Anda di halaman 1dari 10

PRAKTIKUM II

IDENTIFIKASI RHODAMIN PADA MAKANAN

A. TANGGAL PELAKSANAAN
Sabtu, 10 Juni 2017

B. TUJUAN
Mengidentifikasi adanya Rhodamin B pada sampel makanan dan minuman
dengan metode kromatografi sederhana.

C. DASAR TEORI
Di dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.239/MenKes/Per/V/85 disebutkan ada 30 jenis pewarna yang dinyatakan sebagai
bahan berbahaya bagi kesehatan dan dilarang untuk digunakan sebagai bahan tambahan
makanan. Salah satunya yaitu zat warna sintesis Rhodamin B yang merupakan pewarna
yang dilarang digunakan untuk zat tambahan makanan. Rhodamin B adalah zat pewarna
buatan yang digunakan dalam industri tekstil dan kertas. Rumus molekul dari Rhodamin
B adalah C1NCl dengan berat molekul sebesar 479.000. Zat Rhodamin B berbentuk
kristal hijau atau serbuk ungu kemerah-merahan, sangat larut dalam air dan akan
menghasilkan warna merah kebiru-biruan dan berflouresensi kuat. Rhodamin B dapat
larut dalam alcohol, HCl, dan NaOH selain mudah larut dalam air (Wisnu, 2008).
Rhodamin B adalah zat pewarna sintesis yang digunakan pada industri tekstil dan
kertas, zat pewarna sintesis ini sangat berbahaya apabila terhirup, mengenai mata dan
kulit serta tertelan. Pengaruh buruk bagi kesehatan antara lain menimbulkan iritasi pada
saluran pencernaan dan air seni menjadi berwarna merah atau merah muda. Pada kondisi
yang lebih akut dapat mengganggu fungsi hati dan menimbulkan kanker hati (Wijaya,
2011).
Identifikasi adanya zat tambahan Rhodamin B dalam makanan dapat dilakukan
dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Tahap identifikasi dengan KLT dimulai
dengan sampel ditotolkan pada plat KLT dan totolkan larutan baku Rhodamin B. Plat
KLT yang mengandung cuplikan dimasukkan kedalam chamber yang lebih dahulu telah
dijenuhi fase gerak berupa n-butanol : etil asetat : ammonia (10 : 4 : 5). Biarkan hingga
lempeng terelusi sempurna kemudian plat KLT diangkat dan dikeringkan. Ketika pelarut
naik akibat dari aksi kapiler pada adsorben, komponen sampel terbawa dengan kecepatan
yang berbeda dan dapat dilihat sebagai deretan titik-titik setelah platnya dikeringkan dan
diwarnai atau dilihat dibawah cahaya ultraviolet. Mengamati warna secara visual dan
dibawah sinar UV 254 nm. Jika secara visual noda berwarna merah jambu dan dibawah
sinar UV 254 nm warna kuning dan 366 nm merah muda hal tersebut menunjukkan
adanya Rhodamin B (Kumalasari, 2015).
Pemakaian bahan pewarna sintesis dalam pangan walaupun mempunyai dampak
positif bagi produsen dan bagi konsumen, diantaranya dapat membuat suatu pangan lebih
menarik, meratakan warna pangan, dan mengembalikan warna dari bahan dasar yang
hilang atau berubah selama pengolahan, ternyata dapat pula menimbulkan hal-hal yang
tidak diinginkan dan bahkan mungkin memberi dampak negative terhadap kesehatan
manusia. Penggunaan pewarna sintesis oleh para pedagang makanan tradisional di pasar-
pasar atau dikantin atau kios pada makanan disebabkan kurangnya pengetahuan terhadap
bahaya pewarna sintesis yang dilarang. Selain itu pertimbangan harga relatif murah
sehingga para pedagang menggunakan pewarna yang tidak diizinkan tersebut
(Abdurrahmansyah, 2017).

D. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
a. Gelas arloji
b. Beaker glass 100 ml
c. Labu ukur 10 ml
d. Gelas ukur 100 ml
e. Pipet ukur 10 ml
f. Batang pengaduk
g. Chamber
h. Pipet tetes
i. Tabung reaksi
j. Sendok plastic
k. Botol semprot
l. Filter
2. Bahan
a. Standar Rhodamin B
b. Methanol
c. Asam asetat glacial 10 %
d. Propanol
e. Ammonia
f. Aquadest
g. Sampel ( Terasi dan minuman Ale-ale)

E. PROSEDUR KERJA
a. Pembuatan larutan Rhodamin B (sebagai standar )
1 gram Rhodamin B
Dimasukkan dalam beaker 50 ml
Dilarutkan dengan aquadest
Dimasukkan ke dalam labu takar
Diencerkan sampai tanda batas dengan aquadest
Larutan standar

b. Persiapan sampel uji


Sampel
Dimasukkan ke dalam gelas beaker 250 ml
Ditambahkan asam asetat glacial encer kedalamnya
Larutan uji
c. Pembuatan eluen untuk elusidasi sampel
Diambil propanol : ammonia (9:1)
Dimasukkan dalam chamber
Dijenuhkan 30 menit
Eluen
d. Pengujian Rhodamin B pada sampel
Plat KLT
Ditotolkan masing-masing larutan Rhodamin B, sampel uji
pada plat KLT
Dimasukkan plat KLT ke dalam chamber
Dielusikan sampai pelarut merambat sampai garis tanda
batas
Dikeringkan plat dan mengamati bercak noda yang
terbentuk
Hasil

F. HASIL PENGAMATAN
No. Perlakuan Hasil pengamatan
1. Menghaluskan terasi dengan mortir, Warna terasi : merah kecoklatan
kemudian menambahkan asam asetat Warna asam asetat glacial : bening
glacial encer. Warna campuran : merah kecoklatan

2. Sampel minuman Ale-ale Warna ale-ale : merah


ditambahkan asam asetat glacial Warna campuran : merah
encer.
3. Pembuatan eluen Propana : ammonia Warna propanol dan ammonia : bening
(9:1) kemudian dijenuhkan.

4. Penotolan sampel, standard dan


elusidasi.

5. Pengamatan dengan sinar UV dan Standar : berflouresensi kuning


pengukuran Rf. Ale-ale : tidak berflouresensi
Terasi : tidak berflouresensi
Jarak migrasi eluen : 8 cm
Jarak migrasi standar Rhodamin B : 5,9 cm
Jarak migrasi sampel Ale-ale : 5,6 cm
Jarak migrasi sampel Terasi : 5,5 cm

G. ANALISIS DATA
Menghitung nilai Rf
Standar
Jarak migrasi standar : 5,9 cm
Jarak migrasi eluen : 8 cm

Rf =
5,9
= 8

= 0,737

Sampel minuman Ale-ale


Jarak migrasi ale-ale : 5,6 cm
Jarak migrasi eluen : 8 cm

Rf =
5,6
= 8

= 0,7

Sampel terasi
Jarak migrasi terasi : 5,5 cm
Jarak migrasi eluen : 8 cm

Rf =
5,5
= 8

= 0,687

H. PEMBAHASAN
Praktikum kali ini membahas tentang identifikasi Rhodamin B dalam sampel
makanan dengan tujuan dapat mengidentifikasi adanya kandungan Rhodamin B dalam
sampel makanan dengan menggunakan metode kromatografi sederhana, yaitu
Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Rhodamin B merupakan pewarna sintesis berbentuk
serbuk kristal, berwarna hijau atau ungu kemerahan, tidak berbau dan dalam larutan akan
berwarna merah terang berpendar/berfluoresensi. Rhodamin B merupakan zat warna
golongan xanthenes dyes yang digunakan pada industri tekstil dan kertas, sebagai
pewarna kain, kosmetika, produk pembersih mulut dan sabun. Nama lain Rhodamin B
adalah D dan C Red no 19. Food Red 15, ADC Rhodamin B, Aizen Rhodamin dan
Brilliant Pink (Maryadele, 2006).
Pada praktikum ini dilakukan identifikasi Rhodamin B pada sampel Terasi dan
minuman Ale-ale dengan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Percobaan
pertama yaitu membuat larutan standar Rhodamin B sebagai pembanding sampel, tetapi
standar Rhodamin B sudah tersedia di Laboratorium sehingga tidak dibuat lagi.
Selanjutnya masing-masing sampel dilarutkan dengan asam asetat glacial encer dengan
tujuan untuk mendestruksi senyawa-senyawa yang ada di dalam sampel dan menstabilkan
Rhodamin B agar tidak berubah dari bentuk terionisasi menjadi bentuk netral. Kemudian
dilakukan penyiapan eluen sebagai pelarut atau fase gerak. Digunakan propanol dan
ammonia dengan perbandingan 9:1 . Penggunaan eluen ini disesuaikan dengan sifat polar
Rhodamin B karena memiliki gugus karboksil dengan pasangan electron bebas dan gugus
amina pada struktur molekulnya. Gugus karboksil dan amina ini akan membentuk ikatan
hydrogen intermolecular dengan pelarut polar sehingga mudah larut dalam pelarut polar
seperti alcohol. Sehingga digunakan campuran eluen polar agar dapat mengelusikan
Rhodamin B dengan baik. Berikut struktur dari Rhodamin B :
(Wisnu, 2008).
Setelah dibuat eluen, maka larutan eluen tersebut dijenuhkan terlebih dahulu.
Tujuan penjenuhan adalah untuk memastikan partikel fase gerak terdistribusi merata pada
seluruh bagian chamber sehingga proses pergerakan spot diatas fase diam oleh fase gerak
berlangsung optimal, dengan kata lain penjenuhan digunakan untuk mengoptimalkan
naiknya eluen. Kemudian dilakukan penotolan larutan baku dan sampel menggunakan
pipa kapiler. Tujuannya yaitu supaya diperoleh hasil penotolan yang kecil, karena dalam
kromatografi kertas penotolan yang baik diusahakan sekecil mungkin untuk menghindari
pelebaran spot dan jika sampel yang digunakan terlalu banyak akan menurunkan resolusi.
Lalu plat dimasukkan dengan hati-hati ke dalam chamber tertutup yang berisi fase gerak
dengan posisi fase gerak berada dibawah garis. Fase gerak perlahan-lahan bergerak naik,
setelah mencapai jarak tempuh, kertas diangkat dan dibiarkan kering diudara, untuk
menguapkan sisa pelarut.
Dari hasil pengamatan diperoleh sampel terasi terlihat adanya spot dengan jarak
5,5 cm sedangkan pada sampel minuman ale-ale spotnya 5,6 cm dan spot untuk standar
Rhodamin B yaitu 5,9 cm. Dengan jarak migrasi eluen 8 cm, sehingga diperoleh nilai Rf
untuk sampel terasi sebesar 0,687 , untuk sampel minuman ale-ale sebesar 0,7 dan untuk
standar Rhodamin B sebesar 0,737. Berdasarkan perolehan nilai Rf maka sampel
minuman ale-ale memiliki nilai Rf yang sama dengan nilai Rf standar Rhodamin B.
Namun setelah diamati dibawah sinar UV 254 nm terlihat yang berpendar/berflouresensi
hanya standar Rhodamin B sedangkan untuk kedua sampel tidak berfluoresensi. Sehingga
hal tersebut belum bisa membuktikan bahwa sampel yang diuji positif mengandung
Rhodamin B walaupun memiliki nilai Rf yang sama. Kemiripan nilai Rf mungkin
disebabkan karena adanya senyawa lain, bukan karena adanya zat Rhodamin B tersebut.
Suatu sampel dikatakan sama dengan standar harus memiliki nilai Rf yang sama dan jika
dilihat dibawah sinar UV 254 nm akan berfluoresensi dengan warna yang sama.
I. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa, untuk
mengidentifikasi adanya Rhodamin B dalam sampel makanan dapat dilakukan dengan
metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Sampel yang digunakan yaitu Terasi dan
minuman Ale-ale. Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh nilai Rf untuk sampel terasi
sebesar 0,687 , untuk sampel minuman ale-ale sebesar 0,7 dan untuk standar Rhodamin B
sebesar 0,737. Sampel minuman ale-ale memiliki nilai Rf yang sama dengan standar
Rhodamin B tetapi tidak berfluoresensi di bawah sinar UV 254 nm. Sehingga dari kedua
sampel tidak ada yang positif mengandung Rhodamin B.
DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahmansyah, dkk. 2017. Analisis Zat Pewarnan Rhodamin B Pada Saus Cabai Yang
Beredar di Kampus Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Jurnal Biota
Vol.3 No.1.
Kumalasari, Eka. 2015. Identifikasi dan Penetapan Kadar Rhodamin B dalam Kerupuk Berwarna
Merah yang Beredar di Pasar Antasari Kota Banjarmasin. Jurnal Ilmiah Manuntung, 1
(1), 85-89.
Wijaya, D. 2011. Waspadai Zat Aditif Dalam Makananmu. Yogyakarta : Buku Biru.
Wisnu, C. 2008. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Jakarta : Bina Aksara.