Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perekonomian indonesia sejak krisis ekonomi pada tahun 1997 membuat kondisi
ketenagakerjaan di indonesia ikut memburuk yang berdampak pada kemiskinan.sejak
itu perekononian indonesia tidak pernah mencapai 7-8 5%.padalah masalah
pengangguran dan kemiskinan erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi .jika
pertumbuhan ekonomi bagus ,otomatis penyerapan tenaga kerja juga meningkat dan
kemiskinan pun ikut berkurang.setiap pertumbuhan ekonomi satu persen tenaga kerja
yang terserap bisa mencapai 400 ribu orang.
Selain masalah diatas ,masalah kependudukan yang berhubungan erat dengan
pengangguran dan kemiskinannan,sejak tahun 2002,sebuah tim yang terdirih dari para
analisa kemiskinan di indonesia (INDOPOV) di kantor bank dunia jakarta,telah
mempelajari karakteristik kemiskinan di indonesia.Mereka telah berusaha untuk
mengidentifikasikan apa yang bermanfaat dan apa yang tidak bermanfaat dalam
upaya pengentasan kemiskinan,dan untuk memperjelas pilihan-pilihan apa saja yang
tersedia untuk pemerintah dan lembaga-lembaga non pemerintah dalam upaya mereka
untuk memperbaiki standar dan kualitas hidup masyarakat miskin, Makalah ini
mencoba untuk menganalisa sifat multi dimensi dari pengangguran dan kemiskinan di
indonesia pada saat ini melalui pandangan baru yang didasarkan pada perubahan-
perubahan penting yang terjadi di negeri ini selama satu dekade terakhir.Sebelum ini
Bank dunia telah menyusun kajian-kajian kemiskinan,yaitu pada tahun 2002 dan
2011 ,namun kajian-kajian tersebut tidan membahas kemiskinan secara mendalam
dan lebih memaparkan kekayaan yang dimiliki oleh bank dunia dan pemerintah
indonesia dan penulis berharap bahwa kajian ini dapat membawa perubahan dalam
penyusunan kebijakan serta pelaksanaan upaya-upaya pengentasan pengangguran dan
kemiskinan di indonesia.

1
Pengangguran dan Kemiskinan merupakan hal yang kompleks karena
menyangkut berbagai macam aspek seperti hak untuk terpenuhinya pangan,
kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan sebagainya. Agar pengangguran dan
kemiskinan di Indonesia dapat menurun diperlukan dukungan dan kerja sama dari
pihak masyarakat dan keseriusan pemerintah dalam menangani masalah ini.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kesempatan kerja dan bagaimana pengaruh kesempatan kerja
terhadap pengangguran dan kemiskinan ?
2. Bagaimana kondisi pengangguran di Indonesia ?
3. Bagaimana masalah kemiskinan di Indonesia ?
4. Bagaimana pengaruh variabel politik dalam kemiskinan , pengangguran dan
kesempatan kerja ?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGARUH KESEMPATAN KERJA TERHADAP PENGANGGURAN


DAN KEMISKINAN

Persoalan sulit dalam masalah perekonomian yang sering dihadapi oleh berbagai
negara salah satunya yaitu menyediakan lapangan & kesempatan kerja bagi
penduduk. Karena, pemerintahan pada suatu negara dapat dikatakan berhasil jika
mempu menyediakan lapangan kerja atau memperkecil pengangguran. Pengangguran
adalah orang-orang yang tidak mendapat pekerjaan karena kurangnya lapangan
pekerjaan, kurang terampil, atau tidak mau bekerja, dapat juga diartikan seseorang
yang tergolong angkatan kerja dan ingin mendapat pekerjaan tapi belum
memperolehnya. Angkatan kerja (labor force) adalah penduduk usia kerja yang
terdiri atas penduduk yang sudah bekerja dan yang sedang mencari pekerjaan. Tenaga
kerja merupakan salah satu factor produksi yang penting, bukan hanya perannya
tetapi juga menyangkut kesejahteraan masyarakat.
Kesempatan kerja atau demand for labor adalah suatu keadaan yang
menggambarkan tersedianya pekerjaan untuk diisi oleh pencari kerja, tapi masalah
kesempatan kerja pada umumnya berkaitan dengan lapangan kerja (lowongan kerja)
dan tenaga kerja. Kesempatan kerja merupakan hubungan antara angkatan kerja di
satu pihak dengan kemampuan penyerapan tenaga kerja di pihak lain. Sedangkan
pasar kerja adalah keseluruhan aktivitas yang mempertemukan pencari kerja dan
lowongan pekerjaan. Perluasan kesempatan kerja dapat dilakukan dengan cara
pengembangan industry padat karya, membuka proyek pekerjaan umum juga dengan
meningkatkan kegiatan ekonomi yang sudah ada maupun dengan menambah kegiatan
ekonomi yang baru. Perluasan kesempatan kerja pun merupakan salah satu tolok ukur
keberhasilan pembangunan.

3
Kesempatan kerja akan menampung semua tenaga kerja yang tersedia apabila
lapangan pekerjaan yang tersedia mencukupi atau seimbang dengan banyaknya
tenaga kerja yang tersedia. Adapun faktorfaktor yang mempengaruhi perluasan
kesempatan kerja antara lain : perkembangan jumlah penduduk dan angkatan kerja,
pertumbuhan ekonomi dan kebijaksanaan mengenai perluasan kesempatan kerja itu
sendiri. Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting
disamping sumber alam, modal dan teknologi. Tenaga kerja mempunyai peranan
yang sangat penting dalam pembangunan, yaitu sebagai pelaku pembangunan.
Masalah ketenagakerjaan merupakan masalah yang begitu nyata dan dekat dengan
lingkungan kita. Bahkan, masalah ketenagakerjaan dapat menimbulkan masalah-
masalah baru di bidang ekonomi maupun nonekonomi. Tingkat pengangguran yang
tinggi menyebabkan rendahnya pendapatan yang selanjutnya memicu munculnya
kemiskinan. Tenaga kerja juga merupakan salah satu faktor terpenting dalam proses
produksi, maka dapat dikatakan kesempatan kerja akan meningkat bila output
meningkat. Sehingga perlu dirumuskan kebijakan yang memberi dorongan kepada
perluasan kesempatan kerja agar alatalat kebijakan ekonomi dapat mengurangi
penganggunran. Kebijakan pembangunan daerah yang pada dasarnya mempunyai
fungsi dalam perluasan kesempatan kerja apabila dilihat dari pembangunan daerah
dan hubungan antara daerah. Pada hakekatnya tiaptiap proyek pembangunan
dilakukan dalam suatu daerah dan implementasinya harus menjadi komponen
pembangunan.

B. PENGANGGURAN DI INDONESIA

Semasa pemerintahan orde baru, pembangunan ekonomi banyak menambahkan


pekerjaan baru di Indonesia yang mampu mengurangi angka pengangguran nasional.
Sektor-sektor yang terutama mengalami peningkatan tenaga kerja yaitu sektor
industri dan jasa sementara sektor pertanian berkurang. Pada tahun 1980-an sekitar

4
55% populasi tenaga kerja Indonesia bekerja di sektor pertanian, tetapi belakangan ini
angka tersebut berkurang menjadi sekitar 40 %.

Namun, Krisis Keuangan Asia (Krismon) yang terjadi pada akhir tahun 1990-an
merusak pembangunan ekonomi Indonesia (untuk sementara) dan menyebabkan
angka pengangguran di Indonesia meningkat menjadi lebih dari 20 persen dan angka
tenaga kerja yang harus bekerja di bawah level kemampuannya (underemployment)
juga meningkat, sementara banyak yang ingin mempunyai pekerjaan full-time, hanya
bisa mendapatkan pekerjaan part-time.

Sebagian besar tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan di daerah perkotaan


karena Krismon pindah ke pedesaan dan masuk ke dalam sektor informal (terutama di
bidang pertanian). Walaupun Indonesia telah mengalami pertumbuhan makro
ekonomi yang kuat sejak tahun 2000-an dan boleh dikatakan Indonesia sekarang telah
pulih dari krisis pada akhir tahun 1990-an itu, sektor informal ini - baik di kota
maupun di desa - sampai sekarang masih tetap berperan besar dalam perekonomian
Indonesia. Walau agak sulit untuk menentukan jumlahnya secara pasti, diperkirakan
bahwa sekitar 55 sampai 65 persen pekerjaan di Indonesia adalah pekerjaan informal.
Saat ini sekitar 80 persen dari pekerjaan informal itu terkonsentrasi di wilayah
pedesaan, terutama di sektor konstruksi dan pertanian.

Pertumbuhan makro ekonomi yang cukup kuat selama lebih dari satu dekade ini
secara berlahan telah mampu menurunkan angka pengangguran di Indonesia. Namun,
dengan kira-kira dua juta penduduk Indonesia yang tiap tahunnya terjun ke dunia
kerja, adalah tantangan yang sangat besar buat pemerintah Indonesia untuk
menstimulasi penciptaan lahan kerja baru supaya pasar kerja dapat menyerap para
pencari kerja yang tiap tahunnya terus bertambah; pengangguran muda (kebanyakan
adalah mereka yang baru lulus kuliah) adalah salah satu kekhawatiran utama dan
butuh adanya tindakan yang cepat.

5
Dengan jumlah total penduduk sekitar 255 juta orang, Indonesia adalah negara
berpenduduk terpadat keempat di dunia (setelah Cina, India dan Amerika Serikat).
Selanjutnya, negara ini juga memiliki populasi penduduk yang muda karena sekitar
setengah dari total penduduk Indonesia berumur di bawah 30 tahun. Jika kedua faktor
tersebut digabungkan, indikasinya Indonesia adalah negara yang memiliki kekuatan
tenaga kerja yang besar, yang akan berkembang menjadi lebih besar lagi ke depan,
maka menekankan pentingnya penciptaan lapangan kerja dalam perekonomian
terbesar di Asia Tenggara.

Tabel di bawah ini memperlihatkan angka pengangguran di Indonesia dalam


beberapa tahun terakhir. Tabel tersebut menunjukkan penurunan yang terjadi secara
perlahan dan berkelanjutan, khususnya angka pengangguran wanita. Pengangguran
wanita berkurang secara drastis, bahkan mulai mendekati angka pengangguran pria.
Meskipun demikian, masalah persamaan gender, seperti di negara-negara lain, masih
menjadi isu penting di Indonesia. Meski sudah ada kemajuan dalam beberapa sektor
utama (seperti pendidikan dan kesehatan), wanita masih cenderung bekerja di bidang
informal (dua kali lebih banyak dari pria), mengerjakan pekerjaan tingkat rendah dan
dibayar lebih rendah daripada pria yang melakukan pekerjaan yang sama.

Pengangguran di Indonesia:

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Pengangguran
10.3 9.1 8.4 7.9 7.1 6.6 6.1 6.2 5.9 6.2
(% dari total tenaga kerja)

Pengangguran Pria
(% dari total tenaga kerja 8.5 8.1 7.6 7.5 6.1 - - -
pria)

6
Pengangguran Wanita
(% dari total tenaga kerja 13.4 10.8 9.7 8.5 8.7 - - -
wanita)

Sumber: Bank Dunia dan Badan Pusat Statistik

Salah satu karakteristik Indonesia adalah bahwa angka pengangguran cukup tinggi
yang dihadapi oleh tenaga kerja muda usia 15 sampai 24 tahun, jauh lebih tinggi dari
angka rata-rata pengangguran secara nasional. Mahasiswa yang baru lulus dari
universitas dan siswa sekolah kejuruan dan menengah mengalami kesulitan
menemukan pekerjaan di pasar kerja nasional. Hampir setengah dari jumlah total
tenaga kerja di Indonesia hanya memiliki ijazah sekolah dasar saja. Semakin tinggi
pendidikannya semakin rendah partisipasinya dalam kekuatan tenaga kerja Indonesia.
Meskipun demikian dalam beberapa tahun terakhir terlihat adanya perubahan tren:
pangsa pemegang ijazah pendidikan tinggi semakin besar, dan pangsa pemegang
ijazah pendidikan dasar semakin berkurang.

2006 2007 2008 2009 2010 2011

Pengangguran Muda Pria


(persentase tenaga kerja pria 27.7 23.8 21.8 21.6 21.1 19.3
15-24 tahun)

Pengangguran Muda Wanita


(persentase tenaga kerja wanita 34.3 27.3 25.5 23.0 22.0 21.0
15-24 tahun)

Sumber: Bank Dunia

7
Sektor pertanian tetap berada di posisi teratas dalam hal penyerapan tenaga kerja.
Tabel di bawah ini memperlihatkan empat sektor terpopuler yang menyerap paling
banyak tenaga kerja di tahun 2011 dan setelahnya.

Tenaga Kerja per Sektor:

dalam juta 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Pertanian 42.5 39.9 39.2 39.0 37.8 38.3

Pedagang Grosir, Pedagang Ritel,


23.2 23.6 24.1 24.8 25.7 28.5
Restoran dan Hotel

Jasa masyarakat, Sosial dan Pribadi 17.0 17.4 18.5 18.4 17.9 19.8

Industri Manufaktur 13.7 15.6 15.0 15.3 15.3 16.0

data dari Februari 2016

Sumber: Badan Pusat Statistik

Pekerjaan rentan (tenaga kerja yang tidak dibayar dan pengusaha) baik untuk pria
maupun wanita angkanya lebih tinggi di Indonesia daripada di negara-negara maju
atau berkembang lainnya. Dalam satu dekade terakhir ini tercatat sekitar enam puluh
persen untuk pria Indonesia dan tujuh puluh persen untuk wanita. Banyak yang
merupakan 'pekerja rentan' adalah mereka yang bekerja di sektor informal.

C. KEMISKINAN
Kemiskinan merupakan dampak negatif yang disebabkan oleh pengangguran,
semakin tinggi tingkat pengangguran di suatu negara maka tingkat kemiskinannya
juga akan semakin meningkat. Hal itulah yang terjadi di Indonesia sekarang ini,

8
dimana tingkat pengangguran yang tinggi menyebabkan pendapatan masyarakat
semakin rendah dan bahkan tidak ada pendapatan sehingga semakin banyak
masyarakat yang tidak dapat memenuhi kebutuhan pokoknya.

1. Perkembangan Tingkat Kemiskinan di Indonesia


Laporan Bank Pembangunan Asia (ADB) menyebutkan bahwa dalam lima tahun
terakhir keadaan kemiskinan di Indonesia semakin memburuk. Hal ini diduga karena
pesatnya pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan meningkatnya Gross
Domestic Product (GDP) dan atau disebabkan semakin luasnya kesenjangan social.
Hingga kini kemiskinan merupakan problematika kemanusiaan yang menjadi isu
sentral di Indonesia. Lebih dari 110 juta orang Indonesia hidup dengan penghasilan
kurang dari US$ 2 per hari. Jumlah ini sama dengan jumlah penduduk Malaysia,
Vietnam, dan Kamboja jika digabungkan. Sebagian besar penduduk miskin di Asia
Tenggara tinggal di Indonesia.
Kemiskinan menjadi alasan rendahnya Human Development Index (Indeks
Pembangunan Manusia) Indonesia. Secara menyeluruh, kualitas manusia Indonesia
relatif sangat rendah jika dibandingkan dengan kualitas manusia di negara-negara lain
di dunia. United Nations Development Programme (UNDP) menempatkan HDI
Indonesia di peringkat 124 dari 187 negara pada tahun 2011. Di tahun yang sama,
jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 30 juta orang, sebesar 37% dari
jumlah tersebut berada di daerah perkotaan dan 63% di daerah pedesaan.
Kemiskinan menyebabkan jutaan rakyat memenuhi kebutuhan pangan, sandang,
dan papan secara terbatas, membuat anak-anak tidak bisa mengenyam pendidikan
yang berkualitas, kesulitan membiayai kesehatan, kurangnya kemampuan untuk
menabung dan berinvestasi, minimnya akses ke pelayanan publik, kurangnya
lapangan pekerjaan dan jaminan sosial, serta menguatnya arus urbanisasi ke kota.

9
2. Tantangan Kemiskinan di Indonesia
Masalah kemiskinan dianggap sebagai salah satu hal yang menghambat
proses pembangunan sebuah negara. Salah satu negara yang masih dibelit oleh
masalah sosial ini salah satunya adalah indonesia. Angka kemiskinan di tingkat
masyarakat masih cukup tinggi. Meskipun oleh lembaga statistik negara, selalu
dinyatakan bahwa setiap tahun angka kemiskinan cenderung menurun.

Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang di hadapi oleh seluruh


pemerintahan yang ada di dunia ini. Ia di pengaruhi oleh beberapa faktor yang saling
berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Faktor tersebut antara lain tingkat
pendapatan, pendidikan, kesehatan, akses barang dan jasa, lokasi geografis, gender
dan kondisi lingkungan. Kemiskinan merupakan kondisi dimana seseorang tidak
dapat memenuhi kebutuhan dasarnya dalam rangka menuju kehidupan yang lebih
bermartabat. Oleh karena itu, kemiskinan wajib untuk ditanggulangi, sebab jika tidak
tertanggulangi akan dapat mengganggu pembanguan nasional.

Dalam konteks ini, beberapa upaya yang tengah dilakukan oleh pemerintah
Indonesia adalah dengan menggerakkan sektor real melalui sektor UMKM. Beberapa
kebijakan yang menyangkut sektor ini seperti program KUR (Kredit Usaha Rakyat)
dan PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat). Upaya strategis yang
dapat dilakukan dalam rangka pemberdayaan UMKM antara lain, pertama,
menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan UMKM meliputi regulasi dan
perlindungan usaha. Kedua menciptakan sistem penjaminan bagi usaha
mikro. Ketiga menyediakan bantuan teknis berupa pendampingan dan bantuan
menejerial. Keempat memperbesar akses perkreditan pada lembaga keuangan.
Dengan empat langkah tersebut, maka sektor UMKM akan lebih bergerak yang akan
meninggkatkan lapangan pekerjaan sehingga dapat mengirangi pengangguran dan
pada akhirnya dapat mengurangi angka kemiskinan.

10
D. PENGARUH VARIABEL POLITIK DALAM KEMISKINAN ,
PENGANGGURAN DAN KESEMPATAN KERJA
Di dalam perekonomian Indonesia, penyebab utama dari munculnya kemiskinan
adalah malpraktik pembangunan akibat formulasi kebijakan ekonomi (sosial dan
politik) yang salah,Kebijakan-kebijakan ekonomi yang diproduksi oleh pemerintah
sejak dulu cenderung mendahulukan kepentingan pemilik modal dan sektor
industri/jasa ketimbang pelaku ekonomi kecil dan sector pertanian. Bahkan, kerap
kali pelaku ekonomi kecil yang banyak digeluti oleh masyarakat, seperti sektor
informal banyak digusur untuk digantikan dengan kegiatan ekonomi yang lebih
modern,seperti pembuatan pabrik, pusat perbelanjaan, dan sentra-sentra perdagangan
dan industri. Akibat proses tersebut jumlah orang miskin di Indonesia terus
bertambah setiap tahun.. Sebenarnya telah banyak kebijakan pemerintah untuk
mengatasi kemiskinan tersebut,namun secara umum masih terdapat banyak
kelemahan dari kebijakan kemiskinan tersebut (Yustika,2007). Kelemahan pertama
adalah berkaitan dengan kebijakan kemiskinan yang dilaksanakan secara seragam
(general) tanpa mengaitkan dengan konteks sosial, ekonomi, dan budaya di setiap
wilayah(komunitas). Akibatnya, kebijakan sering tidak relevan di satu tempat
(komunitas), walaupun ditempat (komunitas) lain program itu berhasil. Kedua, pihak
luar (externally imposed) dan memakai parameter yang terlalu ekonomis (moneter).
Implikasinya, konsep penanganan kemiskinan mengalami bias sasaran dan mereduksi
hakikat dari kemiskinan itu sendiri. Ketiga,penanganan program
kemiskinanmengalami birokratisasi yang terlampau dalam, sehingga banyak yang
gagal akibat belitan prosedur yang terlampau panjang. Keempat, kebijakan
kemiskinan sering diboncengi dengan motif politik yang amat kental, sehingga tidak
memiliki makna bagi penguatan sosial ekonomi kelompok miskin. Kelima, kebijakan
kemiskinan kurang mempertimbangkan aspek ekonomi kelembagaan sebagai prinsip
yang harus dikedepankan, sehingga sebagian kebijakan tersebut tidak berhasil karena
aturan main yang didesain tidak sesuai dengan kebutuhan. Di samping itu ada pula
pendapat lain yang mengatakan bahwa pada dasarnya ada dua faktor penting yang

11
dapat menyebabkan kegagalan program penanggulangan kemiskinan di
Indonesia.Pertama, program- program penanggulangan kemiskinan selama ini
cenderung berfokus pada upaya penyaluran bantuan sosial untuk orang miskin. Hal
itu, antara lain, berupa beras untuk rakyat miskin dan program jaring pengaman sosial
(JPS) untuk orang miskin. Upaya seperti ini akan sulit menyelesaikan persoalan
kemiskinan yang ada karena sifat bantuan tidaklah untuk pemberdayaan, bahkan
dapat menimbulkan ketergantungan. Program-program bantuan yang berorientasi
pada kedermawanan pemerintah ini justru dapat memperburuk moral dan perilaku
masyarakat miskin. Program bantuan untuk orang miskin seharusnya lebih
difokuskan untuk menumbuhkan budaya ekonomi produktif dan mampu
membebaskan ketergantungan penduduk yang bersifat permanen. Di lain pihak,
program-program bantuan social ini juga dapat menimbulkan korupsi dalam
penyalurannya. Alangkah lebih baik apabila dana-dana bantuan tersebut langsung
digunakan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), seperti
dibebaskannya biaya sekolah, seperti sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah
pertama (SMP), serta dibebaskannya biaya- biaya pengobatan di pusat kesehatan
masyarakat (puskesmas). Faktor kedua yang dapat mengakibatkan gagalnya program
penanggulangan kemiskinan adalah kurangnya pemahaman berbagai pihak tentang
penyebab kemiskinan itu sendiri sehingga program-program pembangunan yang ada
tidak didasarkan pada isu-isu kemiskinan, yang penyebabnya berbeda-beda secara
local.

Permasalahan tenaga kerja seperti yang kita lihat akhir-akhir ini merupakan hal
yang memprihatinkan dan merupakan faktor fundamental, sampai saat ini
permasalahan tenaga kerja masih berkisar pada tingginya angka pengangguran.
Seperti yang kita lihat fenomena mendasar yang terjadi dimana jumlah pengangguran
memang sangat tinggi dan merupakan salah satu indicator penghambat dari
proses jalannya perekonomian suatu daerah. Maka dari itu tidak mengherankan
bila itu dijadikan permasalahan yang penting pula,memang secara sederhana dapat

12
kita lihat bahwa pengangguran disebabkan oleh dua hal yaitu banyaknya jumlah
tenaga kerja dan sempitnya kesempatan kerja yang ada di suatu daerah. Hal lain
di belakang itu tentu saja tidak sederhana. Untuk itu dari berbagai indikator
yang dapat di jabarkan diatas, penganguran merupakan suatu masalah pelik
diantara berbagai indikator ketenagakerjaan, karena penganguran tersebut dapat
meningkatkan status social individu/orang dan pendapatan masyarakat itu sendiri.
Menyikapi permasalahan tersebut, Pemerintah dalam hal ini dapat menerapkan
solusi dari adanya permasalahan yang ada yang dapat diterapkan didalam
menjalankan roda pemerintahannya yaitu dengan cara mengembangkan
kreativitasnya melalui berwirausaha mandiri, Pengembangan Program kerja sama
dengan Negara lain atau pemanfaatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) , Pengembangan
sektor informal seperti home industry atau Indusktri Kecil UMKM di Indonesia
Perluasan kesempatan kerjmisalnya melalui pembukaan industri padat karya di
wilayah yang banyak mengalami pengangguran, Peningkatan investasi, baik yang
bersifat pengembangan maupun investasi melalui pendirian usaha-usaha yang
dapat menyerap tenaga kerja. Terkait investasi, kondisi politik sangat mempengaruhi
investasi baik investasi dari dalam negeri maupun luar negeri. Kondisi politik yang
tidak stabil melahirkan iklim investasi yang tidak kondusif, terutama bagi investor
asing. Hal ini berpengaruh pada perluasan kesempatan kerja,dimana investasi
merupakan suatu pendorong utama terciptanya lapangan kerja. Ketika gejolak kondisi
politik tidak stabil maka para investor akan memikirkan jangka panjang dari status
keamanan negara tersebut.

Ketika kita berbicara tentang persoalan yang satu ini, jalan pemecahannya tidak
bisa lain adalah perbaikan kondisi ekonomi politik. Dengan kegiatan ekonomi yang
bergerak lebih pesat akan tercipta lapangan kerja lebih banyak. Ketika pekerjaan
diperoleh, orang akan bisa mempunyai pendapatan. Dengan pendapatan itulah mereka
bisa memiliki daya beli dan memperbaiki kualitas keluarga. Ketika daya beli
masyarakat semakin kuat, perekonomian pun akan bisa bergulir lebih cepat lagi.

13
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Masalah kesempatan kerja merupakan masalah yang begitu nyata dan dekat
dengan lingkungan kita. Bahkan, masalah kesempatan kerja dapat menimbulkan
masalah-masalah baru di bidang ekonomi maupun nonekonomi. Tingkat
pengangguran yang tinggi menyebabkan rendahnya pendapatan yang selanjutnya
memicu munculnya kemiskinan. Permasalahan tenaga kerja seperti yang kita lihat
di Indonesia merupakan hal yang memprihatinkan dan merupakan faktor
fundamental, sampai saat ini permasalahan tenaga kerja masih berkisar pada
tingginya angka pengangguran. Seperti yang kita lihat fenomena mendasar yang
terjadi dimana jumlah pengangguran memang sangat tinggi dan merupakan salah
satu indicator penghambat dari proses jalannya perekonomian suatu negara.
Sehingga perlu dirumuskan kebijakan yang memberi dorongan kepada perluasan
kesempatan kerja agar alatalat kebijakan ekonomi dapat mengurangi pengangguran.

14
DAFTAR PUSTAKA

http://www.academia.edu/9357066/Makalah_Ekonomi_tentang_Ketenagakerjaan\

http://jiae.ub.ac.id/index.php/jiae/article/viehttp://otoritas-
semu.blogspot.co.id/2016/01/pengaruh-situasi-politik-dan-keamanan.htmlw/145/114

http://www.indonesia-investments.com/id/keuangan/angka-ekonomi-
makro/pengangguran/item255

http://inayah2710.blogspot.co.id/2017/01/makalah-pengangguran-dan-kesmiskinan-
di.html

http://lianitadian-story.blogspot.co.id/2015/02/makalah-kemiskinan_19.html

15