Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN KASUS

MASTOIDITIS KRONIK

Oleh

ANGGA DOMINIUS
I 11112063
Pembimbing
dr. Muslim M. Amin, Sp. THT-KL

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
TANJUNGPURA
RSUD DOKTER ABDUL AZIS
1
SINGKAWANG

2017
LEMBAR PERSETUJUAN

Telah disetujui Laporan Kasus dengan judul :

MASTOIDITIS KRONIK

Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan

Kepaniteraan Klinik Ilmu Telinga Hidung dan Tenggorokan

Pembimbing, Singkawang, Juni 2017

dr. Muslim, Sp. THT-KL

2
Angga Dominius

NIM: I 111 12 063

BAB I
PENDAHULUAN

Mastoiditis adalah proses peradangan yang melibatkan sel-sel mastoid


pada tulang temporal. Mastoiditis umumnya merupakan komplikasi dari otitis
media. Hal ini dikarenakan adanya hubungan antara telinga tengah dan sel-sel
udara mastoid, inflamasi pada telinga tengah juga dapat mempengaruhi mastoid.(1)
Insidensi mastoiditis tertinggi pada daerah berkembang dan pada anak
kecil, terutama dengan usia < 2 tahun dengan rata-rata anak usia 12 bulan.
Namun, pada dasarnya mastoiditis dapat terjadi pada orang dengan usia berapa
pun. Kejadian mastoiditis ini berhubungan dengan penggunaan antibiotik yang
tidak efektif pada penderita otitis media akut.(2)
Mastoiditis bisa bersifat akut maupun kronik. Mastoiditis akut biasanya
berhubungan dengan otitis media akut, sedangkan mastoiditis kronik berhubungan
dengan kolesteatoma. Masoiditis juga dapat menyebabkan komplikasi yang
melibatkan struktur yang ada di sekitarnya, seperti telinga dalam, nervus facialis,
tulang temporal hingga ke otak.(3)

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Mastoiditis adalah proses peradangan yang melibatkan sel-sel mastoid
pada tulag temporal. Mastoiditis biasanya terjadi karena terjadinya komplikasi
dari otitis media.(4)
Mastoiditis dapat bersifat akut, yaitu mastoiditis insipien yang merupakan
mastoiditis dengan periosteitis dengan karakteristik purulen pada rongga mastoid
dan mastoiditis koalesen atau mastoiditis akut osteitis dengan karaakteristik
hilangnya septa tulang antara sel-sel udara mastoid sehingga menyebabkan
terbentuknya ruang abses dan diseksi pus ke darah di sekitarnya.(4,5)
Mastoiditis juga ada yang bersifat subkronik, yaitu infeksi mastoid dan
telinga tengah low grade yang menetap yang menyebabkan destruksi septa tulang.
Sedangkan, mastoiditis kronik merupakan infeksi supuratif sel-sel udara mastoid
yang berlangsung selama hitungan bulan hingga tahun. Mastoiditis kronik
biasanya berhubungan dengan otitis media supuratif kronik dan khususnya dengan
pembentukan kolesteatoma.(5,6)

2.2. Epidemiologi
Mastoiditis paling sering terjadi pada anak-anak terutama yang berada di
negara-negara berkembang. Meskipun mastoiditis dapat menyerang usia mana
saja, namun paling sering terjadi pada anak dengan usia di bawah dua tahun.
Biasanya juga berhubungan dengan penurunan sistem kekebalan seseorang dan
hiegenitas yang kurang baik.(7)

2.3. Etiologi
Penyebab terbesar mastoiditis adalah otitis media, atau infeksi campuran
bakteri dari meatus auditoris eksternal, kadang berasal dari nasofaring melalui
tuba eustachius saat infeksi saluran napas atas. Organisme penyebab mastoiditis

4
antara lain Streptococcus pneumoniae, Streptococcus beta-haemolotycus group A,
Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes, Moraxella catarrhalis,
Haemophillus influenza, Pseudomonas aeruginosa, Mycobacterium sp.,
Aspergillus fumigates dan Nocardia asteroides.(8)

2.4. Patofisiologi
Mastoiditis akut biasanya merupakan komplikasi dari otitis media. Hal ini
dikarenakan adanya hubungan antara telinga tengah dan sel-sel udara mastoid,
serta proses inflamasi yang terjadi pada telinga tengah ketika terjadi infeksi akan
mempengaruhi sel-sel mastoid yang secara anatomi jaraknya berdekatan. Pada
mastoiditis akan terjadi akumulasi purulen dikarenakan infeksi yang terjadi
tersebut.(5,7)
Penyumbatan antrum oleh inflamasi mukosa menimbulkan infeksi dari sel-
sel udara dengan cara menghambat aliran udara kembali dari sisi telinga tengah.
Mastoiditis dapat menembus antrum dan meluas ke struktur sekitarnya seperti
meningens, sinus sigmoid, otot sternokleidomastoid, arteri karotis interna, vena
jugularis, dan otak. Hal ini yang menyebabkan tingginya angka morbiditas pada
kejadia mastoiditis.(6,8)
Tabel 1. Mikroorganisme penyebab mastoiditis

5
Berdasarkan progesifitasnya, mastoiditis dapat dibagi menjadi lima tahap.
Pertama, hiperemis pada lapisan mukosa sel-sel udara mastoid. Kedua, transudasi
dan eksudasi cairan atau nanah dalam sel. Ketiga, nekrosis tulang yang
disebabkan oleh hilangnya vaskularisasi dari septa. Keempat, hilangnya dinding
sel dengan peleburan ke dalam rongga abses. Kelima, terjadi proses inflamasi
yang berlanjur ke struktur di sekitarnya.(8,9)
Infeksi akut pada sel-sel udara mastoid dapat menyebar melalui venous
channels, yang menyebabkan terjadinya inflamasi pada periosteum/osteotitis,
yang akan merusak trabekula tulang yang membentuk sel-sel mastoid, pada
kondisi ini yang disebut mastoiditis koalesen. Mastoiditis koalesen pada dasranya
merupakan empiema pada tulang temporal. Pus yang dihasilkan mengalir melalui
rute (1) penyaluran melalui antrum yang secara alami yang menghasilkan
penyembuhan spontan, (2) ke lateral ke permukaan prosesus mastoideus yang
menyebabkan abses subperiosteal, (3) secara anterior, membentuk abses di
belakang daun telinga atau di antara otot sternokleidomastoideus dari leher, yang
menghasilkan abses Bezold, secara medial ke sel udara petrosus pada tulang
temporal, yang disebut petrositis, (5) posterior ke tulang oksipital, yang
menyebabkan osteomielitis dari kalvaria atau abses Citelli.(9)
Mastoiditis kronik umumnya merupakan komplikasi dari otitis media
kronik atau matoiditis akut yang tidak mendapat terapi yang adekuat. Membran
timpani yang tidak intak akan menyebabkan spesies mikroba di meatus akustikus
eksternal menuju ke telinga tengah, dan pada akhirnya ke tulang mastoid.
Organisme ini menyebabkan inflamasi yang menetap yang biasanya tidak dapat
diobati dengan agen terapeutik konvensional pada otitis media akut.(9,10)
Seperti kebanyakan infeksi, baik itu faktor host atau fakrot mikrobiologi
mempengaruhi perkembangan dari mastoiditis. Faktor host termasuk imunitas
mukosa, anatomi tulang temporal, imunitas sistemik. Faktor mikrobiologi berupa
resistensi antimikroba, kemampuan invasif mikroba, dan mekanisme perlindungan
dari mikroba itu sendiri.(6,7)

2.5. Gejala Klinis

6
Gejala klinis bervariasi tergantung umur dan tahap infeksi. Riwayat otorea
yang menetap lebih dari tiga minggu biasanya merupakan tanda terlibatnya proses
mastoid. Umumnya otorea bersifat mukoid dan purulen.(6,9)
Demam biasanya tinggi, berhubungan dengan otitis media akut. Nyeri
telinga yang biasanya memberat terutama pada malam hari. Nyeri yang menetap
merupakan pertanda dari penyakit mastoid. Hal ini sangat sulit dinilai pada pasien
dengan usia yang sangat muda. Nyeri juga dirasakan pada kepala. Hilangnya
pendengaran biasanya terjadi pada semua proses yang melibatkan telinga tengah.
Pada bayi, harus diperhatikan riwayat nonspesifik dari infeksi yang konsisten,
seperti tidak mau makan, demam, iritabilitas atau diare.(9,10)

Gambar 2. Mastoiditis akut


2.6. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik maupun
pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis ditemukan adanya keluhan spserti keluar
cairan dari telinga, demam, nyeri pada telinga, hilangnya pendengaran. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan eritem dan lunak pada belakang daun telinga dan
abnormalitas dari membran timpani. Pada anak lebih dari dua tahun, pinna
biasanya deviasi upward dan outward, dikarenakan oleh proses inflamasi yang
berkumpul pada prosesus mastiodeus.(10)
Pada pemeriksaan otoskopi, membran timpani biasanya merah, menonjol
dan berkurang mobilitasnya, tetapi bisa normal pada 10% kasus. Pada mastoiditis
kronik biasanya ditemukan membran timpani perforasi, kemerahan, edema dan
sensitif pada retroaurikular.(9)

7
Pada pemerikasaan otomikroskopik dilakukan untuk mengevaluasi otorea
yang kronik. Prosedur ini membutuhkan anestesi umum, dengan keuntungan
dapat mendeteksi adanya kolesteatoma, retraction pocket, jaringan granulasi,
polip, atau benda asing. Sebuah spesimen dari telinga tengah tanpa adanya
kontaminasi dari meatus akustikus eksterna akan dilakukan pemeriksaan Gram,
pemeriksaan tahan asam, kultur aerob atau anaerob. Biopsi dilakukan jika terdapat
kecurigaan rabdomiosarkoma atau neurobalstoma yang berhubungan dengan otitis
media kronik atau mastoiditis kronik dengan lumpuhnya saraf kranial.(9)
Pemeriksaan radiologi CT-Scan dilakukan untuk menilai perluasan dari
mastoiditis. MRI baik dalam menilai jaringan lunak serta komplikasinya.(9)

Gambar 3. CT-Scan pada mastoiditis

2.7. Terapi(11)
Pasien mastoiditis dapat diberikan terapi medikamentosa jika tidak ada
gambaran keterlibatan intrakranial, tidak ada fluktuasi postaurikular, tidak ada
destruksi sel-sel udara mastoid,atau mastoiditis tanpa adanya keloesteatoma.
Terapi medikamentosa berupa antibiotik parenteral yang sesuai dengan kultur dan
sensitivitas. Dapat pula diberikan terapi empirik seperti golongan sefalosproin
generasi III dan metronidazole.
Pada mastoiditis dapat pula dilakukan tindakan invasif atau operasi jika
ditemukan adanya komplikasi intrakranial, adanya fluktuasi postauricular dan
abses subperiosteal, mastoiditis akut koalesen, kegagalan terapi antibiotik adekuat
selama 48-7 jam, otorea yang menetap lebih dari 2 minggu dengan pengobatan

8
adekuat, dan kolesteatoma. Tindakan operasi dapat berupa insisi drainase dari
abses mastoid dan miringitomi hingga dilakukan open mastoidektomi atau
kortikal mastoidektomi.

2.8. Komplikasi
Mastoiditis dapat menimbulkan beberapa komplikai berupa hilangnya
pendengaran, facial nerve palsy, osteomielitis, Gradenigo syndrome, meningitis,
abses otak, empiema subdural, trombosis sinus sigmoid.(4,7)

2.9. Prognosis
Prognosis mastoiditis pada umumnya baik jika mendapatkan penanganan
yang adekuat dan tidak ada keterlibatan nervus fasialis, vestibulum, dan struktur
intrakranial.(5,6)

BAB III

9
PENYAJIAN KASUS

3.1. Identitas Pasien


Nama : An. W
Umur : 12 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Jl. Tani Gg. Keluarga 1 Singkawang Tengah
Agama : Islam
No. RM : 103333

3.2. Anemnesis
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dan alloanamnesis terhadap Ayah
pasien.
Keluhan utama
Benjolan di belakang daun telinga kiri
Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang dengan keluhan benjolan di belakang telinga kiri sejak 2
bulan sebelum masuk rumah sakit. Benjolan muncul sebesar sekitar 2x2 cm
kemudian membesar menjadi 3x4 cm. Menurut keterangan Ayah pasien, awalnya
benjolan berwarna merah dan kenyal, nyeri bila ditekan, kemudian pada saat itu
anak sering demam dan mengeluh nyeri pada liang telinga dalam yang membuat
sulit tidur pada malam hari, 5 hari setelah itu telinga kiri mulai keluar cairan putih
kekuningan berbau. Ayah pasien tidak membawa berobat ke dokter hanya
menggunakan obat herbal yang diminum selama 1 bulan. Setelah itu benjolan
mulai menyusut, semakin keras dan nyeri mulai hilang, nyeri telinga juga mereda.
Saat ini pasien mengeluhkan penurunan pendengaran telinga kiri dan
benjolan yang tidak nyeri tersebut. Kadang sering keluar cairan putih pada telinga
kiri namun dapat berhenti sendiri. Pasien juga kadang kadang demam namun
hanya diobati dengan paracetamol dan obat amoxicillin yang didapatkan dari
puskesmas.

10
Pasien juga sering mengeluhkan batuk, pilek dan demam terutama satu
tahun terakhir ini. Namun biasanya pasien hanya berobat dengan bidan atau
dokter umum di puskesmas.
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat ISPA diakui, riwayat alergi, hipertensi dan diabetes melitus disangkal.
Riwayat penyakit keluarga
Riwayat alergi, hipertensi, diabetes melitus dan keluhan yang serupa disangkal.
Riwayat sosial ekonomi
Pasien belum bekerja. Pasien merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ayah
pasien merupakan karyawan swasta dan ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga.

3.3. Pemeriksaan Fisik


Keadaan Umum
Tampak sakit sedang
Kesadaran
Compos Mentis (E4V5M6, GCS 15)
Tanda-Tanda Vital
Tekanan darah : 100/70 mmHg
Frekuensi Nadi : 82x/menit
Frekuensi Nafas : 20x/menit
Suhu : 37,6oc
Nyeri : Tak tampak nyeri
Status Generalis
Kepala : Jejas (-), hematom (-), nyeri tekan (-)
Mata : conjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), pupil isokor
3 mm/3 mm
Telinga: Benjolan di bawah daun telinga.
Liang telinga lapang, serumen (-), sekret (-), membran timpani
Perforasi daerah membrane pars tensa central, tampak kering
Hidung : Cavum nasi lapang, konka inferior eutrofi, septum deviasi (-),
sekret (-)

11
Tenggorokan : Tonsil T1/T1, hiperemis (-), kripta melebar (-).
Arkus faring simetris, uvula di tengah, faring posterior belum
dapat dievaluasi.
Leher : Pembesaran KGB (+) submandibula, nyeri tekan KGB (-)
Jantung : S1 S2 reguler, gallop (-), murmur (-)
Paru : Vesikuler (+/+), wheezing (-/-), rhonki (-/-)
Abdomen : Datar, soepel, bising usus (+) normal, nyeri tekan (-), timpani
Ekstremitas : Akral hangat, CRT <2, edema (-/-)

3.4. Pemeriksaan penunjang


Pemeriksaan rontgen
- Mastoid air cell kiri tampak berkurang
- Tidak tampak lesi litik maupun destruksi tulang
Kesan: Mastoiditis kiri tanpa gambaran destruksi tulang

3.5. Diagnosa kerja


Mastoiditis sinistra

3.6. Terapi
Medikamentosa
- Co-amoxiclav sirup 2 x 1 cth
- Paracetamol sirup 3x1 cth (bila nyeri)
Nonmedikamentosa
-Jaga telinga agar tidak keluar cairan sesuai dengan edukasi gendang telinga pecah

3.7. Prognosis
Ad functionam : Dubia ad bonam
Ad sanactionam : Dubia ad bonam
Ad vitam : Dubia ad bonam
BAB IV
PEMBAHASAN

12
Pada kasus ini merupakan seorang perempuan dengan usia 12 tahun.
Mastoiditis lebih sering terjadi pada anak-anak dibandingkan dengan usia dewasa.
Hal ini disebabkan sistem imun yang belum sempurna dan anak lebih terkena
infeksi saluran napas atas yang pada akhirnya dapat menimbulkan keluhan seperti
mastoiditis. Secara anatomi juga pada anak lebih rentan mengalami infeksi telinga
tengah yang dapat berkembang menjadi mastoiditis. Mastoiditis juga sering terjadi
di negara berkembang dengan status ekonomi menengah ke bawah yang
berhubungan dengan higienitas pasien itu sendiri.
Gejala mastoiditis biasanya didahului dengan adanya keluhan infeksi
telinga tengah, pada pasien ini memiliki riwayat infeksi telinga tengah dimana ada
periode nyeri telinga tengah yang sangat berat sehingga membuat anak demam,
juga pasien mengaku pernah keluar cairan putih kekuningan pada telinga tengah
yang diiringi meredanya nyeri telinga. Pasien juga menyatakan pernah ada
keluhan nyeri di daerah belakang telinga di sertai benjolan yang semakin
membesar, terutama di daerah mastoid. Hal ini dimungkinkan karena telah terjadi
reaksi inflamasi pada daerah mastoid yang kebanyakan dikarenakan terjadinya
proses infeksi.
Pada pemeriksaan fisik saat ini juga ditemukan benjolan dan yang tidak
nyeri pada daerah mastoid. Hal ini sejalan dengan proses inflamasi yang telah
berjalan kronik dimana inflamasi masih berjalan namun sudah sangat meredah
dari semula. Hal ini ditunjang dengan pemeriksaan radiologi dimana ditemukan
destruksi dari sel-sel udara di daerah mastoid. Normalnya pada daerah mastoid
akan menunjukkan adanya gambaran seperti gambaran sarang tawon pada
pemeriksaan radiologi yang menunjukkan keadaan dari sel-sel udara masih dalam
batas normal. Selain itu dengan tidak ditemukannya destruksi dari struktur tulang
lain mengindikasikan belum adanya komplikasi atau dengan kata lain proses
peradangan atau infeksi mastoid atau yang kita sebut mastoditis telah memasuki
proses kronik. Sehingga diagnosis mastoiditis kronik sinistra merupakan diagnosis
yang paling tepat pada kasus ini.
Pada pengobatan pasien dihimbau untuk melakukan tindakan menjaga agar
telinga tidak keluar cairan lagi sesuai edukasi untuk membrane timpani yang

13
robek kemudian pasien ini diberikan antibiotik untuk mengobati infeksi yang telah
lama terjadi dan belum pernah mendapatkan terapi yang adekuat, pasien juga
diberikan terapi analgesic yang diminum bila ada keluhan nyeri saja. Antibiotik
yang diberikan adalah co-amoxiclav yang merupakan obat golongan penisilin
dengan klavikunat yang menjadi salah satu pilihan pada kasus mastoiditis. Hal ini
dinilai sudah tepat. Namun, pemberian antibiotik harus diawasi dan jika dalam
rentang waktu yang sesuai belum didapatkan perbaikan klinis bisa dipikirkan
resistensi antibiotik dan pada pasien bisa diberikan agen antibiotik dari golongan
yang lain. Pemberian analgesik berupa paracetamol dinilai merupakan analgesik
yang tepat dan aman terutama pada anak-anak. Pemberian analgesik bisa
dihentikan nantinya jika keluhan nyeri sudah hilang. Selain itu, paracetamol juga
memiliki efek antipiretik sehingga jika pada pasien terjadi demam sebagai salah
satu respon dari terjadinya infeksi, hal ini dapat diatasi.
Untuk saat ini sambil diberikan terapi, perlu dilakukan pemantauan pada
pasien mengingat bahaya komplikasi yang dapat terjadi jika pengobatan yang
didapat kurang adekuat. Terapi medikamentosa lebih dipilih pada kasus ini karena
belum didapatkan adanya indikasi untul operasi.

BAB V
KESIMPULAN

14
Pasien perempuan usia 12 tahun datang dengan keluhan benjolan tidak
nyeri di daerah belakang telinga kiri.. Ditemukan riwayat infeksi telinga tengah
yang jelas pada pasien sekitar 2 bulan yang lalu. Dari pemeriksaan fisik,
didapatkan kelainan perforasi membrane timpani telinga kiri dengan secret
negative dan benjolan tidak nyeri bila ditekan dengan ukuran 3x4 cm. Pada
pemeriksaan radiologi ditemukan kerusakan pada sel-sel udara mastoid tanpa
disertai kerusakan struktur tulang yang lain. Diagnosis kerja pada pasien ini yaitu
mastoiditis kronik sinistra. Terapi pada pasien ini berupa pemberian antibitoik dan
analgesik. Dilakukan pemantauan pada perkembangan pasien dan dianjurkan
pasien untuk kontrol ulang sehingga pengobatan yang telah diberikan dapat
dievaluasi.

DAFTAR PUSTAKA

15
1. Devans PP, et al. Mastoiditis. Diakses dari http://emedicine.medscape.com
/article/2056657-overview pada tanggal 12 Juni 2017.
2. Adams G, et al. Boeis: Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta. Buku Penerbit
Kedokteran EGC. 2012.
3. Beito B, Perez G. Acute Mastoiditis: Increase of Incidence and
Controverstion oin Antibiotic Treatment. 2006.
4. Drake RL, Vogl AW, Mitchell AWM. Grays Anatomy for Students 2nd ed.
Philadelphia. Chircill Livingston. 2009.
5. Soepardi EA, Iskandar N, Bahruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Leher dan Kepala edisi 7. Jakarta.
Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Univesitas Indonesia. 2012.
6. Ballinger PW and Frank ED. Merrills Atlas of Radiographic Positions and
Radiologic Procedure (vol 1-3) 10th ed. St. Louis, MO. Mosby. 2003.
7. Janner O. Otitis Eksterna, Otitis Media and Mastoiditis in Mandell, Douglas,
and Bennets Principles and Practice of Infection Disease 7th ed. Elsevier
inc. 2010.
8. Ellen RW and James HC. Mastoiditis in Principles and Practice of Pediatric
Infection Disease 4th ed. 2012.
9. James AP and Moore GP. Mastoiditis in Rosens Emergency Medicine 8th
ed. 2014.
10. Ivan P, et al. Magnetic and Regsonance Imaging in Acute Mastoiditis. Acta
Radiologist. 2014.
11. Raouf AM, Ashour B, Gawad AA. Update Management Strategies for
Mastoiditis and Mastoid Abcess. Egyptian Journal of ENT and Allied
Science. 2012. 13. 43-48.

16