Anda di halaman 1dari 11

Tugas Ilmu Konservasi Satwa Liar

KONSERVASI SATWA LIAR

OLEH

NAMA : NELMA SARI


NIM : 1402101010173
KELAS : 01

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS SYIAH KUALA
2017
BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman hayati.


Diperkirakan sebanyak 300.000 jenis satwa liar atau sekitar 17% satwa di dunia
terdapat di Indonesia, walaupun luas Indonesia hanya 1,3% dari luas daratan
dunia. Indonesia nomer satu dalam hal kekayaan mamalia (515 jenis) dan menjadi
habitat lebih dari 1539 jenis burung. Sebanyak 45% ikan di dunia, hidup di
Indonesia.Indonesia juga menjadi habitat bagi satwa-satwa endemik atau satwa
yang hanya ditemukan di Indonesia saja. Jumlah mamalia endemik Indonesia ada
259 jenis, kemudian burung 384 jenis dan ampibi 173 jenis (IUCN, 2013). Jumlah
total spesies satwa Indonesia yang terancam punah dengan kategori kritis
(critically endangered) ada 69 spesies, kategori endangered 197 spesies dan
kategori rentan (vulnerable) ada 539 jenis (IUCN, 2013). Oleh karena itu perlu
adanya pengelolaan satwa liar agar keberadaanya tetap terjaga dan terlindungi
baik itu dari ancaman kepunahan dan perburuan satwa liar itu sendiri.

Satwa merupakan salah satu kekayaan kita yang perlu di jaga dan di
pelihara dengan baik agar tidak punah dari bumi ini. Sumber daya alam hewani
dan ekosistemnya merupakan salah satu bagian yang terpenting dari sumberdaya
alam yang mempunyai fungsi dan manfaat sebagai unsur pembentuk lingkungan
hidup, yang kehadirannya tidak dapat diganti. Diharapkan kita agar memberikan
perlindungan terhadap satwa-satwa yang dilindungi dari ancaman pelaku
kejahatan yang tidak bertanggung jawab atas ancaman kepunahan satwa-satwa
langka di Indonesia, sehingga dapat terpelihara dan berkembangbiak sebagai salah
satu unsur pembentuk lingkungan hidup yang kehadirannya tidak dapat terganti,
serta dalam jangka panjang mempunyai kecenderungan sesuatu keseimbangan
populasi secara dinamis sesuai dengan kondisi habitat beserta lingkungannya.
Rumusan Masalah

1. Apa itu Konservasi Satwa Liar ?


2. Apa saja jenis-jenis Satwa Liar ?
3. Bagaimana status Konservasi Satwa Liar ?
4. Bagaimana kategori Satwa Liar terancam punah atau tidak ?
5. Bagaimana upaya pelestarian Satwa Liar ?

Tujuan

1. Untuk mengetahui apa itu Konservasi Satwa Liar


2. Untuk mengetahui jenis-jenis Satwa Liar
3. Untuk mengetahui status Konservasi Satwa Liar
4. Untuk mengetahui kategori Satwa Liar terancam punah atau tidak
5. Untuk mengetahui upaya pelestarian Satwa Liar
BAB II

ISI

A. Pengertian Konservasi Satwa Liar

Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat dan atau di air dan atau
di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun
yang dipelihara oleh manusia (Departemen Kehutanan, Undang undang No. 5
Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya).
Satwa liar dapat diartikan binatang yang hidup liar di alam bebas tanpa campur
tangan manusia. Dalam ekosistem alam, satwa liar memiliki peranan yang sangat
banyak dan penting, salah satunya adalah untuk melestarikan hutan.

Satwa liar merupakan salah satu mata rantai dalam sebuah rantai makanan.
Dalam sebuah rantai makanan terdiri dari produsen (tumbuhan),konsumen (satwa
liar), dan dekomposer (zat pengurai), yang masingmasing memiiki fungsi yang
tidak dapat digantikan. Ketika salah satu dari rantai makanan tersebut punah,
maka akan mata rantai yang lain pun bisa terancam punah. Kondisi tersebut dapat
mengganggu kelestarian suatu ekosistem. Salah satu masalah yang dapat timbul
misalnya adalah kelangkaan terhadap salah satu jenis mata rantai tersebut, yaitu
satwa liar.

Masalah mengenai kelangkaan satwa liar disebakan oleh perilaku manusia,


yaitu memanfaatkan satwa liar untuk dipelihara, diburu secara liar, diawetkan
serta diperdagangkan secara melawan hukum. Perilaku tersebut muncul karena
dalam kehidupan sehari-hari satwa liar memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Sebagai upaya pencegahan dari perilaku manusia tersebut, maka dilakukanlah
konservasi terhadap jenis jenis satwa liar (satwa liar yang tidak dilindungi dan
satwa liar yang dilindungi). Konservasi sebagaimana dimaksud meliputi upaya
pemanfaatan, pengawetan dan pengendalian terhadap satwa liar.
B. Jenis Satwa Liar

Keberadaan satwa liar tertentu yang terancam punah, dilindungi oleh


pemerintah dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 Tahun 1999
tentang pengawetan jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Republik Indonesia. Satwa-
satwa tersebut antara lain:

Insekta ( Serangga ): Kupu-kupu bidadari, Kupu-kupu sayap burung,


kupu-kupu Raja, dan lain-lain.
Mamalia : Anoa, Gajah, Tapir, Beruang Madu, Musang, Kucing Hutan,
Harimau, lutung, Orangutan, Owa, Kukang, Tarsius, Kijang. Duyung,
Paus, Lumba- lumba, dan lain-lain.
Aves ( burung ): Alap-alap, Elang, Burung Madu, Kuntul, Beo, Jalak Bali,
Trulek, Bayan, Maleo, Burung Madu, Kowak Merah, Trinil, dan lain-lain.
Reptilia : Penyu, Kura-kura, Soa Payung, Sanca, Buaya, Buanya
Senyulong, Kadal Panama, dan lain-lain.
Ikan : Ikan Raja Laut, Belida Jawa, Pari Sentani, Peyang Malaya, Arwana
Irian dan lain-lain.
Molusca : Ketam Hitam, Kima Cina, Kika Sisik, Troka, Siput Hijau,dan
lain-lain.
Antozoa ( golongan koral/ terumbu karang ): Akar Bahar, Koral Hitam

C. Status Konservasi Satwa Liar

Keberadaan satwa liar di alam di pengaruhi beberapa faktor, antara lain:

1. Faktor alami

Misalnya kematian karena satwa liar tidak mampu berkompetisi untuk


hidup, kematian karena bencana alam dan lain-lain

2. Faktor Manusia

Perburuan, perdagangan, dan pemeliharaan satwa liar


Kerusakan habitat secara langsung karena pembalakan hutan ( penebangan
liar ) dan pembukaan hutan menjadi lahan pertanian atau pemukiman, dan
Kerusakan habitat tidak langsung akibat pencemaran lingkungan. Status
konservasi diberlakukan terhadap spesies dengan kriteria-kriteria sebagai berikut,
antara lain:

Populasi yang sedikit akan terus menerus mengalami penurunan


Daerah sebarannya sempit dan terbagi dalam wilayah atau jumlah populasi
yang kecil-kecil
Daya reproduksi yang rendah
Keunikan perilaku yang khas, terutama perilaku yang bisa menghambat
populasinya
Ancaman terhadap populasi tinggi

Pemerintah Indonesia melindungi keaneka ragaman hayati yang dimiliki


dengan berbagai surat keputusan perlindungan, antara lain dengan Undang-
undang No. 5 tahun1990 ( tentang konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan
Ekosistem), Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 ( tentang pemanfaatan jenis
tumbuhan dan Satwa berdasarkan hukum di negara kita, status konservasi ( 1
) tumbuhan dan satwa adalah dilindungi dan tidak Dilindungi. Secara
internasional, terdapat badan konvensi dunia yang fokus terhadap upaya
konservasi hidupan hayati agar tidak punah, yaitu IUCN ( International Union
For Conservation of Nature and Natural Resources ). IUCN menetukan status
konservasi ( 2 ) tumbuhan dan satwa sebagai berikut:

a. Kritis ( Critically Endangered ), yaitu jika spesies menghadapi 1.resiko


kepunahan di alam sekitarnya 50 % dalam waktu 10 tahun atau tiga
generasi, mana saja yang lebih lama. Contohnya Owa Jawa, Buaya Air
Tawar, senyulong, Jalak Bali, Kakatua Kecil Jambul Kuning, dan lain-lain.
b. Genting ( Endangered ), yaitu jika spesies menghadapi resiko kepuhan di
alam sedikitnya 20 % dalam 20 tahun lalu atau lima generasi, mana saja
yang lebih lama. Conrtohnya Orangutan, Surili, Bekantan, Kijang,
Beruang madu, Elang Jawa, dan lain-lain
c. Rentan/ Rawan ( Vulnerable ) yaitu jika spesies menghadapi resiko
kepunahan dialam sedikitnya 10% dalam 100 tahun. Contohnya Lutung,
Kukang, Labi-labi Moncong Babi, Kura-kura Rote, Kakatua Putih, Burung
Maleo, Merak, dan lain-lain.

D. Kategori Tidak Terancam Punah ( Resiko Rendah, Lower Risk )

a. Tergantung Tindakan Konservasi ( Conservation Dependent ), yaitu jika


spesies yang menjadi fokus program konservasi khusus dan jika program
tersebut dihentikan akan meyebabkan spesies tersebut dimasukan dalam
satwa kategori terancam punah dalam waktu lima tahun.
b. Mendekati Terancam Punah ( Near Threathened ), yaitu jika spesies tidak
memenuhi syarat kategori terancam punah di atas, tetapi kemungkinan
akan memenuhi syarat kategori terancam punah dalam waktu dekat.
Contoh burung cabe dan burung Kacamata Jawa
c. Kurang Data ( Data Deficient ), yaitu spesies yang tidak ada atau kurang
data sebaran dan populasinya yang memadai untuk menduga resiko kepu
kepunahannya, baik secara langsung atau tidak langsung contohnya
burung Serak Kecil.

Upaya perlindungan terhadap satwa liar dilindungi dilakukan terhadap


perdagannya. CITES ( Convension on International Trade In
EndangeredSpesies of Wild Fauna and Flora ) merupakan konvensi
Internasional yang mengawasi dan memastikan bahwa perdagangan spesies liar
tidak mengancam. Keberadaannya di alam. Untuk itu CITES menetapkan daftar
spesies yang perlu diawasi perdagangannya dalam tiga kategori :

Appendiks 1 adalah seluruh jenis yang terancam bahaya kepunahan, yang


terkena dampak atau mungkin terkenan dampak pedagangan sehingga
menjadi terancam punah. Seluruh jenis ini tidak boleh diperdagangkan,
contohnya Bekantan, Siamang, Lumba-lumba bengkok, Macan Dahan,
Rusa Bawean, Mentok Rimba, Burung Maleo, Duyung, Arwana, dan lain-
lain
Appendiks II adalah jenis yang populasinya dialam saat ini belum
terancam bahaya kepunahan namun dapat menjadi terancam apa bila
perdagangannya tidak dikendalikan, serta jenis lain yang populasinya di
alam yang saat ini belum terancam namun pemanfaatannya harus
dikendalikan. Contohnya beberapa jenis Kalong, Tupai, Elang, Monyet,
Lutung, Biawak, Sanca, dan kupu-kupu Raja, Kukang, Merak, Kakatua
Jambul Kuning, dan lain-lain.
Appendiks III adalah jenis yang oleh negara tertentu di inginkan untuk
dikontrol secara internasional melalui mekanisme CITES, dan
diperlakukan seperti jenis Appendiks II. Contoh satwa liar indonesia untuk
kategori ini tidak ada.

E. Upaya Pelestarian Satwa Liar

Usaha dan tindakan konsevasi untuk menjamin lestarinya keanekaragaman


jenis satwa liar dan habitatnya adalah dengan membuat suatu kawasan pelestarian
alam.

1. Pelestarian in situ, yaitu upaya pelestarian komponen alam yang


mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang
dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan,
menunjang, budidaya pariwisata, dan rekreasi. Contoh; TN Halimun, TN
Gunung Gede Pangrango, dan TN Gunung Ciremai.
Cagar Alam ( CA ), yaitu kawasan suaka alam yang kedaan
alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan atau
ekosistem tertentu perlu dilindungi dan perkembangannya
berlangsung secara alami. Contoh: CA Burangrang, CA, Gunung
Tilu, CA, Panjalu, CA, Leuweng Sancang, dan lain-lain.
Suaka Margasatwa ( SM ), Yaitu kawasan suaka alam yang
mempunyai khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis
satwa yang untuk keberlansungan hidupnya dapat dilakukan
pembinaan terhadap habitatnya. Contoh: SM Cikepuh dan SM
Gunung Sawal.

2. Pelestarian ex situ, yaitu upanya pelestarian komponen keaneka ragaman


hayati diluar habitat aslinya.
Kebun Binatang ( KB), yaitu suatu kawasan yang berisi koleksi
satwa liar untuk diamanfaatkan untuk sebagai tempat rekreasi dan
pendidikan konservasi contoh. KB. Bandung, KB, Ragunan, KB,
Gembira Loka, dan lain-lain.
Taman Wisata Alam ( TWA ), yaitu kawasan pelestarian alam
yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam.
Contohnya. TWA, Linggarjati, TWA, Carita, TWA, Tampomas,
dan lain-lain.
Kebun Raya ( KR ). Yaitu kawasan pelestaroian alam untuk
koleksi tumbuhan dan satwa yang alami atau buatan dan
diamanfaatkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan,
pendidikan,menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Contoh.
KR Cibodas. KR Bogor, dan lain-lain.
Taman Hutan Raya ( THR ), yaitu kawasan pelestarian alam untuk
tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau buatan,
jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan
penelitian. Contoh: THR Ir.H. Djuanda.
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya.
Upaya kita dalam menyelamatkan satwa sebenarnya merupakan suatu tanggung
jawab pemerintah atas kepeduliannya untuk melakukan suatu tindakan yang
positif dalam menyelamatkan satwa. satwa liar adalah semua binatang yang hidup
di darat , dan/atau di air dan/atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar
baik yang hidup bebas maupun di pelihara oleh manusia.

Penyebab kepunahan satwa liar diakibatkan berkurangnya luas hutan


menjadi faktor penting penyebab terancam punahnaya satwa liar Indonesia,
karena hutan menjadi habitat utama bagi satwa liar. Ada pula beberapa macam
upaya manusia untuk melindungi satwa dan tumbuhan dengan dibuatnya suatu
kawasan perlindungan satwa liar dan tumbuhan menurut Undang-Undang, yaitu
seperti: Cagar Alam, Taman Nasional, Taman Laut, Kebun Raya, dan Suaka
Margasatwa yang diharapkan dapat melindungi satwa liar dan tumbuhan yang
langka agar tetap terjaga keberadaanya.
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, A., P.O.Ngakan., A.U., Asriany. 2013. Potensi Keanekaragaman Satwa


Liar Untuk Pengembangan Ekoswisata di Laboratorium lapangan
Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Hutan Pendidikan
UNHAS. Makassar : Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea. Vol.
2(2).

Departemen kehutanan. 2007. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah


Sumatra dan Kalimantan : Jakarta.

Imron, M. A., J. O. Sinaga. 2007. Aktivitas Manusia dan Distribusi Banteng di


Taman Nasional Alas Purwo. Yogyakarta : Jurnal Ilmu Kehutanan.
Vol. 1(2).

Noerdjito Mas, Maryanto Ibnu. 2001. Jenis-jenis Hayati yang Dilindungi


Perundangundangan Indonesia. Cibinong: Balitbang Zoologi
Puslitbang Biologi- LIPI

Semiadi, Gono. 2007. Pemanfaatan Satwa Liar dalam Rangka Konservasi dan
Pemenuhan Gizi Masyarakat. Cibinong : Jurnal Fauna Tropika.

Soehartono Tonny, Mardiastuti. 2003. Pelaksanaan Konvensi CITES di


Indonesia: Jakarta.

Wahono, Ratnasari. 2015. Peran Balai Konservasi Sumberdaya Alam Istimewa


Yogyakarta (BKSDA DIY) dalam Pengendalian Terhadap
Perdagangan Satwa Liar yang Dilindungi. Yogyakarta : Skripsi
Universitas Atma Jaya Yogyakarta FH.