Anda di halaman 1dari 15

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Liken simpleks kronikus adalah Penebalan kulit dengan skala variabel yang
timbul sekunder karena garukan atau gosokan berulang-ulang. Peradangan
kulit kronis, gatal, sirkumskrip, ditandai dengan kulit tebal dan garis kulit
tampak lebih menonjol (likenifikasi) menyerupai kulit batang kayu, akibat
garukan atau gosokan yang berulang-ulang karena berbagai rangsangan
pruritogenik (Djuanda, 2010).
Liken simpleks kronikus atau Neurodermatitis sirkumskripta merupakan
proses yang sekunder ketika seseorang mengalami sensasi gatal pada daerah
kulit yang spesifik dengan atau tanpa kelainan kulit yang mendasar yang dapat
mengakibatkan trauma mekanis pada kulit yang berakhir dengan likenifikasi.
Penyakit ini biasanya timbul pada pasien dengan kepribadian yang obsessif,
dimana selalu ingin menggaruk bagian tertentu dari tubuhnya. Keinginan
untuk menggaruk kadang muncul dari hal-hal yang sepele seperti luka,
gigitan serangga, kulit kering, pakaian, luka bakar, bintil-bintil atau jerawat,
atau dermatitis atopik. Pada awalnya merupakan hal yang normal, karena
adanya gatal sehingga terjadi garukan yang berulang. Beberapa jenis kulit
lebih rentan terhadap likenifikasi, seperti kulit yang cenderung kearah
eksematous (yaitu dermatitis atopik, diastesis atopik). (Hogan, 2012).

B. SINONIM
Nama lain dari liken simpleks kronikus adalah neurodermatitis sirkumskripta,
istilah yang pertama kali dipakai oleh Vidal, oleh karena itu disebut pula liken
(Djuanda, 2010).

C. EPIDEMIOLOGI
Semua kelompok umur mulai dari anak-anak sampai dewasa dapat terkena
penyakit ini. Kelompok usia dewasa 30 50 tahun paling sering mengalami
keluhan neurodermatitis. Secara umum neurodermatitis dapat terjadi pada laki-
laki dan wanita, tetapi lebih sering dilaporkan terjadi pada wanita pada umur
pertengahan Individu. Neurodermatitis jarang terjadi pada anak-anak, karena

1
neurodermatitis merupakan penyakit yang bersifat kronis dan dipengaruhi oleh
keadaan emosi dan penyakit yang mendasarinya. Dilihat dari ras dan suku
bangsa, Asia terutama ras mongoloid lebih sering terkena penyakit ini
kemungkinan karena faktor protein yang dikonsumsinya berbeda dengan ras
dan suku bangsa lainnya (Koenig, 2012)

D. ETIOLOGI
Penyebab liken simpleks kronikus belum diketahui secara pasti. Namun ada
berbagai faktor yang mendorong terjadinya rasa gatal pada penyakit ini, faktor
penyebab dari liken simpleks kronikus dapat dibagi menjadi dua yaitu: (Wolff
,2012)
a. Faktor Eksterna
1) Lingkungan
Faktor lingkungan seperti panas dan udara yang kering dapat
berimplikasi dalam menyebabkan iritasi yang dapat menginduksi gatal.
Suhu yang tinggi memudahkan seseorang berkertingat sehingga dapat
mencetuskan gatal, hal ini biasanya menyebabkan liken simpleks
kronikus pada anogenital.
2) Gigitan serangga
Gigitan serangga dapat menyebabkan reaksi radang dalam tubuh yang
mengakibatkan rasa gatal

b. Faktor Interna
1) Dermatitis atopik
Asosiasi antara liken simpleks kronikus dan ganguan atopik telah
banyak dilaporkan, sekitar 26 % sampai 75 % pasien dengan dermatitis
atopic terkena liken simplek kronikus.
2) Psikologis
Anxietas telah dilaporkan memiliki prevalensi yang tinggi
mengakibatkan neurodermatitis, yang menunjukan peran dari
anxietas atau obsesi sebagai bagian dari proses patologis dari lesi
yang berkembang.

2
E. PATOFISIOLOGI
Kecemasan telah dilaporkan memiliki prevalensi tertinggi yang
mengakibatkan liken simpleks kronikus. Kecemasan sebagai bagian dari proses
patologis dari lesi yang berkembang. Telah dirumuskan bahwa
neurotransmitter yang mempengaruhi perasaan, seperti dopamine, serotonin,
atau peptide opioid, memodulasikan persepsi gatal melalui penurunan jalur
spinal (Hogan, 2012). Stimulus untuk perkembangan liken simpleks kronikus
adalah pruritus. Pruritus sebagai dasar dari gangguan kesehatan dapat
berhubungan dengan gangguan kulit, proliferasi dari nervus dan tekanan
emosional. Pruritus yang memegang peranan penting dapat dibagi dalam dua
kategori besar, yaitu pruritus tanpa lesi dan pruritus dengan lesi. Pasien dengan
liken simpleks kronikus mempunyai gangguan metabolik atau gangguan
hematologik. Pruritus tanpa kelainan kulit dapat ditemukan pada penyakit
sistemik, misalnya gagal ginjal kronik, obstruksi kelenjar biliaris, hodgkins
lymphoma, polisitemia rubra vera, hipertiroidisme, gluten-sensitive
enteropathy dan infeksi imunodefisiensi. Pruritus yang disebabkan oleh
kelainan kulit yang terpenting adalah dermatitis atopik, dermatitis kontak alergi
dan gigitan serangga (Stewart, 2010).
Pada pasien yang memiliki faktor predisposisi, garukan kronis dapat
menimbulkan penebalan dan likenifikasi. Jika tidak diketahui penyebab yang
nyata dari garukan maka disebut liken simpleks kronikus. Adanya garukan
yang terus menerus diduga karena adanya pelepasan mediator dan aktivitas
enzim proteolitik. Walaupun sejumlah peneliti melaporkan bahwa garukan dan
gosokan timbul karena respon dari adanya stress. Adanya sejumlah saraf
mengandung immunoreaktif CGRP (calcitonin gene-related peptide) dan SP
(substance P) meningkat pada dermis. Hal ini ditemukan pada prurigo
nodularis, tetapi tidak pada liken simpleks kronikus. SP dan CGRP melepaskan
histamine dan sel mast yang selanjutnya akan memicu pruritus. Ekspresi faktor
pertumbuhan saraf p75 pada membran sel Schwan dan sel perineurum
meningkat, mungkin ini menghasilkan hiperplasi neural (Djuanda, 2010).
Liken simpleks kronikus ditemukan pada kulit di daerah yang mudah
diakses untuk digaruk. Pruritus memprovokasi garukan dan gosokan yang
menghasilkan lesi klinis, tetapi patofosiologi yang mendasar tidak diketahui.
Beberapa jenis kulit lebih rentan terhadap likenifikasi, seperti kulit yang

3
cenderung menuju kondisi eczema (yaitu, dermatitis atopik). Suatu hubungan
antara kemungkinan jaringan saraf pusat dan perifer dan produk sel inflamasi
dalam persiapan gatal di liken simpleks kronikus. Ketegangan emosional pada
penderita cenderung mungkin memainkan peran kunci dalam mendorong
sensasi pruritus, mengarahkan untuk menggaruk yang dapat menjadi reflex dan
kebiasaan. Interaksi di antara lesi primer, faktor psikis, dan intensitas pruritus
mempengaruhi tingkat dan keparahan dari liken simpleks kronikus ( Sularsito,
2010).

F. GEJALA KLINIS
Keluhan utama ialah gatal berulang. Pasien akan mengeluh gatal yang
hilang timbul terutama saat sore hari. Rasa gatal memang tidak terus menerus,
biasanya pada waktu tidak sibuk, bila muncul sulit ditahan untuk tidak digaruk.
Penderita merasa enak bila digaruk; setelah luka, baru hilang rasa gatalnya
untuk sementara (karena diganti dengan rasa nyeri). Lesi biasanya tunggal,
pada awalnya berupa plak eritematosa, sedikit edema, lambat laun edema dan
eritema menghilang, bagian tengah berskuama dan menebal, likenifikasi dan
ekskoriasi; sekitarnya hiperpigmentasi, batas dengan kulit normal tidak jelas.
Gambaran klinis dipengaruhi juga oleh lokasi dan lamanya lesi akibat digaruk.
Letak lesi dapat timbul dimana saja, tetapi yang biasa ditemukan adalah di
scalp, tengkuk, samping leher, lengan bagian ekstensor, pubis, vulva, skrotum,
perianal, paha bagian medial, lutut, tungkai bawah lateral, pergelangan kaki
bagian depan, dan punggung kaki (Siregar, 2013).
Gatal juga dapat bertambah pada saat pasien mengalami stress
psikologis. Pada pasien muda, keluhan gatal umumnya kurang dirasakan
karena tidak begitu mengganggu aktivitasnya, akan tetapi keluhan gatalnya
sangat dirasakan seiring bertambahnya usia dan faktor pemicu stressnya.
Kelainan kulit yang terjadi bisa berupa eritem, edema, papul, likenifikasi
(bagian yang menebal), kering, berskuama atau hiperpigmentasi. Ukuran lesi
bervariasi, berbatas tidak tegas dan bentuk umumnya tidak beraturan. Lesi pada
setiap individu pasien berbeda. Tidak ada penjelasan yang tegas mengenai
berapa lama lesi pada neurodermatitis terbentuk (Siregar, 2013). Lesi
tergantung dari sering dan lamanya pasien mengalami keluhan gatal dan
menggaruknya. Dari pemeriksaan efloresensi, lesi tampak likenifikasi berupa

4
penebalan kulit dengan garis-garis kulit yang semakin terlihat, terlihat plak
dengan ekskoriasi serta sedikit eritematosa (memerah) dan edema. Pada lesi
yang sudah lama, lesi akan tampak berskuama pada bagian tengahnya, terjadi
hiperpigmentasi (warna kulit yang digaruk berubah menjadi kehitaman) pada
bagian lesi yang gatal, bagian eritema dan edema akan menghilang, dan batas
lesi dengan bagian kulit normal semakin tidak jelas (Siregar, 2013).

regio dorsum pedis dextra, tampak plak hiperpigmentasi, soliter,


bentuk oval, ukuran 4 x 6 cm,batas tegas, ireguler, permukaan likenifikasi,
bagian sentral tampak eritem,sebagian erosi multipel, tepi permukaan
ditutupi skuama sedang selapis warna putih.

5
Letak lesi bisa timbul dimana saja, tetapi yang biasa ditemukan adalah
di scalp, tengkuk, samping leher, lengan bagian ekstensor, pubis, vulva,
skrotum, perianal, paha bagian medial, lutut, tungkai bawah lateral,
pergelangan kaki bagian depan, dan punggung kaki. Neurodermatitis di daerah
tengkuk (lichen nuchae) umumnya hanya pada wanita, berupa plak kecil di
tengah tengkuk atau dapat meluas hingga ke scalp. Biasanya skuamanya
banyak menyerupai psoriasis (Hogan, 2012).

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan diantaranya adalah:
a. Tes Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium tidak ada tes yang spesifik untuk
neurodermatitis. Tetapi walaupun begitu, satu studi mengemukakan bahwa
25 pasien dengan neurodermatitis sirkumskripta positif terhadap patch test.
Pada dermatitis atopik dan mikosis fungiodes bisa terjadi likenefikasi
generalisata oleh sebab itu merupakan indikasi untuk melakukan patch test.
Pada pasien dengan pruritus generalisata yang kronik yang diduga
disebabkan oleh gangguan metabolik dan gangguan hematologi, maka
pemeriksaan hitung darah harus dilakukan, juga dilakukan tes fungsi ginjal
dan hati, tes fungsi tiroid, elechtroporesis serum, tes zat besi serum, tes
kemampuan pengikatan zat besi (iron binding capacity), dan foto dada.

6
Kadar immunoglobulin E dapat meningkat pada neurodermatitis yang
atopik, tetapi normal pada neurodermatitis nonatopik. Bisa juga dilakukan
pemeriksaan potassium hydroksida pada pasien liken simpleks genital
untuk mengeleminasi tinea cruris (Wolff, 2012).
b. Pemeriksaan histopatologi untuk menegakkan diagnosis neurodermatitis
adalah menunjukkan proliferasi dari sel schwann dimana dapat membuat
infiltrasi selular yang cukup besar. Juga ditemukan neural hyperplasia.
Didapatkan adanya hiperkeratosis dengan area yang parakeratosis,
akantosis dengan pemanjangan rete ridges yang irregular, hipergranulosis
dan perluasan dari papillo dermis. Spongiosis bisa ditemukan, tetapi
vesikulasi tidak ditemukan. Papilomatosis kadang-kadang ditemukan.
Ekskoriasi, dimana ditemukan garis ulserasi punctata karena adanya
jaringan nekrotik papila dermis superfisial. Fibrin dan neutrofil bisa
ditemukan, walaupun keduanya biasanya ditemukan pada penyakit
dermatosis yang lain. Pada papillary dermis ditemukan peningkatan jumlah
fibroblas. Pada lesi yang sudah sangat kronis, khususnya pada likenifikasi
yang gigantik besar, akantosis dan hiperkeratosis dapat dilihat secara
gross,danrete ridges tampak ireguler namun tetap memanjang dan melebar
(Wolff, 2012).

H. DIAGNOSIS
Diagnosis untuk neurodermatitis/ liken simpleks kronis dapat
ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang.
Pasien dengan neurodermatitis mengeluh merasa gatal pada satu daerah atau
lebih. Sehingga timbul plak yang tebal karena mengalami proses likenifikasi.
Biasanya rasa gatal tersebut muncul pada tengkuk, leher, ekstensor kaki, siku,
lutut, pergelangan kaki. Eritema biasanya muncul pada awal lesi. Rasa gatal
muncul pada saat pasien sedang beristirahat dan hilang saat melakukan
aktivitas dan biasanya gatal timbul intermiten (Wolff, 2012).

7
Pemeriksaan fisis menunjukkan plak yang eritematous, berbatas tegas,
dan terjadi likenifikasi. Terjadi perubahan pigmentasi, yaitu hiperpigmentasi
(Wolff, 2012).
Pada pemeriksaan penunjang histopatologi didapatkan adanya
hiperkeratosis dengan area yang parakeratosis, akantosis dengan pemanjangan
rate ridges yang irregular, hipergranulosis dan perluasan dari papil dermis
(Djuanda, 2010).

I. DIAGNOSIS BANDING
Kasus-kasus primer yang umumnya menyebabkan likenifikasi adalah :
a. Dermatitis kontak alergi
Dermatitis kontak alergi adalah inflamasi dari kulit yang diinduksi oleh
bahan kimia yang secara langsung merusak kulit dan oleh sensitifitas
spesifik, pada kasus penderita umumnya mengeluh gatal pad daerah
pajanan. Kelainan kulit tergantung pada keparahan dermatitis dan
lokalisasinya. Pada yang akut dimulai dengan bercak eritematous yang
berbatas jelas kemudian diikuti dengan edema, papulovesikel, vesikel atau
bulla. Vesikel atau bulla dapat pecah menimbulkan erosi dan eksudasi.
Pada fase kronik kulit terlihat kering, skuama, papul, likenifikasi, fisura,
berbatas tidak tegas (Sularsito, 2010).

b. Plak psoriasis
Psoriasis merupakan gangguan peradangan kulit yang kronik, dengan
karakteristik plak eritematous, berbatas tegas, berwarna putih
keperakan,skuama yang kasar, berlapis-lapis, transparan, disertai fenomena
tetesan lilin, Auspitz dan Kobner. Lokasi terbanyak ditemukan didaerah
ekstensor. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa
hipotesa telah mendapatkan bahwa penyakit ini bersifat autoimun dan
residif (Meffert, 2013).

c. Dermatitis seboroik

8
Dermatitis seboroik merupakan gangguan papuloskuamosa yang terdapat
pada daerah kaya sebum seperti kulit kepala, wajah dan punggung.
Dermatitis ini berhubungan dengan malassezia, abnormalitas imunologis,
dan aktivasi dari komplemen. Berhubungan erat dengan keaktifan glandula
sebasea. Biasa terjadi pada bayi umur bulan pertama dan mencapai puncak
pada umur 18-40 tahun. Kelainan kulit terdiri atas eritema dam skuama
yang berminyak dan agak kekuningan, batasnya agak kurang tegas
(Sularsito, 2010)

d. Liken Planus
Lesi yang pruritis, erupsi popular yang dikarakteritikkan dengan warna
kemerahan berbentuk polygonal, dan kadang berbatas tegas. Sering
ditemukan pada permukaan fleksor dari ekstremitas, genitalia dan
membrane mukus. Mirip dengan reaksi mediasi imunologis. Liken planus
ditandai dengan papul-papul yang mempunyai warna dan konfigurasi yang
khas. Papul-papul berwarna merah biru, berskuama, dan berbentuk siku-
siku. Gambaran histopatologi: papul menunjukkan penebalan lapisan
granuloma, degenrasi mencair membrane basal dan sel basal. Dapat pula
ditemukan infiltrate seperti pita yang terdiri dari limfosit dan histiosit pada
lapisan dermis bagian atas (Djuanda, 2010).

e. Dermatitis Atopik
Peradangan kulit kronis yang residif disertai gatal, yang umumnya sering
terjadi selama masa bayi dan anak-anak. Sering berhubungan dengan
peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga atau
penderita. Kelainan kulit berupa papul gatal, yang kemudian mengalami
ekskoriasi dan likenifikasi, distribusinya di lipatan. Gambaran lesi kulit
pada remaja dan dewasa dapat berupa plak papuler, eritematosa, dan
berskuama atau plak likenifikasi yang gatal. Lokasi dermatitis atopik pada
lipat siku dan lipat lutut (fleksor) hilang pada usia 2 tahun, pada
neurodermatitis sirkumskripta pada siku dan punggung kaki (ekstensor)
dan berlanjut sampai tua (Koenig, 2012).

J. PENATALAKSANAAN

9
Penatalaksanaan dari neurodermatitis secara primer adalah untuk mengurangi
pruritus dan meminimalkan lesi yang ada dan menghindarkan pasien dari
kebiasaan menggaruk dan menggosok secara terus-menerus. Ini dapat
dilakukan dengan berbagai cara, seperti memotong kuku pasien, memberikan
antipruritus, glukokortikoid topikal atau intralesional, atau produk-produk tar,
konsultasi psikiatrik, dan mengobati pasien dengan cryoterapi, cyproheptadine,
atau capsaicin (Wolff, 2012).
a. Steroid topical (Richards, 2010)
Pengobatan pilihan karena dapat mengurangi peradangan dan gatal serta
perlahan-lahan menghaluskan hiperkeratosisnya. Karena lesinya kronik,
Pentalaksanaannya biasanya lama. Pada lesi yang besar dan aktif, steroid
potensi sedang dapat digunakan untuk mengobati inflamasi akut. Tidak
direkomendasikan untuk kulit yang tipis (vulva, skrotum, axilla dan wajah).
Steroid potensi kuat digunakan selama 3 minggu pada area kulit yang lebih
tebal.
1. Clobetasol
Topical steroid super poten kelas 1: untuk menekan mitosis dan
menambah sintesis protein yang mengurangi peradangan dan
menyebabakan vasokonstriksi.
2. Betamethasone dipropionate cream 0,05%.
Untuk peradangan kulit yang berespon baik terhadap steroid. Bekerja
mengurangi peradangan dengan menekan migrasi leukosit
polimorfonuklear dan memeperbaiki permeabilitas kapiler.
3. Triamcinolone 0,025 %, 0.1%, 0.5 %
Untuk peradangan kulit yang berespon baik terhadap steroid. Bekerja
mengurangi peradangan dengan menekan migrasi leukosit
polimorfonuklear dan memeperbaiki permeabilitas kapiler.
4. Fluocinolone cream 0.1 % atau 0.05%
Topikal kortikosteroid potensi tinggi yang menghambat proliferasi sel.
Mempuyai sifat imonusupresif dan sifat anti peradangan.
b. Obat oral anti anxietas, sedasi dan antidepresi
Obat oral dan anti anxietas dapat dipertimbangkan pada beberapa pasien.
Menurut kebuthan individual, penatalaksanaan dapat dijadwalkan setiap
hari, pada ssat pasien tidur, atau keduanya. Antihistamin seperti

10
dipenhydramine dan hidroxyzine biasa digunakan. Doxepin dan
clonazepam dapat dipertimbangkan pada beberapa kasus. Amitriptilin
merupakan antidepresi trisiklik Amitriptilin bekerja dengan menghambat
pengambilan kembali neurotransmiter di otak. Amitriptilin mempunyai 2
gugus metil, termasuk amin tersier sehingga lebih resposif terhadap depresi
akibat kekurangan serotonin. Senyawa ini juga mempunyai aktivitas sedatif
dan antikolinergik yang cukup kuat. Obat ini penggunanaya untuk
memperbaiki kualitas tidur. Pada pemberian oral, Amitriptilin diaborpsi
dengan baik, kurang lebih 90% berkaitan dengan protein plasma dan
tersebar luas dalam jaringan dan susunan saraf pusat. Metabolisme di hati
berlngsung lambat dan waktu paruh 10,3-25,3 jam, kemudian diekskresi
bersama urin (Stewarts, 2010)
c. Agen anti pruritus
Obat oral dapat mengurangi gatal dengan memblokir efek pelepasan
histamin secara endogen. Gatal berkurang, pasien merasa tenang atau
sedatif dan merangsang untuk tidur. Obat topikal menstabilisasi membrane
neuron dan mencegah inisiasi dan transmisi implus saraf sehingga memberi
aksi anestesi lokal. (Wolff, 2012)
1. Dipenhidramin
Untuk meringankan gejala pruritus yang disebabkan oleh pelepasan
histamin.
2. Cholorpheniramine
Bekerja sama dengan histamin atau permukaan reseptor H1 pada sel
efektor di pembuluh darah dan traktus respiratori.
3. Hidroxyzine
Reseptor H1 antagonis diperifer. Dapat menekan aktifitas histamin
diregion subkortikal sistem saraf pusat.
4. Klonazepam
Untuk anxietas yang disertai pruritus. Berikatan dengan reseptor-
reseptor di SSP, termasuk sistem limbik dan pembentukan retikular.
Efeknya bisa dimediasi melalui reseptor GABA.
d. Agen imunosupresor
Tacrolimus, Mekanisme kerjanya pada liken simpleks kronik tidak
diketahui. Dapat mengurangi gatal dan peradangan dengan menekan

11
pelepasan sitokin dari sel T. juga menghambat transkripsi gen yang
mengkode IL-3, IL-4, IL5, GM-CSF, dan TNF- alfa, yang semuanya
terlibat dalam aktivasi sel T derajat dini. Juga dapat menghambat pelepasan
mediator sel mast dan basofil kulit dan mengurangi regulasi ekspresi FCeRI
pada sel langerhans. Obat dari kelas ini lebih mahal dari kortikosteroid
topikal. Terdapat dalam bentuk ointment dalam konsentrasi 0.03% dan
0.1%. indikasi apabila pilihan terapi yang lain tidak berhasil.
e. Immunodilator
Berasal dari ascomycin, suatu bahan alami yang diproduksi oleh jamur
streptomyces hygroscopicus var asmyeticus, bekerja menghambat produksi
dan pelepasan sitokin inflamasi dari sel T teraktivasi secara selektif dan
berikatan dengan reseptor imunofilin sitosolik makrofilin 12 (cytosolic
immunophili receptor macrophilin-12). Menghambat kompleks yang
menghambat kalsineurin fofatase, yang kemudian memblokir aktivasi sel
T dan pelepasan sitokin. Atropi kutaneus tidak didapati pada percobaan
klinis yang merupakan kelebihan terhadap kortikosteroid topical. Indikasi
apabila pilihan terapi yang lain tidak berhasil (NHS, 2011)

K. PROGNOSIS
Prognosis untuk penyakit liken simpleks kronis adalah :
a. Pengobatan untuk pencegahan pada stadium-stadium awal dapat
membantu untuk mengurangi proses likenifikasi.
b. Rasa gatal dapat diatasi, likenifikasi yang ringan dan perubahan
pigmentasi dapat diatasi setelah dilakukan pengobatan.
c. Relaps dapat terjadi, apabila dalam masa stress atau tekanan emosional
yang meningkat.
Pengobatan yang teratur dapat meringankan kondisi pasien. Penyebab
utama dari gatal dapat hilang, atau dapat muncul kembali. Pencegahan
pada tahap awal dapat menghambat proses penyakit ini. (Djuanda,
2010)

12
III. PEMBAHASAN

Diagnosis neurodermatitis didapatkan dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik


terhadap status dermatologis pasien, yaitu didapatkan hasil pasien mengeluh gatal di
kedua kaki dan lutut sejak 1 tahun yang lalu, dan keluhan yang dirasakan pasien bersifat
kambuh-kambuhan. Keluhan gatal tersebut muncul ketika pasien sedang banyak
pikiran atau stres. Keluhan gatal tersebut tidak bertambah berat apabila pasien dalam
keadaan berkeringat ataupun pasien kontak langsung dengan deterjen untuk mencuci.
Dari pemeriksaan status dermatologikus, didapatkan penebalan pada kulit didaerah
yang gatal akibat sering digaruk oleh pasien.
Hasil anamnesis pada pasien ini sesuai dengan Adhi Juanda pada Ilmu Penyakit
Kulit FKUI bahwa :
1. Penderita mengeluh gatal sekali, rasa gatal memang tidak terus menerus, biasanya
pada waktu tidak sibuk, bila muncul sulit ditahan untuk tidak digaruk.
2. Keluhan timbul dipengaruhi oleh aspek psikologis atau tekanan emosi.
Dari pemeriksaan status dermatologis ini sesuai dengan Adhi Juanda pada Ilmu
Penyakit Kulit FKUI:
1. Lesi dapat muncul pada 1 daerah atau lebih
2. Lesi biasanya tunggal, pada awalnya berupa plak eritematosa, sedikit edematosa,
lambat laun edema dan eritema menghilang, bagian tengah berskuama dan
menebal, likenifikasi dan ekskoriasi, bagian disekitarnya hiperpigmentasi, batas
dengan kulit tegas.
Penatalaksanaan pada pasien ini diberikan obat yaitu antihistamin yaitu loratadine 10
mg 1x1 tab, antidepresi yaitu amitriptylin tab 1x1 (malam) dan diberikan obat topical
yaitu betamethasone cream. Sesuai dengan Adhi Juanda dan Wolff Klauss, bahwa
penatalaksanaan pada penyakit ini adalah tujuannya untuk mengurangi pruritus dan
meminimalkan lesinya dengan menggunakan obat-obatan yaitu :
a. Antihistamin Reseptor H1 yaitu contohnya cholorpheniramine.
b. Antidepresi yang mempunyai aktivitas sedative (contoh: Amitriptylin)
c. Obat topikal menstabilisasi membrane neuron dan mencegah inisiasi dan transmisi
implus saraf sehingga memberi aksi anestesi lokal.
Prognosis untuk penyakit liken simpleks kronis adalah pengobatan untuk pencegahan
pada stadium-stadium awal dapat membantu untuk mengurangi proses likenifikasi, rasa

13
gatal dapat diatasi, likenifikasi yang ringan dan perubahan pigmentasi dapat diatasi
setelah dilakukan pengobatan. Relaps dapat terjadi, apabila dalam masa stress atau
tekanan emosional yang meningkat.

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda A. 2010. Neurodermatitis Sirkumskripta. Dalam: Ilmu Penyakit Kulit dan


Kelamin. Jakarta: FKUI.
2. Hogan DJ, Elston DM. 2012. Lichen simplex chronicus. Medscape [diambil 28
Maret 2017 11:00 WIB]. Available
from:http://emedicine.medscape.com/article/1123423-overview.
3. Koenig TW, Jones SG, Rencie A,Tausk FA. 2012. Noncutaneous manifestations of
skin. Dalam: Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. New York : Mc Graw
Hill
4. Meffert J, OConnor RE. 2013. Psoriasis. Medscape [diambil 27 maret 2017
22:00 WIB]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/1943419-
overview#showall
5. NHS. 2011. PUVA treatment. Oxford University Hospitals; 2011 [diambil 28
maret 2017 12:00 WIB]. Available from:http://www.ouh.nhs.uk/patient-
guide/leaflets/files%5C120719puva.pdf.
6. Richards R N. 2010. Update on intralesional steroid: focus on dermatoses. J Cutan
Med Surg Jan-Feb; 14(1).
7. Siregar. 2013. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: EGC.
8. Stewart KM. 2010. Clinical care of vulvar pruritus, with emphasis on onecommon
cause, lichen simplex chronicus. Dermat ol Clin Oct; 28(4): 669-80.
9. Sularsito SA, Suria D. 2010. Dermatitis. Dalam: Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
10. Wolff K. 2012. Lichen Simplex Chronicus. Dalam: Fitzpatricks Color Atlas &
Synopsis of Clinical Dermatology. New York: McGraw Hill Medical

15