Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Upaya membangun manusia seutuhnya dengan pembangunan kesehatan
antara lain diselenggarakan melalui upaya kesehatan anak yang dilakukan
sedini mungkin sejak masih dalam kandungan. Upaya kesehatan yang
dilakukan sejak anak masih di dalam kandungan sampai lima tahun pertama
kehidupannya, ditujukan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya
sekaligus meningkatkan kualitas hidup anak agar mencapai tumbuh kembang
optimal baik fisik, mental, emosional maupun sosial serta memiliki intelegensi
majemuk sesuai dengan potensi genetiknya (Depkes RI, 2013).

Anak adalah manusia sejak pembuahan sampai berakhirnya proses tumbuh


kembang yang secara operasional diterjemahkan menjadi dari saat awal
kehamilan sampai dengan usia 18 tahun (IDAI, 2014). Anak merupakan
investasi generasi suatu bangsa, sehingga kualitas anak sangat menentukan
keberlangsungan generasi dan kualitas bangsa.Kualitas anak sangat ditentukan
oleh keberlangsungan proses tumbuh-kembangnya sejak periode di dalam
kandungan dan periode awal kehidupannya selama masa kritis pada 3 tahun
pertama.Proses tumbuh kembang anak selama masa kritis 3 tahun pertama
kehidupannya harus terpantau dan tercatat dengan baik, yang bertujuan
menemukan adanya gangguan tumbuh kembang secara dini sehingga dapat
dilakukan penanganan sedini mungkin sebelum anak melewati masa kritisnya
(IDAI, 2014).

Berdasarkan data yang didapat dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia


tahun 2015, jumlah balita di Indonesia tahun 2014 sebanyak24.053.816 jiwa
dimana jumlah balita laki-laki sebanyak 12.369.408 jiwa dan balita
perempuan sejumlah 11.684.408 jiwa. Jumlah balita paling banyak berada di

1
Provinsi Jawa Barat yaitu sebanyak 4.418.126 jiwa dimana balita laki-laki
berjumlah 2.270.787 jiwa dan balita perempuan 2.147.339 jiwa. Jumlah balita
paling sedikit berada di Provinsi Papua Barat yaitu sebanyak 107.757 jiwa
dimana jumlah balita laki-laki sebanyak 55.547 jiwa dan balita perempuan
sebanyak 52.210 jiwa. Sedangkan di Provinsi DI Yogyakarta jumlah balita
sebanyak 266.171 jiwa dimana jumlah balita laki-laki sebanyak 137.101 jiwa
dan balita perempuan sebanyak 127.070 jiwa.

Mengingat jumlah balita di Indonesia sangat besar yaitu sekitar 10 persen dari
seluruh populasi, maka sebagai calon generasi penerus bangsa, kualitas
tumbuh kembang balita di Indonesia perlu mendapat perhatian yang serius
yaitu mendapat gizi yang baik, stimulasi yang memadai serta terjangkau oleh
pelayanan kesehatan berkualitas termaksudseleksi, deteksi dan intervensi dini
penyimpangan tumbuh kembang (Depkes RI, 2013).

Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK), adalah


kegiatan merangsang kemampuan dasar anak umur 0-6 tahun agar anak
tumbuh dan berkembang secara optimal. Kurangnya stimulasi dapat
menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang anak bahkan gangguan yang
menetap (Patemah, 2013).Pembinaan tumbuh kembang anak secara
komprehensif dan berkualitas yang diselenggarakan melalui kegiatan
stimulasi, deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang balita
dilakukan pada masa kritis tersebut diatas (Depkes RI, 2013).

Melakukan stimulasi yang memadai artinya merangsang otot balita sehingga


perkembangan kemampuan gerak, bicara dan bahasa, sosialisasi dan
kemandirian pada balita berlangsung secara optimal sesuai dengan umur anak.
Melakukan deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang artinya melakukan
skrining atau mendeteksi secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang
balita termasuk menindaklanjuti setiap keluhan orang tua terhadap masalah
tumbuh kembang anaknya. Melakukan intervensi dini penyimpangan tumbuh

2
kembang balita artinya melakukan tindakan koreksi dengan memanfaatkan
plastisitas otak anak (kemampuan otak anak untuk menyesuaikan sesuatu yang
baru) untuk memperbaiki penyimpangan tumbuh kembang pada seorang anak
agar tumbuh kembangnya kembali normal atau penyimpangan tidak semakin
berat. Apabila balita perlu dirujuk, maka rujukan juga harus dilakukan sedini
mungkin sesuai dengan indikasi (Depkes RI, 2013).

Indikator keberhasilan dari program SDIDTK berdasarkan buku pedoman


pelaksanaan stimulasi, deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang anak di
tingkat pelayanan kesehatan dasar yang diterbitkan oleh Departemen
Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013 adalah diharapkan pada tahun 2010
90% balita dan anak prasekolah terjangkau oleh kegiatan stimulasi, deteksi
dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang.Capaian Indikator
pelayanan kesehatan anak balita di Indonesia pada tahun 2014 sebesar
75,82%. Angka ini lebih besar dibandingkan tahun 2013 sebesar 70,12%.
Provinsi Bali memiliki capaian tertinggi yaitu sebesar 95,28%. Sedangkan
provinsi dengan capaian terendah yaitu Papua sebesar 14,78% (Kemenkes RI,
2015).

B. Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengetahui tingkat perkembangan anak sesuai dengan
usianya.
2. Mahasiswa mampu memberikan stimulasi dini tumbuh kembang pada
anak sesuai dengan usianya.
3. Mahasiswa mampu mendeteksi secara dini adanya gangguan tumbuh
kembang pada anak sesuai dengan usianya.
4. Mahasiswa mampu memberikan intervensi dini tumbuh kembang pada
anak yang mengalami gangguan tumbuh kembang sesuai dengan usianya.

3
C. Metode Pengumpulan Data
1. Formulir deteksi tumbuh kembang anak
2. Laporan dari orang tua/pengasuh

4
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Perkembangan Anak Sesuai Tingkat Usia


Pertumbuhan (growth) adalah perubahan yang bersifat kuantitatif, yaitu
bertambahnya jumlah, ukuran, dimensi pada tingkat sel, organ, maupun
individu. Anak tidak hanya bertambah besar secara fisik, melainkan juga
ukuran danstruktur organ-organ tubuh dan otak (Soetjiningsih, 2013).

Perkembangan (development) adalah pertumbuhan yang bersifat kuantitatif


dan kualitatif. Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill)
struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, dalam pola yang teratur dan
dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan/maturitas
(Soetjiningsih, 2013).

Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan. Berbeda dengan


pertumbuhan, perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan
saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan
sistem neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi. Kesemua
fungsi tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia yang utuh (Depkes
RI, 2013).

Menurut Depkes RI (2013), tahapan perkembangan anak umur 0-72 bulan


adalah sebagai berikut:
1. Umur 0-3 bulan
a. Mengangkat kepala setinggi 45.
b. Menggerakan kepala dari kiri/kanan ke tengah.
c. Melihat dan menatap wajah seseorang didepannya.
d. Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh.

5
e. Suka tertawa keras.
f. Bereaksi terkejut terhadap suara keras.
g. Membalas tersenyum saat diajak bicara.
h. Mengenal ibunya dengan penglihatan, penciuman, pendengaran dan
kontak.
2. Umur 3-6 bulan
a. Berbalik dari telungkup ke terlentang.
b. Mengangkat kepala setinggi 90.
c. Mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil.
d. Mengenggam pensil.
e. Meraih benda yang ada dalam jangkauannya.
f. Memegang tangannya sendiri.
g. Berusaha memperluas pandangan.
h. Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil.
i. Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik.
j. Tersenyum ketika melihat mainan/gambar yang menarik saat bermain
sendiri.
3. Umur 6-9 bulan
a. Duduk (sikap tripoid sendiri).
b. Belajar berdiri, kedua kakinya menyangga sebagian berat badan.
c. Merangkak meraih mainan atau mendekati seseorang.
d. Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya.
e. Memungut 2 benda, masing-masing tangan memegang 1 benda pada
saat yang bersamaan.
f. Memungut benda sebesar kacang dengan cara meraup.
g. Bersuara tanpa arti, mamama, bababa, dadada, tatata.
h. Mencari mainan/benda yang dijatuhkan.
i. Bermain tepuk tangan/ciluk ba.
j. Bergembira dengan melempar benda.
k. Makan kue sendiri.

6
4. Umur 9-12 bulan
a. Mengangkat badannya ke posisi berdiri.
b. Belajar berdiri selama 30 detik atau berpegangan di kursi.
c. Dapat berjalan dengan dituntun.
d. Mengulurkan lengan/badan untuk meraih mainan yang diinginkan.
e. Menggenggam erat pensil.
f. Memasukan benda ke mulut.
g. Mengulang menirukan bunyi yang di dengar.
h. Menyebut 2-3 suku kata yang sama tanpa arti.
i. Mengeksplorasi sekitar, ingin tahu, ingin menyentuh apa saja.
j. Bereaksi terhadap suara yang perlahan atau bisikan.
k. Senang diajak bermain ciluk ba.
l. Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum dikenal.
5. Umur 12-18 bulan
a. Berdiri sendiri tanpa berpegangan.
b. Membungkuk memungut mainan kemudian berdiri kembali.
c. Berjalan mundur 5 langkah.
d. Memanggil ayah dan ibu.
e. Menumpuk 2 kubus.
f. Memasukan kubus di kotak.
g. Menunjuk apa saja yang di inginkan tanpa menangis/merengek, anak
bisa mengeluarkan suara yang menyenangkan atau menarik tangan ibu.
h. Memperlihatkan rasa cemburu/bersaing.
6. Umur 18-24 bulan
a. Berdiri sendiri tanpa berpegangan 30 detik.
b. Berjalan tanpa terhuyung-huyung.
c. Bertepuk tangan, melambai-lambai.
d. Menumpuk 4 buah kubus.
e. Memungut benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk.
f. Mengelindingkan bola ke arah sasaran.

7
g. Menyebut 3-6 kata yang mempunyai arti.
h. Membantu/menirukan pekerjaan rumah tangga.
i. Memegang cangkir sendiri, belajar makan-minum sendiri.
7. Umur 24-36 bulan
a. Jalan naik tangga sendiri.
b. Dapat bermain dan menendang bola kecil.
c. Mencoret-coret pensil pada kertas.
d. Bicara dengan baik, menggunakan 2 kata.
e. Dapat menunjuk 1 atau lebih bagian tubuhnya ketika diminta.
f. Melihat gambar dan dapat menyebut dengan benar nama 2 benda atau
lebih.
g. Membantu memungut mainannya sendiri atau membantu mengangkat
piring ketika diminta.
h. Makan nasi sendiri tanpa banyak tumpah.
i. Melepas pakaiannya sendiri.
8. Umur 36-48 bulan
a. Berdiri 1 kaki 2 detik.
b. Melompat kedua kaki di angkat.
c. Mengayuh sepeda roda tiga.
d. Menggambar garis lurus.
e. Menumpuk 8 buah kubus.
f. Mengenal 2-4 warna.
g. Menyebut nama, umur, tempat.
h. Mengerti arti kata diatas, dibawah, didepan.
i. Mendengarkan cerita.
j. Mencuci dan mengeringkan tangan sendiri.
k. Bermain bersama teman, mengikuti aturan permainan.
l. Mengenakan sepatu sendiri.
m. Mengenakan celana panjang, kemeja, baju.
9. Umur 48-60 bulan
a. Berdiri 1 kaki 6 detik.

8
b. Melompat-lompat 1 kaki.
c. Menari.
d. Menggambar tanda silang.
e. Menggambar lingkaran.
f. Menggambar orang dengan 3 bagian tubuh.
g. Mengancing baju atau pakaian boneka.
h. Menyebut nama lengkap tanpa dibantu.
i. Senang menyebut kata-kata baru.
j. Senang bertanya tentang sesuatu.
k. Menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang benar.
l. Bicaranya mudah dimengerti.
m. Bisa membandingkan/membedakan sesuatu dari ukuran dan
bentuknya.
n. Menyebut angka, menghitung jari.
o. Menyebut nama-nama hari.
p. Berpakaian sendiri tanpa dibantu.
q. Menggosok gigi tanpa dibantu.
r. Bereaksi tenang dan tidak rewel ketika ditinggal ibu.
10. Umur 60-72 bulan
a. Berjalan lurus.
b. Berdiri dengan 1 kaki selama 11 detik.
c. Menggambar 6 bagian, menggambar orang lengkap.
d. Menangkap bola kecil dengan kedua tangan.
e. Menggambar segi empat.
f. Mengerti arti lawan kata.
g. Mengerti pembicaraan yang menggunakan 7 kata atau lebih.
h. Menjawab pertanyaan tentang benda terbuat dari apa dan
kegunaaannya.
i. Mengenal angka, bisa menghitung angka 5-10.
j. Mengenal warna-warni.
k. Mengungkapkan simpati.

9
l. Mengikuti aturan permainan.
m. Berpakaian sendiri tanpa dibantu.

B. Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK)


SDIDTK adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak umur 0-6 tahun
agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Kurangnya stimulasi dapat
menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang anak bahkan gangguan yang
menetap(Patemah, 2013).Program SDIDTK bertujuan untuk memantau
pertumbuhan dan perkembangan anak, melibatkan bidan sebagai pelaksana
program (Setiyani, 2012).
1. Stimulasi Dini Tumbuh Kembang
Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak umur 0-6
tahun agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Setiap anak perlu
mendapat stimulasi rutin sedini mungkin dan terus menerus pada setiap
kesempatan. Stimulasi tumbuh kembang anak dilakukan oleh ibu dan ayah
yang merupakan orang terdekat dengn anak, pengganti ibu/pengasuh anak,
anggota keluarga lain dan kelompok masyarakat di lingkungan rumah
tangga masing-masing dan dalam kehidupan sehari-hari. Kurangnya
stimulasi dapat menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang anak
bahkan gangguan yang menetap.Kemampuan dasar anak yang dirangsang
dengan stimulasi terarah adalah kemampuan gerak kasar, kemempuan
gerak halus, kemampuan bicara dan bahasa serta kemampuan sosialisasi
dan kemandirian.

Dalam melakukan stimulasi tumbuh kembang anak, ada beberapa prinsip


dasar yang perlu diperhatikan:
a. Stimulasi dilakukan dengan dilandasi rasa cinta kasih sayang.
b. Selalu tunjukan sikap dan perilaku yang baik karena anak akan meniru
tingkah laku orang-orang terdekat dengannya.
c. Berikan stimulasi sesuai dengan kelompok umur anak.

10
d. Lakukan stimulasi dengan cara mengajak anak bermain, bernyanyi,
bervariasi, menyenangkan, tanpa paksaan dan tidak ada hukuman.
e. Lakukan stimulasi secara bertahap dan berkelanjutan sesuai umur
anak, terhadap keempat aspek kemampuan dasar anak.
f. Gunakan alat bantu/permainan yang sederhana, aman dan ada disekitar
anak.
g. Berikan kesempatan yang sama pada anak laki-laki dan perempuan.
h. Anak selalu diberikan pujian, bila perlu diberi hadiah atas
keberhasilannya.

2. Deteksi Dini Penyimpangan Tumbuh Kembang


Deteksi dini tumbuh kembang adalah kegiatan/pemeriksaan untuk
menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada
balita dan anak pra sekolah. Dengan ditemukan secara dini
penyimpangan/masalah tumbuh kembang anak, maka intervensi akan lebih
mudah dilakukan, tenaga kesehatan juga mempunyai waktu dalam
membuat rencana tindakan/intervensi yang tepat, terutama ketika harus
melibatkan ibu/keluarga. Bila penyimpangan terlambat diketahui, maka
intervensinya akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh
kembang anak.Ada 3 jenis deteksi dini tumbuh kembang yang dapat
dikerjakan oleh tenaga kesehatan di tingkat puskesmas dan jaringannya,
yaitu: deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang, deteksi dini
penyimpangan perkembangan dan deteksi dini penyimpangan mental
emosional.

3. Intervensi dan Rujukan Dini Penyimpangan Tumbuh Kembang


Tujuan intervensi dan rujukan dini perkembangan anak adalah untuk
mengkoreksi, memperbaiki dan mengatasi masalah atau penyimpangan
perkembangan sehingga anak tumbuh dan berkembang secara optimal
sesuai dengan potensinya. Waktu yang paling tepat untuk melakukan

11
intervensi dan rujukan dini penyimpangan perkembangan anak adalah
sesegera mungkin ketika usia anak masih dibawah lima tahun.

4. Jadwal Pelaksanaan SDIDTK


Jadwal pelaksanaan stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh
Kembang (SDIDTK) menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia
tahun 2013 adalah sebagai berikut:

Jadwal Pelaksanaan Stimulasi Tumbuh Kembang Balita dan Anak Pra


Sekolah
No Periode Tumbuh Kembang Kelompok Umur Stimulasi
1 Masa prenatal, janin dalam kandungan Mas prenatal
2 Masa bayi 0-12 bulan Umur 0-3 bulan
Umur 3-6 bulan
Umur 6-9 bulan
Umur 9-12 bulan
3 Masa anak balita 12-60 bulan Umur 12-15 bulan
Umur 15-18 bulan
Umur 18-24 bulan
Umur 24-36 bulan
Umur 36-48 bulan
Umur 48-60 bulan
4 Masa prasekolah Umur 60-72 bulan
Sumber : Depkes RI, 2013

Jadwal Pelaksanaan Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak


Jenis Deteksi Tumbuh Kembang yang Harus Dilakukan
Deteksi dini Deteksi dini
Umur Deteksi dini penyimpangan
penyimpangan penyimpangan
Anak mental emosional
pertumbuhan perkembangan
BB/TB LK KPSP TDD TDL KMME CHAT* GPPH*
0 bulan
3 bulan
6 bulan

12
9 bulan
12 bulan
15 bulan
18 bulan
21 bulan
24 bulan
30 bulan
36 bulan
42 bulan
48 bulan
54 bulan
60 bulan
66 bulan
72 bulan

Keterangan:
BB/TB : Berat Badan/Tinggi Badan
LK : Lingkar Kepala
KPSP : Kuesioner Pra Skrining Perkembangan
TDD : Tes Daya Dengar
TDL : Tes Daya Lihat
KMME: Kuesioner Masalah Mental Emosional
CHAT : Checlist for Autism in Toddlers
GPPH : Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas
Tanda : Deteksi dilakukan atas indikasi
Sumber : Depkes RI (2013)

Pelaksanaan intervensi dan rujukan dini dilaksanakan apabila ada indikasi


penyimpangan/masalah pertumbuhan dan perkembangan pada anak. Anak
diberikan intervensi dan rujukan dini berdasarkan umur anak (Depkes
RI,2013).

13
BAB III
PEMANTAUAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK
DENGAN SDIDTK

A. Persiapan
1. Persiapan alat
a. Pelaksanaan Tes
1) Sabun cuci tangan
2) Handuk kecil atau tissue
3) Kubus 8 buah
4) Kertas HVS
5) Pensil atau bolpoint
6) Gambar garis vertikal.
7) Gambar binatang berwarna
8) Kertas HVS berisi warna-warna
9) Bola kecil
10) Ular tangga
11) Puzzle
12) Tabel bb/tb
13) Timbangan
14) Alat ukur tinggi badan
15) Pita pengukur lingkar kepala
16) Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)
17) Snellen Chart
18) Instrumen Tes Daya Dengar (TDD)
19) Instrumen Tes Daya Lihat (TDL)
20) Kuesioner Masalah Mental Emosional (KMME)
21) Fomulir deteksi dini gangguan Pemusatan Perhatian dan
Hiperaktivitas (GPPH)

14
b. Dokumentasi
Formulir deteksi tumbuh kembang anak
2. Persiapan Lingkungan
Pelaksanaan tes dilakukan diruang 1 praktik laboraturium.
3. Persiapan hari/tanggal/jam
Pelaksanaan tes dilakukan pada hari Kamis, 30 Maret 2017 pukul 08.00
WIB

B. Langkah-langkah Pelaksanaan
1. Stimulasi Dini Tumbuh Kembang
Perkembangan kemampuan anak mempunyai pola yang tetap dan
berlangsung secara berurutan. Berdasarkan pola yang tetap dan
berlangsung secara berurutan tersebut, maka stimulasi yang diberikan
kepada anak dalam rangka merangsang pertumbuhan dan perkembangan
anak dapat diberikan oleh orang tua/keluarga sesuai dengan pembagian
kelompok umur stimulasi anak berikut ini:
a. Masa prenatal, janin dalam kandungan (masa prenatal)
b. Masa bayi 0-12 bulan
1) Umur 0-3 bulan
Stimulasi yang dapat dilakukan yaitu:
a) Kemampuan gerak kasar
Mengangkat kepala, berguling-guling dan menahan kepala
tetap tegak.
b) Kemampuan gerak halus
Melihat, meraih dan menendang mainan gantung,
memperhatikan benda bergerak, melihat benda-benda kecil,
memegang benda serta meraba dan merasakan bentuk
permukaan.
c) Kemampuan bicara dan bahasa
Berbicara, meniru suara-suara dan mengenali berbagai suara.

15
d) Kemampuan sosialisasi dan kemandirian
Memberi rasa aman dan kasih sayang, mengajak bayi
tersenyum, mengajak bayi mengamati benda-benda dan
keadaan sekitarnya, meniru ocehan dan mimik muka bayi,
mengayun bayi dan menina-bobokan.
2) Umur 3-6 bulan
Stimulasi yang dapat dilakukan yaitu:
a) Kemampuan gerak kasar
Melanjutkan stimulasi berguling-guling, menahan kepala tetap
tegak, ditambah dengan stimulasi lain yaitu: menyangga berat
badan, mengembangkan kontrol terhadap kepala dan duduk.
b) Kemampuan gerak halus
Melanjutkan stimulasi melihat, meraih dan menendang mainan
gantung, memperhatikan benda bergerak, melihat benda-benda
kecil serta meraba dan merasakan berbagai bentuk permukaan
ditambah dengan stimulasi memegang benda dengan kuat,
memegang benda dengn kedua tangan, makan sendiri dan
mengambil benda-benda kecil.
c) Kemampuan bicara dan bahasa
Melanjutkan stimulasi berbicara, meniru suara-suara serta
mengenali berbagai suara ditambah dengan stimulasi mencari
sumbersuara dan menirukan kata-kata.
d) Kemampuan bersosialisasi dan kemandirian
Melajutkan stimulasi memberi rasa aman dan kasih sayang,
mengajak bayi tersenyum, mengamati, mengayun dan
meninabobokan ditambah dengan stimulasi bermain ciluk-ba,
melihat dirinya dikaca dan berusaha meraih mainan.

16
3) Umur 6-9 bulan
Stimulasi yang dapat dilakukan yaitu:
a) Kemampuan gerak kasar
Melanjutkan stimulasi menyangga berat, mengembangkan
kontrol terhadap kepala serta duduk ditambah dengan stimulasi
merangkak, menarik ke posisi berdiri, berjalan berpegangan
dan berjalan dengan bantuan.
b) Kemampuan gerak halus
Melanjutkan stimulasi memegang benda dengan kuat,
memegang benda dengan kedua tangan dan mengambil benda-
benda kecil ditambah dengan stimulasi memasukan benda ke
dalam wadah, bermain genderang, memegang alat tulis dan
mencoret-coret, bermain mainan yang mengapung di air,
membuat bunyi-bunyian serta membunyikan dan mencari
mainan.
c) Kemampuan bicara dan bahasa
Melanjutkan stimulasi berbicara, mengenali berbagai suara,
mencari sumber suara dan menirukan kata-kata ditambah
dengan menyebutkan nama gambar-gambar di buku atau
majalah, serta menunjuk dan menyebutkan nama gambar-
gambar.
d) Kemampuan bersosialisasi
Melanjutkan stimulasi memberi rasa aman dan kasih sayang,
mengajak bayi tersenyum, mengayun, meninabobokan,
bermain ciluk ba dan melihat kaca serta ditambah dengan
stimulasi permainan bersoisalisasi.

17
4) Umur 9-12 bulan
Stimulasi yang dapat dilakukan yaitu:
a) Kemampuan gerak kasar
Melanjutkan stimulasi merangkak, berdiri, belajar sambil
berpegangan dan berjalan dengan bantuan ditambah dengan
stimulasi bermain bola, membungkuk, berjalan sendiri dan naik
tangga.
b) Kemampuan gerak halus
Melanjutkan stimulasi memasukan benda ke dalam wadah,
bermain dengan mainan yang mengapung di air sertaditambah
dengan stimulasi menyusun balok/kotak, menggambar dan
bermain di dapur.
c) Kemampuan berbicara dan berbahasa
Melanjutkan stimulasi berbicara, menjawab pertanyaan serta
menyebutkan nama gambar-gambar dibuku/majalah ditambah
dengan stimulasi menirukan kata-kata, berbicara dengan
boneka dan bersenandung dan bernyanyi.
d) Kemampuan bersosialisasi dan kemandirian
Melanjutkan stimulasi memberi rasa aman dan kasih sayang,
mengajak bayi tersenyum, mengayun, meninabobokan,
permainan cilukba serta permainan bersosialisasi ditambah
dengan stimulasi minum sendiri dari sebuah cangkir, makan
bersama-sama dan menarik mainan yang letaknya agak jauh.
c. Masa anak balita 12-60 bulan
1) Umur 12-15 Bulan
Stimulasi yang dapat dilakukan yaitu:
a) Kemampuan gerak kasar
Melanjutkan stimulasi bermain bola dan berjalan sendiri
ditambah dengan menarik mainan, berjalan mundur, berjalan
naik dan turun tangga, berjalan sambil berjinjit dan menangkap
dan melempar bola.

18
b) Kemampuan gerak halus
Melanjutkan stimulasi memasukan benda kedalam wadah,
bermain dengan mainan yang mengapung di air, menggambar
dan menyusun kubus dan mainan ditambah dengan stimulasi
permainan balok, memasukan dan mengeluarkan benda dan
memasukan benda yang satu ke benda yang lainnya.
c) Kemampuan bicara dan bahasa
Melanjutkan stimulasi berbicara, menjawab pertanyaan serta
menunjuk dan menyebutkan nama gambar-gambar ditambah
dengan stimulasi membuat suara, menyebut nama bagian tubuh
dan stimulasi pembicaraan.
d) Kemampuan bersosialisasi dan kemandirian
Melanjutkan stimulasi memberi rasa aman dan kasih sayang,
mengayun, meninabobokan, permainan cilukba serta
permainan bersosialisasi ditambah dengan stimulasi menirukan
pekerjaan rumah tangga, melepas pakaian, makan sendiri,
merawat boneka dan pergi ke tempat-tempat umum
2) Umur 15-18 bulan
Stimulasi yang dapat dilakukan yaitu:
a) Kemampuan gerak kasar
Melanjutkan stimulasi berjalan mundur, berjalan naik dan turun
tangga, berjalan sambil berjinjit serta menangkap dan
melempar bola ditambah dengan stimulasi bermain diluar
rumah, bermain air dan menendang bola.
b) Kemampuan gerak halus
Melanjutkan stimulasibermain dengan balok-balok,
memasukan benda yang satu kedalam benda yang lainnya serta
menggambar dengan krayon, pensil atau dengan jarinya
ditambah dengan stimulasi meniup dan membuat untalan.

19
c) Kemampuan bicara dan bahasa
Melanjutkan stimulasi menunjukan kepada anak buku dan
bacakan tiap hari, menyanyikan lagu atau sajak untuk anak
serta ajari anak menggunakan kata-kata dalam menyatakan
keinginannya ditambah dengan stimulasi bercerita tentang
gambar di buku/majalah, telepon-teleponan dan menyebut
nama berbagai barang.
d) Kemampuan bersosialisasi dan kemandirian
Melanjutkan stimulasi bujuk dan tenangkan anak ketika rewel,
buai anak dengan penuh kasih sayang, nyanyikan lagu sampai
anak tertidur, biarkan anakmembuka bajunya sendiri (beri
bantuan sedikit mungkin), bermain dengan anak
menyembunyikan mainan dan menemukannya kembali, ajak
anak mengunjungi tempat bermain, kebun binatang, lapangan
terbang, museum dan lain-lain ditambah dengan stimulasi
memeluk dan mencium, membereskan mainan/membantu
kegiatan di rumah, bermain dengan teman sebaya, permainan
baru dan bermain petak umpet.
3) Umur 18-24 bulan
Stimulasi yang dapat dilakukan yaitu:
a) Kemampuan gerak kasar
Melanjutkan stimulasi mendorong anak agar mau berlari,
berjalan dengan menjinjit, bermain di air, menendang,
melempar dan menangkap bola besar serta berjalan naik turun
tangga. Selain itu stimulasi yang juga harus dilakukan adalah
stimulasi melompat, melatih keseimbangan tubuh dan
mendorong mainan dengan kaki.

20
b) Kemampuan gerak halus
Melanjutkan stimulasi mendorong anak agar mau main balok-
balok, memasukan benda yang satu ke dalam benda yang
lainnya, menggambar dengan crayon, spidol dan pensil
berwarna serta menggambar menggunakan tangan. Stimulasi
yang juga harus dilakukan pada usia ini yaitu stimulasi
mengenal berbagai ukuran dan bentuk, bermain puzzle,
menggambar wajah atau bentuk dan membuat berbagai bentuk
dari adonan kue/lilin mainan.
c) Kemampuan bicara dan bahasa
Melanjutkan stimulasi bernyanyi, bercerita dan membaca
sajak-sajak untuk anak (ajak anak agar mau ikut serta), bicara
banyak-banyak kepada anak, gunakan kalimat-kalimat pendek,
jelas dan mudah ditiru anak, membacakan anak buku setiap
hari serta mendorong anak agar mau menceritakan hal-hal yang
dikerjakan dan dilihatnya. Stimulasi yang juga harus dilakukan
yaitu stimulasi melihat acara televisi, mengerjakan perintah
sederhana dan bercerita tentang apa yang dilihatnya.
d) Kemampuan bersosialisasi dan kemandirian
Melanjutkan stimulasi mengunjungi tempat bermain, kebun
binatang, lapangan terbang, museum dan lain-lain, bujuk dan
tenangkan anak ketika rewel, usahakan anak mau melepas
pakaiannya sendiri (tanpa harus dibantu) membereskan mainan
dan membantu kegiatan rumah tangga yang ringan serta
ajarkan anak makan bersama keluarga. Stimulasi yang juga
harus dilakukan yaitu stimulasi mengancingkan kancing baju,
permainan yang memerlukan interaksi dengan teman bermain,
membuat rumah-rumahan, berpakaian dan memisahkan diri
dengan anak.

21
4) Umur 24-36 bulan
Stimulasi yang dapat dilakukan yaitu:
a) Kemampuan gerak kasar
Melanjutkan stimulasi dorong anak agar mau memanjat,
berlari, melompat, melatih keseimbangan badan dan bermain
bola ditambah dengan stimulasi latihan menghadapi rintangan,
melompat jauh serta melempar dan menangkap.
b) Kemampuan gerak halus
Melanjutkan stimulasi dorong anak agar mau bermain puzzle,
balok-balok, memasukan benda yang satu kedalam benda yang
lainnya dan menggambar ditambah dengan stimulasi lain yaitu
membuat gambar tempelan, memilih dan mengelompokan
benda-benda menurut jenisnya, mencocokan gambar dan
benda, konsep jumlah dan bermain/menyusun balok-balok.
c) Kemampuan bicara dan bahasa
Melanjutkan stimulasi bacakan buku cerita anak (buat agar
anak melihat anda membaca buku. Hal ini mengandung pesan
penting dan manfaat membaca), dorong agar anak mau
bercerita tentang apa yang dilihatnya baik di buku maupun
ketika jalan-jalan, bantu anak dalam memilih acara TV
(dampingi anak ketika menonton TV, batasi waktu menonton
maksimal 1 jam sehari), acara/berita TV terkadang menakutkan
anak, jelaskan pada anak apakah itu nyata atau tidak nyata.
Ditambah juga dengan stimulasi menyebut nama lengkap anak,
bercerita tentang diri anak, menyebutkan nama berbagai jenis
pakaian dan menyatakan keadaan suatu benda.
d) Kemampuan bersosialisasi dan kemandirian
Melanjutkan stimulasi bujuk dan tenangkan ketika anak
kecewa dengan cara memeluk dan menenangkannya, sering-
sering mengajak anak keluar mengunjungi tempat bermain,
toko, kebun binatang dan lain-lain serta ajak anak

22
membersihkan tubuhnya ketika kotor kemudian mengelapnya
dengan bantuan anda sedikit mungkin. Demikian juga dalam
berpakaian dan melakukan pekerjaan rumah tangga yang
ringan. Ditambah dengan stimulasi melatih buang air besar dan
buang air kecil di kamar mandi/WC, berdandan dan
berpakaian.

5) Umur 36-48 bulan


Stimulasi yang dapat dilakukan yaitu:
a) Kemampuan gerak kasar
Melanjutkan stimulasi dorong anak berlari, melompat, berdiri
di atas satu kaki, memanjat, bermain bola dan mengendarai
sepeda roda tiga. Stimulasi juga di tambah dengan stimulasi
menangkap bola, berjalan mengikuti garis lulus, melompat,
melempar benda-benda kecil ke atas, menirukan binatang
berjalan dan lampu hijau merah.
b) Kemampuan gerak halus
Melanjutkan stimulasi bermain puzzle yang lebih sulit,
menyusun balok-balok, menggambar-gambar yang lebih sulit,
bermain mencocokan gambar dengan benda sesungguhnya dan
mengelompokan benda menurut jenisnya. Stimulasi juga
ditambah dengan memotong, membuat buku cerita gambar
tempel, menempel gambar, menjahit, menggambar/menulis,
menghitung, menggambar dengan jari, cat air, mencampur
warna dan membuat gambar tempel.
c) Kemampuan berbicara dan bahasa
Melanjutkan stimulasi membaca buku cerita, menyanyikan
lagu dan sajak-sajak anak, menyebut nama lengkap,
mengungkapkan perasaan, menjelaskan sesuatu dan mengerti
waktu serta membantu anak dalam memilih acara TV, batasi
menonton TV maksimal 2 jam sehari (dampingi anak

23
menonton TV dan jelaskan kejadian yang baik dan buruk).
Ditambah dengan stimulasi berbicara dengan anak, bercerita
mengenai dirinya, album fotoku dan mengenal huruf.
d) Kemampuan bersosialisasi dan kemandirian
Melanjutkan stimulasi bujuk dan tenangkan ketika anak
kecewa dengan cara memeluk dan bicara dengannya, dorong
agar anak mau mengutarakan perasaannya, ajak anak anda
makan bersama keluarga, sering-sering ajak anak pergi ke
taman, kebun binatang, perpustakaan dan lain-lain serta
bermain dengan anak (ajak agar anak mau membantu pekerjaan
rumah tangga yang ringan). Ditambah dengan stimulasi
mengancingkan kancing tarik, makan menggunakan sendok
garpu, memasak, mencuci tangan dan kaki serta menentukan
batasan.
6) Umur 48-60 bulan
Stimulasi yang dapat dilakukan yaitu:
a) Kemampuan gerak kasar
Melanjutkan stimulasi dorong anak bermain bola, lari, lompat
dengan 1 kaki, lompat jauh, jalan diatas papan
sempit/permainan keseimbangan tubuh, berayun-ayun dan
memanjat. Ditambah dengan stimulasi lomba karung, main
angklek dan melompati tali.
b) Kemampuan gerak halus
Melanjutkan stimulasi bermain puzzle, menggambar, memilih
dan mengelompokan, memotong dan menempel gambar
ditambah dengan stimulasi konsep tentang separuh atau satu,
menggambar, mencocokan dan menghitung, menggunting,
membandingkan besar/kecil, banyak/sedikit, berat/ringan,
percobaan ilmiah serta berkebun.
c) Kemampuan bicara dan bahasa

24
Melanjutkan stimulasi membuat anak bercerita tentang apa
yang dilihat dan didengarnya, membuat anak sering melihat
buku, bantu anak dalam memilih acara TV, batasi menonton
TV maksimal 2 jam sehari (dampingi anak menonton TV dan
jelaskan kejadian yang baik dan buruk). Ditambah dengan
stimulasi belajar mengingat-ingat, mengenal huruf dan simbol,
mengenal angka, membaca majalah, mengenal musim, buku
kegiatan keluarga, mengunjungi perpustakaan, melengkapi
kalimat, bercerita ketika ia masih kecil dan membantu
pekerjaan di dapur.
d) Kemampuan bersosialisasi dan kemandirian
Melanjutkan stimulasi berikan tugas rutin pada anak dalam
kegiatan di rumah, ajak anak membantu anda di dapur dan
makan bersama keluarga, buat anak bermain dengan teman
sebayanya, ajak anak berbicara tentang apa yang diraskannya,
bersama anak buatlah rencana jalan-jalan sesering mungkin.
Ditambah dengan stimulasi membentuk kemandirian, membuat
album keluarga, membuat boneka, menggambar orang,
mengikuti aturan permainan/petunjuk, bermain kreatif dengan
teman-temannya serta bermain berjualan dan berbelanja di
toko.
d. Masa prasekolah 60-72 bulan
Stimulasi yang dapat dilakukan yaitu:
1) Kemampuan gerak kasar
Melanjutkan stimulasi dorong agar anak dan temannya main bola,
permainan menjaga keseimbangan tubuh, berlari, lompat dengan
satu kaki, lompat jauh dan sebagainya. Ditambah dengan stimulasi
naik sepeda dan bermain sepatu roda.
2) Kemampuan gerak halus
Melanjutkan stimulasi bantu anak menulis namanya, kata-kata
pendek serta angka-angka, ajak anak bermain berhitung, buat anak

25
mau menggambar, berhitung, memilih, mengelompokan,
menggunting, bermain puzzle dan lain lain. Ditambah dengan
stimulasi mengerti urutan kegiatan, berlatih mengingat-ingat,
membuat sesuatu dari tanah liat/lilin, bermain berjualan, belajar
bertukang memakai palu, gergaji dan paku, mengumpulkan benda-
benda, belajar memasak, mengenal kalender, mengenal waktu,
menggambar dari berbagai sudut pandang dan belajar mengukur.
3) Kemampuan berbicara dan bahasa
Melanjutkan stimulasi buat agar anak anda sering membaca buku,
sering-sering membaca buku, kemudian dibicarakan bersama,
setelah selesai membaca cerita pendek, tanya pada anak beberapa
pertanyaan. Ditambah dengan stimulasi mengenal benda yang
serupa dan berbeda, bermain tebak-tebakan, berlatih mengingat-
ingat, menjawab pertanyaan mengapa?, mengenal rambu/tanda
lalu lintas, mengenal uang logam dan mengamati/meneliti keadaan
sekitarnya.
4) Kemampuan bersosialisasi dan kemandirian
Melanjutkan stimulasi dorong anak agar berpakaian sendiri,
menyimpan mainannya tanpa bantuan, membantu kegiatan di
rumah seperti memasak, bersih-bersih dan sebagainya. Ajak anak
berbicara tentang apa yang dirasakan anak, ikutkan anak dalam
acara makan sekeluarga. Rencanakan kegiatan ke luar sesering
mungkin, beri anak kesempatan mengunjungi tetangga, teman dan
saudara tanpa ditemani anda. Beri kesempatan anak memilih acara
televisi yang ingin dilihat, tetapi tetap diawasi. Batasi waktu
menonton tidak lebih dari 2 jam. Ditambah dengan stimulasi
berkomunikasi dengan anak, berteman dan bergaul dan mematuhi
peraturan keluarga.

26
2. Deteksi Dini Penyimpangan Tumbuh Kembang
a. Deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang
1) Pengukuran berat badan (BB) terhadap tinggi badan (TB)
Tujuan pengukuran BB/TB adalah untuk menentukan status gizi
anak, normal, kurus, kurus sekali atau gemuk. Jadwal pengukuran
BB/TB disesuaikan dengan jadwal deteksi dini tumbuh kembang
balita. Pengukuran dan penilaian BB/TB dilakukan oleh tenaga
kesehatan terlatih.
Pengukuran BB dapat dilakukan dengan menggunakan timbangan
bayi untuk anak yang berusia 0-2 tahun atau selama anak masih
bisa berbaring/duduk tenang dan menggunakan timbangan injak
bagi anak yang sudah berusia 2 tahun ke atas. Sedangkan
pengukuran panjang badan (PB) atau TB dapat diukur dengan
posisi berbaring dan dengan posisi berdiri bagi anak yang sudah
bisa berdiri.
2) Pengukuran lingkar kepala anak (LKA)
Tujuan pengukuran LKA adalah untuk mengetahui lingkaran
kepala anak dalam batas normal atau diluar batas normal. Jadwal
disesuaikan dengan umur anak, pengukuran dan penilaian
lingkaran kepala anak dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih.
Pengukuran LKA dilakukan dengan menggunakan alat pengukur
yang dilingkarkan pada kepala anak melewati dahi, menutupi alis
mata, diatas kedua telinga, dan bagian kepala yang menonjol, tarik
agak kencang. Hasil pengukuran dicatat pada grafik lingkaran
kepala menurut umur dan jenis kelamin anak.

b. Deteksi dini penyimpangan perkembangan


1) Skrining/pemeriksaan perkembangan anak menggunakan
Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)
Tujuan skrining/pemeriksaan perkembangan anak menggunakan
KPSP adalah untuk mengetahui perkembangan anak normal atau

27
ada penyimpangan. Jadwal disesuaikan dengan umur anak. Jika
anak belum mencapai umur skrining tersebut, minta ibu untuk
datang kembali pada umur skrining yang terdekat untuk
pemeriksaan rutin. Skrining dilakukan oleh tenaga kesehatan, guru
Taman Kanak-kanak (TK) dan petugas Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD) terlatih.
2) Tes Daya Dengar (TDD)
Tujuan TDD adalah untuk menemukan gangguan pendengaran
sejak dini, agar dapat ditindaklanjuti untuk meningkatkan
kemampuan daya dengar dan bicara anak. Jadwal TDD adalah
setiap 3 bulan pada bayi umur kurang dari 12 bulan dan setiap 6
bulan pada anak umur 12 bulan ke atas. Tes ini dilaksanakan oleh
tenaga kesehatan, guru TK, tenaga PAUD dan petugas terlatih
lainnya. Alat/sarana yang digunakan yaitu:
3) Tes Daya Lihat (TDL)
Tujuan TDL adalah untuk mendeteksi secara dini kelainan daya
lihat agar segera dapat dilakukan tindakan lanjutansehingga
kesempatan untuk memperoleh ketajaman penglihatan menjadi
lebih besar. Jadwal tes daya lihat dilakukan setiap 6 bulan pada
anak usia prasekolah umur 36-72 bulan. Tes ini dilaksanakan oleh
tenaga kesehatan, guru TK, tenaga PAUD dan petugas terlatih
lainnya.
c. Deteksi dini penyimpangan mental emosional
Deteksi dini penyimpangan mental emosional adalah
kegiatan/pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya masalah
mental emosional, autisme dan gangguan pemusatan perhatian dan
hiperaktivitas pada anak, agar dapat segera dilakukan tindakan
intervensi. Bila penyimpangan mental emosional terlambat diketahui,
maka intervensinya akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada
tumbuh kembang anak. Deteksi ini dilakukan oleh tenaga kesehatan.

28
Ada 3 jenis deteksi dini penyimpangan mental emosional yaitu:
1) Deteksi dini masalah mental emosional pada anak prasekolah
Tujuannya adalah untuk mendeteksi secara dini adanya
penyimpangan atau masalah mental emosional pada anak pra
sekolah. Jadwal deteksi dini penyimpangan mental emosional
adalah rutin setiap 6 bulan pada anakumur 36 bulan sampai 72
bulan. Jadwal ini sesuai dengan jadwal skrining/pemeriksaan
perkembangan anak. Alat yang digunakan adalah Kuesioner
Masalah Mental Emosional (KMME) yang terdiri dari 12
pertanyaan untuk mengenali problem mental emosional anakumur
36-72 bulan.
2) Deteksi dini autis pada anak prasekolah
Tujuannya adalah untuk mendeteksi secara dini adanya autis pada
anak umur 18-36 bulan. Jadwal deteksi dini autis anak pra sekolah
dilakukan atas indikasi atau bila ada keluhan dari ibu/pengasuh
atau ada kecurigaan tenaga kesehatan, kader kesehatan. Bina
Keluarga Balita (BKB), petugasPAUD, pengelola Tempat
Penitipan Anak (TPA) dan guru TK. Keluhan tersebut dapat berupa
salah satu atau lebih keadaan dibawah ini:
a) Keterlambatan berbicara
b) Gangguan komunikasi/interaksi social
c) Perilaku yang berulang-ulang
Alat yang digunakan adalah Checklist for Autism in Toddlers
(CHAT). Ada dua jenis pertanyaan didalam CHAT, yaitu:
a) Ada 9 pertanyaan yang dijawab oleh orang tua/pengasuh anak.
Pertanyaan diajukan secara berurutan, satu per satu. Jelaskan
kepada orang tua untuk tidak ragu-ragu atau takut menjawab.
b) Ada 5 perintah bagi anak, untuk melaksanakan tugas seperti
yang tertulis di CHAT.
Cara menggunakan CHAT:

29
(1) Ajukan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu
persatu prilaku yang tertulis pada CHAT kepada orang
tua/pengasuh anak.
(2) Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan
tugas pada CHAT.
(3) Catat jawaban orangtua/pengasuh anak dan kesimpulan
hasil pengamatankemampuan anak, YA atau TIDAK.
Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.
Interpretasi:
(1) Risiko tinggi menderita autis: bila jawaban TIDAK pada
pertanyaan A5, A7, B2, B3 dan B4.
(2) Risiko rendah menderita autis: bila jawaban TIDAK pada
pertanyaan A7 dan B4.
(3) Kemungkinan gangguan perkembangan lain: bila jawaban
TIDAK jumlahnya 3 atau lebih untuk pertanyaan A1-A4;
A6; A8-A9; B1; B5.
(4) Anak dalam batas normal bila tidak termasuk dalam
kategori 1, 2 dan 3.
3) Deteksi Dini Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas
(GPPH) pada anak prasekolah
Tujuannya adalah untuk mengetahui secara dini adanya Gangguan
Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) pada anak umur
36 bulan ke atas. Jadwal deteksi dini GPPH dilakukan atas indikasi
atau bila ada keluhan dari ibu/pengasuh atau ada kecurigaan tenaga
kesehatan, kader kesehatan. BKB, petugas PAUD, pengelola TPA
dan guru TK. Keluhan tersebut dapat berupa salah satu atau lebih
keadaan dibawah ini:
a) Anak tidak bisa duduk tenang.
b) Anak selalu bergerak tanpa tujuan dan tidak mengenal lelah.
c) Perubahan suasana hati yang mendadak/implusif.

30
Alat yang digunakan adalah formulir deteksi dini GPPH
(Abbreviated Conners Ratting Scale). Formulir ini terdiri dari 10
pertanyaan yang ditanyakan kepada orang tua/pengasuh anak/guru
TK dan pertanyaan yang perlu pengamatan pemeriksa.

3. Intervensi dan Rujukan Dini Penyimpangan Tumbuh Kembang


Tujuan intervensi dan rujukan dini perkembangan anak adalah untuk
mengkoreksi, memperbaiki dan mengatasi masalah atau penyimpangan
perkembangan sehingga anak tumbuh dan berkembang secara optimal
sesuai dengan potensinya. Waktu yang paling tepat untuk melakukan
intervensi dan rujukan dini penyimpangan perkembangan anak adalah
sesegera mungkin ketika usia anak masih dibawah lima tahun.
a. Intervensi dini penyimpangan perkembangan anak
Intervensi dini penyimpangan perkembangan anak adalah tindakan
tertentu pada anak yang perkembangan kemampuannya menyimpang
karena tidak sesuai dengan umurnya. Tindakan intervensi dini tersebut
berupa stimulasi perkembangan terarah yang dilakukan secara intensif
dirumah selama 2 minggu, yang diikuti dengan evaluasi hasil
intervensi stimulasi perkembangan.
1) Intervensi perkembangan
Intervensi perkambangan anak dilakukan atas indikasi, yaitu:
a) Perkembangan anak meragukan, artinya kemampuan anak
tidak sesuai dengan yang seharusnya dimiliki anak, yaitu bila
jawaban YA = 7 atau 8 pada hasil pemeriksaan KPSP saat
anak berusia 3, 6, 9, 12, 15, 18 bulan dan seterusnya.
b) Bila seorang anak mempunyai masalah/penyimpangan
perkembangan, sedangkan umur anak saat itu bukan pada
jadwal umur skrining, maka lakukan intervensi perkembangan
sesuai dengan masalah yang ada.
2) Evaluasi intervensi perkembangan

31
Setelah orang tua dan keluarga melakukan tindakan intervensi
perkembangan secara intensif dirumah selama 2 minggu, maka
anak perlu dievaluasi apakah ada kemajuan/perkembangan atau
tidak. Cara melakukan evaluasi hasil intervensi perkembangan
adalah:
a) Apabila umur anak sesuai dengan jadwal umur skrining, maka
lakukan evaluasi hasil intervensi dengan menggunakan
formulir KPSP.
b) Apabila umur anak tidak sesuai dengan umur skrining, maka
lakukan evaluasi hasil intervensi dengan menggunakan
formulir KPSP untuk umur yang lebih muda dan paling dekat
dengan umur anak.
c) Bila hasil evaluasi intervensi ada kemajuan artinya jawaban
YA = 9 atau 10, artinya perkembangan anak sesuai dengan
umur tersebut, lanjutkan dengan skrining perkembangan sesuai
dengan umurnya sekarang.
d) Bila hasil evaluasi intervensi jawaban YA tetap 7 atau 8,
kerjakan langkah-langkah berikut ini
(1) Teliti kembali apakah ada masalah dengan intensitas
intervensi perkembangan yang dilakukan di rumah, jenis
kemampuan perkembangan anak yang di intervensi, cara
memberikan intervensi, lakukan pemeriksaan fisik yang
teliti, apakah ada masalah gizi, penyakit pada anak dan
kelainan organ-organ terkait.
(2) Bila ditemukan masalah gizi atau anak sakit, tangani kasus
tersebut sesuai pedoman atau standar tatalaksana kasus
yang ada di tingkat pelayanan dasar seperti Manajemen
Terpadu Balita Sakit (MTBS), tatalaksana gizi buruk dan
sebagainya. Sedangkan apabila intervensi dilakukan tidak
intensif, kurang tepat atau tidak sesuai dengan
petunjuk/nasihat tenaga kesehatan, sekali lagi ajari orang

32
tua dan keluarga cara melakukan intervensi perkembangan
yang intensif yang tepat dan benar. Bila perlu dampingi
orang tua/keluarga ketika melakukan intervensi pada
anaknya.
(3) Kemudian lakukan evaluasi hasil intervensi yang ke-2
dengan cara yang sama, jika: kemampuan perkembangan
anak ada kemajuan, berikan pujian kepada orang tua dan
anak. Sedangkan jika kemampuan perkembangan anak
tidak ada kemajuan, berarti ada penyimpangan
perkembangan anak, dan anak perlu segera dirujuk ke
rumah sakit yang memiliki tenaga dokter spesialis anak,
kesehatan jiwa, rehabilitasi medik, psikolog dan ahli terapi
(fisioterapis, terapi bicara dan sebagainya).
b. Rujukan dini penyimpangan perkembangan anak
Rujukan diperlukan jika masalah/penyimpangan perkembangan anak
dtidak dapat ditangani meskipun sudah dilakukan tindakan intervensi
dini. Rujukan penyimpangan tumbuh kembang anak dilakukan secara
berjenjang, sebagai berikut:
1) Tingkat keluarga dan masyarakat
Keluarga dan masyarakat (orang tua, anggota keluarga lainnya dan
kader) dianjurkan untuk membawa anaknya ke tenaga kesehatan di
puskesmas dan jaringan atau rumah sakit. Orang tua atau keluarga
perlu diingat agar membawa catatan pemantauan tumbuh kembang
yang ada di dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
2) Tingkat puskesmas dan jaringannya
a) Pada rujukan dini, bidan dan perawat di posyandu, polindes,
pustu termasuk puskeling, melakukan tindakan intervensi dini
penyimpangan tumbuh kembang sesuai standar pelayanan yang
terdapat pada buku pedoman.
b) Bila kasus penyimpangan tersebut ternyata memerlukan
penanganan lanjut, maka dilakukan rujukan tim medis di

33
puskesmas (dokter, bidan, perawat, ahli gizi dan tenaga
kesehatan terlatih lainnya).

3) Tingkat rumah sakit rujukan


Bila kasus penyimpangan tersebut tidak dapat ditangani di tingkat
Puskesmas atau memerlukan tindakan yang khusus maka perlu
dirujuk ke rumah sakit kabupaten (tingkat rujukan primer) yang
mempunyai fasilitas klinik tumbuh kembang anak dengan dokter
spesialis anak, ahli gizi, serta laboratorium/pemeriksaan penunjang
diagnostik. Rumah sakit provinsi sebagai tempat rujukan sekunder
diharapkan memiliki klinik tumbuh kembang anak yang didukung
oleh tim dokter spesialis anak, kesehatan jiwa, kesehatan mata,
Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT), rehabilitasi medik, ahli
terapi (fisioterapis, terapis bicara dan sebagainya), ahli gizi dan
psikolog.

34
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. (2013). Pedoman pelaksanaan stimulasi deteksi dan intervensi dini
tumbuh kembang anak ditingkat pelayanan kesehatan dasar. Jakarta:
Depkes RI.

IDAI. (2014). Pemantauan Tumbuh-Kembang Anak. Diakses pada tanggal 22 Mei


2017 dari: http://idai.or.id/professional-resources/
rekomendasi/pemantauan-tumbuh-kembang-anak.

Kemenkes RI. (2015). Data dan Informasi tahun 2014. Diakses pada tanggal 22
Mei 2017 dari: http://www.pusdatin.kemkes.go.id/resources/
download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/data-dan-
informasi2014.pdf.

Kemenkes RI. (2015). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014. diakses pada
tanggal 22 Mei 2017 dari: http://www.kemkes.go.id/resources/download
/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/profil-kesehatan-indonesia-2014.pdf

Patemah. (2013). Faktor Determinan Pelaksanaan Stimulasi Deteksi dan


Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) oleh Kader di Wilayah
Puskesmas di Kota Malang. Thesis. Semarang: Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang.

Setiyani, A. (2012). Analisis Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Bidan dalam


Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang
Anak di Puskesmas Kabupaten Magetan Tahun 2012 (Studi pada Bidan
yang Mengikuti Pelatihan SDIDTK). Thesis. Semarang: Universitas
Diponegoro.

Sotjiningsih dan Ranuh, I. N. G. (2013). Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.

35