Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hewan merupakan inang dari berbagai spesies jamur patogen yang juga
infektif terhadap manusia. Sumber penularan jamur kepada manusia salah satunya
diperantarai oleh hewan peliharaan. Penularan jamur dari satu inang ke inang
lainnya dapat melalui kontak langsung maupun lewat perantara. Beberapa spesies
jamur juga mudah beradaptasi dengan lingkungannya, dan berkembang sangat
baik pada iklim tropis karena perubahan suhu udaranya tidak terlalu ekstrim.
Indonesia merupakan negara yang secara geografis terletak di garis khatulistiwa
yang memiliki kelembaban udara tinggi. Kondisi demikian sangat sesuai dengan
lingkungan hidup jamur. Selain jamur mudah tumbuh di tempat yang lembab,
penyakit kulit karena jamur (mikosis kutis) mudah menyebar dari satu hewan ke
hewan lain melalui kontak fisik. Mikosis kutis dianggap menggangu oleh
kebanyakan pemilik hewan karena merusak estetika dan mempengaruhi perilaku
hewan, selain sifatnya yang zoonotik (Prasetya, 2013).

Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh kucing yang membatasi tubuh
dengan dunia luar, selain itu kondisi kulit merupakan refleksi kesehatan kucing
secara umum serta dapat merupakan indikator terhadap adanya penyakit dalam
tubuh kucing tersebut. Penyakit kulit merupakan jenis penyakit yang sering
menginfeksi kucing, terkadang kucing yang terkena penyakit kulit tampak baik-
baik saja dan tidak merasa terganggu sehingga pemilik kucing tidak terlalu
menghiraukan. Namun bila hal tersebut dibiarkan secara terus-menerus, maka
akan berakibat fatal bahkan dapat menyebabkan kematian. Pemilik kucing
terkadang baru menyadari saat kucing peliharaannya sudah mengalami perubahan
yang signifikan seperti kebotakan, kulit kemerahan bahkan terdapat luka, berbau
dan lain sebagainya. Apabila penyakit kulit sudah menginfeksi melebihi 40% area
tubuh kucing maka kucing tersebut berpotensi mengalami infeksi sekunder yang
dapat menyebabkan kematian.
Dermatofitosis atau ringworm adalah penyakit infeksi kutaneus superfisial
yang dapat menyerang lapisan berkeratin seperti stratum korneum kulit, rambut,
dan kuku. Penyakit ini disebabkan oleh jamur dermatofita dan mampu
menginfeksi berbagai jenis hewan. Tiga genus jamur dermatofita yaitu
Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton (Putiningsih, dkk., 2016).
Dermatofitosis adalah salah satu kelompok dermatomikosis superfisialis yang
disebabkan oleh jamur dermatofit, terjadi sebagai reaksi pejamu terhadap produk
metabolit jamur dan akibat invasi oleh suatu organisme pada jaringan hidup
(Kurniati, 2008).

Dermatophytosis pada kucing umumnya zoonotik dan sangat tinggi


penularannya. Penanganan penyakit ini cukup sulit karena sering terjadi reinfeksi
disamping membutuhkan waktu dan biaya tinggi. Para dokter hewan kadangkala
terkecoh dalam mendiagnosa penyakit kulit jamur ini, seringkali terditeksi hanya
sebagai penyakit kulit biasa. Spora jamur akan menetap dalam periode yang lama
dalam lingkungannya, melalui spora penyakit dapat menular tidak saja lewat
kontak terhadap hewan yang terinfeksi juga dapat melalui kandang yang pernah
digunakan hewan terinfeksi, lewat sisir grooming, collar, dan bulu kucing
(Sajuthi, 2013). Dengan demikian penyakit kulit pada kucing merupakan jenis
penyakit yang harus ditangani dengan benar, cepat dan tepat oleh pemiliknya
secara dini. Fakta inilah yang menjadi alasan pemilihan penyakit kulit pada
kucing sebagai permasalahan yang diangkat dalam tugas akhir ini agar dapat
melakukan tindakan yang cepat dalam penanganan penyakit kulit pada kucing.

Rumusan Masalah

a. Apa yang dimaksud dengan dermatofitosis dan bagaimana penjelasan


tentang kasus yang didapat ?

Tujuan

a. Untuk menjelaskan tentang kasus yang didapat (Dermatofitosis)


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Dermatophytosis

Definisi Jamur
Jamur berbentuk sel atau benang bercabang, mempunyai dinding dari
selulosa atau kitin atau keduanya, mempunyai protoplasma yang mengandung
satu atau lebih inti, tidak mempunyai klorofil, dan berkembang biak secara
aseksual, seksual, atau keduanya. Beberapa jamur meskipun saprofit, dapat juga
menyerang inang yang hidup lalu tumbuh dengan subur sebagai parasit dan jamur
menimbulkan penyakit pada tumbuhan, hewan, termasuk manusia, tidak kurang
dari 100 spesies yang patogen terhadap manusia.

Morfologi Jamur
Jamur terdiri dari kapang dan khamir. Kapang merupakan fungi yang
berfilamen dan multiseluler, khamir berupa sel tunggal dengan pembelahan sel
melalui pertunasan.

Reproduksi Jamur
Jamur berkembang biak dengan cara aseksual (membelah diri, bertunas) atau
seksual (spora).

Mikosis adalah penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan jamur (fungi)


baik di dalam maupun permukaan tubuh. Diantara penyakit tersebut yang paling
umum ditemukan adalah ringworm, sporotrichosis, dan aspergillosis (Boden
2005). Mikosis dapat digolongkan dalam beberapa kelompok: mikosis superfisial
(superficial phaeohyphomycosis, tinea versicolor, black piedra, white piedra),
mikosis kutis (dermatofitosis, dermatomikosis), mikosis subkutis
(chromoblastomycosis, rhinosporidiasis, mycetoma, sporotrichosis, subcutaneous
phaeohyphomycosis, lobomycosis), mikosis sistemik (deep) seperti blastomycosis,
histoplasmosis, coccidiomycosis, paracoccidiomycosis; mikosis oportunis
(candidiasis, cryptococcosis, aspergillosis), mikosis lain (otomycosis,
occulomycosis), alergi terhadap fungi, mycetism dan mikotoksikosis (Prasetya,
2013). Jamur yang sering menginfeksi kulit dan rambut hewan kesayangan adalah
Dermatofita (Microsporum, Trichophyton, Epidermophyton), Sporotrix,
Cryptococcus, dan Malassezia.

Penyakit yang disebabkan oleh golongan jamur dermatofit disebut


Dermatofitosis. Infeksi jamur ini menyerang lapisan-lapisan kulit mulai dari
stratum korneum sampai dengan stratum basalis, rambut, dan kuku (Siregar,
2004). Dermatofitosis adalah infeksi jamur pada rambut dan stratum korneum
yang disebabkan jamur yang bersifat keratinofilik. Kejadian dermatofitosis
banyak ditemukan pada anjing dan kucing muda, hewan dengan kekebalan tubuh
rendah dan kucing berambut panjang. Faktor lain yang mempengaruhi jumlah
infeksi mikosis kutis adalah mikroklimat yang meliputi manajemen pakan
(kandungan nutrisi, jenis pakan yang diberikan), imunitas masing-masing
individu, frekuensi kontak dengan antigen, dan metode perawatan seperti mandi
dan grooming serta obat-obatan yang dipakai. Transmisi dapat terjadi melalui
kalung, sikat atau mainan yang terkontaminasi (Horzinek, 2012).
Terdapat tiga genus penyebab dermatofitosis, yaitu Trichophyton,
Microsporum, dan Epidermophyton, yang dikelompokkan dalam kelas
Deuteromycetes. Dari ketiga genus tersebut telah ditemukan 41 spesies, terdiri
dari 17 spesies Microsporum, 22 spesies Trichophyton, 2 spesies Epidermophyton.
Dari 41 spesies yang telah dikenal, 17 spesies diisolasi dari infeksi jamur pada
manusia, 5 spesies Microsporum menginfeksi kulit dan rambut, 11 spesies
Trichophyton meninfeksi kulit, rambut dan kuku, 1 spesies Epidermophyton
menginfeksi hanya pada kulit dan jarang pada kuku (Kurniati, 2008).

Tricophyton sp. merupakan jamur berfilamen keratinofilik yang memiliki


kemampuan untuk menyerang jaringan keratin. Jamur ini memiliki beberapa
enzim seperti proteinase, elastase, keratinase yang merupakan faktor virulensi
utama dari Tricophyton sp. Jamur ini dapat menyebabkan infeksi pada pasien
imunocompromised. Tricophyton rumbrum adalah agen penyakit dermatofitosis
paling umum di seluruh dunia. Jamur Trichophyton rubrum merupakan rata-rata
penyebab infeksi di Indonesia. Trycophyton ini merupkan penyebab umum infeksi
pada kulit dan rambut pada anjing, kucing, kambing, dan hewan lain. Kapang ini
menyebar secara radial pada lampisan kulit berkeratin dengan pembentukan
cabang hifa dan kadang-kadang artrospora. Peradangan jaringan hidup
dibawahnya sangat ringan dan hanya terlihat sedikit yang bersisik kering.
Biasanya terjadi iritasi, eritema (merah-merah menyebar pada kulit), edema
(akumulasi berlebihan zan alir serum didalam jaringan), dan berbentuk gelembung
pada bagian tepi yang menjalar.

Lesio yang ditemukan pada kucing yang menderita dermatofitosis antara


lain alopesia fokal atau multifokal, kerak, follicular cast, keropeng, papula,
hiperpigmentasi, dan kolaret epidermis. Penyebaran penyakit ini dapat terjadi
secara kontak langsung dengan lesi pada tubuh hewan, yaitu kontak dengan kulit
atau bulu yang terkontaminasi ringworm maupun secara tidak langsung melalui
spora dalam lingkungan tempat tinggal hewan. Kapang mengambil keuntungan
dari hewan dengan mengurangi kapasitas kekebalan tubuh atau sistem imum
hewan (Adzima, dkk., 2013).

Faktor-faktor predisposisi kucing yang mudah terkena infeksi jamur ini adalah:

1. Iklim yang lembab dan hangat

2. Kesehatan yang memburuk

3. rendahnya nilai kesadaran akan pentingnya kesehatan hewan kesayangannya


untuk tingkat sosial tertentu

4. Buruk sanitasi kandang per grup, kucing liar yang tidak terkontrol karena
dibebaskan keluar rumah

5. Berhubungan atau berdekatan dengan sejumlah kucing liar atau kelompok


kucing yang berjumlah besar (misalnya ditempat penitipan)

6. Kucing dari segala umur, namun di tempat klinik sering ditemukan pada usia
mudan dan kucing tua

7. Kucing dengan bulu panjang


Gejala klinis yang umum dan tidak umum terlihat

Gejala klinis dari dermatophytosis berhubungan dengan pathogenesisnya,


dermatophytosis memnginvasi rambut dan epitel tanduk. Jamur akan merusak
rambut, dan mengganggu keratinisasi kulit normal, secara klinis bulu rontok,
timbul kerak, sehingga dapat juga terinfeksi dengan kuman lain.

1. Gatal

2. Bulu rontok dan pitak bisa sebagian kecil simetris ataupun asimetris dengan
peradangan maunpun tanpa peradangan

3. Kerak-kerak, kemerahan, sampai lecet dapat berkembang di daerah muka, pipi,


telinga, kuku, kaki depan, ekor dan sebagian badan

4. Komedo sering ditandai dengan kerak-kerak tipis dibawah dagu untuk kucing
muda

5. Hyperpigmemtasi walaupun jarang terjadi

6. Kucing dengan dermatophytosis yang parah dan sistemik kadang disertai


dengan muntah, konstipasi atau hairball (Sajuthi, 2009).
DAFTAR PUSTAKA

Adzima, vodzan., Jamin, F., Abrar. M. 2013. Isolasi dan Identifikasi Kapang
Penyebab Dermatifitosis pada Anjing di kecamatan Syiah Kuala
Banda Aceh. Banda Aceh : Jurnal Medika Veterinaria. Vol 7(1).

Ahmad., R.Z. 2009. Permasalahan & Penanggulangan Ring Worm Pada Hewan.
Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Balai Penelitian Veteriner.
Bogor.

Sajuthi, C.K. 2009. Dermatophytosis pada Kucing sebagai Penyakit Zoonosis .


Bandung : Jurnal Lokalkarya Nasional Penyakit Zoonosis.

Kurniati. 2008. Etiopatogenesis Dermatofitosis. Surabaya : Jurnal Berkala Ilmu


Kesehatan Kulit dan kelamin. Vol. 20 (3).

Muhammad dan Kusumaningtyas. 2008. Hewan Kesayangan. Yogyakarta : PS.

Prasetya. T. A. 2013. Studi Kasus Mikosis Kutis pada Kucing dengan


Menggunakan Woods Lamp Screening Test. Bogor : Skripsi FKH
IPB.

Putriningsih, P. A., Widyastuti, S. K., Arjentinia, I.P. Y., Batan, I. W. 2016.


Identifikasi dan Prevalensi Kejadian Ringworm pada Sapi Bali. Bali
: Jurnal Veteriner. Vol. 17(1).

Siregar, R.S. 2004. Penyakit Jamur Kulit. Jakarta : EGC.

Soeharsono. 2002. Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia. Yogyakarta :


kanisius.