Anda di halaman 1dari 36

Kode/Nama Rumpun Ilmu: 770/773 Pendidikan Ilmu

Pengetahuan Fisika

USULAN
PENELITIAN DOSEN PEMULA

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR ELEKTRONIK FISIKA


BERBASIS SOSIAL MEDIA (BALESIA) UNTUK
MENINGKATKAN NILAI-NILAI KARAKTER DAN
MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA PRODI TEKNIK
KOMPUTER POLTEK GANESHA

TIM PENGUSUL
Ni Putu Ayu Hervina Sanjayanti, M.Pd (NIDN. 0811108901)
Made Prima Restami, M.Pd (NIDN. 0002127805)

POLITEKNIK GANESHA GURU


Juni, 2017
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL
HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................. ii
RINGKASAN ................................................................................................ iii
BAB 1. PENDAHULUAN ............................................................................ 1
1.1 Latar belakang.......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................
3
1.3 Tujuan ...................................................................................................... 3
1.4 Manfaat .................................................................................................... 4
BAB 2. KAJIAN PUSTAKA ........................................................................ 4
2.1 Modul .......................................................................................................
4
2.2 Pembelajaran IPA terpadu ....................................................................... 5
2.3 Pembelajaran Saintifik .............................................................................
6
2.4 Nilai-nilai karakter ...................................................................................
7
2.5 Literasi sains ............................................................................................ 8
2.6 Kajian hasil penelitian yang relevan ........................................................
10
2.7 Kerangka berpikir .................................................................................... 11
BAB 3. METODE PENELITIAN .................................................................
12
3.1 Jenis dan rancangan penelitian ................................................................ 12
3.2 Subjek penelitian...................................................................................... 14
3.2 Metode dan teknik pengumpulan data .....................................................
14
3.3 Teknik analisis data ................................................................................. 14
3.4 Luaran yang dijanjikan ............................................................................
15
BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN .............................................
15
4.1 Anggaran biaya ........................................................................................ 15
4.2 Jadwal penelitian...................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 17
LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................ 20

ii
RINGKASAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan dan keefektifan modul


pembelajaran IPA terpadu yang dirancang dengan pendekatan saintifik terhadap
pengembangan nilai-nilai karakter dan literasi sains siswa SMP. Jenis penelitian yang
digunakan adalah R & D (research and development) model 4D dengan tahapan
define (pendefinisian), design (perencanaan), development (pengembangan) dan
disseminasi (penyebaran). Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data
pada penelitian ini meliputi instrumen validasi modul pembelajaran IPA terpadu,
lembar observasi nilai-nilai karakter, dan tes literasi sains tipe pilihan ganda. Data
hasil validasi modul dan data hasil observasi nilai-nilai karakter akan dianalisis
melalui teknik analisis deskriptif. Data tes literasi sains akan dianalisis dengan
menggunakan independent sample t-test.

Kata Kunci: modul pembelajaran IPA terpadu, pendekatan saintifik, nilai-nilai


karakter, literasi sains

iii
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Selama tujuh tahun terakhir sejak tahun 2004, Indonesia telah menerapkan
sebanyak tiga kurikulum pendidikan. Ketiga kurikulum yang dimaksud meliputi
KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan) dan Kurikulum 2013. Secara empiris, banyak hal yang melatarbelakangi
terjadinya proses penyempurnaan kurikulum tersebut. Dua diantaranya terkait
dengan nilai-nilai karakter siswa melalui pendidikan karakter dan literasi sains siswa.
Terkait dengan nilai-nilai karakter, Kemdikbud (2010) menyebutkan bahwa terjadi
kecenderungan generasi muda menyelesaikan persoalan dengan langkah yang tidak
tepat seperti kekerasan (tawuran), pencurian, pencurian dengan pemaksaan dan
berbagai tindak kriminal lainnya. Walaupun belum ada kajian ilmiah bahwa masalah
tindak kriminal tersebut bersumber dari kurikulum, namun sejumlah ahli pendidikan
menyatakan bahwa salah satu akar masalah yang menyebabkan adalah implementasi
kurikulum yang terlalu menekankan pada aspek kognitif. Hasilnya terjadi rasa
keterkungkungan siswa di ruang belajar dengan kegiatan yang seringkali dianggap
membosankan dan kurang menantang. Selanjutnya terkait dengan literasi sains,
Kurnia et al. (2014) menyebutkan bahwa dalam literasi sains di ajang PISA,
Indonesia menempati peringkat 64 dari 65 negara. Hal ini mengindikasikan bahwa
kemampuan siswa Indonesia, khususnya di bidang sains masih cenderung pada aspek
mengenal sekumpulan produk sains dan belum mampu bernalar dengan
memanfaatkan produk sains untuk menjelaskan suatu fenomena ilmiah.
Mata pelajaran IPA SMP, merupakan salah satu mata pelajaran yang secara
teoritis bisa mengembangkan nilai-nilai karakter siswa dan juga dapat melatih literasi
sains siswa. Hal ini didasarkan pada hakikat IPA/sains yang menyatakan bahwa sains
sebagai produk dan sains sebagai proses. Mengacu pada dua hal tersebut, maka
pembelajaran IPA berpendekatan saintifik yang direkomendasikan pada kurikulum
2013 sudah sangat tepat. Melalui proses 5 M (mengamati, menanya, mengumpulkan
data, mengasosiasi dan mengomunikasi) pada pendekatan saintifik akan memberikan
pengalaman belajar aktif yang luar biasa bagi siswa karena melibatkan aspek berpikir
dan keterampilan psikomotor (Wieman & Gilbert, 2015). Selain itu karena
menekankan pada proses, maka ada penanaman sikap-sikap ilmiah pada siswa.

1
Olasehinde et al. (2014) menyatakan bahwa sikap ilmiah merupakan kemampuan
seseorang untuk bereaksi secara konsisten, rasional dan objektif ketika menemukan
sebuah permasalahan. Seseorang dengan sikap ilmiah yang baik tentu akan mampu
menyikapi serta memecahkan masalah dengan baik tanpa merugikan orang lain.
Mulai dari sikap ilmiah inilah dapat dijadikan sebagai dasar untuk mengembangkan
nilai-nilai karakter pada siswa, mengingat contoh sikap ilmiah dalam prilaku siswa
sehari-hari beririsan dengan sikap-sikap dalam nilai karakter.
Secara empiris atau berdasarkan kenyataan yang ada, dapat diduga
implementasi kurikulum 2013 yang menekankan pembelajaran saintifik dengan
penanaman nilai karakter siswa belum sepenuhnya berjalan maksimal. Terdapat
beberapa faktor-faktor masalah yang menyebabkan belum berjalan maksimalnya
implementasi kurikulum 2013, salah satunya adalah sumber belajar yang dijadikan
pegangan oleh guru maupun siswa. Adapun kajian penelitian yang mendukung
dugaan bahwa faktor masalah salah satunya adalah sumber belajar yaitu sebagai
berikut. Rusilowati (2014) menyebutkan bahwa sejumlah buku ajar IPA yang
digunakan di sekolah-sekolah kota Semarang memiliki literasi sains yang kurang
proporsional. Lebih banyak buku yang teramati, dari segi konten cenderung
menitikberatkan pada pengetahuan sains meliputi fakta, konsep, prinsip, hukum dan
lain sebagainya. Konten interaksi sains terhadap teknologi dan masyarakat sangat
sedikit bahkan ada buku yang samasekali tidak menyajikannya. Kajian penelitian
yang serupa oleh Lailatul et al. (2015) tentang kajian isi buku elektronik sekolah
(BSE) mata pelajaran biologi. Hasilnya buku BSE mata pelajaran biologi paling
banyak menyajikan sains sebagai batang tubuh pengetahuan. Hanya sedikit
persentase konten buku menyajikan tentang sains sebagai cara untuk menyelidiki dan
sains sebagai cara untuk berpikir. Asri & Lilik (2015) menyebutkan bahwa
berdasarkan hasil observasi, buku ajar IPA SMP dengan kurikulum 2013 yang
digunakan saat ini, dari segi konten masih jauh dari ideal. Ideal menurut peraturan
pemerintah yang menekankan materi IPA harus disajikan secara terpadu. Sementara
buku ajar yang tersedia secara nasional masih cenderung parsial antara materi kimia,
fisika dan biologi.
Berdasarkan pokok sumber masalah yang ditemukan, maka upaya satu-
satunya mengatasi berbagai keterbatasan buku ajar dalam kurikulum 2013 yaitu

2
mengembangkan sebuah produk atau alat yang dirancang untuk memecahkan
permasalahan yang ada, terutama tentang pendekatan saintifik, nilai-nilai karakter
siswa dan literasi sains. Produk/alat yang dimaksud yaitu sebuah modul
pembelajaran IPA terpadu. Modul ini dirancang dengan konten IPA terintegrasi dan
memiliki fitur aktivitas siswa yang menekankan pada pendekatan saintifik, sehingga
diharapkan ketika diimplementasikan pada pembelajaran, nilai-nilai karakter siswa
dan literasi sains siswa dapat ditingkatkan. Secara umum, mengacu pada pokok
permasalahan dan solusi yang ditawarkan maka dalam usulan penelitian ini dapat
dirumuskan sebuah penelitian dengan judul pengembangan modul pembelajaran
IPA terpadu berpendekatan saintifik untuk meningkatkan nilai-nilai karakter dan
literasi sains siswa SMP.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat
dirumuskan tiga permasalahan yaitu sebagai berikut.
1. Apakah modul pembelajaran IPA terpadu berpendekatan saintifik yang telah
dikembangkan, layak untuk diterapkan dalam pembelajaran IPA SMP?
2. Apakah modul pembelajaran IPA terpadu berpendekatan saintifik yang telah
dikembangkan efektif dalam meningkatkan nilai-nilai karakter siswa SMP?
3. Apakah modul pembelajaran IPA terpadu berpendekatan saintifik yang telah
dikembangkan efektif dalam meningkatkan literasi sains siswa SMP?

1.3 Tujuan
1. Untuk menganalisis kelayakan modul pembelajaran IPA terpadu berpendekatan
saintifik sebelum diterapkan pada pembelajaran IPA SMP
2. Untuk menganalisis keefektifan modul pembelajaran IPA terpadu berpendekatan
saintifik terhadap peningkatan nilai-nilai karakter siswa SMP
3. Untuk menganalisis keefektifan modul pembelajaran IPA terpadu berpendekatan
saintifik terhadap literasi sains siswa SMP

3
1.4 Manfaat
1. Manfaat Teoretis
Secara teoretis, hasil penelitian ini dapat memberikan suatu justifikasi bahwa
pendekatan saintifik dalam pembelajaran IPA terpadu sangat penting bagi siswa
terutama dalam penanaman nilai-nilai karakter dan literasi sains. Kedua variabel
tersebut sangat diperlukan oleh siswa terutama saat terjun dan berinteraksi dengan
masyarakat sekitar.
2. Manfaat Empiris
Produk yang dihasilkan dari penelitian ini diharapkan dapat membantu
kekurangan dan keterbatasan buku ajar IPA sebelumnya, serta dapat
diimplementasikan pada kelompok yang lebih luas oleh guru-guru IPA SMP. Selain
itu juga diharapkan produk yang dihasilkan tersebut mempermudah guru dalam
mengimplementasikan pembelajaran IPA terpadu yang mengacu pada kurikulum
2013 dengan pendekatan saintifik sebagai pendekatan belajar yang
direkomendasikan.

1.5 Luaran Penelitian


Adapun luaran yang ditargetkan dalam usulan penelitian ini yaitu sebagai
berikut. (1) Prosiding dalam seminar nasional. (2) Buku ajar atau modul
pembelajaran IPA terpadu yang dapat diimplementasikan pada siswa SMP.

BAB 2. KAJIAN PUSTAKA

2.1 Modul
Modul merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara utuh dan
sistematis, di dalamnya memuat seperangkat pengalaman belajar yang terencana dan
didesain untuk membantu siswa menguasai tujuan belajar yang spesifik (Daryanto,
2013). Modul juga dapat diartikan sebagai materi pelajaran yang disusun dan
disajikan secara tertulis sedemikian rupa sehingga pembacanya diharapkan dapat
menyerap sendiri materi tersebut atau pembaca dapat belajar secara mandiri.
Adapun beberapa karakteristik utama modul yang membedakannya dengan
bahan ajar lainnya adalah sebagai berikut. (1) Self instruction, konsep ini
memungkinkan seseorang belajar secara mandiri dan tidak tergantung pada pihak
4
lain. (2) Self contained, modul dikatakan self contained apabila seluruh materi
pembelajaran yang dibutuhkan termuat dalam modul tersebut. Tujuan dari konsep ini
adalah memberikan kesempatan kepada siswa mempelajari materi secara tuntas,
karena materi dikemas ke dalam satu kesatuan yang utuh. (3) Berdiri sendiri (stand
alone), merupakan karakteristik modul yang yang tidak tergantung pada bahan ajar/
media lain, atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan bahan ajar/ media lain.
(4) Adaptif, modul hendaknya memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap
perkembangan ilmu dan teknologi serta fleksibel/ luwes digunakan di berbagai
perangkat keras (hardware). (5) Bersahabat/akrab (user friendly), setiap instruksi dan
paparan iniformasi yang ditampilkan bersifat membantu dan bersahabat dengan
pemakainya, termasuk kemudahan pemakai dalam merespon dan mengakses sesuai
dengan keinginan. Penggunaan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti, serta
menggunakan istilah yang umum digunakan, merupakan salah satu bentuk user
friendly.

2.2 Pembelajaran IPA Terpadu


Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang
alam secara sistematis sehingga IPA bukanlah hanya sekedar penguasaaan
sekumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip -
prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan (Trianto, 2010). Tujuan
utama pembelajaran IPA adalah mengembangkan individu-individu yang melek
sains ( memiliki literasi sains yang tinggi) sehingga mampu menggunakan aspek-
aspek fundamental IPA dalam memecahkan masalah sehari-hari dan dalam
pengambilan keputusan umum maupun pribadi (Daryanto, 2014). Proses
pembelajaran IPA seyogyanya lebih menekankan pada pemberian pengalaman
langsung untuk mengembangkan kompetensi siswa agar mampu memahami alam
sekitar secara ilmiah sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Pembelajaran IPA terpadu diawali dengan penentuan tema. Penentuan tema
tanpa mengesampingkan standar kompetensi dan kompetensi dasar IPA serta sesuai
dengan kehidupan sehari-hari (Daryanto, 2014). Salah satu kunci keberhasilan
pembelajaran IPA terpadu yang terdiri atas beberapa bidang kajian (Fisika, Kimia
dan Biologi) adalah menyediakan lingkungan belajar yang menempatkan siswa

5
mendapat pengalaman belajar yang dapat menghubungkaitkan konsep-konsep dari
berbagai bidang kajian IPA tersebut. Penentuan tema dalam pembelajaran IPA
terpadu akan membantu siswa dalam beberapa aspek, antara lain. (1) Siswa yang
bekerja sama dengan kelompoknya akan lebih bertanggung jawab, berdisiplin, dan
mandiri; (2) Siswa menjadi lebih percaya diri dan termotivasi dalam belajar bila
mereka berhasil menerapkan apa yang dipelajarinya; (3) Siswa ebih memahami dan
lebih mudah mengingat karena mereka mendengar, membaca, menulis dan
melakukan kegiatan menyelidiki masalah yang sedang dipelajari; (4) Memperkuat
kemampuan berbahasa siswa; dan (5) Belajar akan lebih baik bila siswa terlibat aktif
melalui tugas proyek, kolaborasi, dan berinteraksi dengan teman, guru dan dunia
nyata (Trianto, 2010).
Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang
memperhatikan dan menyesuaikan pemberian konsep sesuai dengan tingkat
perkembangan siswa dan merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan
siswa baik secara individu maupun berkelompok untuk aktif mencari, menggali,
menemukan konsep serta prinsip keimuan secara holistik (utuh), bermakna, dan
otentik. Adapun tujuan pembelajaran IPA terpadu adalah untuk (1) meningkatkan
efesiensi dan efektivitas pembelajaran IPA; (2) meningkatkan minat dan motivasi
belajar siswa; dan (3) beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus (Puskur,
2007 dalam Trianto, 2010).

2.3 Pembelajaran Saintifik


Pendekatan saintifik merupakan suatu pendekatan yang digunakan dalam
pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan menitikberatkan pada penggunaan
metode ilmiah dalam kegiatan belajar mengajar (Nurlatifah, 2015). Metode ilmiah
pada umumnya melibatkan kegiatan pengamatan/ observasi yang dibutuhkan untuk
perumusan hipotesis atau mengumpulkan data. Metode ilmiah dilandasi dengan
pemaparan data yang diperoleh melalui pengamatan atau percobaan. Oleh karena itu,
kegiatan percobaan dapat diganti dengan kegiatan memperoleh informasi dari
berbagai sumber (Sani, 2014).
Pembelajaran saintifik mengajak siswa untuk mengamati berbagai fenomena
yang akrab dengan kehidupan sehari-hari. Melalui proses pengamatan ini, siswa

6
diharapkan dapat menemukan masalah yang berhubungan dengan konsep
pengetahuan yang akan dipelajari. Guru berperan sebagai fasilitator yang
membimbing siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, pemecahan
masalah dan keterampilan kelompok mengidentifikasi masalah, membuat hipotesis,
membuat hipotesis, mencari data, melakukan percobaan, merumuskan solusi terbaik
untuk kondisi dari permasalahan (Asyhari dan Hartati, 2015). Adapun karakteristik
dari pembelajaran saintifik adalah sebagai berikut. (1) berpusat pada siswa; (2)
melibatkan keterampilan proses sains dalam mengkonstruk konsep, hukum atau
prinsip; (3) melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang
perkembangan intelektual khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa; dan
(4) dapat mengembangkan karakter siswa.
Berdasarkan teori Dyer, dapat dikembangkan pendekatan saintifik dalam
pembelajaran yang memiliki komponen proses pembelajaran antara lain. (1)
mengamati; (2) menanya; (3) mencoba/mengumpulkan informasi; (4)
menalar/asosiasi dan (5) membentuk jejaring (komunikasi). Kelima tahapan aktivitas
belajar tersebut didak harus dilakukan dengan prosedur (urutan) yang kaku, namun
dapat disesuaikan dengan pengetahuan yang hendak dipelajari (Sani, 2014).

2.4 Nilai-Nilai Karakter


Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti to mark (menandai) dan
memfokuskan pada bagaimana menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam tindakan
nyata atau perilaku sehari-hari (Wynne dalam Mulyasa,2014). Karakter juga
didefinisikan sebagai kulminasi kebiasaan (habits) yang dihasilkan dari pilihan etik,
perilaku, dan sikap yang dimiliki individu yang merupakan moral yang prima
walaupun ketika tidak seorang pun yang melihatnya (Stedje dalam Yaumi, 2014).
Pendidikan karakter bangsa sebenarnya telah berlangsung lama, jauh sebelum
Indonesia merdeka. Ki Hajar Dewantara (1922) memiliki pandangan tentang
pendidikan karakter sebagai asas Taman Siswa. Namun seiring dengan berjalannya
waktu dan derasnya arus globalisasi informasi dan komunikasi dimana daya
aksesbilitas informasi dan pengetahuan menjadi semakin mudah, dekadensi moral
pun tidak dapat terhidarkan. Berbagai tindakan kemerosotan moral yang terjadi
menunjukkan bahwa ada sesuatu yang hilang dari bangsa ini. Mendikbud

7
memprakarsai perlunya pendidikan karakter sebagai solusi untuk memperbaiki
morak anak bangsa ini (Yaumi, 2014).
Pendidikan karakter merupakan suatu system penanaman nilai-nilai karakter
kepada peserta didik yang meliputi komponen: kesadaran, pemahaman, kepedulian
dan komitmen yang tinggi untuk melakasanakan niai-nilai tersebut, baik kepada
Allah Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesame, lingkungan, maupun masyarakat
dan bangsa secara keseluruhan, sehingga menjadi manusia sempurna sesuai dengan
kodratnya (Mulyasa, 2014). Nilai-nilai karakter dan budaya bangsa Indonesia
bersumber dari ajaran agama, Pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional,
yang terpetakan ke dalam nilai-nilai karakter sebagai berikut ini. (1) Religius; (2)
Jujur; (3) Toleran; (4) Disiplin; (5) Kerja keras; (6) Kreatif; (7) Mandiri; (8)
Demokratis; (9) Rasa ingin tahu; (10) Semangat kebangsaan; (11) Cinta tanah air;
(12) Menghargai prestasi; (13) Bersahabat/komunikatif; (14) Cinta damai; (15)
Gemar membaca; (16) Peduli lingkungan; (17) Peduli social; dan (18) Tanggung
jawab (Yaumi, 2014).

2.5 Literasi Sains


Literasi secara harfiah berasal dari kata literacy yang berarti melek huruf
atau gerakan pemberantasan buta huruf. PISA mendefinisikan literasi sains sebagai
kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi pertanyaan, dan
menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti, dalam rangka memahami serta
membuat keputusan berkenaan dengan alam dan perubahan yang dilakukan terhadap
alam melalui aktivitas manusia.
Literasi sains sangatlah penting. Hal ini disebabkan karena beberapa alasan,
yakni (1) pemahaman sains menawarkan pemenuhan personal dan kegembiraan; dan
(2) Negara-negara dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan dalam kehidupannya
yang memerlukan informasi ilmiah dan cara berpikir ilmiah untuk mengambil
keputusan dan kepentingan orang banyak yang perlu diiformasikan, seperti udara, air
dan hutan. Negara-negara maju sudah membangun literasi sains sejak lama yang
pelaksanaannya terintegrasi dalam pembelajaran.
Bila dihubungkan dengan proses pembelajaran IPA, literasi sains
berhubungan erat dengan bagaimana siswa mampu menghargai alam dengan

8
memanfaatkan sains dan teknologi yang telah dikuasainya (Nisa, 2015).
Pembelajaran IPA yang hanya menekankan pada aspek pemahaman berdasarkan
ingatan dan jarang membangun kemampuan analisis (menerjemahkan,
mengghubungkan, menjelaskan, dan menerapkan informasi) berdasarkan data ilmiah
akan berdampak pada rendahnya literasi sains siswa.
PISA 2006 (OECD dalam Rustaman 2011) menyebutkan terdapat sejumlah
domain literasi sains meliputi pengetahuan ilmiah, konteks, kompetensi dan sikap
yang digambarkan dalam bagan berikut ini

9
Pengetahuan ilmiah
Kompetensi 1. Pengetahuan sains
Konteks 1. Mengidentifikasi isu 2. Pengetahuan tentang
Situasi hidup ilmiah
yang melibatkan 2. Menjelaskan fenomena
sains dan ilmiah Sikap
teknologi 3. Menggunakan fenomena 1. Respon terhadap isu sains
ilmiah 2. Minat
4. Menggunakan bukti ilmiah 3. Mendukung inquiry
ilmiah
4. Tanggung jawab

Gambar 2.5.1. Diagram domain literasi sains


Berdasarkan diagram pada Gambar 2.5.1 dapat dijelaskan sebagai berikut. (1)
Konteks merupakan area aplikasi dari konsep-konsep sains dalam kehidupan
meliputi bidang kesehatan, sumber daya alam, lingkungan, bahaya sains dan
teknologi. Pengaplikasian dari konsep sains tersebut dilakukan secara personal, sosial
dan global. (2) Pengetahuan sains (yang digunakan dalam PISA 2006) meliputi
pengetahuan sains dan pengetahuan tentang sains. Pengetahuan sains meliputi fisika,
biologi, kimia, IPBA serta teknologi yang berbasis sains. Pengetahuan tentang sains
meliputi pengetahuan mengenai inkuiri ilmiah dan penjelasan ilmiah. (3) Sikap yang
digambarkan dalam PISA 2006 menyangkut minat peserta didik terhadap sains,
menyukai inkuiri ilmiah dan motivasi untuk bertanggung jawab. Ketiga domain yang
telah disebutkan sebelumnya merupakan sasaran dari kompetensi ilmiah menurut
PISA 2006. Kompetensi ilmiah tersebut mencakup tiga hal meliputi (1)
mengidentifikasi isu ilmiah, yaitu mengenal isu yang dapat ditangani secara ilmiah,
mengidentifikasi kata kunci untuk mencari informasi ilmiah, mengenal bentuk
penyelidikan ilmiah. (2) Menjelaskan fenomena ilmiah yaitu menerapkan
pengetahuan sains pada situasi-kondisi yang diberikan, mendeskripsikan atau
menafsirkan fenomena ilmiah dan memprediksi perubahan pada fenomena ilmiah.

10
(3) Menggunakan bukti ilmiah yaitu menafsirkan atau menginterpretasi bukti-bukti
ilmiah, menyusun dan mengomunikasikan simpulan, mengidentifikasi asumsi, bukti
dan penalaran di balik simpulan serta menanggapi implikasi sosial dari
perkembangan sains dan teknologi.

2.6 Kajian Hasil Penelitian yang Relevan


Beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan usulan penelitian ini yaitu
sebagai berikut. Asyhari & Risa (2015) dalam penelitiannya tentang profil
peningkatan kemampuan literasi sains siswa melalui pembelajaran saintifik. Hasil
penelitian yang ditunjukkan yaitu meningkatnya profil literasi sains sekelompok
siswa setelah diterapkannya pembelajaran saintifik.
Mawardini et al. (2015) dalam penelitiannya tentang profil literasi sains siswa
SMP pada pembelajaran IPA terpadu tema pencemaran lingkungan. Hasil yang
diperoleh yaitu melalui pembelajaran IPA dengan pendekatan saintifik, rerata literasi
sains siswa secara keseluruhan sebesar 69% dengan kategori cukup dan sikap serta
tanggapan siswa terhadap pembelajaran sangat positif.
Rosa (2015) dalam penelitian pengembangan modul pembelajaran IPA SMP
pada materi tekanan berbasis keterampilan proses sains. Hasil yang diperoleh yaitu
meningkatnya hasil belajar siswa dan keterampilan siswa dalam melaksanakan
eksperimen-eksperimen sederhana.
Cruz (2015) dalam penelitian tentang pengembangan modul sains
ekesperimental untuk meningkatkan keterampilan proses sains terintegrasi. Hasilnya
adalah implementasi modul sains eksperimental yang berbasis pada pembelajaran
inkuiri dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa sekolah menengah
dibandingkan pada saat sebelum diimplementasikan modul sains eksperimental.
Terakhir yaitu penelitian oleh Budimah et al. (2014) tentang pengembangan
modul pembelajaran IPA berbasis karakter materi kalor SMP kelas VII di Bandar
Lampung. Hasil yang diperoleh salah satunya yaitu modul pembelajaran IPA
berbasis karakter, efektif digunakan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran karena
lebih dari 60% siswa menguasai tujuan pembelajaran (mencapai ketuntasan).
2.7 Kerangka Berpikir
Kajian pada latar belakang penelitian, membahas tentang pentingnya nilai-
nilai karakter dan literasi sains siswa SMP terutama pada pembelajaran IPA. Bahkan
oleh pemerintah melalui kurikulum 2013, seyogyanya pembelajaran IPA ditekankan
pada pendekatan saintifik, materi IPA bersifat terpadu mengacu pada tema dan yang
terpenting dapat menanamkan nilai-nilai karakter positif serta meningkatkan literasi
sains siswa. Berdasarkan fakta di lapangan, implementasi kurikulum 2013 masih
belum maksimal dalam mencapai apa yang diharapkan. Salah satu sumber
penyebabnya yaitu keterbatasan bahan ajar IPA yang digunakan oleh guru maupun
siswa. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang terkait, diketahui bahwa rata-
rata buku ajar yang dijadikan pegangan baik oleh guru dari segi konten materi masih
belum terpadu, melainkan masih bersifat parsial antara konsep kimia, fisika maupun
biologi. Selain itu muatan literasi sains pada konten buku ajar masih kurang
proporsional di mana sains sebagai pengetahuan lebih banyak dibandingkan sains
sebagai cara untuk menyelidiki maupun sains sebagai cara untuk berpikir. Selain itu
konten yang memuat hubungan antara sains dengan teknologi maupun masyarakat
masih sangat minim jumlahnya pada buku ajar dan bahkan ada buku ajar yang
samasekali tidak memuatnya.
Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan
mengembangkan sebuah modul pembelajaran IPA Terpadu yang menggunakan
pendekatan saintifik sebagai landasan aktivitas siswa. Modul pembelajaran IPA
terpadu ini dirancang dengan menggunakan tema dan menyajikan materi IPA secara
terintegrasi, menyajikan permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan
STM (sains teknologi masyarakat) dan memuat sejumlah petunjuk aktivitas
pembelajaran IPA yang berpendekatan saintifik lengkap dengan observasi nilai-nilai
karakter siswa. Pada setiap akhir topik, dirancang evaluasi yang dapat digunakan
untuk mengukur sejauh mana peningkatan literasi sains IPA pada siswa. Berdasarkan
kajian kerangka berpikir tersebut maka dapat diduga bahwa pengembangan modul
pembelajaran IPA Terpadu berpendekatan saintifik akan dapat meningkatkan nilai-
nilai karakter pada siswa dan meningkatkan literasi sains siswa.
BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian


Jenis penelitian yang dilaksanakan yaitu research and development (R&D)
atau penelitian dan pengembangan dengan mengadaptasikan rancangan
pengembangan bahan ajar model 4D. Model ini diciptakan oleh Thiagarajan,
Semmel dan Melvyn I dengan langkah kegiatan 4D meliputi define, design, develop
dan disseminate (Damayanti, 2013). Adapun rancangan kegiatan penelitian mengacu
pada model 4D yaitu sebagai berikut.
1. Define (pendefinisian). Dalam hal ini berkaitan dengan mendefinisikan syarat-
syarat pengembangan atau dalam kata lain menetapkan kebutuhan
pengembangan. Dalam tahap ini, penelitian pendahuluan terkait dengan
kebutuhan pengembangan produk didasarkan pada hasil studi literatur (studi
terhadap penelitian-penelitian sebelumnya). Selanjutnya dalam tahap define
terdapat lima kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu sebagai berikut. (1) Analisis
ujung depan (front-end analysis) yaitu diagnosis awal untuk mengupayakan agar
pembelajaran yang nanti dilaksanakan dapat berjalan seefisien dan seefektif
mungkin. (2) Analisis siswa (learner analysis) yaitu analisis terhadap peserta
didik yang menjadi sasaran pembelajaran meliputi aspek motivasi belajar,
kemampuan akademik, pengalaman dan lain sebagainya. (3) Analisis tugas (task
analysis) berkaitan dengan materi dan tugas pokok yang harus diselesaikan oleh
peserta didik. (4) Analisis konsep (concept analysis) berkaitan dengan konsep-
konsep penting yang akan dibelajarkan pada siswa serta cara mencapainya. (5)
Perumusan tujuan pembelajaran (specifying instructional objective). Seluruh
kegiatan yang ditunjukkan pada nomor 3, 4 dan 5 mengacu pada dokumen
kurikulum 2013 seperti silabus dan RPP.
2. Design (perancangan) dengan tujuan untuk menyiapkan prototipe dari modul
pembelajaran IPA terpadu berpendekatan saintifik. Ada empat langkah dalam
tahap ini meliputi (1) penyusunan kisi-kisi dan instrumen, baik itu instrumen tes
literasi sains maupun instrumen observasi nilai-nilai karakter siswa SMP, (2)
pemilihan media yang sifatnya mendukung penggunaan modul pembelajaran
IPA terpadu, (3) penentuan format modul berkaitan dengan desain tampilan
modul, konten-konten modul yang diperlukan serta pemilihan strategi
pembelajaran dan (4) rancangan awal modul pembelajaran IPA terpadu
berpendekatan saintifik.
3. Develop (pengembangan), di mana pada tahap ini dilakukan validasi prototype
produk diikuti dengan revisi serta ujicoba pada kelompok kecil diikuti dengan
revisi produk. Proses validasi produk dilakukan oleh dua orang ahli yaitu dosen
senior Jurusan Pendidikan IPA serta oleh dua orang praktisi yaitu guru mata
pelajaran IPA di SMP. Setelah produk direvisi sesuai dengan masukan
validator, selanjutnya dilakukan uji coba penggunaan modul pembelajaran
dengan melibatkan kelompok siswa dengan jumlah terbatas. Hasil uji coba
dilanjutkan kembali dengan revisi produk.
4. Disseminate (penyebaran) merupakan tahap terakhir di mana modul
pembelajaran IPA terpadu akan diterapkan pada kelompok yang lebih besar
sekaligus diuji keefektifannya terhadap nilai karakter serta literasi sains siswa.
Dalam tahap disseminate, peneliti membatasi kelompok sasaran ujicoba pada
satu sekolah dengan menggunakan dua kelas yaitu pada siswa kelas VIII SMP.
Untuk uji coba produk modul pembelajaran IPA dilakukan dalam dua tahap.
Tahap pertama uji coba pada kelompok terbatas digunakan desain pra-eksperimen
menggunakan one group pretest-posttest design.

O1 Treatment O2

Gambar 3.1.1. Desain one group pretest-posttest design


Selanjutnya yaitu uji coba dalam kelompok besar. Desain yang digunakan
yaitu desain eksperimen semu menggunakan non-equivalent group pretest-posttest
design. Dalam hal ini kelompok perlakuan yang dibandingkan adalah kelompok
siswa yang menggunakan modul pembelajaran IPA terpadu berpendekatan saintifik
dan kelompok siswa yang menggunakan buku ajar konvensional yang biasa
digunakan sebelumnya.
O1 Treatment 1 O2
O3 Treatment 2 O2
Gambar 3.1.2. Desain non-equivalent group pretest-posttest design
3.2 Subjek Penelitian
Subjek yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII
SMP Negeri 8 Denpasar pada semester ganjil tahun pelajaran 2017/2018.
Keseluruhan siswa yang dimaksud merupakan populasi penelitian dan dilakukan
teknik sampling untuk menentukan kelas yang akan dijadikan sasaran ujicoba
produk. Teknik sampling yang digunakan yaitu group random sampling untuk
menentukan dua kelas yang akan dijadikan subjek penelitian.

3.3 Metode dan Instrumen Pengumpulan Data


Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini ada tiga jenis meliputi (1) data
kelayakan pakai dari modul pembelajaran IPA terpadu berpendekatan saintifik, (2)
data nilai karakter siswa SMP dan (4) data literasi sains siswa SMP.
Adapun metode pengumpulan data, khusus untuk kelayakan produk
dilakukan dengan metode validasi oleh ahli dan validasi oleh praktisi dengan
menggunakan instrumen lembar validasi. Selanjutnya metode pengumpulan data
nilai karakter siswa dilakukan dengan metode observasi atau pengamatan. Instrumen
yang digunakan yaitu pedoman observasi nilai karakter siswa selama pembelajaran
di kelas. Ditinjau dari segi jumlah aspek yang diamati, aspek-aspek karakter siswa
yang menjadi sasaran penilaian sifatnya terbatas dan disesuaikan relevansinya
terhadap topik pelajaran. Untuk pengumpulan data literasi sains dilakukan dengan
metode tes tertulis. Instrumen yang digunakan adalah tes pilihan ganda sebanyak 40
butir. Sebelum instrumen digunakan untuk pengambilan data, terlebih dahulu
dilakukan analisis validitas isi dan validitas konstruk keseluruhan instrumen. Khusus
untuk tes pilihan ganda, dilakukan juga uji kelayakan lapangan dengan menganalisis
konsistensi internal butir tes, reliabilitas tes, daya pembeda tes dan kesukaran butir
tes.

3.3 Teknik Analisis Data


Data-data yang telah dikumpulkan selanjutnya dianalisis dengan beberapa
teknik analisis. Pertama, data yang terkait dengan kelayakan produk modul
pembelajaran IPA terpadu berpendekatan saintifik serta nilai-nilai karakter siswa
dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif. Kedua, data terkait dengan
keefektifan produk dalam meningkatkan literasi sains siswa setelah dilakukan
implementasi di lapangan akan dianalisis dengan menggunakan persamaan skor gain
ternormalisasi untuk analisis peningkatan dan uji statistik inferensial independent
sample t-test untuk analisis komparatif peningkatan masing-masing kelompok
perlakuan. Sebelum dilakukan independent sample t-test, terlebih dahulu dilakukan
uji asumsi pada data literasi sains meliputi uji normalitas dan uji homogenitas.

3.4 Luaran yang Dijanjikan


Terdapat dua jenis luaran yang dijanjikan dalam penelitian ini meliputi luaran
wajib dan luaran tambahan. Luaran wajib terdiri dari produk berupa modul
pembelajaran IPA terpadu yang telah tervalidasi dan diujicobakan dan publikasi hasil
penelitian melalui jurnal ilmiah. Untuk luaran tambahan meliputi instrumen-
instrumen penelitian seperti instrumen validasi, lembar observasi nilai-nilai karakter
dan tes literasi sains.

BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN


4.1 Anggaran Biaya
Adapun ringkasan anggaran biaya disajikan pada tabel 4.1.1. Rincian dari
masing-masing jenis biaya terlampir pada bagian Lampiran.

Tabel 4.1.1. Ringkasan anggaran biaya


No Jenis Pengeluaran Biaya yang diusulkan (Rp)
1 Bahan habis pakai 1.545.000
2 Konsumsi 2.240.000
3 Perjalanan 1.200.000
4 Penggandaan instrumen penelitian, 3.985.000
laporan penelitian dan seminar
JUMLAH 8.970.000

4.2 Jadwal Penelitian


Pelaksanaan kegiatan penelitian ini akan dilaksanakan dalam waktu 10 bulan
dengan rincian pelaksanaan seperti yang disajikan pada tabel 4.2.1.
Tabel 4.2.1. Rancangan kegiatan penelitian
Bulan ke-
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Observasi ke sekolah
Penyusunan instrumen tes literasi
Bulan ke-
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
sains dan lembar observasi nilai-
nilai karakter
Penyusunan draf modul
pembelajaran IPA terpadu
Validasi draf modul pembelajaran
IPA terpadu oleh tim ahli dan
praktisi
Revisi draf modul pembelajaran
IPA terpadu
Uji coba produk pada kelompok
kecil
Analisis hasil uji coba produk dan
revisi
Uji coba produk pada kelompok
besar
Analisis hasil uji coba produk
Penyusunan laporan penelitian

16
DAFTAR PUSTAKA

Ashri, N. & Lilik, H. 2015. Pengembangan bahan ajar IPA terpadu pada tema energi
dan lingkungan. SNIPS 2015. Tersedia pada
http://portal.fi.itb.ac.id/snips2015/files/snips_2015_nurul_ashri_a6ce83ba59d
c5806524ae61c520884e1.pdf, diakses pada tanggal 26 Oktober 2016.

Asyhari, A. & Risa, H. 2015. Profil peningkatan kemampuan literasi sains siswa
melalui pembelajaran saintifik. Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Al-Biruni
(4)1. Tersedia pada http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/al-
biruni/article/download/1062/879, diakses pada tanggal 26 Oktober 2016.

Budimah, Herpratiwi & Rosidin. U. 2014. pengembangan modul pembelajaran IPA


berbasis karakter materi kalor SMP kelas VII di Bandar Lampung. Jurnal
Sains dan Pendidikan (1)1. Tersedia pada http://pasca.unila.ac.id/wp-
content/uploads/2015/11/3.PENGEMBANGAN-MODUL-
PEMBELAJARAN-IPA-BERBASIS-KARAKTER-MATERI-KALOR-
SMP-KELAS-VII-DI-BANDAR-LAMPUNG.pdf , diakses pada tanggal 26
Oktober 2016.

Cruz, J. P. C. 2015. Development of an experimental science module to improve


middle school students integrated science process skills. DLSU Research
Congress Volume 3. Tersedia pada
http://www.dlsu.edu.ph/conferences/dlsu_research_congress/2015/proceeding
s/LLI/ 018LLI_DelaCruz_JP.pdf, diakses pada tanggal 26 Oktober 2016.

Damayanti,C., Dewi, N.R., Akhlis,I. 2013. Pengembangan CD Pembelajaran


Berbasis Kearifan Lokal Tema Getaran dan Gelombang untuk SMP Kelas
VIII. Unnes Science Education Journal. (2)(2013).

Daryanto. 2013. Menyusun modul bahan ajar untuk persiapan guru mengajar.
Yogyakarta: Gava Media.

Daryanto. 2014. Pembelajaran tematik, terpadu, terintegrasi (Kurikulum 2013).


Yogyakarta: Gava Media

Kementerian Pendidikan Nasional. 2010. Pendidikan karakter di SMP. Tersedia pada


http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/CONTOH%20PEND%20KARAKTE
R%20SMP%209,10.ppt, diakses pada tanggal 26 Oktober 2016.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2012. Dokumen kurikulum 2013.


Tersedia pada http://www.pendidikan-diy.go.id/file/produk_hukum/dokumen-
kurikulum-2013.pdf, diakses pada tanggal 26 Oktober 2016.

Kurnia, F., Zulherman & Fathuroman, A. 2014. Analisis bahan ajar fisika SMA kelas
XI di Kecamatan Indralaya Utara berdasarkan kategori literasi sains. Jurnal
Inovasi dan Pembelajaran Fisika (1)1. Tersedia pada http://ejournal.unsri.

17
ac.id/index.php/jipf/article/download/1263/419, diakses pada tanggal 26
Oktober 2016.

Lailatul, H., Rosyidatun, E. S. & Sujiyo, M. 2015. Analisis isi buku sekolah
elektronik (BSE) biologi kelas XI semester 1 berdasarkan literasi sains.
Edusains 7(1). Tersedia pada http://download.portalgaruda.org/article.php?
article=389516&val=4970&title=ANALISIS%20ISI%20BUKU%20SEKOL
AH%20ELEKTRONIK%20(BSE)%20BIOLOGI%20KELAS%20XI%20SE
MESTER%201%20BERDASARKAN%20LITERASI%20SAINS, diakses
pada tanggal 26 Oktober 2016.

Mawardini, A., Permanasari, A. & Sanjaya, Y. 2015. Profil literasi sains siswa
SMP pada pembelajaran IPA terpadu tema pencemaran lingkungan. E-journal
SNF2015 Volume IV. Tersedia pada http://www.snf-
unj.ac.id/files/2414/4620/6734/SNF2015-IV-49-56.pdf, diakses pada tanggal
26 Oktober 2016.

Mulyasa. 2014. Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Aksara.

Nisa,A., Sudarmin, Samini. 2015. Efektivitas penggunaan modul terintegrasi


etnosains dalam pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan literasi
sains siswa. Unnes Science Education Journal.

Nurlatifah, D. 2015. Pengaruh implementasi scientific approach bermuatan nilai


dalam meningkatkan keterampilan berpikir kreatif siswa. Prosiding
Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains (SNIPS 2015) 8 dan 9
2015, Bandung, Indonesia.

Olasehinde, et al. 2014. Scientific attitude, attitude to science and science


achievement of senior secondary school students in Katsina State, Nigeria.
Journal of Educational and Social Research (4)1. Tersedia pada
http://www.mcser.org/journal/index.php/jesr/article/download/1862/1861,
diakses pada tanggal 26 Oktober 2016.

Rosa, F. O. 2015. Pengembangan modul pembelajaran IPA SMP pada materi tekanan
berbasis keterampilan proses sains. Tersedia pada
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=106667&val=1362,
diakses pada tanggal 26 Oktober 2016.

Rusilowati, A. 2014. Analisis buku ajar IPA yang digunakan di Semarang


berdasarkan muatan literasi sains. Proceeding Seminar Nasional Konservasi
dan Kualitas Pendidikan Unnes. Tersedia pada http://lib.unnes.ac.id/23402
/1/Ani_Rusilowati.pdf, diakses pada tanggal 26 Oktober 2016.

Sani, R.A. 2014. Pembelajaran saintifik untuk implementasi Kurikulum 2013.


Jakarta: Bumi Aksara.

18
Trianto. 2014. Model pembelajaran terpadu: konsep, strategi, dan implementasinya
dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Jakarta: Bumi Aksara.
Wieman, C. & Sarah G. 2015. Taking a scientific approach to science education, part
Iresearch. Feature Article Microbe (10)4. Tersedia pada
http://www.cwsei.ubc.ca/SEI_research/files/Wieman-Gilbert_ScienceEd-
pt1_Microbe_2015.pdf, diakses pada tanggal 26 Oktober 2016.

Yaumi, M. 2014. Pendidikan karakter: landasan, pilar, dan implementasi. Jakarta:


Prenadamedia Group.

19
LAMPIRAN-LAMPIRAN

A. JUSTIFIKASI BIAYA
Bahan habis pakai
Material Justifikasi Kuantitas Harga Biaya dalam
Pemakaian satuan (Rp) Setahun (Rp)
Kertas HVS 70 gr Cetak naskah 5 rim 45000 225000
produk/modul, revisi,
cetak naskah tes,
cetak angket respon
dan cetak lembar
observasi
Tinta printer Cetak naskah 3 kotak 45000 135000
hitam isi ulang produk/modul, revisi,
cetak naskah tes,
cetak angket respon
dan cetak lembar
observasi
Tinta printer Cetak naskah 2 kotak 50000 100000
warna isi ulang produk/modul, revisi,
cetak naskah tes,
cetak angket respon
dan cetak lembar
observasi
Paket internet 30 Keperluan mencari 2 buah 355000 710000
gb informasi pendukung
Pulsa telepon Keperluan 2 buah 150000 300000
komunikasi degan
guru sekolah atau
praktisi
Kertas Double Untuk lembar 150 500 75000
folio jawaban siswa lembar
SUBTOTAL (RP) 1545000
Konsumsi
Material Justifikasi Kuantitas Harga Biaya dalam
Pemakaian satuan (Rp) Setahun (Rp)
Snack dan Makan Konsumsi tim 2 orang 1 35000 70000
pelaksana saat kali
kegiatan observasi ke
lapangan
Snack dan Makan Konsumsi pertemuan 2 orang 2 35000 140000
tim pelaksana untuk kali
membahas desain
produk
Snack dan Makan Konsumsi pertemuan 2 orang 6 35000 420000
tim pelaksana untuk kali
20
penyusunan produk
Snack dan Makan Konsumsi pertemuan 2 orang 5 35000 350000
tim pelaksana untuk kali
penyusunan
instrumen tes, angket
respon dan observasi
Snack dan Makan Konsumsi pertemuan 4 orang 1 35000 140000
tim peneliti dengan kali
ahli untuk validasi
produk
Snack dan Makan Konsumsi pertemuan 4 orang 1 35000 140000
tim peneliti dengan kali
praktisi untuk validasi
produk
Snack dan Makan Konsumsi pertemuan 2 orang 4 35000 280000
tim peneliti untuk kali
perbaikan/revisi
produk
Snack dan Makan Konsumsi tim peneliti 2 orang 1 35000 70000
saat ujicoba produk kali
pada kelompok kecil
Snack dan Makan Konsumsi tim peneliti 2 orang 4 35000 280000
saat ujicoba pada kali
kelompok besar
Snack dan Makan Konsumsi tim peneliti 2 orang 5 35000 350000
pada pertemuan untuk kali
penyusunan laporan
SUBTOTAL (RP) 2240000
Perjalanan
Material Justifikasi Kuantitas Harga Biaya dalam
Pemakaian satuan (Rp) Setahun (Rp)
Perjalanan ke Observasi lapangan/ 2 orang 1 150000 300000
sekolah/tempat sekolah kali
penelitian
Perjalanan ke Pertemuan dengan 2 orang 1 150000 300000
sekolah/tempat praktisi/guru mata kali
penelitian pelajaran untuk
keperluan validasi
produk
Perjalanan ke Uji coba produk dalam 2 orang 1 150000 300000
sekolah/tempat kelompok kecil kali
penelitian
Perjalanan ke Ujicoba produk dalam 2 orang 1 150000 300000
sekolah/tempat kelompok besar kali
penelitian
SUBTOTAL (RP) 1200000
Penggandaan instrumen penelitian, laporan penelitian dan seminar
Material Justifikasi Kuantitas Harga Biaya dalam
Pemakaian satuan (Rp) Setahun (Rp)
21
Penggandaan Pengambilan data 35 eks 18000 630000
naskah tes pada kelompok kecil
Penggandaan Pengambilan data 100 eks 18000 1800000
naskah tes pada kelompok besar
Penggandaan Pengambilan data 1 paket 110000 110000
angket respond an kelompok kecil dan
lembar observasi besar
Penggandaan Setor laporan 3 eks 45000 135000
laporan penelitian penelitian dan
pengarsipan
Penjilidan laporan Setor laporan 4 eks 15000 60000
penelitian penelitian dan
pengarsipan
Cetak produk Setor bukti fisik 3 eks 150000 450000
penelitian produk penelitian dan
pengarsipan
Biaya seminar Publikasi penelitian 1 paket 800000 800000
dalam kegiatan
seminar
SUBTOTAL (RP) 3985000
TOTAL ANGGARAN YANG DIPERLUKAN DALAM SETAHUN 8970000
(RP)

22
B. SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN PEMBAGIAN WAKTU KETUA
DAN ANGGOTA
No Nama NIDN Bidang Alokasi Uraian Tugas
Ilmu Waktu
(jam/mgg)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Kompyang 0025068901 Pend. 8 Menyusun usulan
Selamet, S.Pd., IPA penelitian, merancang
M.Pd. dan menyusun produk
modul pembelajaran
IPA terpadu
berpendekatan sains,
menyusun instrumen
validasi dan instrumen
tes literasi sains,
merevisi produk,
melaksanakan uji
coba, mengumpulkan
dan menganalisis data,
menyusun laporan dan
menyeminarkan hasil
penelitian.

2 Putri Sarini, S.T., 0002127805 Pend. 8 Menyusun usulan


M.Pd. IPA penelitian, merancang
dan menyusun produk
modul pembelajaran
IPA terpadu
berpendekatan sains,
menyusun instrumen
observasi nilai-nilai
karakter, merevisi
produk, melaksanakan
uji coba,
mengumpulkan dan
menganalisis data,
menyusun laporan dan
menyeminarkan hasil
penelitian.

23
C. BIODATA KETUA DAN ANGGOTA

Biodata Ketua Peneliti

A. Identitas Dri
1 Nama Lengkap (dengan gelar) Kompyang Selamet, S.Pd., M.Pd.
2 Jenis Kelamin L
3 Jabatan Fungsional Tenaga Pengajar
4 NIP/NIK/Identitas lainnya 198906252015041001
5 NIDN 0025068901
6 Tempat, Tanggal Lahir Denpasar, 25 Juni 1989
7 E-mail palawakya@gmail.com
8 Nomor Telepon/HP +6281933118674
9 Alamat Kantor Jurusan Pendidikan IPA
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam
Universitas Pendidikan Ganesha
Jalan Udayana Singaraja, Bali
81116
10 Nomor Telepon/Faks -
11 Lulusan yang Telah Dihasilkan 0 orang
12 Mata Kuliah yang Diampu Statistika Dasar IPA
IPA Terapan
Strategi Belajar Mengajar IPA
Belajar dan Pembelajaran IPA
Telaah dan Pengembangan Kurikulum
Pendidikan IPA
Assessmen dan Evaluasi Hasil Belajar IPA
Manajemen Pendidikan
Metodologi Penelitian Pendidikan IPA

B. Riwayat Pendidikan
S-1 S-2 S-3
Nama Perguruan Tinggi Universitas Universitas -
Pendidikan Ganesha Pendidikan Ganesha
Bidang Ilmu Pendidikan Fisika Pendidikan Sains -
Tahun Masuk-Lulus 2007-2011 2011-2013 -
Judul Pengaruh Model Pengaruh Model -
Skripsi/Tesis/Disertasi Pembelajaran Pembelajaran
Kontekstual dengan Kontekstual REACT
Peta Konsep terhadap terhadap Pemahaman
Pemahaman Konsep Konsep Fisika dan
Fisika Siswa kelas Keterampilan Proses
VIII SMP Negeri 7 Sains Siswa kelas VIII
Singaraja Tahun SMP

24
S-1 S-2 S-3
Pelajaran 2010/2011
Nama Prof. Dr. I Wayan Prof. Dr. I Wayan Sadia, -
Pembimbing/Promotor Santyasa, M.Si. & Drs M.Pd. & Prof. Dr.
Slamet Haryadi S. W. Ketut Suma. M.S.

C. Pengalaman Penelitian dalam 5 Tahun Terakhir


Pendanaan
No Tahun Judul Penelitian
Sumber Jumlah (Rp)
1 2015 Pengaruh penggunaan laboratorium DIPA 10.000.000
virtual dalam pembelajaran Undiksha
terhadap peningkatan hasil belajar
dan motivasi belajar mahasiswa
pada perkuliahan fisika dasar 2
(sebagai anggota)

D. Pengalaman Pengabdian kepada Masyarakat dalam 5 Tahun Terakhir


Judul Pengabdian Kepada Pendanaan
No Tahun
Masyarakat Sumber Jumlah (Rp)
1 2015 Workshop pemanfaatan virtual lab DIPA 6.000.000
dalam proses pembelajaran IPA Fakultas
bagi guru IPA SMP se-Kabupaten
Buleleng (sebagai ketua)

E. Publikasi Artikel Ilmiah dalam Jurnal dalam 5 Tahun Terakhir


Volume/Nomor/
No Tahun Judul Artikel Ilmiah Nama Jurnal
Tahun
- - - - -

F. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam 5 Tahun Terakhir


No. Nama Temu Ilmiah/Seminar Judul Artikel Ilmiah Waktu dan Tempat
1 Seminar Nasional FMIPA Pengaruh Model 7 Desember 2015 di
Undiksha Pembelajaran Fakultas MIPA
Kontekstual REACT Undiksha Singaraja
terhadap
Pemahaman Konsep
Fisika dan
Keterampilan Proses
Sains Siswa kelas
VIII SMP

25
G. Karya Buku dalam 5 Tahun Terakhir
Jumlah
No Judul Buku Tahun Penerbit
Halaman
- - - - -

H. Perolehan HKI dalam 10 Tahun Terakhir

No Judul/Tema HKI Tahun Jenis Nomor P/ID

- - - - -
I. Pengalaman Merumuskan Kebijakan Publik/Rekayasa Sosial Lainnya
dalam 10 Tahun Terakhir
Judul/Tema/Jenis Rekayasa Sosial Tempat Respon
No Tahun
lainnya yang telah diterapkan Penerapan Masyarakat
- - - - -

J. Penghargaan dalam 10 Tahun Terakhir (dari pemerintah, asosiasi atau


institusi)
Institusi Pemberi
No Jenis Penghargaan Tahun
Penghargaan
- - - -
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar
dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah
satu persyaratan dalam pengajuan penelitian.

Singaraja, 31 Oktober 2016


Yang membuat pernyataan,

Kompyang Selamet, S.Pd., M.Pd.

26
Biodata Anggota Peneliti
A. Identitas Diri

27
1 Nama Lengkap (dengan gelar) Putri Sarini, S.T., M.Pd.
2 Jenis Kelamin Perempuan
3 Jabatan Fungsional Tenaga Pengajar
4 NIP/NIK/Identitas lainnya 197812022014042001
5 NIDN 0002127805
6 Tempat, Tanggal Lahir Buleleng, 02 Desember 1978
7 E-mail putrisarini@yahoo.com
8 Nomor Telepon/HP +6285337599948
9 Alamat Kantor Jurusan Pendidikan IPA
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam
Universitas Pendidikan Ganesha
Jalan Udayana Singaraja, Bali
81116
10 Nomor Telepon/Faks -
11 Lulusan yang Telah Dihasilkan 0 orang
12 Mata Kuliah yang Diampu Fisika Dasar I
Pengelolaan Laboratorium IPA
Perkembangan Peserta Didik
Fisika Dasar II
Matematika IPA
Profesi Kependidikan
Etnosains
Biofisika

B. Riwayat Pendidikan
S-1 S-2 S-3
Nama Perguruan Tinggi Institut Teknologi Universitas -
Sepuluh November Pendidikan Ganesha
Bidang Ilmu Teknik Fisika Pendidikan Sains -
Tahun Masuk-Lulus 1996-2003 2010-2012 -
Judul - Pengaruh Virtual -
Skripsi/Tesis/Disertasi Experiment Terhadap
Hasil Belajar Fisika
ditinjau dari Motivasi
Belajar Siswa SMA
Negeri 1 Singaraja
Nama - Prof. Dr. I Wayan -
Pembimbing/Promotor Suastra, M.Pd. & Prof.
Dr. I Made Candiasa.
MI.Komp.

28
C. Pengalaman Penelitian dalam 5 Tahun Terakhir
Pendanaan
No Tahun Judul Penelitian
Sumber Jumlah (Rp)
1 2015 Pengaruh penggunaan DIPA 10.000.000
laboratorium virtual dalam Undiksha
pembelajaran terhadap
peningkatan hasil belajar
dan motivasi belajar mahasiswa
pada perkuliahan fisika dasar 2
(sebagai ketua)

D. Pengalaman Pengabdian kepada Masyarakat dalam 5 Tahun Terakhir


Judul Pengabdian Kepada Pendanaan
No Tahun
Masyarakat Sumber Jumlah (Rp)
1 2015 Workshop pemanfaatan virtual DIPA 6.000.000
lab dalam proses pembelajaran Fakultas
IPA bagi guru IPA SMP se-
Kabupaten Buleleng (sebagai
anggota)

E. Publikasi Artikel Ilmiah dalam Jurnal dalam 5 Tahun Terakhir


Volume/Nomor/
No Tahun Judul Artikel Ilmiah Nama Jurnal
Tahun
- - - - -

F. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam 5 Tahun Terakhir


No. Nama Temu Ilmiah/Seminar Judul Artikel Ilmiah Waktu dan Tempat
1 Seminar Nasional FMIPA Pengaruh Virtual 7 Desember 2015 di
Undiksha Experiment terhadap Fakultas MIPA
Hasil Belajar Fisika Undiksha Singaraja
ditinjau dari Motivasi
Belajar Siswa SMA
Negeri 1
Singaraja

G. Karya Buku dalam 5 Tahun Terakhir


Jumlah
No Judul Buku Tahun Penerbit
Halaman
- - - - -

29
H. Perolehan HKI dalam 10 Tahun Terakhir

No Judul/Tema HKI Tahun Jenis Nomor P/ID

- - - - -

I. Pengalaman Merumuskan Kebijakan Publik/Rekayasa Sosial Lainnya


dalam 10 Tahun Terakhir
Judul/Tema/Jenis Rekayasa Sosial Tempat Respon
No Tahun
lainnya yang telah diterapkan Penerapan Masyarakat
- - - - -

J. Penghargaan dalam 10 Tahun Terakhir (dari pemerintah, asosiasi atau


institusi)
Institusi Pemberi
No Jenis Penghargaan Tahun
Penghargaan
- - - -

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar
dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah
satu persyaratan dalam pengajuan penelitian.

Singaraja, 31 Oktober 2016


Yang membuat pernyataan,

Putri Sarini, S.T., M.Pd

30
30