Anda di halaman 1dari 8

Kromatografi kolom adalah kromatografi yang menggunakan kolom sebagai alat

untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran. Alat tersebut berupa pipa gelas

yang dilengkapi suatu kran dibagian bawah kolom untuk mengendalikan aliran zat cair,

ukuran kolom tergantung dari banyaknya zat yang akan dipindahkan. Secara umum

perbandingan panjang dan diameter kolom sekitar 8:1 sedangkan daya penyerapnya adlah 25-

30 kali berat bahan yang akan dipisahkan. Teknik banyak digunakan dalam pemisahan

senyawa-senyawa organic dan konstituen-konstituen yang sukar menguap sedangkan untuk

pemisahan jenis logan-logam atau senyawa anorganik jarang dipakai (Yazid, 2005, hal: 98).
Dalam proses kromatografi selalu terdapat salah satu kecenderungan molekul-molekul
komponen untuk melarut dalam cairan, melekat pada permukaan padatan halus, bereaksi
secara kimia dan terekslusi pada pori-pori fasa diam. Komponen yang dipisahkan harus larut
dalam fasa gerak dan harus mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan fasa diam
dengan cara melarut di dalamnya, teradsorpsi atau bereaksi secara kimia. Pemisahan terjadi
berdasarkan perbedaan migrasi zat-zat yang menyusun suatu sampel. Hasil pemisahan dapat
digunakan untuk keperluan analisis kualitatif, analisis kuantitatif dan pemurnian suatu
senyawa. Dalam beberapa hal metode pemisahan kromatografi mempunyai kemiripan dengan
metode pemisahan ekstraksi. Kedua metode ini sama-sama menggunakan dua fasa, dimana
fasa satu bergerak terhadap fasa lainnya, kesetimbangan solut selalu terjadi di antara kedua
fasa ( Alimin dkk, 2007, hal: 74-75).
Pemisahan kromatografi kolom adsorpsi didasarkan pada adsorpsi komponen-
komponen campuran dengan afinitas berbeda-beda terhadap permukaan fase diam.
Kromatografi kolom terabsorpsi termasuk pada cara pemisahan cair padat, substrat padat
bertindak sebagai fasa diam yang sifafnya tidak larut dalam fasa cair, fasa bergeraknya adalah
cairan atau pelarut yang mengalir membawa komponen campuran sepanjang kolom.
Pemisahan bergantung pada kesetimbangan yang terbentuk pada bidang antar muka diantara
butiran-butiran adsorben dan fase bergerak serta kelarutan relatif komponen pada fasa
bergeraknya. Antara molekul-molekul komponen dan pelarut terjadi kompetisi untuk
teradsorpsi pada permukaan adsorben sehingga menimbulkan proses dinamis. Keduanya
secara bergantian tertahan beberapa saat di permukaan adsorben dan masuk kembali pada
fasa bergerak (Yazid, 2005, hal: 100).
Pada saat teradsorpsi komponen dipaksa untuk berpindah oleh aliran fasa bergerak

yang ditambahkan secara kontinu, akibatnya hanya komponen yang mempunyai afinitas lebih

besar terhadap adsorben akan secara selektif tertahan. Komponen afinitas paling kecil akan

bergerak lebih cepat mengikuti aliran pelarut. Pada kromatografi adsorpsi, besarnya koefisien

distribusi sama dengan konsentrasi zat terlarut pada fasa teradsorpsi dibagi konsentrasinya

pada fasa larutan. Ketergantungan jumlah zat terlarut yang teradsorpsi terhadap konsentrasi

zat terlarut dalam larutan dinyatakan dengan isoterm adsorpsi Langmuir (Yazid, 2005, hal:
100).
Metode pemisahan kromatografi kolom ini memerlukan bahan kimia yang cukup
banyak sebagai fasa diam dan fasa bergerak bergantung pada ukuran kolom gelas. Untuk
melakukan pemisahan campuran dengan metode kromatografi kolom diperlukan waktu
yangcukup lama, bias berjam-jam hanya untuk memisahkan satu campuran. Selain itu, hasil
pemisahan kurang jelas artinya kadang-kadang sukar mendapatkan pemisahan secara
sempurna karena pita komponen yang satu bertumpang tindih dengan komponen lainnya.
Masalah waktu yang lama disebabkan laju alir fasa gerak hanya dipengaruhi oleh gaya
gravitasi bumi, ukuran diameter partikel yang cukup besar membuat luas permukaan fasa
diam relative kecil sehingga tempat untuk berinteraksi antara komponen-komponen dengan
fasa diam menjadi terbatas. Apabila ukuran diameter partikel diperkecil supaya luas
permukaan fasa diam bertambah menyebabkan semakin lambatnya aliran fasa gerak atau fasa
gerak tidak mengalir sama sekali. Selain itu fasa diam yang sudah terpakai tidak dapat
digunakan lagi untuk pemisahan campuran yang lain karena sukar meregenerasi fasa diam
(Hendayana, 2006, hal: 2-3).
Untuk memisahkan campuran, kolom yang telah dipilih sesuai campuran diisi dengan

bahan penyerap seperti alumina dalam keadaan kering atau dibuat seperti bubur dengan

pelarut. Pengisian dilakukan dengan bantuan batang pengaduk untuk memanfaatkan adsorben

dan gelas wool pada dasar kolom. Pengisian harus dilakukan secara hat-hati dan sepadat

mungkin agar rata sehingga terhindar dari gelembung-gelembung udara, untuk membantu

homogenitas biasanya kolom setelah diisi divibrasi diketok-ketok. Sejumlah cuplikan yang

dilarutkan dalam sedikit pelarut, dituangkan melalui sebelah atas kolom dan dibiarkan

mengalir ke dalam adsorben. Komponen-komponen dalam campuran diadsorpsi dari larutan

secara kuantitatif oleh bahan penyerap berupa pita sempit pada permukaan atas kolom.

Dengan penambahan pelarut secara terus-menerus, masing-masing komponen akan bergerak

turun melalui kolom dan pada bagian atas kolom akan terjadi kesetimbangan baru antara

bahan penyerap, komponen campuran dan eluen. Kesetimbangan dikatakan tetap apabila

suatu komponen yang satu dengan yang lainnya bergerak ke bagian bawah kolom dengan
waktu atau kecepatan berbeda-beda sehingga terjadi pemisahan (Yazid, 2005, hal: 200-2001).
Menurut Alimin (2007, hal: 75) keuntungan pemisahan dengan metode kromatografi adalah
a. Dapat digunakan untuk sampel atau konstituen yang sangat kecil.

b. Cukup selektif terutama untuk senyawa-senyawa organik multi komponen.

c. Proses pemisahan dalam dilakukan dalam waktu yang relatif singkat.

d. Seringkali murah dan sederhana karena umumnya tidak memerlukan alat yang mahal dan

rumit.
Hendayana, Sumar. Kimia Pemisahan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006

Khopkar, S.M. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Erlangga, 2008

Yazid, Estien. Kimia Fisika Paramedis. Yogyakarta: Andi, 2005

Kromatografi kolom adalah suatu teknik pemurnian untuk mengisolasi komponen


yang diinginkan dai sutu campuran. Dalam kromatografi kolom, fase diam (adsorben padat)
ditempatkan secara vertikal dalam kolom gelas dan fase gerak (cairan) ditempatkan pada
bagian atas kolom dan begerak ke bawah melewati kolom (karena gravitasi atau tekanan
eksternal). Sampel yang akan dianalisis dimsukkan ke bagian atas kolom. Eluen ditambahkan
ke dalam kolom dan bergerak ke bawah melewtikolom. Keseimbangan terjadi antara
komponen yang teradsopsi pda adorben dengan pelarut yang terelusi mengalir melewati
kolom. (Basset, 1994).
Pada kromatografi kolom, campuran yang akan dipsahkan diletakkan berupa pita pada
bagian atas kolom penjerap yang berada dalam tabung kaca, tabung logam, atau bahkan
tabung plastik. Kolom kromatografi atau tabung untuk pengaliran karena gaya tarik bumi
(gravitasi) atau sistem bertekanan rendah biasanya terbuat dari kaca yang dilengkapi keran
jenis tertentu pada bagian bawahnya untuk mengatur aliran pelarut (Gritter, 1991).
Pada setiap rancangan terdapat penompang atau sejenis piringan pelat di b, dan c,
penompang tersebut berupa segumpal kecil wol kaca atau kapas yang ditutupi dengan pasir
bersih 50-100 mesh setebal 30-60mm. Ukuran keseluruhan kolom sungguh beragam, tetapi
biasanya panjangnya sekurang-kurangnya 10 kali garis tengah dalamnya dan mungkin saja
sampai 100 kali. Nisbah panjang terhadap lebar sebagian besar ditentukan oleh mudah atau
sukarnya pemisahan, nisbah lebih besar untuk memisahkan yang lebih sukar. Ukuran kolom
dan banyaknya penjerap yang dipakai ditentukan oleh bobot campuran linarut yang akan
dipisahkan (Gritter, 1991).
Klasifikasi Kromatografi Kolom berdasarkan interaksi komponen dengan adsorben
adalah :
a. Kromatografi adsorbsia dalah kromatografi yang adsorbsi, komponen yang dipisahkan secara
selektif teradsorbsi pada permukaan adsorben yang dipakai untuk bahan isian kolom.
b. Kromatografi partisi, dalam kromtografi partisi, komponen yang dipisahkan secara selektif
mengalami partisi antara lapisan cairan tipis pada penyangga padat yang bertindak sebagai
fase diam dn eluen yang bertindak sebagai fase gerak.
c. Kromatografi petukran ion memishkan komponen yang berbentuk ion, komponen-komponen
tersebut yang terikat pda penukar ion sebagai fase diam secara selektif akan terlepas/terelusi
oleh fase gerak.
d. Komatogrfi filtrasi gel, dalam kromatografi filtrasi gel, kolom diisi dengan gel yang
permeabel sebagai fase diam. Pemisahan berlangsung seperti proses pengayakan yang
didasarkan atas ukuran molekul dari komponen yang dipisahkan (Khopkar, 2000).

Basset, J. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta.
Day, R. A. Jr. 1986. Analisa Kimia KuantitatifEdisiKeempat. PenerbitErlangga. Jakarta.
Gritter, R. J. 1991. Pengantar Kromatografi. ITB. Bandung.
Khopkar, S.M. 2000. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI-Press. Jakarta.
Sistem pelarut SGP dilakukan dengan cara menggantikan / mengubah kepolaran dari
eluen yang digunakan secara bertahap. Eluen tersebut merupakan campuran dua jenis pelarut
dengan kepolaran berbeda. Dengan mengubah perbandingan campurannya kita dapat menggeser
tingkat kepolaran dari eluen ini. Pada pengerjaannya di awali dengan satu jenis pelarut yaitu
berupa heksan saja, kemudian digeser tingkat kepolarannya dengan mencampurkannya dengan
pelarut etil asetat. Pencampuran dilakukan dengan perbandingan yang divariasikan secara
bertahap, hingga diakhiri dengan hanya menggunakan etil asetat saja sebagai eluen. Dengan ini
diharapkan dapat memberikan pemisahan yang lebih baik.
Eluen dialirkan untuk pemisahan komponen dengan kecepatan alir sekitar 100 tetesan
per menitnya. Aliran eluen diatur agar tidak terlalu cepat agar komponen dapat terpisah dengan.
Alirannya pun diusahakan tidak terlalu lambat agar proses tidak terlalu lama. Eluen mengalir
mengelusi sampel menyusuri fase diam di sepanjang kolom dengan memanfaatkan gaya gravitasi.
Dengan adanya perubahan tingkat kepolaran secara bertahap, keterikatan komponen
terhadap pelarut dan keterikatan masing-masing komponen terhadap fase diam akan berubah-
ubah, sesuai dengan sifat-sifat masing-masing komponen.. Komponen ini dibawa oleh pelarut
dan tertampung pada vial penampung. Hasil pemisahan dapat diakumulasikan dan masih dalam
keadaan terlarut dalam pelarut. Kita bisa saja mendapatkan komponen murninya dengan
pemekatan, meskipun hasilnya tidak terlalu banyak.
Untuk lebih memastikan tingkat kemurnian dari hasil pemisahan dapat kita uji dengan
metode Kromatografi Lapisan Tipis. Hasil yang ada pada masing-masing vial tersebut kita uji
dengan KLT sehingga bisa kita lihat apakah pada masing-masing benar-benar hanya mengandung
satu komponen.
Kelebihan dari metode ini jika dibandingkan dengan KLT adalah bahwa kita dapat
melakukan pemisahan untuk sampel dengan jumlah yang lebih banyak. Di samping itu, kita juga
bisa memperoleh hasil pemisahan tersebut dan menampungnya.
Proses pemisahan pada kromatografi kolom ini bisa dikatakan sebagai bentuk sederhana
dari teknik kromatografi yang dilakukan dengan instrument kinerja tinggi. Kita juga bisa
melakukan pemisahan dengan jenis eluen lain, atau dengan jenis absorben lainnya. Kolom di sini
hanya sebatas berfungsi sebagai wadah. Bahan yang digunakan sebagai fase diam dapat berupa
macam, baik itu dengan memanfaatkan prinsip partisi ataupun absorbsi.
Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi proses pemisahan?
Jawab :
- Pemilihan adsorben sebagai fase diam
- Kepolaran pelarut yang akan dipisahkan
- Laju elusi atau aliran fase gerak

Fase diam merupakan absorben yang tidak boleh larut dalam fase gerak, ukuran
partikel fase diam harus seragam. Sebagai fase diam dapat digunakan alumina, silika gel,
arang, bauksit, magnesium karbonat, kalsium karbonat, talk, pati, selulosa, gula, dan tanah
diatom. Pengisian fase diam dalam kolom dapat dilakukan dengan cara kering dan cara
basah. Dalam cara basah fase diam diubah dulu menjadi bubur lumpur(slurry). Dengan
pelarut yang akan digunakan sebagai fase gerak kemudian baru diisikan ke dalam kolom
(Soebagio, 2002: 83).

Percobaan kromatografi kolom ini terdiri dari 5 tahap yaitu :


1. Pembuatan larutan cuplikan
Dalam pembuatan larutan cuplikan ini, kami menggunakan 2 larutan yang berbeda
tetapi memiliki molaritas yang sama serta perbandingan volume yang sama. Larutan yang
kami gunakan adalah larutan CuSO4 dan FeSO4. Larutan CuSO4 berfungsi sebagai penyedia
ion Cu2+. Larutan ini berwarna biru muda yang merupakan warna khas unsur Cu. Sedangkan
larutan FeSO4 merupakan larutan pembentuk Fe2+ di dalam cuplikan yang berwarna orange.
Selanjutnya kedua larutan tersebut dicampurkan ke dalam gelas kimia. Hasilnya warna
larutan menjadi biru kekuningan. Larutan inilah yang digunakan sebagai campuran yang akan
dipisahkan kationnya.

2. Pembuatan Bubur Silika


Pembuatan bubur silika menggunakan 3gram bubuk silika gel, kemudian dimasukkan
ke dalam gelas kimia dan ditambahkan akuades secukupnya hingga terbentuk bubur silika
yang berwarna putih kental dan memadat. Bubur silika ini nantinya akan digunakan sebagai
fasa diam.

3. Penyiapan Kolom
Dalam penyiapan kolom, pertama-tama dimasukkan kapas pada kolom yang telah
terpasang pada klem dan statif. Fungsi kapas adalah untuk menahan silika gel atau adsorban
agar tidak keluar dari kolom. Selanjutnya ditambahkan sedikit akuades hingga kapas basah
seluruhnya. Tujuannya adalah untuk memadatkan kapas sehingga tidak ada lagi udara yang
terkandung di dalamnya, karena jika terdapat rongga udara maka akan menghambat
pengelusian. Selanjutnya ditutup permukaan kapas dengan kertas saring. Tujuannya adalah
untuk menahan silika gel agar tidak pecah, dan tidak langsung masuk ke dalam kapas dn
mencegah terbentuknya rongga udara pada silika gel. Lalu dimasukkan bubur silika yang
telah dibuat ke dalam kolom. Fungsi silika gel ini adalah sebagai adsorban atau fasa diam.
Silika gel digunakan karena memiliki tekstur dan struktur yang tampak dan teratur. Silika gel
dapat memadat dengan ikatan yang kuat dan rapat sehingga dapat mengoptimalkan proses
pemisahan cuplikan. Kemudian permukaan silika gel tersebut ditutup dengan kertas saring.
Tujuannya adalah untuk memisahkan kotoran yang terkandung dalam cuplikan karena kertas
saring bersifat selektif ssehingga hanya zat dengan ukuran molekul kecil yang dapat
menembus kertas saring. selanjutnya ditambahkan sedikit akuades ke dalam kolom, dengan
tujuan untuk menghilangkan rongga udara yang ada di dalam kolom sehingga komponen
benar-benar padat dan pengelusian dapat berjalan lancar.

Kromatografi kolom umumnya digunakan sebagi teknik pemurnian untuk mengisolasi

komponen yang diinginkan dai sutu campuran. Dalam kromatografi kolom, fase diam

(adsorben padat) ditempatkan secara vertikal dalam kolom gelas dan fase gerak 9cairan)

ditempatkan pada bagian atas kolom dan begerak ke bawah melewati kolom (karena gravitasi

atau tekanan eksternal). Sampel yang akan dianalisis dimsukkan ke bagian atas kolom. Eluen

ditambahkan ke dalam kolom dan bergerak ke bawah melewtikolom. Keseimbangan terjadi

antara komponen yang teradsopsi pda adorben dengan pelarut yang terelusi mengalir

melewati kolom.

Klasifikasi Kromatografi Kolom

1. Berdasarkan interaksi komponen dengan adsorben

a. Kromatografi adsorbsi

Dalam kromatografi adsorbsi, komponen yang dipisahkan secara selektif teradsorbsi pada

permukaan adsorben yang dipakai untuk bahan isian kolom.

b. Kromatografi partisi

Dalm kromtografi partisi, komponen yang dipisahkan secara selektif mengalami partisi antara

lapisan cairan tipis pada penyangga padat yang bertindak sebagai fase diam dn eluen yang

bertindak sebagai fase gerak.

c. Komatografi petukaran ion


Kromatografi petukran ion memishkan komponen yang berbentuk ion. Komponen-komponen

tersebut yang terikat pda penukar ion sebagai fase diam secara selektif akan terlepas/terelusi

oleh fase gerak.

d. Komatogrfi filtrasi gel

Dalam kromatografi filtrasi gel, kolom diisi dengan gel yang permeabel sebagai fase diam.

Pemisahan berlangsung seperti proses pengayakan yang didasarkan atas ukuran molekul dari

komponen yang dipisahkan.

2. Berdasarkan gatya yang bekerja pada kolom

Kromatografi kolom kategori ini tergantung pada bagaimana eluen bergerak melewati kolom,

terdiri dari kromatografi kolom gravitasi dan kromatografi kolom tekanan.

a. Kromatografi kolom gravitasi

Dalm komatografi kolom gravitasi, eluen bergerak berdasarkan gaya gravitasi atau perkolasi.

b. Kromatografi kolom tekanan

Adsorben

Dalam kromatografi kolom tekanan, eluen bergerak karena adanya pemberian tekanan pada

kolom. Tekanan yang diberikan tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi.

Silika gel (SiO2) dan alumina (Al2O3) adalah 2 adsorben yang paling umum disunakan

untuk kromatografi kolom. Jika ukuran mesh lebih besar, maka ukuran silika tersebut lebih

kecil.

Ukuran partikel dari adsorben sngat berpengaruh pada bagaiman eluen bergerak melewati

kolom. Partikel yang lebih kecil (mesh lebih besar) digunakan untuk kromatografi kolom
tekanan sedangkan adsorben dengan ukuran partikel yang lebih besar digunakan untuk

komatografi kolom gravitasi.

Alumina lebih sering digunakan dalam komtografin kolom dibanding kromtografi lapis tipis.

Daya adsorbsi alumina dapat diatur dengan mengatur jumlah air yang dikandung. CAranya

ialah dengan mengeringkan alumina pada suhu 360OC selma 5 jam, kemudian membiarkan

alumina kering tersebut menyerap air sampai jumlah tertentu. Aktivitasnya tergantung dri

kadar irnya dan dinyatakan dalam skala Brockman.

Pelarut

Pelarut mempunyai peranan yang penting dalam mengelusi sampel yang dapat menentukan

keberhasilan pemisahan secaa kromatografi kolom. Pelarut yang mampu menjalankan elusi

terlalu cepat tidak akan mampu mengadakan pemisahan yang sempurna. Sebaliknya elusi

yang terlalu lambat akan menyebabkan waktu retensi yang terlalu lama.

Sistem pelarut dengan kepolaran yang bertingkat sering juga digunakan adalah pelarut

mengelusi kolom. Dalm hal ini pelarut yang pertama kali digunakan adalah pelarut non polar

untuk mengelusi komponen yang kurang polar. Pelarut yang lebih polah ditambahkan untuk

mengelusi komponen yang lebih polar juga.