Anda di halaman 1dari 37

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penyakit Tuberkulosis atau yang sering disebut TB paru adalah penyakit

infeksi menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis

(Permenkes, 2014, 9). Kuman ini paling sering menyerang organ paru dengan

sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. Sampai saat ini TB masih

menjadi masalah kesehatan yang utama diberbagai Negara di dunia. World Health

Organitation (WHO) memperkirakan antara tahun 2002-2020 akan ada sekitar

satu miliar manusia terinfeksi TBC, jika dihitung pertambahan jumlah pasien

TBC, akan bertambah sekitar 2,8-5,6 juta setiap tahun dan 1,1-2,2 juta jiwa

meninggal setiap tahun (Anggreini DS. 2011, 4,5). World Health Organitation

(WHO) menyatakan bahwa 1/3 penduduk dunia telah terinfeksi kuman

tuberculosis (Suharyo, 2013, 86). Lagi laporan World Health Organitation

(WHO) 9,6 juta orang sakit karena TB paru, 1,5 juta orang meninggal karena TB

paru (Kemitraan TB, 2016, 4).

Tuberkulosis dapat menyerang siapa saja, dari semua golongan, segala usia,

jenis kelamin dan semua status sosial-ekonomi. Sekitar 75% pasien TB adalah

kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun).

Diperkirakan seorang pasien TB dewasa akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya

3-4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah

tangganya sekitar 20-30%. Jika ia meninggal akibat TB, maka akan kehilangan

pendapatannya sekitar 15 tahun, selain merugikan secara ekonomis, TB juga

memberikan dampak buruk lainnya secara sosial, seperti stigma bahkan


dikucilkan oleh masyarakat (Dirjen PP&PL, 2014, 1). Situasi TB di dunia

semakin memburuk jumlah kasus TB semakin tidak terkendali dengan banyaknya

pasien TB yang tidak berhasil disembuhkan. Tidak,berlebihan jika dikatakan

bahwa bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan tuberculosis

(disingkat TBC atau TB) dikatakan sebagai bakteri pembunuh massal (Anggreini

DS 2011, 1). Oleh karena itu, perlu kita sadari kembali bahwa TBC adalah

penyakit yang sangat perlu mendapat perhatian untuk di tanggulangi, karena

bakteri Mycobacterium tuberculosis sangat mudah menular melalui udara pada

saat penderita TBC batuk atau bersin, bahkan pada saat meludah dan berbicara.

Satu penderita bisa menyebarkan bakteri TBC kepada 10-15 orang dalam satu

tahun (Anggreini DS, 2011, 3). Sejak tahun 1995 program Pemberantasan

Tuberkulosis paru telah dilaksanakan dengan strategi DOTS (Directly Observed

Treatment, Shortcourse Chemotherapy) yang direkomendasikan oleh WHO.

Penanggulangan dengan strategi DOTS dapat memberikan angka kesembuhan

yang tinggi, Bank dunia mengatakan strategi DOTS merupakan strategi kesehatan

yang paling cost-effective (Dirjen PP dan PL,2014, 4).

Penanggulangan penyakit Tuberkulosis dengan strategi DOTS adalah

dengan penemuan kasus sedini mungkin. Hal ini dimaksudkan untuk

mengefektifkan pengobatan penderita dan menghindari penularan dari orang.

Gejala umum TB pada orang dewasa adalah batuk yang terus menerus dan

berdahak selama dua minggu atau lebih bila tidak diobati maka setelah lima tahun

sebagian besar (50%) pasien akan meninggal (Dirjen PP dan PL,2012, 1)

Di Indonesia salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi adalah masih

banyaknya kasus TB yang hilang atau tidak terlaporkan ke program. Pada tahun

2
2012 diperkirakan ada sekitar 130.000 kasus TB yang ada tetapi belum

terlaporkan (Dirjen PP dan PL, 2014, 7).

Diperkirakan setiap tahun terjadi kasus baru TBC, dengan sekitar 1/3 penderita di

temukan di puskesmas, 1/3 ditemukan di pelayanan rumah sakit atau klinik

pemerintah dan swasta dan sisanya belum terjangkau unit pelayanan kesehatan

(Anggreini DS, 2011, 2).

Menurut laporan WHO tahun 2013, Indonesia menempati urutan ke tiga

jumlah kasus tuberculosis setelah India dan Cina dengan jumlah sebesar 700 ribu

kasus (Suharyo, 2013, 86). Berdasarkan hasil survey Tuberkulosis Global (2013),

yang dirirlis oleh World Health Organitation (WHO) pada tahun 2015, jumlah

penemuan kasus baru TB di Indonesia mencapai 1 juta per tahun. Ini meningkat

dari kondisi pada tahun 2014, dengan penemuan 460.000 kasus baru. Kondisi ini

menempatkan Indonesia pada Negara terbesar kedua setelah India (Kemitraan

TB, 2016, 1).

Sumatera Utara berada di bagian barat wilayah Indonesia, secara

administratif Provinsi Suematera Utara memiliki 33 kabupaten/kota. Pada tahun

2010 Provinsi Sumatera utara menempati urutan ketujuh nasional untuk jumlah

penderita TB Paru setelah provinsi Gorontalo, Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi

Tenggara, Bangka Belitung dan Daerah Khusus Jakarta (Suara Sumut ,media

2011, Feb). Dari Dinkes Provinsi Sumatera Utara tahun 2014 memperhitungkan

sasaran penemuan kasus baru TB paru BTA positif sebesar 22.026 jiwa, cakupan

penemuan kasus baru TB paru BTA positif yaitu 16.818 kasus atau 76,35%. Pada

tahun 2014 sumatera utara baru mencapai 122/100.000 penduduk. (Prov sumut,

DinKes, 2014, 27).

3
Salah satu indikator yang diperlukan dalam pengendalianTB paru adalah

Case Detection Rate (CDR), yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA positif yang

ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan

ada dalam wilayah tersebut, kasus TB yang telah ditemukan akan mendapatkan

pengobatan selam enam bulan, hasil pengobatan tetap perlu diperhatikan yaitu

berapa pasien dengan pengobatan lengkap, meninggal, gagal, putus berobat (lost

to follow up).

Kabupaten Tapanuli Tengah merupakan daerah tingkat dua yang berada di

Provinsi Sumatera Utara, dilihat dari posisi geografis dari Kabupaten Tapanuli

Tengah sangat potensial menjadi tempat berkembangnya penyakit menular

termasuk juga penyakit TB Paru. Hal ini dikarenakan Kabupaten ini berada di

jalur Lintas Sumatera yang sangat tinggi mobilitas penduduknya, sehingga masuk

dan keluarnya penyakit tidak terdeteksi dengan baik. Jumlah penduduk

Kabupaten Tapanuli Tengah tahun 2015 adalah sekitar 350.017 orang

(www.BPS, 2016).

Angka Case Detection Rate (CDR) atau penemuan kasus BTA + di

Kabupaten Tapanuli Tengah tahun 2015 adalah sebanyak 949 orang dan pada

tahun 2016 sebanyak 540 orang (Dinkes Tapanuli Tengah, 2016, lamp, 7 ).

Dalam dua tahun terakhir angka kejadian TB paru selalu ada, hal ini

membuktikan bahwa kasus TB Paru di Kabupaten Tapanuli Tengah harus

diwaspadai. Kecamatan Tapian Nauli sebagai wilayah kerja Puskesmas Poriaha

merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah. Kecamatan

Tapian Nauli memiliki delapan desa dan satu kelurahan.

4
Menurut data Puskesmas Poriaha, penyakit TB paru menduduki urutan ke

delapan dari 10 penyakit terbesar pada tahun 2016 (Profil, Puskesmas, 2016, 44).

Meskipun menduduki urutan ke delapan bila dibandingkan dengan penyakit-

penyakit yang ada penyakit TB Paru ini merupakan penyakit menular yang dapat

menyebar dengan cepat, menyebabkan kegawat daruratan bahkan kematian.

Menurut keterangan dari petugas pengelola TB paru Puskesmas Poriaha

pada tahun 2015 jumlah pasien penyakit TB paru BTA + sebanyak 21 pasien , 21

pasien dinyatakan tahap pengobatan dan tidak ada konfirmasi atau evaluasi

sehingga tingkat kesembuhannya tidak dapat diketahui karena para pasien ini

tidak melakukan pemeriksaan sputum pada tahap akhir , sedangkan suspek TB

paru yang ada pada tahun tersebut mencapai 39 orang.

Pada tahun 2016 kasus kejadian penyakit TB paru juga tetap ada sebanyak

37 pasien TB paru BTA+ diobati, keseluruhan pasien ini tidak diketahui

kesembuhannya karena tidak satupun pasien ini memeriksakan sputum pada tahap

akhir pengobatan, sehingga tidak diketahui tingkat kesembuhan si pasien tersebut.

Sedangkan untuk suspek TB paru tahun 2016 mencapai 144 orang.

Hal ini perlu mendapat perhatian karena ada kemungkinan pasien ini

menjadi carier, kambuh dan bisa menularkan ke orang lainnya. Untuk itu penulis

tertarik melakukan penelitian yaitu tentang faktor-faktor yang mempengaruhi

kesembuhan pasien TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Poriaha.terhadap

tatatttpasien TB Paru y

5
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis ingin mengetahui faktor-faktor

yang mempengaruhi kesembuhan pasien TB paru di wilayah kerja Puskesmas

Poriaha Tahun 2017

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesembuhan pasien

TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Poriaha Tahun 2017.

1.3.2 Tujuan Khusus

yakni :

1. Untuk mengetahui faktor pengetahuan dari pasien TB paru terhadap

kesembuhan.

2. Untuk mengetahui faktor penghasilan keluarga pasien TB paru terhadap

kesembuhan.

3. Mengetahui faktor persepsi dari pasien TB paru terhadap kesembuhan.

4. Untuk mengetahui faktor yang paling berhubungan terhadap kesembuhan

pasien TB paru

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Teoritis

1. Penelitian ini dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan peneliti

dalam bidang program penanggulangan TB paru


2. Bagi Pendidikan STIKes Nauli Husada sebagai bahan bacaan mengenai

penyakit TB Paru untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tentang

penyakit TB paru, dan juga sebagai referensi bagi peneliti berikutnya.

6
3. Bagi Puskesmas untuk sebagai informasi distribusi pasien TB paru di

wilayah kerja Puskesmas Poriaha.


1.4.2. Praktik
1. Bagi peneliti sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan

pendidikan S1 Kesehatan Masyarakat


2. Bagi Puskesmas sebagai bahan masukan untuk program-program

penanggulangan penyakit TB paru di wilayah kerja Puskesmas Poriaha.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tuberkulosis Paru

2.1.1. Pengertian Tuberkulosis

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan

oleh kuman mycobacterium tuberculosis(Permenkes No 5, 2014, 9).

Penularan penyakit tuberkulosis paru adalah melalui udara yang tercemar

oleh bakteri mycobacterium tuberculosis yang ditularkan oleh penderita

TBC saat batuk, bersin, bahkan berbicara ke orang lain melalui nuclei

7
droplet, sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga

mengenai organ tubuh lainnya ( Anggreini DS,2011. 20).

2.1.2. Kuman Tuberkulosis

Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan

terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai

Bakteri Tahan Asam (BTA). Kuman TBC cepat mati dengan sinar matahari

langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap

dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant tertidur lama

selama beberapa tahun.

2.1.3. Cara Penularan

Penyakit TB Paru dapat menyebar dari kuman yang berterbangan

di udara dan ada juga yang jatuh pada lantai sehingga dapat terhirup, baik

kuman atau basil TB Paru akan bersarang dan berkembang biak. Pada

waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam

bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat

bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat

terinfeksi kalau droplet terhirup ke dalam saluran pernafasan. Setelah

kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, kuman

tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya melalui system

peredaran darah, system saluran limfe, saluran nafas atau penyebaran

langsung kebagian-bagian tubuh lainnya. Salah satu faktor yang

mempengaruhi seseorang menjadi penderita TB Paru adalah daya tahan

tubuh yang rendah, diantaranya karena gizi buruk atau HIV/AIDS

(Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, 2011, 1). Tetapi

8
tidak semua orang yang dimasuki basil TB Paru pasti sakit TB paru karena

daya tahan tubuh yang baik memungkinkan terhindar dari sakit TB paru.

Daya tahan tubuh yang kuat dapat terbentuk jika gizi makanan, gerak

badan dan istrahat yang cukup. Atau sejak bayi semua anak harus diberi

imunisasi BCG yang berfungsi untuk mencegah tertular TB Paru.

2.1.4. Gejala dan tanda TB Paru

Departemen kesehatan menyebutkan gejala dan tanda penyakit TB

Paru BTA positif adalah :

a. Gejala umum

Nyeri dada, batuk lebih dari tiga minggu.

b. Gejala lain

Batuk bercampur darah, keringat malam, demam lebih dari sebulan, sesak

nafas, nafsu makan kurang dan berat badan menurun.

2.1.5. Diagnosis

Seseorang ditetapkan sebagai penderita TB Paru apabila

melakukan serangkaian pemeriksaan sebagai berikut :

a. Pemeriksaan mikroskopis dahak merupakan cara yang paling dapat

diandalkan dan diupayakan memiliki tiga buah spesimen untuk

pemeriksaan . Pemeriksaan dilakukan dengan cara sewaktu, pagi, sewaktu

(SPS).

o S (sewaktu) : Dahak dikumpulkan pada saat suspect TB

9
datang berkunjung pertama kali. Pada saat pulang suspect membawa

sebuah pot dahak untuk menampung dahak pagi pada hari kedua.

o P (pagi) : Dahak dikumpulkan di rumah pada hari kedua, segera

setelah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada

petugas.

o S (Sewaktu) : Dahak dikumpulkan di unit pelayanan kesehata pada

hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi.

b. Foto Rontgen, pemeriksaan rontgen diperlukan bila pasien yang memiliki

masalah-masalah, seperti hanya satu dari tiga specimen yang positif, dan

lain-lain.

c. Tes Tuberculin, tes ini kurang dapat diandalkan dalam menegakkan

diagnosis di negara miskin karena gizi buruk, dan penyakit lain seperti

infeksi HIV atau TB Paru yang sangat parah, karena dapat menghasilkan

tes yang lemah meskipun pasien dewasa atau anak berpenyakit TB Paru

aktif. Tes pada anak dapat berubah karena BCG.

2.1.6. Klasifikasi penyakit

Pada penyakit TB Paru dapat diklasifikasikan menjadi TB Paru dan TB

ekstra paru. TB Ekstra Paru merupakan bentuk penyakit TB yang

menyerang organ tubuh lain selain paru-paru seperti pleura, kelenjar limfe

persendian tulang belakang, saluran kencing, susunan saraf pusat.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak TBC paru dibagi dalam :

1. Tuberkulosis paru BTA positif.

10
1. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA

positif.

b. 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto rontgen dada

menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.

2. Tuberkulosis paru BTA negatif.

a. Pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan foto

rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif. TBC paru

BTA negatif rontgen positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan

penyakitnya, yaitu bentuk berat ringan. Bentuk berat bila gambaran

foto rontgen dada memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang

luas dan atau keadaan umum penderita buruk.

b. Tuberkulosis Ekstra Paru

1. TBC ekstra paru ringan

2. TBC ekstra paru berat.

Untuk tipe pasien berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya ada beberapa

tipe yaitu :

1) Kasus Baru

Adalah pasien belum pernah berobat atau pernah menelan Obat

Anti Tuberkulosis (OAT) kurang empat minggu (kurang dari satu

bulan)

2) Kasus Kambuh (Relaps)

Adalah pasien penderita tuberkulosis yang sebelumnya pernah

mendapatkan pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan

11
sembuh, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan

dahak BTA positif.

3) Kasus setelah putus berobat (Default)

Adalah pasien yang telah berobat paling kurang satu bulan dan

putus berobat paling kurang dua bulan atau lebih, kemudian datang

kembali berobat, umumnya penderita tersebut kembali dengan

hasil pemeriksaan dahak BTA positif.

4) Kasus setelah gagal (Failure)

Adalah Pasien BTA positif yang masih tetap positif pada akhir

bulan kelima ( satu bulan sebelum akhir pengobatan) atau lebih

selama pengobatan.

5) Kasus Pindahan (Transfer In)

Adalah pasien yang sedang mendapat pengobatan di suatu

kabupaten lain dan kemudian pindah berobat ke kabupaten lain.

Pasien pindahan tersebut dengan membawa surat rujukan.

6) Kasus lain

Adalah termasuk kasus kronik yaitu pasien dengan hasil

pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulang

kategori dua.

2.1.7. Riwayat Terjadinya Tuberkulosis

a. Infeksi Primer

12
Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali

dengan kuman TB Paru. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan

terjadinya perubahan reaksi tuberculin dari negatif menjadi positif.

Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung dari banyaknya

kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh.

b. Tuberkulosis Pasca Primer

Tuberculosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan

atau tahun infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh

menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi. Ciri khas dari

tuberculosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan

terjadinya kavitas (rongga) atau efusi pleura (lewatnya gas pada

selaput paru).

2.1.8. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Penyakit

TB paru merupakan salah satu penyakit menular yang saat ini

masih diadapi oleh pemerintah dalam programnya. Pengetahuan tentang

keempat faktor penting pada berbagai penyakit seperti portal of exit,

survival,transmisi, portal of entry, dalam terjadinya wabah dapat

digunakan untuk pencegahan.

a. Portal of Exit (Jalan keluar kuman)

Apabila penyakit menyerang saluran pernafasan seperti halnya

pertusis, influenza, Pneumonia, dan Tuberkulosis, maka portal of

exitnya juga saluran pernafasan. Daya penularan dari seorang

penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari

parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak,

13
makin menularkan. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif maka

penderita tersebut dianggap tidak menular.

b. Daya Tahan Hidup (Survival/Variability) agent

Kuman TBCcepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi

dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan

lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant tertidur

lama selama beberapa tahun.

c. Media Transmisi

Media transmisi adalah media yang membawa atau menyebarkan

agent penyakit. Pada waktu batuk atau bersin, penderita

menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan

dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara

pada suhu kamar selama beberapa jam.

d. Portal of Entry

Portal of entry adalah tempat atau pintu masuk agent ke dalam

host, yang dapat terjadi secara oral, inhalasi, dermal, intra venus,

intra muskuler, intra kutan, lewat luka, mata dan lain-lain. Orang

dapat terinfeksi kalau droplet terhirup ke dalam saluran

pernafasan . Kemungkinan seseorang terinfeksi TBC ditentukan

oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup

udara tersebut.

1.1.9. Pengobatan Tuberkulosis

Tujuan pengobatan tuberkulosis paru adalah :

a. Menyembuhkan penderita

14
b. Mencegah kematian

c. Mencegah kekambuhan

d. Menurunkan tingkat penularan

Sedangkan jenis dan dosis OAT adalah:

1. Isoniasid (H)

Dikenal dengan INH, bersifat bekterisid, dapat membunuh 90%

populasi kuman dalam beberapa hari pertama pengobatan.

2. Rifampisin (R)

Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman semi-dormant

(persister) yang tidak dapat dibunuh oleh Isoniasid.

3. Pirasinamid (Z)

Bersifat bakterisid dapat membunuh kuman yang berada dalam sel

dengan suasana asam.

4. Streptomisin (S)

Bersifat bakterisid, dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kg BB.

5. Etambutol (E)

Bersifat sebagai bakteriostatik,

Obat TBC diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis

dalam jumlah cukup dan dosis tepat selama 6-8 bulan, supaya

semua kuman termasuk kuman persister dapat dibunuh. Dosis

tahap intensif dan dosis tahap lanjutan ditelan sebagai dosis tunggal

sebaiknya pada saat perut kosong. Apabila paduan obat yang

digunakan tidak adekuat (jenis, dosis, dan jangka waktu

pengobatan) Kuman TBC akan berkembang menjadi kuman kebal

15
obat (resistan). Untuk menjamin kepatuhan penderita menelan obat,

pengobatan perlu dilakukan dengan pengawasan langsung (DOT =

Directly Observed Treatment) ole seorang Pengawas Minum Obat

(PMO). Pengobatan TBC diberikan dalam dua tahap yaitu tahap

intensif dan tahap lanjutan.

1. Tahap Intensif/Awal

Pada tahap intensif (awal) penderita mendapat obat setiap hari dan

diawasi langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap

semua OAT, terutama rifampisin. Bila pengobatan tahap intensif

tersebut diberikan secara tepat biasanya penderita menular menjadi

tidak menular dalam kurun waktu dua minggu. Sebagian besar

penderita TBC BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) pada

akhir pngobatan intensif.

2. Tahap Lanjutan

Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit,

namun dalam jangka waktu lebih lama.

2.2.0. Panduan OAT di Indonesia

WHO dan IUATLD (International Union Againts Tuberculosis and

Lung Disease) merekomendasikan panduan OAT standar yaitu :

a. Kategori 1

Obat diberikan setiap hari selama dua bulan yang terdiri dari H, R, Z,

E (2HRZE) pada tahap intensif yang kemudian diberikan tiga kali

16
dalam seminggu selama empat bulan yang terdiri dari H dan R

(4H3R3) pada tahap lanjutan. 2HRZE/4H3R3 untuk :

- Penderita baru TBC paru

BTA positif

- Penderita TBC paru BTA negatif rontgen positif yang lagi sakit

berat.

3. Penderita TBC ekstra paru berat

b. Kategori 2

2HRZES/HRZE/5H3R3E3

Tahap intensif selama 3 bulan yang terdiri dari dua bulan dengan

HRZES (2HRZES) dan satu bulan HRZE (HRZE) kemudia

dilanjutkan dengan tahap lanjutan lima bulan dengan HRE yang

diberikan tiga kali dalam seminggu (5H3R3E3). Obat ini diberikan

untuk :

- Penderita kambuh

(Relaps)

- Penderita gagal (Failure)

- Penderita dengan pengobatan setelah lalai (after default).

c. Kategori 3

2HRZ/4H3R3Tahap intensif terdiri dari HRZ diberikan setiap hari

selama dua bulan (2HRZ) diteruskan dengan tahap lanjutan terdiri dari

17
HR selama empat bulan diberikan tiga kali seminggu (4H3R3). Obat

ini diberikan untuk :

1. Penderita baru BTA negatif dan rontgen positif sakit ringan.

2. Penderita ekstra paru ringan yaitu, TBC kelenjar linfe

(limfedenitis), pleuritis eksudativa unilateral, TBC kulit, TBC tulang

(kecuali tulang belakang), sendi dan kelenjar adrenal.

d. OAT Sisipan (HRZE)

Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA positif

dengan kategori satu atau pendeerita BTA positif pengobatan ulang

dengan kategori dua, hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif,

diberikan obat sisipan (HR2E) setiap hari selama sebulan (Pedoman

Nasional Pengendalian Tuberkulosis. 2011, 25).

2.2.1 Kesembuhan

Kesembuhan adalah perihal menjadi sehat atau pulih kembali dari

penyakit yang diderita.

2.2.2 Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi

melalui panca indra manusia, yakni indra pengelihatan, pendengaran,

penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh

melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau ranah kognitif merupakan

dominan yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over

behavior). Pengetahuan responden dianggap baik jika responden mendapat

nilai 80 keatas, pengetahuan responden dianggap sedang jika responden

18
mendapat nilai 6080, dan pengetahuan responden dianggap kurang jika

mendapat nilai 60 kebawah.


Menurut Umar Acmadi (2014) Pengetahuan yang tercakup dalam

dominan kognitif mempunyai enam tingkatan, yaitu :


a. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah

mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dan seluruh bahan

yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu,

tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata

kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari

antara lain dapat menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan,

menyatakan, dan sebagainya.

b. Memahami (comprenhension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan

secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang paham

terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan

contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek

yang dipelajari. Misalnya dapat menjelaskan mengapa harus buang air

besar di jamban.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi

yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).

Aplikasi disini dapat diartikkan sebagai aplikasi atau penggunaan

hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks

atau situasi yang lain. Misalnya dapat digunakan rumus statistik dalam

19
perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip-

prinsip siklus pemecahan masalah (problem solving cycle) di dalaam

pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.


d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemaampuan untuk menjabarkan materi atau

suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam

satu sttruktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

Kemampuan analisasi ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja,

seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan,

memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.


e. Sintesis (synthesis)
Sintesis menujuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan

yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk

menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

Misalnya, dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan,

dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau

rumusan-rumusan yang telah ada.


f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu meteri atau objek. Penilaian-

penilaian itu didasarkan pada suatu criteria yang ditentukan sendiri,

atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Misalnya, dapat

membandingkan antara keluarga yang berperilaku hidup bersih dan

sehat dengan keluarga yang tidak berperilaku hidup bersih dan sehat.
2.2.3. Penghasilan
Penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang

diteriama atau diperoleh dalam jenjang waktu tertentu yang dapat digunakan

20
untuk kebutuhan sehari-hari atau konsumsi dan dapat menambah kekayaan,

baik yang diperoleh dari Indonesia maupun dari luar Indonesia dalam bentuk

apapun.
Bila ditinjau dari faktor sosial ekonomi, maka penghasilan merupakan

salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat wawasan masyarakat mengenai

pencegahan dan kesembuhan pasien TB paru. Kemampuan anggaran rumah

tangga juga mempengaruhi kecepatan untuk meminta pertolongan apabila

anggota keluarga sakit.


Bahwa tingkat penghasilan berkaitan dengan kemiskinan yang akan

berpengaruh pada status kesehatan masyarakat. Faktor-faktor lain yang

mempengaruhi antara lain: jenis pekerjaan, pendidikan formal kepala

keluarga, jumlah anggota keluarga dan lain-lain.


Berdasarkan surat keputusan Bupati Tapanuli Tengah bahwasanya

UMK untuk Kabupaten Tapanuli Tengah per Januari 2017 adalah sebesar

Rp.2.057.000 Macam-macam penghasilan adalah sebagai berikut :


1. Penghasilan dari pekerjaan
Penghasilan ini didapatkan dari hubungan kerja dengan pekerjaan baik

dalam bentuk gaji, upah, honorarium, dan lain sebagainya.


2. Penghasilan dari modal
Yang berupa harta bergerak dan harta tak bergerak seperti deviden,

bunga, royalti sewa keuntungan penjualan harta dan hak yang tidak

digunakan sebagai usaha dan lain sebagainya.


3. Penghasilan dari usaha dan kegiatan lainnya berdasarkan surat

keputusan.
2.2.4. Persepsi
Berikut ini adalah beberapa defenisi tentang persepsi dari pendapat ahli antara

lain :
1. Persepsi dapat didefenisikan sebagai cara organisme memberi makna.

(Wenburg R. John & Wilmot. W. William).

21
2. Persepsi adalah proses menafsirkan informasi indrawi ( Ferderber. F.

Rudolph).
3. Persepsi adalah interpretasi bermakna atas sensasi sebagai representative

objek eksternal.
4. Pengetahuan yang tampak mengenai apa yang ada di luar sana (J. Cohen).
Persepsi mencakup penginderaan (sensasi) melalui alat/ panca

indra (mata, telinga, hidung, kulit, dan lidah, atensi dan interpretasi.
Ada dua jenis persepsi yaitu :
1. Persepsi lingkungan fisik
Yaitu : melalui lambang-lambang fisik.
2. Persepsi sosial atau persepsi terhadap manusia.
Yaitu : menanggapi sifat-sifat luar dan dalam (seperti perasaan, motif,

harapan, keyakinan dan sebagainya).


Berdasarkan Prinsip-prinsip, persepsi sosial dibagi menjadi 4

(empat) yakni :
1. Persepsi berdasarkan pengalaman
2. Persepsi berdasarkan selektif
3. Persepsi bersifat dugaan
4. Persepsi bersifat evaluatif

1.2. Kerangka konsep


2.3.1. Gambar Kerangka Konsep penelitian

Variabel independent Variabel dependent

22
Kesembuhan Pasien TB
Paru

Faktor- Faktor Yang


Mempengaruhi Kesembuhan
Pasien TB Paru di Wilayah Kerja
Puskesmas Poriaha

1. Pengetahuan
Keterangan
2. Penghasilan Variabel yang diteliti

3. Persepsi
Dari kerangka di atas menunjukan bahwa

kesembuhan pasien TB paru dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :

pengetahuan, penghasilan, persepsi.

2.4. Hipotesis Penelitian

1. Karakteristik faktor Pengetahuan

Hipotesis penelitian : Ada hubungan antara pengetahuan

pasien terhadap kesembuhan.

Hipotesa nol (Ho) : Tidak ada hubungan antara pengetahuan pasien

terhadap kesembuhan.

Hipotesa alternative (Ha) : Ada hubungan antara pengetahuan

pasien terhadap kesembuhan.

2. Karakteristik faktor Penghasilan

Hipotesa penelitian : Ada hubungan antara penghasilan pasien

terhadap kesembuhan.

23
Hipotesa nol (Ho) : Tidak ada hubungan antara penghasilan pasien

terhadap kesembuhan.

Hipotesa alternatif (Ha) : Ada hubungan antara penghasilan pasien

terhadap kesembuhan.

3. Karakteristik faktor persepsi

Hipotesa penelitian : Ada hubungan antara faktor persepsi

terhadap kesembuhan.

Hipotesa nol (Ho) : Tidak ada hubungan antara faktor persepsi

terhadap kesembuhan.

Hipotesa alternatif (Ha) : Ada hubungan antara faktor persepsi

terhadap kesembuhan.

25

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

24
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik yaitu

menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi kesembuhan pasien TB paru

di wilayah kerja Puskesmas Poriaha Tahun 2017.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Wilayah kerja Puskesmas Poriaha Kecamatan

Tapian Nauli Kabupaten Tapanuli Tengah pada bulan April hingga Juni 2017,

dengan alasan :

1. Banyak kasus tb paru di Puskesmas Poriaha, yaitu 37 kasus

2. Tersediamya sampel yang mencukupi

3. Belum pernah dilakukan penelitian terkait

4. Dekat dengan domisili penulis

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah penderita TB Paru yaitu sebanyak 37

orang sebagai pasien Puskesmas Poriaha dari tahun 2016 sampai Mei 2017.

3.3.2. Sampel

Untuk pemilihan sampel pada penelitian ini mengacu kepada Non

Probability Sampling jenis Consecutive Sampling yaitu semua subyek dimasukkan

dalam penelitian sampai jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi. Maka dengan

itu seluruh populasi dijadikan menjadi sampel sebanyak 37 orang.

3.4 Metode Pengumpulan Data


3.4.1 Data Primer
Data primer diambil dengan cara wawancara langsung kepada responden

dengan menggunakan kuesioner dan melakukan langsung kerumah-rumah.


3.4.2 Data Skunder

25
Data diambil dari laporan yang ada di instansi yang terkait, yaitu data dari

Puskesmas Poriaha tentang jumlah penderita tb paru.


3.4.3 Instrumen Penelitian
Adapun instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

kuesioner yang akan dibagikan langsung kepada pasien TB paru yang ada di

wilayah kerja Puskesmas Poriaha.


3.5 Definisi Operasional Variabel
a. Pengetahuan
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui responden tentang

penyakit tb paru mencakup pengertian, penyebab, tanda dan gejala,

penularan, diagnosis, pengobatan, faktor-faktor yang mempengaruhi,

klasifikasi penyakit dan riwayat terjadinya tb paru.


b. Penghasilan
Penghasilan adalah besarnya pendapatan keluarga (suami dan istri) dalam

satuan rupiah per bulan.


c. Persepsi
Persepsi adalah penilaian responden terhadap penyakit tb paru yang

dideritanya apakah sudah sembuh atau tidak


d. Kesembuhan
Kesembuhan pasien .
adalah perihal menjadi sehat atau pulih kembali dari penyakit tb paru

yang diderita.
2.3. Aspek pengukuran

No Variabel Alat ukur Hasil skala

1 pengetahuan Quisioner Baik: skor 8 sampai ordinal


sebanyak 15 dengan 15. Kurang
pertanyaan baik: Skor 0 sampai
dengan 7

2 penghasilan quisioner Menengah: Ordinal


penghasilan keluarga
> 2.057.000
Rendah: penghasilan
keluarga < 2.057.000

3 Persepsi quisioner Baik:skor 4 sampai Ordinal

26
dengan 6.
Kurang baik skor 0
sampai dengan 3

4 Kesembuhan Pemeriksaan Sembuh: BTA negatif. Ordinal


laboratorium Tidak sembuh BTA
Positif.

2.4. Teknik Analisa Data


Sebelum data dianalisis maka dilakukan pengolahan data dengan

langkah- langkah sebagai berikut


1. Editing data (Penyuntingan Data)
Hasil wawancara atau angket yang diperoleh atau dikumpulkan melalui

kuesioner perlu disunting (edit) terlebih dahulu. Kalau ternyata masih ada

data atau infomasi yang tidak lengkap, dan tidak mungkin dilakukan

wawancara ulang, maka kusioner tersebut dikeluarkan (droup out).


2. Coding
Coding adalah mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari responden ke

dalam kategori yang telah ditetapkan. Biasanya klasifikasi dilakukan

dengan cara memberikan tanda/kode berbentuk angka pada masing-masing

jawaban.
3. Entry data (Memasukkan Data)
Yakni mengisi kolom-kolom atau kotak-kotak lembar kode atau kartu kode

sesuai dengan jawaban masing-masing pertanyaan.


4. Tabulating
Yakni membuat table-tabel data, sesuai dengan tujuan penelitian atau yang

diinginkan oleh peneliti.


Analisa data merupakan langkah selanjutnya dari data mentah untuk

memperoleh makna yang bermanfaat bagi pemecahan masalah peneelitian. Dalam

tahap ini data diolah dan dianalisis dengan teknik-teknik tertentu. Dalam

pengolahan ini mencakup tabulasi data dan perhitungan-perhitungan statistic, bila

diperlukan uji statistik. Analisa data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut :
1. Analisis Univariat

27
Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan

karakteristik setiap variable penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini

hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap-tiap

variable. Analisis univariat dalam penelitian ini dilakukan untuk

mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan, penghasilan, motivasi,

kesembuhan pasien TB di wilayah kerja Puskesmas Poriaha tahun 2017.


2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dua

variable, yaitu variable independen terhadap variable dependen. Kegunaan

analisis bivariat untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan

antara dua variable (Notoatmojo,2011).Analisis bivariat dilakukan

terhadap variable independen terhadap variabel dependen. Analisis

bivariat yang dilakukan dalam penelitian ini adalah uji Chi Square (X)

yaitu uji dua kata kategori. Untuk mengetahui hasil kemaknaaan

perhitungan statistic,dalam penelitian digunakan batas kemaknaan 5%.

Dengan demikian nilai p < 0,005, maka hasil perhitungan statistik

bermakna (Notoatmojo,2012). Dalam hal ini analisis bivarat untuk

membuktikaan apakah ada hubungan pengetahuan, penghasilan , motivasi

dengan kesembuhan pasien TB di wilayah kerja Puskesmas Poriaha.


Kriteria penarikan kesimpulan:
a. H diterima atau H ditolak : jika nilai X hitung (Pearson Chi Square)

lebih besar dari dari nilai X tabel pada taraf signifikansi 0,05. Artinya

ada hubungan antara variebel independen terhadap variabel dependen.


b. H ditolak atau H diterima : jika nilai X hitung (Pearson Chi Square)

lebih kecil dari nilai X tabel pada taraf signifikansi 0,05. Artinya tidak

ada hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen.


3. Analisa Multivariat

Analisis multivariat adalah untuk melihat pengaruh beberapa variabel

bebas secara bersama-sama terhadap variabel kesembuhan pasien sehingga

28
diketahui variabel bebas yang paling dominan pengaruhnya terhadap

keesembuhan pasien dengan menggunakan regresi linier berganda.

29
PROPOSAL PENELITIAN

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMEPENGARUHI KESEMBUHAN


PASIEN TB PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PORIAHA,
KABUPATEN TAPANULI TENGAH
TAHUN 2017

Oleh :

Armadun Nahampun
NIM. 2015.13.004

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NAULI HUSADA


PRODI S1 KESEHATAN KESEHATAN MASYARAKAT
SIBOLGA 2017

HALAMAN PERSETUJUAN

30
Proposal Penelitian Dengan Judul :

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEMBUHAN PASIEN


TB PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PORIAHA, KABUPATEN
TAPANULI TENGAH TAHUN 2017

Yang dipersiapkan dan diseminarkan oleh :

Armadun Nahampun
NIM. 2015.13.004

Proposal Penelitian ini telah diperiksa dan disetujui untuk diseminarkan


dihadapan peserta seminar Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Masyarakat

Oleh :

Dosen Pembimbing Skripsi

Dra. Meiyati Simatupang, SST, M.Kes

DAFTAR ISI
31
LEMBAR PERSETUJUAN........................................................................ i
DAFTAR ISI................................................................................................ ii
BAB I. PENDAHULUAN......................................................................... 1
1.1 Latar Belakang........................................................................ 1
1.2 Perumusan masalah................................................................ 6
1.3 Tujuan Penelitian.................................................................... 6
1.4 Manfaat Penelitian.................................................................. 6

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.............................................................. 8


2.1 Tuberkulosis Paru.................................................................... 8
2.1.1 Pengertian Tuberkulosis................................................. 8
2.1.2 Kuman Tuberkulosis...................................................... 8
2.1.3 Cara Penularan............................................................... 8
2.1.4 Gejala dan tanda TB paru.............................................. 9
2.1.5 Diagnosis....................................................................... 10
2.1.6 Klasifiasi penyakit. 11
2.1.7 Riwayat terjadinya tuberculosis. 13
2.1.8 Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit. 13
2.1.9 Pengobatan tuberculosis................................................ 15
2.2.0 Panduan OAT di Indonesia............................................ 17
2.2.1 Kesembuhan.................................................................. 18
2.2.2 Pengetahuan................................................................... 18
2.2.3 Penghasilan.................................................................... 21
2.2 Kerangka Konsep.................................................................... 23
2.3. Hipotesis Penelitian................................................................. 23

BAB III. METODE PENELITIAN......................................................... 25


3.1 Jenis Penelitian........................................................................ 25
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian.................................................... 25
3.3 Populasi dan Sampel................................................................ 25
3.3.1 Populasi........................................................................... 25
3.3.2 Sampel............................................................................. 25
3.4 Metode pengumpulan data....................................................... 27
3.4.1 Data Primer.................................................................. 27
3.4.2 Data Sekunder............................................................. 27
3.4.3 Instrumen penelitian.................................................... 27
3.5 Defenisi Operasional................................................................ 27
3.6 Aspek Pengukuran................................................................... 29
3.7 Teknik analisa data................................................................... 29

LAMPIRAN :
Kuisioner (Instrumen Penelitian)

32
33
KUESIONER TENTANG PENGETAHUAN, PENGHASILAN
DAN PERSEPSI PASIEN TB PARU MENGENAI FAKTOR-
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEMBUHAN PASIEN
TB PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PORIAHA
KABUPATEN TAPANULI TENGAH

Nomor Responden :
Desa :

A.DATA TENTANG KARAKTERISTIK RESPONDEN

1. Nama Responden :

4. Berapa penghasilan bapak/ibu dalam satu bulan, dihitung dengan uang?

a. Rendah < Rp.2.057.000

b. Tinggi > Rp.2.057.000

B. PERTANYAAN

PENGETAHUAN PASIEN TENTANG PENYAKIT TB PARU

1. Apakah pengertian dari penyakit TBC/ TB paru?

a. Penyakit keturunan

b. Penyakit guna-guna

c. Penyakit infeksi menular

d. penyakit keracunan

2. Kuman apakah penyebab penyakit TBC ?

a.Bakteri mycobacterium tuberkulosis

b. kuman E Coli

c. Kuman S Thyposa

34
d. Virus daengue

3. Bagaimanakah penularan penyakit TBC paru?

a. Batuk dan percikan dahak penderita TB

b. Melalui darah penderita TB

c. Melalui sentuhan penderita TB

d. Melalui air mata penderita TB

4. Bagaimanakah salah satu gejala atau tanda penyakit TBC paru?

a. Batuk bercampur darah, berat badan menurun

b. Sering lapar-lapar

c. sering buang air kecil

d. sering ngantuk

5. Dapatkah anak-anak tertular penyakit TBC paru?

a. Tidak

b. Belum tentu

c. Dapat

d. Tidak tahu

6. Jika kita sudah tertular penyakit TBC kemanakah kita berobat?

a. Ke dukun

b. Ke Dokter/ Perawat Kesehatan

c. Ke tukang urut

d. Tidak perlu berobat

7. Bagaimanakah harusnya sikap seorang yang berpenyakit TBC pada saat


batuk?

a. Boleh batuk dengan sembarangan

b. Menutup mulut saat batuk

c. Tidak dengan menutup mulut

35
d. Tidak ada aturannya

8. Dari mana sajakah sumber penularan penyakit TBC paru?

a. Dari orang ke orang

b. Dari Tumbuhan tertentu

c. Dari hewan peliharaan

d. Dari binatang buas

9. Dapatkah disembuhkan penyakit TBC pada anak-anak?

a. Tidak dapat

b. Tidak ada penyakit TBC pada anak-anak

c. Dapat dengan berobat ke dokter/Puskesmas

d. Dapat sembuh dengan sendirinya

10. Dapatkah disembuhkan penyakit TBC pada orang dewasa ?

a. Tidak dapat

b. Dapat sembuh dengan sendirinya

c.Dapat sembuh dengan berobat ke dokter/Puskesmas

d.Dapat sembuh dengan berobat ke dukun

11. Berapa lama aturan pengobatan penyakit TBC paru ?

a. satu tahun

b. Dua tahun

c. Tiga tahun

d. Enam bulan

12. Apakah kewajiban bagi penderita TBC paru dalam tahap pengobatan ?

a. Mengambil obat TBC ke Puskesmas dan tidak memakannya

b. Mengambil obat TBC ke Puskesmas dan memakannya sesuai


anjuran

c. Mengambil obat TBC lalu membuangnya

36
d. Mengambil obat TBC lalu menjualnya

13. Yang manakah salah satu tujuan pengobatan Tuberkulosis ?

a. Mengatur jarak kehamilan

b. Sebagai syarat untuk mendapatkan kartu jaminan kesehatan


nasional

c. Menyembuhkan penderita, mencegah kematian

d. Agar di sukai masyarakat

14. Bagaimanakah cara mengetahui bahwa penyakit TBC sudah hilang


dari tubuh kita ?

a. Dengan dapatnya kita tidur nyenyak

b. Dengan dapatnya kita bekerja seperti biasa

c. Dengan cara pemeriksaan dahak ke laboratorium puskesmas

d. Dengan bertambahnyaselera makan

15. Bagian tubuh yang manakah yan diserang oleh kuman TBC?

a. Jantung

b. Hati

c. Persendian

d. Paru

37