Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Pengertian
Kanker paru merupakan abnormalitas dari sel-sel yang mengalami proliferasi
dalam paru. (Somantri Irman, 2012)
Kanker paru adalah pertumbuhan sel-sel kanker yang tidak dapat terkendali
dalam jaringan paru yang dapat disebabkan oleh sejumlah karsinogen
lingkungan terutama asap rokok (Sudoyo Aru, dkk, 2007)
Kanker paru adalah kanker pada lapisan epitel saluran nafas (Elizabeth, 2009)
B. Proses Terjadinya Masalah
1. Faktor Presipitasi
Penyebab yang pasti dari kanker paru belum diketahui (Amin, 2006)
2. Faktor Presdiposisi
a. Merokok
Merokok beresiko lebih tinggi mengalami kanker paru (wilson, 2006).
Kejadian kanker paru pada perokok dipengaruhi oleh usia mulai
merokok, jumlah batang rokok yang di hisap setiap hari, lamanya
kebiasaan merokok, dan kapan berhenti merokok (Stoppler, 2010)
b. Perokok pasif
Orang-orang yang tidak merokok, tetapi menghisap asap rokok dari
orang lain juga beresiko terserang kanker paru (Wilson, 2006).
c. Polusi udara
Individu yang terpajan polusi udara beresiko lebih tinggi terkena kanker
paru. Polusi udara antara lain polusi udara bermotor, pabrik, ataupun
sumber air dengan kadar tinggi SO2 dan NO2 yang merupakan gas
paling berbahaya bagi paru (Wilson, 2006)
d. Paparan zat karsinogen
Beberapa zat karsinogen seperti Asbetos, Uranium, Radon, Arsen,
Kromium, Nikel, Polisiklik hidrokarbon, dan Vinil klorida dapat
menyebabkan kanker paru. Resiko kanker paru diantara pekerja yang
mengenai asbes kira-kira sepuluh kali lebih besar dari pada masayarakat
umum. Resiko kanker paru baik akibat kontak dengan asbes maupun
uranium meningkat kalau orang tersebut juga merokok (Amin, 2006)
e. Genetik
Penyakit paru seperti tuberculosis dan penyakit paru obstruktif kronik
juga dapat menjadi resiko kanker paru. Seorang dengan penyakit paru
obstruktif kronik beresiko empat sampai enam kali lebih besar terkena
kanker paru ketika efek dari merokok di hilangkan (Stoppler, 2010)
C. Patofisiologi
Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus
menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan
karsinogen. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan
metaplasia,hyperplasia dan displasia. Bila lesi perifer yang disebabkan oleh
metaplasia, hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura, biasa timbul
efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra.
Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang
terbesar. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti
dengan supurasi di bagian distal. Gejala gejala yang timbul dapat berupa
batuk, hemoptysis, dispneu, demam, dan dingin.Wheezing unilateral dapat
terdengan pada auskultasi.
Pada stadium lanjut, penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya
metastase, khususnya pada hati. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur
struktur terdekat seperti kelenjar limfe, dinding esofagus, pericardium, otak,
tulang rangka.
(Somantri Irman. 2012)
D. Maninfestasi Klinik
Menurut (Setiati, dkk, 2014), pada fase awal kebanyakan kankaer paru tidak
menunjukkan gejala-gejala klinis, antara lain:
Tanda dan gejala
1. Hemoptisis (batuk darah) artinya adanya pengeluaran darah dari saluran
pernafasan.
2. Mengi (wheezing) karena adanya obstruksi saluran nafas, suara yang
bernda tinggi karena adanya sumbatan pada struktu saluran nafas, sehingga
ruang untuk mengalirnya udara inspirasi mengecil yang menyebabkan
penderita mengalami gangguan pernafasan.
3. Nyeri dada yaitu rasa sakit di dada, tekanan, atau sesak, dari leher ke perut
bagian atas, entah itu nyeri dada sebelah kiri ataupun nyeri dada sebelah
kanan.
4. Efusi pleura (penimbunan cairan pada rongga pleura)
5. Sering terdapat pada perokok dengan PPOK yang terdeteksi secara
radiologis.
E. Klasifikasi
Menurut Tim CancerHelps (2010 : 64) Kanker paru terdiri atas dua jenis
yaitu, Small Cell Lung Cancer (SCLC) dan Non-Small Cell Lung Cancer
(NSCLC). Lebih dari 80% kasus kanker paru merupakan NSCLC dengan
subkategori adenokarsinoma, karsinoma, squamosa dan karsinoma sel besar.
a. Non-Small Cell Lung ( NSCLC)
Kanker paru jenis ini terbagi menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.
1. Karsinoma squamosa merupakan jenis kanker yang paling umum
terjadi.proses ini berkembang di dalam sel yang menggarisi saluran
udara. NSCLC merupakan jenis kanker yang sering terjadi. Penyebab
utamanya adalah rokok.
2. Adenokarsinoma merupakan jenis kanker paru yang berkembang dari
sel sel yang memproduksi lender atau dahak di permukaan saluran
udara. jenis ini lebih umum terjadi.
3. Karsinoma sel besar merupakan salah satu jenis sel kanker paru yang
apabila dilihat di bawah mikroskop bentuk bundar besar. Sering juga
di sebut undiferentiated carcinoma.
b. Small Cell Lung (SCLC)
Lebih dari 80% kasus kanker paru merupakan golongan NSCLC
(Muttaqin Arif. 2008)
F. Komplikasi:
Kompikasi yang sering dijumpai pada kanker paru (Danusantoso, 2012).
Anatara lain:
1. Efusi pleura, suatu kondisi medis yang ditandai dengan peningkatan cairan
yang berlebih diantara kedua lapisan pleura. Pleura adalah kantung yang
terdiri dari dua lapis yang meliputi paru-paru dan memisahkannya dari
dinding dada dan struktur-struktur di sekitarnya.
2. Metastase pada tulang pinggang/punggung.
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Radiologi.
a. Foto thorax posterior anterior (PA) dan leteral serta Tomografi
dada.Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat
mendeteksi adanya kanker paru. Menggambarkan bentuk, ukuran
dan lokasi lesi. Dapat menyatakan massa udara pada bagian hilus,
effuse pleural, atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra.
b. Bronkhografi.
Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.
2. Laboratorium.
a. Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe). Dilakukan untuk
mengkaji adanya/ tahap karsinoma.
b. Pemeriksaan fungsi paru dan GDA
Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi
kebutuhan ventilasi.
c. Tes kulit, jumlah absolute limfosit.
d. Dapat dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum
pada kanker paru).
3. Histopatologi.
a. Bronkoskopi.
Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian,dan pembersihan
sitologi lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui).
b. Biopsi Trans Torakal (TTB).
Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer
dengan ukuran < 2 cm, sensitivitasnya mencapai 90 95 %.
c. Torakoskopi.
Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik
dengan cara torakoskopi.
d. Mediastinosopi.
Umtuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening
yang terlibat.
e. Torakotomi.
Totakotomi untuk diagnostic kanker paru dikerjakan bila
bermacam macam prosedur non invasif dan invasif sebelumnya
gagal mendapatkan sel tumor.
f. CT-Scanning, untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan
pleura.
g. MRI, untuk menunjukkan keadaan mediastinum.
(Danusantoso Halim. 2013)
H. Penatalaksanaan Medis
Tujuan pengobatan kaknker dapat berupa:
1. Pembedahan
Tujuan pembedahan kanker paru adalah untuk mengangkat jaringan yang
sakit dan mempertahankan sebnayak mungkin fungsi paru yang tidak
terken kanker.
2. Reseksi Segmental
Merupakan pengngkatan satu atau lebih segmen paru.
3. Radiasi
Pada beberapa kasus, radiasi dilakukan sebagai pengobatan kuratif dan juga
bosa sebagai terapi adjuvant / paliatif pada tumor dengan komplikasi,
seperti mengurangi efek obstruksi / penekanan pada pembuluh darah /
bronkus. (Elizabeth, 2009)
4. Batuk efektif
Teknik batuk efektif yang menekankan inspirasi maksimal yang dimulai
dari ekspirasi untuk merangsang terbukanya sistem kolateral dan
meningkatkan distribusi ventilasi.
5. Postural drainage
Teknik untuk melepaskan sekresi dari berbagai segmen paru menggunakan
pengaruh gaya gravitasi.
6. Kemoterapi
Untuk mengurangi jumlah sel kanker atau ukuran tumor.
I. Diagnosa
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis
2. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi
3. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi jalan
napas faktor kanker paru
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidak mampuan untuk menelan makanan
J. Intervensi
NO DIAGNOSA NOC NIC
1. Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan Management Nyeri :
berhubungan dengan keperawatan 3 x 24 jam di a) Observasi reaksi
agen cedera biologis harapkan nyeri dapat teratasi non verbal dari
dengan kriteria hasil :
ketidaknyamanan
a. Mampu mengontrol nyeri
b) Lakukan
( tahu penyebab nyeri,
pengkajian nyeri
mampu menggunakan
secara
tehnik nonfarmakologi
untuk mengurangi nyeri )
komprehensif

b. Melaporkan nyeri termasuk


berkurang dengan lokasi,karakteristi
menggunakan k, durasi,
management nyeri frekuensi,
c. Mampu mengenali nyeri kualitasdan factor
d. Menyatakan rasa nyaman presipitasi
setelah nyeri berkurang
c) Ajarkan tehnik
non farmakologi
d) Berikan informasi
mengenai nyeri
seperti penyebab
nyeri, berapa lama
nyeri akan
dirasakan, dan
antisipasi dari
ketidaknyamanan
akibat prosedur
e) Berikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri
f) Kolaborasikan
dengan dokter
jika ada
2. Defisiensi Setelah dilakukan tindakan Teaching : disease
pengetahuan keperawatan 3 x 24 jam di Process
berhubungan dengan harapkan defisiensi a. Berikan penilian
kurang informasi pengetahuan dapat teratasi tentang tingkat
dengan kriteria hasil : pengetahuan
a. Pasien dan keluarga pasien yang
menyatakan spesifik
pemahaman tentang b. Identifikasi
penyakit, kondisi, kemungkinan
prognosis dan program penyebab dengan
pengobatan cara yang tepat
b. Pasien dan keluarga c. Sediakan
mampu melaksanakan informasi pada
prosedur yang di pasien tentang
jelaska secara benar kondisi dengan
c. Pasien dan keluarga cara yang tepat
mampu menjelaskan d. Diskusikan
kembali apa yang perubahan gaya
dijelaskan perawat/tim hidup yang
kesehatan lainnya mungkin
diperlukan untuk
mencegah
komplikasi
dimasa yang akan
dating dan atau
proses
pengontrolan
penyakit
3. Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan Airway Management :
bersihan jalan nafas keperawatan 3 x 24 jam di a. Monitor respirasi
berhubungan dengan harapkan ketidakefektifan dan status O2
obstruksi jalan napas bersihan jalan nafas dapat b. Keluarkan secret
faktor kanker paru teratasi dengan kriteria hasil : dengan batuk atau
a. Mendemonstrasikan suction
batuk efektif dan suara c. Berikan
nafas yang bersih, tidak bronkidilator bila
ada sianosis dan perlu
dyspnea (mampu d. Atur intake untuk
mengeluarkan sputum, cairan
mampu bernafas mengoptimalkan
dengan mudah) keseimbangan
b. Menunjukan jalan nafas e. Lakukan
yang paten (klien tidak fisioterapi dada
merasa tercekik, irama jika perlu
nafas, frekuensi
pernapasan dalam
rentang normal, tidak
ada suara nafas
abnormal)
c. Mampu
mengidentifikasi dan
mencegah faktor yang
dapat menghambat
jalan nafas
4. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan Nutrition Management
a. Kaji adanya alergi
nutrisi kurang dari keperawatan 3 x 24 jam di
msakanan
kebutuhan tubuh harapkan ketidakseimbangan
b. Berikan informasi
berhubungan dengan nutrisi kurang dari kebutuhan
tentang kebutuhan
ketidak mampuan tubuh dapat teratasi dengan
nutrisi
untuk menelan kriteria hasil : c. Kolaborasi dengan
makanan a. Nafsu makan pasien ahli gizi untuk

meningkat, yang menentukan jumlah


kalori dan nutrisi
sebelumnya hanya dapat yang dibutuhkan
menghabiskan porsi diit pasien
d. Ajarkan pasien
menjadi porsi atau
bagaimana
menghabiskan semua membuat catatan
makan harian
porsi diit yang diberikan

RS

b. IMT dalam batas normal

18,5 20,5 kg/m2

c. Tidak terjadi penurunan

berat badan yang berarti


DAFTAR PUSTAKA

Amin, Z, 2006, Kanker Paru. Ilmu Penyakit Dalam, edisi ke 4. Jakarta


Danusantoso Halim. 2013. Buku Saku Ilmu Penyakit Paru. Jakarta. Penerbit Buku
Kedokteran
Elizabeth J, 2009. Buku Saku Patofisiologi. Edisi revist. Jakarta: EGC
Muttaqin Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan
Sistem Pernapasan. Jakarta. Penerbit Salemba Medika.
Setiataik, dkk, 2014. Buku Ajaran Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi 4. Jakarta
Pusat.
Somantri Irman. 2012. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta. Penerbit Salemba Medika.
Stoppler, 2010, Kanker Paru. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: EGC
Sudoyo Aru, dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV. Jakarta
Wilson L.M, 2006. Pola Obstruksi Pada Penyakit Dalam. Jakarta: EGC