Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

Tinnitus

Pembimbing:

dr. Erwinantyo BK, Sp THT

Disusun oleh:

Muhammad bin Shahrulzaman (112015441)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT


Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
RS Panti Wilasa Dr Cipto, Semarang
Periode 19 Juni 2017 22 Juli 2017

1
PENDAHULUAN

Tinnitus merupakan salah satu masalah pengobatan yang amat kompleks. Merupakan
suatu fenomena psiko/akustik murni dan karenanya tidak dapat diukur. 1 Diperkirakan 13 juta
orang menderita gangguan ini, dan mungkin sekitar sejuta pasien mederita tinnitus berat atau
debilitasi.2

Meskipun orang normal dilahirkan dengan alat-alat yang diperlukan untuk berbicara,
mereka tidak dilahirkan dengan kemampuan untuk berbicara. Telinga dan otak memadukan
dan mengolah suara sehingga membuat anak dapat belajar menirunya. Jika suara tidak dapat
didengar ia tidak dapat ditiru. Bunyi tidak dapat menjadi kata-kata, kata tidak akan menjadi
kalimat, kalimat tidak akan menjadi pembicaraan, pembicaraan tidak akan menjadi bahasa.

Pendengaran adalah suatu proses persepsi. Penderita yang datang berobat ke bagian
THT kebanyakan mengeluh ada gangguan pada pendengarannya atau keluhan pada telinga
mereka. Beberapa keluhan mengenai penyakit telinga yang penting antara lain adalah nyeri
telinga, kurang pendengaran, otorea, vertigo dan tinnitus.

Telinga berdenging sebenarnya bukanlah penyakit, melainkan gejala awal yang dapat
menyebabkan sejumlah kondisi medis. Seperti berkurangnya atau hilangnya
pendengaran karena terjadinya kerusakan pada mata, atau indikasi dari penyakit sistem
sirkulasi pada tubuh. Meski tak sampai menganggu penampilan, namun boleh dipastikan
menimbulkan ketidaknyamanan serta menghilangkan kosentrasi.

ANATOMI TELINGA

1. Telinga Luar

Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. Daun
telinga terdiri dan tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan
rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam
rangkanya terdiri dari tulang. Panjang nya kira kira 2 1/2 - 3 cm. 1

Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen
(kelenjar keringat) dan rambut, Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang tehinga.
Pada dua pertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen. 1

2
Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dan arah liang telinga dan
terhihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas disebut pars flaksida (membrane
Shrapnell), sedangkan bagian bawah pars tensa (membran propria). Pars flaksida hanya
berlapis dua, yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel kulit liang telinga dan bagian dalam
dilapisi oleh sel kubus bersilia, seperti epitel mukosa saluran napas. Pars tensa mempunyai
satu lapis lagi di tengah, yaitu lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin
yang berjalan secara radier dibagian luar dan sirkuler pada bagian dalam. 1

Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membran timpani disebut sebagai
umbo. Dari umbo bermula suatu reflek cahaya (cone of light) ke arah bawah yaitu pada pukul
7 untuk membran timpani kiri dan pukul 5 untuk membran timpani kanan. Di membran
timpani terdapat 2 macam serabut, sirkuler dan radier. Serabut inilah yang menyebabkan
timbulnya refleks cahaya yang berupa kerucut itu. Secara klinis reflek cahaya ini dinilai,
misalnya bila letak reflek cahaya mendatar, berarti terdapat gangguan pada tuba eustachius.
Membran timpani dibagi dalam 4 kuadran, dengan menarik garis searah dengan prosesus
longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo, sehingga didapatkan bagian
atas - depan, atas belakang, bawah - depan serta bawah - belakang, untuk menyatakan letak
perforasi membran timpani. Bila melakukan miningotomi atau parasentesis, dibuat insisi di
bagian bawah belakang membran timpani, sesuai dengan arah serabut membran timpani. Di
daerah ini tidak terdapat tulang pendengaran. 1

Gambar 1. Anatomi Telinga1

3
2. Telinga Tengah

Di dalam telinga tengah terdapat tulang - tulang pendengaran yang tersusun dan luar
ke dalam, yaitu maleus, inkus dan stapes. Tulang pendengaran di dalam telinga tengah saling
berhubungan. Prosesus longus maleus melekat pada membran timpani, maleus melekat pada
inkus, dan inkus melekat pada stapes. Stapes terletak pada tingkap lonjong yang berhubungan
dengan koklea. Hubungan antar tulang - tulang pendengaran merupakan persendian. Pada
pars flaksida membran timpani terdapat daerah yang disebut atik. Di tempat ini terdapat
aditus ad antrum, yaitu lubang yang menghubungkan telinga tengah dengan antrum mastoid.
Tuba eustachius termasuk dalam telinga tengah yang menghubungkan daerah nasofaring
dengan telinga tengah. 1

Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas luar yaitu membran timpani. Batas
depan yaitu tuba eustachius. Batas bawah yaitu vena jugularis (bulbus jugularis). Batas
belakang yaitu aditus ad antrum dan kanalis fasialis pars vertikalis. Batas atas yaitu tegmen
timpani (meningen otak). Batas dalam, berturut - turut dan atas kebawah yaitu kanalis
semisirkularis horizontal, kanalis fasialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar
(round window) dan promontorium. 1

Gambar 2.
Kavum Timpani2

4
3. Telinga Dalam

Telinga dalam terdiri dan koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran
dan vestibuler yang terdiri da 3 buah kanalis semi sirkularis. 1 Ujung atau puncak koklea
disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli. Kanalis
semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk lingkaran yang tidak
lengkap. Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibuli sebelah atas, skala timpani di
sebelah bawah dan skala media (duktus kokleans) diantaranya. Skala vestibuli dan skala
timpani berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi endolimfa. Ion dan garam yang
terdapat di perilimfa berbeda derigan endolimfa. Hal ini penting untuk pendengaran. Dasar
skala vestibuli disebut sebagai membran vestibuli (Reissners membrane) sedangkan dasar
skala media adalah membran basalis. Pada membran ini terletak organ Corti, Pada skala
media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membran tektona, dan pada
membran basal melekat sel rambut yang terdiri dan sel rambut dalam, sel rambut luar dan
kanalis Corti, yang membentuk organ Corti.

DEFINISI

Tinnitus adalah suatu gangguan pendengaran dengan keluhan perasaan mendengar


bunyi tanpa rangsangan bunyi dari luar. 1,2 Keluhannya berupa bunyi mendenging, menderu,
mendesis atau berbagai macam bunyi yang lain. Gejala ini terjadi terus menerus atau hilang
timbul. Tinnitus dapat dibagi atas tinnitus objektif dan subyektif.

Tinnitus objektif bersifat vibratorik, berasal dari badan penderita, misalnya suara
aliran darah dari suatu aneurisma, suara jantung, suara nafas, atau suara dari kontraksi otot-
otot disekitar telinga. Biasanya tidak hanya si penderita saja yang boleh mendengarnya tapi
juga si pemeriksa dengan auskultasi disekitar telinga. Umumnya disebabkan kelainan
vaskular sehingga tinnitusnya berdenyut mengikut denyut jantung. Tinnitus berdenyut ini
dapat dijumpai pada pasien dengan malformasi arteriovena, tumor glomus jugular dan
aneurisma. Tinnitus objektif juga dapat dijumpai sebagai suara klik yang berhubungan
dengan penyakit sendi temporomandibular dan karena kontraksi spontan dari otot telinga
tengah atau mioklonus palatal. Tuba Eustachius paten juga dapat menyebabkan tinnitus akibat
hantaran suara dari nasofaring ke rongga telinga tengah.

5
Tinnitus subjektif bila suara tersebut hanya didengar oleh pasien sendiri dan
merupakan jenis yang sering terjadi. Jenis ini bersifat nonvibratorik, disebabkan oleh proses
iritatif atau perubahan degeneratif traktus audiotorius mulai dari sel-sel rambut getar koklea
sampai pusat saraf pendengaran.3 Tinnitus subjektif bervariasi dalam intensitas dan frekuensi
kejadiannya. Beberapa pasien dapat mengeluh mengenai sensasi pendengaran dalam
intensitas rendah dan sebaliknya.

Berat ringan tinnitus boleh bervariasi dari waktu ke waktu. Variasi intensitas tinnitus
juga dihubungkan dengan ambang stress, aktivitas fisik atau keadaan lingkungan penderita.

EPIDEMIOLOGI

Tinnitus dapat timbul pada usia berapapun, tapi gejala ini lebih sering timbul pada
pasien 40 dan 80 tahun.3 Biasanya pada pria lebih sering terjadi dibanding dengan wanita.
Untuk kasus-kasus tertentu, tinnitus kadang-kadang menyerang ibu hamil atau wanita
menstruasi. Tapi gangguan ini akan segera hilang saat kembali pada kondisi normal.

Sebuah penelitian di Amerika memperkirakan bahwa 40-50 juta orang Amerika


menderita beberapa tingkat kebisingan yang terkait dengan tinitus. 3 Pekerja di tempat kerja
yang bising sangat rentan terhadap tinnitus. Di antara profesi yang paling terkena dampak
adalah ahli music dan pekerja industri. Tapi guru di sekolah dan taman kanak-kanak juga
perlu memperhatikan telinga mereka secara khusus, menurut sebuah survei di Denmark.
Tinnitus hampir dua kali lebih umum terjadi pada guru pria berbanding pria dalam profesi
lain. Hanya 40 persen penderita tinnitus yang mencari pertolongan dari ahli tinnitus, menurut
sebuah penelitian di Australia.

ETIOLOGI

Penyebab terjadinya tinnitus sangat beragam yaitu:

Paparan bising

Paparan suara keras dapat merusak dan bahkan menghancurkan sel-sel rambut, yang
disebut silia, di telinga dalam. Sekali rusak, sel-sel rambut tidak dapat diperbaharui
atau diganti.

6
Trauma kepala dan leher

Trauma fisik pada kepala dan leher dapat menyebabkan tinnitus. Gejala lain termasuk
sakit kepala, vertigo, dan kehilangan memori.

Gangguan tertentu seperti hipo-atau hipertiroidisme, penyakit Lyme, fibromyalgia,


dan thoracic outlet syndrome, tinnitus dapat sebagai sebuah gejala. Ketika tinnitus
adalah gejala dari gangguan lain, mengobati gangguan dapat membantu meringankan
tinnitus.

Beberapa jenis tumor

Penyakit kardiovaskuler

Cedera yang menyebabkan kelainan rahang

Ototoksisitas

Beberapa obat yang ototoksik yaitu golongan aminoglikosida, eritromisin, diuretik


yang bekerja pada lengkung Henle ginjal, obat anti inflamasi, obat anti malaria, obat
anti tumor dan obat tetes telinga topikal. Obat lain akan menghasilkan tinnitus sebagai
efek samping tanpa merusak telinga bagian dalam. Efek, yang dapat tergantung pada
dosis obat, bisa sementara atau permanen.

Tinnitus pulsatil yaitu jenis yang jarang ditemukan yang terdengar seperti denyut
berirama di telinga, biasanya bersamaan dengan detak jantung seseorang. Jenis
tinnitus ini dapat disebabkan oleh aliran darah abnormal pada arteri atau vena dekat
dengan telinga, tumor dalam otak atau kelainan struktur otak.

PATOFISIOLOGI

Susunan organ telinga terdiri atas liang telinga, gendang telinga, tulang-tulang
pendengaran dan koklea. Suara berdenging terjadi akibat rambut getar yang ada di dalam
koklea tidak boleh berhenti bergetar. Getaran ini diterima oleh saraf pendengaran dan
diteruskan ke otak secara berterusan yang akhirnya mengeluarkan suara berdenging.4,5 Maka
ada baiknya mengistirahatkan telinga dari suara bising dan mencari keheningan. Pendengaran
yang terganggu biasanya ditandai dengan mudah marah, pusing, mual dan mudah lelah.

7
Kepekaan terhadap suara bising pada setiap orang berbeda-beda, tetapi hampir setiap
orang akan mengalami ketulian jika telinganya mengalami bising dalam waktu cukup lama.
Setiap bunyi dengan kekuatan diatas 85 dB boleh menyebabkan kerusakan.

Di Indonesia, nilai ambang batas yang diperbolehkan dalam bidang industri telah
ditetapkan sebesar 85 dB untuk jangka waktu maksimal delapan jam. 2 Tetapi,
implementasinya belum merata. Perlu dipahami bahwa makin tinggi paparan bising, makin
berkurang jangka waktu paparan yang aman. Misalnya pada 115 dB (konser musik rock), 15
menit saja sudah cukup berbahaya. Pada 130 dB (mesin jet), 2 menit saja dapat menyebabkan
gangguan pendengaran.

Bising adalah bunyi yang tidak diinginkan, menganggu, mempunyai sumber dan
menjalar melalui media perantara. Secara fisik, bising merupakan gabungan berbagai macam
bunyi dengan berbagai frekuensi yang hampir tidak mempunyai periodisitas, tidak
mempunyai arti, tidak berguna dan memiliki intensitas yang selalu melampaui nilai ambang
batas (NAB) yang diperbolehkan dan lama paparannya melampaui batas waktu yang
diperkenankan.

Bising dengan intensitas yang cukup tinggi dengan waktu papar cukup lama akan
menimbulkan kerusakan pada sel-sel rambut (hair cells) yang terdapat di telinga bagian
dalam (koklea). Sel rambut adalah sel yang berfungsi mengubah energi akustik menjadi
rangsangan listrik untuk dapat diteruskan ke pusat persepsi pendengaran di otak. Sehingga
kerusakan pada sel rambut menyebabkan tergangguanya proses mendengar dengan akibat
terjadi penurunan fungsi pendengaran. Pada awalnya hanya bersifat sementara, tetapi bila
paparan bising berlsangsung terus maka kerusakan akan menetap.

Tinnitus akan menjadi terus menerus atau akan menjadi lebih keras sensasinya bila
paparan bising ulangan atau terpapar bising dengan intensitas lebih besar. Tinnitus akan lebih
menganggu bila berada dalam suasana sunyi atau pada saat tidur. Gejala lain adalah
penurunan fungsi pendengaran, akibatnya pasien akan mengeluh sulit berbicara terutama bila
berada dalam ruangan yang cukup ramai (Cocktail party deafness).5 Lebih jauh lagi penderita
akan sulit berbicara walaupun berada dalam ruangan yang sunyi.

8
Beberapa sumber bising yang dapat menyebabkan tinnitus:

Mesin industri atau mesin kendaraan yang dikemudikan, misalnya: mesin percetakan
buku atau surat kabar, generator pembangkit tenaga listrik, mesin kapal terutama
mesin turbin, mesin diesel bahkan termasuk mesin bajaj.
Aktivitas pekerjaan di galangan kapal

Konser musik (misalnya pada musik heavy metal,rock)

Letusan senjata api

Ledakan bom atatupun petasan ukuran besar

Kegemaran mendengarkan musik melalui head phone dengan volume besar.

Menurut frekuensi getarnya, tinnitus terbagi menjadi 2 macam, yaitu:

1. Tinnitus frekuensi rendah (low tone), seperti bergemuruh


2. Tinnitus frekuensi tinggi (high tone), seperti berdenging

Tinnitus biasanya dihubungkan dengan tuli sensorineural dan dapat juga terjadi karena
gangguan konduksi. Tinnitus yang disebabkan oleh gangguan konduksi, biasanya berupa
bunyi dengan nada rendah. Jika disertai dengan inflamasi, bunyi dengung ini terasa berdenyut
(tinnitus pulsasi) dan biasanya terjadi pada sumbatan liang telinga karena serumen atau
tumor, otitis media, otosklerosis,dll.

Pada tuli sensorineural, biasanya timbul tinnitus subjektif nada tinggi (4000 Hz). 1,2
Terjadi pada telinga bagian dalam ketika gelombang suara berenergi tinggi merambat melalui
cairan telinga, merangsang dan membunuh sel-sel rambut pendengaran sehingga telinga tak
merespon lagi frekuensi suara. Bila suara keras hanya merusak sel-sel rambut tadi maka akan
terjadi tinnitus, yaitu dengungan keras pada telinga yang dialami penderitanya.

DIAGNOSIS

Tinnitus merupakan suatu gejala klinik penyakit telinga sehingga untuk


pengobatannya perlu ditegakkan diagnosis untuk mencari penyebab yang biasanya sulit
diketahui. Anamnesis merupakan hal utama dan yang terpenting dalam penegakan diagnosis
tinnitus. Hal-hal yang perlu ditanyakan misalnya kualitas dan kuantitas tinnitus tersebut.
9
Selain itu, ditanyakan lokasi, sifat suara yang timbul apakah denging, dengung, desis,
deru, detak, gemuruh, riak air, beserta lamanya terjadi. Ditanyakan apakah tinnitusnya
mengganggu atau bertambah berat pada siang atau malam hari, gejala gejala lain yang
menyertai seperti adanya vertigo, gangguan pendengaran lainnya atau gejala neurologik lain.
Riwayat terjadinya tinnitus, apakah sampai menganggu aktivitas sehari-harinya, terjadinya
unilateral atau bilateral.

Antara yang perlu diperhatikan dalam anamnesis adalah lama serangan, bila
berlangsung dalam waktu 1 menit biasanya akan hilang sendiri dan hal ini bukan suatu yang
patologik. Bila tinnitus yang terjadi dalam 5 menit merupakan suatu yang patologik.1

Selain itu, boleh ditanyakan riwayat cedera kepala, pajanan bising, trauma akustik,
minum obat ototoksik, riwayat infeksi telinga dan operasi telinga. Gejala dan tanda gangguan
audiovestibular lain seperti otore, kehilangan pendengaran, vertigo dan gangguan
keseimbangan harus ditanyakan pada pasien.

Pada tinnitus subyektif unilateral perlu dicurigai adanya kemungkinan neuroma


akustik atau trauma kepala, sedangkan bilateral kemungkinan intoksikasi obat, presbiakusis,
trauma bising dan penyakit sistemik. Pada pasien yang sukar membedakan nilateral atau
bilateral kemungkinan besar terjadi kelainan patologis di saraf pusat seperti serebrovaskuler,
siringomelia dan sclerosis multiple.

Kelainan patologis pada putaran basal koklea, saraf pendengar perifer dan sentral
umumnya bernada tinggi (denging). Tinnitus yang bernada rendah merupakan kelainan
patologis pada telinga luar dan tengah. Contoh tinnitus bernada rendah seperti suara angin,
suara AC, suara seperti telinga kemasukan air. Sedangkan contoh tinnitus bernada tinggi
seperti suara pesawat jet, suara jangkrik atau suara tiang listrik dipukul

Pemeriksaan fisik THT dan otoskopi secara rutin harus dilakukan. Pemeriksaan
penala, audiometri nada murni, audiometri tutur dan bila perlu dilakukan pemeriksaan
Otoacustic Emmision (OAE), Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA), Electro
Nystagmography (ENG), serta pemeriksaan laboratorium.

10
PENGOBATAN

Dalam banyak kasus, tidak ada perawatan spesifik untuk tinnitus. Tinnitus hanya
dapat hilang dengan sendiri, atau mungkin menetap. Perlu diketahui etiologi daripada tinnitus
agar dapat mengobati sesuai penyebabnya. Penatalaksanaan bertujuan untuk menghilangkan
penyebab tinnitus dan mengurangi keparahannya. Pada tinnitus yang jelas diketahui
penyebabnya baik local mahupun sistemik biasanya dapat hilang apabila penyebabkan
tersebut diobati. Pada tinnitus yang tidak jelas etiologinya lebih sulit dalam memberikan
pengobatan.

Antara model terapi yang dikemukakan adalah kombinasi konseling terpimpin, terapi
akustik dan medikamentosa bila diperlukan. Metode ini disebut sebagai Tinnitus Retraining
Theraphy (TRT). Tujuan dari TRT adalah memicu dan menjaga reaksi habituasi dan persepsi
tinnitus dengan suara dan suara lingkungan yang mengganggu. Habituasi diperoleh sebagai
hasil modifikasi hubungan system auditorik ke system limbic dan system saraf otonom. TRT
tidak dapat menghilangkan tinnitus dengan sempurna tetapi dapat memberikan perbaikan
yang bermakna berupa penurunan toleransi terhadap suara. TRT ini memakan masa 12 hingga
24 bulan dan memberikan hasil yang baik pada orang yang berpengalaman.

Pada umunya pengobatan gejala tinnitus dibagi dalam 4 cara yaitu:2

1. Elektrofisiologik, yaitu memberi stimulus elektroakustik (rangsangan bunyi) dengan


intensitas suara yang lebih keras dari tinnitusnya, dapat dengan alat bantu dengar atau
tinnitus masker.

2. Psikologik, yaitu dengan memberikan konsultasi psikologik untuk meyakinkan pasien


bahwa penyakitnya tidak membahayakan dan mempunyai kemungkinan disembuhkan,
serta mengajarkan relaksasi dengan bunyi yang harus didengarkan setiap saat.

3. Terapi medikamentosa, sampai saat ini belum ada kesepakatan yang jelas diantaranya
untuk meningkatkan aliran darah koklea, tranquilizer, antidepresan sedatif, neurotonik,
vitamin dan mineral.

4. Tindakan bedah, dilakukan pada tumor akustik neuroma. Namun, sedapat mungkin
tindakan ini menjadi pilihan terakhir, apabila gangguan denging yang diderita benar-
benar parah.

11
Pasien yang menderita tinnitus perlu diberikan penjelasan yang baik, sehingga rasa
takut tidak memperberat keluhan tersebut. Obat penenang atau obat tidur dapat diberikan saat
menjelang tidur pada pasien yang tidurnya sangat terganggu oleh tinnitus tersebut. Pasien
harus dijelaskan bahwa gangguan itu sulit diobati dan dianjurkan agar beradaptasi dengan
gangguan tersebut.

Hal-hal yang perlu dilakukan sebagai terapi umum :

Lakukan pemeriksaan kesehatan dasar untuk mencari penyebab


Hindari suara keras, alkohol, rokok, dan teh ataupun stimulan lain.

Hindari stress yang berlebihan.

Olah raga teratur.

Lakukan yoga ataupun meditasi apabila memiliki waktu luang.

Jangan terlalu dalam mengkorek-korek telinga dengan menggunakan cotton buds

Terapi Suara

Pasien boleh menggunakan suara eksternal yang nyata untuk melawan persepsi dan
reaksi terhadap tinnitus. Penyamaran suara boleh menutupi suara tinnitus, sementara terapi
yang lebih maju dapat memberikan kesan yang lebih baik. "Terapi suara" adalah istilah
umum yang dapat digunakan dalam banyak cara, tergantung pada produk, klinis, atau klinisi
individual tertentu. Secara umum, terapi suara berarti penggunaan suara eksternal untuk
mengubah persepsi atau reaksi pasien terhadap tinnitus. Seperti perawatan tinnitus lainnya,
terapi suara tidak menyembuhkan kondisinya, namun secara signifikan menurunkan beban
dan intensitas tinnitus yang dirasakan. Terapi berbasis suara berfungsi pada empat mekanisme
tindakan umum :6

Masking: menghadapkan pasien ke suara eksternal dengan volume yang cukup keras
sehingga sebagian atau seluruhnya mencakup suara tinnitus mereka.

Distraksi : menggunakan suara eksternal untuk mengalihkan perhatian pasien dari


suara tinnitus

12
Habituasi: membantu otak pasien mengklasifikasi ulang tinitus sebagai suara yang
tidak penting yang seharusnya diabaikan secara sadar.

Neuromodulasi: penggunaan suara khusus untuk meminimalkan saraf yang hiperaktif


yang menjadi penyebab utama tinnitus

Alat bantu dengar juga dapat diklasifikasikan sebagai terapi suara karena meningkatkan
kebisingan eksternal sebagai cara meningkatkan rangsangan pendengaran dan mengalihkan
perhatian dari persepsi tinnitus. Sementara mesin suara kelas komersial memberikan pilihan
suara generik, berbagai perangkat kelas medis memberikan suara yang dibuat khusus untuk
pasien dengan tinnitus.

Perangkat ini memainkan musik khusus atau suara yang dimodifikasi secara algoritmik
di mana frekuensi dan nada spesifik diberikan seringkali pada tingkat yang tidak dapat
dipahami secara sadar oleh pendengar. Fungsi yang dilaporkan dari suara yang dimodifikasi
ini bervariasi sesuai dengan produk tertentu:7

Neuromonics: suara yang disesuaikan menghilangkan bias frekuensi rendah, secara


bertahap ketika pasien mengalami tinnitus mereka dengan cara yang terkontrol untuk
mendukung pembiasaan

Sound Cure: suara disesuaikan dengan tinnitus pasien untuk memberikan stimulasi
kortikal dan penghambatan residu parsial tinnitus.

Otoharmonik: suara yang sesuai dengan tinnitus pasien diputar saat subjek tidur,
untuk membantu mendukung habituasi.

Neuromodulasi CR Akustik: Urutan nada, disajikan pada volume rendah untuk jangka
waktu yang lama, memicu aktivitas di otak untuk melawan hiperaktifitas saraf.

Tidak seperti mesin suara standar, perangkat musik pada tinnitus biasanya dipakai
bukan secara berterusan (hanya selama sesi terapi atau waktu kebutuhan akut yang dapat
diprediksi, seperti sebelum tidur atau saat bangun tidur), dan memberikan keuntungan dalam
jangka masa lebih panjang setelah perangkat suara dimatikan.

Selain itu, tidak seperti mesin suara standar, musik yang dibuat khusus untuk tinnitus
dan perangkat suara yang dimodifikasi ini dapat mengurangi beban tinnitus yang dirasakan

13
pasien. Dengan memfasilitasi habituasi, produk ini dapat membantu pasien secara alami
"menyamakan" persepsi tinnitus.

Neuromodulasi CR akustik adalah terapi stimulasi non-invasif yang bertujuan


menangkal sinkronitas saraf patologis pada orang dengan tinnitus subjektif. Algoritma CR
telah dikembangkan secara komputasi dan dirancang untuk mendesign jaringan saraf tiruan
dengan mengurangi kekuatan konektivitas sinaptik antara neuron di dalam populasi sel.6
Untuk mengubah fokus pada korteks auditori yang teroganisasi secara tonotopik, empat nada
akustik diberikan dengan frekuensi yang berbeda yang berpusat pada karakteristik frekuensi
terjadinya persepsi suara pada pasien.

Penurunan sinkronisasi saraf ini dianggap menyebabkan penurunan konektivitas di area


otak yang terlibat dalam jaringan ang menyebabkan tinnitus. Percobaan proof-of-concept
secara acak telah memberikan bukti untuk neuromodulasi CR akustik untuk menjadi terapi
efektif untuk tinitus dengan menunjukkan peningkatan signifikan pada skor skala analog
visual (VAS) dan hasil kuesioner tinnitus (TQ) 75% pasien. Rekaman EEG untuk penelitian
ini juga menunjukkan adanya perubahan pada spektrum daya yang berubah secara patologis,
khususnya untuk gelombang , , dan s, ke tingkat yang lebih normal dalam jaringan area
otak bersamaan dengan penurunan yang signifikan dari konektivitas efektif yang tidak
normal.6,7 Juga menarik untuk dicatat bahwa sejumlah besar peserta percobaan juga
mengalami penurunan karakteristik frekuensi tinnitus selama percobaan berlangsung.

PENCEGAHAN

Berikut ini tips-tips yang berguna untuk mencegah terjadinya tinnitus :

1. Hindari suara-suara yang bising misalnya diskotik, tempat-tempat yang menyediakan


games dengan suara-suara yang membuat telinga bising, konser musik rock, bunyi
sepeda motor tanpa peredam, petasan, walkman, loudspeaker, permainan anak yang
berbunyi keras bahkan telpon genggam.
2. Batasi pemakaian headset, jangan mendengar dengan volume yang maximal.

3. Gunakan pelindung telinga apabila berada ditempat-tempat bising (misalnya


menggunakan plastik yang dimasukkan ke saluran telinga atau penutup telinga yang
mengandung gliserin)

14
4. Pemberian obat-obatan juga penting, terutama vitamin bagi saraf dan obat yang dapat
melebarkan pembuluh darah.

5. Makanlah makanan yang sehat dan rendah garam. Jangan melakukan diet yang tidak
seimbang karena setengah nutrisi berperan dalam kesehatan sel saraf telinga secara
langsung atau tidak langsung.

6. Perbanyak mengkonsumsi Vitamin A dan E karena vitamin A dan E merupakan nutrisi


penting untuk menjaga membran sel dalam telinga dan dapat meningkatkan peredaran
oksigen terhadap sel masing-masing.

7. Pengambilan mineral seperti magnesium dan zink yang seimbang dan viatamin B
kompleks dapat membantu mengatasi masalah tinnitus.

8. Senam atau beraktivitas yang menyenangkan seperti yoga, tai-chi, pijat, akupresur,
hypnosis, reiki dan meditasi. Hal ini berguna untuk membantu mempertahankan
kesehatan sistem peredaran darah.

9. Berpikirlah positif, cobalah untuk melawan pikiran negatif dengan pikiran positif.

10. Berlatih untuk menghindari stres

11. Kendalikan gaya hidup dan aturlah waktu sebaik mungkin

12. Periksa gigi dan pastikan tidak ada masalah pada sendi tempurung kepala-rahang
(temporo-mandibular joint)

13. Mengulum/mengunyah permen karet.

KOMPLIKASI

Tinnitus secara significant dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Walaupun


dampak tinnitus berbeda pada setiap orang, namun berkait erat dengan hal ini :

1. Fatique (Kelelahan Kronis)


2. Stress

3. Sleep problems (insomnia/susah tidur)

4. Trouble concentrating (susah berkonsentrasi)

15
5. Memory problems (menurunnya daya ingat)

6. Depression (depresi)

7. Anxiety and irritability (Kekuatiran yang berlebihan)

KESIMPULAN

Tinnitus merupakan salah satu keluhan yang paling banyak diderita oleh penderita
yang berobat pada bagian THT. Tinnitus bukan suatu penyakit tetapi suatu tanda atau gejala
dari penyakit. Jenis-jenis tinnitus antara lain tinnitus objektif dan sbjektif. Anamnesis
merupakan hal utama yang terpenting dalam penegakan diagnosa Tinnitus (lama, kualitas,
kuantitas, penyakit atau gangguan lain yang menyertai). Prinsip pengobatan tinnitus perlu
mengetahui penyebab utamanya supaya dapat menyingkirkan etiologinya. Disarankan agar
seseorang menghindari faktor-faktor penyebab ataupun resiko terjadinya tinnitus. Hendaknya
lebih memerhatikan kesehatan dan lingkungan karena berbagai faktor penyebab tinnitus
disebabkan oleh gangguan kesehatan maupun gangguan dari luar. Hendaknya memeriksakan
ke dokter spesialis Telinga Hidung Tenggorokan jika terjadi gejala-gejala tinnitus

DAFTAR PUSAKA

1. Soepardi, Efiaty Arsyad, dkk. 2006. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorokan Kepala Leher Edisi Kelima. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia
2. Adams, Goerge L.,dkk. 1997.BOEIS Buku Ajar Penyakit THT.Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran ECG

3. American Tinnitus Association. 2012. About Tinnitus. From http://www.ata.org/for-


patients/about-tinnitus 01 Juli 2012

4. British Tinnitus Association. 2012. From http://www.tinnitus.org.uk/, 01 Juli2012

5. Cunha, John P. 2012. Tinnitus Ringing in The Ear and Other Ear Noise. From
http:www.medicinenet.com/tinnitus/article.htm, 01 Juli 2012

16
6. Hoare, D.J., Searchfield, G.D., Refaie, A.E. and Henry, J. (2014) Sound Therapy for
Tinnitus Management: Practicable Options. Journal of the American Academy of
Audiology. 25: 62-75.

7. Hobson, J., Chisholm, E., El Refaie, A. (2012) Sound Therapy (Masking) in the
Management of Tinnitus in Adults. Cochrane Database of Systematic Reviews, Issue
11. Art. No.: CD006371. DOI: 10.1002/14651858.CD006371.pub3.

17