Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRE PLANNING ASUHAN KEPERAWATAN

KELUARGA EFFECTIVENESS AND SAFETY OF CHINESE


MASSAGE THERAPY (TUI NA) ON POST-STROKE
SPASTICITY: A PROSPECTIVE MULTICENTER
RANDOMIZED CONTROLLED TRIAL PADA IBU M DENGAN
POST STROKE DI LINGKUNGAN DUSUN GUMUK SARI
DESA NOGOSARIKECAMATAN RAMBIPUJI KABUPATEN
JEMBER

disusun guna memenuhi tugas Pendidikan Profesi Ners


Stase Keperawatan Keluarga

oleh
Desi Rahmawati, S.Kep
NIM 122311101021

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
Alamat: Jl. Kalimantan No.37 Kampus Bumi Tegal Boto Jember
Telp./Fax (0331) 323450 Jember
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Analisis Situasi


Stroke merupakan kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke otak
terputus akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah, sehingga terjadi
kematian sel-sel pada sebagian area di otak. Stroke adalah kondisi kesehatan yang
serius yang membutuhkan penanganan cepat. Ketika pasokan darah yang
membawa oksigen dan nutrisi ke otak terputus, maka sel-sel otak akan mulai mati.
Karena itu semakin cepat penderita ditangani, kerusakan yang terjadi pun semakin
kecil bahkan kematian bisa dihindari.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, terdapat sekitar 12
penderita stroke per 1000 penduduk Indonesia. Stroke juga merupakan penyakit
pembunuh nomor satu di Indonesia.Orang-orang yang usianya lebih dari 65 tahun
paling berisiko terkena stroke. Namun dua puluh lima persen stroke terjadi pada
orang-orang yang berusia di bawah 65 tahun, termasuk anak-anak. Orang-orang
yang merokok, kurang olah raga, dan memiliki pola makan yang buruk juga
rentan terhadap stoke. Selain itu orang-orang yang sirkulasi darahnya terganggu
akibat tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, detak jantung tidak teratur atau
fibrilasi atrium, dan diabetes, juga lebih rentan terhadap stroke.
Stroke dapat menyebabkan kelumpuhan ataupun kelemahan pada bagian
tubuh seoperti ektremitas. Akibatnya orang yang mengalami stroke akan
terganggu dalam pemenuhan ADLnya akibat kelemahan ataupun kelumpuhan
yang dialami. Pasien post strroke memerlukan upaya rehabilitasi dalam
menangani hemiparese/hemiplegi. Salah satu terapi yang dpat diberikan untuk
mengurangi kekakuan pada kaki pasien post stroke adalah dengan melakukan pijat
Tui Na sesuai dengan jurnal yang berjudul Effectiveness and safety of Chinese
massage therapy (Tui Na) on post-stroke spasticity: A prospective multicenter
randomized controlled trial. Tui na merupakan suatu metode pijat dari China yang
negnggabungkan teknik mengurut,meremas, mencubit yang bertujuan untuk
melancarka peredaran darah sehingga sirkulasi darah menjadi lebih lancar.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas didapat rumusan masalah yaitu
Bagaimana cara mengatasi keluarga dengan pasien post strokemelalui penerapan
jurnal berjudul Effectiveness and safety of Chinese massage therapy (Tui Na) on
post-stroke spasticity: A prospective multicenter randomized controlled trial?

BAB II. TUJUAN DAN MANFAAT

2.1 Tujuan
2.1.1. Tujuan Umum
Setelah mengikuti pijat tui na pada pasien post stroke sesuai jurnal
Effectiveness and safety of Chinese massage therapy (Tui Na) on post-stroke
spasticity: A prospective multicenter randomized controlled trial diharapkan
mampu memahami dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari
2.1.2. Tujuan Khusus
a. Keluarga mampu mengenal dan menjelaskan fungsi terapi yang diberikan
b. Keluarga mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari serta bisa
bercerita tentang pengalaman selama terapi

2.2 Manfaat
Manfaat dari terapi ini adalah keluarga dapat menerapkan penggunaan pijat
Tui na

BAB 3. KERANGKA PENYELESAIN MASALAH

3.1 Dasar Pemikiran


Stroke di usia paruh baya adalah mengubah kehidupan, menantang
pengalaman bagi seluruh keluarga sehingga mengharuskan pendekatan keluarga
untuk intervensi. Terdapat sekitar 12 penderita stroke per 1000 penduduk
Indonesia. Stroke juga merupakan penyakit pembunuh nomor satu di Indonesia.
Orang-orang yang usianya lebih dari 65 tahun paling berisiko terkena stroke.
Namun dua puluh lima persen stroke terjadi pada orang-orang yang berusia di
bawah 65 tahun, termasuk anak-anak. Orang-orang yang merokok, kurang olah
raga, dan memiliki pola makan yang buruk juga rentan terhadap stoke. Selain itu
orang-orang yang sirkulasi darahnya terganggu akibat tekanan darah
tinggi, kolesterol tinggi, detak jantung tidak teratur atau fibrilasi atrium, dan
diabetes, juga lebih rentan terhadap stroke (Riset Kesehatan Dasar, 2013).

3.2 Kerangka Penyelesaian Masalah


Permasalahan yang sering terjadi di kalangan lansia dalam keluarga yaitu
dimensia/pikun. Salah satu upaya penyelesaian masalah yang dapat dilakukan
untuk membantu keluarga dengan stroke dalam pemeliharaan kesehatannya yaitu
dengan cara pijat Tui na.

BAB IV. RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN

4.1 Realisasi Penyelesaian Masalah


Kegiatan penyuluhan stroke dan mengajarkan pijat Tui na dengan stroke
dilakukan di rumah kediaman Ibu M pukul 10.00 WIB

4.2 Khalayak Sasaran


Khalayak sasaran pendidikan kesehatan tentang pencegahan komplikasi
hipertensi dan stroke dengan pijat Tui na dilakukan pada keluarga Tn. N dan
disampaikan kepada keluarga lain yang telah mandiri.

4.3 Metode yang Digunakan


Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan kesehatan
tentang pencegahan stroke berulang melalui pijat Tui na dengan metode ceramah
dan diskusi secara sederhana sekaligus mempraktekkan terapi.
DAFTAR PUSTAKA

stlund, dkk. 2016. A Family Systems Nursing Approach For Families Following
A Stroke: Family Health Conversations. Journal Of Family Nursing vol.
22(2)148171 the reprints and permissions. JFN: Univ Of Tennessee.
Waluyo S. 100 Questions and Answers Stroke. Jakarta: PT Elex Media

Komputindo. 2009.Siswono. Penderita Stroke Harus Segera Ditangani .2001.


Rabu, 28 November. Available at :
http://www.gizi.net/cgibin/berita/fullnews.cgi?newsid 1006846541, 26641

Mulyatsih E. Stroke, Petunjuk Praktis bagi Pengasuh dan Keluarga Klien


Pasca Stroke. Jakarta : FKUI. 1994.

Lumbantobing S. Stroke Bencana Peredaran Darah di Otak. Jakarta: FK-UI.


2003.

Waspadai Afasia Pasca Stroke. 2009. Available at: http://www.jawaban.com/


news/health/detail.php?id_news=090202132141&offx

Daftar Lampiran
1. Lampiran 1: Berita Acara
2. Lampiran 2: Daftar Hadir
3. Lampiran 3: SAP
4. Lampiran 4: Materi
5. Lampiran 5: Media
6. Lampiran 6: Dokumentasi
Lampiran 1: Berita Acara

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


PSIK UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN 2016

Pada hari Selasa, 9 Mei 2017 jam .00 WIB s/d selesai bertempat di kediaman Ibu
M di DusunGumuksari Desa NogosariKecamatan Rambipuji Kabupaten Jember
telah dilaksanakan kegiatan pijat Tui Na Kegiatan ini diikuti oleh ... orang (daftar
hadir terlampir).

Jember, 9 Mei 2017


Mengetahui
Dosen Pembimbing PSIK UNEJ

Ns. Kushariyadi. M. Kep.


NRP. 760015697
Lampiran 2: Daftar Hadir

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


PSIK UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN 2016

Kegiatan terapi pijat Tui Na dilaksanakan pada hari Selasa, 9 Mei 2017 jam 09.00
WIB s/d selesai bertempat di kediaman Ibu M di Dusun Gumuksari Desa
Nogosari Kecamatan Rambipuji Kabupaten Jember

No. Nama Alamat Tanda Tangan

Jember, 9 Mei 2017


Mengetahui
Dosen Pembimbing PSIK UNEJ

Ns. Kushariyadi. M. Kep.


NRP. 760015697
Lampiran 3. SAP
SATUAN ACARA PENYULUHAN
(PENDIDIKAN KESEHATAN)

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


PSIK UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN 2016

Topik/Materi : Pijat Tui Na


Sasaran : Ibu M dengan Stroke serta keluarganya
Hari/Tgl : Selasa, 9 Mei 2017
Alokasi Waktu: 25 menit
Tempat : Rumah Ibu M Dusun Gumuksari Desa Nogosari

A. Standar Kompetensi
Setelah diberikan pendidikan kesehatan selama 1 x 30 menit, keluarga dapat
mengetahui cara pijat tui na

B. Kompetensi dasar
Setelah diberikan pendidikan kesehatan diharapkan keluarga dapat
mempraktekkan dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari cara pijat
tui na pada kaki dengan baik dan benar.

C. Pokok Bahasan
Konsep terapi pijat tui na

D. Sub Pokok Bahasan


1. Pengertian terapi pijat tui na
2. Manfaat terapi pijat tui na
3. Persiapan alat terapi pijat tui na
4. Langkah terapi terapi pijat tui na
5.
E. Waktu
1 x 30 menit
F. Bahan / Alat yang digunakan
Minyak zaitun, leaflet
G. Model Pembelajaran
1. Jenis model penyuluhan : Ceramah, Demonstrasi, dan tanya jawab,
diskusi
2. Landasan Teori : Konstruktivisme
3. Landasan Pokok :
a. Menciptakan suasana pendidikan kesehatan yang baik
b. Membuat keputusan nilai personal
c. Mengidentifikasi pilihan tindakan
d. Memberi komentar
e. Menetapkan tindak lanjut

H. Setting Tempat
Keterangan:
1. Pemateri
2. Peserta

I. Persiapan
6. Pemateri menyiapkan materi tentang pijat tui na

J. Kegiatan Penyuluhan

Tahap
Kegiatan Penyuluh Kegiatan Peserta
kegiatan
Pendahuluan 1. Memberi salam, mengingatkan kontrak Memperhatikan
( 3 menit) waktu kegiatan dan membuka materi
pelatihan
2. Menjelaskan gambaran kegiatan secara Memperhatikan
umum
3. Menjelaskan tentang TIU dan TIK. Memperhatikan
Penyajian 1. Menjelaskan tentang pengertian pijat tui Memperhatikan
( 20 menit) na
a. Memberi kesempatan pada Memberikan
lansia untuk bertanya tentang materi pertanyaan.
yang baru dijelaskan.
b. Memberikan jawaban atas
pertanyaan yang telah diberikan Memperhatikan
2. Menjelaskan tentang pengertian
penyakit stroke dan pijat tui na, Memperhatikan.
manfaat pijat tui na, langkah-langkah
Memberikan
pijat tui na pertanyaan.
a. Memberi kesempatan pada
keluarga untuk bertanya tentang materi
yang baru dijelaskan.
Memperhatikan.
b. Memberikan jawaban atas
pertanyaan yang telah diberikan
Ikut melakukan
3. Melakukan demonstrasi bersama kleuarga
melakukan pijat tui na
Penutup 1. Memberi pertanyaan pada keluarga Menjawab
(2 menit) tentang materi yang telah dijelaskan pertanyaan
2. Memberikan komentar terhadap jawaban
keluarga Memperhatikan dan
3. Menyimpulkan materi memberi sumbang
4. Membagikan Menutup pertemuan dan saran
memberi salam. Memperhatikan
Menerima dengan
baik.
Memperhatikan dan
menjawab salam.

K. Evaluasi
a. Apa pengertian terapi pijat tui na?
b. Apa manfaat terapi pijat tui na?
c. Apa saja yang perlu disiapkan untuk terapi pijat tui na?
d. Bagaimana cara atau langkah terapi pijat tui na?

L. Lampiran
1. Materi
2. SOP
3. Media yang digunakan (leaflet)

Pemateri

Desi Rahmawati. S.Kep


NIM 122311101021

Lampiran 4. Materi

KONSEP TEORI
PIJAT TUI NA
1. Pengertian
Pijat tui na merupakan salah satu metode pijat terapetik yang berasal dari
China. Tui Na langsung mempengaruhi aliran energi tubuh dengan memegang dan
menekan tubuh pada titik-titik akupresur tertentu. Tui Na menggunakan banyak
teknik seperti meluncur (dikenal sebagai Effleurage atau Tui), memijat (Petrissage
atau Nie), mengetuk (tapotement atau Da), gesekan, menarik, memutar,
menggoyang, dan menggetarkan titik tertentu.

2. Manfaat
Salah satu keuntungan Tui Na adalah kemampuannya untuk fokus pada
masalah spesifik, terutama nyeri kronis yang berhubungan dengan otot, sendi, dan
sistem skeletal. Ini terutama efektif untuk nyeri sendi (seperti rheumatoid), linu
panggul, otot kejang, dan nyeri di punggung, leher, dan bahu. Tui Na juga
membantu mengatasi kondisi kronis seperti insomnia, konstipasi, sakit kepala
(termasuk migrain), dan ketegangan yang terkait dengan stres.

3. Hal Yang Perlu Dipersipakan


Alat dan bahan yang perlu diperrsiapkan untuk melakukan pijat tui na antara lain
a. Minyak zaitun/losion/minyak sayur yang bersih
b. Tempat tidur yang nyaman

Lampiran 5 :SOP

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


PIJAT TUI NA
PSIK
UniversitasJember
1. PENGERTIAN Pijat dengan memegang dan menekan tubuh pada
titik-titik akupresur tertentu. Tui Na
menggunakan banyak teknik seperti meluncur
(dikenal sebagai Effleurage atau Tui), memijat
(Petrissage atau Nie), mengetuk (tapotement atau
Da), gesekan, menarik, memutar, menggoyang, dan
menggetarkan titik tertentu.
2. TUJUAN 1. Menurunkan tekanan darah
2. Menimbulkan relaksasi yang dalam
3. Memperbaiki sirkulasi darah pada otot sehingga
mengurangi nyeri, kekakuan, dan inflamasi
3. INDIKASI Klien dengan hipertensi, post stroke, klien yang
mengalami nyeri, kekakuan, konstipasi
4. KONTRAINDIKASI Klien yang menderita luka bakar hebat, fraktur.
5. PERSIAPAN 1. Menyediakan alat
PASIEN 2. Memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan
3. Mengukur tekanan darah penderita stroke,
menilai keuhan kekakuan/ROM/kekuatan otot
sebelum melakukan pijat tui na dan di catat
dalam lembar observasi.
6. PERSIAPAN ALAT 1. Sphygmomanometer
2. Stetoskop
3. Minyak zaitun/Lotion?minyak sayur yang masih
bersih
7. 1. Waktu pijat refleksi bisa dilakukan selama 30 menit. Tetapi bagi
penderita lanjut usia harus lebih pendek disesuaikan dengan
kemampuannya.
2. Gerakan bisa dilakukan mulai dari kepala hingga kaki, tetapi bisa
disesuaikan untuk bisa dilakukan pada beberapa bagian tubuh.
3. Lakukan gerakan effleurage sebanyak 3 kali pada tiap kaki
4. Lakukan gerakan Petrissage (memijat) sebanyak 3kali pada tiap kaki

5. Lakukan garakan memijat dengan 1 angan dari bawah ke atas menuju


jari kaki
6. Lakukan gerakan mengurut dengan satu tangan pada telapak kaki ke
arah samping

7. Lakukan pijat pada titik titik accupressure dari bawah ke arah masing-
masing jari kaki

8. Pegang pergelangan kaki, urut mulai bagian bawah mata kaki hingga ke
arah ibu jari

9. Pegang pergelangan kaki, secara hati-hati pijat terlahan jai0jari kaki


kemudian perlajhan tarik kaki secara dorsofleksi
10. Sambil tetap memegang pergelangan kaki pijat sela-sela jari kaki
kemudian tekan masing-masing sela-sela jari dari depan (punggung
kaki) menggunakan ibu jari

11. Pijat dan beri tekanan pada sela ibu jari serta jari telunjuk kaki dari atas
hingga bawah

12. Angkat pergelangan kaki kemudian tekuk kaki ke arah depan dan
belakang secara perlahan

13. Pegang kaki dengan kedua tangan kemudian ditaruk ke depan perlahan
14. Pegang lutut serta mata kaki, kemudian tarik perlahan ke arah depan

15. Angkat kedua kaki lebih tinggi kemudian terik perlahan kedepan

16. Usahakan komunikasi dengan klien terjalin dengan baik


17. Cucilah tangan setelah memijat.

8. EVALUASI
1. Tanyakan pada klien bagaimana perasaannya setelah dipijat
2. Kaji tekanan darah klien, kekakuan/ROM/kekuatan otot
9. Hal-hal yang harus diperhatikan :
1. Kondisi klien jika terlalu lapar, terlalu kenyang.
2. Kondisi ruangan yang nyaman, suhu tidak terlau panas, tidak terlalu
dingin, pencahayaan yang cukup.
3. Posisi klien dalam keadaan berbaring supinasi dengan posisi terapis di
depan klien.
Lampiran 6. Leaflet