Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH VIKTIMOLOGI

Disususun Oleh:

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS HUKUM

PURWOKERTO

2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

NAMA Siti Aisyah adalah nama yang amat populer di Indonesia. Banyak orang tua yang
menamakan anaknya Aisyah, atau Aishah ataupun Aisha. Ya, karena nama tersebut berasal dari nama istri
Nabi Muhammad SAW yang dikenal sangat pintar, cantik, dan juga salehah.

Sayangnya Siti Aisyah yang satu ini berbeda. Ia dicokok Kepolisian Diraja Malaysia pada 13
Februari 2017 kemudian ditahan sampai kini dengan sangkaan yang lumayan seram: sebagai tersangka
kasus pembunuhan Kim Jong Nam, kakak satu ayah dari Kim Jong Un, pemimpin tertinggi Korea Utara
saat ini. Ini bukan drama. Ini kejahatan betulan yang terorganisasi. Walau terkesan seperti drama, paling
tidak itu yang dirasakan oleh Siti Aisyah.

Wanita asal Serang berusia 25 tahun ini, menurut berita media Malaysia dan pengakuannya
kepada perwakilan Indonesia di Malaysia, menyemprotkan cairan ke wajah Kim Jong Nam (pada saat
yang sama seorang wanita Vietnam Doan Thi Huang, memegang Kim dari belakang) karena berpikir itu
adalah bagian dari reality show (prank) dari sebuah televisi Jepang. Aisyah pun dibayar 400 ringgit
Malaysia untuk itu. Keterangan Aisyah bisa jadi benar, bisa jadi salah. Kita belum bisa memastikan
karena proses penyidikan masih berlangsung. Empat terduga pelaku asal Korea Utara juga masih buron.
Padahal, tanpa keterangan mereka pembuktian kasus ini kian rumit.

Persidangan pun baru berlangsung, pada 1 Maret 2017, dan berikutnya 13 April 2017. Maka,
asas presumption of innocence (praduga tidak bersalah) berlaku pada Aisyah. Dia tak dapat dikatakan
sebagai bersalah dan patut menerima hukuman, kecuali setelah putusan pengadilan memutuskannya
demikian. Satu persoalan yang kini tersisa adalah, sejauh apa peran Aisyah dalam kasus ini. Bisakah ia
sekaligus disebut sebagai korban dalam kasus ini? Tidak semata-mata sebagai tersangka pelaku yang
diyakini betul oleh kepolisian Malaysia karena terlihat pada CCTV? Berhakkah ia mendapatkan
keringanan atau bahkan penghapusan pidana?

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah Siti Aisyah merupakan Pelaku atau Korban?
BAB II

PEMBAHASAN

Ilmu viktimologi, alias ilmu yang concern terhadap korban, viktimisasi, dan reaksi masyarakat
terhadap viktimisasi, memiliki perspektif sendiri dalam memandang kejahatan maupun korban kejahatan.

Dalam perspektif viktimologi, korban kejahatan memiliki tipologi sendiri, apakah tingkat
kerentanannya (victims culpability), tingkat hubungan dengan pelaku kejahatan yang berkontribusi pada
terjadinya kejahatan yang menimpa dirinya (victims precipitation) dan tingkat kealpaan korban (victims
culpability) dalam hubungannya dengan tindak pidana yang terjadi. Beniamin Mendelsohn (1956)
menyebutkan bahwa ada enam kategori korban.

Pertama adalah korban yang benar-benar tidak bersalah (innocent),

kedua adalah korban dengan kadar kontribusi kesalahan yang minimal (victims with minor guilt),

ketiga adalah korban yang memiliki kadar kebersalahan yang sama dengan sang pelaku.

Keempat adalah korban yang lebih bersalah dari pelaku (victims are more guilty than the offender);

kelima adalah korban adalah satu - satunya pihak yang bersalah (dalam kasus pelaku yang kemudian
malah terbunuh sendiri) dan terakhir adalah korban imajiner (imaginary victim), alias korban yang
mengaku dirinya sebagai korban, padahal ia tidak menderita apa pun1.

Relasi antara korban dan pelaku kejahatan dipelajari melalui dua kajian, yaitu tingkat kerentanan
korban (victims vulnerability) dan tingkat kealpaan korban (victims culpability). Kealpaan korban
merujuk pada situasi di mana korban secara sadar atau tidak telah turut berkontribusi terhadap viktimisasi
ataupun kejahatan yang terjadi pada dirinya (Von Hentig, 1948).

Hans Von Hentig (1948) meyakini bahwa kontribusi korban terhadap kejahatan sedikit banyak
berasal dari karakteristik ataupun posisi sosial yang dimiliki oleh korban yang merupakan kondisi yang
sudah given, alias dia tidak punya kekuasaan untuk mengontrolnya. Posisi sosial tersebut melahirkan
kerentanan (vulnerability) di mana individu tersebut potensial menjadi korban kejahatan.

1
Reksodiputro, Mardjono, Kriminologi dan Sistem Peradilan Pidana, Jakarta: UniversitasIndonesia, 1994
Selain anak-anak, ada tiga belas kelompok menurut Von Hentig yang rentan menjadi korban
kejahatan, antara lain:

1. remaja;
2. perempuan;
3. orang tua/ lansia;
4. orang dengan keterbelakangan mental:
5. imigran;
6. minoritas
7. orang yang berpikiran pendek;
8. orang yang depresi;
9. orang yang serakah;
10. orang yang senang menyendiri dan tertutup;
11. orang yang zalim dan senang menyiksa;
12. orang yang asusila/ ceroboh; dan
13. orang yang dikucilkan.

1. Pengertian korban

Secara umum yang dimaksud dengan korban adalah mereka yang menderita jasmaniah dan
rohaniah sebagai akibat tindakan orang lain yang mencari pemenuhan kepentingan diri sendiri atau
orang lain yang bertentangan dengan kepentingan dan hak asasi yang menderita.2

Menurut Muladi, sebagaiman dikutip oleh Suryono Ekatam, et al, yang dimaksud dengan korban
adalah seseorang yang telah menderita kerugian sebagai akibat suatu kejahatan dan atau yang rasa
keadilannya secara langsung telah terganggu sebagai akibat pengalamannya sebagai target atau sasaran
kejahatan.3

Secara sederhana definisi di atas dapat diterjemahkan, korban kejahatan adalah orang-orang yang
baik secara individual maupun kolektif, menderita kerugian akibat perbuatan atau tidak berbuat yang
melanggar hukum pidana yang berlaku di suatu Negara, termasuk peraturan yang melarang
penyalahgunaan kekuasaan.

2
Gosita, Arif, Masalah Korban Kejahatan, Jakarta: Akademika Pressindo, 1993 Hal 6
3
Dikdik.M.Arief Mansur, Urgensi Perlindungan korban kejahatan antara norma dan Realita,Hal 31
Batasan tentang korban kejahatan dapat diuraikan sebagai berikut:

a) Ditinjau dari sifatnya, ada yang individual dan kolektif.

Korban individual karena dapat diindentifikasi sehingga perlindungan korban dilakukan secara
nyata, akan tetapi korban kolektif lebih sulit diidentifikasi. Walau demikian Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, memberikan jalan keluar
berupa menuntut ganti kerugian melalui class action.4

b) Ditinjau dari jenisnya. Menurut Sellin dan Wolfgang, jenis korban dapat berupa :
1. Primary victimization adalah korban individual. Jadi korbannya orang perorangan,
bukan kelompok.
2. Secondary victimization dimana yang menjadi korban adalah kelompok seperti badan
hukum.
3. Tertiary victimization, yang menjadi korban adalah masyarakat luas.
4. Mutual victimization, yang menjadi korban adalah si pelaku sendiri, contohnya
pelacuran, perzinahan, dan narkotika.
5. No victimization, bukan berarti tidak ada korban, melainkan korban tidak segera dapat
diketahui, misalnya konsumen yang tertipu dalam menggunakan suatu hasil produksi.
c) Ditinjau dari kerugiannya, maka dapat diderita oleh seseorang, kelompok masyarakat maupun
masyarakat luas. Selain itu kerugian korban dapat bersifat materiil yang dapat dinilai dengan
uang dan immaterial yakni perasaan takut, sedih, kejutan psikis,dsb.5

Dalam viktimologi, dikenal pula dengan apa yang dinamakan korban ganda, yaitu korban yang
mengalami berbagai macam penderitaan seperti pendertitaan mental, fisik, dan social, yang terjadi pada
saat korban mengalami kejahatan setelah dan pada saat kasusunya diperiksa dan setelah selesainya
pengadilan.

2. Pengertian Perlindungan hukum

Perlindungan hukum dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 disebutkan sebagai segala
upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk memberikan rasa aman kepada saksi dan/atau
korban yang wajib dilaksanakan oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban atau lembaga lainnya.

4
Lilik Mulyadi.Kapita selekta hukum pidana kriminologi dan viktimologi,Hal 120
5
Mardjono Reksodiputro,kriminologi dan sistem peradilan pidana,hal 78
Perlindungan korban dapat mencakup bentuk perlindungan yang bersifat abstrak (tidak langsung)
maupun yang konkret (langsung). Perlindungan yang abstrak pada dasarnya merupakan bentuk
perlindungan yang hanya bisa dinikmati atau dirasakan secara emosional (psikis), seperti rasa puas.
Sedangkan perlindungan konkret pada dasarnya merupakan bentuk perlindungan yang dapat dinikmati
secara nyata, seperti pemberian yang berupa atau bersifat materi maupun non-materi. Pemberian yang
bersifat materi dapat berupa pemberian kompensasi atau restitusi, pembebasan biaya hidup atau
pendidikan. Pemberian perlindungan yang bersifat non-materi dapat berupa pembebasan dari ancaman
dari pemberitaan yang merendahkan martabat kemanusiaan.

Pengertian perlindungan hukum menurut Barda Nawawi Arief, yakni perlindungan hukum untuk
tidak menjadi korban tindak pidana. ( berarti perlindungan HAM atau kepentingan hukum seseorang.
Dapat juga diartikan sebagai perlindungan untuk memperoleh jaminan/santunan hukum atas
penderitaan/kerugian orang yang telah menjadi korban tindak pidana. Bentuk santunan itu dapat berupa
pemulihan nama baik, pemulihan keseimbangan batin, pemberian ganti rugi, kompensasi,
jaminan/santunan kesejahteraan social, dan sebagainya.6

3. Pelaku atau Korban?

Kembali pada Siti Aisyah, apakah dia korban atau pelaku? Fakta menyebutkan bahwa jaksa
negara bagian Selangor, Malaysia, mendakwa Siti Aisyah dan Doan Thi Huang (WN Vietnam) sebagai
telah melakukan pembunuhan (murder/homicide) sebagaimana termaktub pada Pasal 302 Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana Malaysia (Criminal Code). Ancaman pidana maksimalnya adalah pidana mati
(capital punishment).

Dari hasil investigasi polisi terbukti bahwa Siti Aisyah menyemprotkan cairan yang diidentifikasi
sebagai racun penyerang saraf (VX) yang amat mematikan dan telah dikatagorikan sebagai weapon of
mass destruction (senjata pemusnah massal) yang masuk daftar larangan PBB.

Aisyah sendiri, menurut keterangannya kepada perwakilan RI di Malaysia, tak mengetahui bahwa
cairan itu adalah cairan beracun. Dia menganggapnya sebagai minyak bayi (baby oil) dan meyakini
bahwa tindakannya adalah bagian dari reality show (prank) untuk sebuah acara TV di Jepang/Korea, di
mana ia dibayar 400 ringgit Malaysia untuk melakukannya.

6
Prof.Dr.Barda Nawawi Arief,S.H, Masalah penegakan hukum dan kebijakan hukum pidana dalam penanggulangan
kejahatan,Hal 61
Terlepas apakah Aisyah jujur atau tidak, dalam perspektif viktimologi, pada posisi sosial seperti
ini di samping sebagai tersangka pelaku, Aisyah juga berhak untuk disebut sebagai korban.

Aisyah memiliki beberapa posisi sosial di mana dia rentan sebagai korban :

(1) dia perempuan;


(2) ekonomi pas-pasan;
(3) menjadi migran di negara orang;
(4) lugu dan berpendidikan rendah (tamatan SD saja);
(5) berstatus janda dan memiliki pacar pria berkewarganegaraan asing; di mana kesemuanya
membuatnya tidak memiliki posisi tawar yang tinggi.
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Siti Aisyah Dia terlalu lugu dan berpikiran pendek, sehingga mudah untuk dipengaruhi oleh
pihak lain, apakah mafia kejahatan terorganisir, apakah intelijen negara asing. Kemudian, yang membuat
Aisyah layak untuk disebut sebagai korban juga adalah keluguannya untuk melakukan semprotan tersebut
kepada Kim Jong Nam di tempat terbuka, di bandara internasional yang tentunya diperlengkapi CCTV di
mana-mana, dan di siang hari di mana aktivitas Bandara KLIA2 tengah ramai-ramainya.

Karena, seorang pembunuh profesional tak akan melakukannya, kecuali sebagai bagian dari
kegiatan terorisme yang disengaja. Maka, Aisyah adalah terduga pelaku sekaligus korban. Korban dari
kejahatan terorganisasi yang memanfaatkan posisi sosialnya dan kerentanannya. Kita berharap, semoga
saja realita ini membuka mata majelis hakim untuk memberikan keringanan kepada Siti Aisyah atau
bahkan menghapuskan hukuman pidananya kepadanya dengan mengenakan dasar pemaaf
(schuldduitsluitingsgrond) sesuai dengan fakta-fakta di persidangan.
DAFTAR PUSTAKA

- Arief, Barda Nawawi., Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana dalam
Penanggulangan Kejahatan, Jakarta: Kencana, 2007.
- Mansur, Dikdik. M. Arief, Urgensi Perlidungan Korban Kejahatan Antara Norma danRealita, Jakarta:
PT. RajaGrafindo Persada, 2007
- Gosita, Arif, Masalah Korban Kejahatan, Jakarta: Akademika Pressindo, 1993.
- Reksodiputro, Mardjono, Kriminologi dan Sistem Peradilan Pidana, Jakarta: UniversitasIndonesia,
1994
- Muladi, Perlindungan Korban Melalui Proses Pemidaaan, dalam Muladi dan Barda Nawawi Arief,
Bunga Rampai Hukum Pidana, Bandung: Citra Aditya, 1992.
- Lilik Mulyadi. 2003. Kapita Selekta Hukum Pidana Kriminologi DanVictimologi. Denpasar:
Djambatan