Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMULIAAN TANAMAN

ACARA II
KORELASI ANTAR DUA SIFAT PADA TANAMAN

Semester :
Genap 2017

Muhamad Minanurahman
NIM A1D015090
Rombongan 4

KEMENTERIAN, RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

A. Pendahuluan

Pemuliaan tanaman senidir merupakan cabang ilmu biologi yang merupakan

kegiatan perakitan genetis suatu tanaman untuk mendapatkan tanaman dengan

genetis lebih unggul dari tanaman sebelumnya. Pemuliaan tanaman sendiri

memiliki tujuan untuk mendapatkan sifat yang lebih baik dari tanaman sebelumnya

baik dari segi hasil maupun ketahanan terhadap cekaman lingkungan. Oleh karena

itu sifat sifat tanaman baik moflogis maupun fisiologi tanaman perlu diamati

dengan baik.

Setiap sifat pada suatu tanaman sering kali terdapat sifat yang berhubungan

satu sama lain. Adanya hubungan antara kedua sifat tersebut sangat membantu

usaha pemuliaan tanaman dan pemulia tanman terutama tahap seleksi tanaman.

Seleksi akan efektif bila terdapat hubungan erat antar karakter pendugan dengan

karakter yang dituju. Praktiknya sifat yang biasanya diamati merupakan sifat

morfologis.

Koefisien korelasi digolongkan menjadi dua macam yaitu koefisien korelasi

negatif dan koefisien korelasi positif. Koefisien korelasi negatif bila derajat

hubungan antara dua sifat menunjukkan hal yang berlawanan. Artinya

bertambahnya nilai sifat yang satu akan diikuti oleh berkurangnya nilai sifat yang

lain. Koefisien korelatif positif bila derajat hubungan antara dua sifat tanaman

menunjukkan hal yang nyata, artinya bertambahnya nilai sifat satu diikuti oleh

bertambahnya nilai sifat yang lain. Sebaliknya, berkurangnya nilai sifat yang satu
akan diikuti oleh berkurangnya nilai sifat yang lain. Sedangkan apabila koefisien

korelasi = 0 berarti tidak ada hubungan sama sekali antara kedua sifat tersebut.

Khusus sifat-sifat kualitatif pada koefisien korelatif = 1

Diketahuinya interaksi sifat dalam faktor internal tanaman dapat menjadi

acuan seorang pemuliaan tanaman untuk menentukan bagaimana tanaman-tanaman

tersebut dirakit berdasarkan sifat yang ada. Perkawinan silang dapat digunakan

untuk menambah atau mengurangi interaksi sifat yang ada dalam suatu tanaman.

Oleh karena itu penting untuk mengetahui derajat hubungan dua sifat pada tanman

dan bentuk dari hubungan tersebut.

B. Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui derajat hubungan antar dua sifat pada tanaman

2. Mengetahui bentuk hubungan yang ada diantara dua sifat yang bersangkutan
II. TINJAUAN PUSATAKA

Korealsi adalah tehnik analisis yang merupakan salah stau tehnik pengukuran

hubungan atau asosiasi. Pengukuran hubungan merupakan istilah yang mengacu

pada sekelompok tehnik dalam statistik yang digunakan untuk mengukur hubungan

antara dua variabel. Suatu yang variabel memiliki kecenderungan untuk naik maka

akan terlihat kecenderungan dalam variabel lain. Kecenderungan dalam variabel

yang selalu diikuti oleh kecenderungan dalam variable lain dapat dikatankan bahwa

dua variabel memiliki hubungan atau berkorelasi (Haryono, 2001). Korelasi antar

sifat juga dapat dikatakan sebagai mengukur derajat keeratan hubungan antara

sifat-sifat. Pendugaan sifat-sifat korelasi genotip dan fenotip berguna dalam

perencanaan dan evaluasi di dalam program-program pemuliaan tanaman. Korelasi

antar sifat dapat mengungkapkan bahwa beberapa dari sifat yang penting berguna

sebagai indikator bagi satu atau beberapa sifat lain yang kurang penting

(Johnson et.al., 2006)

Korelasi antar sifat tanaman yang biasanya diukur dengan koefisien korelasi.

Koefisien korelasi digunakan untuk mengetahui tingkat kemiripan dalam

variabilitas antar tanaman induk dengan keturunannya. Fungsi uji korelasi menurut

Soepomo (1968) adalah untuk mengkaji hubungan satu sifat dengan sifat yang

lainnya. Koefisien korelasi sangat penting dalam pemuliaan tanaman karena

koefisien itu mengukur derajat hubungan antara dua sifat atau lebih, baik dari segi

genetik maupun nongenetik. Penyebab timbulnya korelasi adalah faktor genetik


maupun faktor lingkungan. Sebab genetis timbulnya korelasi antar sifat ialah

peristiwa pleitropi dan linkage disequilibrium (Soemartono et.al., 1992).

Korelasi dua atau lebih sifat positif yang dimiliki akan memudahkan seleksi

karena akan diikuti oleh peningkatan sifat yang satu diikuti dengan yang lainnya,

sehingga dapat ditentukan indeks seleksi. Korelasi negatif akan sulit untuk

memperoleh sifat yang diharapkan. Bila tidak ada korelasi maka seleksi tidak

efektif. Nilai korelasi dapat disebut koefisien korelasi. Koefisien korelasi bebas dari

satuan pengukuran dan tidak memiliki satuan karena merupakan besaran yang

mutlak (Poespodarsono, 1988). Sebaliknya bila korelasi negatif, maka sulit untuk

memperoleh sifat yang diharapkan. Bila tidak ada korelasi di antara sifat yang

diharapkan, maka seleksi menjadi tidak efektif (Poespodarsono, 1988).

Menurut Prajitno (1981) koefisien korelasi harus memenuhi syarat :

1. Koefisen korelasi harus besar apabila kadar hubungan tinggi atau kuat, dan

harus kecil apabila kadar hubungan kecil atau lemah.

2. Koefisien korelasi harus bebas dari satuan yang digunakan untuk mengukur

variabel-variabel baik prediktor maupun respon.

Sifat-sifat koefisien korelasi dalam pemuliaan tanaman adalah:


1. Besarnya nilai koefisien korelasi berkisar -1 sampai denagn 1 (-1 r 1). Bila

r = 0 atau mendekati nol, berarti antara dua peubah yang diamati tidak terdapat

hubungan atau hubungannya sangat lemah. Bentuk dari diagram pencarnya

adalah titik-titik pengamatan menyebar hampair sama di keempat kuadran. Bila

nilai r mendekati -1 berarti hubungan X dan Y sangat kuat tetapi hubungannya

negatif. Artinya bila peubah X semakin besar maka peubah Y akan semakin

kecil, begitu pula sebaliknya. Bila r mendekati 1, berarti hubungan X dan Y


sangat kuat dan searah. Dalam hal ini, bila nilai X membesar, maka nilai Y juga

akan membesar.

2. Koefisien korelasi hanya mencerminkan keeratan hubungan linier antar X dan

Y dan tidak berlaku menerangkan hubungan yang tidak linier.

3. Koefisien korelasi tidak memiliki satuan.

4. Pada umumnya hubungan fungsional antar peubah yang berkorelasi tidak

memberikan pengertian tentang adanya hubungan sebab akibat antara peubah-

peubah yang bersangkutan.

5. Nilai koefisien korelasi bersifat searah artinya r-xy = r-yx = r (Sugiarto, 1992)

Kategori korelasi yang baik tergantung pada apa yang dilakukan peneliti atau

apa yang diharapkannya dari uji kajinya. Jika ia berharap uji kajinya menunjukkan

tidak terdapat kaitan antara dua peubah, maka koefisien sebesar nol akan sangat

menggembirakan. Jika sebaliknya ia mengharapkan akan terlihat kaitan yang erat,

maka harga r yang mendekati 1 akan dipandang sebagai hasil yang optimum.

Sebagaimana lazimnya, sistem yang hidup tidak membantu dengan menghasilkan

bilangan bulat, keragaman lebih mungkin terjadi daripada perkecualian (Soepomo,

1968).

Perhitungan koefisien korelasi antara x dan y sebagai ukuran hubungan dapat

dilihat dari dua segi. Pertama, koefisien korelasi dihitung untuk menentukan

apakah ada korelasi antara x dan y dan jika ada apakah berarti atau tidak. Kedua,

untuk menentukan derjat hubungan antara x dan y jika hubungan itu memang sudah

ada atau barang kali diasumsikan ada (Sudjana, 1983).


Analisis korelasi adalah metode statistika yang digunakan untuk menentukan

kuatnya atau derajat hubungan linier antara dua variabel atau lebih. Semakin nyata

hubungan linier (garis lurus), maka semakin kuat atau tinggi derajat hubungan garis

lurus antara kedua variabel atau lebih. Ukuran untuk derajat hubungan garis lurus

ini dinamakan koefisien korelasi (Mursito, 2003).

Analisis korelasi mepunyai tujuan untuk mengukur berpa kuat kedekatan

yang terjadi antar sifat tau variabel. Korelasi antara dua sifat dapat dibagi dalam

korelasi fenotipik dan korelasi genotipik. Korelasi fenotipik dapat dipisahkan

menjadi korelasi genotipik dan korelasi lingkungan. Korelasi fenotipik ini

selanjutnya diharapkan dapat menunjukkan korelasi genotipik yang lebih berati

dalam usaha pemuliaan panaman. Korelasi ini dapat diartikan sebagai korelasi nilai

pemuliaan dari dua sifat yang diamati (Nasir, 2001).


III. METODE KERJA

A. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu bahan bahan yang

hendak di cari korelasinya. Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu

penggaris, timbangan, dan counter.

B. Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang akan dilakukan pada praktikum kali ini yaitu:

1. Bahan-bahan dan sifat-sifat yang hendak dicari koefisien korelasinya diamati

dengan cara diukur, dihitung, ditimbang, dan sebagainya

2. Semua hasil pengamatan, pengukuran, penimbangan dan perhitungan ditulis

dengan baik pada table pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya

3. Hasil pengamatan dimasukkan pada table frekuensi


= (Xi )
2

Mencari ragam X dengan rumus: 2 =


1


= (Yi )
2

Mencari ragam Y dengan rumus: 2 =


1

Mencari kovarian antara X dan Y dengan rumus:


= (Xi )(Yi )
=
1


Mencari koefisien korelasi dengan rumus: r =
2 2
Mencari koefisien determinasi dengan rumus: r2

1 2
Mencari standar error koefisien korelasi dengan rumus: Sr =
2

Melakukan uji t untuk menguji kepastian korelasi dengan rumus metode


student: t =

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 2. Data Perhitungan Koefisien Korelasi X dan Y (X= bobot biji dan Y=
jumlah biji)
Xi -
No X Y Yi - Y (Xi - X )2 (Yi - Y )2 (Xi - X )-( Yi - Y )
X
1. 1,64 109 0,26 28 0,0676 7,84 0,728
2. 1,7 106 0,324 -0,2 0,104976 0,04 -0,0648
-
3. 1,14 118 11,8 0,0576 139,24 -2,832
0,24
-
4. 1,3 105 -1,2 0,0064 1,44 0,096
0,08
-
5. 1,1 93 -13,2 0,0784 174,24 3,696
0,29
6,88 531 0 0 0,314976 322,8 1,623
Rata
1,376 106,2
-rata
( ) 2
2
1. = 1
0,314976
= 4

= 0,078
( )2

2. 2 = 1
322,8
= 4

= 80,7
( ) (
)

3. = 1
1,623
= 4

= 0,405

4. =
2 . 2
0,405
=
(0,078) (80,7)
0,405
=
6,2946
0,405
=
2,509

= 0,16
5. 2 = (r)2

= (0,16)2
= 0,0256
1 2
6. =

10,0256
= 52

0,974
= 3

= 0,3248
= 0,57
0,16
7. t hitung = = = 0,28
0,57

Kesimpulan: t hitung < t tabel, artinya korelasi antara bobot biji dan jumlah biji

(x) dengan jumlah biji (y) tidak berbeda nyata.

abel 3. Data Perhitungan Koefisien Korelasi X dan Z (X= bobot biji dan Z= pajang
malai)
No X Y Xi - X Zi - (Xi - X )2 (Zi - )2 (Xi - X )-( Zi - )
1,6
1. 109 0,26 0,02 0,0676 0,0004 0,0052
4
2. 1,7 106 0,324 0,02 0,104976 0,0004 0,00648
3. 1,14 118 -0,24 1,22 0,0576 1,4884 -0,2928
4. 1,3 105 -0,08 -0,18 0,0064 0,0324 0,0144
5. 1,1 93 -0,29 -1.08 0,0784 1,1664 0,3024
6,88 531 0 0 0,314976 2,688 0,03568
Rata- 1,37 106,
rata 6 2
( ) 2
1. 2 =
1
0,314976
= 4
= 0,078
(i ) 2
2. 2 = 1
2,688
= 4

= 0,672
( ) (Zi )

3. = 1
0,03568
= 4

= 0,009

4. =
2 . 2
0,09
=
(0,08) (0,672)
0,009
=
0,5367
0,009
=
0,2318620279

= 0,04
5. 2 = (r)2

= (0,04)2
= 0,0016
1 2
6. =

10,0016
= 52

0,9984
= 3

= 0,33
= 0,57
0,04
7. t hitung = = = 0,7
0,57

Kesimpulan: t hitung < t tabel, artinya korelasi antara bobot biji dan jumlah biji

(x) dengan panjang malai (z) tidak berbeda nya.


Tabel 4. Data Perhitungan Koefisien Korelasi Y dan Z (Y= jumlah biji dan Z= pajang malai)
No X Y Yi - Y Zi - (Yi - Y )2 (Zi - )2 (Yi - Y )-( Zi - )
1,6
1. 109 28 0,02 7,84 0,0004 0,056
4
2. 1,7 106 -0,2 0,02 0,04 0,0004 -0,004
3. 1,14 118 11,8 1,22 139,24 1,4884 14,396
4. 1,3 105 -1,2 -0,18 1,44 0,0324 0,216
5. 1,1 93 -13,2 -1.08 174,24 1,1664 14,256
6,88 531 0 0 322,8 2,688 28,92
Rata- 1,37 106,
Rata 6 2
(i Y ) 2
2
1. =
1
322,8
= 4

= 80,7
(i ) 2
2. 2 = 1
2,688
= 4

= 0,672

(i Y ) (Zi )
3. = 1
28,92
= 4

= 7,23

4. =
2 . 2
7,23
=
(80,7) (0,672)
7,23
=
54,23
7,23
=
7,36

= 0,98
5. 2 = (r)2
= (0,98)2
= 0,96
1 2
6. =
10,96
= 52

0,04
= 3

= 0,013
= 0,12
0,98
7. t hitung = = = 8,1
0,12

Kesimpulan: t hitung > t tabel, artinya korelasi antara jumlah biji (y) dengan panjang malai
(z) berbeda nyata.

B. Pembahasan

Korelasi antar 2 sifat tanaman merupakan hubungan antara dua sifat tanaman yang saling

berhubungan yang saling mempengaruhi sifat satu dengan sifat yang lain saling mempengahuri

baik secara positif maupun secara berlawanan. Menurut Steel (1991) korelasi merupakan suatu

ukuran derajat bervariasinya kedua peubah secara bersama-sama atau ukuran keeratan

hubungan antara kedua peubah tersebut. Tujuan Analisis korelasi antara 2 sifat dalam

pemuliaan tanaman adalah untuk mengetahui keeratan hubungan antara dua ciri atau lebih

(Nasoetion dan Barizi, 1976). Adapula pendapat dari Heni (2011) yang menjelaskan bahwa

korelasi adalah suatu analisis untuk mengukur derajat keeratan hubungan linear diantara kedua karakter

atau lebih. Korelasi antara dua karakter dapat berupa korelasi genotipe atau berupa korelasi fenotipe.

Analisis korelasi ini sering ditujukan untuk karakter kuantitatif yang sulit memberikan gambaran

kemampuan genetik karena adanya pengaruh dari lingkungan yang mengaburkan.

Sifat-sifat yang berhubungan sangat banyak sehingga menyebabkan adanya berbagai

macam bentuk korelasi. Korelasi berdasarkan sifat-sifat yang berhubungan, menurut Haryono

(2001) korelasi dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:

1. Korelasi sederhana
Korelasi sederhana terjadi apabila satu sifat dipengaruhi oleh satu sifat yang lain, misalnya

panjang malai dengan banyaknya gabah per malai pada tanaman padi. Korelasi sederhana

digunakan untuk menguji hipotesis hubungan antara dua variabel, untuk melihat kuat lemahnya

hubungan dan arah hubungan antara dua variabel.

2. Korelasi partial

Korelasi partial terjadi apabila dua sifat dipengaruhi oleh sifat-sifat yang lain. Misalnya

tingginya produksi dan tingginya sterilitas biji dipengaruhi oleh bobot malai dan serangan

penyakit. Korelasi partial digunakan untuk mengetahui derajat hubungan antara suatu variable

bebas dengan satu veriabel terikat, dengan cara mengkondisikan variable bebas lainnya dibuat

tetap/konstan/ dikendalikan dalam analisis multiple correlation.

3. Korelasi berganda

Korelasi berganda terjadi apabila satu sifat dipengaruhi oleh banyak sifat yang lain.

Korelasi ganda (multiple correlation) adalah korelasi antara dua atau lebih variable bebas

secara bersama-sama dengan suatu variable terikat. Angka yang menunjukkan arah dan besar

kuatnya hubungan antara dua atau lebih variable bebas dengan satu variable terikat disebut

koefisien korelasi ganda, dan biasa disimbolkan r.

Selain itu ada juga macam korelasi yang lain Murwani (2007) menjelaskan bahwa,

terdapat dua macam koefisien korelasi yaitu :

1. Koefisien korelasi positif

Apabila derajat hubungan antara dua sifat tanaman menunjukkan hal yang nyata. Artinya

bertambahnya nilai sifat yang satu akan bertambah pula nilai sifat yang lain. Hal itu juga

berlaku sebaliknya. Contoh hubungan antara panjang malai dengan jumlah bulir. Padi yang

mempunyai malai yang panjang tentu jumlah bulirnya akan banyak.

2. Koefisien korelasi negatif


Apabila derajat hubungan antara dua sifat tanaman menunjukkan hal yang berlawanan.

Artinya bertambahnya nilai sifat yang satu akan diikuti berkurangnya nilai sifat yang lain.

Contoh hubungan antara tinggi tanaman dengan bobot tanaman. Tanaman yang tinggi akan

mempunyai bobot yang rendah.

Korelasi memiliki berbagai jenis yang bermanfaat terutama dalam bidang pemuliaan

tanaman, terutama dalam seleksi untuk perbaikan suatu karakter / pembentukan varietas yang

baru. Macam sifat korelasi tersebut yang paling bermanfaat dalam bidang pemuliaan tanaman

adalah korelasi positif dikarenakan menurut Murwani (2007) menyatakan bahwa korelasi

positif apabila derajat hubungan antara dua sifat tanaman menunjukkan hal yang nyata. Artinya

bertambahnya nilai sifat yang satu akan bertambah pula nilai sifat yang lain jadi seleksi sifat

untuk membentuk varietas baru lebih mudah karena dengan mengambil karakter tersebut dapat

mempengaruhi kenaikan karakter yang lain.

Korelasi antar sifat tanaman dapat berperan dalam pemuliaan tanaman sebagai salah satu

faktor seleksi dalam perakitan sifat tanaman, hal tersebut sesuai dengan pendapat Nyimas

(2009) Korelasi genetik dapat dimanfaatkan untuk seleksi tidak langsung apabila karakter

utama yang diseleksi mempunyai heritabilitas tinggi dan juga faktor yang diperlu diperhatikan

pada seleksi berdasarkan fenotipe ,adalah korelasi antar korelasi antarkarakter, keragaman dan

nilai duga heritabilitas.. Menurut Poerwoko (1995), korelasi dalam hal ini akan membantu

dalam memilih suatu bahan tanaman unggul yang di dalamnya terdiri dari seleksi dua atau tiga

sifat secara bersamaan. Korelasi erat kaitannya dengan hubungan antar sifat jadi dalam

pemilihan sifat tertentu secara tidak langsung telah memilih sifat lain yang diperlukan dalam

usaha memperoleh bahan tanaman unggul. Begitu pula menurut Wels (1991), menambahkan

bahwa seleksi dapat berjalan secara efektif jika diketahui keeratan hubungan atau korelasi

antara karakter yang dituju dengan karakter lain sebagai penduga.


Bentuk nyata pemanfaatan korelasi antara sifat tanaman dalam pemuliaan tanaman antara

lain tercantum dalam jurnal AgroBiogen tentang Peningkatan Keragaman Genetik Tanaman

melalu Keragaman Somaklonal motede yang dilakukan seleksi in vitro telah banyak

dimanfaatkan untuk ketahanan terhadap faktor biotik seperti patogen. Hasil penelitian tersebut

menunjukkan adanya korelasi antara sel somatik yang sensitif terhadap filtrat atau toksin

dengan tanaman tahan penyakit. Hasil yang didapat bahwa salah satu tanaman yang

ketahanannya berkorelasi positif adalah tanaman pisang ketika diuji dengan isolate. Korelasi

positif juga terlihat ketika tanaman diuji dilokasi endemic yang ditandai dengan berbuahnya

tanaman pisang 7 bulan setelah tanam. Penjelasan diatas menjelaskan bahwa ketahanan

terhadap hama penyakit tanman juga dapat dibentuk dengan mengetahui korelasi antar sifat

tanaman karna dengan mengetahui korelasi tersebut dapat diketahui seleksi yang tepat untuk

suatu tanaman sehingga sifat yang diharapkan bisa muncul. Pemanfaatan Korelasi antar 2 sifat

tanaman juga dibahas dalam Jurnal Arotropika yang berjudul "Korelasi, Keragaman Genetik,

Dan Heritabilitas Karakter Agronomi Kacang Panjang Populasi F3 Keturunan Persilangan

Testa Hitam X Lurik" yang bertujuan menentukan korelasi, keragaman, nilai duga heretabilitas

dalam arti luas karakter kacang panjang. Hasilnya terdapat korelasi positif antara variabel

jumlah tangkai bunga per tanaman, jumlah polong per tanaman, rata-rata jumlah lokul per

polong, dan jumlah benih total dengan bobot benih pertanaman yang dapat digunakan sebagai

pedoman melakukan seleksi tidak langsung untuk mendapatkan bobot benih per tanaman

dalam jumlah banyak. Penjelasan diatas menjelaskan bahwa secara tidak langsung seleksi

untuk mendapatkan bobot benih per tanaman dalam jumlah banyak dapat dilakukan dengan

melihat korelasi antar sifat pada suatu tanaman. Jurnal Litbang pertanian juga membahas

mengenai korelasi ini dalam jurnal yang berjudul "Perakaran Padi dalam Hubungannya dengan

Toleransi Tanaman Terhadap Kekeringan dan Hasil" dari penelitian ini diketahui bahwa faktor

tanaman yang berkorelasi dengan skoring kekeringan adalah diameter akar dan indeks luas
daun, semakin tinggi toleransi tanaman terhadap kekeringan. Mackill et al., (1996)

menambahkan bahwa kedalaman perakaran padi berkorelasi secara nyata dengan tinggi

tanman.

Praktikum yang dilakukan membahas mengenai korelasi antara bobot biji (X) dengan

jumlan biji (Y) lalu korelasi antara bobot biji (X) dengan panjang malai (Z) yang terakhir

merupakan korelasi antara jumlah biji (Y) dengan panjang malai (Z). Koefisien korelasi untuk

tabel 1 mengenai panjang malai (X) dengan jumlah biji (Y) sebesar 0,16. Pengujian dengan

metode student t sebesar 0,28 dengan t tabel sebesar 3,182. Koefisien korelasi tersebut

menunjukkan koefisien korelasi yang tidak berbeda nyata karena t hitung lebih kecil dari t

tabel. Sehingga panjang malai dengan jumlah biji berdasarkan hasil praktikum tidak memiliki

hubungan yang nyata atau tidak terlalu berpengaruh. Namun menurut Rohaeni dan Permadi

(2012), malai yang panjang menjamin adanya jumlah gabah yang bernas lebih banyak . jumlah

biji yang banyak disebabkan bila semakin tinggi tanaman maka semakin banyak fotosintat yang

diproduksi sehingga tanaman akan mempunya malai yang panjang dan jumlah biji yang

banyak. Tabel 2 membahas mengenai panjang malai (X) dengan bobot biji (Z) yang memiliki

besar koefisien korelasi sebesar 0,04. Hasil pengujian dengan metode student t sebesar 0,7

dengan t tabel 3,182. Koefisien korelasi tersebut termasuk koefisien korelasi tidak berbeda

nyata karena t hitung lebih kecil dari t tabel sehingga panjang malai dan bobot biji tidak

memiliki hubungan yang nyata atau tidak terlalu berpengaruh.Tabel 3 membahas mengenai

jumlah biji (Y) dan bobot biji (Z), koefisien korelasi yang didapatkan yaitu sebesar 0,98. Hasil

pengujian dengan metode student t sebesar 8,1 dengan t tabel 3,182. Koefisien korelasi tersebut

termasuk koefisien korelasi berbeda nyata karena t hitung lebih besar dari t tabel sehingga

jumlah biji dan bobot biji memiliki hubungan yang nyata atau kedua sifat tersebut saling

mempengaruhi satu sama lain. Namun menurut Rohaeni dan Permadi (2012), jumlah bulir per

malai yang semakin banyak akan meningkatkan bobot biji pada malai.
Ketiga percobaan di atas termasuk korelasi sederhana karena satu sifat dipengaruhi oleh

sifat lain yaitu panjang malai dengan jumlah biji, panjang malai dengan bobot biji, dan jumlah

biji dengan bobot biji. Perbedaan data yang diperoleh saat praktikum dan pada literatur dapat

disebabkan oleh kesalahan error maupun pengaruh kondisi lingkungan sekitar tanaman. Uji

student t digunakan untuk mengetauhi adanya perbedaan efek antara perlakuan yang berbeda.
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Panjang malai dan jumlah biji memiliki t hitung (0,28) < t tabel (3,182), panjang malai dan

bobot biji memiliki t hitung (0,7) < t tabel (3,18) dan Jumlah biji dan bobot biji memiliki

t hitung (8,1) < t tabel (3,18). Korelasi yang terjadi termasuk korelasi sederhana karena

hanya 1 sifat yang berpengaruh terhadap sifat yang lain.

2. Bentuk hubungan dari percobaan 1 dan 2 merupakan korelasi yang tidak berbeda nyata

atau antar kedua sifat tidak berpengaruh satu sama lain sedangkan untuk percobaan yang

ketiga memiliki pengaruh nyata satu sama lain.

B. Saran

Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan, saran yang dapat diberikan adalah dalam

melaksanakan perhitungan korelasi antara dua sifat diharapkan praktikan lebih teliti

dikarenakan perhitungan antara 2 korelasi sifat memerlukan ketelitian yang lebih


DAFTAR PUSTAKA

Didi Suardi. 2002. Perakaran Padi dalam Hubungannya dengan Toleransi Tanaman Terhadap
Kekeringan dan Hasil. Jurnal Litbang Pertanain, 21 (3) : 100-108

Haryono, S. K. 2001. Heritabilitas dan Korelasi Genotipe Jemponan Indeks Panen dan Indeks
Beberapa Nomor Contoh Kecipir. Zuriat. Volume 22 (1):38-47.

Heni S., Bambang S, P,. Iswari S, D,. Buang Abdullah. 2011. Korelasi Dan Sidik Lintas
Karakter Fenotipik Galurgalur Padi Haploid Ganda Hasil Kultur Antera. Widyariset, Vol.
14 No.2

Johnson, H. W., H. F. Robinson dan R. C. Comstock. 2006. Genotipe and Phenotipic


Correlation in Soybean and TheirAplication in Selection. Agriculture Journal. Volume
1 (60):447-483

Mackill, D.J., W.R. Coffman, D.P. Garrity. 1996. Rainfed Lowland Rice Improvement, IRRI,
Manila. 242 p.

Muhammad Arif N. 2010. Analisis Korelasi Dan Sidik Lintas Antara Karakter Morfologi Dan
Komponen Buah Tanaman Nenas (Ananas Comosus L. Merr.). Crop Agro Vol.3 No.1

Mursito, D. 2003. Heritabilitas dan Sidik Lintas Karakter Fenotipik Beberapa Galur Kedelai.
Agrosain.Volume 6(2): 58-63.

Murwani. 2007. Analisis Korelasi dan Regresi. Gramedia. Jakarta.

Nasir, M. 2001. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi


Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Nasoetion, H dan Barizi. 1976. Metode Statistika. PT. Gramedia. Jakarta.

Poerwoko, M. S. 1995, Efektifitas dan Efisiensi Analisi Lintas Dalam Seleksi Simultan Zuriat
Kedelai Melalui Persilangan Dialel Lengkap, Tidak Dipublikasikan. Desertasi. Program
Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Bandung

Poespodarsono, S. 1988. Dasar-Dasar Ilmu Pemuliaan Tanaman. Institut Pertanian Bogor.


Bogor.

Prajitno, D. 1981. Analisis Korelasi-Regresi. Liberty. Yogyakarta.

Rohaeni, W.R. dan Permadi, K. 2012. Analisis Sidik Lintas Beberapa Karakter Komponen
Hasil Terhadap Daya Hasil Padi Sawah pada Aplikasi Agrisimba. Jurnal Agrotrop.
Volume 2 (2) 185-190.

Sadiyah, Nyimas., et al. 2009. Korelasi, Keragaman Genetik, Dan Heritabilitas Karakter
Agronomi Kacang Panjang Populasi F3 Keturunan Persilangan Testa Hitam X Lurik.
Jurnal Agrotropika. Vol. 14(1): 37 41
Sri H., Ika M., Yati S.,. 2006. Peningkatan Keragaman Genetik Tanaman melalui Keragaman
Somaklonal. Jurnal AgroBiogen 2(2):81-88

Steel, R. G. D and Torrie. 1991. Principle And Prosedures of Statistics (Prinsip dan Prosedur
Statistik, alih bahasa : B. Sumantri). Gramedia. Jakarta.

Sudjana. 1983. Teknik Analisis Regresi dan Korelasi. Tarsito. Bandung.

Sugiarto. 1992. Tahap Awal dan Aplikasi Analisis Regresi. Andi offset. Jogjakarta

Soemartono, Nasrullah dan H. Kartika. 1992. Genetika Kuantitatif Dan


Bioteknologi Tanaman. PAU Bioteknologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Soepomo. 1968. Ilmu Seleksi dan Teknik Kebun Percobaan. Pt Soeraengan.Jakarta.

Welsh, J. R. 1991. Dasar-dasar Genetik dan Pemuliaan Tanaman. Erlangga.Jakarta.


LAMPIRAN