Anda di halaman 1dari 2

Nama : Taufiq Zulyasman

Nim : 2014730089

No Klasifikasi Kondisi Pasien Multiple Trauma


Setelah dilakukan assessment dan intervensi awal maka kondisi pasien sebaiknya
diklasifikasikan diantara empat kategori dengan tujuan untuk memandu langkah perawatan
berikutnya. Keempat kategori tersebut adalah stable, borderline, unstable, dan in extremis.
Kategori ini berdasarkan atas derajat keparahan trauma,adanya cedera spesifik,dan keadaan
hemodinamik. Sebelum pasien dimasukkan dalam salah satu kategori,terlebih dahulu harus
dicapai end points of resuscitation. Yang termasuk end poin of resuscitation adalah
hemodinamik yang stabil, saturasi oksigen yang normal, urine ouput di atas 1 mL/kgBB/jam,dan
tidak diperlukannya inotropic.

Pasien dikatakan stable bila pasien tidak memiliki cedera yang mengancam jiwa dengan
segera,berespon terhadap terapi awal,dan memiliki hemodinamik stabil tanpa dukungan
inotropik. Pada pasien tidak terdapat gangguan fisiologis,seperti koagulopati,respiratory
distress, atau ongoing occult hypoperfusion yang bermanifestasi sebagai gangguan
keseimbangan asam basa,serta pada pasien tidak terdapat hipotermia. Pasien dalam kondisi
stable memiliki physiologic reserve untuk mampu bertahan menghadapi tindakan pembedahan
yang panjang.

Pasien dikatakan borderline bila pasien telah distabilkan dan berespon terhadap
resusitasi awal tetapi memiliki beberapa manifestasi klinis atau cedera sebagai berikut :

ISS <40
Hipotermia dengan temperature <35oC
Mean pulmonary arterial pressure awal >24 mmHg atau peningkatan >6 mmHg pada
pulmonary artery pressure selama dilakukannya intramedullary nailing atau tindakan
operasi lainnya
Multiple injuries (ISS>20) yang disertai dengan trauma thorak (AIS>2)
Multiple injuries yang disertai dengan cedera abdomen pelvis yang parah serta
mengalami syok hipovolemik pada awal datangnya pasien tersebut (systolic BP <90
mmHg)
Adanya kontusio paru pada pemeriksaan radiologis
Pasien dengan fraktur femur bilateral
Pasien dengan cedera kepala sedang atau berat (AIS>3)
Faktor-faktor di atas berkaitan dengan outcome yang buruk dan berisiko menyebabkan
pasien memburuk. Pada pasien tersebut harus tetap dilakukan pengawasan dan dapat pula
digunakan invasive monitoring.

Pasien dikatakan unstable bila kondisi hemodinamin pasien masih unstable walaupun
telah dilakukan resusitasi awal. Pada pasien tersebut berisiko tinggi untuk mengalami
perburukan secara cepat, yang kemudian diikuti dengan multiple organ failure dan
kematian. Pada kategori ini maka penatalaksanaan menggunakan damage control
approach,dimana pendekatan tersebut menekankan rapid life saving surgery hanya bila
diperlukan secara absolute serta diikuti dengan mentransfer pasien ke ICU untuk stabilisasi
dan monitoring lebih lanjut. Disarankan untuk dilakukan temporary stabilization dari fraktur
dengan menggunakan external fixation dan juga dilakukan hemorrhage control. Tindakan
pembedahan yang kompleks sebaiknya ditunda hingga tercapainya kondisi pasien yang
stabil serta respon inflamasi telah berkurang. Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi
dampak second hit dari suatu tindakan pembedahan.

Pasien yang termasuk kategori in extremis adalah pasien yang akan meninggal akibat
cedera yang terlalu parah dan sering didapatkan adanya ongoing uncontrolled blood loss.
Pasien terssebut tetap severely unstable walaupun telah dilakukan usaha resusitasi yang
agresif. Pada pasien tersebut juga ditemukan triad of death, yaitu hipotermia,asidosis,dan
koagulopati. Sebaiknya tetap dilakukan damage control approach yang bertujuan untuk
menyelamatkan jiwa kemudian setelah tindakan tersebut pasien ditransfer ke ICU untuk
invasive monitoying dan advanced hematological,pulmonary, dan cardiovascular support.
Cedera orthopaedi dapat distabilkan dengan cepat dengan mengguakan external fixation.
Tindakan pembedahan yang bersifat rekonstruktif sebaiknya ditunda dan dapat dikerjakan
bila nyawa pasien tersebut terselamatkan.