Anda di halaman 1dari 13

ARTHROPODA

Oleh:
Nama : Nindya Nuraida Ayuningtyas
NIM : B1J014118
Rombongan : III
Kelompok :1
Asisten : Reinhard Suryadi Simbolon

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar belakang

Klasifikasi hewan didefinisikan sebagai penggolongan hewan ke dalam


kelompok tertentu berdasarkan kekerabatannya. Klasifikasi dapat berdasarkan
hubungan evolusi, habitat dan cara hidupnya. Pengertian klasifikasi berbeda sekali
dengan pengertian identifikasi. Identifikasi adalah tugas untuk mencari dan mengenal
ciri-ciri taksonomik individu yang beraneka ragam dan memasukkannya ke dalam
suatu takson. Identifikasi berhubungan dengan ciri-ciri taksonomi dalam jumlah
sedikit akan membawa spesimen ke dalam satu urutan kunci identifikasi,
sedangkan klasifikasi berhubungan dengan upaya mengevaluasi sejumlah besar
ciri-ciri (Mayr, 1969). Ahli taksonomi saat ini banyak kelompok invertebrata
berdasarkan terutama pada kesamaan beberapa morfologi, karakter, dan filogenetik.
Identifikasi taksonomi spesies amphipod (Amphipoda, Crustacea) merupakan proses
yang kompleks yang sering membutuhkan banyak keahlian. Morfologi berbasis
identifikasi memerlukan pemeriksaan dari sejumlah karakter filogenetis informatif
(Alanyali et al., 2011).
Arthtropoda merupakan phylum terbesar dalam kingdom Animalia dan
kelompok terbesar dalam phylum itu adalah Insekta. Arthropoda diperkirakan
memiliki 713.500 spesies dengan jumlah tersebut diperkirakan 80% dari jenis hewan
yang sudah dikenal. Phylum Arthropoda banyak ditemukan di darat, air tawar, dan
laut, serta didalam tanah. Arthropoda tanah berperan penting dalam peningkatan
kesuburan tanah dan penghancuran serasah serta sisa-sisa bahan organik. Arthropoda
tanah dikelompokkan atas Arthropoda dalam tanah dan Arthropoda permukaan tanah
(Jasin, 1989).
Arthros adalah sendi atau ruas dan podos adalah kaki sehingga memiliki arti
kaki bersendi. Arthropoda mempunyai keanekaragaman yang berkaitan dengan
segmentasi, eksoskeleton yang keras, dan tungkai yang bersendi. Arthropoda adalah
nama lain hewan berbuku-buku. Arthropoda biasa ditemukan di laut, air tawar, darat,
dan lingkungan udara, termasuk berbagai bentuk simbiosis dan parasit.
(Brotowidjoyo , 1994).

B. Tujuan
Tujuan praktikum acara Arthropoda adalah:
1. Mengenal beberapa anggota Filum Arthropoda.
2. Mengetahui beberapa karakter penting untuk identifikasi dan klasifikasi
anggota Filum Arthropoda.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Arthropoda merupakan filum besar yang anggotanya meliputi 4/5 dari jumlah
hewan yang ada. Arthropoda (Yunani: Arthros = sendi; Podos = kaki). Ciri-ciri
umum yang dimiliki arthopoda adalah tubuhnya simetri bilateral, terdiri atas segmen-
segmen yang saling berhubungan dibagian luar dan memiliki tiga lapisan germinal
sehingga merupakan hewan tripoblastik, tubuh mengalami metamerisme yang
terspesialisasi untuk fungsi tertentu atau tagmatisasi. Eksoskeleton Arthropoda
tersusun dari kitin yang disekresikan oleh sel kulit. eksoskeleton melekat pada kulit
membentuk perlindungan tubuh yang kuat. Eksoskeleton terdiri dari lempengan yang
dihubungkan oleh ligamen yang fleksibel dan lunak, sehingga tidak dapat membesar
mengikuti pertumbuhan tubuh. Arthropoda selalu di ikuti dengan pengelupasan
eksoskeleton lama dan pembentukan eksoskeleton baru. Tahap pelepasan
eksoskeleton disebut dengan molting atau ekdisis. Hewan yang biasanya melakukan
molting misalnya kepiting dan udang, sementara hewan yang mengalami ekdisis
adalah spesies dari kelas insecta (Soemadji, 1995).
Tubuh Arthropoda memiliki kerangka luar dan dibedakan atas kepala, dada,
serta perut yang terpisah atau bergabung menjadi satu. Setiap segmen tubuh memiliki
sepasang alat gerak atau tidak ada. Hidup pada habitat aquatik dan terrestrial.
Respirasinya menggunakan paru-paru buku, trakea, atau dengan insang. Pada spesies
terestial bernapas menggunakan trakea atau pada arachinida menggunakan paru-paru
buku atau menggunakan keduanya yaitu paru-paru dan trakea. Ekskresi dengan
menggunakan tubukus Malpighi atau kelenjar koksal. Saluran pencernaan sudah
lengkap, terdiri atas mulut, usus, dan anus, sarafnya merupakan system saraf tangga
tali. Berkelamin terpisah, fertilisasi terjadi secara internal, dan bersifat ovipar.
Perkembangan individu baru terjadi secara langsung melalui stadium larva (Moore,
2006).
Peranan arthropoda sebagai salah satu komponen dalam rantai dan jaring
makanan di dalam ekosistem gua. Ciri khas gua terletak pada kondisi lingkungan
yang berbeda dengan lingkungan di luar gua. Kondisi yang khas didalam gua yaitu
tidak adanya cahaya, kelembaban yang relatif tinggi, dan temperatur yang relatif
stabil. Pada zona gelap, Arthropoda yang didapatkan lebih banyak dibandingkan
dengan zona terang dan zona peralihan, terutama didominansi oleh kelompok
Arthropoda yang berukuran kecil seperti kelompok Blatidae (lipas) (Rahayu et al.,
2011).
Arthropoda memiliki sistem sirkulasi terbuka, dimana cairan yang disebut
hemolimfa didorong oleh sebuah jantung melalui arteri pendek dan masuk keruangan
yang disebut yang mengelilingi jaringan dan organ. Sistem pernapasan arthropoda
ada yang berupa trakea, insang, paru-paru buku, atau melalui seluruh permukaan
tubuhnya Arthropoda juga memiliki sistem pencernaan yang sempura karena telah
memiliki anus dan mulut yang dilengkapi dengan rahang. Klasifikasi Arthropoda
terdiri dari subphylum Chelicerata, Crustacea, Hexapoda, dan Myriapoda (Campbell,
2004).
Chelicerata
Subphylum Chelicerata dicirikan dengan adanya chelicerae, yaitu sepasang
organ pertama yang berfungsi untuk memakan mangsa, tubuh anggota subpylum
Chelicerata tersusun atas bagian prosoma dan ophistosoma, Subphylum Chelicerata
memiliki organ tubuh yang dibedakan atas dua bagian yaitu sefalotorak (prosoma)
dan abdomen (opisthosoma). Anggota dari subphylum Chelicerata memiliki 6 pasang
apendik dan tidak memiliki antenna atau manibula. Anggota subphylum Chelicerata
umumnya memiliki bagian mulut yang berfungsi sebagai penusuk dan beberapa
diantara memiliki kelenjar racun (Jasin, 1989).
Kebanyakan anggotanya berukuran kecil dan terdapat di daerah yang kering
dan hangat, namun beberapa hidup di peraianan. Banyak jenis Chelicerata yang
mempunyai kelenjar racun yang terdapat dirahang atau taring racun sebagai sarana
untuk membunuh mangsa, kemudian menghisap cairan tubuh atau jaringan lunaknya.
Tubuh biasanya terdiri atas cephalothorax dan abdomen yang tampak jelas, kecuali
pada Acarina. Pada cephalothorax terdapat enam pasang apendik bersendi , yaitu
sepasang chelicerae, sepasang pedipalpi dan empat pasang kaki. Subphylum
Chelicerata dibagi menjadi tiga kelas yaitu kelas Merostomata, Archinida, dan
Pygnogonida. Termasuk ke dalam anggota subphylum Chelicerata yaitu laba-laba,
kalajengking, tungau (Sharma, 2012).
Crustacea
Subphylum Crustacea umumnya memiliki habitat akuatik, kepala dengan dua
pasang antena, sepasang mandibula dan dua pasang maxilla, dan alat gerak yang
biramous, segmen bercabang dua. Karakteristik subphylum Crustacea yaitu memiliki
tubuh yang terdiri dari cephalothorax dan abdomen. Kerangka luar tubuhnya terdiri
dari zat kitin, memilikikepala dengan dua pasang antenna. Subphylum Crustacea
dibagi menjadi lima kelas yaitu Remipedia, Cephalocarida, Branchiopoda,
Malacostraca, dan Maxillopoda Termasuk ke dalam anggota subphylum Crustacea
yaitu kepiting, udang, lobster, teritip (Mente, 2003).
Hexapoda
Hexapoda berarti hewan berkaki enam. Hexapoda merupakan golongan
hewan yang dominan di muka bumi, dalam jumlah mereka melebihi semua hewan
melata daratan lainnya dan praktis mereka terdapat dimana-mana (Rahayu et al.,
2011). Subpylum Hexapoda memiliki tubuh yang terdiri atas kepala, thoraks dan
abdomen; lima pasang segmen penyusun kepala; tiga pasang alat gerak yang
uniramous, terdiri atas segmen yang tidak bercabang, dan terhubung dengan bagian
thoraks. Alat pernapasannya berupa trakea, alat ekresi berupa tubulus malpighi yang
terletak melekat pada bagian posterior saluran pencernaan, sistem sirkulasinya
terbuka, organ kelamin insekta berumah dua artinya insekta jantan dan insekta betina
terpisah, alat kelaminnya terletak pada segmen terakhir dari abodemen, fertilasi
terjadi secara internal, mengalami ekdisis pada tahap tertentu selama perkembangan
hidupnya . Termasuk kedalam anggota subphylum Hexapoda yaitu semua serangga
(Johnson, 1992).
Berdasarkan sayap, Hexapoda dibedakan menjadi dua sub-kelas yaitu
Apterigota (tidak bersayap) dan Pterigota (bersayap). Apterigota (tidak bersayap)
memiliki tubuh berukuran kecil sekitar 0,5 cm dan memiliki antena panjang.
Umumnya berkembang secara ametabola, contoh hewan kelas ini adalah kutu buku.
Pterigota (bersayap), merupakan kelompok insect yang sayapnya berasal dari
tonjolan luar dinding tubuh yang disebut Eksopterigota. Kelompok lain yang
sayapnya berasal dari tonjolan dalam dinding tubuh disebut Endopterigota (Jasin,
1989).
Myriapoda
Myriapoda (dalam bahasa yunani, myria = banyak, podos = kaki) merupakan
hewan berkaki banyak. Myriapoda memiliki tubuh yang tersusun atas bagian kepala
dan badan (truncus); empat pasang segmen penyusun kepala; Setiap segmen terdapat
lubang respirasi yang disebut spirakel yang menuju ke trakea; dan alat gerak yang
uniramous. Bagian kaput Myriapoda terdapat antena, mulut, dan satu pasang
mandibula (rahang bawah), dua pasang maksila (rahang atas), dan mata yang
berbentuk oseli (mata tunggal). Ekskresinya dengan tubula malpighi (Brotowidjoyo,
1994).
Makanan Chilopoda adalah insekta, molusca, dan bintang kecil lainnya. Alat
pencernaan makanannya sempurna artinya dari mulut sampai dengan anus ada.
Kedalam pencernaan makanan ini menempel dua buah saluran Malpighi yang
berfungsi sebagai alat eksresi. Respirasi dengan menggunakan trachea yang
bercabang-cabang dengan lubang yang terbuka pada hampir setiap segmen. Alat
reproduksi terpisah, pembuahan terjadi secara internal dan alat reproduksi ini
dihubungkan dengan beberapa kelenjar accessories. Myriapoda dibedakan menjadi
dua ordo, yaitu Chilopoda dan Diplopoda. Myriapoda hidup di darat pada tempat
lembap, misalnya di bawah daun, batu, atau tumpukan kayu. Termasuk kedalam
anggota subphylum Myriapoda yaitu kelabang dan kaki seribu (Brotowidjoyo, 1994).
BAB III. MATERI DAN CARA KERJA

A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara Arthropoda yaitu bak


preparat, pinset, kaca pembesar, mikroskop cahaya, mikroskop stereo, sarung tangan
karet (gloves), masker, dan alat tulis.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum acara Arthropoda yaitu
beberapa spesimen hewan Arthropoda.

B. Cara Kerja

Cara kerja yang digunakan dalam praktikum Arthropoda yaitu:


1. Karakter pada spesimen diamati berdasarkan ciri-ciri morfologi lalu digambar

dan dideskripsikan.
2. Spesimen diidentifikasi dengan kunci identifikasi.

3. Dibuat kunci identifikasi sederhana berdasarkan karakter spesimen yang diamati.

4. Dibuat Laporan sementara dari hasil praktikum.

B. Pembahasan

Phylum Arthropoda memiliki karakter umum yaitu mengalami metamerisme


yang terspesialisasi/tagmatisasi, memiliki eksoskeleton yang berfungsi untuk
penyokong dan proteksi, mengalami ekdisis atau pergantian kulit, beberapa anggota
ada ang mengalami metamorphosis, ekstremitas perpasangan, selom tereduksi
menjadi rongga disekitar gonad dan organ ekskretoris, sistem pencernaan terbuka,
hemocoel, memiliki sistem pencernaan lengkap, protostomia, triploblastik, dan
sismetri bilateral. Phylum Arthropoda dibagi menjadi lima subphylum yaitu
Subphylum Trilobitomorpha (punah), Subphylum Chelicerata, Subphylum
Crustecea, Subphylum Hexapoda, dan Subphulum Myriapoda.
Subphylum Chelicerata memiliki ciri khas yaitu memiliki Chelicerae yang
berfungsi untuk memakan mangsa, memiliki prosoma dan ophistosoma, memiliki
pedipalpus yang berfungsi sebagai sensor untuk mencari mangsa. Subphylum
Chelicerata dibagi menjadi tiga kelas, yaitu:
Class Merostomata, mempunyai karapaks berbentuk tapal kuda, tubuh cembung,
dan merupakan hewan akuatik. Contohnya yaitu kepiting tapal kuda.
Class Arachida, memiliki pedipalpus sebagai sensor mangsa dan habitatnya
terrestrial. Contohnya yaitu laba-laba.
Class Pygnogonida, memiliki bentuk tubuh pipih dan tipis, habitat akuatik, dan
dapat hidup hingga kedalaman 7000 meter di bawah air laut. Contohnya yaitu
laba-laba laut.
Subphylum Crustacea memiliki habitat akuatik. Kepala dengan dua pasang
antena, sepasang mandibula, dan dua pasang maxilla. Alat gerak biramous (segmen
bercabang dua). Subphylum dibagi menjadi lima kelas, yaitu Class Malacostraca
(contonya kepiting dan udang), Class remipedia, Class Chepalocarida, Class
Branchiopoda (Contohnya Daphnia sp.), dan Class Maxillopoda (Contohnya teritip).
Subphylum Myriapoda memiliki tubuh yang tersusun atas bagian kepala dan
truncus, empat pasang segmen penyusun kepala, alat gerak uniramous, dan jumlah
ekstremitas banyak. Subphylum Myriapoda dibagi menjadi empat kelas yaitu Class
Diplopoda, Class Chilopoda, Class Pauropoda, dan Class Symphyla. Perbedaan dari
Class Diplopoda dan Class Chilopoda yaitu:
Class Chilopoda, setiap segmen memiliki satu pasang kaki, karnivora,
pergerakkan tubuh cepat, antenna lebih panjang dari pada Diplopoda, dan tubuh
tidak dapat menggulung. Contoh dari Class Chilopoda yaitu Kelabang.
Class Diplopoda, setiap segmen memiliki dua pasang kaki, herbivora,
pergerakan tubuh lambat, antenna lebih pendek daripada Chilopoda, dan tubuh
menggulung ketika terancam. Contoh dari Class Diplopoda yaitu kaki seribu.
Subphylum Hexapoda memiliki ciri khas yaitu tubuh terdiri atas kepala,
thorax dan abdomen. Memiliki lima pasang segmen penyusun kepala, tiga pasang
alat gerak uniramous, segmen tidak bercabang, dan memiliki sayap. Subphylum
Hexapoda terbagi menjadi empat kelas yaitu Class Entognata (ordo Coleombola) dan
Insecta contohnya pada kupu-kupu.
Nephila pelipes merupakan anggota Phylum Arthropoda dengan Subphylum
Chelicerata dan kelas Arachnida. Species ini memiliki karekter tubuh yang terbagi
menjadi prosoma (bagian tubuh setengah sampai depan) dan ophistosoma (bagian
tubuh setengah kebelakang) dengan spinerets yang berfungsi untuk menghasilkan
sarang laba-laba dari dalam abdomennya. Cheliceae berfungsi untuk memakan
mangsa. Bagian-bagian tubuh dari Nephina pelipes yaitu prosoma dan ophistosoma
yang dihubungkan oleh pedicelaria, pedipalpus yang berfungsi untuk sensor dalam
mencari mangsa, chelicerae yang berfungsi untuk memangsa, dan spiracle yang
berfungsi untuk respirasi.
Scylla sp. Termasuk ke dalam Subphylum Crustacea dengan kelas
Malacostraca.Bagian tubuh dari Scylla sp. terdiri dari Chepalothorax dan abdomen.
Memiliki dua jenis kaki, yaitu periopod (kaki jalan) dan pleopod (kaki renng).
Memiliki dactyl (segmen pertama dari kaki), propodus (segmen kedua) dan carpus
(segmen ketiga) serta merus (segmen keempat).
Julus virgatus termasuk ke dalam Phylum Arthropoda dan subphylum
Myriapoda serta Class Diplopoda. Julus virgatus memiliki haplosegments pada
beberapa segmen di bagian depan dan diplosegments pada segmen berikutnya sampai
ke ujung tubuh. Julus virgatus termasuk kelompok herbivora, bernafas menggunakan
trakea, tubuh terdiri dari kepala dan truncus, memiliki apodous segmen yaitu tidak
ada kaki pada segmen belakang, memiliki labrum yang merupakan rahang atas
sedangkan mendibula adalah rahang bawah, Segmen terakhir disebut pre anal ring,
ventral scale dan diantara keduanya terdapat anal value.
Kupu-kupu termasuk ke dalam phylum Arthropoda, subohylum Hexapoda,
ordo Lepidopthera dan Family Nymphalidae. Bagian-bagian tubuh kupu-kupu terdiri
Dario kepala, thorax, abdomen, kaki yang berjumlah enam di bagian thorax,
memiliki maxilla dan mendibula, sepasang sayap dan sepasang antenna.
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:


1. Phylum Arthropoda terdiri dari lima subphylum yaitu subphylum
Trilobitomorpha, Chelicerata, Crustacea, Myriapoda, dan Hexapoda.
2. Karakter penting dalam identifikasi dan klasifikasi phylum Arthropoda yaitu
tubuh yang ter tagmatisasi, memiliki eksoskeleton, mengalami eksidis, beberapa
mengalami metamorphosis, ekstremitas berpasangan, sistem peredaran darah
terbuka, hemocoel, sistem pencernaan lengkap, protostomia, triploblastic, dan
sismetri bilateral.

B. Saran
Saran untuk praktikum Arthropoda yaitu sebaiknya sediakan lebih dari satu
preparat yang mewakili subphylum dari Arthropoda sebagai pembanding
DAFTAR REFERENSI

Alanyali, F.S., Acik, L., Ozata, A., Kutlu, H.M., 2011. Investigation of mitochondrial
DNA of some West Anatolian Gammarus species (Crustacea: Amphipoda)
by PCR-RAPD techniques. Turkish Journal of Biochemistry, 36 (3), pp.
207-212.

Brotowidjoyo, Mukayat Djarubito. 1994. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.

Campbell, N. A., J. B, Reece., L. G. Mitchell. 2004. Biologi. Edisi kelima/jilid 2.


Jakarta : Erlangga.

Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan Vertebrata dan Invertebrata. Surabaya: Sinar


Wijaya.

Johnson, N. F : & Triplehorn, C. A. 1992. An introduction to the study of insect. 6 th


ed. New York: Reinhart and Winston.

Mayr, Ernest. 1982. Principles of Systematic Zoologi. New Delhi: Tata McGraw-Hill
Publishing Company.

Mente, E. 2003. Nutrition, physiology, and metabolism of crustaceans. Enfield:


Science Publisher Inc.

Moore, Janet. 2006. An Introduction Invertebrates Second Edition.Cambridge New


York: University Press.

Rahayu, S., Yustian, I., Kamal, M. 2011. Keanekaragaman Jenis Arthropoda di Gua
Putri dan Gua Selabe Kawasan Karst Padang Bindu, OKU Sumatera
Selatan. Jurnal Penelitian Sains, 14 (1).

Sharma, P.P., Evelyn E. S., Cassandra, G.E., Gonzalo, G. 2012. Evolution of the
chelicera: a dachshund domain is retained in the deutocerebral appendage of
Opiliones (Arthropoda, Chelicerata). Journal Evolution and Development,
14 (6), pp. 522533.

Soemadji. 1995. Materi Pokok Zoologi. Jakarta: Depdikbud.