Anda di halaman 1dari 3

Perjalanan Sial 32 jam

Posted on September 24th, 2013

Hari ke-341 #TNTrtw


Selama hampir setahun ini mungkin sudah jutaan kilometer yang saya jalani naik bus dari ujung
selatan benua Amerika sampai ke utara. Namun rekor terlama saya dalam satu kali perjalanan
adalah 32 jam, yaitu dari Pulau Flores di negara Guatemala ke Kota Oaxaca (baca: Oahaka) di
negara Meksiko!

Boneka monyet juga sebel kelamaan di mobil!

Di Guatemala, transportasi umumnya kurang baik. Travel agent lokal memanfaatkan kondisi ini
dengan membuat shuttle khusus turis atau semacam mobil travel Jakarta-Bandung, hanya saja
kondisinya jauh lebih kacrut. Semobil diempet-empet 14 penumpang + 1 supir, tanpa AC, dan
bagasi ditaro di atap mobil. Meskipun demikian, saya tidak pernah mendapat masalah karena cara
itu adalah paling praktis dan harganya tidak beda jauh daripada pergi sendiri dengan segala
keribetannya. Makanya saya yakin aja dari Flores mau ke Palenque naik shuttle lagi. Di Flores,
shuttle jurusan itu dimonopoli oleh travel agent bernama San Juan. Kata masnya, perjalanan
memakan waktu 8 jam, berangkat jam 5 pagi sampai jam 2 siang waktu Meksiko. Dari Palenque
saya akan lanjut naik bus ke Oaxaca yang jam 5 sore.

Jam 5 pagi saya dijemput oleh mobil San Juan. Tumben, kali ini tasnya ditaro di dalam mobil,
bukan di atap. Asyik deh, berarti penumpangnya sedikit! Baru 5 menit jalan, mobil berhenti di
terminal bus. Lalu mobil jalan lagi, berhenti lagi di kantornya yang sepi. Jalan lagi, berhenti lagi
di sebuah rumah. Dan akhirnya balik lagi ke terminal bus dan si supir bilang dalam bahasa
Spanyol yang kira-kira begini, Karena hujan deras, jalan nggak bisa dilewatin. Ini duitnya kami
kembalikan. Hah? Saya yang lagi makan pisang ampe keselek. BANGSAT! Kok enak banget
gitu caranya?! Andai saja bahasa Spanyol saya udah canggih pasti tu supir udah saya maki habis-
habisan, tapi reaksi saya cuman bisa melempar kulit pisang. Uh, gue sumpahin perusahaan lu
bangkrut!

Saya dan tas diturunkan secara paksa di terminal bus Santa Helena yang masih gelap gulita!
Langsung lah saya dikerubuti cowok-cowok yang menawarkan berbagai macam servis
pengantaran. Jiah, perusahaan nomor satu aja nipu, apalagi perusahaan ecek-ecek di terminal bus?
Saya pun bertekad untuk pergi sendiri naik apapun sampai Palenque. Tak sudi ditipu lagi! Setelah
tanya sana-sini, akhirnya saya naik mobil semacam L-300 jurusan La Tecnica, jam 7 pagi. Saya
dan Yasmin duduk di depan, sedangkan di belakang ada serombongan abang-abang Latino pake
singlet, celana jins selutut, sepatu kets putih, tak ketinggalan kalung rantai regal dan rambut
berdiri kena gel.

Baru jalan 15 menit, tau-tau ada seorang ibu masuk dari pintu supir dan duduk di sebelah kami.
Buset, di di depan ada empat orang! Lama-lama mobil jadi tambah penuh. Kapasitas yang
seharusnya 14, diisi 25 orang! Di bagian belakang ada yang berdiri, bahkan nungging. Di atas
kepala kami pun ada kepala-kepala lain yang nongol ke depan sambil megap-megap cari udara!
Pantat saya naik sebelah karena duduk di sambungan kursi. Lama-lama pantat saya kesemutan,
kaki kebas, dan pinggang mau copot karena duduk miring sambil memangku ransel selama
berjam-jam. Penderitaan ini diperparah dengan kondisi jalan yang tadinya aspal menjadi jalan
tanah bergelombang campur kerikil sehingga mobil berjalan ajrut-ajrutan.

Saya lapar luar biasa karena tidak sempat sarapan dan makan siang. Makin lapar melihat si supir
santai makan ayam goreng dan tortilla sambil nyupir sampe stirnya berminyak, sementara mobil
tidak pernah berhenti istirahat. Bekal saya berupa pisang, keripik, dan air putih sudah habis tapi
belum nyampe juga. Sudah lima jam perjalanan kok pemandangan sekelilingnya seperti tidak ada
tanda-tanda kehidupan? Isinya kebun jagung, semak-semak, rerumputan. Gimana mau pipis
coba? Kok tidak ada satu penumpang pun yang minta mobil berhenti? Nggak ada yang kebelet
apa? Tak tahan lagi, akhirnya saya yang bilang ke supir dan ia baru berhenti di sebuah pom
bensin sepi. Seluruh penumpang turun dengan tubuh gontai. 10 menit kembali, ya! kata kenek.
Doh, kita ini penumpang bus atau tawanan Nazi sih?!

Sejam kemudian mobil berjalan, kami distop petugas berseragam. Kami disuruh turun dan masuk
ke dalam sebuah rumah yang nyempil di antara perumahan penduduk. Oh, ini kantor imigrasi
Guatemala. Tidak ada palang dan tidak ada plang yang mengatakan ini perbatasan antarnegara.
Setelah paspor saya dicap, ngobrol lah sama geng abang-abang di belakang. Rupanya mereka
adalah warga negara Guatemala dan Honduras yang akan bekerja di AS. Dari Meksiko mereka
akan lanjut naik kereta api. Wah, saya jadi ingat film dokumenter tentang para imigran gelap asal
negara-negara Amerika Tengah yang masuk ke AS.

Perjalanan masih berlanjut di jalan yang makin rusak dan sempit, dan dikelilingi hutan yang
makin lebat. Gila, mau dibawa ke mana coba? Hampir sampai di La Tecnica, jalan menjadi
sangat berlumpur. Kata supir, jalan tidak bisa dilalui mobil, dan kami semua diturunin di jalan!
Ya ampun, again?! Katanya kami bisa meneruskan perjalanan ke La Tecnica naik kapal. Hah?
Geng abang-abang lalu mengajak kami, Vamos!. Mereka menolong membawakan tas,
memegangi tangan kami menuruni bukit, masuk hutan, jalan di lumpur, sampai di bibir sungai
yang airnya berwarna coklat dan berarus deras. Rupanya Guatemala dan Meksiko dipisahkan
oleh sungai ini!

Terbayang para imigran gelap berenang ngumpet-ngumpet sambil ditembak-tembakin. Atau


terjadi tembak-tembakan antara jaringan kartel narkoba dan polisi, karena Meksiko saat ini
merupakan pemasok 90% kokain ke Amerika Serikat. Waduh, gimana kalo kapal ini tiba-tiba
ditembakin dari balik hutan karena saya bersama abang-abang nggak jelas gini?

15 menit menyusuri sungai, supir kapal bertanya, Yang perlu ke imigrasi Meksiko silakan turun
di sini. Saya, Yasmin, dan 2 orang abang asal Honduras turun. Kami pun berpisah dengan
abang-abang lain yang bermuka tegang. Buena suerte! kata saya kepada mereka, artinya good
luck. Saya benar-benar berharap mereka selamat.

Dua ratus meter di seberang sungai terdapat kantor imigrasi Meksiko. Saat saya mengisi formulir,
kedua abang itu disuruh masuk kantor dan diwawancara petugas. Kami menunggu cukup lama
karena mau patungan naik taksi ke terminal bus. Tiba-tiba mereka berdua keluar ruangan dengan
muka bete dan meninggalkan kami begitu saja! Lah? Saya bertanya kepada petugas imigrasi ada
apa dengan mereka. Katanya, Mereka tidak punya dokumen untuk masuk ke negara ini sehingga
harus kembali. Apa? Mengulangi penderitaan 6 jam di bus tadi? Pantas saja abang-abang yang
tadi di kapal tidak ikut turun. Mereka diam-diam lewat jalur lain tanpa lewat imigrasi!

Karena ditinggal 2 abang Honduras, kami terpaksa naik taksi sendiri. Perut yang keroncongan
masih belum bisa diisi karena di sekitar kantor imigrasi tidak tampak ada rumah makan. Pikir
saya, nanti makan di terminal bus aja. Setelah menunggu lama, akhirnya sebuah taksi berhenti
tapi di jok belakang ada dua orang cowok gede banget! Takut ketinggalan bus, akhirnya kami
naik. Tentu saya milih duduk di depan karena bakal nggak muat, sementara si Yasmin terpaksa
duduk di belakang (mereka bertiga tampak seperti angka 100!). Duh, sial apa lagi neh? Saya
memegang pepper spray, berjaga-jaga takut dibekap.

Rupanya taksi menurunkan kami di kantor shuttle bus jurusan ke Palenque, bukan di terminal
bus! Tadinya mau tukar uang dan makan, eh gagal maning! Bus berangkat jam 3 sore atau 10
menit lagi. Saya hanya sempat beli sebotol air mineral dan biskuit. Grrr

Setengah jam jalan, dua orang abang Honduras naik bus kami lagi. Loh? Dua jam kemudian supir
bus menurunkan mereka di tengah hutan. Loh? 15 menit kemudian, mobil distop oleh polisi
federal. Saya dan dua lelaki gede tinggal di dalam mobil, sementara semua penumpang disuruh
turun! Mereka berbaris, diinterogasi, bahkan ada yang disuruh buka baju. Saya bertanya kepada
si Lelaki Gede #1 kenapa mereka tidak turun. Jawabnya, Kami orang Meksiko, mereka orang
Guatemala. Oh! Makanya 2 abang Honduras diturunin di jalan sebelumnya. Mereka pasti masuk
secara ilegal. Rupanya supir bus sudah hapal banget sama para imigran gelap, bahkan tau kapan
harus menurunkan mereka.

Sampai di Palenque, saya langsung ke terminal bus. Benar aja, bus ke Oaxaca sudah berangkat.
Petugas loket menyuruh kami naik bus yang jam 7 malam ke Oaxaca terminal Juchitan de
Zaragoza, dengan transit di Villa Hermosa. Katanya total perjalanan 17 jam. Ampun!
Masalahnya, bus berangkat setengah jam lagi. Setelah membayar, kami pun terbirit-birit berlari
ke restoran China langganan untuk membeli 2 kotak nasi dan lauk pauk.

Begitu masuk bus, saya santai aja makan nasi kotak. Wih bau bawang dan sambalnya begitu
menyengat di bus ber-AC ini sampe dipelototin penumpang lain. Saya cuma bisa melotot balik
dengan memberi sinyal, Lu tau kagak gue udah nggak makan 14 jam? Give me a break! Eh
sejam kemudian, bus kami distop lagi oleh polisi. Kali ini 5 orang cowok Guatemala diturunkan
dari bus, entah karena apa.

Dua jam kemudian sampai di Villa Hermosa, lalu transit selama sejam. Badan udah rontok. Abis
diisi nasi, mata bawaannya mau merem tapi takut ketinggalan bus. Rupanya kami dinaikkan ke
bus kelas eksekutif. Sial, si petugas loket untung banyak bener! Begitulah kalau kita nggak bilang
kelasnya, mereka suka ngegetok dengan memasukkan di kelas eksekutif yang jauh lebih mahal
daripada kelas reguler. Ya sudah, pasrah. Meski bus pake personal TV dan toiletnya terpisah
cewek dan cowok, tapi fasilitas itu nggak kepake karena saya pengen merem! Meski kelas
eksekutif, senderan kursinyanya nggak sampe ngejeblak. Haduh, pegel!

Sampai di Juchitan, loh kok masih gelap gulita? Saya bertanya ke supir apakah ini Juchitan di
Oaxaca. Jawabnya, iya. Saya tanya ke petugas toilet, jawabnya juga bener Juchitan ada di
Oaxaca. Lah, katanya 17 jam, kok udah nyampe? Kali ketiga saya bertanya lagi kepada petugas
bagasi. Dan terjawablah sudah Juchitan memang ada di propinsi Oaxaca, sedangkan Kota
Oaxaca masih 5 jam lagi naik bus! *Gubrak!* Sekali lagi ditipu saya sama petugas loket bus!!

Sekarang baru jam 6 pagi, kata petugas loket, bus ke Kota Oaxaca yang terdekat adanya jam 11
siang. Mampus, lama banget nunggunya! Curiga ditipu lagi, selanjutnya Yasmin yang bertanya
ke petugas loket. Ternyata ada bus yang jam 8 pagi! Saya langsung mencak-mencak ke petugas
loket. Alasannya, bus jam 11 itu kelas satu sedangkan yang jam 8 pagi itu kelas ecek-ecek. Tentu
saya beli yang kelas ecek-ecek. Membayangkan tempat tidur empuk dan punggung lurus lebih
cepat itu sangat memotivasi.

Sampai di Kota Oaxaca 6 jam kemudian (bukan 5 jam seperti kata petugas bagasi, dan pake acara
distop tentara), dan ternyata berhentinya bukan di terminal bus utama. Tidak tahu ada di mana,
kami pun naik taksi. Saya menyerahkan secarik kertas berisi alamat sebuah hostel. Menurut
situsnya, hostel ini merupakan hostel khusus wanita dengan harga murah sudah termasuk
sarapan. Ah, senangnya sebentar lagi punggung saya bisa lurus horisontal! Sampai di hostel,
kami diterima oleh seorang mbak-mbak. Katanya, hostel ini sudah bukan lagi hostel khusus
wanita, harganya pun naik, dan tidak termasuk sarapan! Lah, semua informasi di situs
kenyataannya malah sebaliknya! Saya minta password wifi, dia pun tidak tahu. Hadoh!

Kami pun pindah ke hostel lain. Ya ampuuun, ini sudah 31 jam di perjalanan eh masih harus jalan
kaki bawa ransel lagi 5 blok belum pake nyasar! Saya berjalan udah kayak Zombie karena
lemas kurang tidur, atau mungkin juga kayak pemabuk karena jalan udah miring-miring dengan
mata merah. Untunglah hostel kedua ada tempat. Kami masih harus naik tangga dua lantai untuk
sampai ke kamar dorm berisi 10 bed. Duh, ternyata jarak antar bunk bed rapat banget, tidak
sampai semeter, sehingga kamar luar biasa sumpek. Biasanya saya menghindari kamar hostel
seperti ini, namun saya sudah tidak perduli. Setelah 32 jam akhirnya punggung saya bisa lurus
lagi. Saya pun tertidur lelap.