Anda di halaman 1dari 11

Edukasi Pemilihan Program Keluarga Berencana

Afifah Nur Utami


102013448 / C1
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Email: utami.afifah@gmail.com

Pendahuluan
Keluarga Berencana (KB) adalah suatu program yang dicanangkan pemerintah dalam
upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia
perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan
keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Tujuan utama program KB nasional adalah untuk
memenuhi perintah masyarakat akan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi yang
berkualitas, menurunkan tingkat atau angka kematian Ibu dan bayi serta penanggulangan
masalah kesehatan reproduksi dalam rangka membangun keluarga kecil yang berkualitas.1,2

Skenario: Seorang perempuan, 25 tahun P1A0 pasca melahirkan 2 bulan yang lalu. Datang
kepada dokter dipoliklinik, untuk berkonsultasi tentang keluarga berencana. Ibu
merencanakan untuk memberi ASI eksklusif pada bayinya.

Anamnesis
Anamnesis adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter dengan cara
melakukan serangkaian wawancara. Tujuan dari anamnesis adalah untuk memperoleh
informasi, menjalin hubungan baik, dan menjalin kepercayaan dokter dengan pasien.
Anamnesis dapat langsung dilakukan terhadap pasien (auto-anamnesis) atau terhadap
keluarganya atau pengantarnya (allo-anamnesis). Anamnesis sendiri terdiri dari beberapa
pertanyaan yang dapat mengarahkan kita untuk dapat mendiagnosa penyakit apa yang
diderita oleh pasien.3
Diketahui dari anamnesis bahwa pasien memiliki riwayat melahirkan dengan operasi
sesar karena preeklampsia berat. Kondisi anak sehat. Penyakit penyerta tidak ada.

1
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik juga penting untuk mengarahkan evaluasi selanjutnya. Sebelumnya,
kita juga harus melihat keadaan umum dan kesadaran pasien, lalu dilanjutkan dengan
pemeriksaan tanda-tanda vital (TTV).

Pemeriksaan Ciri/karakteristik
Keadaan umum Sehat
Kesadaran Compos Mentis
Tekanan darah 130/90 mmHg
Nadi 86x / menit
Frekuensi nafas 22x / menit
Tinggi badan 157 cm
Berat badan 55 kg
Pemeriksaan fisik dalam batas normal
Tabel 1. Pemeriksaan Fisik.

Keluarga Berencana
Pelayanan kontrasepsi sebagai sebagian dari pelayanan KB merupakan bagian dari
pelayanan kesehatan, jenis pelayanan yang dapat diberikan kepada konsumen pada
kemampuan fasilitas kesehatan dan ini berhubungan dengan jenjang pelayanan. Fasilitas
pelayanan KB professional dapat bersifat teknik statis atau mobile dan diselenggarakan oleh
tenaga professional, yaitu dokter spesialis, dokter umum, bidan atau perawat kesehatan.
Fasilitas pelayanan KB professional statis meliputi pelayanan KB sederhana, lengkap,
sempurna dan paripurna.Fasilitas pelayanan KB sederhana menyediakan jenis alat
kontrasepsi seperti kondom, obat vaginal, pil KB, suntik KB, IUD, menanggulangi efek
samping, dan berupaya rujukan. Tenaga pelaksanannya minimal perawat kesehatan atau
bidan yang dilatih.1,2

Kontrasepsi
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah kehamilan. Upaya ini bersifat sementara
dapat juga bersifat permanen, penggunaan alat kontrasepsi merupakan salah satu variabel
yang mempengaruhi fertilitas, konsumen memerlukan kontrasepsi dengan kemampuan yang
dapat dipercayai untuk mencegah kehamilan.1,2

Alat dan Obat Kontrasepsi (ALOKON)


Pada saat ini Pemerintah menyediakan secara gratis tiga jenis alokon di seluruh

2
wilayah Indonesia, yaitu kondom, Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR), dan susuk KB.
Terdapat 7 provinsi yang menyediakan alokon lainnya juga secara gratis, yaitu Aceh, Nusa
Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. Di
provinsi lain, selain kondom, AKDR, dan susuk KB, jenis alokon lainnya hanya tersedia
secra gratis bagi masyarakat miskin (Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera 1).
Dengan demikian, memang ada sebagian masyarakat yang harus membayar sendiri
penggunaan alokon yang dibutuhkannya.4

Metode KB
Metode KB dapat dibedakan menjadi KB cara modern dan cara tradisional. Metode
KB cara modern adalah sterilisasi, pil, IUD, suntik, susuk KB, kondom,
intravagina/diafragma, kontrasepsi darurat dan Metode Amenorea Laktasi (MAL). Sedangkan
cara tradisional misalnya pantang berkala dan senggama terputus.4

Sterilisasi.
Prosedur ini diindikasikan untuk mereka yang meminta sterilisasi dan yang mengerti
secara jelas sifat permanen dan kesulitannya serta pengembalian ke keadaan semula yang
sering tidak berhasil.5
Sterilisasi wanita merupakan metode kontrasepsi yang dipilih oleh 28% pasangan di
Amerika Serikat (American College of Obstetricians and Gynecologists, 2003). Biasanya
dilakukan dengan oklusi atau pembelahan tuba uterina. Ini dapat dilakukan kapan saja,
namun sekurang-kurangnya setengah dari jumlah keseluruhan sterilisasi dilakukan bersamaan
dengan pelahiran caesar atau per vagina yang disebut puerperalis. Sterilisasi tuba operatif
nonpuerperalis biasanya dilakukan melalui laparoskopi pada klinik bedah rawat jalan. Teknik
histeroskopi atau minilaparotomi untuk oklusi juga tersedia.5
Ketersediaan kontrasepsi pria secara tradisional terbatas pada kondom dan vasektomi.
pada saat ini, hingga setengah juta pria di Amerika Serikat menjalani vasektomi setiap tahun.
Tidak terdapat keraguan bahwa vasektomi lebih aman daripada sterilisasi tuba karena
vasektomi kurang invasif dan dikerjakan dengan analgesia lokal. Yang tidak menguntungkan,
sterilisasi tidak segera terjadi setelah vasektomi. Pengeluaran seluruh sperma yang tersimpan
di saluran reproduksi dibawah lokasi interupsi vas deferens memakan waktu sekitar 3 bulan
atau 20 kali ejakulasi.5
Kontrasepsi Oral Kombinasi/Pil
Kontrasepsi oral kombinasi (KOK) merupakan metode kontrasepsi hormonal yang

3
paling sering digunakan, serta banyaknya jenis yang dipasarkan sehingga hampir
membingungkan. Cara kerja kontraseptif KOK bersifat multiple, tetapi efek yang paling
penting adalah mencegah ovulasi dengan menekankan hypothalamic gonadotropin-releasing
factor. Ini selanjutnya mencegah sekresi hipofisis yaitu follicle-stimulating hormone (FSH)
dan luteneizing hormone (LH). Progestin mencegah ovulasi dengan menekan LH dan juga
mengentalkan mucus serviks sehingga memperlambat masuknya sperma. Sebagai tambahan,
progestin mengubah endometrium sehingga tidak memungkinkan untuk implantasi. Estrogen
mencegah ovulasi dengan menekan pengeluaran FSH. Estrogen juga menstabilkan
endometrium, yang mencegah terjadinya perdarahan intermenstrualjuga dikenal sebagai
breakthrough bleeding.5
Efek bersihnya adalah penekanan ovulasi yang sangat efektif, pencegahan migrasi
sperma melalui mukus serviks, dan menciptakan lingkungan endometrium yang tidak
menguntungkan untuk implantasi. Dengan demikian, kontrasepsi ini benar-benar memberikan
proteksi absolut terhadap kontrasepsi jika digunakan sesuai aturan.5
Idealnya, seorang wanita memulai penggunaan KOK pada hari pertama siklus
menstruasi, dan tidak diperlukan metode kontraseptif pengaman.sedangkan yang lebih
tradisional Mulai Minggu, wanita memulai penggunaan pil pada hari Minggu pertama
setelah awitan menstruasi, dan metode pengaman diperlukan selama 1 minggu untuk
mencegah konsepsi.5
Kontrasepsi oral kombinasi mengganggu kerja beberapa obat. Sebaliknya, beberapa
obat menurunkan efektifitas KOK. Jika digunakan secara tepat, KOK merupakan metode
pencegahan kehamilan yang efektif dan dapat kembali dengan cepat.5
Hormon dalam jumlah yang sangat sedikit diekskresikan dalam ASI, namun tidak ada
efek samping pada bayi yang telah dilaporkan (World Health Organization, 1988).
Ditekankan bahwa agen-agen tersebut menurunkan volume ASI, walaupun datanya terbatas.
Alternatifnya, kontrasepsi oral yang hanya mengandung progestin mempunyai efek yang
kecil terhadap laktasi, berfungsi sebagai kontrasepsi yang baik sekali, dan dengan demikian
dapat dipilih oleh wanita yang memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya.5
Sejumlah risiko kardiovaskular yang jarang, namun signifikan berhubungan dengan
penggunaan KOK. Ini mencakup penyakit tromboemboli, infark miokardial, dan stroke. Bagi
wanita dengan riwayat kejadian tersebut, KOK jangan dipertimbangkan. Faktor klinis lainnya
yang meningkatkan risiko thrombosis vena dan emboli dengan penggunaan KOK adalah
hipertensi, obesitas, diabetes, merokok, dan gaya hidup yang sedikit aktifitas. Wanita yang
menderita hipertensi, merokok, atau sakit kepala migraine dengan aura visual dan
4
menggunakan kontrasepsi oral mempunyai risiko stroke yang meningkat.5

Alat Kontrasepsi Dalam Rahim/Intra Uterine Device (AKDR/IUD)


Alat yang inert secara kimiawi terdiri dari material yang tidak dapat diserap. Paling
sering polyethylene, dan diisi dengan barium sulfat untuk radiopasitas.alat yang mempunyai
elusi tembaga atau sebuah progestin yang terus menerus. Sebagian besar AKDR dibuat
berbingkai, yang terdiri dari struktur rigid. Alat tersebut mengandung gelang-gelang
tembagayang berpillin membentuk sebuah benang dan dilekatkan ke fundus miometrium.5
Dua AKDR yang aktif secara kimiawi yang saat ini di setujui penggunaannya di
Amerika Serikat mencakup alat pelepas progestin. Alat tersebut melepaskan levonosgestrel
ke dalam uterus dengan angka yang relatif konstan yaitu 20 g/hari, yang menurunkan efek
sistemik. Alat tersebut mempunyai bingkai radiopak berbentuk T, yang batangnya di bungkus
dengan reservoir silinder, terdiri dari campuran polydimethylsiloxane-levonorgestrel.
Terdapat dua buah benang coklat yang menjuntai dan dilekatkan ke batang.5
Alat kedua adalah AKDR T 380A. Alat ini adalah sebuah polyethylene dan barium
sulfat, bingkai berbentuk T dengan tembag. Secara spesifik, kawat tembaga halus sebesar 314
mm2 yang membungkus batang, dan masing-masing lengan mempunyai gelang-gelang
tembaga sebesar 33 mm2, jadi totalnya 380 mm2 tembaga. Dua benang terulur dari dasar
batang. Benang tersebut semula berwarna biru, sekarang berwarna putih.5
Kedua tipe AKDR tersebut merupakan kontrasepsi yang efektif, dan kemampuannya
untuk mencegah kehamilan secara keseluruhan serupa dengan sterilisasi tuba. Ditekankan,
angka kehamilan menurun secara progresif setelah tahun pertama penggunaan.5
Di dalam uterus, tercetus respons inflamasi endometrial lokal yang hebat, terutama
oleh alat yang mengandung tembaga. Komponen seluler dan humoral inflamasi ini terlihat
pada jaringan endometrium dan cairan yang terdapat pada rongga uterus dan tuba uterine. Ini
menyebabkan menurunnya viabilitas sperma dan sel telur. Jika fertilisasi terjadi pada keadaan
yang tidak mungkin tersebut, maka terjadi proses inflamasi yang sama yang ditujukan
terhadap blastokista, dan endometrium diubah menjadi tempat yang tidak mendukung untuk
terjadinya implantasi. Dengan AKDR tembaga, kadar tembaga meningkatkan mucus
akseptornya dan menurunkan motilitas serta viabilitas sperma.5
Efek samping AKDR mencakup perdarahan uterus abnormal, dismenorea, ekspulsi,
atau perforasi uterus. Akan tetapi dengan penggunaan yang lama serta usia akseptor yang
meningkat, maka frekuensi kehamilan, ekspulsi, dan komplikasi perdarahan menurun. Kista
ovarium fungsional lebih sering terjadi pada bulan-bulan awal penggunaan LNG.IUS namun
5
biasanya sembuh secara spontan.5

Suntik
Suntikan hormonal adalah hormon steroid yang dipakai untuk keperluan kontrasepsi
dalam bentukan suntikan. Untuk mengatasi kerepotan dari pelaksanaan dari Pil Mini, maka
preparat injeksi diperkenalkan.7 Yang digunakan adalah long-acting progestin, yaitu
Norestiteron enantat (NETEN) dengan nama dagang depomedroksi progesterone acetat
(DPMA). Suntikan diberikan pada hari ke 3 5 pasca persalinan, segera setelah keguguran.6
Kerugian yang ditimbulkan adalah gangguan haid berupa siklus haid yang memendek
atau memanjang, perdarahan yang banyak atau sedikit, perdarahan yang tidak teratur atau
perdarahan bercak yang biasanya dirasakan pada bulan pertama penyuntikan serta amenore
yang timbul pada kebanyakan wanita setelah satu atau dua tahun setelah
penyuntikan.Keadaan anovulasi yang berlangsung lama sesudah pemakaiannya dihentikan.
Berat badan bertambah, sakit kepala. Pada sistem kardiovaskuler efeknya sangat sedikit,
mungkin ada sedikit peninggian dari kadar insulin dan penurunan HDL-kolesterol. 6,7

Susuk KB
Disebut juga implanon, adalah jenis kontrasepsi susuk tidak terdegradasi yang terdiri dari
simpai kopolimer etilen-viniasetat (EVA) sebagai pembawa substansi aktif senyawa progestin
3-keto-dogestrel (3-keto-DSG). Bentuknya batang putih lentur dengan panjang 40 mm dan
diameter 2 mm dalam suatu jarum yang terpasang pada inserter khusus berbentuk semprit
sekali pakai dalam kemasan steril kantong aluminium.8
Implanon memiliki keuntungan dengan menggunakan satu tangkai berisi 67 mg
desogestrel. Impalnon hanya menggunakan implant progesteron. Dan mengeluarkan 30 g
per hari dan implant tetap efektif sampai 3 tahun.8
Sebagai kontrasepsi jangka panjang untuk menjarangkan / dan / atau mengakhiri
kesuburan selama laktasi, serta bila penggunaan estrogen merupakan kontraindikasi.8

Kondom Pria
Produk yang tersedia sejak lama ini merupakan kontrasepsi yang efektif, dan angka
kegagalannya pada pasangan yang termotivasi dengan kuat cukup rendah yaitu 3 atau 4 per
100 pasangan-tahun penggunaannya. Efektivitas kontraseptif kondom pria ditingkatkan
cukup besar dengan ujung reservoir dan mungkin dengan penambahan pelumas spermisidal.
Efektivitas kontraseptif ditingkatkan lebih jauh dengan penggunaan zat spermisidal
6
intravagina. Zat tersebut, seperti yang digunakan untuk pelumas, harus berbahan dasar air.
Produk berbahan dasar minyak menghancurkan kondom dan diafragma lateks.5
Speroff dan Darney (2001) menekankan langkah-langkah kunci berikut untuk
menjamin efektivitas kondom yang maksimal:5
1. Sebuah kondom harus digunakan pada setiap koitus
2. Kondom harus dipasang sebelum penis berkontak dengan vagina
3. Penarikan penis dilakukan ketika penis masih ereksi
4. Dasar kondom harus ditahan ketika penarikan penis

5. Harus digunakan spermisida intravaginal maupun kondom yang dilumasi dengan


spermisida.

Intravagina/diafragma
Diafragma terdiri dari kubah lateks sirkular dengan berbagai diameter yang diperkuat
oleh pegas logam sirkumferensial yang dibungkus oleh lateks. Metode ini efektif jika
digunakan dalam kombinasi dengan gel atau krim spermisida. Spermisida dioleskan ke dalam
mangkok kubah dan sepanjang pinggirnya.5

Metode Amenorea Laktasi (MAL)


Metode KB tradisional yang mengandalkan pemberian air susu ibu bekerja dengan
penundaan atau penekanan ovulasi. MAL dilakukan sebagai kontrasepsi apabila menyusui
secara penuh, belum haid dan umur bayi kurang dari 6 bulan. Metode kontrasepsi MAL
hanya efektif sampai 6 bulan dan selanjutnya dilakukan dengan metode pemakaian
kontrasepsi lainnya. Kelebihan metode ini adalah efektifitas tinggi, tidak menganggu
senggama, tidak ada efek samping dan tanpa biaya. Kekurangannya adalah sulit dilaksanakan
karena kondisi sosial, tidak melindungi terhadap IMS, memerlukan persiapan sejak
perawatan kehamilan.9

Pantang Berkala
Disebut juga metode kalender, dilakukan dengan cara menentukan waktu ovulasi dari
daur haid yang dicatat selama 6-12 bulan terakhir. Masa berpantang dapat dapat dilakukan
pada waktu yang sama dengan masa subur bisa ditentukan dengan perhitungan kalender.
Keuntungan dari metode kalender adalah dapat digunakan untuk menghindari dan
merencanakan kehamilan, tidak ada efek samping, dan tanpa biaya. Sedangkan
kekurangannya adalah angka kegagalan tinggi, tidak mencegah IMS dan memerlukan

7
motivasi yang tinggi.10

Senggama terputus
Metode pencegahan terjadinya kehamilan yang dilakukan dengan cara menarik penis
dari liang senggama sebelum ejakulasi, sehingga sperma dikeluarkan diluar liang senggama.
Kelebihannya adalah tanpa biaya, mudah diterima dan dapat dilakukan setiap waktu.
Kekurangannya adalah diperlukan penguasaan diri yang kuat, metode kontrasepsi ini tidak
selalu berhasil, tidak dapat melindungi dari IMS.10

Pemilihan Metode

Grafik 1. Pemakaian MKJP dan Non MKJP Tahun 1991-2012

Pada grafik di atas dapat kita lihat rasio penggunaan Non-MKJP (Metode Kontrasepsi
Jangka Panjang) dan MKJP setiap tahun semakin tinggi, atau pemakaian kontrasepsi Non-
MKJP lebih besar dibandingkan dengan pemakaian kontrasepsi MKJP. Padahal Couple Years
Protection (CYP) Non-MKJP yang berkisar antara 1-3 bulan memberi peluang besar untuk
putus penggunaan kontrasepsi (20-40%).4
Sementara itu CYP dari MKJP yang berkisar 3-5 tahun memberi peluang untuk
kelangsungan yang tinggi, namun pengguna metode ini jumlahnya kurang banyak. Hal ini
mungkin disebabkan karena penggunaan metode ini membutuhkan tindakan dan
keterampilan professional tenaga kesehatan yang lebih kompleks.4
Jenis kontrasepsi yang efektif untuk mencegah kehamilan bagi wanita risiko tinggi
adalah MKJP seperti IUD, sterilisasi wanita, dan sterilisasi pria.4

8
IUD yang merupakan salah satu MKJP, paling sedikit menimbulkan keluhan/masalah
dibandingkan pil, suntikan, dan susuk KB.4

Efek Samping KB
Table dibawah ini menunjukkan data mengenai masalah yang timbul dalam
pemakaian alat/cara KB menurut metode yang dipakai.4

Tabel 1. Distribusi Persentase Peserta KB yang Mengalami Masalah dengan Alat/Cara


KB yang Digunakan, Menurut Metode yang Dipakai

Berdasarkan tabel di atas dapat kita lihat bahwa IUD, yang merupakan salah satu
metode MKJP, paling sedikit menimbulkan keluhan dibandingkan pil, suntikan dan susuk
KB.4

Laktasi
Bagi ibu yang menyusui secara eksklusif, tidak mungkin terjadi ovulasi selama 10

9
minggu setelah pelahiran. Akan tetapi, menyusui bukan merupakan metode handal keluarga
berencana bagi wanita yang bayinya hanya menyusui pada siang hari. Menunggu menstruasi
pertama berisiko terjadinya kehamilan, karena ovulasi biasanya mendahului menstruasi.5
Kontrasepsi estrogen-progestin dapat menurunkan jumlah dan durasi produksi ASI.
Keuntungan pencegahan kehamilan dengan penggunaan kontrasepsi oral kombinasi
tampaknya melebihi resiko pada pasien tertentu. Menurut American College of Obstetricians
and Gynecologists (2000), kontrasepsi progestin saja merupakan pilihan yang disukai pada
sebagian besar kasus. Sebagai tambahan, AKDR telah direkomendasikan untuk wanita
menyusui yang aktif secara seksual setelah involusi uterus.5

Kesimpulan
Perempuan usia 25 tahun pasca melahirkan datang ke poliklinik untuk berkonsultasi
tentang keluarga berencana dan merencanakan untuk memberi ASI pada bayinya, diberikan
rekomendasi untuk menggunakan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) atau Intra Uterine
Device (IUD).
Atas pertimbangan dari kondisi pasien, efek samping alat kontrasepsi, dan
kenyamanan penggunaan, dapat dipilih AKDR/IUD dan atau kondom pria.
Serta, diketahui bahwa jenis kontrasepsi yang efektif untuk mencegah kehamilan bagi
wanita risiko tinggi adalah MKJP seperti IUD, sterilisasi wanita, dan sterilisasi pria.

Daftar Pustaka
1. Pinem S. Kesehatan reproduksi dan kontrasepsi. Jakarta; Trans Info Media.h.

10
2. Depkes Indonesia. Program pelayana puskesmas. Jilid 2. Jakarta. 2008. h. D-1-29
3. Gleadle J. Anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005.
4. Kementrian Kesehatan RI. Buletin Jendela Data & Informasi Kesehatan. Volume 2.
Semester 2. 2013.
5. Cunningham FG, et al. Obstetri wiliams. Edisi 23. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
ECG. 2013.
6. Contraception, Chapter 32. William Obstetrics. 22th ed. Cunningham: McGraw-Hill
Companies. 2007
7. Manoe M., Rauf S., Usmany H editor. Kesehatan Reproduksi Wanita. In: Pedoman
Diagnosis Dan Terapi Obstetri Dan Ginekologi. Ujung Pandang: Bagian SMF Obstetri
Dan Ginekologi FKUH: 1999
8. Wiknjosastro H., Bari SA., Rachinhadhi T. editor. Kontrasepsi Hormonal. In: Ilmu
Kandungan. Edisi Kedua. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirodihardjo;
2007. Hal 543 556.
9. Depkes RI. 2003. Indikator Indonesia Sehat 2010dan Pedoman Penetapan Indikator
Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat. Jakarta
10. Hartanto, Hanafi. 2004. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Pustaka Sinar
Harapan. Anggota Ikapi Jakarta.

11