Anda di halaman 1dari 7

STUDI KASUS RESIKO SDM

PEMBAHASAN
Sistem pengendalian intern pemerintah diatur dalam Peraturan Pemerintah RI No. 60
tahun 2008. Objek hukum dari peraturan ini adalah seluruh lembaga atau instansi pemerintah
baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Sedangkan subjek peraturan ini adalah
seluruh aparat pengawasan intern dalam hal ini adalah seluruh inspektorat kementerian,
Inspektorat pada lembaga pemerintah non departemen/kementerian, dan inspektorat daerah
(propinsi dan kabupaten/kota) serta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Sistem pengendalian intern pemerintah yang dianut oleh Indonesia diambil dari sistem
pengendalian intern menurut GAO (Government Accounting Organization) yaitu lembaga Badan
Pemeriksa Keuangan di Amerika Seriktat dan menurut COSO (Commitee Of Sponsoring
Organization of Treadway Commision) yaitu komisi yang bergerak di bidang manajemen
organisasi. Pengendalian intern menurut GAO mengandung 8 unsur pengendalian manajemen
yaitu pengorganisasian, kebijakan, prosedur, perencanaan, pencatatan/akuntasi, personil,
pelaporan dan reviu intern. Sejalan dengan perkembangan GAO digantikan oleh COSO. Unsur
pengendalian menurut COSO mengandung 5 unsur pengendalian yaitu lingkungan
pengendalian, peniliaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi serta
pemantauan pengendalian.
Tujuan dari sistem pengendalian intern secara umum akan membantu suatu organisasi
mencapai tujuan operasional yaitu efektivitas dan efisiensi kegiatan, keterandalan laporan
keuangan, dan kepatuhan pada peraturan yang berlaku. Sistem pengendalian intern pemerintah
sendiri memiliki tujuan untuk mencapai kegiatan pemerintahan yang efektif dan efisien,
perlindungan aset negara, keterandalan laporan keuangan, dan kepatuhan pada perundang-
undangan dan peraturan serta kebijakan yang berlaku.
Pada COSO peran manusia sebagai pelaku fungsi dalam suatu organisasi menjadi penting
karena dibutuhkan tidak hanya kompetensi saja namun juga integritas dan etika yang
diperlukan untuk mendapatkan lingkungan pengendalian organisasi yang menunjang untuk
pencapaian tujuan organisasi.
Lingkungan pengendalian dalam COSO adalah kondisi yang dibangun dan diciptakan
dalam suatu organisasi yang akan mempengaruhi efektivitas pengendalian. Kondisi lingkungan
kerja dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu adanya penegakan integritas dan etika seluruh
anggota organisasi, komitmen pimpinan manajemen atas kompetensi, kepemimpinan
manajemen yang kondusif, pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan,
pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat, penyusunan dan penerapan
kebijakan yang sehat tentang pembinaan sumber daya manusia, perwujudan peran aparat
pengawasan yang efektif dan hubungan kerja yang baik dengan pihak ekstern.
Pegawai diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan, pendidikan, pengalaman dan
keterampilan sesuai dengan fungsi kerjanya, namun juga memiliki integritas dan etika yang
tinggi. Penyebab terjadinya kecurangan adalah karena lemahnya integritas dan etika dari
pegawai pemerintah. Motivasi ekonomi menjadi hal yang paling berat yang harus dihadapi oleh
organisasi pemerintahan, karena masih terbatasnya standar pendapatan untuk pegawai
pemerintahan jika dibandingkan dengan pegawai perusahaan swasta atau BUMN, terutama bagi
pegawai pelaksana.
Penegakan etika dan integritas ini sebaiknya dinyatakan dalam bentuk peraturan tertulis
seperti kode etik dan peraturan kepegawaian. Sehingga nantinya pegawai dapat melakukan hal
tersebut dalam kegiatan pekerjaan sehari-hari dan membentuk budaya kerja yang baik. Sanksi
dan penghargaan merupakan salah satu sarana agar pegawai dapat terus mengembangkan
integritas dalam kegiatan pekerjaannya.
Pengawasan intern diperlukan untuk memberikan peringatan dini, meningkatkan
efektivitas pengelolaan risiko, serta memelihara dan meningkatkan kualitas tata kelola
penyelenggaraan tugas dan fungsi pemerintah. Sehingga kinerja yang baik dari aparat
pengawasan intern pemerintah dapat memberikan keyakinan yang memadai bagi masyarakat.
Dengan pengelolaan resiko sumber daya manusia dan pengawasan intern pada lembaga
pemerintahan diharapkan para pegawai pemerintahan (PNS) dapat memberikan pelayanan
terhadap masyarakat dengan sebaik-baiknya dan dapat terhindar dari penyimpangan-
penyimpangan (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) sehingga tercipta integritas dan etika yang
pada akhirnya tercipta budaya kerja yang baik.

STUDI KASUS
Korupsi Proyek Pengadaan Light Trap
Status
Masih Berlangsung

Kejadian
10 Mar 2014

Dampak
Kerugian dalam Audit
Kasus korupsi proyek pengadaan light trap Adalah sebuah proyek di Kementerian Pertanian
terjadi pada tahun anggaran 2012. Proyek pengadaan 7.000 unit light trapp tersebut bernilai Rp
135 miliar, dan akan dipasang di sejumlah lahan pertanian yang ada di beberapa wilayah
pertanian di Indonesia. Ligth trap merupakan lampu penangkap hama yang menggunakan
tenaga surya shell.
Namun dalam pelaksanaan proyek tersebut terjadi perbuatan melawan hukum yang
mengakibatkan Negara dirugikan yang nilai kerugian Negara masih akan dimintakan untuk
diaudit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dimana pemenang proyek dilakukan tanpa melalui
lelang terbuka karena diatur. Disamping itu penentuan harga perkiraan sementara (HPS)
dilakukan tanpa sesuai prosedur.
Sementara menurut sumber terpercaya lain, bahwa dalam pengadaan light trap itu sebagian
juga terjadi dugaan fiktif, dan juga spesifikasinya tidak sesuai dengan seperti dalam isi
perjanjian kontrak.

Kronologis

18 Nov 2013
Hingga November 2013 Ditetapkan 10 Tersangka
Jika sebelumnya baru dua ditetapkan sebagai tersangka, saat ini yang menjadi tersangka dalam
kasus dugaan korupsi pengadaan light trapp atau perangkap serangga itu tidak kurang dari 10
orang.

09 Oct 2013
Dua Pejabat Kementan Ditetapkan Tersangka
Dua pejabat di Kementrian Pertanian (Kemantan) ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus
korupsi proyek pengadaan light trap di Kementerian Pertanian (Kementan) untuk tahun
anggaran 2012.
Keduanya Adalah
Kedua pejabat tersebut diketahui, bernama Agung Waksongko dan Iksan Nugraha. Dalam kasus
tersebut, keduanya dijerat Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-undang nomor 20/2002 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 KUHP.

27 Aug 2013
Penanganan Kasus Ditingkatkan dari Lit ke Penyidikan
Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta melalui bagian Pidana Khusus (Pidsus) telah
meningkatkan penanganan dugaan kasus korupsi dalam proyek pengadaan light trap di
Kementerian Pertanian (Kementan) dari penyelidikan ke penyidikan.

TERSANGKA
Agung Waksongko
Agung Waksongko adalah pejabat di Kementrian Pertanian (Kemantan) ditetapkan sebagai
tersangka dalam kasus korupsi proyek pengadaan light trap di Kementerian Pertanian
(Kementan) untuk tahun anggaran 2012.
Iksan Nugraha
Iksan Nugraha adalah pejabat di Kementrian Pertanian (Kemantan) ditetapkan sebagai
tersangka dalam kasus korupsi proyek pengadaan light trap di Kementerian Pertanian
(Kementan) untuk tahun anggaran 2012
M.Adi Toegaerisman
Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, M.Adi Toegaerisman membenarkan, penetapan kedua
pejabat di Kementerian Pertanian tersebut, dimana keduanya adalah tersangka baru dalam
kasus korupsi proyek pengadaan light trap di Kementerian Pertanian (Kementan) untuk tahun
anggaran 2012.
Kasus : Bank Century di Indonesia
Contoh nyatanya adalah Bank Century di Indonesia. Bank yang berdiri pada 6 desember 2004
tersebut, pada akhirnya haruskolaps dan meninggalkan berbagai masalah yang sampai
sekarang masih belum tuntas, bahkan masalah tersebut seakan-seakan berangsur menghilang.
Tahun 1989 Bank ini dibuat oleh Robert Tantular dengan nama Bank Century Intervest
Corporation (Bank CIC). Dari awal kemunculannya saja, bank ini sudah menimbulkan
keraguan karena proses perencanaannya yang tidak optimal. Terbukti pada bulan Maret tahun
1999, Bank CIC melakukan penawaran umum terbatas atau biasa disebut rights issue pertama
pada Maret 1999 kepada Bank Indonesia. Di bawah naungan Robert Tantular, Bank ini
dinyatakan tidak lolos uji kelayakan dan kepatutan oleh Bank Indonesia. Lalu pada tahun
2002, auditor Bank Indonesia menemukan rasio modal Bank CIC minus 83,06% sehingga
menyebabkan Bank tersebut kekurangan modal sebesar Rp. 2,67 Triliun. Bulan Maret 2003
Bank CIC melakukan penawaran umum terbatas yang ke-3, namun lagi-lagi gagal.
Alasannya, karena pada tahun yang sama Bank CIC diketahui memiliki masalah yang
terindikasikan dengan surat-surat berharga valuta asing sekitar Rp. 2 Triliun. Atas saran dari
Bank Indonesia, akhirnya pada 22 Oktober 2004 Berdiri Bank Century dari merger Bank
Danpac, Bank Pikko, dan Bank CIC dengan pengesahannya tanggal 6 Desember di tahun
yang sama. Melalui bukti ini, cukup kiranya menjadikan Bank Century sebagai contoh dalam
proses perencanaan yang kurang baik. Terlihat dari masalah minus modal sehingga
menyebabkan Bank ini ditolak right issue_nya, seharusnya kalau memang perecanaannya itu
baik, mestinya dari awal sudah tahu kalau modal yang ada masih belum cukup untuk
membangun sebuah Bank. Ditambah kasus yang tidak kunjung selesai dan masih
menimbulkan tanda tanya besar seputar pengeluaran dana talangan Rp 6,762 trilyun untuk
membantu Bank Century dalam mengganti uang nasabahnya yang tidak bisa dikembalikan.
Terkait masalah ini, penyebab utamanya adalah ketidaksinambungan proses pengelolaan dan
pengendalian risiko likuiditas.
( Sumber : http://azmy_firmansyah-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-70782-Umum-
Pentingnya%20Sebuah%20Perencanaan%20dalam%20Menghadapi%20Tantangan%20Man
ajemen%20di%20Era%20Globalisasi.html )

Pembahasan dan Solusi Kasus :


Seharusnya pelaksanaan pengelolaan dan pengendalian risiko likuiditas tersebut
dilakukan secara sistematis. Artinya dilakukan secara teratur. Tujuan utama dari penerapan
manajemen risiko likuiditas ini adalah memastikan tercukupinya dana harian baik dalam
keadaaan normal maupun dalam keadaan krisis. Jika perencanaan manajemen risiko
likuiditas yang dilakukan Bank Century (Bank CIC kala itu) baik, seyogyanya tidak akan
ditemukan minus modal pada bank tersebut. Namun kenyataan yang terjadi di lapangan,
auditor Bank Indonesia justru menemukan minus tersebut. Hal ini tentu saja patut
dipertanyakan keabsahannya, serta patut dikonfirmasi kebenaran pengecekan tersebut, apa
benar terdapat minus modal jikalau perencanaan yang dilakukan Bank Century kala itu sudah
baik. Tetapi, tentunya pihak Bank Indonesia tidak akan semudah itu memutuskan kalau tidak
ada bukti-bukti yang relevan terkait Bank tersebut. Sasaran daripada manajemen risiko
likuiditas itu sendiri adalah mengidentifikasi, mengukur, memantau, serta mengendalikan
jalannya aktivitas kegiatan Bank. Masih dalam masalah minus modal tadi, dibuat
pengandaian saja bahwa pihak Bank Century telah melakukan kegiatan manajemen risiko
likuiditas. Pertanyaannya, kenapa masih terdapat minus modal kalau memang sudah
melakukan hal tersebut? Seburuk-buruknya penerapan manajemen risiko likuiditas, apabila
dilakukan dengan benar maka dampak negatif (apabila ada) yang akan ditimbulkan tidak
akan terlalu besar. Jawaban yang relevan dari pertanyaan tersebut adalah karena proses
pengelolaan dan pengendalian risiko likuiditas tidak dilakukan secara sistematis dan not built
control oleh setiap unit kerja. Artinya, tidak ada koordinasi yang baik antara pihak atasan
dengan bawahan terkait dengan pengelolaan dan pengendalian risiko likuiditas yang telah
diterapkan. Mungkin saja ada faktor lain yang mempengaruhi mengapa Bank Century kala itu
mengalami minus modal. Bisa saja karena sebagian besar uangnya telah dicuri, atau faktor-
faktor lain di luar perkiran manusia.

Kasus : PERKEMBANGAN IPTEK


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia ini sangat luar biasa, antara
lain di bidang pertanian, industri, kesehatan, kemiliteran, dan informasi. Jenis teknologi yang
terakhir yang disebut dengan Tripple-T Revolution yang terdiri dari revolusi transportasi,
telekomunikasi, dan turisme. Bentuk revolusi inilah yang merupakan pendukung utama
terjadinya globalisasi ekonomi. Baik dalam skala besar maupun kecil revolusi tersebut akan
mempengaruhi perkembangan ekonomi besar maupun ekonomi rakyat, seperti koperasi dan
usaha kecil menengah yang bergerak di sektor agribisnis.
Bentuk pengaruh dari Tripple-T Revolution antara lain:
1. Melalui revolusi telekomunikasi yang inklusif terjadi revolusi informasi, maka informasi
tentang pasar dan teknologi baru akan mudah di terima dengan cepat oleh semua pelaku
ekonomi.
2. Transfer teknologi dan antisipasi jenis komoditi apa saja yang layak dikembangkan juga bisa
mendorong berkembangnya usaha ekonomi.
3. Revolusi tersebut diharapkan dapat mewujudkan keterpaduan wilayah pedesaan dan
perkotaan dalam pemasaran berbagai produk (barang dan jasa) yang dibutuhkan oleh
masyarakat kedua wilayah tersebut secara lebih efisien.
Namun yang perlu diperhatikan oleh sektor agribisnis, terutama yang berskala kecil
dan menengah dengan aset sumber daya yang sedemikian rupa, adalah jenis teknologi yang
akan digunakan. Pemilihan teknologi memerlukan pertimbangan kemampuan dan
kegunaannya. Jangan sampai teknologi maju yang digunakan justru akan dapat menimbulkan
distorsi ekonomi dan sosial, bahkan merusak lingkungan. Faktor utama yang perlu di
pertimbangkan adalah kemampuan tenaga kerja (sumber daya manusia) yang pada umumnya
di sektor agribisnis berskala kecil relatif masih rendah, di samping itu harga teknologi yang
tidak terjangkau.
Misalnya, tanpa mengabaikan perkembangan iptek yang begitu cepat, dengan
mempertimbangkan sumber daya manusia dan anggaran yang ada, maka teknologi yang
digunakan hendaknya memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Dapat di operasionalkan dengan mudah, sekalipun oleh pengguna yang masih rendah taraf
keterampilannya.
b. Sarana dan prasarana pendukung teknologi dapat disediakan dengan mudah dengan harga
yang terjangkau.
c. Teknologi tertentu dapat dibuat dan diperbaiki di lokasi sendiri.
d. Mampu menciptakan efek ganda pada beragam sektor usaha baru.
Sementara itu, kompetensi sumber daya manusia perlu di daya gunakan agar merekan
mampu menciptakan bisnis nasional bahkan internasional yang mampu bersaing. Hal itu
perlu diwujudkan secara gradual melalui pelatihan, pemagangan bisnis, dan aktif dalam
lokakarya serta pertemuan-pertemuan bisnis dan iptek.
( Sumber : Manajemen Sumber Daya Manusia Strategik, Dr. Ir. Tb. Sjafri Mangkuprawiira,
Ghalia Indonesia Anggota IKAPI )
Pembahasan dan solusi Kasus
Masalah yang dihadapi:
- SDM masyarakat yang kurang terampil.
-Kendala financial yang dihadapi masyarakat.
Penyebab permasalahan:
- Rendahnya tingkat SDM yang dimiliki oleh masyakat dan kurangnya pelatihan tenaga kerja
dari pemerintah.
Penyelesaian:
-pemerintah harus lebih fokus meningkatkan ketrampilan kerja masyarakat.
-memperkenalkan tekhnologi agribisnis sehingga masyarakat mampu bersaing dalam skala
nasional dan internasional.
- Memberikan subsidi pada tekhnologi agribisnis sehingga masyarakat bisa meningkatkan
produktifitasnya.