Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Sistem imun tubuh terdiri dari banyak komponen. Semua komponen tersebut akan bekerja
secara serentak manakala tubuh mendapatkan serangan dari penyakit yang berasal dari luar
tubuh maupun dari dalam tubuh kita sendiri. Sistim imun dibagi atas dua jenis, yaitu sistem
imun kongenital atau nonspesifik dan sistim imun didapat atau adaptive atau spesifik.
Mekanisme pertahanan tubuh oleh sistim imun kongenital bersifat spontan, tidak spesifik,
dan tidak berubah baik secara kualitas maupun kuantitas bahkan setelah paparan berulang
dengan patogen yang sama. Sedangkan sistim imun didapat muncul setelah proses mengenal
oleh limfosit (clonal selection), yang tergantung pada paparan terhadap patogen sebelumnya.
Adanya sistim imun kongenital memungkinkan respon imun dini untuk melindungi tubuh
selama 4-5 hari, yang merupakan waktu yang diperlukan untuk mengaktivasai limfosit
(imunitas didapat). Mekanisme pertahanan tubuh ini dibagi atas 3 fase :

1. Immediate phase, ditandai oleh terdapatnya komponen sistim imun kongenital (makrofag
dan neutrofil), yang beraksi langsung terhadap patogen tanpa diinduksi. Jika mikroorganisme
(m.o) memiliki molekul permukaan yang dikenali oleh fagosit (makrofag dan neutrofil)
sebagai benda asing, akan diserang atau dihancurkan secara langsung. Bila m.o dikenali
sebagai antibodi, maka protein komplemen yang sesuai yang berada diplasma akan berikatan
dengan m.o, kompleks ini kemudian dikenal sebagai benda asing oleh fagosit dan kemudian
diserang atau dihancurkan.

2. Acute-phase proteins atau early phase, muncul beberapa jam kemudian, diinduksi, tetapi
masih bersifat nonspesifik, timbul bila fagosit gagal mengenal m.o melalui jalur diatas. M.o
akan terpapar terhadap acute-phase proteins (APPs) yang diproduksi oleh hepatosit dan
kemudian dikenali oleh protein komplemen. Kompleks m.o, APPs, dan protein komplemen
kemudian dikenali oleh fagosit dan diserang serta dihancurkan.

3. Late phase, merupakan respon imun didapat timbul 4 hari setelah infeksi pertama, ditandai
oleh clonal selection limfosit spesifik. Pada fase ini dibentuk molekul dan sel efektor
pertama.
Mempertahankan kekebalan tubuh diperlukan agar tubuh senantiasa sehat. Meningkatkan
dengan menjaga pola hidup sehat, yaitu istirahat/tidur yang cukup, konsumsi makanan bergizi

Page 1
yang mengandung vitamin dan mineral, dan bila perlu menggunakan imunomodulator.
Imunomodulator adalah imunostimulasi atau imunopotensiasi, yaitu cara memperbaiki fungsi
sistem imun tubuh dengan menggunakan bahan yang merangsang atau meningkatkan kerja
sistem tersebut.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian Imunomodulator ?


2. Bagaimana Pengelompokan Imunomodulator ?
3. Apa saja Metode Uji Aktifitas Imunomodulator ?

C. TUJUAN

Dengan mempelajari makalah ini mahasiswa diharapkan mampu :


1. Mengetahui pengertian Imunomodulator
2. Mengetahui pengelompokan dalam imunomodulator
3. Mengetahui pengertian imunorestorasi, Imunostimulasi dan Imunosupresi

Page 2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN IMUNOMODULATOR

Imunomodulator merupakan senyawa tertentu yang dapat meningkatkan mekanisme


pertahanan tubuh baik secara spesifik maupun non spesifik, dan terjadi induksi non spesifik
baik mekanisme pertahanan seluler maupun humoral. Pertahanan non spesifik terhadap
antigen ini disebut paramunitas, dan zat berhubungan dengan penginduksi disebut
paraimunitas. Induktor semacam ini biasanya tidak atau sedikit sekali kerja antigennya, akan
tetapi sebagian besar bekerja sebagai mitogen yaitu meningkatkan proliferasi sel yang
berperan pada imunitas. Sel tujuan adalah makrofag, granulosit, limfosit T dan B, karena
induktor paramunitas ini bekerja menstimulasi mekanisme pertahanan seluler. Mitogen ini
dapat bekerja langsung maupun tak langsung misalnya melalui sistem komplemen atau
limfosit, melalui produksi interferon atau enzim lisosomal untuk meningkatkan fagositosis
mikro dan makro . Mekanisme pertahanan spesifik maupun non spesifik umumnya saling
berpengaruh. Dalam hal ini pengaruh pada beberapa sistem pertahanan mungkin terjadi,
hingga mempersulit penggunaan imunomodulator.
Terdapat 2 jenis Imunomodulator yaitu Imunomodulator sintesis dan imunomodulator alami.
Imunomodulator sintesis adalah seperti Isoprinosin, Levamisol, Vaksin BCG dan banyak
lagi. Penggunaan imunomodulator sintetik ini mempunyai beberapa kekurangan seperti
mengakibatkan reaksi alergi dan hipersensitivitas pada sesetengah orang. Ia juga dapat
mengakibatkan efek samping yang tidak diinginkan. Dengan ini, adalah lebih aman jika
digunakan imunomodulator alami karena efek samping darinya juga lebih ringan dibanding
dengan imunomodulator sintetik.
Penggunaan tanaman sebagai obat setelah diketahui mengandung antioksidan alami serta
dapat meningkatkan aktivitas sistem imun. Terjadi peningkatan dalam dekade terakhir pada
manusia karena penggunaan tanaman sebagai obat merupakan suatu pendekatan yang aman
dan alami untuk mengobati penyakit. Menurut WHO, imunomodulator haruslah memenuhi
persyaratan berikut: secara kimiawi murni atau dapat didefinisikan secara kimia, secara
biologik dapat diuraikan dengan cepat, tidak bersifat kanserogenik atau ko-kanserogenik,
baik secara akut maupun kronis tidak toksik dan tidak mempunyai efek samping farmakologi
yang merugikan serta tidak menyebabkan stimulasi yang terlalu kecil ataupun terlalu besar.
Hal ini sesuai dengan Imunomodulator alami, yang tidak bersifat toksik, tidak memilii efek
samping farmakoogi yang merugikan .Berbagai tanaman diketahui memiliki aktivitas sebagai
imunomodulator di antaranya adalah Kaempferia Galanga L.

Page 3
Tujuan Imunomodulator

Untuk meningkatkan fungsi dan aktifitas komponen sistem imun penderita terutama kearah
penyembuhan.

Manfaat Imunomodulator

a) Pertahanan Tubuh

Menangkal bahan berbahaya agar tubuh tidak sakit, dan jika sel imun yang bertugas untuk
pertahanan ini mendapatkan gangguan atau tidak bekerja dengan baik, maka orang akan
mudah terkena sakit

b) Keseimbangan fungsi homeostatik

Menjaga keseimbangan dari komponen tubuh

c) Perondaan

Sebagian dari sel-sel imun memiliki kemampuan untuk meronda ke seluruh bagian tubuh.
Jika ada sel-sel tubuh yang mengalami mutasi maka sel peronda tersebut akan
membinasakannya.

B. PENGELOMPOKAN IMUNOMODULATOR

Imunomodulator adalah obat yang dapat mengembalikan dan memperbaiki sistem imun yang
fungsinya terganggu atau untuk menekan yang fungsinya berlebihan.Obat golongan
imunomodulator bekerja menurut 3 cara, yaitu melalui:Imunorestorasi, Imunostimulasi,
Imunosupresi. Imunorestorasi dan imunostimulasi disebut imunopotensiasi atau up
regulation, sedangkan imunosupresi disebut down regulation.

1. Imunorestorasi

Ialah suatu cara untuk mengembalikan fungsi sistem imun yang terganggu dengan
memberikan berbagai komponen sistem imun, seperti: immunoglobulin dalam bentuk
Immune Serum Globulin (ISG), Hyperimmune Serum Globulin (HSG), plasma,
plasmapheresis, leukopheresis, transplantasi sumsum tulang, hati dan timus.
ISG dan HSG diberikan untuk memperbaiki fungsi sistem imun pada penderita dengan
defisiensi imun humoral, baik primer maupun sekunder. ISG dapat diberikan secara intravena
dengan aman. Defisiensi imunoglobulin sekunder dapat terjadi bila tubuh kehilangan Ig

Page 4
dalam jumlah besar, misalnya pada sindrom nefrotik, limfangiektasi intestinal, dermatitis
eksfoliatif dan luka bakar.
Infus plasma segar telah diberikan sejak tahun 1960 dalam usaha memperbaiki sistem imun.
Keuntungan pemberian plasma adalah semua jenis imunoglobulin dapat diberikan dalam
jumlah besar tanpa menimbulkan rasa sakit.
Plasmapheresis (pemisahan sel darah dari plasma) digunakan untuk memisahkan plasma yang
mengandung banyak antibodi yang merusak jaringan atau sel, seperti pada penyakit:
miastenia gravis, sindroma goodpasture dan anemia hemolitik autoimun.
Pemisahan leukosit secara selektif dari penderita telah dilakukan dalam usaha terapi artritis
reumatoid yang tidak baik dengan cara-cara yang sudah ada.

2. Imunostimulasi

Imunostimulasi dan Imunorestorasi yang disebut juga imunopotensiasi adalah cara


memperbaiki fungsi sistem imun dengan menggunakan bahan yang merangsang sistem
tersebut.
Imunostimulan ditunjukan untuk perbaikan fungsi imun pada kondisi-kondisi imunosupresi.
Kelompok obat ini dapat memperngaruhi respon imun seluler maupun humoral. Kelemahan
obat ini adalah efeknya menyeluruh dan tidak bersifat spesifik untuk jenis sel atau antibodi
tertentu. Selain itu efek umumnya lemah. Indikasi imunostimulan antara lain AIDS, infeksi
kronik, dan keganasan terutama yang melibatkan sistem lifatik. (Widianto B Matildha. 1987).
Imunostimulan adalah senyawa tertentu yang dapat meningkatkan mekanisme pertahanan
tubuh baik secara spesifik maupun non spesifik, dan terjadi induksi non spesifik baik
mekanisme pertahanan seluler maupun humoral. Pertahanan non spesifik terhadap antigen ini
disebut paramunitas, dan zat berhubungan dengan penginduksi disebut paraimunitas.
Induktor semacam ini biasanya tidak atau sedikit sekali kerja antigennya, akan tetapi
sebagian besar bekerja sebagai mitogen yaitu meningkatkan proliferasi sel yang berperan
pada imunitas. Sel tujuan adalah makrofag, granulosit, limfosit T dan B, karena induktor
paramunitas ini bekerja menstimulasi mekanisme pertahanan seluler. Mitogen ini dapat
bekerja langsung maupun tak langsung (misalnya melalui sistem komplemen atau limfosit,
melalui produksi interferon atau enzim lisosomal) untuk meningkatkan fagositosis mikro dan
makro. Mekanisme pertahanan spesifik maupun non spesifik umumnya saling berpengaruh.
Dalam hal ini pengaruh pada beberapa sistem pertahanan mungkin terjadi, hingga
mempersulit penggunaan imunomodulator, dalam praktek.
Biological Response Modifier (BRM) adalah bahan-bahan yang dapat merubah respons
imun, biasanya meningkatkan. Bahan yang disebut imunostimulator itu dapat dibagi sebagai
berikut:

a.Biologik Hormon timus

Sel epitel timus memproduksi beberapa jenis homon yang berfungsi dalam pematangan sel T
dan modulasi fungsi sel T yang sudah matang. Ada 4 jenis hormon timus, yaitu timosin alfa,

Page 5
timolin, timopoietin dan faktor humoral timus. Semuanya berfungsi untuk memperbaiki
gangguan fungsi imun (imunostimulasi non-spesifik) pada usia lanjut, kanker, autoimunitas
dan pada defek sistem imun(imunostimulasi non-spesifik) pada usia lanjut, kanker,
autoimunitas dan pada defek sistem imun (imunosupresi) akibat pengobatan. Pemberian
bahan-bahan tersebut jelas menunjukkan peningkatan jumlah, fungsi dan reseptor sel T dan
beberapa aspek imunitas seluler. Efek sampingnya berupa reaksi alergi lokal atau sistemik.

b. Limfokin

Disebut juga interleukin atau sitokin yang diproduksi oleh limfosit yang diaktifkan.
Contohnya ialah Macrophage Activating Factor (MAF), Macrophage Growth Factor (MGF),
T-cell Growth Factor atau Interleukin-2 (IL-2), Colony Stimulating Factor (CSF) dan
interferon gama (IFN-.). Gangguan sintetis IL-2 ditemukan pada kanker, penderita AIDS,
usia lanjut dan autoimunitas.

c. Interferon

Ada tiga jenis interferon yaitu alfa, beta dan gama. INF-a dibentuk oleh leukosit, INF-
dibentuk oleh sel fibroblas yang bukan limfosit dan IFN-. dibentuk oleh sel T yang
diaktifkan. Semua interferon dapat menghambat replikasi virus DNA dan RNA, sel normal
dan sel ganas serta memodulasi sistem imun. Interferon dalam dosis tinggi menghambat
penggandaan sel B dan sel T sehingga menurunkan respons imun selular dan humoral, dan
dalam dosis rendah mengatur produksi antibodi serta merangsang sistem imun yaitu
meningkatkan aktivitas membunuh sel NK, makrofag dan sel T. Dalam klinik, IFN
digunakan pada berbagai kanker seperti melanoma, karsinoma sel ginjal, leukimia mielositik
kronik, hairy cell leukimia, dan kapossis sarkoma.Efek sampingnya adalah demam, malaise,
mialgia, mual, muntah, mencret, leukopenia, trombositopenia, dan aritmia.

d. Antibodi monoclonal

Diperoleh dari fusi dua sel yaitu sel yang dapat membentuk antibodi dan sel yang dapat hidup
terus menerus dalam biakan sehingga antibodi tersebut dapat dihasilkan dalam jumlah yang
besar. Antibodi tersebut dapat mengikat komplemen, membunuh sel tumor manusia dan tikus
in vivo

.
e. Transfer factor / ekstrak leukosit

Ekstrak leukosit seperti Dialysed Leucocyte Extract dan Transfer Factor (TF) telah digunakan
dalam imunoterapi. Imunostimulasi yang diperlihatkan oleh TF yang spesifik asal leukosit

Page 6
terlihat pada penyakit seperti candidiasis mukokutan kronik, koksidiomikosis, lepra
lepromatosa, tuberkulosis, dan vaksinia gangrenosa.

f. Nukleotida

Nukleotida terdapat pada air susu ibu. Akhir-akhir ini banyak susu formula yang diberi
suplementasi nukleotida. Pada penelitian uji banding kasus yang dilakukan pada bayi, satu
kelompok diberikan susu ibu atau susu formula yang disuplementasi nukleotida,
dibandingkan dengan kelompok yang diberikan susu formula tanpa nukleotida, ternyata
terdapat peningkatan aktifitas sel NK pada bayi-bayi yang diberi susu ibu dan formula
dengan nukleotida dibandingkan bayi-bayi yang diberi susu formula tanpa nukleotida.
Peneliti yang sama mendapatkan peningkatan produksi IL-2 oleh sel monosit pada kelompok
yang diberi susu formula dengan nukleotida. Nukleotida juga mengaktifkan sel T dan sel B.

g. Lymphokin-Activated Killer (LAK) cells

Adalah sel T sitotoksik singeneik yang ditimbulkan in vitro dengan menambahkan sitokin
seperti IL-2 ke sel-sel seseorang yag kemudian diinfuskan kembali. Prosedur ini merupakan
imunoterapi terhadap keganasan.

h. Bahan asal bakteri

BCG (Bacillus Calmette Guerin), memperbaiki produksi limfokin dan mengaktifkan sel NK
dan telah dicoba pada penanggulangan keganasan (imuno-stimulan non-spesifik).
Corynebacterium parvum (C. parvum), digunakan sebagai imunostimulasi non-spesifik
pada keganasan.
Klebsiella dan Brucella, diduga memiliki efek yang sama dengan BCG.
Bordetella pertusis, memproduksi Lymphocytosis Promoting Factor (LPF) yang merupakan
mitogen untuk sel T dan imunostimulan.
Endotoksin, dapat merangsang proliferasi sel B dan sel T serta mengaktifkan makrofag.

i. Bahan asal jamur

Berbagai bahan telah dihasilkan dari jamur seperti lentinan, krestin dan schizophyllan.
Bahan-bahan tersebut merupakan polisakarida dalam bentuk beta-glukan yang dapat
meningkatkan fungsi makrofag dan telah banyak digunakan dalam pengobatan kanker
sebagai imunostimulan non-spesifik.5 Penelitian terbaru menemukan jamur Maitake (Grifola
frondosa) yang mengandung beta-glukan yang lebih poten sebagai imunostimulan pada
pasien dengan HIV-AIDS, keganasan, hipertensi dan kerusakan hati (liver ailments).

Page 7
b. Sintetik

a) Kortikosteroid (Glukokortikoid)
b) Penghambat kalsineurin (Siklosporin dan Takrolimus)
c) Sitotoksik (Azatioprin, mikofenolat mofetil, Siklosfosfamid)
d) Antibodi (antibodi poliklonal dan monoklonal)

1. Levamisol

Merupakan derivat tetramizol, Dalam klinik lazim dipakai sebagai obat cacing, dan sebagai
imunostimulan levamisol berkhasiat untuk meningkatkan penggandaan sel T, menghambat
sitotoksisitas sel T, mengembalikan anergi pada beberapa kanker (bersifat stimulasi
nonspesifik), meningkatkan efek antigen, mitogen, limfokin dan faktor kemotaktik terhadap
limfosit, granulosit dan makrofag. Selain untuk penyakit hodgkin, penggunaan klinisnya
untuk mengobati artritis reumatoid, penyakit virus, lupus eritematosus sistemik, sindrom
nefrotik. Diberikan dengan dosis 2,5 mg/kgBB per oral selama 2 minggu, kemudian dosis
pemeliharaan beberapa hari per minggu. Efek samping yang harus diperhatikan adalah mual,
muntah, urtikaria, dan agranulositosis. Obat i9ni diabsorpsi dnegan cepat dengan kadar
puncak 1-2 jam. Obat ini didistribusikan luas ke berbagai jaringan dan dimetabolisme di hati.
Tersedia dalam bentuk tablet 25,40,50mg.

2. Isoprinosin

Disebut juga isosiplex (ISO), adalah bahan sintetis yang mempunyai sifat antivirus dan
meningkatkan proliferasi dan toksisitas sel T. Sebagai imunostimulator isoprinosin berkhasiat
meningkatkan penggandaan sel T, meningkatkan toksisitas sel T, membantu produksi IL-
2(LIMFOKIN) yang berperan dalam diferensiasi limfosit dan makrofag, serta meningkatkan
fungsi sel NK. Diberikan dengan dosis 50 mg/kgBB. Perlu pemantauan kadar asam urat
darah karena pemberian isoprinosin dapat meningkatkan kadar asam urat. Berbagai derivat
sintetiknya sedang dalam penyelidikan untuk AIDS dan berbagai neoplasma. Obat ini
dilaporkan mengurangi risiko infeksi terhadap HIV pada tahap lanjut.

3. Muramil Dipeptida (MDP)

Merupakan komponen aktif terkecil dari dinding sel mycobacterium. Sebagai imunostimulan
berkhasiat meningkatkan sekresi enzim dan monokin, serta bersama minyak dan antigen
dapat meningkatkan respons selular maupun humoral. Dalam klinik telah banyak digunakan
untuk pencegahan tumor dan infeksi sebagai ajuvan vaksin.

Page 8
4. Vaksin BCG

BCG dan komponen aktifnya merupakan produk bakteri yang memiliki efek
imunostimulan. Penggunaan BCG dalam imunopotensiasi bermula dari pengamatan bahwa
penderita tuberkulosis kelihatan lebih kebal terhadap infeksi oleh jasad renik lain. Dalam
imunomodulasi BCG digunakan untuk mengaktifkan sel T, memperbaiki produksi limfokin,
dan mengaktifkan sel NK. Walaupun sudah dicoba untuk berbagai neoplasma, efek yang
cukup nyata terlihat pada kanker kandung kemih dengan pemberian intravesika. Efek
samping meliputi reaksi hipersensitivitas, syok, menggigil, lesu, dan penyakit kompleks
imun.

Mekanisme Kerja

Imunostimulator secara tidak langsung berkhasiat mereaktivasi system imun yang rendah
dengan meningkatkan respon imun tak spesifik antara lain perbanyakan limfo T4, NK-cell
dan magrofag distimulasi olehnya, juga pelepasan interferon dan interleukin. Sebagai efek
akhir dari reaksi kompleks itu, zat asing dapat dikenali dan dimusnahkan. Pada sel sel tumor
ekspresi antigen transplantasi diperkuat olehnya sehingga lebih dikenali oleh TNF dan sel
sel sytotoksis. Zat imunostimulator yang kini digunakan adalah vaksin BCG, limfokin
(interveron , interleukin) dan levamisol.

3. Imunosupresi

Pertahanan tubuh merupakan fungsi fisiologis yang amat penting bagi mahluk hidup. Dengan
pertahanan tubuh berjalan optimal, mahluk hidup dapat tumbuh berkembang, bereproduksi
dengan optimal. Bila berbicara mengenai pertahanan tubuh, perlu diketahui pula ancaman-
ancaman penyakit yang dapat menyebabkan gangguan fungsi tubuh sehingga perkembangan
tubuh dan produksi menjadi terganggu.

Imunosupresi adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan reaksi pembentukan zat kebal
tubuh atau antibodi akibat kerusakan organ limfoid. Dengan adanya penurunan jumlah
antibodi dalam tubuh, maka penyakit-penyakit akan lebih leluasa masuk dan menginfeksi
bagian tubuh. Hal tersebut akan menyebabkan adanya gangguan pertumbuhan dan produksi.
Jadi, sangatlah penting untuk mengenali dan mengetahui imunosupresi.

Mekanisme Kerja

Terjadinya imunosupresi akan ditunjukkan dengan adanya hambatan atau gangguan pada satu

Page 9
atau lebih komponen sistem kekebalan tubuh. Mekanisme terjadinya imunosupresi biasanya
terjadi melalui 3 mekanisme yaitu :

1. Secara langsung mengganggu fungsi sistem kekebalan atau merusak organ dan kelenjar
limfoid primer (bursa Fabricius dan thymus) sekaligus organ/kelenjar limfoid sekunder
(limfa, proventrikulus, seka tonsil dll). Mekanisme ini biasanya disebabkan serangan
Gumboro, Mareks, reovirus, limfoid leukosis dan aspergilosis.

2. Merusak atau mengganggu fungsi dan sistem pertahanan yang bersifat sekunder (limfa,
proventrikulus, seka tonsil, sel harderian) karena serangan penyakit swolen head syndrome,
kolera, ILT dan snot (korisa)

3. Menguras zat kebal (antibodi) tubuh yang telah terbentuk dari hasil vaksinasi, yang
disebabkan serangan koksidiosis

Secara umum adanya imunosupresi ditunjukkan dari adanya :

1. Gangguan sistem kekebalan tubuh, seperti adanya kegagalan vaksinasi (meskipun vaksin
yang digunakan berkualitas dan tata laksana vaksinasi telah dilakukan dengan tepat), reaksi
post vaksinasi, turun atau hilangnya keampuhan pengobatan bahkan meningkatnya kasus
penyakit yang tidak umum, seperti gangrenous dermatitis, aplastic anemia atau inclusion
body hepatitis.

2. Meningkatnya penyakit yang menyerang saluran/sistem pernapasan yang diikuti infeksi


sekunder oleh bakteri.

Terapi Imunosupresi
Miastenia gravis adalah penyakit autoimun, di mana kekebalan tubuh balik menyerang diri
sendiri. Dengan dasar tersebut digunakan obat-obatan imunosupresi (penekan kekebalan
tubuh). Penggunaan obat imunosupresi efektif pada hampir seluruh pasien miastenia gravis.
Beberapa obat yang biasa digunakan adalah glukokortikoid, azathioprine, siklosporin,
takrolimus, dan lain-lain. Pemilihan obat yang digunakan didasarkan pada keuntungan dan
kerugian pada masing-masing pasien.

Page
10
Bentuk sediaan dan dosis dari imunomodulator
Siklosporin
Sediaan intravena dalam bentuk larutan 50 mg/ml, sediaan oral berupa kapsul lunak 25-100
mg.
Takrolimus
Sediaan oral untuk dewasa 150-200 mg/kg BB/hari, dosis intravena 25-50 mg/kg BB/hari.
Siklofosfamid
Dosis berkisar tablet 25 dan 50 mg larutan injeksi intravena 100 mg/vial
Metotreksat
Tablet 2,2 mg

Page
11
BAB III

PEMBAHASAN

IMUNOMODULATOR ALAMI

KLASIFIKASI

Nama Latin : Echinacea purpurea, Echinacea angustifolia, Echinacea pallida

Nama lain : Echinacea, purple coneflower, coneflower, American coneflower (1)

Kingdom : Plantae

Subkindom : Traceobionta

Division : Magnolyopita

Class : Magnoliopsida

Subclass : Asteridae

Family : Asteraceae

Genus : Echinaceae Moench

Species : Echinaceae Purpurea (L.) Moench (2)

Tumbuhan Echinacea yang digunakan sebagai obat adalah akarnya.Echinacea


purpurea dan E. pallid digunakan sebagai imunostimulan dan dalam pengobatan infeksi
pernapasan. Kedua spesies dimanfaatkan untuk pembuatan produk farmasetik dan terdapat
sejumlah data mengenai efikasinya. Spesies lain juga digunakan, tetapi tidak cukup data yang
tersedia untuk memvalidasi penggunaannya. Kandungan zat aktif tidak diketahui. Oleh
karena itu, ekstrak kedua spesies ini di pasaran (dan biasanya dianggap aktif secara
farmakologis) dapat digolongkan sebagai tipe C. Kandungan yang menonjol adalah turunan
asam kafeat (sekitar 1%), terutama ekinakosida (E.pallida), asam sikorat (E.purpurea),
alkamida (E.purpurea), sejumlah kecil minyak atsiri dan polisakarida (keduanya dari
spesies Echinacea spp.)

Page
12
MEKANISME KERJA

Jurnal Applications of the Phytomedicine Echinaceapurpurea (Purple Coneower) in


Infectious Diseases telah menunjukkan bahwa beberapa ekstrak Echinacea jelas
mengandung senyawa, atau kombinasi dari senyawa, dengan kemampuan untuk berinteraksi
secara khusus dengan virus dan mikroba. Selain itu, ekstrak ini dapat mempengaruhi berbagai
jalur sinyal sel epitel dan menghambat virus / bakteri yang disebabkan sekresi sitokin /
kemokin dan mediator inflamasi lainnya yang bertanggung jawab untuk gejala paru. Karena
banyak jalur sinyal dapat dipengaruhi oleh Echinacea dalam tipe sel yang berbeda, termasuk
sel-sel kekebalan tubuh, dapat dibayangkan bahwa efek menguntungkan secara keseluruhan
karena kombinasi senyawa tertentu bekerja secara sinergis. Contoh sinergisme dalam
pengobatan herbal telah dijelaskan dan dalam beberapa kasus divalidasi eksperimental, dan
ada kemungkinan bahwa Echinacea tertentu juga menampilkan sinergisme.

Dapat meningkatkan imunitas tubuh dengan cara:

mengaktifkan fagositosis
menstimulasi sel-sel fibroblas
meningkatkan aktivitas respirasi
meningkatkan mobilitas leukosit

EFEK FARMAKOLOGI

A. Aktivitas Anti Inflamasi


Echinacea purpurea adalah salah satu spesies utama Echinacea, obat ini telah lama digunakan
untuk mengobati infeksi untuk membantu penyembuhan luka dan meningkatkan sistem
kekebalan tubuh. Alkamides dan turunan asam caffeic yang kuat adalah agen anti inflamasi
hadir dalam Echinacea. Alkamides echinacea yang diturunkan memiliki imunomodulator dan
aktivitas anti-inflamasi. Efek anti-inflamasi melalui penghambatan produksi mediator
inflamasi tumor necrosis factor-alpha (TNF-) dan oksida nitrat (NO) (5).

B. Anti Oksidant

Echinacea ditemukan menjadi antioksidan yang sangat ampuh. Metabolisme asam arakidonat
dan produksi E2 prostaglandin berkurang oleh beberapa E. purpurea. Ekstrak alkohol
Echinacea biasanya terdiri dari dua kelas bahan kimia alami, alkamides lipofilik dan turunan
asam caffeic larut dalam air. Turunan asam caffeic adalah antioksidan yang efektif dalam
sistem generasi radikal bebas dan memiliki aktivitas anti hialuronidase (5).

C. Anti Immunosupresant

Echinacea menunjukkan efek stimulasi bila diterapkan pada sel-sel kekebalan dalam budaya
atau intraperitoneal disuntikkan ke tikus.Echinacea merangsang Neutrofil dan fungsi
makrofag fagositosis. Studi lain ilmiah menunjukkan
bahwa Echinacea purpurea memiliki efek non spesifik, jangka pendek stimulan sistem
kekebalan tubuh propert(5).

Page
13
D. Anti Viral
Benzalkonium klorida dan fitokimia yang berasal dari Echinacea purpurea ditemukan
memiliki aktivitas antivirus terhadap virus herpes dalam model sel manusia. Estrak hidrofilik
dan lipofilik kompleks Echinacea memiliki lebih pada aktivitas virus-infeksi fraksi
inhibititor. Polisakarida yang berasal dari Echinacea purpurea telah menunjukkan aktivitas
untuk merangsang aktivitas makrofag dan fungsi yang terkait dengan produksi sitokin dan
kelompok senyawa fenolik serta alkamides, yang telah menunjukkan sifat antivirus dan
antijamur(5).

E. Anti Fungi

Ekstrak E. purpurea terbukti memiliki aktivitas antijamur dalam serangkaian percobaan in


vitro aktivitas pengujian terhadap berbagai spesies Candida, dan berbagai Saccharomyces
cerevisiae, Candida albicanspenyebab jamur yang paling umum dari penyakit kulit manusia.
Polisakarida yang kaya pada ekstrak Echinacea purpurea ditemukan untuk mengurangi
infeksi dan angka kematian tikus imunosupresi terinfeksi Candida(5).

INTERAKSI DENGAN OBAT SINTETIK

Echinaceae berinteraksi dengan beberapa obat yaitu dextrometrophan, immunosupresant,


tolbutamide dan midazolam.

1. Echinaceae dan dextromethrophan


Uji in vitro mengajukan bahwa echinaceae memberikan efek yang lemah dalam menghambat
isoenzym sitokrom P450,meskipun begitu pada studi in vivo dengan menggunakan
debrisoquine (substrate lain yang dapat memeriksa dari CYP2D6), saran tersebut tidak
memberikan keterkaitan dalam uji klinik

2. Echinaceae dan digoxin


Pada uji in vitro tidak ada efek farmakokinetik secara signifikan jika euchinaceae diberikan
bersamaan dengan digoxin dengan suatu substrat untuk P-glycoprotein.Digoxin ini sebagai
substrat untuk memeriksa P-glikoprotein,maka dari itu tidak ada bukti klinis secara relevan
yang menunjukkan adanya interaksi antara echinaceae dan P-glycoprotein.

3. Echinaceae dan immunosuppressants


Interaksi keduanya masih dalam hipotesis,karena belum ditemukan laporan uji
klinik.Echinaceae memberikan efek imunostimulan,dalam teoritis echinaceae dapat
memberikan efek antagonis dari obatimmunosupresive.Pada pembuatan dari 3 produk yang
telah memiliki surat izin dari MHRA di United Kingdom menyarankan dengan penggunaan
yang berlawanan untuk imunosupresive terutama ciclosporin dan methotrexate.

4. Echinaceae dan Midazolam


Echinaceae tidak menyebabkan nilai AUC dan clearence dengan penggunaan oral midazolam
berubah,meskipun dapat meningkatkan bioavibilitas.Clearence pada penggunaan intravena
midazolam mungkin dapat meningkat pada pemberian Echinaceae.Dengan mekanisme
midazolam terutama dimetabolisme oleh isoenzim CYP3A sitokrom P450.Hal tersebut dapat
disarankan bahwa adanya pemilihan efek pada isoenzym CYP3A sitokrom P450 pada hati
dan saluran pencernaan.Berdasarkan hasil studi terdapat perbedaan efek jika diberikan dalam
midazolam oral dan midazolam intravena.

Page
14
5. Echinacea dan Tolbutamide
Penggunaan echinaceae dan tolbutamide tidak memberikan efek klinik pada farmakokinetik
yang relevan,sehingga tidak perlu adanya penyesuaian dosis tolbutamide saat bersamaan
dalam penggunaan echinaceae (7).

EFEK TOKSIK

Echinacea dapat menyebabkan reaksi alergi dari tingkat yang ringan menjadi anafilaksis,
yaitu keadaan sulit bernafas biasanya diiringi dengan rasa tercekik dan rasa lemas. Penderita
asma dan alergi mendapat resiko yang berat jika mengkonsumsi karena akan mengalami
anafilaksis sehingga dapat memperburuk kondisi penderita tersebut. Echinacea juga
menyebabkan efek samping numbing temporer dan sensasi tingling pada kulit mulut yang
sedang menurun sistem imunnya. Echinacea tidak aman jika diminum oleh individu yang
hamil dan menyusui (8).

DOSIS

Pada sebuah penelitian lainnya dpt dilihat brbgai spesies Echinacea dapat digunakan sebagai
terapi Common cold atau demam. Pada penelitian ini dibandingkan bagian-bagian dari
tmbuhan spesie Echinacea dengan placebo. Dosis-dosisnya dapat dilihat pada table dibawah
ini(9)

Imboost

Imboost Tablet dan Imboost Syrup 60 ml & 120 ml.

Komposisi :

Imboost tablet Echinacea purpurea 250 mg dan Zn picolinate 10 mg

Imboost syrup Echinacea purpurea 250 mg dan Zn picolinate 5 mg.

Biasanya digunakan untuk infeksi akut pernafasan akibat virus baik yang terjadi pada
penyakit paru kronik ataupun tidak. Jarang digunakan pada tuberkulosis.

1) Penyakit Paru Obstruktif Kronik/Bronkitis kronis eksaserbasi akut

Imboost dengan dosis 2-3x 1 tablet/hari selama 2 minggu.

Page
15
2) Asma eksaserbasi akut

Imboost dengan dosis 2-3x 1 tablet/hari selama 2 minggu

3) Bronkiektasis

Dosis 21 tablet/hari selama 2-4 minggu, interval (break) 2-4 minggu, kemudian pemberian
diulang kembali dengan dosis 21 tablet/hari selama 2-4 minggu(10).

FARMAKOKINETIK

Asam hydroxycinnamic merupakan salah satu kelas utama asam fenolik. Beberapa kelompok
penelitian gagal untuk mendeteksi adanya asam klorogenat yang sekelompok dengan asam
hydroxycinnamic pada plasma manusia atau tikus setelah mengkonsumi Echinaceae.
Seharusnya dalam plasma dan urin ditemukan asam klorogenat,sehingga dapat disimpulkan
bahawa dalam penelitian ini asam klorogenat yang diserap dan
dimetabolisme cepat.Namun dalam penelitian pada produk Echinaceae tertentu memberikan
hasil yang berbeda secara signifikan jika diteliti farmakokinetik dari
hydroxycinnamate.Alkamide juga menjadi studi dalam kapasitas absorbsi. Dilaporkan
konsentrasi dari aklamide dalam serum antara 10,88 336 ng/ml dengan t1/2 yaitu 71,9
menit,pada studi lain didapat t1/2 berkisar 0,4 1,03 jam dengan observasi pada senyawa
yangsama.Nilai t1/2 juga tergantung pada struktur alkylamide.Info terbaru melaporkan bahwa
Echinaceae memiliki aktivitas anxyolityc (11).

IMUNOMODULATOR SINTETIS

METOTREKSAT

Metotreksat dulunya merupakan obat antikanker namun belakangan ini ditemukan potensi
dari metotreksat untuk menghambat peradangan(inflamasi) secara spesifik. Karena kerja obat
ini yang spesifik dalam menghambat terjadi inflamasi dan tidak menimbulkan efek samping
seperti obat-obat golongan NSAID, maka obat ini dijadikan sebagai alternative obat dalam
pengobatan rheumatid arthritis (Limanto,2012).

Mekanisme Kerja

Metotreksat yang masuk kedalam tubuh, kemudian akan diserap ke dalam sel. Methotreksat
yang terserap kemudian akan dipecah menjadi adenosine. Dengan adanya penambahan
jumlah adenisin melalui pemecahan methotreksat akan terjadi peningkatan jumalah adenosine
didalam sel. Adenosine merupakan senyawa endogen yang diproduksi oleh sel dan jaringan
yang bertanggungjawab terhadap stress fisik ataupun yang diakibatkan oleh metabolit,
sehingga adenosine merupakan senyawa endogen yang berperan sebagai agen anti-inflamasi.

Page
16
Kemampuan methotreksat sebagai anti-inflamasi ditunjukkan dengan adanya gugusan
adenine yang dilepaskan dari metotreksat (Limanto,2012).

Arthritis rheumatoid adalah suatu penyakit yang menyerang respon imunologi. Leukosit
adalah bagian sistem imun tubuh yang secara normal dibawa ke sinovium dan menyebabkan
reaksi inflamasi atau sinoviositis saat antigen berkenalan dengan sistem imun. Ketika terjadi
arthritis rheumatoid maka akan menyebabkan inflamasi pada sel dimana kerja dari
metotreksat adalah melawan atau menghambat pembentukan inflamasi (Anggi, 2010). Injeksi
dari metotreksat akan mempengaruhi beberapa organ tubuh terutama pada ginjal sebesar 99%
dan 67% pada hati. Setelah itu metotreksat akan melewati pembuluh darah dimana ketika sel
darah menangkap gugus dari metotreksat, metotreksat akan berperan sebagai analog dari
asam folat lalu bersaing dengan reseptor folat kemudian masuk ke jalur asam folat.
Memasuki sel melalui mekanisme transpor aktif dan difusi terfasilitasi di dalam sel, ia diubah
menjadi polyglutamate MTX oleh sintase folylpolyglutamyl. Polyglutamate MTX reversibel
menghambat reduktase dihydrofolate tetapi juga menghambat enzim lainnya, terutama sintase
timidilat dan 5-aminoimidazole-4-karboksamida ribonucleotide (Aicar) transformylase. Folat
berkurang (tetrahydrofolate [THF]) yang terlibat dalam sintesis de novo dari prekursor purin
dan pirimidin. Setelah itu mensintetis AMP dan GMP yang kemudian membentuk sintesis
DNA dan RNA (Christian, 2009). Kemudian menyebabkan poliferasi sel atau perbanyakan
sel. Sel darah terutama leukosit yang membawa metotreksat akan menghambat terjadinya
inflamasi secara perlahan-lahan. Kemudian leukosit yang mengandung Polyglutamate MTX
akan memetabolisme obat dengan respon yang maksimal. Selain itu efek samping dari
metotreksat adalah GI stress dan hepatotoksik. Kontribusi dari efek samping lainnya yaitu
mereduksi enzim Methylen Tetrahidrofolat Reductase (MTHFR). Enzim MTHFR berfungsi
sebagai pemberi informasi mengenai banyaknya metotreksat yang terkandung dalam darah
(Yudodiharjo, 2012). Menurut beberapa penelitian laboratorium dikatakan bahwa hasil kerja
dari metotreksat untuk penderita arthritis rheumatoid sangat membantu dikarenakan
strukturnya yg bersifat analog dengan asam folat sehingga dapat bersaing dengan reseptor
folat.

D. METODE UJI AKTIFITAS IMUNOMODULATOR

Metode uji aktivitas imunomoduator yang dapat digunakan,yaitu:


1. Metode bersihan karbon (Carbon-Clearance)
Pengukuran secara spektrofluorometrik laju eliminasi partikel karbon dari daerah hewan. Ini
merupakan ukuran aktivitas fagositosis.
2. Uji granulosit
Percobaan in vitro dengan mengukur jumlah sel ragi atau bakteri yang difagositir oleh fraksi
granulosit yang diperoleh dari serum manusia. Percobaan ini dilakukan di bawah mikroskop.
3. Bioluminisensi radikal
Jumlah radikal 02 yang dibebaskan akibat kontak mitogen dengan granulosit atau makrofag,
merupakan ukuran besarnya stimulasi yang dicapai.
4. Uji transformasi limfosit T
Suatu populasi limfosit T diinkubasi dengan suatu mitogen. Timidin bertanda ( 3 H) akan

Page
17
masuk ke dalam asam nukleat limfosit 1. Dengan mengukur laju permbentukan dapat
ditentukan besarnya stimulasi dibandingkan dengan fitohemaglutinin A (PHA) atau
konkanavalin A (Con A).

Page
18
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Imunomodulator merupakan senyawa tertentu yang dapat meningkatkan mekanisme


pertahanan tubuh baik secara spesifik maupun non spesifik, dan terjadi induksi non spesifik
baik mekanisme pertahanan seluler maupun humoral.

2. Terdapat 2 jenis Imunomodulator yaitu Imunomodulator sintesis dan imunomodulator


alam. Imunomodulator alami adalah seperti echinaceae serta Imunomodulator sintesis adalah
seperti Isoprinosin, Levamisol.

3. Metode uji aktivitas imunomoduator yang dapat digunakan, yaitu : Metode bersihan
karbon (Carbon-Clearance), Uji granulosit, Bioluminisensi radikal, Uji transformasi
limfosit T.

4. Imunosupresi adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan reaksi pembentukan zat kebal
tubuh atau antibodi akibat kerusakan organ limfoid.

B. SARAN

Dengan adanya makalah sederhana ini, penulis mengharapkan agar para pembaca dapat
memahami materi Imunologi ini dengan mudah. Saran dari penulis agar para pembaca dapat
menguasai materi singkat dalam makalah ini dengan baik, kemudian dilanjutkan dengan
pelatihan soal dan mencari literatur lain yang berhubungan agar semakin menguasai materi.

Page
19
DAFTAR PUSTAKA

1. USDA NRCS National Plant Data Center, Plant Guide, Civil Rights at the Natural
Resources Convervation Service
2. Anonim, http://plants.usda.gov/java/profile?symbol=ECPU, 21 April 2013 jam 20.35
WIB
3. Heinrich, Michael., 2009, Farmakognosi dan Fitoterapi, Jakarta, EGC
4. James B. Hudson, 2012, Applications of the Phytomedicine Echinacea purpurea (Purple
Coneower) in Infectious Diseases, Journal of Biomedicine and Biotechnology Volume
2012: 16
5. K.M.Kumar, K.H., Ramaiah Sudha., 2011, Pharmacologicl Importance of Echinacea
purpurea, International Journal of Pharma and Bio Sciences. 2 (4) : 307-309
6. Adel Feizi, Farhad Dadian, 2012, The Effects Of Echinacea Purpurea Dried Extract On
Humoral Immune Response Of Broiler Chicks To Newcastle Vaccination, African
Journal of Biotechnology Vol. 11(94), pp. 16095-16098
7. Williamson, Elizabeth., Driver, Samuel., Baxter, Karen., 2009, Stockleys Herbal
Medicines Interaction, Pharmaceutical Press, London, 169,170
8. Foster, S. 2005. Echinacea. University of Maryland Medical Centre
9. sachin,a,s et al. 2007. evaluation of echinacea for the prevention of the common cold:a
meta-analysis. Lancert Infect Dis (Review); vol 7:473
10. Abebe , W., Herbal medication: potential for adverse interactions with analgesic
drugs, Journal of Clinical Pharmacy and Therapeutics (2002) 27, 391401
11. Spelman , Kevin., 2012, The Pharmacodynamics, Pharmacokinetics,and Clinical Use of
Echinaceae Purpurea, Continuing Education
12. Handayani, Gemmy Nastity. 2010. Imunodulator. UIN Alauddin Makassar. Pdf
13. J Peny Dalam, 2007. Chronic Hepatitis B And C Case With Mutation Of Gene P53
Codone 249 In The Liver Tissue Volume 8 Nomor 2. Pdf
14. Anonim.2007.Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Departemen Farmakologi dan Terapi ,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal 757-766.
15. Mohamed Labib Salem.2005.Review: Immunomodulatory and therapeutic properties of
the Nigella sativa L. seed. International Immunopharmacology 5 (2005) 17491770
16. Swamy S.M.K dan B.K.H. Tan. 2000.Immunomodulatory and therapeutic properties
of the Nigella sativa L. seed. Journal of Ethnopharmacology 70 (2000) 17
17. Widianto B Matildha. 1987. Immnomodulator. Jurusan Farmasi Institute Teknologi
Bandung. Majalah Cermin Dunia Kedokteran. Halaman 44-46
18. Zhong, Xiuhui., Wang, Men., MA, Aituan., Niu, Xiaoei., Shi, Wahyu. 2009. Effects
Of Echinaceapurpurea Extract On The Immunological Response To Infectious Bursal
Disease Vaccine In Broilers. Research Article. Volume 3, Nomor 4
19. James B. Hudson, 2012, Applications of the Phytomedicine Echinacea purpurea (Purple
Coneower) In Infectious Diseases. Journal Of Biomedicine and Biotechnology Volume
16, 2012.
20. Fraudenstein, J., Teuscher, E., Lindequst, U., Bodinet, C. 2002. Effect Of An Orally
Applied Herbal Immunomodulator On Cytokine Induction And Antibody Response In
Normal And Immunosuppressed Mice. Phytomedicine. Volume 9, Nomor 7.

Page
20