Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN

PRAKTIKUM ISYARAT SISTEM


MODUL 7 & 8

Nama Mahasiswa : Chaierul Anas


Nomor Induk Mahasiswa : 1510501019
Semester : IV B
Dosen : Ibrahim Nawawi S.T, M.T

LABORATORIUM KENDALI DAN DIGITAL


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TIDAR
MAGELANG
2017
A. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

1. Mahasiswa dapat memahami proses operasi konvolusi pada dua sinyal


diskrit dan pengaruhnya terhadap hasil konvolusi.
2. Mahasiswa dapat memahami proses operasi konvolusi pada dua sinyal
kontinyu dan pengaruhnya terhadap hasil konvolusi.

A. DASAR TEORI

Modul 7
Konvolusi dua Sinyal

Konvolusi antara dua sinyal diskrit x[n] dan v[n] dapat dinyatakan
sebagai

Bentuk penjumlahan yang ada di bagian kanan pada persamaan (7-1)


disebut sebagai convolution sum. Jika x[n] dan v[n] memiliki nilai 0 untuk
semua integer pada n < 0, selanjutnya x[i] = 0 untuk semua integer pada i < 0
dan v[i-n] = 0 untuk semua integer n i < 0 (atau n < i). Sehingga jumlahan
pada persamaan 7-1) akan menempati dari nilai i = 0 sampai dengan i = n,
dan operasi konvolusi selanjutnya dapat dituliskan sebagai:

Mekanisme Konvolusi

Komputasi pada persamaan (1) dan (2) dapat diselesaikan dengan merubah
discretetime index n sampai dengan i dalam sinyal x[n] dan v[n]. Sinyal yang
dihasilkan x[i] dan v[i] selanjutnya menjadi sebuah fungsi discrete-time index
i. Step berikutnya adalah menentukan v[n-i] dan kemudian membentuk
pencerminan terhadap sinyal v[i]. Lebih tepatnya v[-i] merupakan
pencerminan dari v[i] yang diorientasikan pada sumbu vertikal (axis), dan
v[n-i] merupakan v[-i] yang digeser ke kanan dengan step n. Saat pertama
kali product (hasil kali) x[i]v[n-i] terbentuk, nilai pada konvolusi x[n]*v[n]
pada titik n dihitung dengan menjumlahkan nilai x[i]v[n-i] sesuai rentang i
pada sederetan nilai integer tertentu.

Modul 8

Konvolusi Sinyal Kontinyu


Representasi sinyal dalam impuls artinya adalah menyatakan sinyal
sebagai fungsi dari impuls,atau menyatakan sinyal sebagai kumpulan dari
impuls-impuls. Sembarang sinyal diskret dapatdinyatakan sebagai
penjumlahan dari impuls-impuls diskret dan sembarang sinyal kontinyu
dapatdinyatakan sebagai integral impuls.
Secara umum, sebuah sinyal diskret sembarang x[n] dapat dinyatakan
sebagai penjumlahan impuls-impuls:

Seperti pada sistem diskret, sebuah sinyal kontinyu sembarang dapat


dinyatakan sebagai integral dari impuls-impuls:

Keluaran sebuah sistem disebut juga respon. Jika sinyal berupa unit
impulse masuk ke dalam sistem, maka sistem akan memberi respon yang
disebut respon impuls (impulse response). Respon impuls biasa diberi simbol
h. Jika sistemnya diskret, respon impulsnya diberi simbol h[n] dan jika
sistemnya kontinyu, respon impulsnya diberi simbol h(t).
Jika h[n] adalah respon impuls sistem linier diskrit, dan x[n] adalah
sinyal masukan maka sinyal keluaran adalah
Rumusan di atas disebut penjumlahan konvolusi. Jika h(t) adalah
respon impuls sistem linier kontinyu, dan x(t) adalah sinyal masukan maka
sinyal keluaran adalah

Rumusan di atas disebut integral konvolusi.


Operasi konvolusi mempunyai beberapa sifat operasional:

1. Komutatif : x(t)*h(t) = h(t)* x(t)


2. Asosiatif : x(t)*(y(t)*z(t)) = (x(t)*y(t))*z(t)
3. Distributif : x(t)*(y(t) + z(t)) = (x(t)*y(t)) + (x(t)*z(t))

Mekanisme Konvolusi Sinyal Kontinyu


Misalnya kita memiliki sebuah sistem linear time invariant (LTI)
dengan tanggapan impuls h(t)yang bisa disederhanakan seperti pada diagarm
blok berikut ini.

Jika sinyal input dalam hal ini adalah x(t), maka sinyal outputnya bisa
dinyatakan dalam persamaan berikut ini.
B. KELENGKAPAN PADA SOFTWARE MATLAB

Sebagai sebuah system, Matlab tersusun dari 5 bagian utama:

1) Development Environment.
Merupakan sekumpulan perangkat dan fasilitas yang membantu anda untuk
menggunakan fungsi-fungsi dan file-file Matlab. Beberapa perangkat ini
merupakan sebuah graphical user interfaces (GUI). Termasuk didalamnya
adalah Matlab Desktop & Command Window, Command History, sebuah
Editor & Debugger, dan Browsers untuk melihat Help, Workspace, Files, dan
Search Path.
2) Matlab Mathematical Function Library.
Merupakan sekumpulan algoritma komputasi mulai dari fungsi-fungsi dasar
seperti: sum, sin, cos, dan complex arithmetic, sampai dengan fungsi-fungsi
yang lebih kompek seperti matrix inverse, matrix eigenvalues, Bessel
functions, dan Fast Fourier Transforms.
3) Matlab Language.
Merupakan suatu high-level matrix/array language dengan control flow
statements, functions, data structures, input/output, dan fitur-fitur object-
oriented programming. Hal ini memungkinkan bagi kita untuk melakukan
kedua hal, baik pemrograman dalam lingkup sederhana untuk mendapatkan
hasil yang cepat, dan pemrograman dalam lingkup yang lebih besar untuk
memperoleh hasil-hasil dan aplikasi yang komplek.
4) Graphics.
Matlab memiliki fasilitas untuk menampilkan vektor dan matrik sebagai suatu
grafik. Di dalamnya melibatkan high-level functions (fungsi-fungsi level
tinggi) untuk visualisasi data dua dikensi dan data tiga dimensi, image
processing, animation, dan presentation graphics. Ini juga melibatkan fungsi
level rendah yang memungkinkan bagi anda untuk membiasakan diri untuk
memunculkan grafik mulai dari benutk yang sederhana sampai dengan
tingkatan graphical user interfaces pada aplikasi MATLAB anda.
5) Matlab Application Program Interface (API).
Merupakan suatu library yang memungkinkan program yang telah anda tulis
dalam bahasa C dan Fortranmampu berinterakasi dengan Matlab. Hal ini
melibatkan fasilitas untuk pemanggilan routines dari Matlab (dynamic
linking), pemanggilan Matlab sebagai sebuah computational engine, dan
untuk membaca dan menuliskan MAT-files.

C. PERANGKAT YANG DIGUNAKAN

1) Komputer atau Laptop


2) Software aplikasi MATLAB R2008a
3) Modul Praktikum

D. LANGKAH LANGKAH PERCOBAAN


Modul 7

1) Konvolusi Dua Sinyal Unit Step


Untuk itu langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Bangkitkan sinyal x[n] dengan mengetikkan perintah berikut:
L=input('Panjang gelombang(>=10) : ');
P=input('Lebar pulsa (lebih kecil dari L): ');
for n=1:L
if n<=P
x(n)=1;
else
x(n)=0;
end
end
t=1:L;
subplot(3,1,1)
stem(t,x)

2. Jalankan program dan tetapkan nilai L=20 dan P=10.


3. Selanjutnya masukkan pembangkitan sekuen unit step ke dua dengan cara
menambahkan syntax berikut ini di bawah program anda pada langkah
pertama:

for n=1:L
if n<=P
v(n)=1;
else
v(n)=0;
end
end
t=1:L;
subplot(3,1,2)
stem(t,v)

4. Coba jalankan program dan tambahkan perintah berikut:


subplot(3,1,3)
stem(conv(x,v))

5. Coba anda jalankan seperti pada langkah kedua.

2) Konvolusi Dua Sinyal Sekuen konstan


1. Bangkitkan sinyal x[n] dengan mengetikkan perintah berikut:
%Pembangkitan Sekuen Konstan Pertama
L1=21;
for n=1:L1;
if (n>=2);
st1(n)=1;
else
st1(n)=0;
end
end
t1=[0:1:(L1-1)];
subplot(311)
stem(t1,st1)
title('Konvolusi 2 sinyal sekuen konstan')
2. Jalankan program dan tetapkan nilai L2 = 11
3. Selanjutnya masukkan pembangkitan sekuen konstan ke dua dengan cara
menambahkan syntax berikut ini di bawah program anda pada langkah
pertama:

%Pembangkitan Sekuen Konstan Kedua


L2=21;
for n=1:L2;
if (n>=2);
st2(n)=1;
else
st2(n)=0;
end
end
t2=[0:1:(L2-1)];
subplot(312)
stem(t2,st2)
xlabel('Jumlah Sample')

4. Coba jalankan program dan tambahkan perintah berikut:


subplot(313)
c=conv(st1,st2)
stem(c)

5. Coba anda jalankan seperti pada langkah kedua, dan berikan penjelasan
hasilnya
Modul 8
1) Konvolusi Dua Sinyal Sinus
1. Buat program untuk membangkitkan dua gelombang sinus seperti berikut:
L=input('Banyaknya titik sampel(>=20): ');
f1=input('Besarnya frekuensi gel 1 adalah Hz: ');
f2=input('Besarnya frekuensi gel 2 adalah Hz: ');
teta1=input('Besarnya fase gel 1(dalam radiant): ');
teta2=input('Besarnya fase gel 2(dalam radiant): ');
A1=input('Besarnya amplitudo gel 1: ');
A2=input('Besarnya amplitudo gel 2: ');
%Sinus pertama
t=1:L;
t=2*t/L;
y1=A1*sin(2*pi*f1*t + teta1*pi);
subplot(3,1,1)
stem(y1)
%Sinus kedua
t=1:L;
t=2*t/L;
y2=A2*sin(2*pi*f2*t + teta2*pi);
subplot(3,1,2)
stem(y2)
2. Coba jalankan program anda dan isikan seperti berikut ini:
Banyaknya titik sampel(>=20): 20
Besarnya frekuensi gel 1 adalah Hz: 1
Besarnya frekuensi gel 2 adalah Hz: 0.5
Besarnya fase gel 1(dalam radiant): 0
Besarnya fase gel 2(dalam radiant): 0.5
Besarnya amplitudo gel 1: 1
Besarnya amplitudo gel 2: 1

Perhatikan tampilan yang dihasilkan. Apakah ada kesalahan pada program


anda?
3. Lanjutkan dengan menambahkan program berikut ini pada bagian bawah
program yang anda buat tadi.
subplot(3,1,3)
stem(conv(y1,y2))

4. Jalankan program anda, dan kembali lakukan pengisian seperti pada


langkah ke 2. Lihat hasilnya apakah anda melihat tampilan seperti
berikut?
2) Konvolusi Sinyal Bernoise dengan Raise Cosine
1. Bangkitkan sinyal raise cosine dan sinyal sinus dengan program berikut.
%File Name: Noisin.m
%convolusi sinyal sinus bernoise dengan raise cosine;
n=-7.9:.5:8.1;
y=sin(4*pi*n/8)./(4*pi*n/8);
figure(1);
plot(y,'linewidth',2)
t=0.1:.1:8;
x=sin(2*pi*t/4);
figure(2);
plot(x,'linewidth',2)

2. Tambahkan noise pada sinyal sinus.


t=0.1:.1:8;
noise=0.5*randn*sin(2*pi*10*t/4) ;
x_n=sin(2*pi*t/4)+noise;
figure(3);
plot(x_n,'linewidth',2)

3. Lakukan konvolusi sinyal sinus bernoise dengan raise cosine, perhatikan


apa yang terjadi?
xy=conv(x_n,y);
figure(4);
plot(xy,'linewidth',2)
E. ANALISIS HASIL PERCOBAAN
Modul 7
1) Konvolusi Dua Sinyal Unit Step

L=input('Panjang gelombang(>=10) : ');


P=input('Lebar pulsa (lebih kecil dari L): ');
for n=1:L
if n<=P
x(n)=1;
else
x(n)=0;
end
end
t=1:L;
subplot(3,1,1)
stem(t,x)
for n=1:L
if n<=P
v(n)=1;
else
v(n)=0;
end
end
t=1:L;
subplot(3,1,2)
stem(t,v)
subplot(3,1,3)
stem(conv(x,v))

0.5

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1

0.5

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
10

0
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
2) Konvolusi Dua Sinyal Sekuen konstan

%Pembangkitan Sekuen Konstan Pertama


L1=21;
for n=1:L1;
if (n>=2);
st1(n)=1;
else
st1(n)=0;
end
end
t1=[0:1:(L1-1)];
subplot(311)
stem(t1,st1)
title('Konvolusi 2 sinyal sekuen konstan')
%Pembangkitan Sekuen Konstan Kedua
L2=21;
for n=1:L2;
if (n>=2);
st2(n)=1;
else
st2(n)=0;
end
end
t2=[0:1:(L2-1)];
subplot(312)
stem(t2,st2)
xlabel('Jumlah Sample')
subplot(313)
c=conv(st1,st2)
stem(c)
Konvolusi 2 sinyal sekuen konstan
1

0.5

0
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

0.5

0
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Jumlah Sample
20

10

0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
Modul 8
1) Konvolusi Dua Sinyal Sinus

L=input('Banyaknya titik sampel(>=20): ');


f1=input('Besarnya frekuensi gel 1 adalah Hz: ');
f2=input('Besarnya frekuensi gel 2 adalah Hz: ');
teta1=input('Besarnya fase gel 1(dalam radiant): ');
teta2=input('Besarnya fase gel 2(dalam radiant): ');
A1=input('Besarnya amplitudo gel 1: ');
A2=input('Besarnya amplitudo gel 2: ');
%Sinus pertama
t=1:L;
t=2*t/L;
y1=A1*sin(2*pi*f1*t + teta1*pi);
subplot(3,1,1)
stem(y1)
%Sinus kedua
t=1:L;
t=2*t/L;
y2=A2*sin(2*pi*f2*t + teta2*pi);
subplot(3,1,2)
stem(y2)
subplot(3,1,3)
stem(conv(y1,y2))

-1
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
1

-1
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
5

-5
0 5 10 15 20 25 30 35 40
2) Konvolusi Sinyal Bernoise dengan Raise Cosine
%File Name: Noisin.m
%convolusi sinyal sinus bernoise dengan raise cosine;
n=-7.9:.5:8.1;
y=sin(4*pi*n/8)./(4*pi*n/8);
figure(1);
plot(y,'linewidth',2)
t=0.1:.1:8;
x=sin(2*pi*t/4);
figure(2);
plot(x,'linewidth',2)

0.8

0.6

0.4

0.2

-0.2

-0.4
0 5 10 15 20 25 30 35

0.8

0.6

0.4

0.2

-0.2

-0.4

-0.6

-0.8

-1
0 10 20 30 40 50 60 70 80
Penambahan noise pada sinyal sinus
t=0.1:.1:8;
noise=0.5*randn*sin(2*pi*10*t/4) ;
x_n=sin(2*pi*t/4)+noise;
figure(3);
plot(x_n,'linewidth',2)

1.5

0.5

-0.5

-1

-1.5
0 10 20 30 40 50 60 70 80

Penambahan konvolusi sinyal bernoise dengan raise cosine


xy=conv(x_n,y);
figure(4);
plot(xy,'linewidth',2)

-1

-2

-3

-4

-5
0 20 40 60 80 100 120