Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

BRUXISM PADA ANAK : SEBUAH TANDA BAHAYA


TERJADINYA GANGGUAN PSIKOLOGIS -
STUDI KASUS

Disusun Oleh :
Ira Laila Octarisya A. A. (111611101037)
Pembimbing:
drg. Sulistyani., M.Kes

BAGIAN ILMU KESEHATAN GIGI ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
2016

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Permasalahan-permasalahan tidur dan kebiasaan buruk pada anak
sering terlihat selama masa sekolah. Kebiasaan buruk yang sering dijumpai
pada anak, penting untuk dideteksi sedini mungkin, walaupun dalam banyak
hal terjadinya anomali bukan karena kebiasaan buruk semata. Permasalahan
tersebut dilaporkan 42,7%, termasuk didalamnya mengigau (14,8%), bruxism
(11,6%), mimpi buruk (6,8%), teror malam (2,9%), mengorok (5,8%), dan
berjalan saat tidur (1,9%). Bruxism merupakan kebiasaan buruk yang
merusak, didefinisikan sebagai kebiasaan menggesek, mengasah gigi yang
tidak hanya dilakukan saat malam, tetapi juga siang hari (Antonio et al.,
2006).
Bruxism menempati posisi kedua pada distribusi kebiasaan buruk
yang sering terjadi pada anak, prevalensi bruxism pada anak diperkirakan
pada kisaran 7%-15,1%. Perbedaan yang signifikan antar gender cukup
bermakna, beberapa penelitian menunjukkan tingkatan yang lebih tinggi pada
perempuan dibanding laki-laki, bagaimanapun juga kondisi bruxism dikaitkan
pada karakteristik tiap individu seperti keagresifan, hiperaktifitas, bisa juga
dipicu oleh kejadian yang terjadi pada kehidupan sehari-hari (Antonio et al.,
2006).
Kebiasaan buruk ini sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan
gigi dan mulut anak, namun demikian terkadang orangtua tidak menyadari
bahwa bruxism merupakan kebiasaan buruk yang membutuhkan perawatan,
bahkan sebagian besar penderita tidak sadar bahwa dirinya memiliki
kebiasaan tersebut. Disamping keluhan dari teman tidur yaitu suara gesekan,
dan mengasah, bruxism juga menyebabkan sakit pada otot wajah, sakit pada
musculoskeletal, maxillofacial, kerusakan TMJ, sakit orofasial, fibromyalgia,
dan kelelahan kronik (Christine, 2007).
Etiologi bruxism secara pasti masih belum diketahui, dapat karena
faktor lokal, sistemik, maupun psikologis. Sejauh ini bruxism sering

2
dihubungkan dengan stress, kerusakan email, alergi, dan posisi tidur.
Penyebab bruxism yang tidak spesifik tersebut menyulitkan praktisi dalam
mendiagnosanya (Attansio, 1997).

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa yang dimaksud dengan bruxism?
1.2.2 Apa penyebab dari bruxism pada anak?
1.2.3 Bagaimana proses terjadinya bruxism pada anak?
1.2.4 Bagaimana penatalaksaan dari bruxism pada anak?

1.3 Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini ialah :
1.3.1 Untuk mengetahui dan memahami apa yang di maksud dengan
bruxism
1.3.2 Untuk mengetahui dan memahami penyebab dari bruxism pada anak
1.3.3 Untuk mengetahui dan memahami proses terjadinya bruxism pada
anak
1.3.4 Untuk mengetahui dan memahami penatlaksanaan bruxism pada anak

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Bruxism


Bruxism adalah kebiasaan kronis mengatup-ngatupkan rahang dan
mengasah gigi yang terjadi pada anak-anak, terutama anak dibawah umur 5
tahun. Bruxism terjadi paling sering pada saat tidur lelap di malam hari,

3
mungkin juga terjadi selama anak mengalami tekanan atau ketakutan.
Bruxism merupakan aktivitas parafungsional yang disebabkan oleh refleks
aktifitas mengunyah, akan tetapi ini bukan hasil dari aktifitas belajar.
Mengunyah adalah aktivitas neuromuscular yang kompleks yang dikontrol
oleh jalur persyarafan reflek, dimana pengontrol tertinggi adalah otak. Saat
tidur, bagian ini masih tetap aktif meskipun kontrol pusat tidak aktif, pada
fase inilah bruxism terjadi (Agard, 2001).
Kekuatan tekan yang dihasilkan bruxism lebih kuat daripada tekanan
normal, sekitar 49- 73,5 kg, sedangkan kekuatan tekanan bruxism dapat
mencapai 136 kg per 2,5 cm. Empat otot utama yang menyusun sistem
pengunyahan yaitu otot masseter, otot temporalis, otot pterigoid medialis, dan
otot pterigoid lateralis. Diantara keempat otot pengunyahan tersebut, otot
maseter memiliki peran yang paling besar dalam bruxism (Christine, 2007).

2.2 Penyebab Terjadinya Bruxism Pada Anak


Etiologi bruxism secara pasti masih sulit untuk diketahui. Diduga
faktor penyebabnya antara lain faktor lokal, sistemik, maupun psikologis.
Faktor lokal diantaranya karena ketidaksesuaian oklusi akibat tambalan gigi
yang terlalu tinggi. Faktor sistemik tertinggi karena penyakit epilepsi,
meningitis, dan gangguan gastrointestinal. Faktor psikologis disebabkan
karena kondisi cemas dan stress. Faktor psikologis inilah yang dianggap
paling mendasar sebagai penyebab bruxism, sehingga didapati bahwa
bruxism sering terjadi pada anak-anak yang mudah marah dan memiliki
kebiasaan buruk lain yang menyertai seperti thumb sucking dan menggigit
kuku (Christine, 2007).
Melalui beberapa penelitian, tidak ada satupun yang secara pasti
mengetahui penyebab bruxism. Tetapi pada beberapa kasus bruxism pada
anak mungkin terjadi oleh karena kontak gigi rahang atas dan bawah yang
tidak tepat, atau bisa juga sebagai respon sakit, misalnya sakit pada telinga
maupun sakit gigi. Stress, biasanya kecemasan dan ketakutan bisa menjadi
penyebab lainnya. Misalnya karena ketakutan menghadapi ujian di sekolah
maupun ketakutan menghadapi guru baru. Beberapa anak yang hiperaktif,
mengekspresikan keaktifannya dengan melakukan bruxism. Pada anak-anak,

4
bruxism mungkin dihubungkan dengan pertumbuhan TMJ dan gigi. Beberapa
peneliti menduga bahwa bruxism sebagai akibat dari keadaan gigi-gigi rahang
atas dan bawah yang tidak tepat satu sama lain selama masa pertumbuhan
(Christine, 2007).

2.3 Proses Terjadinya Bruxism Pada Anak

Anak-anak tertentu memiliki kemungkinan mengalami bruxism lebih


besar daripada anak lainnya. Bruxism biasanya terjadi pada beberapa anak
yang mengalami kecemasan, stress ketakutan dan frustasi. Bruxism juga
cenderung terjadi pada anak-anak kecil, namun sedikit berkurang saat
menginjak remaja. Anak dengan diagnosa hiperaktif, dan penderita cerebral
palsy serta beberapa keadaan retardasi mental lainnya mungkin memiliki
resiko lebih tinggi untuk mengalami bruxism. Trauma oklusi dan kerusakan
gigi pada anak dengan kebiasaan bruxism dapat menjadi faktor yang
mempermudah terjadinya peningkatan kerusakan gigi anterior 20 tahun
kemudian (Antonio et al., 2006).

Patofisiologi dari bruxism sewaktu tidur tampaknya belum dapat


dijelaskan sepenuhnya, tetapi mungkin disebabkan mulai dari faktor
psikososial seperti stres, kecemasan, respon yang eksesif sampai
microarousals. Microarousals didefinisi sebagai periode singkat (3-15 detik)
dari aktivitas cortikal sewaktu tidur, yang berhubungan peningkatan aktivitas
sistem saraf simpatik (Kato et al., 2001).

Hampir 80% episod bruxism terjadi dalam kelompok, sewaktu tidur


dan berhubungan dengan microarousal. Mengerotkan gigi didahului urutan
kejadian psikologis: peningkatan aktivitas simpatik (pada 4 menit sebelum
mengerot dimulai), diikuti aktivasi cortikal (1 menit sebelumnya) dan
peningkatan ritme jantung dan tonus otot pembukaan mulut (1 detik
sebelumnya). Bukti terbaru yang mendukung hipotesis bahwa bruxism
dimediasi secara sentral dibawah rangsangan autonom dan otak. Bukti

5
mendukung peran syaraf sentral dan sistem syaraf autonom pada awal
aktivitas oromandibular bruxism selama tidur malam (Lavigne et al., 2007).

Sebagian besar anak-anak yang memiliki kebiasaan bruxism serta


orangtua mereka tidak menyadari kebiasaan buruk tersebut. Beberapa tanda
yang dapat digunakan untuk mendiagnosa adanya kebiasaan bruxism antara
lain suara bising asah gigi selama tidur, oerasaan tidak nyaman pada TMJ saat
bangun pagi, punya kebiasaan menggigit ibu jari dan atau menghisap jempol,
menggigit pensil atau mainan, menghisap-hisap bagian tepi pipi, gigi menjadi
turun, flat dan kecil, email gigi terdedah dan bagian dentin terlihat,
peningkatan sensitifitas gigi, sakit pada telinga, karena kontraksi otot
pengunyahan, akan tetapi tidak ada kelainan pada fungsi pendengaran, sakit
kepala, perasaan tidak nyaman pada wajah yang kronis (Antonio et al., 2007).

2.4 Penatalaksanaan Bruxism Pada Anak


Beberapa perawatan yang dapat dilakukan antara lain psikoterapi,
menghilangkan trauma oklusi, pembuatan alat dan perawatan tambahan.
Psikoterapi bertujuan untuk menghilangkan emosi yang tidak stabil pada
anak. Orangtua diberitahu bahwa salah satu penyebab anak melakukan
bruxism adalah karena faktor psikologis, sehingga mereka juga akan
mencermati hal-hal yang mungkin menjadi penyebabnya. Menghilangkan
trauma oklusi dapat dilakukan dengan menggrinding tonjol-tonjol yang
menyebabkan occlusal interference (Christine, 2007).
Night guard atau mouth guard atau bite splint atau bite guard
merupakan alat yang dapat dipakai untuk mengatasi kebiasaan bruxism. Bite
splint dianjurkan untuk anak karena berbahan dasar lunak (soft rubber splint),
cukup mampu melawan grinding. Bite splint ini merupakan alat lepasan yang
terbuat dari akrilik yang menutupi permukaan oklusal, insisal dan palatal gigi
pada salah satu rahang. Alat tersebut lebih sering dibuat pada rahang atas,
karena pada rahang bawah lebih banyak undercut dan adanya tekanan dari
lidah sehingga cenderung kurang stabil. Mekanisme dari bite splint ini adalah

6
kekuatan tekanan bruxism yang menyentuh dataran oklusal splint akan
didistribusikan secara merata, menyeluruh, dan tidak langsung mengenai
permukaan oklusal maupun insisal, sehingga gigi geligi tidak terdesak, tetap
stabil dan terlindungi (Christine, 2007).
Prinsip dari mouth guard adalah meminimalkan abrasi pada
permukaan gigi dengan memakai akrilik dental guard/splint, dengan desain
berbentuk individual tray rahang atas atau rahang bawah dari oklusal. Mouth
guard memiliki 4 fungsi, antara lain : a) sebagai dasar perhatian bagi pasien
bahwa pencegahan bruxism berarti pencegahan terhadap kerusakan TMJ yang
lebih parah, b) menstabilkan oklusi sebagai upaya untuk meminimalkan
derajat perubahan posisi gigi yang mungkin terjadi selama bruxism, c)
mencegah kerusakan gigi, d) sebagai pertimbangan bagi praktisi11,12. Mouth
guard biasanya buatan pabrik dengan keuntungan murah dan mudah didapat,
tetapi ukurannya dalam standart, sehingga belum tentu cocok dipakai tiap
individu. Untuk anak-anak dianjurkan memakai ukuran individual sehingga
aman dipakai dan stabil dalam rongga mulut (Christine, 2007).
Manajemen terapi bruxism pada anak adalah kombinasi dari terapi
pengurangan stress, penggantian posisi tidur, terapi obat, pelatihan
biofeedback, terapi fisik, dan evaluasi gigi. Evaluasi maloklusi dengan
prosedur ortodontik, restorasi, dan pengaturan oklusal (occlusal adjustment)
dengan selektif grinding tidak akan mengontrol kebiasaan bruxism (Melba,
2005).
Apabila kebiasaan bruxism dikarenakan stress, maka dapat dilakukan
tindakan preventif dengan berkonsultasi dan meminta bimbingan konseling
atau metode pengaturan relaksasi, misalnya dengan latihan atau meditasi.
Apabila yang mengalami bruxism adalah anak-anak, maka orangtua
hendaknya mengajak anakanaknya untuk menceritakan ketakutannya,
sehingga didapat cara untuk mengatasi ketakutan tersebut (Christine, 2007).

7
BAB III

PEMBAHASAN STUDI KASUS

3.1 Studi Kasus

Seorang anak laki laki berusia 6 tahun dibawa ke klinik gigi anak oleh
ibunya. Dari anamnesis, ibu pasien menjelaskan bahwa pasien
menggertakkan giginya di malam hari, tetapi ibu pasien tidak mengetahui
berapa lama hal tersebut telah berlangsung. Riwayat medis pasien
menunjukkan adanya gangguan respirasi kronik, akibat alergi, dan tidak
4 refluks
ditemukan adanya Gambar 1 : gingiva tampak
gastroesofageal. ruptur
Tidak ada riwayat pengobatan
gigi yang dilaporkan. Walaupun ibu pasien menjelaskan bahwa anak sangat
aktif, selama konsultasi pasien sangat pemalu dan introspektif. Ibu pasien
melaporkan bahwa mereka tinggal di daerah dengan angka tindak 8
kekerasan yang tinggi, dimana penembakan sering terjadi dan anak menjadi
gelisah setelah kejadian tersebut.
5

6 Gambar 2 : Gigi 84 sisa akar

8 Gambar 3: Kemerahan pada gingiva di sekitar gigi 84

Gambar 1. Oklusi pasien tampak depan

Gambar 2. penipisan yang nyata pada seluruh gigi sulung anterior dan
penipisan oklusal pada gigi 55, 65, 75, dan 84.

3.2 Hasil Pemeriksaan

Pemeriksaan fisik menunjukkan bahwa pasien berada pada fase awal


gigi geligi pergantian, dengan molar 1 permanen maksila dan mandibula serta
gigi insisivus 1 permanen sedang erupsi. Ditemukan adanya relasi mesial
antara molar 2 maksila dan mandibula sulung pada sisi kiri dan kanan,
sementara gigi caninus maxilla dan mandibula sulung menunjukkan relasi
klas I bilateral. Tidak ada deviasi midline atau maloklusi (Gambar 1). Tidak

9
ditemukan adanya gangguan oklusi, deviasi mandibula, limitasi pembukaan
mulut atau gejala klinis apapun yang mengindikasikan disfungsi
temporomandibular selama pemeriksaan klinis intraoral. Higiene mulut baik;
tidak ditemukan lesi karies atau inflamasi gingiva, walaupun pasien memiliki
restorasi semen ionomer kaca yang menipis pada gigi 55. Insisal insisivus
seluruh gigi maksila sulung anterior sangat menipis. Sisi oklusal yang
menipis pada gigi 55, 65, 75, 74, 73, 72, 82, 83, dan 84 juga ditemukan
(Gambar 2). Terdapat fraktur kecil pada cusp gigi 54 dan 63 dan pada gigi 85.
Pasien tidak memiliki riwayat nyeri walaupun dengan stimulasi mekanik.

3.1 Pembahasan
Faktor faktor etiologi yang mungkin berkaitan dengan bruxism telah
banyak dibahas dalam literatur. Laporan ini terfokus pada anak dengan
penipisan berat gigi sulung akibat menggertakkan gigi. Pada kasus ini,
kondisi yang dianggap mencetuskan keadaan ini adalah gangguan psikologis,
akibat pengalaman mengerikan. Funch dan Gale menyatakan bahwa bruxism
berkaitan dengan faktor psikologis, menunjukkan bahwa jenis kehidupan
yang dimiliki pasien memberikan pengaruh besar terhadap frekuensi, durasi,
dan keparahan kondisi. Jadi, berdasarkan adanya masalah emosional yang
dilaporkan oleh pasien, penulis menyimpulkan bahwa seluruh kemungkinan
kondisi yang dijumpai pada pasien tersebut adalah bruxism.
Karena riwayat medis mengenai diet dan refluks tidak ditemukan pada
pasien ini, kemungkinan penipisan gigi berasal dari proses kimia dihapuskan,
sesuai dengan Imfeld dan Lussi et al., (1996) yang menyatakan bahwa faktor
faktor etiologi yang berkontribusi dalam disolusi kimiawi enamel gigi pada
anak berkaitan dengan diet mengandung asam atau obat obatan.
Sleep-related xerostomia adalah sensasi mulut kering yang
berhubungan dengan rasa tidak nyaman pada mulut dan tenggorok yang
menyebabkan pasien bangun untuk minum air. Menurut Thie et al., (2002)
lubrikasi dari saliva penting selama tidur untuk melindungi integritas jaringan

10
dan kesehatan struktur esofagus. Walaupun demikian, sulit untuk ditegaskan
bahwa aliran saliva pada kasus ini berkontribusi terhadap penipisan gigi
untuk 2 alasan : pertama, penipisan gigi sangat khas; dan, yang paling
penting, tidak dilakukan uji aliran saliva pada anak tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

1. Agard K., Gerhart J., Harris M., Maas C., Nelson D., Sauer J., Stefonek T.
2001. Mouth Guard for Treating Bruxism With Electrostimulation.
University of Wiconsin. Madison

2. Antonio, AG., Viviane santos da Silva Pierro, Maia LC. 2006. Bruxism in
Children : A Warning Sign for Phsychological Problems. J can Dent
Association.Vol 72 No.2. 155-160.

3. Attanasio R. 1997. An Overview of Bruxism and its Management. Dental


Clinics of North America 41 ; 229-241

11
4. Christine Julie. 2007. Penatalaksanaan Bruxism Pada Anak-Anak
(Management of Children With Bruxism). Jurnal PDGI Edisi Khusus PIN
IKGA II : Jakarta. 103-106

5. Funch DP, Gale EN. Factors associated with nocturnal bruxism and its
treatment. J Behav Med 1980; 3(4):3857

6. Imfeld T. Dental erosion. Definition, classification and links. Eur J Oral


Sci 1996; 104(2 Pt 2):1515.

7. Kato T, Rompre P, Montplaisir JY, Sessle BJ, lavigne GJ. Sleep bruxism
an oromotor activity secondary to microaurosal. J Dent Res.
2001;80(10):1940
8. Lavigne GJ, Huynh N, Kato T, Okura K, Yao D, et al. Genesis of sleep
bruxism: otor and autonomic-cardiac interaction. Arch Oral Biol.
2007;52:361-381

9. Melba, MZ. 2005. Bruxism and Children. Pediatric Dentistry. California


10. Thie NM, Kato T, Bader G, Montplaisir JY, Lavigne GJ. The significance
of saliva during sleep and the relevance of oromotor movements. Sleep
Med Rev 2002; 6(3):21327.

12