Anda di halaman 1dari 13

BUSINESS PLAN

TEAK FURNITURE

Oleh :

T. Rahmat 1322302009

Boihaqi 13223020

Jalan Banda Aceh-Medan,Lhoksukon Kabupaten Aceh Utara


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam usaha Teak Furniture ini merupakan suatu produk mebel berbahan dasar
kayu jati, model mebel yang diadopsi dari Jepara. Produk mebel yang akan di pruduksi
oleh Teak Furniture antara lain Kusen Pintu, Kusen Jendela, Pintu, Jendela, Kursi
(sofa), Kursi Biasa, Meja Ruang tamu, Meja Makan, Almari Pajang (Bifed), Almari
Biasa.

Dengan kehalusan tekstur dan keindahan warna kayunya, Jati digolongkan


sebagai kayu mewah. Oleh karena karakternya itu, kusen kayu jati sangat banyak
diminati, karena memiliki kualitas yang berkelas.

Kayu jati merupakan kayu kelas satu karena kekuatan, keawetan dan
keindahannya. Secara teknis, kayu jati memiliki kelas kekuatan I dan kelas keawetan I.
Kayu ini sangat tahan terhadap serangan rayap. Kayu teras jati berwarna coklat muda,
coklat kelabu hingga coklat merah tua. Kayu gubal, di bagian luar, berwarna putih dan
kelabu kekuningan.

Meskipun keras dan kuat, kayu jati mudah dipotong dan dikerjakan, sehingga
disukai untuk membuat kusen pintu dan ukir-ukiran. Kayu yang diampelas halus
memiliki permukaan yang licin dan seperti berminyak. Pola-pola lingkaran tahun pada
kayu teras nampak jelas, sehingga menghasilkan gambaran yang indah

1.2 Tujuan dan Manfaat

Tujuan usaha Teak Furniture yaitu :

1. Menyajikan produk mebel berbahan dasar kayu jati yang lebih bervariasi dan
unik.
2. Menarik minat bagi masyarakat ekononi menengah ke atas terutama pecinta
furniture etnik.

Manfaat usaha Teak Furniture yaitu :

1. Dapat menambah pengalaman dalam mengembangkan usaha


2. Mendapatkan keuntungan yang menggiurkan
3. Mendapatkan penghasilan lebih dari membuka usaha Teak Furniture

1.3 Gambaran Umum Usaha

1. Nama Perusahaan
Teak Furniture

2. Bidang Usaha
Penjualan properti rumah berbahan kayu jati

3. Alamat Perusahaan
Jl. Banda Aceh Medan, Lhoksukon Kabupaten Aceh Utara

4. Pendiri Perusahaan
a. T. Rahmat
b. Boihaqi
5. Badan Usaha
Jenis badan usaha perusahaan ini adalah Perusahaan Perorangan dimana modal
dimiliki oleh banyak orang dengan satu orang bertindak sebagai penanggung
jawab dan telah memiliki izin usaha

6. Visi dan Misi


Visi : Menjadi penyedia mebel jati yang unik dan berkualitas terbesar di
Indonesia
Misi : Menyediakan produk mebel selengkap mungkin, meningkatkan
pelayanan untuk pelanggan, membuka cabang di berbagai kota besar
lainnya.
BAB II

OPERASIONAL

2.1 Ruang Lingkup Bisnis

Teak Furniture merupakan suatu bidang usaha yang menggunakan sebuah


konsep unique furniture pada interior ruangannya untuk promosi produk dan menarik
minat para pelanggan terhadap produk yang ditawarkan. Untuk penyajian pada setiap
produk mebel kita membuat produk model standard (biasa) dan model yang unik
maupun sesuai keinginan pelanggan.

Untuk proses pembuatan produk mebel semua kita lakukan di tempat produksi
yang tidak jauh dari tempat pemasaran. Bahan produksi yang setengah jadi maupun
yang belum jadi semua kita dapat dari suplyer. Kayu jati dan alat-alat pertukangan kita
langsung dari suplyer agar supaya suatu usaha menjadi lebih mudah dalam kerja sama
dengan beberapa suplyer yang sudah ada dan sudah di kenal baik.

2.2 Manajemen Bisnis, Modal Usaha dan Lokasi

Usaha Teak Furniture merupakan suatu usaha yang di kelola oleh beberapa
orang dimana semua pengelolaan serta monitoring proses dari pembukaan toko hingga
toko itu berdiri, serta mencari suplyer-suplyer yang bersedia memasok barang-
barangnya Teak Furniture baik kayu jati sebagai bahan utama dan jugaalat-alat
pertukangan. Di samping pengelolaan dan monitoring manajeman toko juga dipegang
oleh salah satu pemilik usaha. Pemilik usaha di bantu oleh tiga buah karyawan dimana
masing-masing karyawan serba bisa dalam menguasai bidang usaha Teak Furniture baik
dalam desain model produk dan pembuatan produk.

Bentuk badan usaha merupakan badan usaha milik pribadi dengan milik pribadi
juga. Usaha Teak Furniture membuka toko di suatu tempat di Lhoksukon. Usaha
segmen pasar yang dipilih dalam usaha ini adalah dari kalangan bawah hingga
menengah ke atas karena ingin ikut meramaikan usaha furniture (mebel) di Indonesia
dan ingin ikut bersaing dengan kompetitor-kompetitor yang sudah lama ada.
BAB III

PEMASARAN

3.1 Promosi

Agar produk laku keras dipasaran, maka dilakukan pemasaran produk. Namun
bila tidak mengerti cara memasarkannya berarti bisa menghambat produk. Dan
masyarakat tidak mengenal apa yang telah diproduksi. Untuk itu disini akan dijelaskan
cara pemasaran mebel ini antara lain :

a. Membuat iklan mengenai mebel

b. Memberikan penjelasan tentang produk yang dibuat agar masyarakat


memahaminya

c. Memberi potongan harga untuk awal produksi

d. Mengadakan promosi mengenai mebel di daerah daerah tertentu di Aceh

3.2 Harga

Gambaran harga jual dari Jepara Jati Mebel :

a. Almari Pajang (Bifed) Rp 2.000.000 Rp 6.000.000

b. Almari Biasa Rp 2.000.000 Rp 5.000.000

c. Kursi Sofa Rp 2.700.000 Rp 8.000.000

d. Kursi Biasa Rp 1.600.000 Rp 3.500.000

e. Meja Makan Rp 2.200.000 Rp 5.500.000

f. Pintu Rp 1.400.000 Rp 3.800.000

g. Kusen Rp 225.000 Rp 600.000


BAB IV

ANALISIS SWOT

4.1 Strength (Kekuatan)


a. Kualitas kayu jati no 1, kuat, awet dan indah.
b. Model dan bentuk mebel yang unik serta menyesuaikan pesanan pelanggan,
sehingga pelanggan tertarik untuk berbelanja.
c. Pelayanan yang memuaskan.
d. Tempat strategis dan Halaman parkis yang luas.

4.2 Weakness (Kelemahan)


a. Belum dikenal secara luas.
b. Masih tergantung terhadap supplier sehingga sulit menentukan harga jual.
c. Membutuhkan modal yang banyak.

4.3 Opportunity (Peluang)


a. Semakin banyak dibangun perumahan sehingga meningkatnya permintaan
mebel
b. Kurangnya penyedia mebel yang memproduksi furniture sesuai keinginan
pelanggan.
c. Usaha seperti ini belum menjamur di Lhoksukon.

4.4 Threath (Ancaman)


Penolakan untuk melakukan transaksi eksporter.
Munculnya pesaing baru yang mendirikan bisnis seperti ini.
Kurangnya animo masyarakat karena lebih memilih model rumah modern
minimalis yang lebih murah.
BAB V
MANAJEMEN TENAGA KERJA PERUSAHAAN

5.1 Struktur Organisasi

Di dalam suatu bisnis usaha diperlukan struktur organisasi yang jelas, sehingga
dapat mengatur pekerjaan dari para tenaga kerja agar sesuai dengan bidang tugas yang
dikerjakannya. Maka diharapkan dengan adanya struktur organisasi yang jelas dapat
menunjang bisnis yang akan dihasilkan. Berikut ini struktur organisasi dari Teak
Furniture :

Jabatan Jumlah Personil Pendidikan Minimum

Manajer 1 DIV

Kasir 1 SMA/SMK

Desainer 1 SMA/SMK

Tukang kayu 7 SMA/SMK

Pemilik Usaha

Manajer

Kasir Desainer Tukang Kayu


5.2 Analisis Jabatan

Untuk menjelaskan masing-masing jabatan dalam struktur organisasi, maka


diperlukan suatu uraian pekerjaan sebagai berikut :

a. Nama Jabatan : Pemilik Usaha

Hubungan Organisasi : Dengan karyawan

Ringkasan Pekerjaan : Pemilik Usaha adalah pengendali dan pembuat


keputusan tertinggi yang menyangkut
kelangsungan hidup perusahaan.

Tanggung jawab :

a. Membuat perencanaan, strategi, dan kebijakan yang menyangkut


operasional perusahaan
b. Menyusun anggaran perusahan dan program kerja
c. Menjamin operasional perusahaan secara hukum
d. Melakukan kontrol secara keseluruhan atas operasional perusahaan
e. Memegang kendali atas keputusan penting bersifat umum atau berkaitan
dengan masalah regulasi dan financial
f. Bertanggung jawab dalam memajukan usaha
g. Menetapkan standar gaji yang diterima oleh pegawai
h. Memutuskan perberhentian dan promosi jabatan di perusahaan

b. Nama Jabatan : Manajer

Hubungan Organisasi : bertanggung jawab kepada pemilik usaha

Ringkasan Pekerjaan : bertugas memimpin dan menangani hal hal


yang berkaitan dengan operasional perusahaan
baik internal maupun eksternal

Tanggungjawab :
a. Bertanggung jawab terhadap hal hal yang menyangkut keuangan
perusahaan baik operasional sehari hari ataupun kebutuhan yang bersifat
tidak terjadwal
b. Memanage dan menganalisis laporan keuangan harian, mingguan dan per
periode akuntansi
c. Melatih, mengembangkan dan mengkoordinir karyawan agar dapat
memenuhi standar perusahaa dalam beroperasi dan melayani pelanggan
d. Memastikan semua prosedur dan standar serta kebijakan perusahaan telah
dikomunikasi secara efektif kepada seluruh karyawan serta dijaga dan diikuti
secara konsisten
e. Bertanggung jawab atas seluruh aliran dana dalam perusahaan
f. Berwenang mengatasi masalah yang berhubungan dengan penggunaan dana

c. Nama Jabatan : Kasir

Hubungan Organisasi : Bertanggung jawab kepada manajer

Ringkasan Pekerjaan : Bertanggung jawab terhadap transaksi keuangan


sehari hari

d. Nama Jabatan : Desainer

Hubungan Organisasi : Bertanggung jawab kepada manajer

Ringkasan Pekerjaan : Bertugas untuk mendesain produk furniture yang


akan dibuat oleh tukang kayu

e. Nama Pekerjaan : Tukang kayu

Hubungan Organisasi : Bertanggung jawab kepada manajer

Ringkasan Pekerjaan : Membuat produk furniture yang telah dirancang


oleh desainer maupun sesuai dengan permintaan
pelanggan.
BAB VI

KEUANGAN

6.1 Permodalan Usaha

Dalam segi permodalan usaha, semua permodalan merupakan modal yang


dimiliki oleh Jepara Jati Mebel sebesar Rp 1.000.000.000,- sehingga dapat memenuhi
semua pengeluaran yang dibutuhkan. Dimana perincian pembukaan usaha sbb :

No. Pengeluaran Nominal

Peralatan dan Perlengkapan Rp 300.000.000,-


1.

2. Bahan baku awal (kayu jati) 20 kubik @ 10.000.000 Rp 200.000.000,-

3. Sewa tempat usaha/tahun Rp 20.000.000,-

4. Gaji karyawan 10 orang Rp 10.000.000,-

5. Biaya lain - lain Rp 6.000.000,-

Total Rp 536.000.000,-

6.2 BEP

Proyeksi keuangan Jepara Jati Mebel akan didasarkan pada beberapa asumsi
berikut ini :

Rata rata penjualan produk Jepara Jati Mebel selama 1 bulan adalah sebagai berikut :
No. Penjualan Mebel Harga Jumlah

1. Almari Pajang (Bifed) (3 buah/bulan) Rp 6.000.000,- Rp 18.000.000,-

2. Almari Biasa (3 buah/bulan) Rp 5.000.000,- Rp 15.000.000,-

3. Kursi Sofa (1 buah/bulan) Rp 8.000.000,- Rp 8.000.000,-

4. Kursi Biasa ( 8 buah/bulan) Rp 3.500.000,- Rp 28.000.000,-

5. Meja makan (3 buah/bulan) Rp 5.500.000,- Rp 16.500.000,-

6. Pintu ( 8 buah/bulan) Rp 3.800.000,- Rp 30.400.000,-

7. Kusen Pintu (12 buah/bulan) Rp 600.000,- Rp 7.200.000,-

8. Kusen jendela + Jendela (10 Rp 1.500.000,- Rp 15.000.000,-


buah/bulan)

Total Pendapatan/bulan Rp 138.100.000,-


BAB VII
ASPEK HUKUM DAN LEGALITAS

a. Badan Hukum Organisasi


Setelah mempertimbangkan skala usaha dan juga tujuan pendirian organisasi
maka diputuskan bahwa bentuk badan hukum yang paling sesuai untuk organisasi yang
akan didirikan ini adalah Perusahaan Perorangan (Po).

b. Jenis-Jenis Perijinan yang Diperlukan


Untuk mendapatkan legalitas usaha, maka organisasi harus mendapatkan
perizinan dalam melakukan operasinya. Prosedur pendirian Perusahaan Perorangan
adalah sebagai berikut :
1. SIU (Surat Izin Usaha)
Pengurusan surat izin usaha ini dilakukan di Balai Kota
2. SITU (Surat Izin Tempat Usaha)
Pengurusan surat izin usaha ini dilakukan di Balai Kota
3. NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)
Pengurusan surat izin usaha ini dilakukan dikantor Pajak.
BAB VIII
PENUTUP

A. Kesimpulan

Untuk menjalankan usaha ini pada tahap awal dibutuhkan 10 orang tenaga kerja
yang diambil dari anggota keluarga dan bekerjasama dengan teman yang bertujuan
untuk efektifitas dan efisien. Dengan demikian CV. ATRA AWAY KANA dilihat dari
segi analisis finansial dan pemasaran memenuhi standar kelayakan usaha.

B. Saran

Usaha ini diharapkan dapat menjadi salah satu jalan dalam memperindah dan
memberikan kenyamanan yang dapat dijadikan pandangan bagi pengusaha lainnya.

Anda mungkin juga menyukai