Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGAWASAN MUTU PANGAN

BIJI - BIJIAN

Oleh :

Cecilia Josephine (00000005072)


Karen Lavenia (00000005761)
Magdalena Ruvina Chandra (00000005182)
Maya Anggraini (00000004904)
Prabowo Saputra (00000004823)

JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS PELITA HARAPAN

KARAWACI

2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Biji-bijian merupakan salah satu sumber pangan yang tahan lama bila
disimpan dengan cara yang benar. Kebutuhan akan biji-bijian semakin meningkat
disebabkan kandungan nutrisi yang tinggi seperti pati, protein, serta lemak nabati.
Umumnya produk biji-bijian tergolong produk pertanian yang mudah rusak setelah
panen. Perubahan-perubahan yang terjadi setelah panen, distribusi, dan
penyimpanan mempengaruhi mutu produk. Faktor-faktor seperti kelembapan dan
kandungan air dalam bahan merupakan penentu kemunduran mutu produk.
Produksi biji-bijian di Indonesia memiliki potensi pasar yang cukup baik,
namun pada kenyataanny, produksi di tingkat petani tidak semuanya terserap oleh
industri yang disebabkan oleh beberapa hal yakni kadar air tinggi, rusaknya
komoditas, warna biji yang tidak seragam, biji yang pecah, serta kotoran lain yang
berimplikasi pada rendahnya mutu biji-bijian yang dihasilkan. Kegagalan dalam
menerapkan cara-cara dan prosedur yang baik dalam berbagai kegiatan penanganan
pascapanen dapat menyebabkan penurunan mutu yang cepat dan susut yang tinggi.
Oleh karena itu, untuk memastikan bahwa produk biji-bijian memenuhi
standar mutu, termasuk kriteria yang ditetapkan dalam setiap peraturan pangan
diperlukan adanya monitoring terhadap semua aspek, seperti kualitas, kondisi
penyimpanan, tingkat kerusakan, dll. Selain itu juga sangat diperlukan pengetahuan
dalam memahami beberapa aspek tersebut, sehingga dapat diupayakan tindakan
pencegahan dan pengembangan sistem pasca panen yang cocok untuk produk biji-
bijian.

1.2 Tujuan
Melalui percobaan ini, mahasiswa akan mampu mengetahui kualitas dari
biji - bijian dan mengetahui pengaruh atau parameter yang paling dominan terhadap
kerusakan mutu biji bijian.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori


Biji-bijian adalah bahan pangan yang mempunyai daya tahan tinggi karena
tidak mudah rusak saat diangkut dan tahan lama bila disimpan dengan cara yang
benar. Biji-bijian dapat diartikan sebagai kelompok padi-padian atau serealia.
Dalam pengertian ini biji-bijian dihasilkan oleh famili rerumputan yang kaya
karbohidrat sehingga dapat dikonsumsi sebagai makanan pokok. Selain itu Kacang-
kacangan atau disebut juga polongan termasuk famili Leguminosa. Kacang-
kacangan bersifat rendah kalori, rendah lemak, serta rendah garam natrium.
Kacang-kacangan juga mengandung protein, karbohidrat kompleks, folat, dan besi.
Berbagai jenis kacang-kacangan dapat dibedakan berdasarkan varietas atau jenis
namanya, warna, bentuk, dan karakter fisiknya. Berikut gambar dan bagian dari
beberapa biji-bijian :

Gambar 2.1. Biji-bijian


Sumber : Juliano et al. (1985)

Homogenisasi sampel sangat penting untuk menjamin hasil pengujian yang


lebih akurat. Salah satunya bisa menggunakan metode quartering. Quartering
adalah dengan membagi sampel menjadi empat bagian, berbentuk dua buah papan
dirangkai saling tegak lurus, memebentuk 4 kuadran yang saling berhadap-hadapan
secara diagonal.

Gambar 2.2. Pengambilan sampel secara quartering


Sumber : Park & Bell (2002)
2.1.1 Jagung
Zea mays L. atau yang lebih dikenal sebagai jagung merupakan suatu
produk pangan yang tidak asing dalam kehidupan kita. Sebagai salah satu sumber
karbohidrat yang mampu menggantikan nasi, jagung menjadi salah satu jenis dari
sekian banyak jenis serealia yang sangat mendominasi dan mampu ditemukan
dalam jenis yang beragam (Purwono et. al., 2011). Berdasarkan umurnya, jagung
sendiri dapat dikelompokkan ke dalam 3 jenis yakni jagung berumur pendek/
genjah dengan masa hidup 75 hingga 90 hari, jagung berumur sedang / tengahan
dengan rentang usia 90 hingga 120 hari dan jagung berumur panjang yang sudah
hidup lebih dari 120 hari. Selain berdasarkan umurnya, jagung sendiri dapat
dibedakan ke dalam 7 golongan berdasarkan bentuk bijinya yakni : dent corn, flint
corn, sweet corn, pop corn, flour corn, pod corn, dan juga waxy corn. Kendati
demikian, setidaknya terdapat 20 jenis varietas jagung unggul yang dapat
ditemukan sesuai dengan macam varietas umurnya (Wirawan, 1996).
Tingkat kadar air yang aman untuk menyimpan jagung pipilan adalah 13
persen dimana semakin rendah kadar air maka masa simpan produk dapat
ditingkatkan (Suprapto, 1982). Hal tersebut juga didukung oleh Standar Nasional
Indonesia dimana kualitas jagung dengan kadar air hingga 17 persen masih dapat
diterima. Selain kadar air, beberapa parameter lain yang menentukan mutu jagung
sendiri adalah butir yang rusak dimana butir ini baik yang utuh maupun pecah

3
mengalami kerusakan karena adanya pengaruh dari panas, cuaca, cendawan, hama,
berkecambah dan juga kerusakan fisik lainnya. Selain butir rusak, ada pula butir
pecah dimana butir jagung hanya ditemukan berukuran 0,6 atau kurang dari ukuran
aslinya, serta butir warna lain yang dapat ditemukan karena adanya perbedaan
varietas. Setiap parameter memiliki nilai persyaratan mutu tersendiri sesuai dengan
tingkatan mutu yang tertera pada tabel Standar Nasional Indonesia seperti di bawah
ini :
Tabel 2.1. Persyaratan Mutu SNI Jagung
Persyaratan Mutu
No. Jenis Uji Satuan
I II III IV
1 Kadar Air % Maks. 14 Maks. 14 Maks. 15 Maks. 17
2 Butir Rusak % Maks. 2 Maks. 4 Maks. 6 Maks. 8
3 Butir Warna Lain % Maks. 1 Maks. 3 Maks. 7 Maks. 10
4 Butir Pecah % Maks. 1 Maks. 2 Maks. 3 Maks. 5
5 Kotoran % Maks. 1 Maks. 1 Maks. 2 Maks. 2
Beberapa kerusakan pada biji jagung dapat terjadi karena adanya kelalaian
baik pada saat pemanenan maupun selama proses dan juga pengangkutan. Tempat
dan suasana penyimpanan juga sangat mempengaruhi perubahan mutu biji jagung
yang disimpan. Pengaturan suhu, kelembapan dan kebersihan ruang penyimpanan
dapat dilakukan untuk mengurangi kerusakan pada biji jagung. Proses transportasi
yang baik juga dapat meminimalisir kerusakan pada biji jagung.
2.1.2 Beras
Beras merupakan buah dari tanaman padi (Oryza sativa L.) dan termasuk
dalam family Gramineae, oleh karena itu digolongkan dalam kelompok bahan
pangan serealia. Beras merupakan makanan pokok yang paling banyak dikonsumsi
orang Asia, yakni sebesar 94% dari total semua beras yang diproduksi di dunia.
Beras dapat diklasifikasikan menurut metode kultivasi, panjang grain, dan tekstur
nasi. Pada umumnya, beras diklasifikasikan menurut ukuran grain-nya, yakni long
grain, medium, dan short grain. Dimana bulir beras jenis medium dan short grain
memiliki kandungan amilosa yang lebih rendah serta amilopektin yang lebih tinggi
dibanding beras long grain sehingga memiliki tekstur nasi yang lebih lengket
(Brown, 2015).
Jenis-jenis beras dapat dibedakan menjadi beras putih, beras merah (red
rice), beras hitam (black rice), beras coklat (brown rice), dan jenis lainnya. Beras

4
putih yang paling umum dkonsumsi merupakan beras yang telah mengalami
penggilingan dan penghilangan bagian husk, bran, dan germ oleh karena itu
mengandung vitamin B dan serat yang lebih rendah dari jenis beras coklat maupun
hitam (Brown, 2015).
Hasil panen tanaman padi akan memasuki tahap perontokan menghasilkan
butir gabah. Hasil penggilingan pertama dari gabah adalah beras pecah kulit (BPK)
dan sekam. BPK kemudian disosoh dan digiling kembali untuk menghasilkan beras
putih dengan hasil samping dedak/bekatul. Sedangkan beras merah maupun hitam
merupakan hasil penggilingan beras pecah kulit yang tidak sempurna atau disosoh
sebagian (BBPADI, 2016).
Menurut BSN dalam SNI 6128-2008, terdapat beberapa parameter mutu
untuk menentukan klasifikasi mutu beras. Parameter tersebut adalah kadar air
persentase/kadar beras/butir utuh; beras/butir kepala, yakni butir beras yang
memiliki ukuran lebih besar atau sama dengan 0,75 bagian butir utuh; beras/butir
menir, yakni beras yang memiliki ukuran lebih kecil dari 0,25 bagian butir utuh;
beras/butir patah dengan ukuran beras 0,25-0,75 bagian beras utuh; butir kuning,
mengapur, atau warna lain; butir rusak; gabah dan kotoran/benda asing lainnya.
Semakin banyak jumlah butir utuh dan butir kepala akan meningkatkan mutu beras,
sedangkan semakin banyak jumlah butir patah, butir menir, butir kuning, gabah,
dan kotoran/benda asing lainnya menurunkan mutu beras. Berdasarkan parameter
tersebut, BSN (2008) mengelompokkan beras dalam 5 golongan mutu sebagai
berikut.
Tabel 2.2. Klasifikasi mutu beras menurut SNI 6128-2008

Sumber: BSN (2008)

5
Menurut Setyawan dan Doddy (2011), faktor yang menyebabkan beras
kuning adalah tumbuhnya jamur selama penyimpanan beras. Jika dibiarkan lebih
lama lagi, beras akan berubah menjadi kehitaman, rusak, dan membusuk.
Sedangkan, keberadaan butir kapur disebabkan oleh meningkatnya kadar air selama
penyimpanan. Butir utuh dan butir kepala selama penyimpanan dapat menjadi butir
patah dan juga butir menir karena mengalami peningkatan kadar air yang membuat
teksturnya lebih lunak sehingga beras memutih dan mudah patah. Dengan
demikian, kadar air beras amat menentukan mutu beras. Kondisi lingkungan
penyimpanan beras (suhu dan kelembapan) dapat menyebabkan EMC (Equilibrium
Moisture Content) beras menjadi di atas 13%. Keberadaan butir mengapur
berkaitan dengan meningkatnya butir pecah, rusak, patah, dan butir menir sehingga
jumlah butir utuh maupun kepala akan menurun.
Menurut Menti (2011), tinggi rendahnya mutu beras juga dipengaruhi oleh
berbagai faktor, seperti spesies/varietas dari beras, kondisi lingkungan, waktu dan
cara pemanenan, metode pengeringan, dan cara penyimpanan. Kadar air yang
paling berpengaruh terhadap mutu beras tersebut semasa penyimpanan lebih baik
kurang dari 14% karena kadar air yang tinggi dapat meningkatkan metabolisme
mikroba, kapang, dan perkembangbiakan serangga. Selain itu, kadar air yang tinggi
juga dapat meningkatkan laju respirasi dan mempercepat hilangnya viabilitas biji.
Laju respirasi yang tinggi akan berakibat pada berkurangnya bahan cadangan
makanan sehingga viabilitas biji menurun serta peningkatan suhu beras sehingga
beras menjadi lebih cepat rusak (Kristiani, 2012).
Permukaan butir pecah/patah juga dapat menjadi bahan pangan yang sangat
mudah dimanfaatkan hama sebagai sumber makanannya sehingga semakin
menurunkan mutu beras. Keberadaan gabah dan kotoran lainnya dapat menjadi
sumber kontaminan bagi beras karena telah tercemar oleh mikroorganisme maupun
jasad renik lainnya yang dapat mempercepat beras mengalami penurunan mutu
bahkan membusuk. Namun, kadar air yang terlalu rendah (10%) juga dapat
berakibat semakin cepatnya proses autooksidasi lemak, cendawan juga dapat
tumbuh dan merusak biji (Kristiani, 2012; Menti, 2011).

6
Menurut Warisno et al. (2014), derajat sosoh ditentukan oleh tingkat
kemampuan mesin penyosoh untuk menghilangkan lapisan bekatul dan lembaga.
Penyosohan dan penggilingan juga dapat mempengaruhi kadar beras patah dan
menir pada beras. Gabah dengan kadar air rendah pada proses penggilingan dapat
menyebabkan hasil butir patah yang tinggi, sedangkan bila gabah memiliki kadar
air tinggi juga dapat menghasilkan butir menir yang tinggi. Untuk menanggulangi
tingginya butir patah yang dihasilkan, proses pemutihan beras (polisher) harus
diperbanyak menjadi beberapa tahap atau beberapa kali penyosohan sehingga
menurunkan beban gesekan yang dapat membuat beras mudah patah, namun
menghasilkan beras dengan derajat sosoh tinggi.
Derajat sosoh turut menentukan daya simpan beras, bersama-sama dengan
kada air dan kebersihan beras dari dedak. Karena semakin rendah derajat sosoh
beras, semakin tinggi kandungan lemak dalam beras yang dapat menimbulkan bau
apek dbila lemak mengalami oksidasi serta bahan makanan bagi hama. Lapisan
dedak yang juga merupakan aleureon mengandung serat kasar, protein, vitamin,
dan lemak sehingga dapat menurunkan daya simpan, meskipun penghilangan
lapisan ini dapat menurunkan nutrisi dari beras (Warisno et al., 2014).
Menurut Kristiani (2012), faktor yang mempengaruhi viabilitas biji atau
ketahanan biji selama disimpan terdiri atas faktor internal dan eksternal. Faktor
internal terdiri atas sifat genetic biji, daya tumbuh, kondisi kulit, dan kadar air biji.
Sedangkan, faktor eksternal meliputi kemasan biji, komposisi gas, suhu, dan
kelembapan ruang penyimpanan.
Proses respirasi biji selama penyimpanan dapat terjadi karena keberadaan
enzim-enzim (contoh: enzim -amylase, -amylase) yang keaktivannya dapat
dihambat pada suhu rendah. Untuk menekan laju respirasi, suhu penyimpanan yang
ideal untuk beras berkisar antara 15oC hingga 21oC sehingga harus dijaga agar suhu
penyimpanan beras tidak mencapai 30oC-40oC. Kelembapan yang optimum adalah
di bawah 70% sehingga menghindarkan kondisi optimum untuk pertumbuhan
hama. Penanganan pasca panen dan metode penyimpanan yang tepat merupakan
kunci dalam menghasilkan beras bermutu tinggi (Kristiani, 2012; Sibuea, 2011;
Sulardjo, 2014).

7
2.1.3 Kacang Tanah
Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan komoditas yang
mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi dan merupakan salah satu sumber bahan
pangan yang dapat dimanfaatkan secara luas, baik untuk diolah lebih lanjut atau
dikonsumsi secara langsung. Berdasarkan umurnya, varietas kacang tanah
dikelompokkan menjadi 7 jenis yakni varietas Jerapah yang berumur 90 95 hari,
varietas Kancil yang berumur 90 95 hari, varietas Kelinci yang berumur 95 hari,
varietas Bima yang berumur 90 95 hari, varietas Bison yang berumur 90 95 hari,
varietas Tuban yang berumur 90 95 hari, dan varietas Singa yang berumur 90
95 hari (Syamsiar, 2010).
Kadar air biji yang aman untuk menyimpan kacang tanah adalah kurang dari
10% karena aflatoksin terbentuk optimal pada kadar air biji 10% - 30% (Badan
Litbang Pertanian, 2012). Hal ini sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI)
yang menyatakan bahwa kadar air maksimum yang masih dapat diterima adalah
8%. Selain kadar air, parameter lain yang menentukan mutu kacang tanah adalah
butir keriput dimana butir ini merupakan butir kacang tanah yang mengalami
perubahan bentuk dan menjadi keriput, termasuk biji yang muda dan/atau tidak
sempurna pertumbuhannya. Selain butir keriput, ada pula butir rusak dimana butir
kacang tanah yang kulit polongnya mengalami kerusakan dan pecah akibat
terserang hama penyakit atau berjamur, serta biji satu / butir belah yang merupakan
kacang tanah yang berisi satu biji kacang tanah dan butir warna lain yang dapat
ditemukan karena adanya perbedaan varietas. Setiap parameter memiliki nilai
persyaratan mutu tersendiri sesuai dengan tingkatan mutu yang tertera pada tabel
Standar Nasional Indonesia seperti di bawah ini :
Tabel 2.3. Persyaratan Mutu SNI Kacang Tanah
Persyaratan Mutu
No Jenis Uji Satuan
I II III
1. Kadar Air (%) Maks. 6 Maks. 7 Maks. 8

2. Butir Rusak (%) Maks. 0 Maks. 1 Maks. 2

3. Butir Belah (%) Maks. 1 Maks. 5 Maks. 10

4. Butir Warna Lain (%) Maks. 0 Maks. 2 Maks. 3

8
5. Butir Keriput (%) Maks. 0 Maks. 2 Maks. 4

Kacang tanah merupakan substrat yang cocok untuk tumbuh dan


berkembangnya kapang, termasuk Aspergillus spp. Kontaminasi alfatoksin pada
kacang tanah dapat terjadi sejak proses penyiapan bahan baku, pengolahan,
penyimpanan, hingga pemasaran (Wang dan Liu, 2007). Produksi optimal
aflatoksin terjadi apabila suhu tanah berkisar antara 25 35oC dan kadar biji lebih
dari 15 30% (Badan Litbang Pertanian, 2012). Karena kontaminasi aflatoksin
dapat terjadi sejak tanaman berada di lapang sampai proses penyimpanan dan tidak
dapat dihilangkan 100% melalui proses pengolahan menjadi produk makanan atau
pakan, diperlukan pengendalian melalui penanganan pra dan pascapanen yang tepat
serta sortasi bahan baku yang ketat sebelum pengolahan (Giting et. al., 2005).
Dengan demikian, diperlukan penanganan yang tepat pada proses
pemanenan, pengolahan, distribusi, penyimpanan dan juga sortasi yang baik dengan
memperhatikan aspek-aspek yang dapat mempengaruhi kualitas kacang tanah
sehingga mutu kacang tanah dapat tetap terjaga.
2.1.4 Kacang Kedelai
Kedelai adalah hasil tanaman kedelai (Glycine max) berupa biji kering yang
telah dilepaskan dari kulit polong dan dibersihkan. Kedelai merupakan salah satu
jenis biji bijian yang mengandung sumber protein yang cukup tinggi dan juga
merupakan sumber lemak, vitamin, dan mineral. Seperti yang kita ketahui, kedelai
dapat diolah menjadi berbagai bahan makanan, minuman, serta penyedap cita rasa
makanan (Cahyadi, 2007).
Berdasarkan umurnya, kedelai dapat digolongkan ke dalam 4 jenis yaitu
kedelai umur genjah yang dapat dipanen pada umur 70 79 hari, kedelai varietas
unggul umur sedang yang dapat dipanen lebih dari 79 hari tetapi tidak terlalu lama
yaitu pada umur 80 - 85 hari, kedelai varietas unggul umur dalam yang dapat
dipanen setelah umurnya 86 - 90 hari, dan kedelai varietas unggul umur sangat
dalam yang dapat dipanen setelah umurnya lebih dari 90 hari.
Berdasarkan ukurannya, kedelai dapat digolongkan ke dalam 3 jenis yaitu
kedelai varietas unggul biji besar dengan ukuran lebih dari 14 g per 100 biji, kedelai

9
varietas unggul biji sedang dengan ukuran sekitar 10 - 14 g per 100 biji, dan kedelai
varietas unggul biji kecil dengan ukuran sekitar 10 g per 100 biji. Berdasarkan
klasifikasi lainnya, adapula jenis kedelai berdasarkan varietas unggul toleran atau
tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Kadar air biji kedelai pada umumnya
adalah 12 13% (Anonim, 2015). Menurut Standar Nasional Indonesia, kadar air
hingga 16% masih dapat diterima. Setiap parameter memiliki nilai persyaratan
mutu tersendiri sesuai dengan tingkatan mutu yang tertera pada tabel Standar
Nasional Indonesia seperti di bawah ini :
Tabel 2.4. Persyaratan Mutu SNI Kedelai
Persyaratan Mutu
No. Jenis Uji Satuan
I II III IV

1. Kadar Air (%) Max 13 Max 14 Max 14 Max 16

2. Butir belah (%) Max 1 Max 2 Max 3 Max 5

3. Butir rusak (%) Max 1 Max 2 Max 3 Max 5

4. Butir warna lain (%) Max 1 Max 3 Max 5 Max 10

5. Kotoran (%) Max 0 Max 1 Max 2 Max 3

6. Butir keriput (%) Max 0 Max 1 Max 3 Max 5

Selain kadar air, ada beberapa parameter lain yang menentukan mutu
kedelai seperti butir belah dimana kulit bijinya terlepas dan keping keping bijinya
terlepas atau bergeser; butir rusak yaitu biji kedelai yang berlubah karena serangan
hama atau pecah karena mekanis, biologis, fisik dan enzimatis seperti
berkecambah, busuk, bau tidak disukai dan perubahan warna maupun bentuk; butir
warna lain yang merupakan biji kedelai yang berwarna lain dari aslinya yang
disebabkan oleh varietas lain; butir keriput dimana biji kedelai berubah bentuknya
menjadi keriput dan termasuk biji yang masih muda atau tidak sempurna
pertumbuhannya; yang terakhir adalah kotoran misalnya benda asing seperti pasir,
tanah, potongan potongan atau sisa sisa batang daun, kulit polong, dan biji
bijian lain yang bukan kedelai.

10
2.1.5 Kerusakan Produk Biji-bijian
Kerusakan yang terjadi pada produk biji-bijian mengakibatkan penurunan
mutu baik, yang berupa susut berat karena rusak, memar, cacat dan lain-lain.
Kerusakan yang terjadi selama penyimpanan akan menjadi penyebab utama
penurunan mutu. Kerusakan dapat terjadi secara fisik (tekanan, getaran, suhu,
kelembaban), biologi (mikroba, serangga, tungau, respirasi), dan kimia/biokimia
(reaksi pencoklatan, ketengikan, penurunan nilai gizi dan keamanan terhadap
kesehatan manusia).
Untuk mencegah kerusakan biji yang disimpan maka diperlukan adanya
monitoring yang intensif terhadap biji dan kondisi ruang penyimpanan. Kontrol
terhadap ruang penyimpanan meliputi kondisi aerasi dan peralatan pendingin serta
control visual terhadap hama yang muncul di dalam gudang penyimpanan. Secara
berkala diperlukan adanya fumigasi terhadap biji-bijian yang disimpan. Kontrol
kualitas juga harus dilakukan terhadap biji-bijian secara berkala untuk mengetahui
perubahan-perubahan yang terjadi selama penyimpanan. Selain itu dapat dilakukan
dengan menjaga kebersihan gudang, tidak boleh disimpan terlalu lama, hindari
kemasan yang rusak, memperhatikan kadar air bahan, batas simpan yang baik,
kandungan air tidak lebih dari 13%, menghindari kontak langsung antara bahan
baku (biji-bijian) dengan lantai dengan diletakkan diatas pallet (Kushartono, 2002).

11
BAB III
METODE KERJA

3.1 Alat dan Bahan


Beberapa alat yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah: timbangan,
kertas putih, plastic dan juga label. Sedangkan bahan yang digunakan dalam
percobaan kali ini adalah empat jenis biji-bijian yang berbeda yakni jagung, beras,
kacang tanah dan kacang kedelai.

3.2 Prosedur Kerja


3.2.1 Jagung
Untuk melakukan uji pengujian mutu jagung maka dilakukan percobaan
dengan prosedur sebagai berikut :
1. Sample dengan berat kurang lebih 500 gram tiap kelompok dipersiapkan
terlebih dahulu.
2. Quartering kemudian dilakukan hingga sample berkurang menjadi kurang lebih
125 gram.
3. Penyortiran sampel dilakukan sesuai dengan parameter yang tertera dalam SNI.
4. Penimbangan untuk hasil tiap parameter dan pencatatan dilakuan.
3.2.2 Beras
Untuk melakukan uji pengujian mutu beras maka dilakukan percobaan
dengan prosedur sebagai berikut :
1. Sample dengan berat kurang lebih 500 gram tiap kelompok dipersiapkan
terlebih dahulu.
2. Quartering kemudian dilakukan hingga sample berkurang menjadi kurang lebih
65 gram.
3. Penyortiran sampel dilakukan sesuai dengan parameter yang tertera dalam SNI.
4. Penimbangan untuk hasil tiap parameter dan pencatatan dilakuan.

12
3.2.3 Kacang Tanah
Untuk melakukan uji pengujian mutu kacang tanah maka dilakukan
percobaan dengan prosedur sebagai berikut :
1. Sample dengan berat kurang lebih 500 gram tiap kelompok dipersiapkan
terlebih dahulu.
2. Quartering kemudian dilakukan hingga sample berkurang menjadi kurang lebih
125 gram.
3. Penyortiran sampel dilakukan sesuai dengan parameter yang tertera dalam SNI.
4. Penimbangan untuk hasil tiap parameter dan pencatatan dilakuan.
3.2.4 Kacang Kedelai
Untuk melakukan uji pengujian mutu kacang kedelai maka dilakukan
percobaan dengan prosedur sebagai berikut :
1. Sample dengan berat kurang lebih 500 gram tiap kelompok dipersiapkan
terlebih dahulu.
2. Quartering kemudian dilakukan hingga sample berkurang menjadi kurang lebih
125 gram.
3. Penyortiran sampel dilakukan sesuai dengan parameter yang tertera dalam SNI.
4. Penimbangan untuk hasil tiap parameter dan pencatatan dilakukan.

13
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Jagung
Pada percobaan kali ini, digunakan jagung dalam bentuk jagung pipil kering
atau yang lebih dikenal sebagai jagung pop corn. Dari sampel awal seberat 500
gram untuk setiap kelompok, dilakukan Quartering hingga didapat sampel sebesar
170.51 gram untuk kelompok 1 dan 123.70 gram untuk kelompok 2 yang
selanjutnya disortasi sesuai dengan parameter uji SNI yang tertera pada tabel
sebagai berikut :

Tabel 4.1. Hasil Pengamatan Biji Jagung


Parameter Data Mutu SNI Persyaratan Mutu
Kadar Air 10.79 % I Maks. 14 %
Butir Rusak 6.54 % IV Maks 8 %
Butir Warna Lain 0% I Maks 1 %
Butir Pecah 0.13 % I Maks 1 %
Kotoran 0% I Maks 1 %

Berdasarkan perhitungan kadar air basis basah / wet basis yang telah
dilakukan terhadap sampel jagung pipil kering jenis pop corn, didapatkan nilai
sebesar 10.79% dimana apabila angka tersebut dicocokkan ke dalam tabel Standar
Nasional Indonesia seperti yang tertera pada tabel 4.1.1 di atas, maka mutu jagung
yang digunakan pada percobaan kali ini akan masuk ke dalam mutu I. Selain
pengujian kadar air, dilakukan juga sortasi sehingga didapatkan jumlah butir rusak
sebesar 6.54%, butir pecah 0.13%, dan butir utuh / baik sebesar 93.25%. tidak
ditemukan adanya biji warna lain karena adanya perbedaan varietas maupun
kotoran dalam sampel yang digunakan.
Apabila dilihat berdasarkan jumlah presentase butir rusak yang ditemukan
yakni 6.54%, maka sampel yang disortasi masuk ke dalam mutu IV sedangkan jika
dilihat berdasarkan jumlah butir pecah yang hanya berada pada presentase 0.13%,
maka sampel jagung akan masuk ke dalam mutu I. Hal yang sama juga ditemukan
untuk parameter butir warna lain dan juga kotoran dimana 0% dari keseluruhan

14
sampel ditemukan berwarna lain maupun kotoran sehingga untuk kedua parameter
ini, sampel jagung juga masuk ke dalam range mutu I.
Berdasarkan kelima parameter dan jenis uji yang sudah dilakukan, keempat
sampel masuk ke dalam persyaratan mutu I yakni kadar air, butir pecah, butir warna
lain dan juga kotoran. Sedangkan untuk butir rusak, sampel jagung akan masuk ke
dalam persyaratan mutu IV. Meski demikian, sampel jagung yang disortasi dalam
percobaan kali ini masih dapat dimasukan ke dalam golongan persyaratan mutu II
karena berdasarkan kelima parameter mutu yang tertera dalan Standar Nasional
Indonesia, kadar air yang menjadi parameter yang paling penting masih menduduki
persyaratan mutu jagung I. Kadar air menjadi salah satu parameter penyimpanan
yang sangat berpengaruh terhadap tingkat kerusakan hasil panen bersamaan dengan
kelembapan dan temperature penyimpanan (Effendi, 1980). Perhitungan kadar air
basis basah pada kisaran angka 10.79% juga sesuai dengan teori yang diungkapkan
oleh Suprapto (1982) bahwa sesungguhnya kadar air penyimpanan yang aman
untuk jagung pipil adalah sebesar 13% sehingga sampel jagung yang digunakan
sejatinya masih aman selama proses penyimpanan. Meski 4 dari kelima parameter
uji persyaratan mutu jagung juga masih menempati mutu I sampel jagung pipil
kering jenis pop corn yang digunakan masih termasuk ke dalam mutu II karena
parameter biji rusak berpotensi untuk menyebabkan kerusakan pada biji lainnya
yang bersifat dapat menular. Meski demikian, penggolongan biji jagung tidak
masuk ke dalam mutu III karena rendahnya kadar air yang secraa tidak langsung
masih mampu menahan dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang
terdapat dalam biji jagung yang berpotensi untuk menyerang dan merusak biji
lainnya.
Apabila ditemukan butir jagung berwarna lain, hal itu dapat terjadi kerena
adanya perbedaan varietas jagung yang diproduksi. Sedangkan untuk butir pecah
sendiri, hal ini dapat digolongkan ke dalam salah satu kerusakan fisik yang dapat
terjadi baik selama pemanenan, pengolahan, maupun selama pengiriman dan juga
penyimpanan. Kerusakan fisik lainnya juga dapat terlihat berdasarkan jumlah
presentase butir rusak. Meski demikian, butir rusak sendiri dapat muncul bukan saja
karena adanya kerusakan fisik melainkan kerusakan secara kimaiwi yang bisa

15
muncul karena kerja Enzim dan juga cemaran biologis dari adanya cemaran/
kontaminasi senyawa biologis dan juga mikrobiologis seperti hama yang mampu
menjadi salah satu pemicu munculnya butir rusak. Kotoran yang ditemukan dalam
sampel juga merupakan salah satu contoh cemaran fisik yang didapat baik selama
proses pemanenan, proses pengolahan maupun proses transportasi dan juga
penyimpanan. Beberapa kerusakan seperti butir rusak dan pecah karena adanya
tekanan fisik memang tidak akan menimbulkan masalah lain terhadap butir lainnya,
namun kotoran dan butir rusak akibat kerusakan kimia dan biologis akan mampu
mempengaruhi butir lain yang ada disekitar butir tersebut. Maka, perlu dilakukan
proses pemanenan, pengolahan, transportasi, penyimpanan dan juga sortasi yang
baik dengan memperhatikan setiap aspek pengolahan seperti temperatur,
kelembapan, dan faktor lainnya sehingga mutu jagung dapat tetap dijaga.

4.2 Beras
Berikut data observasi mutu beras dan pengelompokkan mutunya
berdasarkan klasifikasi mutu SNI 6128-2008.
Tabel 4.2. Pengelompokkan mutu sampel beras analisis
Parameter Mutu Data Observasi (%) Batas SNI (%) Mutu
Kadar air 12,3 14 I-IV
Beras Utuh 77.71 73-78 III
Beras Patah 12.345 10-20 III
Beras Menir 7.305 5 Out of range
Beras Kuning 2.07 2-3 III
Gabah 0 0 I
Batu 0 0 I
Beras memiliki kadar air di bawah 14% yang dapat dinyatakan baik atau
masih di dalam range SNI. Artinya pada kondisi kadar air tersebut, beras tidak akan
mudah rusak karena mikroorganisme dan hama belum mudah berkembang biak
sehingga beras akan lebih tahan bila disimpan. Kadar kadar butir kepala menurut
range mutu III menurut SNI (2008) adalah 73%, sedangkan mutu II 78% sehingga
kadar beras utuh hasil observasi 77,71% masih dapat digolongkan dalam mutu III.
Kemudian kadar butir patah menurut range mutu II SNI adalah 10%, sedangkan
mutu III adalah 20%, maka pada sampel analisis beras mengandung 12% butir patah
digolongkan dalam mutu III.

16
Kadar butir menir mutu V maksimal 5%, kadar butir menir dalam sampel analisis
beras 7% melebihi range sehingga dinyatakan di luar mutu yang ditetapkan SNI.
Batas kadar beras kuning mutu III SNI adalah 2%, mutu IV adalah 3 %, maka kadar
butir menir sampel beras analisis digolongkan ke dalam mutu III. Untuk gabah dan
kotoran lainnya tidak terdapat dalam sampel beras analisis maka dinyatakan mutu
I. Dalam menentukan mutu beras, parameter yang paling penting adalah kadar air
beras karena beras dengan kadar air yang masih ideal (di bawah 14%) dapat lebih
tahan lama disimpan berhubung beras harus tahan disimpan selama proses
pendistribusian dan penjualan hingga ke tangan konsumsen.
Berdasarkan hasil perbandingan analisis sampel beras dengan range mutu
SNI 6128-2008, beras secara keseluruhan digolongkan dalam mutu III karena
meskipun kadar air beras dapat digolongkan dalam mutu I, namun hingga kelompok
mutu IV batas maksimum kadar air beras masih 14%. Kemudian, berdasarkan kadar
butir kepala, patah, dan menir, beras digolongkan dalam mutu III. Kadar butir utuh
dan kepala adalah salah satu parameter yang menentukan nilai beras yang dibeli
konsumen karena merupakan karakteristik yang pertama dan paling dominan
terlihat oleh konsumen sehingga golongan mutu butir kepala menjadi parameter
yang penting untuk menentukan golonan mutu beras keseluruhan, yakni mutu III.
Keberadaan gabah dan kotoran lain antar setiap kelompok mutu (I-II dan
seterusnya) hanya berbeda 1% sehingga dianggap kurang signifikan untuk
menyatakan beras secara keseluruhan tergolong dalam mutu I hanya berdasarkan
golongan mutu gabah dan kotoran sampel beras analisis. Beras mutu III dapat
dinyatakan memiliki jaminan keamanan mutu yang baik karena masih berada dalam
range yang telah ditetapkan SNI dan memiliki karakteristik beras yang masih
bermutu baik.
Kadar air dapat disimpulkan menjadi kunci penyebab parameter kerusakan
beras yang lainnya, karena beras mengalami peningkatan kadar air, beras menjadi
lebih lunak dan mudah patah sehingga seiring meningkatnya waktu penyimpanan,
butir utuh maupun butir kepala dapat pecah menjadi butir patah dan seterusnya
menjadi butir menir. Hal ini akan sangat menurunkan mutu beras, oleh karena itu
kadar air merupakan parameter yang penting diperhatikan dalam menentukan masa

17
simpan beras. Kadar air beras yang terus meningkat, suhu, dan RH penyimpanan
beras yang tidak dijaga dapat menyebabkan pertumbuhan jamur dan menyebabkan
butir beras menguning. Bila tidak dilakukan pengawasan mutu yang baik terhadap
beras yang disimpan, beras dapat terus mengalami respirasi dan autooksidasi,
menghasilkan beras yang berbau apek, kehitaman, bahkan membusuk. Beras juga
mengandung banyak kutu dan terkontaminasi.
Untuk memperoleh dan menjaga beras bermutu tinggi, langkah
penanggulangan maupun pencegahan yang perlu dilakukan adalah melakukan
penanganan pasca panen yang benar dan baik, seperti menentukan waktu panen
yang tepat, memilih metode pengeringan padi yang benar, perontokan, dan
penggilingan padi yang optimal sehingga menghasilkan rendemen beras yang besar
dan bermutu baik, tidak mengandung banyak butir patah, pembersihan gabah juga
dilakukan dengan optimal agar tidak mengandung banyak kotoran asing yang dapat
menurunkan mutu beras. Selain itu, proses pengemasan dan penyimpanan beras
merupakan tahap yang amat krusial karena menjaga mutu beras tetap baik hingga
ke tangan konsumen. Beras dapat disimpan dalam karung maupun silo, kemudian
menurut Sulardjo (2014) sistem penyimpanan beras diusahakan agar karung beras
tidak menyentuh lantai sehingga tidak meningkatkan kelembapan beras. Ruang
penyimpanan beras juga harus memiliki sirkulasi udara yang lancar, suhu yang
tepat dan harus senantiasa dikontrol, yakni di bawah 24oC, serta RH ruangan dijaga
agar kelembapan berada di bawah 70%.

4.3 Kacang Tanah


Pada percobaan kali ini, digunakan kacang tanah yang berbentuk
gelondongan. Dari sampel awal seberat 500 gram, dilakukan Quartening hingga
diperoleh sampel seberat 132.00 gram untuk kelompok 7 dan 142.68 gram untuk
kelompok 8 yang selanjutnya disortasi sesuai dengan parameter uji SNI yang tertera
pada tabel sebagai berikut :
Tabel 4.3. Hasil Pengamatan Kacang Tanah
Parameter Data Mutu SNI Persyaratan Mutu
Kadar Air 49.18% Out of range Maks. 9
Butir Rusak 4.54% Out of range Maks. 2

18
Butir Keriput 11.22% Out of range Maks. 4
Berdasarkan perhitungan kadar air basis basah atau wet basis yang telah
dilakukan terhadap sampel kacang tanah, didapatkan nilai kadar air sebesar 49.18%
dimana apabila angka tersebut dicocokan ke dalam tabel Standar Nasional
Indonesia seperti yang tertera pada Tabel 4.3.1 di atas, maka mutu kacang tanah
yang digunakan pada percobaan ini tidak termasuk di dalam range parameter mutu
kacang tanah berdasarkan SNI 01-3921 - 1995. Perbedaan kadar air yang cukup
jauh ini dapat diakibatkan dari suhu lingkungan tempat penyimpanan produk
memiliki suhu lebih tinggi sehingga uap air akan berpindah dari lingkungan ke
produk sampai terjadi kondisi kesetimbangan (Adawiyah, 2006). Selain pengujian
kadar air, dilakukan juga sortasi sehingga didapatkan jumlah rata-rata butir keriput
sebesar 11.22% dan rata-rata butir rusak sebesar 4.54%.
Berdasarkan jumlah persentase butir keriput dan butir rusak yang ditemukan
yakni sebesar 11.22% dan 4.54%, maka sampel kacang tanah yang disortasi berada
di luar range parameter mutu SNI kacang tanah. Hal ini dapat diakibatkan karena
perbedaan varietas kacang tanah yang digunakan sehingga berpengaruh terhadap
jumlah persentase butir keriput dan butir rusak kacang tanah. Didapat pula jumlah
rata-rata persentase kotoran dari kacang tanah yang digunakan sebesar 0.115% dan
rata-rata persentase biji satu sebesar 5.63%. Ditemukannya biji satu pada sampel
dapat diakibatkan karena kacang tanah tercampur dengan varietas lain, sedangkan
adanya kotoran pada sampel dikarenakan sampel tidak dibersihkan setelah tahap
pemanenan sehingga sampel tercampur dengan kotoran-kotoran.
Parameter butir rusak dapat digolongkan ke dalam salah satu kerusakan
fisik yang dapat terjadi selama proses pemanenan, pengolahan, pengiriman,
maupun penyimpanan. Sedangkan parameter butir keriput dapat pula digolongkan
ke dalam salah satu kerusakan fisik yang diakibatkan pertumbuhan biji yang tidak
sempurna.

4.4 Kacang Kedelai


Pada percobaan kali ini, digunakan kedelai dalam bentuk kedelai kuning
kering. Dari sampel awal seberat 500 gram, dilakukan Quartering hingga didapat

19
sampel dari kelompok 3 sebesar 122.24 gram dan dari kelompok 4 sebesar 146.73
gram yang selanjutnya disortasi sesuai dengan parameter uji SNI yang tertera pada
tabel sebagai berikut :
Tabel 4.4. Hasil Pengamatan Biji Kedelai
Parameter Data Mutu SNI Persyaratan Mutu
Kadar Air 11.52 % I Maks. 13 %
Butir Rusak 9.96 % Diluar batas maksimal Maks 5 %
Butir Warna Lain 7.12 % IV Maks 10 %
Butir Belah 4.41 % IV Maks 5 %
Kotoran 0.66 % II Maks 1 %
Butir Keriput 18.75 % Diluar batas maksimal Maks 5 %
Berdasarkan perhitungan kadar air basis basah / wet basis yang telah
dilakukan terhadap sampel kedelai kuning, didapatkan nilai sebesar 11.52% dimana
apabila angka tersebut dicocokkan ke dalam tabel Standar Nasional Indonesia
seperti yang tertera pada tabel 4.4.1 di atas, maka mutu kedelai yang digunakan
pada percobaan kali ini akan masuk ke dalam mutu I. Selain pengujian kadar air,
dilakukan juga sortasi sehingga didapatkan jumlah butir belah sebesar 4.41%, butir
rusak 9.96%, butir utuh / baik sebesar 62.45%, kotoran 0.66%, butir keriput
18.75%, dan 7.12% butir warna lain. Apabila dilihat berdasarkan jumlah presentase
butir belah yang ditemukan yakni 4.41%, maka sampel yang disortasi masuk ke
dalam mutu IV, sedangkan jika dilihat berdasarkan jumlah butir rusak, jumlahnya
cukup besar yakni 9.96%, hal tersebut menunjukkan bahwa jumlah butir rusak
melewati batas maksimal yang ditentukan oleh SNI yaitu 5%. Berdasarkan jumlah
kotoran yakni 0.66%, maka sampel yang disortasi masuk ke dalam mutu II, lalu
berdasarkan jumlah butir keriput, jumlahnya cukup besar yaitu 18.75%, hal tersebut
menunjukkan bahwa jumlah butir keriput melewati batas maksimal yang ditentukan
oleh SNI yaitu 5%. Pada parameter butir warna lain, jumlahnya adalah 7% dan
tergolong kedalam mutu IV. Berdasarkan data hasil uji parameter yang telah
diperoleh yakni kadar air dengan mutu I, butir belah dan butir warna lain dengan
mutu IV, butir rusak dan butir keriput yang melebihi batas maksimal dari ketentuan
SNI, dan kotoran dengan mutu II, maka dapat disimpulkan bahwa kacang kedelai
secara keseluruhan masuk ke dalam mutu III. Kadar air yang merupakan salah satu
parameter penentuan mutu sampel kacang kedelai yang berpengaruh terhadap
kualitas dari kedelai itu sendiri. Seperti yang dijabarkan oleh Anonim (2015) bahwa

20
kadar air kedelai yang aman adalah yang ada dalam range 12 13%. Walaupun
kadar air dari kedelai masuk ke dalam mutu I, tetapi dapat kita lihat bahwa butir
kedelai rusak dan keriput berada dalam jumlah yang melebihi batas maksimal yang
telah ditentukan oleh SNI dimana adanya butir rusak dan keriput dapat
mempengaruhi butir kedelai yang lainnya secara keseluruhan.
Apabila ditemukan butir belah, hal tersebut dikarenakan oleh tergesernya
kulit atau keping keping dari biji kacang kedelai kuning tersebut, butir kedelai
berwarna lain karena adanya perbedaan varietas kedelai yang diproduksi, butir
kedelai rusak karena adanya serangan hama sehingga membuat biji kedelai
berlubang ataupun selama pendistribusian dan penyimpanan terpengaruh oleh
faktor mekanis, fisik, biologis dan enzimatis yang memungkinkan. Butir keriput
dapat ditemukan karena pertumbuhan kedelai yang tidak sempuna atau biji kedelai
tersebut memang tergolong dalam biji yang masih muda disebabkan oleh proses
panen yang lebih awal yang dapat menyebabkan masa simpannya tidak bertahan
lama (Hieronymus, 1995). Kotoran yang ada disebabkan oleh adanya kontaminasi
fisik, baik selama pendistribusian maupun penyimpanan. Sehingga, proses yang
dilakukan setelah panen, pendistribusian bahan, penyimpanan, sortasi dan proses
lainnya yang dilakukan perlu diperhatikan dengan baik agar tetap menjaga mutu
produk yang sangat di pengaruhi oleh kadar air, RH dan parameter lainnya.

21
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan serangkaian percobaan yang telah dilakukan maka dapat
disimpulkan bahwa sampel biji jagung yang digunakan masuk ke dalam mutu II
karena ada parameter biji rusak yang berpotensi mempengaruhi biji lainnya. Beras
digolongkan dalam mutu III dengan parameter kadar air merupakan parameter yang
paling penting dalam menentukan masa simpan beras dan dapat menjadi penyebab
kerusakan lainnya, yakni beras melunak karena mengalami peningkatan kadar air
dan melunak sehingga mudah patah. Selain itu, golongan mutu beras utuh
merupakan parameter yang paling dominan dalam menentukan golongan mutu
beras keseluruhan. Sedangkan untuk sampel kacang kedelai, sampel dapat
digolongkan ke dalam mutu III karena tingginya angka terhitung pada beberapa
parameter yang mampu mempengaruhi keseluruhan produk. Kacang tanah yang
digunakan pada percobaan kali ini tidak termasuk dalam range parameter mutu SNI
kacang tanah. Metode pencegahan dan penanggulangan penurunan mutu adalah
melalui metode penyimpanan produk yang tepat dengan pengaturan suhu, pH,
kadar air dan juga kelembapan karena merupakan kunci dalam meningkatkan masa
simpan dari produk jagung, kedelai, kacang tanah, dan beras.

22
DAFTAR PUSTAKA

Aisyah, Siti., Safika dan Faisal Jamin. Penentuan Aflatoksin B1 pada Makanan
Olahan Kacang Tanah dengan Menggunakan Enzyme-Linked
Immunosorbent Assay (ELISA). Jurnal Kedokteran Hewan Volume 9
Nomor 1 Halaman 38-41. ISSN : 1978-225X, 2011.

Anonim. Pelatihan Teknis Budidaya Kedelai Bagi Penyuluh Pertanian Dan


Babinsa: Perbenihan Kedelai. Pusat Pelatihan Pertanian, 2015.

Arma, Makmur Jaya et. al. Pertumbuhan dan Produksi Jagung dan Kacang Tanah
Melalui Pemberian Nutrisi Organik dan Waktu Tanam dalam Sistem
Tumpangsari. Jurnal Agroteknos Volume 3 Nomor 1 Halaman 1-7. ISSN :
2087 7706, 2013.

Badan Litbang Pertanian. Kacang Tanah: Sumber Pangan Sehat dan Menyehatkan
Edisi 21-27 Maret No. 3449, 2012.

BBPADI (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi). Aspek Mutu Beras.


Balitbangtan-Kementerian Pertanian online. Home page on-line. Available
from http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita/info-teknologi
/content/264-aspek-mutu-beras; Internet; accessed on 30 January 2017.

Bedjo. Pengendalian Kumbang Bubuk Pada Penyimpanan Jagung. Jurnal Balai


Penelitian Tanaman Pangan. Malang, 1992.

Brown, Amy. Understanding Food: Principles and Preparation, 5th ed. USA:
Cengage Learning, 2015.

BSN (Badan Standardisasi Nasional). Beras. SNI 6128-2008. Jakarta: BSN, 2008.

BSN (Badan Standardisasi Nasional). Jagung. SNI 01-3920. Jakarta: BSN, 1995.

BSN (Badan Standardisasi Nasional). Kacang Tanah. SNI 01-3921. Jakarta: BSN,
1995.

BSN (Badan Standardisasi Nasional). Kedelai. SNI 01-3922. Jakarta: BSN, 1995.

Cahyadi, W. Kedelai : Khasiat dan Teknologi. Jakarta : Bumi Aksara, 2007.

Ekowati Diah, dan Mochamad Nasir. Pertumbuhan Tanaman Jagung Varietas


BISI-2 pada Pasir Reject dan Pasir Asli di Pantai Trisik Kulonprogo.
Jurnal Manusia dan Lingkungan. Volume 18 Nomor 3, 2011.

23
Giting, E., A.A. Rahmianna dan E. Yusnawan. Pengendalian Kontaminasi
Aflatoksin pada Produk Olahan Kacang Tanah Melalui Penanganan Pra dan
Pasca Panen. Jurnal Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Jawa Timur,
2005.

Kastanja, Ariance. Identifikasi Kadar Air Jagung dan Tingkat Kerusakannya Pada
Tempat Penyimpanan. Jurnal Argoforestri Volume II Nomor I (2007). [e-
journal] https://jurnalee.files.wordpress.com/2013/11/identifikasi-kadar-
air-biji-jagung-dan-tingkat-kerusakannya-pada-tempat-penyimpanan.pdf
(diakses 28 Januari 2017).

Kushartono B. Manajemen Pengolahan Pakan. Prosiding Lokakarya Fungsional


Non Peneliti. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Hal.202-209,
2002.

Santoso, Hieronymus. Perontok Biji Kedelai. Jakarta: Penerbit Kanisius, 1995.

Septiani, Septin. Kajian Suhu dan Kadar Air terhadap Kualitas Benih Kedelai
(Glycine max L. Merril) selama Penyimpanan. Makalah Seminar Umum
Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2012.
Setyawan, Bernardus Hendra dan Franciscus Doddy. Pengaruh Penyimpanan
terhadap Kualitas Beras: Perubahan Sifat Fisik selama Penyimpanan.
Technical Report. Universitas Diponegoro, Semarang, 2011.

Sibuea, Pulungan. Survei Korelasi Populasi Sitophylus oryzae Linn. (Coleoptera:


Curculionidae) dengan Beberapa Faktor Gudang Penyimpanan Beras di
Bulog Medan dan Sekitarnya. Skripsi Fakultas Pertanian. Universitas
Sumatera Utara, Medan, 2011.

Sulardjo. Penanganan Pasca Panen Padi. Magistra ISSN 0215-9511 (2014).


Available from http://download.portalgaruda.org/article.php?article
=253355&val=6820&title=PENANGANAN%20PASCAPANEN%20PA
DI; Internet; diakses 30 Januari 2016.
Syamsiar. Teknologi Budidaya Kacang Tanah. Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian (BPTP), Sulawesi Tenggara, 2010.

Wang, J. dan X. Liu. Contamination of Aflatoxins in Different Kinds of Foods in


China. Journal of Biomed Environment. Sci. 20:483-487, 2007.

Warisno, Wowon, Tamrin, dan Budianto Lanya. Analisis Mutu Beras pada Mesin
Penggilingan Padi Berjalan di Kabupaten Pringsewu. Artikel Ilmiah Teknik
Pertanian. Universitas Lampung, 2014.

Widaningrum, Miskiyah dan A. S. Somantri. Changes in Maize Grain (Zea mays


L.) Physico-Chemical Properties Storaged with CO2 Treatment.

24
AGRITECH, Vol.30, No. 1 (2010) [e-journal]
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=409266&val=7837&tit
le=PERUBAHAN%20SIFAT%20FISIKO-
KIMIA%20BIJI%20JAGUNG%20%20(Zea%20mays%20L.)%20PADA%
20PENYIMPANAN%20DENGAN%20PERLAKUAN%20KARBONDIO
KSIDA%20(CO%20)%20%20%20Changes%20in%20Maize%20Grain%20
(Zea%20mays%20L.)%20Physico-
Chemical%20Properties%20Storaged%20with%20CO%20Treatment;
Internet; diakses 28 Januari 2017.

Winarno, FG. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia, 2002.

Wirawan, Gede N dan Muhammad Ismail Wahab. Teknologi Budidaya Jagung.


Home-page online. Available from http://www.pustaka-
deptan.go.id;Internet;accessed on 28 January 2017.

25