Anda di halaman 1dari 11

Kasus 1

Seorang wanita usia 25 tahun, mengeluh pandangan kabur perlahan-lahan sejak 6 bulan yang lalu.
Pasien merasa kesulitan dalam membaca. VODS 0.1 phtm. Segmen anterior dalam batas normal. Fundus
kedua mata ditemukan bercak oval di area macula yang disertai dengan penipisan. Pasien mengeluh
adanya nyeri pada beberapa sendi sejak kecil dan sudah mendapat obat rutin.

1. Diagnosis dari kasus di atas:


a. Stargardt Disease
b. Cone dystrophy
c. Hydroxychloroquin/Chloroquin Retinal toxicity
d. Retinitis Pigmentosa
e. Central areolar choroidal dystrophy

2. Hal yang paling mungkin terjadi pada pasien tersebut:


a. Pada pemeriksaan lapang pandang akan diperoleh depresi umum
b. Pandangan masih akan tetap kabur meskipun etiologi dihilangkan
c. Pasien mengalami kesulitan untuk beradaptasi dari ruangan terang ke gelap
d. Pemberian vitamin A dapat memperburuk keadaan pasien.
e. Scotopic a wave turun.

3. Penyebabnya adalah:
a. Deposisi pigmen lipofuscin pada RPE
b. Akumulasi pigmen karena rendahnya fagositosis pada level RPE
c. Toksisitas pada melanin RPE
d. Adanya defek pada sel konus

4. Rencana selanjutnya pada pasien tersebut


a. Screening seluruh keluarga
b. Pemberian vitamin A
c. Penyesuaian dosis obat
d. Observasi

Kasus 2

Seorang bayi perempuan, usia 4 minggu, dibawa ibunya untuk pemeriksaan mata rutin. Usia kehamilan
27 minggu dengan berat lahir 1100 gr. Pada mata kanan diperoleh pertumbuhan pembuluh darah belum
melewati polus posterior dengan adanya garis halus pada sisi temporal. Pada mata kiri ditemukan
pembuluh darah sudah melewati polus posterior namun belum melewati ekuator dengan adanya
peninggian di jam 5 7. Pembuluh darah Nampak berkelok-kelok pada kedua mata.

1. Diagnosis yang tepat adalah


a. OD pretreshold ROP tipe 1
b. OS threshold ROP
c. OD ROP stage 1 zona I
d. OS ROP stage 2 zona II
2. Rencana berikutnya pada pasien tersebut adalah
a. Observasi
b. Pemeriksaan indirek oftalmoskopi pada usia 6 minggu
c. Injeksi anti VEGF intravitreal
d. Laser indirect ophthalmoscopy dalam waktu 72 jam

3. Yang termasuk tahapan pada pencegahan ROP adalah:


a. Pencegahan primer : Mencegah bayi terlahir premature
b. Pencegahan sekunder : pelatihan dokter mata untuk skrining ROP
c. Pencegahan tersier : Melakukan skrining ROP pada semua bayi premature
d. Pencegahan sekunder : Meningkatkan prenatal dan postnatal care
e. Pencegahan primer : Melakukan laser pada ROP stage 3

Kasus 3

Seorang laki-laki usia 10 tahun datang dengan keluhan pandangan kabur yang dirasakan memburuk
sejak 5 bulan sebelumnya. VOD 6/60 phtm dan VOS 3/60 phtm. Segmen anterior kedua mata dalam
batas normal. Pada pemeriksaan fundus mata kanan diperoleh adanya pembesaran pembuluh darah
dengan pola berlekuk-lekuk. Pada mata kiri tampak adanya peninggian retina dengan banyak eksudasi,
pembesaran pembuluh darah dan berlekuk-lekuk. Dari anamnesis diperoleh tidak ada keluarga yang
menderita penyakit yang sama.

1. Apakah diagnosis dari kasus tersebut?


a. Uveitis posterior
b. Coats disease
c. Retinitis CMV
d. Acute Retinal necrosis
e. Vitreoretinopati eksudativa

2. Bagaimana penanganan utamanya?


a. Injeksi anti VEGF intravitreal
b. Vitrektomi
c. Methylprednisolon 1 1.5 mg/kg BB iv dilanjutkan dengan maintenance dose
d. Laser photocoagulation
e. Gancyclovir 50mg/kg BB dua kali sehari selama 14 hari

3. Hal yang terkait dengan penyakit tersebut adalah


a. Biasanya menyerang laki-laki
b. Dapat menyerang wanita dan pria secara setara
c. Terkait infeksi
d. Terkait penyakit sistemik
e. Banyak menyerang pasien dengan supresi imun
Kasus 4

Seorang pria usia 30 th mengeluh pandangannya kabur perlahan. Kadang terasa ada bayangan hitam
yang terbang menutupi pandangannya. VOD 5/60 phtm VOS 2/60 phtm. Pada pemeriksaan diperoleh
kedua mata keratic presipitat besar-besar, dengan flare dan cell +2 di COA. Pemeriksaan fundus mata
kanan diperoleh lesi kekuningan multiple terutama di polus posterior letaknya dalam dan tersebar
disertai perivascular sheating. Pemeriksaan fundus mata kiri diperoleh adanya kekeruhan vitreus. Pasien
mengeluh ada benjolan di leher namun belum diperiksakan ke dokter. Riwayat trauma dan penyakit
mata sebelumnya disangkal.

1. Apa diagnosis pada pasien tersebut?


a. Primary ocular TB
b. Uveitis tuberculosa sekunder
c. Panuveitis
d. Eales disease

2. Bagaimana penegakan diagnosis pada pasien tersebut?


a. Pemeriksaan HLA serotyping
b. Pemeriksaan darah lengkap
c. Pemeriksaan PCR dari cairan intraocular
d. Pemeriksaan USG untuk mata kiri

3. Apabila tidak ditemukan kelainan sistemik pada pasien tersebut, apa diagnosisnya?
a. Idiopathic panuveitis
b. Eales disease
c. Endophtalmitis
d. Birdshot uveitis

Kasus 5

Seorang wanita usia 30 tahun mengeluh kedua matanya kabur sejak 8 bulan yang lalu. Pandangan
dirasakan makin lama makin kabur. VOD 1/300 phtm dan VOS 6/60 phtm. Segmen anterior mata kanan
dan kiri diperoleh conjunctival injection, leukoma kornea di jam 8-10 dengan benang in situ, keratic
precipitat besar-besar, dengan reaksi flare dan cell (+3), iris tidak bulat dan nonreaktif. Lensa dan vitreus
sedikit keruh. Segmen posterior mata kanan ditemukan adanya lesi kuning di area midekuator dengan
peninggian retina. Pemeriksaan fundus mata kiri diperoleh kekeruhan vitreus tipis dan multiple lesi
kuning. TIO OD 8 mmHg OS 10 mmHg. Terdapat riwayat trauma pada mata kanan satu tahun yang lalu.
Pasien juga mengeluh adanya perubahan warna rambut alis dan kulit namun tidak ada penurunan
pendengaran.

1. Diagnosis pada kasus di atas yaitu:


a. VKH syndrome
b. Oftalmia simpatika
c. Tuberculous uveitis
d. Sarcoidosis

2. Yang terkait dengan penegakan kasus di atas adalah:


a. Adanya bukti infeksi bakteri M. tuberculosa
b. Kadar ACE yang tinggi
c. Banyak pada ras Asia
d. Riwayat trauma pada mata kanan

3. Yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit tersebut:


a. Pemberian OAT rutin
b. Enukleasi pasca trauma
c. Tidak ada pencegahan yang bisa dilakukan
d. Pemeriksaan ACE berkala

4. Lesi kekuningan yang ditemukan pada fundus pasien tersebut dinamakan:


a. Sigiura sign
b. Nodul Koeppe
c. Nodul Busacca
d. Dalen Fuch
e. Tubercle

5. Sebagai seorang dokter bagaimana cara mengedukasi pasien tersebut?


a. Menjelaskan bahwa keadaan tersebut dapat dihindari bila dokter mata sebelumnya
melakukan pengambilan bola mata.
b. Menjelaskan bahwa penyakitnya merupakan perjalanan ilmiah dari penyakit yang
mendasarinya.
c. Menjelaskan bahwa minum obat teratur dapat menyembuhkan matanya.
d. Menjelaskan bahwa pasien harus periksa kembali ke dokter sebelumnya untuk tata
laksana lebih lanjut.

Kasus 6

Seorang pria usia 56 th mengeluh pandangan mata kanan kabur selama 8 bulan terakhir. Mata merah
dan terasa nyeri sampai pasien menangis. Pasien riwayat menjalani operasi katarak mata kanan 1 tahun
yang lalu. Pandangan sempat jelas pasca operasi. VOD 1/300. Segmen anterior diperoleh injeksi
konjungtiva, edema kornea, multiple discrete KP, flare dan cell (+). IOL terpasang in situ. Segmen
posterior diperoleh vitreous keruh dan segmen posterior sulit diperiksa. Mata kiri dalam batas normal.

1. Pemeriksaan tambahan yang harus dilakukan untuk mata kanan:


a. Pemeriksaan HLA
b. Pemeriksaan USG
c. Pemeriksaan OCT
d. Pemeriksaan FFA

2. Diagnosis pada pasien tersebut adalah


a. Sarcoidosis
b. Endoftalmitis endogen
c. Endoftalmitis akut
d. Endoftalmitis kronis
e. Oftalmia simpatika

3. Kemungkinan etiologi pada kasus tersebut


a. Adanya trauma pada operasi
b. Propionibakterium
c. Stafilokokus
d. Candida
e. Adanya reaksi granuloma

4. Penatalaksanaan selanjutnya pada kasus tersebut adalah


a. Vitrektomi dan injeksi intravitreal vancomycin
b. Terapi imunosupresif
c. Vitreous tap dan injeksi intravitreal ceftazidime
d. Vitreous tap dan injeksi intravitreal Amphotericin
e. Biopsi nodul

5. Faktor risiko pada terjadinya kasus tersebut


a. Penderita DM
b. Durasi operasi kurang dari 1 jam
c. Adanya jaringan uvea yang terjepit
d. Ras Afrika

Kasus 7

Seorang pria kesepian usia 27 tahun, merasa pandangan mata kiri kabur semenjak dua minggu yang lalu.
Mata terasa silau dan nyeri. Keluhan ini dirasakan untuk pertama kalinya. Riwayat nyeri gigi dan gigi
berlubang disangkal, infeksi saluran nafas disangkal. VOD 2/60 VOS 6/15 ph 6/6. Segmen anterior mata
kanan: injeksi konjungtiva difus, kornea edema dengan disertai keratik presipitat kecil dan difus. Reaksi
flare dan cell +3. Pupil diameter 2 mm, lensa jernih, segmen posterior detil membayang. Pemeriksaan
USG mata kanan tidak ditemukan kekeruhan pada vitreus. TIO OD 29 mmHg. Mata kiri dalam batas
normal. Kelainan sistemik disangkal.

1. Pemeriksaan penunjang yang tidak perlu dilakukan untuk pasien tersebut adalah
a. Pemeriksaan lab darah lengkap
b. Pemeriksaan HLA
c. Pemeriksaan ESR, CRP
d. Pemeriksaan OPG dan SPN
e. Pemeriksaan RF dan ANA
2. Diagnosis pada pasien tersebut adalah
a. Keratouveitis
b. Acute anterior uveitis
c. Intermediate uveitis
d. Iridocyclitis
3. Hal yang tidak menyebabkan peningkatan TIO pada pasien ini
a. Blok pupil
b. Trabekulitis
c. Peningkatan produksi HA oleh corpus siliaris
d. Sumbatan trabekulum meshwork oleh debris dan cells
4. Apabila diameter pupil 4 mm dan pasien tidak berespon baik dengan steroid selama terapi 1
minggu, kemungkinannya adalah
a. Pasien mengalami infeksi jamur
b. Pasien menderita Posner-Schlossman Syndrome
c. Steroid topical bukan lini pertama untuk kasus uveitis
d. Pasien resisten terhadap steroid

Kasus 8

Seorang duda berusia 70 tahun mengeluhkan mata kanannya kabur perlahan sejak 2 bulan terakhir.
Nyeri dan mata merah disangkal. Pasien merasa ada yang terbang di dalam matanya. VOD 4/60 phtm,
VOS 6/40 phtm. Segmen anterior kedua mata dalam batas normal. Fundus mata kanan seperti yang ada
di gambar. Mata kiri lensa keruh grade I dengan fundus dbn. Pasien mengaku pernah mengalami lumpuh
pada sisi kiri tubuhnya.

1. Pemeriksaan tambahan yang perlu dilakukan pada pasien ini adalah


a. Pemeriksaan TORCH
b. OCT
c. USG
d. MRI/CT scan kepala
e. Cek CRP dan ESR
2. Diagnosis pada pasien ini yaitu
a. Retinitis CMV
b. Primary CNS lymphoma
c. Uveitis posterior
d. Retinochoroiditis Birdshot
e. Wet AMD
3. Tatalaksana selanjutnya yaitu
a. Pemberian foscarnet 90 mg/kg BB dua kali sehari selama 2 minggu.
b. Methylprednisolon 1-2 mg/kg BB 3 hari pertama dilanjutkan maintenance dose
c. Injeksi intravitreal ganciclovir 0.2 2 mg/0.1 cc
d. Injeksi intravitreal methotrexate
e. Injeksi intravitreal anti VEGF

Kasus 9

Seorang pria ganteng eksmud usia 30 thn datang ke poli mata dengan keluhan mata merah dan nyeri
sejak 1 hari yang lalu. Pasien mengeluh matanya keluar belek yang sangat banyak. Pada pemeriksaan
diperoleh VODS 4/60 phtm. Injeksi konjungtiva bulbi dan palpebra dengan kemosis dan discharge
purulent melimpah dengan lapisan membran. Kornea tampak edem dan keruh dengan hasil fluoresensi
(+). Iris, pupil dan segmen posterior sulit dinilai. Limfonodi preaurikular teraba dan terasa nyeri. Pasien
merupakan pemakai lensa kontak dengan ukuran S -2. Pasien mengakui sempat berenang dengan
partnernya namun lupa melepas lensa kontaknya saat ada meeting di Hotel tiga hari yang lalu.

1. Pemeriksaan tambahan apa yang harus dilakukan untuk penegakan diagnosisnya?


a. Placido test
b. Pewarnaan Gram dan kultur di agar darah
c. Pewarnaan Gram dan kultur Thayer Martin, agar coklat
d. USG
e. Esthesiometry
2. Apakah diagnosis dari pasien tersebut?
a. Keratitis Akanthamoeba
b. Keratokonjungtivitis Gonorrhea
c. Keratokonjungtivitis klamidia
d. Keratitis pseudomonas
e. Trachoma
3. Bagaimanakah penanganannya?
a. Topical polihexametilen biguanide
b. Rawat jalan dengan pemberian injeksi ceftriaxone 1G im
c. Rawat inap dengan pemberian injeksi ceftriaxone 1G/12 jam iv
d. Topikal tetracyclin 1% eo/12 jam dan single dose oral azitromisin 1G
e. Topikal ofloxacin dengan loading dose
4. Tindakan mana yang tepat yang harus dilakukan oleh seorang dokter dengan memegang prinsip
etik?
a. Segera menghubungi partnernya untuk dilakukan pemeriksaan terhadap penyakit yang
berkaitan
b. Menyebarkan foto pasien ke social media atas ijin pasien.
c. Menanyakan pasien aktivitas seksualnya.
d. Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakitnya berhubungan dengan STD dan
partnernya harus segera diobati bila menunjukkan gejala.
e. Merujuk pasien dengan alasan tidak bisa merawat pasien yg infeksius.

Kasus 10

Seorang anak laki-laki kurus berusia 10 tahun datang ke poli Mata. Orang tuanya mengeluh mata anak
merah dan ada putih-putih di bagian hitam mata kiri. VOD 6/15 ph 6/6. Mata kiri 6/40 phtm.
Pemeriksaan segmen anterior dan posterior mata kanan dbn. Mata kiri ditemukan nodul bulat,
hiperemis dan menonjol di dekat limbus temporal kornea. Kornea di sekitarnya Nampak menipis dengan
adanya defek yang terwarna oleh fluoresen. Segmen posterior dalam batas normal.

1. Penyakit ini diperantarai oleh reaksi hipersensitivitas tipe:


a. I
b. II
c. III
d. IV
2. Apa diagnosisnya?
a. Keratokonjungtivitis flikten
b. Keratokonjungtivitis stafilokokal
c. Pinguekulitis
d. Inflammed pterygia
3. Tatalaksana dari penyakit ini adalah
a. Artificial tear
b. Pemberian steroid topical
c. Antibiotic ed
d. Bandage contact lens
4. Yang perlu dilakukan selanjutnya pada anak ini
a. Melakukan skrining pada keluarga terhadap penyakit serupa
b. Merujuk pasien ke bagian pediatric untuk penegakan diagnosis penyakit terkait
anak2 TB
c. Melakukan eksisi nodul bila kasus recurrent dan tidak baik secara kosmetik
d. Mengedukasi pasien agar menjaga higienitas mata

Kasus 11

Seorang wanita usia 45 tahun datang ke poli mata dengan keluhan mata nyeri dan silau. Pasien
merasakan pandangan kabur sejak 5 bulan yang lalu. Ia mengeluhkan ada putih-putih di tepi bagian
hitam mata kirinya, awalnya hanya kecil, namun meluas secara progresif. Pada pemeriksaan diperoleh
VODS 6/6E dan 6/60 phtm. Mata kiri : konjungtiva hiperemis, dengan defek kornea perifer dari jam 11-8
dengan beberapa neovaskularisasi. Segmen posterior sulit dinilai. USG mata kiri dalam batas normal.
Pasien sudah mendapatkan tetes mata antibiotic namun tidak membaik. Pasien mengakui pernah
menderita sakit kuning 9 bulan yang lalu dan masuk rawat inap intensif karena koma.

1. Apa diagnosis penyakit ini?


a. Peripheral ulcerative keratitis
b. Bacterial keratitis
c. Mooren ulcer
d. Fungal keratitis
e. Exposure keratitis sepertiga inferior
2. Apa penyebabnya?
a. Adanya infeksi bakteri yang tidak tertangani dengan baik
b. Riwayat koma yang menyebabkan lubrikasi kornea berkurang
c. Imunitas tubuh yang rendah
d. Immune mediated inflammation
3. Pernyataan yang tepat mengenai penyakit ini yaitu
a. Kebanyakan berkaitan dengan penyakit imun sistemik
b. Adanya disfungsi sel T suppressor
c. Dapat dicegah dengan frequent lubrication
d. Higienitas mata penting dalam mencegah progresi penyakit ini

Kasus 12

Seorang wanita 40 tahun datang dengan keluhan kedua mata sering merah sejak 5 th terakhir. Mata
terasa mengganjal dan terasa berpasir. Keluhan ini dirasakan kumat-kumatan. VODS 6/60. Pemeriksaan
kedua mata menunjukkan adanya reaksi papiler di tarsus konjungtiva superior, injeksi dan penebalan
konjungtiva bulbi superior, hipertrofi superior limbus, dan filamen di kornea bagian superior. Kedua
mata tampak menonjol. Pasien memakai kacamata minus 3 ODS. Pasien merasa sering berdebar-debar
dan berkeringat dingin.

1. Pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan pada pasien ini untuk membantu penegakan
diagnosis
a. Scraping kornea dan pewarnaan Gram
b. Sitologi impresi increase sitoplasma dan nuklei, sneak nuclei,
c. Schirmer test
d. Hertel exophthalmometry
e. Pemeriksaan skin prick test

2. Diagnosis pada kasus ini adalah


a. Thyroid Orbitopathy
b. Keratokonjungtivitis sicca
c. Superior limbic keratitis
d. Keratokonjungtivitis vernalis

3. Rencana selanjutnya pada pasien ini


a. Melakukan pemeriksaan free T4 dan TSH
b. Memberikan antibiotic ed
c. Scrapping filament kornea
d. Pemberian antihistamin oral dan topikal

Kasus 13

Seorang anak laki-laki umur 10 th datang ke poli mata karena matanya sering gatal dan kumat-kumatan.
Gatal pada matanya sampai mengganggu tidur pasien. Pemeriksaan mata diperoleh VODS 6/30 dengan
spasme palpebral ringan, injeksi konjungtiva, dan discharge mucoid. Segmen posterior kedua mata
dalam batas normal. Pasien secara rutin menggunakan soft lens -2 D ODS. Pasien juga sering pilek.
Orang tua pasien memiliki riwayat bentol-bentol karena alergi terhadap seafood.

1. Penegakan diagnosis pada pasien ini dibantu oleh pernyataan berikut:


a. Pemakaian soft lens rutin
b. Adanya injeksi konjungtiva
c. Gatal yang sangat mengganggu
d. Gejala yang dirasakan kumat-kumatan
2. Reaksi hipersensitivitas yang memperantarai penyakit pasien adalah
a. I
b. II
c. III
d. IV
e. I dan IV
3. Diagnosis pada pasien adalah
a. Hay fever conjunctivitis
b. Vernal keratoconjunctivitis
c. Atopic keratoconjunctivitis
d. Contact lens related conjunctivitis
4. Tatalaksana selanjutnya yaitu
a. Pemberian cell mast stabilizer ed 2 minggu sebelum gejala biasanya muncul VKC
b. Melarang penggunaan soft lens
c. Terapi suportif dengan kompres dingin dan artificial tears
d. Pemberian antihistamin oral dalam jangka panjang

Kasus 14

Seorang petani 59 th datang dengan keluhan mata merah dan nyeri yang sangat. Pasien mengeluhkan
pandangan kabur sejak satu bulan yang lalu dengan riwayat kecolok daun pisang. Pemeriksaan mata
VODS 1/300 B/B dan 6/40 phtm. Mata kanan pasien : spasme palpebral, injeksi konjungtiva dan
perikornea, defek di kornea yang terwarna dengan fluoresen ukuran 6x3 mm, infiltrate batas tidak tegas
dan Nampak feathery dengan lesi kecil-kecil di sekitarnya. Pada BMD ditemukan ada cairan putih kental.
USG mata kanan dalam batas normal. Mata kiri lensa keruh grade II, lain-lain dbn. Pasien sudah berobat
ke dokter mata di daerah 2 minggu yang lalu, dan mendapatkan obat antibiotic ed. Pasien meminta
dokter sebelumnya untuk merujuk karena merasa tidak ada perbaikan.

1. Pemeriksaan lanjutan yang diperlukan


a. Pewarnaan KOH dan kultur dalam media Sabouraoud
b. Pewarnaan lissamine green.
c. Esthesiometry
d. AS OCT
e. Pemeriksaan Gram
2. Apabila hasil kultur negatif yang bisa dilakukan
a. Meneruskan terapi antibiotic tetes
b. Menambahkan ciprofloxacin oral 2x500 mg
c. Mengulang scraping kornea dan debridement
d. Mengganti antibiotik
3. Pasien direncanakan mondok untuk injeksi obat antifungal namun pasien menolak tindakan
tersebut. Dokter merasa tindakan pasien salah karena tidak mau disuntik dan memaksa pasien
untuk menandatangani informed consent. Hal ini bertentangan dengan prinsip
a. Maleficence
b. Beneficence
c. Autonomy
d. Justice