Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Arti penyakit diabetes mellitus ini di ambil dari bahasa yunani diabanein, yang
artinya tembus atau pancuran air, mellitus diambil dari bahasa latin yang artinya rasa
manis. Penyakit ini di kenal di Indonesia dengan nama kencing manis atau kencing
gula.
Banyak orang yang masih mengganggap penyakit diabetes merupakan penyakit
orang tua atau penyakit yang hanya timbul karena faktor keturunan. Padahal setiap
orang dapat mengidap diabetes, baik tua maupun muda. Diabetes adalah kondisi yang
kronis, dimana tubuh tidak dapat mengubah makanan menjadi energi sebagaimana
harusnya. Hal ini berasosiasi dengan komplikasi yang terjadi dalam jangka waktu
yang cukup lama yang kemudian mempengaruhi hampir seluruh bagian tubuh.
Menurut CDC, sekitar 23.613.000 orang di Amerika Serikat, atau 8% dari
populasi, menderita diabetes. Prevalensi diabetes total meningkat 13,5% dari 2005-
2007. Diperkirakan bahwa hanya 24% dari diabetes sekarang tidak terdiagnosis, turun
dari 30% diperkirakan pada tahun 2005 dan dari 50% yang sebelumnya diperkirakan
pada ca 1995. Sekitar 90-95% dari semua kasus Amerika Utara diabetes tipe 2, dan
sekitar 20% dari populasi di atas usia 65 tahun memiliki diabetes mellitus tipe 2.
Fraksi penderita diabetes tipe 2 di bagian lain dunia bervariasi secara substansial,
hampir pasti untuk lingkungan dan alasan gaya hidup, meskipun ini tidak diketahui
secara rinci. Diabetes mempengaruhi lebih dari 150 juta orang di seluruh dunia dan
jumlah ini diharapkan dua kali lipat pada tahun 2025. Sekitar 55 persen tipe 2 adalah
obesitas-kronis, obesitas menyebabkan resistensi insulin meningkat yang dapat
berkembang menjadi diabetes, kemungkinan besar karena jaringan adiposa (terutama
di perut sekitar organ internal) merupakan sumber (baru ini diidentifikasi) dari sinyal
kimia beberapa lainnya jaringan (hormon dan sitokin). Penelitian lain menunjukkan
bahwa diabetes tipe 2 menyebabkan obesitas sebagai akibat dari perubahan dalam
metabolisme pada resistensi insulin. Namun, genetika memainkan peran yang relatif

1
kecil dalam terjadinya luas diabetes tipe 2. Hal ini dapat secara logis disimpulkan dari
peningkatan besar dalam terjadinya diabetes tipe 2 yang memiliki berkorelasi dengan
perubahan signifikan dalam gaya hidup barat.
Menurut Prof. Dr. Sidartawan Soegondo, Indonesia menjadi negara keempat di
dunia yang memiliki angka diabetes terbanyak. Diabetes secara keseluruhan di
Indonesia mengalami peningkatan hingga 14 juta orang (DetikNews, 15 April 2007).
Hal ini berdasarkan laporan dari WHO, dimana pada jumlah diabetes di Indonesia
pada tahun 2000 adalah 8,4 juta orang setelah India (31,7 juta), Cina (20,8 juta) dan
Amerika Serikat (17,7 juta). Diperkirakan jumlah tersebut akan meningkat pada tahun
2030, India (79,4 juta), Cina (42,3 juta), Amerika Serikat (30,3 juta) dan Indonesia
(21,3 juta) (Darmono, 2005).
Di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun
2007, dari 24417 responden berusia >15 tahun, 10,2% mengalami Toleransi Glukosa
Terganggu (kadar glukosa 140-200 mg/dl setelah puasa selama 14 jam dan diberi
glukosa oral 75 gram). Sebanyak 1,5% mengalami Diabetes Melitus yang
terdiagnosis dan 4,2% mengalami Diabetes Melitus yang tidak terdiagnosis. Baik DM
maupun TGT lebih banyak ditemukan pada wanita dibandingkan pria, dan lebih
sering pada golongan dengan tingkat pendidikan dan status sosial rendah. Daerah
dengan angka penderita DM paling tinggi yaitu Kalimantan Barat dan Maluku Utara
yaitu 11,1 %, sedangkan kelompok usia penderita DM terbanyak adalah 55-64 tahun
yaitu 13,5%.
Selanjutnya berdasarkan pola pertambahan penduduk, diperkirakan pada tahun
2030, jumlah penduduk yang berusia di atas 20 tahun sekitar 194 juta. Dengan asumsi
prevalensi diabetes pada urban (14,7%) dan rural (7,2%) diperkirakan terdapat 12 juta
penderita diabetes di daerah urban dan 8,1 juta di daerah rural (Anonim, 2006a).
Hasil pencarian data dari dinas kesehatan provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,
jumlah pasien diabetes rawat inap maupun rawat jalan di rumah sakit di Yogyakarta
tercatat sebesar 63.867 kasus yang terdiri atas 25.191 kasus Diabetes tergantung
insulin dan 38.676 kasus Diabetes non insulin.

2
Peningkatan jumlah diabetes disebabkan keterlambatan penegakan diagnosis
penyakit tersebut. Pasien sudah meninggal akibat kompikasi sebelum adanya
penegakan diagnosis (Sudoyo et al, 2006). Penyebab keterlambatan penegakan
diagnosis tersebut adalah banyaknya faktor yang berpengaruh terhadap pilihan-
pilihan yang ada atau beragamnya variabel.
Sangat disayangkan bahwa banyak penderita diabetes yang tidak menyadari
dirinya mengidap penyakit yang lebih sering disebut penyakit gula atau kencing
manis. Hal ini mungkin disebabkan minimnya informasi masyarakat tentang diabetes
terutama gejala-gejalanya. Kondisi kadar gula yang drastis menurun akan cepat
menyebabkan seseorang tidak sadarkan diri bahkan memasuki tahapan koma. Gejala
kencing manis dapat berkembang dengan cepat waktu ke waktu dalam hitungan
minggu atau bulan, terutama pada seorang anak yang menderita penyakit diabetes
mellitus tipe 1.
Lain halnya pada penderita diabetes mellitus tipe 2, umumnya mereka tidak
mengalami berbagai gejala diatas. Bahkan mereka mungkin tidak mengetahui telah
menderita kencing manis. Dampak dramatis dari diabetes mellitus terhadap kesehatan
seseorang sangatlah kompleks. Diabetes mellitus dan penyakit turunannya telah
menjadi ancaman serius. Penyakit ini membunuh 3,8 juta orang per tahun dan dalam
setiap 10 detik seorang penderita akan meninggal karena sebab-sebab yang terkait
dengan diabetes.

B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Diabetes Melitus?
2. Apa saja etiologi Diabetes Melitus?
3. Apa saja klasifikasi Diabetes Melitus?
4. Apa saja gejala Diabetes Melitus?
5. Apa saja fakor resiko Diabetes Melitus?
6. Bagaimana patofisiologi Diabetes Melitus?
7. Bagaimana penatalaksanaan Diabetes Melitus?

3
8. Bagaimana pencegahan Diabetes Melitus?
9. Bagaimana pengobatan Diabetes Melitus?
10. Bagaimana pemeriksaan penunjang Diabetes Melitus?
11. Apa saja komplikasi Diabetes Melitus?

C. Tujuan
1. Mengetahui yang dimaksud dengan Diabetes Melitus
2. Mengetahui etiologi Diabetes Melitus
3. Mengetahui klasifikasi Diabetes Melitus
4. Mengetahui gejala Diabetes Melitus
5. Mengetahui fakor resiko Diabetes Melitus
6. Mengetahui patofisiologi Diabetes Melitus
7. Mengetahui penatalaksanaan Diabetes Melitus
8. Mengetahui pencegahan Diabetes Melitus
9. Mengetahui pengobatan Diabetes Melitus
10. Mengetahui pemeriksaan penunjang Diabetes Melitus
11. Mengetahui komplikasi Diabetes Melitus

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Diabetes Melitus


Menurut American Diabetes Association (ADA), diabetes mellitus merupakan
suatu kelompok penyakit metabolic dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi
karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya.
Menurut WHO 1980, Diabetes Mellitus merupakan suatu kumpulan problema
anatomi dan kimiawi yang merupaakan akibat dari sejumlah faktor dimana didapat
defisiensi insulin absolute atau relative dan gangguan fungsi insulin.
Jadi, Diabetes Mellitus adalah keadaan kadar gula dalam darah meningkat
(hiperglikemia) karena kelainan sekresi insulin.

B. Etiologi Diabetes Melitus


Bukti menunjukkan bahwa diabetes mellitus memiliki berbagai penyebab, termasuk:
1. Hereditas
2. Lingkungan (infeksi, makanan, toksin, stress)
3. Perubahan gaya hidup pada orang yang secara genetik rentan
4. Kehamilan

C. Klasifikasi Diabetes Melitus


a. Diabetes Melitus tipe 1
Diabetes tipe 1 adalah diabetes yang bergantung pada insulin
dimana tubuh kekurangan hormon insulin, dikenal dengan istilah
Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM). Diabetes tipe 1 banyak
ditemukan pada balita, anak-anak dan remaja.
Sampai saat ini, Diabetes Mellitus tipe 1 hanya dapat diobati
dengan pemberian terapi insulin yang dilakukan secara terus menerus
berkesinambungan. Riwayat keluarga, diet dan faktor lingkungan

5
sangat mempengaruhi perawatan penderita diabetes tipe 1. Pada
penderita diebetes tipe 1 haruslah diperhatikan pengontrolan dan
memonitor kadar gula darahnya, sebaiknya menggunakan alat test gula
darah. Terutama pada anak-anak atau balita yang mana mereka sangat
mudah mengalami dehidrasi, sering muntah dan mudah terserang
berbagai penyakit.
b. Diabetes Melitus tipe 2
Diabetes tipe 2 adalah dimana hormon insulin dalam tubuh
tidak dapat berfungsi dengan semestinya, dikenal dengan istilah Non-
Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Hal ini dikarenakan
berbagai kemungkinan seperti kecacatan dalam produksi insulin,
resistensi terhadap insulin atau berkurangnya sensitifitas (respon) sel
dan jaringan tubuh terhadap insulin yang ditandai dengan
meningkatnya kadar insulin di dalam darah.
Ada beberapa teori yang mengutarakan sebab terjadinya resisten
terhadap insulin, diantaranya faktor kegemukan (obesitas). Normalnya
kadar gula dalam darah berkisar antara 70-150 mg/dL {millimoles/liter
(satuan unit United Kingdom)} atau 4 - 8 mmol/l {milligrams/deciliter
(satuan unit United State)}. Dimana 1 mmol/l = 18 mg/dl.
Namun demikian, kadar gula tentu saja terjadi peningkatan setelah
makan dan mengalami penurunan diwaktu pagi hari bangun tidur.
Seseorang dikatakan mengalami hyperglycemia apabila kadar gula
dalam darah jauh diatas nilai normal, sedangkan hypoglycemia apabila
kadar gula dalam darah dibawah normal.
c. Diabetes Gestasional (diabetes kehamilan)
Intoleransi glukosa selama kehamilan, tidak dikelompokkan
kedalam NIDDM pada pertengahan kehamilan meningkat sekresi
hormon pertumbuhan dan hormon chorionik somatomamotropin

6
(HCS). Hormon ini meningkat untuk mensuplai asam amino dan
glukosa ke fetus.
d. Diabetes tipe lain
1) Defek genetik fungsi sel beta
a) Maturity Onset Diabetes of the Young (MODY) 1,2,3.
b) DNA mitokondria
2) Defek genetik kerja insulin
3) Penyakit endokrin pankreas
a) Pankreatitis
b) tumor pankreas /pankreatektomi
c) pankreatopati fibrokalkulus
4) Endokrinopati
a) akromegali
b) sindrom Cushing
c) feokromositoma
d) hipertiroidisme
5) Karena obat/zat kimia
a) vacor, pentamidin, asam nikotinat
b) glukokortikoid, hormon tiroid
c) tiazid, dilantin, interferon alfa dan lain-lain
6) Infeksi : Rubella kongenital, Cytomegalovirus (CMV)
7) Sebab imunologi yang jarang : Antibodi anti insulin
8) Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM
a) sindrom Down
b) sindrom Kleinfelter
c) sindrom Turner
D. Gejala Diabetes Melitus
1. Gejala umum ditemukan : Berat badan menurun, tekanan darah tiba-
tiba meningkat, badan sering terasa lemah dan mudah capek.

7
2. Gejala khusus ditemukan : Poliuria (sering kencing), polidipsi (sering
haus), polifagi (sering makan)berat badan menurun, badan sering
terasa lemah dan mudah capek.
3. Gejala lanjutannya ditemukan : Luka yang tidak dirasakan, sering
kesemutan, sering merasakan gatal tanpa sebab, kulit kering, mudah
terkena infeksi, dan gairah sex menurun.
4. Gejala setelah terjadi komplikasi : Gangguan pembuluh darah otak
(stroke), pembuluh darah mata (gangguan penglihatan), pembuluh
darah jantung (penyakit jantung koroner), pembuluh darah ginjal
(gagal ginjal), serta pembuluh darah kaki (luka yang sukar
sembuh/gangren).

E. Faktor Resiko Diabetes Melitus


Menurut (Tedjapranata M, 2009) faktor risiko diabetes tipe 2 terbagi atas:
a. Faktor risiko yang tidak dapat diubah seperti:
1) Ras
2) Etnik
3) riwayat keluarga dengan diabetes (keturunan)
4) usia > 45 tahun
5) riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lahir lebih dari 4
kg
6) riwayat pernah menderita DM Gestasional dan riwayat berat
badan lahir rendah < 2,5 kg.
b. Faktor risiko yang dapat diperbaiki seperti:
1) berat badan lebih (indeks massa tubuh > 23kg/m2)
2) kurang aktivitas fisik
3) hipertensi(>140/90 mmHg)
4) dislipidemia (HDL <35 mg/dl dan atau trigliserida > 250
mg/dl)

8
5) diet tinggi gula rendah serat.
c. Faktor risiko lain yang terkait dengan risiko diabetes seperti:
1) penderita sindrom ovarium poli-kistik
2) keadaan klinis lain yang terkait dengan ressitensi insulin
3) sindrom metabolik
4) riwayat toleransi glukosa terganggu/glukosa darah puasa
terganggu
5) riwayat penyakit kardiovascular (stroke, penyempitan
pembuluh darah koroner jantung, pembuluh darah arteri kaki)

F. Patofisiologi Diabetes Melitus


Pancreas, yang disebut kelenjar ludah perut, adalah kelenjar penghasl insulin
yang terletak di belakang lambung. Di dalamnya terdapat kumpulan sel yang
berbentuk seperti pulau pada peta, karena itu disebut pulau-pulau Langerhans yang
berisi sel beta yang mengeluarkan hormone insulin yang sangat berperan dalam
mengatur kadar glukosa darah.
Insulin yang dikeluarkan oleh sel beta tadi dapat diibaratkan sebagai anak
kunci yang dapat membuka kunci masuknya glukosa ke dalam sel, untuk kemudian di
dalam sel glukosa tersebut dimetabolisasikan menjadi tenaga. Bila insulin ini tidak
ada, maka glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel dengan akibat kadar
glukosa dalam darah meningkat. Keadaan inilah yang terjadi pada Diabetes Melitus
tipe-1.
Pada keadaan Diabetes Melitus tipe-2, jumlah insulin bisa normal, bahkan
lebih banyak, tetapi jumlah reseptor (penangkap) insulin di permukaan sel kurang.
Reseptor insulin ini dapat diibaratkan sebagai lubang kunci pintu masuk ke dalam sel.
Pada keadaan DM tipe-2, jumlah lubang kuncinya kurang, sehingga meskipun anak
kuncinya (insulin) banyak, tetapi karena lubang kuncunya (reseptor) kurang, maka
glukosa yang masuk ke dalam sel sedikit, sehinggal sel kekurangan bahan bakar
(glukosa) dan kadar glukosa dalam darah meningkat. Dengan demikian keadaan ini

9
sama dengan keadaan DM tipe-1, bedanya adalah pada DM tipe-2 disamping kadar
glukosa tinggi, dari insulin juga tinggi atau normal. Pada DM tipe-2 juga bisa
ditemukan jumlah insulin cukup atau lebih tetapi kualitaskan kurang baik, sehingga
gagal membawa glukosa masuk ke dalam sel. Di samping penyebab di atas, DM juga
bisa terjadi akibat gangguan transport glukosa di dalam sel sehingga gagal digunakan
sebagai bahan bakar untuk metabolism energi.

G. Penatalaksanaan Diabetes Melitus


Mengelola penyakit diabetes mellitus sebenarnya mudah asal penderita bisa
mendisiplinkan diri dan melakukan olahraga secara teratur, menuruti saran dokter,
dan tidak mudah patah semangat.Pilar utama pengelolaan Diabetes melitus yaitu :

a. Edukasi
Diabetes Tipe 2 biasa terjadi pada usia dewasa, suatu periode
dimana telah terbentuk kokoh pola gaya hidup dan perilaku.
Pengelolaan mandiri diabetes secara optimal membutuhkan partisipasi
aktif pasien dalam merubah perilaku yang tidak sehat. Tim kesehatan
harus mendampingi pasien dalam perubahan perilaku tersebut, yang
berlangsung seumur hidup. Keberhasilan dalam mencapai perubahan
perilaku, membutuhkan edukasi, pengembangan keterampilan (skill),
dan motivasi yang berkenaan dengan makan makanan sehat, kegiatan
jasmani secara teratur, melakukan pemantauan glukosa darah mandiri,
mengelola diabetes secara tepat serta menggunakan obat diabetes
secara aman dan teratur.
b. Perencanaan makan
Pada konsensus Perkumpulan Endokrinologi Indonesia
(PERKENI) telah ditetapkan bahwa standart yang diajurkan adalah
santapan dengan komposisi seimbang berupa karbohidrat (60-70%)
protein (10-15%) dan lemak (20-25%). Apabila diperlukan santapan

10
karbohidrat sampai 70-75% juga memberikan hasil yang baik.
Terutama untuk golongan ekonomi rendah. Jumlah kalori disesuaikan
dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stress akut, dan kegiatan
jasmani untuk mencapai berat badan ideal, jumlah kandungan
kolesterol < 300 mg/hr. Jumlah kandungan serat + 25 g/hr, diutamakan
jenis serat larut, konsumsi garam dibatasi bila terdapat hipertensi,
pemanis dapat digunakan secukupnya.
c. Latihan jasmani
Dianjurkan latihan jasmani teratur, 3-4 kali tiap minggu selama
+ 0,5 jam yang sifatnya sesuai CRIPE (Continous, Rhytmical,
Progresive, Endurance Trainning). Latihan dilakukan terus menerus
tanpa berhenti, otot-otot berkonsentrasi dan relaksasi secara teratur,
selang-seling antara gerak cepat dan lambat, berangsur-angsur dari
sedikit ke latihan yang lebih berat secara bertahap dan bertahan dalam
waktu tertentu. Latihan yang dapat dijadikan pilihan adalah jalan kaki,
jogging, lari, renang, bersepeda dan senam kesehatan jasmani.
d. Obat-obatan
1) Sulfonilurea
Efek utama golongan ini meningkatkan sekresi insulin oleh sel
beta pankreas. Sulfonilurea sebaiknya tidak diberikan pada
penyakit hati, ginjal dan tiroid. Termasuk golongan ini adalah
khlorpropamid, glibenklamid, gliklasid, glikuidon, glipisid,
glimepirid.
2) Biguanid
Biguanid tidak merangsang sekresi insulin dan terutama bekerja di
hati dengan mengurangi hepatic glucose output dan menurunkan
kadar glukosa dalam darah sampai normal (euglikemia) serta tidak
pernah menyebabkan hipoglikemia. Contoh golongan ini adalah
metformin.

11
3) Inhibitor dan glukosidase
Obat ini bekerja secara kompetitif menghambat kerja enzim dan
glukosidase di dalam saluran cerna, sehingga menurunkan
penyerapan glukosa dan menurunkan hiperglikemia pasca prandial.
4) Insulin sensitizing agent
Thoazolidinediones adalah golongan obat baru yang mempunyai
efek farmakologi meningkatkan sensitivitas insulin, sehingga bisa
mengatasi masalah resistensi insulin dan berbagai masalah akibat
resistensi insulin tanpa menyebabkan hipoglikemia.

H. Pencegahan Diabetes Melitus


Ada 8 langkah yang sebaiknya dilakukan penderita Diabetes Melitus tipe 2
yaitu :
a) Edukasi : Edukasi diri sendiri (self learning) Penyakit DM relatif
tidak bisa sembuh, tetapi komplikasi yang mungkin terjadi dapat
dihindari. Kunci dalam keberhasilan pengendalian penyakit DM
adalah disiplin terhadap diri sendiri.
b) Kontrol kadar glukosa darah : Dengan pengecekan glukosa darah
secara rutin di laboratorium.
c) Olah raga teratur : Olah raga sangat penting bagi penderita
Diabetes, olah raga dapat menurunkan kadar gula darah dengan
cara meningkatkan pembakaran glukosa dan peningkatan kadar
insulin.
d) Periksa kaki setiap hari : Penderita diabetes harus memeriksa
tanda-tanda kerusakan kulit, bisul, atau lecet pada kaki. Area kulit
diantara jari kaki juga harus diperhatikan. Penderita diabetes
sebaiknya menghindari kegiatan yang bisa merusak kaki.
e) Pengaturan pola makan : Makanan bagi penderita DM harus
mengandung unsur yang lengkap seperti; karbohidrat, protein,

12
lemak, vitamin, mineral serta kecukupan air. Agar kebutuhan diet
terpenuhi tanpa harus memberikan pembebanan glukosa secara
berlebihan disarankan Anda untuk mengunjungi ahli gizi.
f) Melakukan pemeriksaan mata : Penderita diabetes harus
memeriksakan mata secara teratur untuk mendeteksi lebih dini
adanya retinopati diabetes.
g) Melakukan pemeriksaan urin : Penderita diabetes harus melakukan
pemeriksaan urin secara rutin untuk memeriksa apakah kadar
protein (albumin) dalam urin masih normal atau tidak sebagai
deteksi dini nefropati diabetes.
h) Terapi pengobatan DM : Sebaiknya Anda berkonsultasi dengan
dokter anda.

I. Pengobatan Diabetes Melitus


Tujuan utama pengobatan diabetes miletus :
a. Mengembalikan konsentrasi glukosa darah menjadi senormal
mungkin agar penyandang DM merasa nyaman dan sehat
b. Mencegah atau memperlambat timbulnya komplikasi
c. Memdidik penderita dalam pengetahuan dan motivasi agar dapat
merawat sendiri penyakitnya sehingga mampu mandiri.
Pokok-pokok pengobatan :
a. Edukasi penyandang DM
b. Mengatur makanan
c. Latihan jasmani
d. Obat-obatan
e. Pemantauan
Pengelolaan diabetes melitus tanpa komplikasi akut pada umumnya selalu
dimulai dengan pengaturan makanan dan latihan jasmani dulu. Apabila dengan

13
pendekatan tersebut belum mencapai target yang diinginkan, baru diberikan obat-
obatan baik oral maupun suntikan sesuai indikasi.
Mengingat sifat diabetes melitus yang menahun, tak dapat dipungkiri bahwa
edukasi yang terus-menerus dan berkesinambungan menjadi sangat penting. Pada
akhirnya tujuan pengobatan diabetes mellitus harus ditetapkan bersama antara
penyandang DM dengan tim yang mengelola.

J. Pemeriksaan penunjang Diabetes Melitus


Berikut pemeriksaan penunjang Diabetes Melitus:
a. Glukosa darah: gula darah puasa > 130 ml/dl, tes toleransi glukosa
> 200 mg/dl, 2 jam setelah pemberian glukosa.
b. Asam lemak bebas: kadar lipid dan kolesterol meningkat
c. Osmolalitas serum: meningkat tapi biasanya < 330 mOsm/I
d. Elektrolit: Na mungkin normal, meningkat atau menurun, Kalium
normal atau peningkatan semu selanjutnya akan menurun, fosfor
sering menurun.
e. Gas darah arteri: menunjukkan Ph rendah dan penurunan HCO3
f. Trombosit darah: Ht meningkat (dehidrasi), leukositosis dan
hemokonsentrasi merupakan respon terhadap stress atau infeksi.
g. Ureum/kreatinin: mungkin meningkat atau normal
h. Insulin darah: mungkin menurun/tidak ada (Tipe I) atau normal
sampai tinggi (Tipe II)
i. Urine: gula dan aseton positif
j. Kultur dan sensitivitas: kemungkinan adanya ISK, infeksi
pernafasan dan infeksi luka.

K. Komplikasi Diabetes Melitus


Betapa seriusnya penyakit diabetes yang menyerang penyandang DM dapat
dilihat pada setiap komplikasi yang ditimbulkannya. Lebih rumit lagi, penyakit

14
diabetes tidak menyerang satu alat saja, tetapi berbagai komplikasi dapat diidap
secara bersamaan, yaitu :
a. Jantung koroner
b. Gagal ginjal
c. Mata : buta
d. Saraf : tebal, kesemutan, impoten
e. Stroke
f. Luka atau gangren

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Diabetes Mellitus adalah keadaan kadar gula dalam darah meningkat
(hiperglikemia) karena kelainan sekresi insulin. berbagai penyebab, termasuk:
hereditas, lingkungan (infeksi, makanan, toksin, stress), perubahan gaya hidup pada
orang yang secara genetik rentan, kehamilan.
Tujuan utama dari pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan kadar gula
darah dalam kisaran yang normal. Namun, kadar gula darah yang benar-benar normal
sulit untuk dipertahankan.
Meskipun demikian, semakin mendekati kisaran yang normal, maka
kemungkinan terjadinya komplikasi sementara maupun jangka panjang menjadi
semakin berkurang. Untuk itu diperlukan pemantauan kadar gula darah secara teratur
baik dilakukan secara mandiri dengan alat tes kadar gula darah sendiri di rumah
maupun dilakukan di laboratorium terdekat.
Pengobatan diabetes meliputi pengendalian berat badan, olah raga dan diet.
Seseorang yang obesitas dan menderita diabetes tipe II tidak akan memerlukan
pengobatan jika mereka menurunkan berat badannya dan berolah raga secara teratur.
Namun, sebagian besar penderita merasa kesulitan menurunkan berat badan dan
melakukan olahraga yang teratur.

B. Saran
Setelah membaca makalah ini diharapkan pembaca dapat memahami tentang
Diabetes Melitus. Kemudian dapat melaksanakan pencegahan bagi yang tidak
Diabetus Melitus dan dapat melaksanakan pengobatan bagi yang menderita Diabetes
Miletus.

16