana target dari
dinas kesehatan sebesar 70%.
Berdasarkan analisis dan konfirmasi penyebab masalah maka diketahui penyebab
rendahnya cakupan rumah sehat Dusun Ngamplek, Desa Girirejo adalah kurangnya
biaya, pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai rumah sehat yang kurang
akibat kurangnya penyuluhan tentang rumah sehat. Oleh karena itu, dapat dilakukan
kegiatan yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan rendahnya cakupan rumah
sehat di Dusun Ngamplek, Desa Girirejo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang
yang sudah tertera dalam Plan of Action yang sudah terjadwal, terutama untuk
penyuluhan rumah sehat dan perilaku hidup sehat.

B. Saran
1. Menghimbau kepada petugas kesehatan, kesehatan lingkungan Puskesmas
Tempuran untuk meningkatkan program penyuluhan langsung yang
berkesinambungan mengenai rumah sehat di seluruh wilayah kerja Puskesmas
Tempuran, terutama Dusun Ngamplek, Desa Girirejo.
2. Menghimbau agar penyuluhan mengenai rumah sehat kepada warga
dilakukan 6 bulan sekali.
3. Bagi masyarakat Dusun Ngamplek, Desa Girirejo diharapkan dapat mengubah
perilaku dan lebih aktif untuk ikut serta dalam meningkatkan derajat
kesehatan keluarga dan lingkungan, khususnya masalah rumah sehat.

56
DAFTAR PUSTAKA

1. Siahaan, NHT. Hukum Lingkunngan dan Ekologi Pembangunan. 2nd ed Jakarta :


Erlangga; 2004
2. Adisasmito W. Studi Kasus Analisis Politik Nasional dan Millenium Development
Goals (MDG). Jakarta : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia;
2008
3. Undang-Undang Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Availble at :
http://sanitassi.net/undang-undang-no-1-tahun-20110tentang-perumahan-dan-
kawasan-permukiman.html. Diakses 1 Agustus 2016
4. Depkes RI. 2014. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014. Jakarta : Depkes RI.
5. Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang. 2014. Profil Kesehatan Kabupaten
Magelang 2014.
6. Kommisi WHO Mengenai Keesehatan dan Lingkungan. Planet Kita Kesehatan
Kita. Kusnanto H. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada
7. Maulana, HDJ. Promosi Kesehatan. Jakarta: EGC; 2009
8. Wicaksono,AA. Menciptakan Rumah Sehat. Jakarta: Penebar Swadaya; 2009
9. Chandra,B. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta : EGC; 2007
10. Gunawan,R. Rencana Rumah Sehat. Jakarta: Kanisius; 2009
11. Notoatmodjo, S. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar. Jakarta
12. Hartoyo. Handout Penentuan Prioritas Pemecahan Masalah (Pemecahan Masalah
Terpilih); Prioritas Masalah Hanlon; Pembekalan Konsep Puskesmas. Magelang.
2016
13. Hartoyo. Handout Instrumen Analisa Penyebab Untuk Pemecahan Masalah:
Magelang. 2015

57