Anda di halaman 1dari 132

SALINAN

PERATURAN MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN


NASIONAL/
KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
NOMOR 1 TAHUN
TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL
2015-2019

PETUNJUK PELAKSANAAN
NO. 3 /JUKLAK/SESMEN/06/2014
TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL
TAHUN 2015-2019

PETUNJUK PELAKSANAAN
NO. 2 /JUKLAK/SESMEN/06/2014
TENTANG PEDOMAN PENGINTEGRASIAN KERANGKA
REGULASI DALAM
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL
SALINAN
PERATURAN MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/
KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
NOMOR 1 TAHUN 2014

TENTANG

PEDOMAN PENYUSUNAN
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL 2015-2019
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

SALINAN
PERATURAN MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/
KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
NOMOR 1 TAHUN 2014
TENTANG
PEDOMAN PENYUSUNAN
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL
TAHUN 2015-2019

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/


KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL,

Menimbang : a. bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 40


Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana
Pembangunan Nasional, Menteri Perencanaan
Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional bertugas menyiapkan
rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional;
b. bahwa dalam rangka koordinasi dan sinkronisasi
penyiapan dan penyusunan rancangan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional, perlu
menetapkan Peraturan Menteri Perencanaan
Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional Tahun 2015-2019;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4421);

2. Undang
-2-

2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang


Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
2005-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4700);
3. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang
Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008
Nomor 176, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4924);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang
Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan
Nasional;
5. Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2007 tentang
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional;
6. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang
Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara
sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir
dengan Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2011;
7. Peraturan Menteri Negara Perencanaan
Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional Nomor
PER.005/M.PPN/09/2007 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Negara Perencanaan
Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional, sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Menteri Perencanaan
Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional Nomor 7 Tahun 2012;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN


NASIONAL/KEPALA BADAN PERENCANAAN
PEMBANGUNAN NASIONAL TENTANG PEDOMAN
PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA
MENENGAH NASIONAL TAHUN 2015-2019.

BAB
-3-

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan
tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan,
dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia.
2. Pembangunan Nasional adalah upaya yang dilaksanakan
oleh semua komponen bangsa dalam rangka mencapai
tujuan bernegara.
3. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun
2005-2025, yang selanjutnya disebut sebagai RPJPN 2005-
2025, adalah Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang
Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025.
4. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun
2015-2019, yang selanjutnya disingkat RPJMN 2015-2019
adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional
untuk periode 5 (lima) tahun terhitung sejak tahun 2015
sampai dengan tahun 2019.
5. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, Tahun
2010-2014 yang selanjutnya disebut RPJMN 2010-2014
adalah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional,
sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Presiden Nomor 5
Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional Tahun 2010-2014.
6. Rancangan Rencana Pembangunan Secara Teknokratik
adalah perencanaan yang dilakukan dengan menggunakan
metode dan kerangka berpikir ilmiah untuk menganalisis
kondisi obyektif dengan mempertimbangkan beberapa
skenario pembangunan selama periode rencana berikutnya.
7. Rencana Strategis Kementerian/Lembaga, yang selanjutnya
disebut Renstra K/L, adalah dokumen perencanaan
Kementerian/Lembaga untuk periode 5 (lima) tahun.
8. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang
diinginkan pada akhir periode perencanaan.
9. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang
akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi.
10. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, yang
selanjutnya disebut Menteri Perencanaan, adalah Menteri

yang
-4-

yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang


perencanaan pembangunan nasional.
11. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional, yang selanjutnya
disebut Kementerian Perencanaan, adalah Kementerian
yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
perencanaan pembangunan nasional.
12. Kerangka Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional adalah arahan yang disepakati bersama yang
menjabarkan unsur-unsur pokok pembangunan dalam
rangka mencapai tujuan pembangunan yang tertuang
dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.
13. Kerangka Ekonomi Makro adalah gambaran perekonomian
secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal untuk
periode jangka menengah yang direncanakan.
14. Kerangka regulasi adalah perencanaan pembentukan
regulasi dalam rangka memfasilitasi, mendorong, dan
mengatur perilaku masyarakat dan penyelenggara negara
dalam rangka mencapai tujuan bernegara.
15. Musyawarah Perencanaan Pembangunan, yang selanjutnya
disingkat Musrenbang, adalah forum antarpelaku dalam
rangka menyusun rencana pembangunan Nasional dan
rencana pembangunan Daerah.
16. Trilateral Meeting adalah pertemuan tiga pihak antara
Kementerian Perencanaan, Kementerian Keuangan dan
Kementerian/Lembaga dalam rangka meningkatkan
kesepahaman dalam pencapaian sasaran pembangunan
dan menjaga konsistensi perencanaan dan penganggaran.
17. Bilateral Meeting Penyesuaian Renstra K/L dengan RPJMN
2015-2019 adalah pertemuan dua pihak antara
Kementerian Perencanaan dengan Kementerian/Lembaga
yang bertujuan untuk menjaga konsistensi dan sinergitas
sasaran dan arah kebijakan pembangunan yang tertuang
dalam Renstra K/L dengan yang ada di RPJMN 2015-2019.
18. Bilateral Meeting Penyesuaian RPJMD dengan RPJMN
2015-2019 adalah pertemuan dua pihak antara
Kementerian Perencanaan dengan Pemerintah daerah
Provinsi yang bertujuan untuk menjaga konsistensi sasaran
masing-masing program/ kegiatan pokok RPJMD dengan
sasaran program/kegiatan strategis nasional, penyesuaian
target dan pendanaannya.

Pasal
-5-

Pasal 2
Pedoman Penyusunan RPJMN 2015-2019 dimaksudkan untuk
memberikan panduan dalam menyiapkan kajian pendahuluan,
pelaksanaan evaluasi, penyusunan rancangan RPJMN 2015-
2019, pelaksanaan koordinasi, konsultasi, dan sosialisasi
dalam penyusunan RPJMN 2015-2019, serta proses penetapan
RPJMN 2015-2019.

Pasal 3
Penyusunan RPJMN 2015-2019 dilaksanakan oleh Tim
Penyusun RPJMN 2015-2019 yang ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Perencanaan.

Pasal 4
Tahapan Penyusunan RPJMN 2015-2019 meliputi tahapan
sebagai berikut :
a. penyusunan Kajian Pendahuluan (Background Study);
b. pelaksanaan evaluasi RPJMN 2010-2014;
c. penyusunan Rancangan Rencana Pembangunan Secara
Teknokratik;
d. penyusunan rancangan awal RPJMN 2015-2019;
e. penyusunan rancangan RPJMN 2015-2019;
f. penyusunan rancangan akhir RPJMN 2015-2019;
g. penetapan RPJMN 2015-2019;
h. pelaksanaan sosialisasi RPJMN 2015-2019.

BAB II
TAHAPAN PENYUSUNAN RPJMN 2015-2019

Bagian Pertama
Penyusunan Kajian Pendahuluan
(Background Study)

Pasal 5
(1) Para Deputi menyampaikan hasil Kajian Pendahuluan
kepada Tim Penyusun RPJMN 2015-2019.
(2) Hasil Kajian Pendahuluan digunakan sebagai salah satu
bahan dalam penyusunan Rancangan Rencana
Pembangunan Secara Teknokratik.

Bagian
-6-

Bagian Kedua
Pelaksanaan Evaluasi RPJMN 2010-2014

Pasal 6
(1) Deputi Bidang Evaluasi Kinerja Pembangunan
mengkoordinasikan pelaksanaan evaluasi RPJMN 2010-
2014.
(2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
digunakan oleh Tim Penyusun RPJMN 2015-2019 sebagai
bahan acuan penyusunan RPJMN 2015-2019.

Bagian Ketiga
Penyusunan Rancangan Rencana Pembangunan Secara
Teknokratik

Pasal 7
(1) Tim Penyusun RPJMN 2015-2019 menyusun Konsep
Rancangan Rencana Pembangunan Secara Teknokratik.
(2) Konsep Rancangan Rencana Pembangunan Secara
Teknokratik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dihimpun dari hasil evaluasi RPJMN dan disusun dengan
memperhatikan RPJPN 2005-2025 dan hasil Kajian
Pendahuluan.

Pasal 8
(1) Tim Penyusun RPJMN 2015-2019 melakukan sosialisasi
dan penjaringan aspirasi dari masyarakat atas Konsep
Rancangan Rencana Pembangunan Secara Teknokratik
yang telah disusun.
(2) Hasil sosialisasi dan penjaringan aspirasi dari masyarakat
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai
bahan untuk menyempurnakan Konsep Rancangan
Rencana Pembangunan Secara Teknokratik menjadi
Rancangan Rencana Pembangunan Secara Teknokratik.
(3) Tim Penyusun RPJMN 2015-2019 menyampaikan
Rancangan Rencana Pembangunan Teknokratik kepada
Menteri Perencanaan untuk mendapatkan persetujuan.

Bagian Keempat
Penyusunan Rancangan Awal RPJMN 2015-2019

Pasal 9
(1) Rancangan awal RPJMN 2015-2019 disusun berdasarkan
RPJPN 2005-2025, Rancangan Rencana Pembangunan

Teknokratik
-7-

Teknokratik, dan Visi, Misi dan program prioritas


Presiden.
(2) Rancangan awal RPJMN 2015-2019 memuat strategi
pembangunan nasional, kebijakan umum dan program
prioritas Presiden, Kerangka Ekonomi Makro serta strategi
pendanaan jangka menengah.
(3) Program prioritas Presiden sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dijabarkan ke dalam isu strategis bersifat lintas
kementerian/lembaga dan kewilayahan yang dilengkapi
dengan indikasi sasaran nasional.

Pasal 10
(1) Tim Penyusun RPJMN 2015-2019 menyampaikan
rancangan awal RPJMN 2015-2019 kepada Menteri
Perencanaan sebagai bahan Sidang Kabinet.
(2) Menteri Perencanaan menyampaikan rancangan awal
RPJMN 2015-2019 kepada Presiden untuk disepakati
dalam Sidang Kabinet.
(3) Rancangan awal RPJMN 2015-2019 yang telah disepakati
dalam Sidang Kabinet digunakan sebagai acuan
penyusunan rancangan Renstra K/L dan penyusunan
rancangan RPJMN 2015-2019.

Bagian Kelima
Penyusunan Rancangan RPJMN 2015-2019

Pasal 11
(1) Rancangan awal RPJMN 2015-2019 dan rancangan
Renstra K/L digunakan sebagai bahan oleh Tim Penyusun
RPJMN 2015-2019 untuk menyusun rancangan RPJMN
2015-2019.
(2) Rancangan Renstra K/L ditelaah oleh Menteri
Perencanaan untuk menjamin keselarasan kebijakan
kementerian/lembaga dengan rancangan awal RPJMN
2015-2019.
(3) Menteri Perencanaan menugaskan para Deputi untuk
melakukan penelaahan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2).
(4) Hasil penelaahan Renstra K/L oleh Menteri Perencanaan
dibahas dengan kementerian/lembaga dan Kementerian
Keuangan dalam Trilateral Meeting penyusunan RPJMN
2015-2019.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai Tata Cara Trilateral
Meeting akan diatur lebih lanjut dengan Petunjuk

Pelaksanaan
-8-

Pelaksanaan Trilateral Meeting yang ditetapkan oleh


Sekretaris Kementerian Perencanaan Pembangunan
Nasional/Sekretaris Utama Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional.
(6) Hasil penelaahan Menteri Perencanaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) digunakan sebagai bahan
penyempurnaan rancangan awal RPJMN 2015-2019
menjadi rancangan RPJMN 2015-2019.
(7) Rancangan RPJMN 2015-2019 sebagaimana dimaksud
pada ayat (5) digunakan sebagai bahan utama dalam
Musrenbang Jangka Menengah Nasional.

Pasal 12
(1) Tim Penyusun RPJMN 2015-2019 mengkoordinasikan
proses dan bahan pelaksanaan Musrenbang Jangka
Menengah Nasional.
(2) Musrenbang Jangka Menengah Nasional diikuti oleh
unsur-unsur penyelenggara negara dan mengikutsertakan
masyarakat.
(3) Musrenbang Jangka Menengah Nasional dilaksanakan
paling lambat 2 (dua) bulan setelah Presiden dilantik.
(4) Hasil Musrenbang Jangka Menengah Nasional digunakan
sebagai bahan penyempurnaan rancangan RPJMN 2015-
2019.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai Tata Cara Musrenbang
Jangka Menengah Nasional akan diatur lebih lanjut
dengan Petunjuk Pelaksanaan Musrenbang Jangka
Menengah Nasional yang ditetapkan oleh Sekretaris
Kementerian Perencanaan Pembangunan
Nasional/Sekretaris Utama Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional.

Bagian Keenam
Penyusunan Rancangan Akhir RPJMN 2015-2019

Pasal 13
(1) Rancangan RPJMN 2015-2019 yang telah disempurnakan
disusun menjadi rancangan akhir RPJMN 2015-2019.
(2) Tim Penyusun RPJMN 2015-2019 menyampaikan
rancangan akhir RPJMN 2015-2019 kepada Menteri
Perencanaan paling lambat 3 (tiga) minggu setelah
Musrenbang Jangka Menengah Nasional.

Bagian
-9-

Bagian Ketujuh
Penetapan RPJMN 2015-2019

Pasal 14
(1) Menteri Perencanaan menyampaikan rancangan akhir
RPJMN 2015-2019 kepada Presiden untuk ditetapkan
menjadi RPJMN 2015-2019 dalam Peraturan Presiden.
(2) RPJMN 2015-2019 yang telah ditetapkan digunakan
sebagai bahan penyesuaian rancangan Renstra K/L dan
sebagai bahan penyusunan dan/atau penyesuaian
RPJMD.
(3) Penyesuaian Renstra K/L dengan RPJMN 2015-2019
dilakukan melalui Bilateral Meeting Penyesuaian Renstra
K/L dengan RPJMN 2015-2019.
(4) Penyesuaian RPJMD dengan RPJMN 2015-2019
dilakukan melalui Bilateral Meeting Penyesuaian RPJMD
dengan RPJMN 2015-2019.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai Tata Cara Bilateral
Meeting akan diatur lebih lanjut dengan Petunjuk
Pelaksanaan Bilateral Meeting Penyesuaian Renstra K/L
dan RPJMD dengan RPJMN 2015-2019 yang ditetapkan
oleh Sekretaris Kementerian Perencanaan Pembangunan
Nasional/Sekretaris Utama Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional.

Bagian Kedelapan
Pelaksanaan Sosialisasi RPJMN 2015-2019

Pasal 15
Kementerian Perencanaan melakukan sosialisasi atas RPJMN
2015-2019 yang sudah ditetapkan dengan Peraturan Presiden.

BAB III
KETENTUAN LAIN-LAIN

Pasal 16
Untuk menghasilkan dokumen perencanaan yang sistematis
dengan kerangka kerja logis yang koheren dan konsisten
disusun Tata Cara Penyusunan RPJMN 2015-2019 yang diatur
lebih lanjut dengan Petunjuk Pelaksanaan yang ditetapkan oleh
Sekretaris Kementerian Perencanaan Pembangunan

Nasional
- 10 -

Nasional/Sekretaris Utama Badan Perencanaan Pembangunan


Nasional.

Pasal 17
Dalam rangka menciptakan sinergi antara kebijakan dengan
kerangka regulasi untuk mendukung sasaran
pembangunan nasional disusun pedoman Kerangka Regulasi
yang diatur lebih lanjut dengan Petunjuk Pelaksanaan yang
ditetapkan oleh Sekretaris Kementerian Perencanaan
Pembangunan Nasional/ Sekretaris Utama Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional.

BAB IV
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 18
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan


pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya
dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal Desember 2014

MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/


KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL,

ARMIDA S. ALISJAHBANA

Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

AMIR SYAMSUDIN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2013 NOMOR
PETUNJUK PELAKSANAAN
NO. 3 /JUKLAK/SESMEN/06/2014

TENTANG

TATA CARA PENYUSUNAN


RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL
TAHUN 2015-2019
REPUBLIK INDONESIA
KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

PETUNJUK PELAKSANAAN
NO. 3 /JUKLAK/SESMEN/06/2014
TENTANG
TATA CARA PENYUSUNAN
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL
TAHUN 2015-2019

Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan amanat Pasal 16


Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional Nomor 1 Tahun 2014 tentang Tata Cara
Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional Tahun 2015-2015, perlu ditetapkan Petunjuk
Pelaksanaan Penyusunan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4421);
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
2005-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4700);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006
tentang Tata Cara Penyusunan Rencana
Pembangunan Nasional;

4. Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan


Nasional/Kepala Bappenas Nomor 1 Tahun 2014
tentang Pedoman Penyusunan Rencana

Pembangunan
-2-

Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun


2015-2019.
5. Peraturan Menteri Negara Perencanaan
Pembangunan Nasional/Kepala Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor PER.
005/M.PPN/10/2007 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Kementerian Negara Perencanaan
Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional, sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan
Menteri Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional Nomor 3 Tahun 2014;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PETUNJUK PELAKSANAAN TENTANG TATA CARA


PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA
MENENGAH NASIONAL TAHUN 2015-2019.

PERTAMA : Menetapkan Petunjuk Pelaksanaan Tentang Tata Cara


Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional Tahun 2015-2019.
KEDUA : Petunjuk Pelaksanaan tentang Tata Cara Penyusunan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
Tahun 2015-2019 sebagaimana dimaksud dalam
Diktum PERTAMA, tercantum dalam Lampiran
Keputusan ini yang merupakan satu kesatuan dan
bagian tidak terpisahkan dari Keputusan ini.
KETIGA : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 23 Juni 2014

SEKRETARIS KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/


SEKRETARIS UTAMA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL,

SLAMET SENO ADJI

LAMPIRAN
-3-

LAMPIRAN
PETUNJUK PELAKSANAAN
NO. 3 /JUKLAK/SESMEN/06/2014
TANGGAL 26 JUNI 2014

PETUNJUK PELAKSANAAN TENTANG


TATA CARA PENYUSUNAN
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL
TAHUN 2015-2019

KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/


BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
ii

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang.......................................................................................... 1
B. Tujuan...................................................................................................... 2
C. Ketentuan Umum...................................................................................... 2

II KERANGKA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA 5


MENENGAH NASIONAL TAHUN 2015-2019
A. Keterkaitan RPJMN dengan Dokumen Perencanaan Lainnya....................
5
B. Tahap Penyusunan RPJMN......................................................................
7
C. Penyusunan Struktur Kebijakan...............................................................
13
D. Kerangka Kerja Logis dalam penyusunan Program dan Kegiatan..............
17

III SUBSTANSI DAN STRUKTUR RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA 30


MENENGAH NASIONAL 2015 - 2019
A. RPJPN 2005-2025.................................................................................... 30
B. Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan.............................................. 32
C. Pengarusutamaan Pembangunan............................................................. 34
D. Kerangka Ekonomi Makro........................................................................ 35
E. Kaidah Pelaksanaan................................................................................. 35
F. Buku RPJMN 2015-2019.......................................................................... 37
G. Outline Buku RPJMN 2015-2019.............................................................. 38
IV PENUTUP 52

ANAK LAMPIRAN
1. Contoh Worksheet Kerangka Pikir Logis
2. Kerangka Pikir Logis
3. Tata Cara Penyusunan Kerangka Kelembagaan
4. Tahapan dan Tatacara Perumusan Kebijakan Kerangka
Kelembagaan dalam RPJMN 2015-2019
5. Alur/Mekanisme Penyusunan Kebijakan Kerangka Kelembagaan
dalam RPJMN 2015-2019
iii

6. Alur Kegiatan Penyusunan Kebijakan Kerangka Kelembagaan


7. Identifikasi Kerangka Kelembagaan RPJMN 2015-2019 (Disertai
Contoh)
8. Penyesuaian RPJMD dengan RPJMN 2015-2019
-1-

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan nasional merupakan rangkaian upaya


pembangunan berkesinambungan yang mencakup seluruh
aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara dalam rangka
mewujudkan tujuan nasional sebagaimana tercantum dalam
pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Dalam rangka memberikan arah dan prioritas pembangunan
maka diperlukan perencanaan pembangunan, baik perencanaan
jangka panjang, jangka menengah dan tahunan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)


2015-2019 merupakan RPJMN tahap ke-3 dari Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025,
dan merupakan kelanjutan dari RPJMN periode sebelumnya
(RPJMN 2010-2014). Berdasarkan hasil evaluasi, RPJMN 2010-
2014 telah menjadi acuan dalam pelaksanaan pembangunan,
namun belum seluruh bagian yang ada dalam RPJMN tersebut
dapat dioperasionalkan dengan baik. Hal ini disebabkan antara
lain : (1) Penyusunan struktur kebijakan yang ada dalam
RPJMN 2010-2014 belum semuanya menggunakan kerangka
kerja logis (logical framework) yang sesuai, sehingga rumusan
sasaran dan arah kebijakannya menjadi tidak jelas; (2) Indikator
yang digunakan masih belum dirumuskan dengan baik dan
terukur; (3) Terdapat perbedaan penggunaan istilah dan
sistimatika dalam Buku I, II dan III RPJMN sehingga sulit
menemukan benang merah antara ketiga buku tersebut.

Dalam rangka meningkatkan kualitas penyusunan RPJMN


Tahun 2015-2019 telah ditetapkan Peraturan Menteri
PPN/Kepala Bappenas Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pedoman

Penyusunan ...
-2-

Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional


Tahun 2015-2019. Untuk menghasilkan dokumen perencanaan
yang sistematis dengan kerangka kerja logis yang koheren dan
konsisten sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 16 Peraturan
Menteri PPN/Kepala Bappenas Nomor 1 Tahun 2014 maka perlu
ditetapkan Petunjuk Pelaksanaan Penyusunan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019.

B. Tujuan

Penyusunan Petunjuk Pelaksanaan ini sebagai panduan bagi:

1. Tim Penyusun RPJMN Tahun 2015-2019 dalam menyusun


RPJMN Tahun 2015-2019;

2. Unit kerja dalam mendukung penyusunan RPJMN Tahun


2015-2019.

C. Ketentuan Umum

1. Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan


tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan,
dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia.

2. Pembangunan Nasional adalah upaya yang dilaksanakan


oleh semua komponen bangsa dalam rangka mencapai
tujuan bernegara.

3. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang


diinginkan pada akhir periode perencanaan.

4. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang


akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi.

5. Isu Strategis adalah kondisi atau hal yang harus


diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan
pembangunan karena dampaknya yang signifikan dengan
karakteristik bersifat penting, mendasar, berjangka

menengah ...
-3-

menengah/panjang, dan bersifat sebagai pengungkit untuk


mencapai sasaran nasional.

6. Arah kebijakan merupakan penjabaran misi dan memuat


strategi yang merupakan kerangka pikir atau kerangka
kerja untuk menyelesaikan masalah dalam rangka
mencapai sasaran yaitu perubahan kondisi sosial
masyarakat yang ingin dicapai dalam 5 tahun ke depan.
7. Strategi merupakan cara yang digunakan untuk
melaksanakan arah kebijakan yang telah ditetapkan, yang
berisikan program-program.
8. Program Lintas adalah program yang bersifat mewadahi
kegiatan-kegiatan prioritas yang dikelompokkan
berdasarkan karekteristik tertentu dalam rangka
mendukung pencapaian sasaran Prioritas Nasional yang
dapat bersifat lintas program, lintas K/L, lintas bidang atau
lintas wilayah.

9. Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau


lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi/lembaga
pemerintah untuk mencapai sasaran dan tujuan yang
disertai penyediaan alokasi anggaran, atau kegiatan
masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah.

10. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan


oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian untuk
pencapaian sasaran yang terukur pada suatu program dan
terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya
untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk
barang/jasa.

11. Masukan (Input) adalah sumber daya yang diperlukan


untuk melakukan kegiatan yang perlukan dalam rangka
untuk menghasilkan output.

12. Keluaran
-4-

12. Keluaran (Output) atau Sasaran kegiatan adalah barang


atau jasa yang dihasilkan oleh suatu kegiatan yang
dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan
tujuan program dan kebijakan.

13. Hasil (Outcome) atau Sasaran program adalah segala


sesuatu dihasilkan dari suatu program yang mencerminkan
berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan.

14. Dampak (Impact) adalah pernyataan perubahan pada


masyarakat seperti apa yang ingin dituju sebagai akibat
dari hasil pembangunan yang tercapai yang bersifat Jangka
Menengah atau Jangka Panjang.

15. Menteri adalah Menteri Perencanaan Pembangunan


Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional.

BAB II
-5-

BAB II
KERANGKA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA
MENENGAH NASIONAL TAHUN 2015-2019

A. Keterkaitan RPJMN dengan Dokumen Perencanaan Lainnya


1. Pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional (RPJPN) terbagi dalam 5 (lima) tahap periodisasi
RPJMN sesuai dengan visi, misi, dan program Presiden
yang dipilih secara langsung oleh rakyat;

2. RPJMN memuat arah kebijakan, strategi pembangunan


nasional, program Kementerian/Lembaga (K/L) dan lintas
K/L, kewilayahan dan lintas kewilayahan, serta kerangka
ekonomi makro;

3. RPJMN dijabarkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah


(RKP), yang merupakan rencana pembangunan tahunan
nasional;

4. RKP memuat prioritas pembangunan nasional, rancangan


kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran
perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan
fiskal, program K/L, lintas K/L, kewilayahan dan lintas
kewilayahan yang didukung dengan kerangka regulasi dan
kerangka pendanaan yang bersifat indikatif;

5. RPJMN menjadi pedoman penyusunan Rencana Strategis


(Renstra) K/L dalam rangka mendukung pencapaian
program prioritas Presiden;

6. Renstra K/L memuat visi, misi, tujuan, arah kebijakan dan


strategi yang memuat program dan kegiatan pembangunan
sesuai dengan tugas dan fungsi K/L;

7. Renstra K/L dijabarkan ke dalam Rencana Kerja K/L


(Renja K/L) yang merupakan rencana tahunan K/L;

8. Renja...
-6-

8. Renja K/L disusun dengan berpedoman pada Renstra K/L


dan mengacu pada RKP;

9. Renja K/L memuat kebijakan, program, dan kegiatan


pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh
Pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong
partisipasi masyarakat;

10. RPJMN diperhatikan oleh Pemerintah Daerah dalam


menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD);

11. RPJMD merupakan penjabaran dari visi, misi dan program


prioritas Gubernur yang memuat arah kebijakan dan
strategi pembangunan daerah jangka menengah;

12. RPJMD harus diselaraskan dengan arah kebijakan,


prioritas pembangunan nasional, prioritas pembangunan
bidang dan pembangunan kewilayahan sesuai dengan
kewenangan, kondisi dan karakteristik daerah;

13. Keterkaitan antara RPJMN dengan dokumen perencanaan


lain tersebut dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 1 ...
-7-

Gambar 1
Keterkaitan antara RPJMN dengan Dokumen
Perencanaan lain

B. Tahap Penyusunan RPJMN

1. Penyusunan Kajian Pendahuluan (Background Study)

Kajian pendahuluan disusun pada tahun terakhir RPJMN


berjalan untuk menganalisis berbagai kebijakan RPJMN
berjalan dan menghasilkan rekomendasi untuk perbaikan
kebijakan. Kajian pendahuluan dilakukan oleh Kedeputian
Bappenas sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Hasil
kajian pendahuluan menjadi salah satu masukan dalam
penyusunan rancangan teknokratik RPJMN.

2. Pelaksanaan ...
-8-

2. Pelaksanaan Evaluasi RPJMN 2010-2014

Evaluasi pelaksanaan RPJMN 2010-2014 dikoordinasikan


oleh Deputi Bidang Evaluasi Kinerja Pembangunan untuk
mengetahui hasil capaian kinerja pembangunan dan
mengidentifikasi berbagai permasalahan yang belum
terselesaikan pada periode 2010-2014 serta tindak lanjut
yang direkomendasikan sebagai bahan untuk perumusan
dan perbaikan kebijakan/program kegiatan RPJMN 2015-
2019.

3. Penyusunan Rancangan Rencana Pembangunan Secara


Teknokratik

Penyusunan rancangan teknokratik RPJMN dilakukan


dengan menggunakan metode dan kerangka pikir logis
untuk menganalisis kondisi obyektif dengan
mempertimbangkan beberapa skenario pembangunan
selama periode rencana berikutnya. Penyusunan
rancangan teknokratik RPJMN dilakukan dengan
mempertimbangkan RPJPN 2005-2025, hasil kajian
pendahuluan, hasil evaluasi dan aspirasi masyarakat.
Penjaringan aspirasi masyarakat dilakukan melalui
pertemuan dengan para pemangku kepentingan
(stakeholders) antara lain para pakar, tokoh politik, dan
tokoh masyarakat.

4. Penyiapan Rancangan Awal RPJMN

a. Rancangan Awal RPJMN mulai disiapkan pada tahun


terakhir RPJMN berjalan, dengan mengacu pada
RPJPN, visi/misi dan program prioritas presiden
terpilih, dan berdasarkan pada rencana teknokratik
yang telah mempertimbangkan hasil evaluasi
pelaksanaan RPJMN berjalan, hasil kajian

pendahuluan ...
-9-

pendahuluan (background study) RPJMN serta aspirasi


masyarakat;

b. Rancangan awal RPJMN memuat kebijakan umum,


strategi pembangunan, dan program prioritas
Presiden, serta kerangka ekonomi makro;

c. Program prioritas Presiden dijabarkan ke dalam isu


strategis yang bersifat lintas Kementerian/Lembaga
dan kewilayahan yang dilengkapi dengan indikasi
sasaran nasional;

d. Rancangan awal RPJMN disampaikan kepada Presiden


untuk disepakati dalam sidang Kabinet dan menjadi
pedoman atau acuan penyusunan Rancangan Renstra
K/L.

5. Penyiapan Rancangan Renstra K/L

a. Pimpinan K/L menyusun Rancangan Renstra K/L


yang diawali dengan penyusunan rancangan rencana
pembangunan secara teknokratik di sektornya dengan
memperhatikan hasil evaluasi dan aspirasi
masyarakat;

b. Rancangan teknokratik K/L perlu disinkronkan


dengan rancangan teknokratik RPJMN;

c. Pimpinan K/L berkoordinasi dengan Pemerintah


Daerah untuk mengidentifikasikan pembagian tugas
dalam pencapaian sasaran nasional di sektornya;

d. Renstra K/L memuat visi, misi, tujuan, arah kebijakan


dan strategi yang memuat program dan kegiatan
sesuai dengan tugas dan fungsi K/L dengan
berpedoman pada Rancangan Awal RPJMN;

e. Rancangan ...
-10-

e. Rancangan Renstra K/L disampaikan kepada Menteri


untuk ditelaah.

6. Penyusunan Rancangan RPJMN

a. Rancangan RPJMN disusun menggunakan Rancangan


Awal RPJMN dan hasil penelahaan Rancangan Renstra
K/L;

b. Menteri menelaah Rancangan Renstra K/L agar :

1) Sasaran program prioritas Presiden terjabarkan


kedalam tujuan K/L dan tugas yang akan
dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah sesuai
dengan kewenangannya; dan

2) Kebijakan K/L konsisten sebagai penjabaran dari


Rancangan Awal RPJMN.

c. Penelaahan Rancangan Renstra K/L meliputi


penelaahan terhadap konsistensi Rancangan Renstra
K/L dengan Rancangan Awal RPJMN dan batasan
substansi rancangan Renstra K/L.

1) Penelaahan konsistensi Rancangan Renstra K/L


meliputi konsistensi sasaran tujuan K/L dengan
sasaran program prioritas Presiden, konsistensi
arah kebijakan K/L dengan arah kebijakan
nasional, konsistensi program/kegiatan K/L
dengan program/kegiatan nasional serta
konsistensi kebutuhan sumberdaya dengan
kondisi ekonomi makro yang tertuang dalam
rancangan awal RPJMN.

2) Penelaahan batasan substansi Rancangan Renstra


K/L dilakukan terhadap isi pokok Rancangan
Renstra K/L yang meliputi visi, misi, tujuan, arah

kebijakan ...
-11-

kebijakan dan strategi sesuai dengan tugas dan


fungsi K/L.

d. Hasil penelaahan Rancangan Renstra K/L digunakan


sebagai bahan penyempurnaan rancangan awal
RPJMN menjadi rancangan RPJMN dan bahan
penyempurnaan Rancangan Renstra K/L.

e. Rancangan RPJMN selanjutnya digunakan sebagai


bahan utama dalam Musrenbang Jangka Menengah
Nasional.

7. Pelaksanaan Musrenbang Jangka Menengah Nasional

a. Musrenbang Jangka Menengah Nasional merupakan


proses perencanaan partisipatif yang
mengikutsertakan unsur-unsur penyelenggara negara
dan masyarakat untuk menyempurnakan Rancangan
RPJMN;

b. Musrenbang Jangka Menengah Nasional


diselenggarakan paling lambat 2 bulan setelah
Presiden dilantik.

c. Hasil Musrenbang Jangka Menengah Nasional


digunakan sebagai bahan penyempurnaan rancangan
RPJMN menjadi Rancangan Akhir RPJMN.

8. Penyusunan Rancangan Akhir RPJMN

a. Rancangan Akhir RPJMN disusun berdasarkan hasil


Musrenbang Jangka Menengah Nasional;
b. Rancangan Akhir RPJMN dibahas dalam Sidang
Kabinet untuk penyempurnaan.

9. Penetapan ...
-12-

9. Penetapan RPJMN

a. Rancangan Akhir RPJMN yang telah disempurnakan


ditetapkan menjadi RPJMN dengan Peraturan
Presiden;

b. Rancangan Akhir RPJMN ditetapkan paling lambat 3


(tiga) bulan setelah Presiden dilantik.

10. Penyesuaian Renstra K/L dan RPJMD dengan RPJMN

a. RPJMN yang telah ditetapkan digunakan untuk :

1) pedoman penyesuaian Renstra K/L;

2) bahan penyusunan dan perbaikan RPJMD dengan


memperhatikan tugas Pemerintah Daerah dalam
mencapai sasaran nasional yang termuat dalam
RPJMN.

b. Penyesuaian Renstra K/L dengan RPJMN dilakukan


melalui Bilateral Meeting Penyesuaian Renstra K/L
dengan RPJMN;

c. Bilateral Meeting Penyesuaian Renstra K/L bertujuan


menjaga konsistensi dan sinergi sasaran dan arah
kebijakan pembangunan yang tertuang dalam Renstra
K/L dengan yang ada dalam RPJMN.

d. Penyesuaian RPJMD dengan RPJMN dilakukan


melalui Bilateral Meeting Penyesuaian RPJMD dengan
RPJMN;

e. Bilateral Meeting Penyesuaian RPJMD bertujuan


menjaga konsistensi sasaran dan arah kebijakan
pembangunan yang tertuang dalam RPJMN menjadi
prioritas dalam RPJMD terkait serta meningkatkan
koordinasi dan kesepahaman dalam rangka mencapai
sasaran pembangunan nasional.

f. Alur ...
-13-

f. Alur penyusunan RPJMN dan kaitannya dalam


penyusunan dokumen perencanaan adalah sebagai
berikut:

Gambar 2: Alur Penyusunan RPJMN

C. Penyusunan Struktur Kebijakan

1. Penyusunan Logika Berfikir

a. Penyusunan Struktur Kebijakan (Policy Structure),


dilakukan dengan menggunakan kerangka kerja logis;

b. Penyusunan struktur kebijakan dilakukan berdasarkan


logika berfikir yang konsisten, yaitu:

1) Identifikasi permasalahan;

2) Penyusunan isu strategis;

3) Penentuan sasaran pokok yang ingin dicapai;

4) Penetapan ...
-14-

4) Penetapan arah kebijakan dan strategi pelaksanaan


untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan.

c. Penyusunan struktur kebijakan yang disusun secara


sistematis bertujuan agar perencanaan dapat
dilaksanakan dan dievaluasi.

2. Identifikasi Permasalahan dan Penyusunan Isu Strategis

a. Perumusan kebijakan pembangunan nasional dimulai


dengan identifikasi permasalahan yang dihadapi dan
penyebab permasalahan yang dirumuskan berdasarkan
hasil evaluasi RPJMN periode sebelumnya, background
study RPJMN dan kondisi bangsa saat ini (baseline);
b. Permasalahan yang telah teridentifikasi menjadi dasar
bagi perumusan isu strategis;
c. Isu strategis merupakan hal-hal yang harus diperhatikan
atau diutamakan dalam perencanaan pembangunan;
d. Isu strategis disusun berdasarkan permasalahan yang
teridentifikasi, tantangan yang akan dihadapi dalam
periode 5 (lima) tahun kedepan (2014-2019), masukan
dari pemangku kepentingan, serta isu nasional dan isu
global yang sangat mendesak untuk dipertimbangkan;
e. Karakter isu strategis adalah kondisi atau hal yang
bersifat penting, mendasar, berjangka
menengah/panjang, dan bersifat sebagai pengungkit
untuk mencapai sasaran nasional;
f. Penyusunan rumusan isu-isu strategis memerlukan
analisis terhadap berbagai fakta dan informasi kunci yang
telah diidentifikasi untuk dipilih menjadi isu strategis.

3. Penetapan ...
-15-

3. Penetapan Sasaran Pokok Nasional

a. Sasaran pokok pembangunan nasional merupakan tujuan


akhir (goal) yang ingin dicapai dari Pembangunan Jangka
Menengah Nasional 2015-2019;
b. Sasaran Pokok Pembangunan Nasional ditetapkan
berdasarkan permasalahan, tantangan dan isu strategis
yang telah teridentifikasi, skala prioritas RPJPN 2005-
2025 serta visi, misi dan program prioritas presiden
terpilih;
c. Sasaran Pokok Nasional yang telah ditetapkan menjadi
dasar bagi penentuan arah kebijakan dan strategi
pembangunan.

4. Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan Nasional

a. Arah kebijakan pembangunan nasional merupakan


kebijakan utama yang diambil untuk menyelesaikan
permasalahan dan isu strategis yang telah
teridentifikasi dalam rangka mencapai sasaran yang
telah ditetapkan;

b. Arah kebijakan memuat strategi dan merupakan


kerangka pikir atau kerangka kerja sebagai dasar
penetapan Prioritas Nasional, Prioritas Bidang,
Program Lintas untuk mewujudkan Sasaran Pokok
Nasional yang telah ditetapkan;

c. Masing-masing Prioritas Nasional, Prioritas Bidang


memiliki sasaran yang ingin dicapai pada akhir
periode RPJMN 2014-2019, arah kebijakan dan
strategi pembangunan;

d. Setiap rantai hasil/pencapaian digunakan berbagai


indikator untuk mengukurnya, antara lain:

1) Pencapaian ...
-16-

1) Pencapaian Prioritas Nasional diukur dengan


indikator kinerja prioritas nasional (indikator
impact/dampak);

2) Program Lintas diukur dengan menggunakan


indikator kinerja Program Lintas (indikator
outcome antara/intermediate outcome);

3) Program diukur dengan indikator kinerja program


(indikator outcome langsung/immediate outcome);

4) Pencapaian Kegiatan diukur dengan indikator


kinerja kegiatan (indikator output).

Gambar 3
Level Indikator dalam Struktur Kebijakan

Indikator KinerjaPrioritas
Fokus Prioritas Indikator Kinerja Prioritas
Nasional
Nasional (Indikator Dampak)

Indikator Kinerja Program Lintas


Program Lintas (Indikator Outcome Antara)

Program Indikator Kinerja Program


(Indikator Outcome Langsung)

Indikator Kinerja Kegiatan


Kegiatan
(Indikator Output)

e. Strategi Pembangunan Nasional merupakan cara yang


digunakan untuk melaksanakan arah kebijakan yang
telah ditetapkan;

f. Strategi pembangunan Nasional memuat program-


program dan kegiatan yang mendukung pencapaian
sasaran pembangunan nasional;

g. Alur ...
-17-

g. Alur perumusan struktur kebijakan (policy structure)


dalam perumusan arah kebijakan pembangunan
nasional RPJMN 2015-2019 adalah sebagai berikut:

Gambar 4
Alur Perumusan Arah Kebijakan Pembangunan

D. Kerangka Kerja Logis dalam Penyusunan Program dan Kegiatan


1. Kerangka kerja logis merupakan kerangka pikir secara logis
yang mengaitkan berbagai tahapan atau kegiatan dan
memberikan pemetaan untuk pencapaian misi suatu
program/kegiatan;

2. Kerangka kerja logis menjelaskan tujuan dan sasaran dari


kebijakan ataupun program, dan aliran kontribusi
pencapaian hasil kinerja dari setiap tahap
program/kegiatan dalam pencapaian sasaran;

3. Kerangka kerja logis merupakan diagram/bagan yang


menggambarkan program/kegiatan saling terkait dan
bekerja dengan baik untuk mencapai sasaran

pembangunan ...
-18-

pembangunan, antara lain capaian sasaran Prioritas


Nasional;

4. Keterkaitan antara program/kegiatan dalam mendukung


pencapaian Prioritas Nasional adalah sebagai berikut:

Gambar 5
Struktur Kebijakan (Policy Structure) dan Kinerja
Pembangunan RPJMN 2015-2019

5. Keterkaitan sebagaimana dimaksud pada angka 4,


menunjukkan hubungan dari kegiatan menjadi hasil
dengan alur sebab akibat yang sederhana (satu arah) atau
kompleks (multi arah), sehingga kinerja suatu
program/kegiatan dapat diidentifikasi pada masing-masing
level, dan kinerja tersebut dapat diukur dengan lebih baik;

6. Kerangka kerja logis ini menggambarkan hubungan antara


input-proses-output-outcome dan impact dalam pelaksanaan
suatu program/kegiatan;

7. Penyusunan kerangka kerja logis dapat dilakukan melalui


langkah-langkah umum dengan menggunakan Kertas Kerja
Kerangka Kerja Logis;

8. Kerangka ...
-19-

8. Kerangka kerja logis diawali dengan mengidentifikasi


masalah yang ingin diselesaikan melalui program/kegiatan
dan merunut hingga outcome yang ingin dicapai;

9. Tahapan penerapan kerangka kerja logis adalah sebagai


berikut:

Gambar 6
Langkah Penerapan Kerangka Kerja Logis

a. Uraikan rasional dari program: Identifikasi


permasalahan dan dampak yang diinginkan.

1) Identifikasi permasalahan yang dihadapi target


group/masyarakat dan penyebab permasalahan
yang mendorong perlunya program;
a) permasalahan yang menyebabkan program
dibutuhkan (kondisi awal, dapat ditunjukkan
dengan indikator baseline);
b) penyebab-penyebab permasalahan yang
telah diketahui;
c) pilih beberapa penyebab utama yang akan
ditangani oleh program ini sesuai dengan
kemampuan.

2) Tentukan ...
-20-

2) Tentukan dampak yang ingin dicapai dari


pelaksanaan program tersebut;
a) kembangkan pernyataan tentang dampak
yang diinginkan;
b) pernyataan dampak harus merefleksi situasi
yang hendak dicapai berkenaan dengan
permasalahan yang dihadapi.

3) Contoh konversi pernyataan Permasalahan


menjadi pernyataan Dampak.
Permasalahan: Rendahnya tingkat kesehatan ibu
dan anak. Hal ini ditunjukkan oleh tingginya
Angka Kematian Ibu dan Bayi, rendahnya status
kesehatan dan gizi pada ibu hamil/menyusui,
bayi dan balita serta rendahnya tingkat
keberlanjutan pelayanan kesehatan pada ibu dan
anak.

Penyebab utama permasalahan yang dipilih


untuk diselesaikan adalah:

a) masih terbatasnya pengetahuan dan


keterampilan tentang kesehatan ibu, bayi
dan balita baik masyarakat maupun tenaga
pelayanan kesehatan.

b) rendahnya penanganan masalah gizi pada


ibu hamil dan menyusui, bayi dan balita.

Dampak: Meningkatnya derajat kesehatan ibu


dan anak melalui peningkatan kesehatan ibu,
bayi dan balita, dengan adanya peningkatan
pengetahuan dan keterampilan dikalangan
masyarakat maupun tenaga kesehatan serta

Peningkatan ...
-21-

peningkatan penanganan masalah gizi pada ibu


hamil/menyusui, bayi dan balita.

b. Buatlah rantai sebab-akibat dari outcome yang


menghasilkan dampak yang diperlukan untuk
menangani situasi (permasalahan):

1) menyusun rangkaian sebab-akibat dari


outcome/manfaat langsung dan manfaat antara
yang dibutuhkan untuk menangani
kondisi/masalah dan mencapai dampak yang
diinginkan.

2) Outcome antara (Intermediate Outcome)


merupakan rangkaian manfaat yang menuju pada
dampak, dengan ketentuan:
a) Outcome antara merupakan manfaat yang
terkait dengan penyebab yang akan
ditangani.
b) Outcome antara disusun dengan
mengkonversikan kendala ke dalam
pernyataan manfaat yang positif.
Contoh outcome antara:
Jika rendahnya tingkat kesehatan ibu dan anak
adalah penyebabnya maka outcome/manfaat yang
diinginkan adalah peningkatan kesehatan ibu dan
anak (proses yang sama seperti mengkonversi
permasalahan menjadi dampak).

3) Outcome Langsung (Immediate Outcome) adalah


manfaat yang merupakan efek langsung dari hasil
program. Manfaat langsung berkaitan dengan apa
yang harus dicapai oleh program sehingga
manfaat antara dapat tercapai.

c. Uraikan ...
-22-

c. Uraikan apa yang dilakukan program untuk


mencapai setiap manfaat.

1) Output adalah berbagai produk atau layanan


tangible yang disalurkan oleh suatu program agar
berkontribusi kepada pencapaian berbagai
tahapan outcome/manfaat program.
2) Kegiatan (proses) adalah segala sesuatu yang
dilakukan program untuk mencapai
outcome/manfaat. Hal ini termasuk program dan
pelayanan publik, dan mendukung pelaksanaan
seluruh kegiatan manajemen organisasi yang
diperlukan untuk program dan pelayanan.
3) Input adalah sumber daya, baik manusia, dana
dan lainnya yang digunakan untuk menghasilkan
output.

d. Uraikan kondisi yang diinginkan (kriteria sukses)


dari setiap dampak, outcome, output dan input.

1) berdasarkan dampak, outcome, output, dan input


yang telah disusun maka perlu ditetapkan kriteria
keberhasilan yang diinginkan, misalnya terkait
kuantitas, kualitas, standar yang digunakan,
timeliness, dan sebagainya.
2) Untuk mengidentifikasi kriteria keberhasilan,
dapat dilakukan beberapa hal berikut :
a) mendefinisikan terminologi dari outcome,
proses, output dalam suatu pernyataan;
b) menentukan what, with whom, when, where,
how, why? dari masing-masing
tahapan/proses;

c) melakukan ...
-23-

c) melakukan konsultasi dengan para


stakeholder (siapa saja stakeholder dan apa
yang merupakan concern mereka).

e. Identifikasi indikator-indikator kinerja yang


relevan untuk setiap kriteria sukses.

1) Berdasarkan kriteria sukses sebagaimana


dimaksud pada huruf d, disusun indikator kinerja
yang tepat, yang relevan dengan kriteria sukses
tersebut, baik untuk level dampak, outcome,
output maupun input;
2) Indikator yang digunakan harus dapat diukur
dan dipertanggungjawabkan;
3) Setiap indikator, baik ukuran kuantitatif maupun
kualitatif, sudah tersedia informasi tentang jenis
data-data yang akan digali, sumber data, dan
cara mendapatkan data tersebut;
4) Indikator yang tepat harus memenuhi kriteria
Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan
Time-Bound (SMART).

D.1 Kriteria Indikator Kinerja


1. Indikator kinerja merupakan variabel kuantitatif atau
kualitatif untuk mengukur pencapaian kemajuan atau
perubahan yang terjadi akibat dari suatu intervensi yang
dilakukan, dan digunakan untuk mengukur atau menilai
pencapaian kinerja (kualitas kerja) suatu organisasi atau
agen pembangunan;
2. Penetapan indikator kinerja penting untuk mendukung
pelaksanaan rencana, pengukuran kinerja dan kepastian
akuntabilitasnya;

3. Dokumen ...
-24-

3. Dokumen perencanaan yang akuntabel mempunyai


sasaran dan indikator kinerja yang relevan dan tepat,
konsistensi dan koherensi serta ketepatan penetapan
indikator capaian kinerja sesuai hierarkinya, dimulai dari
dampak, outcome, output, dan input;
4. Dalam menyusun indikator kinerja perlu untuk
mempertimbangkan kriteria indikator kinerja SMART
sebagai berikut:

a. Specific/Spesifik (S)

Terdefinisikan dengan jelas dan fokus sehingga tidak


menimbulkan multitafsir. Hanya mengukur unsur
indikator (output, outcome, atau dampak) yang
memang ditujukan untuk mengukur dan tidak ada
unsur-unsur lain dalam indikator tersebut.

b. Measurable/Terukur (M)

Dapat diukur dengan skala penilaian tertentu


(kuantitas atau kualitas). Untuk jenis data dalam
bentuk kualitas dapat dikuantitatifkan dengan
persentase atau nominal. Terukur juga berarti dapat
dibandingkan dengan data lain dan jelas
mendefinisikan pengukuran, artinya data yang
dikumpulkan oleh orang yang berbeda pada waktu
yang berbeda adalah konsisten.

c. Attributable/Achievable/Accountable/Attainable (A)

Dapat dicapai dengan biaya yang masuk akal dan


dengan metode yang sesuai, serta berada di dalam
rentang kendali/akuntabilitas dan kemampuan unit
kerja dalam mencapai target kinerja yang ditetapkan.
Kredibel dalam kondisi yang diharapkan. Indikator
dapat diperoleh dengan program atau kegiatan itu

sendiri ...
-25-

sendiri dan tidak bergantung pada data eksternal.


Indikator harus diterapkan dan dicapai oleh sumber
daya internal program atau kegiatan. Indikator juga
harus sudah disepakati dalam pengertian umum.

d. Result-Oriented/Relevant (R)

Terkait secara logis dengan program/kegiatan yang


diukur, tupoksi serta realisasi tujuan dan sasaran
strategis organisasi.

e. Time-Bound (T)

Memperhitungkan rentang waktu pencapaian, untuk


analisa perbandingan kinerja dengan masa-masa
sebelumnya. Dapat dilakukan dalam jangka waktu
tertentu.

D.2 Pendekatan Penentuan Indikator Outcome


1. Penetapan Indikator Outcome dari Perubahan Atas
Pelaksanaan Berbagai Kegiatan (Penyusunan
Indikator Outcome Berdasarkan Kerangka Kerja
Logis)

a. Capaian indikator outcome menandakan capaian


perubahan yang diharapkan sebagai hasil dari
pelaksanaan berbagai kegiatan.

b. Indikator outcome merupakan tolak ukur sejauh


mana tujuan program telah dicapai.

c. Indikator outcome dapat ditetapkan dengan


mengukur resultan berbagai indikator outcome
langsung dari berbagai kegiatan.

Gambar 7 ...
-26-

Gambar 7
Indikator Outcome dari Pelaksanaan Berbagai Kegiatan

Gambar 8
Contoh Indikator Outcome dari Pelaksanaan
Berbagai Kegiatan

Peningkatan Kualitas Hidup, kesejahteraan dan


DAMPAK independensi
Mortalitas, Morbiditas, Disabilitas

Pelayanan
INDIKATOR Lingkungan yang
Pola hidup sehat kesehatan yang
OUTCOME ANTARA sehat
efektif

Penerapan
INDIKATOR Kesadaran akan
Pengaruh dan kebijakan dan
OUTCOME pentingnya
kegiatan sosial organisasi
LANGSUNG kesehatan
kesehatan

Penyediaan
Advokasi
Edukasi kesehatan fasilitas
KEGIATAN kesehatan oleh
bagi masyarakat kesehatan bagi
pemerintah
masyarakat

2. Indikator ...
-27-

2. Indikator Outcome dari Data Primer atau Data


Sekunder
a. Indikator outcome dapat ditetapkan dengan
menggunakan data primer atau data sekunder
berupa nilai/besaran/indeks yang diperoleh
melalui penelitian/survey.

b. Penelitian atau survey dapat dilakukan oleh


lembaga tertentu (antara lain Kementerian/
Lembaga, Organisasi Independen, Badan
Internasional, dll).

c. Beberapa contoh indikator outcome hasil


penelitiam atau survey antara lain Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG), Angka Kematian Ibu
Melahirkan (AKI), dan Angka Partisipasi Kasar
(APK).

d. Berbagai lembaga Internasional memiliki


referensi terkait indikator yang dapat digunakan,
antara lain: (1) Laporan-laporan pencapaian
MDGs, (2) UNDPs Human Development Index,
target Pembangunan Manusia Berkelanjutan
(Sustainable Human Development Goals), (3) the
World Bank Report, misalnya: Handbook
Pembangunan Pedesaan, dan (4) IMF, Financial
Soundness Indicators.

Gambar 9 ...
-28-

Gambar 9
Indikator Outcome dalam Bentuk Data Primer/Data
Sekunder
Indikator Outcome merupakan Indikator Outcome merupakan
Composite Index dari Indikator Output Pemanfaatan Hasil Survey

Indeks Gabungan (Composite Indexes) diperoleh


dengan membobot output
OUTCOME
OUTCOME
Indikator : (I = Pt/Pt-1 x 100)

Output 1 Output 2 Output 3


Indikator Indikator Indikator
Output 1 Output 2 Output 3 output 1 output 2 output 3
Indikator Indikator Indikator
output 1 : (Pta) output 2 : (Ptb) output 3: (Ptc)

Gambar 10
Contoh Indikator Outcome dalam Bentuk Data Sekunder

3. Menetapkan Indikator Outcome dari Output


Terpenting
a. Penggunaan indikator outcome dengan
menggunakan indikator terpenting hanya
dilakukan jika indikator outcome tidak dapat

ditentukan ...
-29-

ditentukan dengan menggunakan 2 (dua)


pendekatan sebelumnya ataupun pendekatan
lainnya.

b. Indikator outcome ditetapkan dengan


menggunakan beberapa indikator output yang
dianggap penting dari berbagai kegiatan.

c. Indikator output yang dianggap penting tersebut


adalah indikator yang memberikan kontribusi
terbesar terhadap pencapaian indikator outcome.

Gambar 11
Indikator Outcome merupakan Beberapa Indikator Output Terpenting

Bab III ...


-30-

BAB III
SUBSTANSI DAN STRUKTUR RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA
MENENGAH NASIONAL 2015-2019

A. RPJPN 2005-2025
1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN)
2005-2025 bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang
terlindungi, sejahtera, cerdas dan berkeadilan.

2. Dalam rangka mencapai visi tersebut maka dilakukan


upaya-upaya ideal melalui 8 (delapan) misi pembangunan,
yaitu: (1) Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia,
bermoral, beretika, berbudaya dan beradab, (2)
Mewujudkan bangsa yang berdaya saing, (3) Mewujudkan
masyarakat demokratis berlandaskan hukum, (4)
Mewujudkan Indonesia aman, damai, dan bersatu, (5)
Mewujudkan pemerataan pembangunan dan keadilan, (6)
Mewujudkan Indonesia asri dan lestari, (7) Mewujudkan
Indonesia menjadi Negara Kepulauan yang mandiri, maju,
kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional, dan (8)
Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan
dunia internasional.

3. Pencapaian sasaran pokok RPJPN 2005-2025 pada masing-


masing misi pembangunan tersebut, dilakukan melalui
tahapan dan skala prioritas pembangunan jangka
menengah.

4. Misi pembangunan sebagaimana dimaksud pada angka 3,


di dalam setiap tahap rencana pembangunan jangka
menengah dijabarkan arah pembangunan dan sasaran
pokok 5 (lima) tahunannya.

5. Tahapan ...
-31-

5. Tahapan pembangunan dalam RPJPN adalah sebagai


berikut:

RPJMN 1 Menata kembali NKRI, membangun


(2005-2009) Indonesia yang aman dan damai, adil dan
demokratis, dengan tingkat kesejahteraan
yang lebih baik.

RPJMN 2 Memantapkan penataan kembali NKRI,


(2010-2014) meningkatkan kualitas SDM, membangun
kemampuan Iptek, memperkuat daya
saing perekonomian.

RPJMN 3 Memantapkan pembangunan secara


(2015-2019) menyeluruh dengan menekankan
pembangunan keunggulan kompetitif
perekonomian yang berbasis SDA yang
tersedia, SDM yang berkualitas, serta
kemampuan Iptek.

RPJMN 4 Mewujudkan masyarakat Indonesia yang


(2020-2025) mandiri, maju, adil, dan makmur melalui
percepatan pembangunan di berbagai
bidang dengan struktur perekonomian
yang kokoh berlandaskan keunggulan
kompetitif.

6. Sesuai dengan RPJPN 2005-2025 prioritas pembangunan


RPJMN 2015-2019 adalah pemantapan pembangunan
secara menyeluruh dengan penekanan pada
pembangunan keunggulan kompetitif perekonomian
berbasis:

a. Keunggulan Sumber Daya Alam.


b. Kualitas Sumber Daya Manusia.
c. Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
7. Keunggulan SDA, SDM yang berkualitas dan penguasaan
Iptek akan dapat meningkatkan daya saing ekonomi
nasional menuju pembangunan berkelanjutan, inklusif dan
berkeadilan sehingga tercapai tujuan akhir nasional, yaitu
peningkatan kesejahteraan rakyat.

8. Pencapaian ...
-32-

8. Pencapaian tujuan tersebut dilakukan melalui strategi


pembangunan dari 9 (sembilan) Bidang Pembangunan
RPJPN 2005-2025 yaitu: (1) Sosial Budaya dan Kehidupan
Beragama, (2) Ekonomi, (3) Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi, (4) Politik, (5) Pertahanan dan Kemanan, (6)
Hukum dan Aparatur, (7) Pembangunan Wilayah dan Tata
Ruang, (8) Penyediaan Sarana dan Prasarana, dan (9)
Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup.
9. Kerangka pembangunan berkelanjutan dalam RPJMN
2015-2019 digambarkan sebagai berikut :

Gambar 12
Kerangka Penyusunan RPJMN 2015-2019: Pembangunan
Berkelanjutan, Inklusif dan Berkeadilan

B. Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan

1. Arah kebijakan merupakan kebijakan utama yang diambil


untuk menyelesaikan permasalahan dan isu strategis
dalam rangka mencapai sasaran pembangunan, yaitu

perubahan ...
-33-

perubahan kondisi yang ingin dicapai pada 5 (lima) tahun


ke depan.
2. Arah kebijakan memuat strategi sebagai dasar penetapan
Prioritas pembangunan nasional.
3. Strategi pembangunan merupakan cara yang digunakan
untuk melaksanakan arah kebijakan yang telah ditetapkan.
Strategi pembangunan dilaksanakan melalui pelaksanaan
program dan kegiatan pada masing-masing Prioritas
Nasional/Bidang Pembangunan.
4. Prioritas Nasional adalah penjabaran visi, misi, dan
program prioritas Presiden dan Wakil Presiden terpilih
untuk periode 2015-2019 yang telah dicanangkan
semenjak masa kampanyenya, dan mempertimbangkan
hal-hal penting lainnya.
5. Keberhasilan capaian Prioritas Nasional diukur
menggunakan indikator dampak/impact.
6. Keberhasilan pencapaian Prioritas Nasional tidak hanya
ditentukan oleh kinerja pemerintah tapi juga pelaku
pembangunan lainnya, seperti pihak swasta dan
masyarakat.
7. Penentuan Prioritas Nasional dilakukan berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
a. Prioritas dalam konteks sasaran RPJPN 2005-2025
tahap ke-3 yaitu RPJMN periode 2015-2019 dan
Prioritas terkait dengan kondisi saat ini.
b. Visi, Misi, dan Program Prioritas Presiden Terpilih,
yang merupakan agenda pembangunan nasional
utama yang perlu mendapatkan dukungan dan
menjadi prioritas keberhasilan pemerintahan dalam 5
tahun ke depan.

c. Kebijakan ...
-34-

c. Kebijakan prioritas pembangunan pada tahap RPJMN


2010-2014 yang belum tuntas penyelesaiannya serta
perlu untuk diteruskan dalam periode selanjutnya.
8. Prioritas Nasional dapat dijabarkan ke dalam Program
Lintas yang bersifat lintas program, lintas K/L, lintas
bidang atau lintas wilayah.
9. Program Lintas terdiri dari beberapa kegiatan prioritas
K/L atau lintas K/L yang dikelompokkan berdasarkan
karakteristik tertentu dalam rangka mendukung
pencapaian sasaran Prioritas Nasional.
10. Program lintas ditetapkan oleh Bappenas dan memiliki
sasaran, target dan indikator kinerja.
11. Untuk program yang bersifat lintas K/L maka perencanaan
dan pelaksanaannya membutuhkan koordinasi antar K/L.
Koordinator program lintas ditentukan oleh Bappenas
berdasarkan pertimbangan: (a) K/L yang dominan
kegiatannya; (b) Kementerian Koordinator, atau (c)
Bappenas.
12. Prioritas Bidang merupakan kebijakan yang diambil untuk
mencapai sasaran bidang pembangunan melalui
pelaksanaan program dan kegiatan prioritas yang
dikelompokkan kedalam beberapa Program Lintas.

C. Pengarusutamaan Pembangunan
1. Pengarusutamaan pembangunan (mainstreaming) adalah
isu utama yang membutuhkan perhatian khusus yang
melibatkan program/kegiatan Lintas Bidang dan atau
lintas K/L.
2. Pengarusutamaan pembangunan dimaksudkan untuk
mensinergikan suatu isu ke dalam proses pembangunan di
setiap Bidang dan atau program/kegiatan.

3. Pengarusutamaan ...
-35-

3. Pengarusutamaan terintegrasi ke dalam program/kegiatan


Lintas Bidang dan atau K/L dalam bentuk indikator
outcome/output untuk isu pengarusutamaan tertentu.
4. Pengarusutamaan menjadi landasan operasional
pembangunan di tingkat pusat dan daerah.
5. Penerapan pengarusutamaan akan menghasilkan
kebijakan publik yang lebih efektif untuk mewujudkan
pembangunan yang lebih adil dan merata.
6. Untuk memastikan pelaksanaan pengarusutamaan di
Bidang dan atau program/kegiatan pembangunan, perlu
ditunjuk koordinator untuk masing-masing isu
pengarusutamaan.
7. Koordinator bersama dengan Kementerian/Lembaga
pelaksana terkait menyepakati sasaran utama
pengarusutamaan dan rencana tindak yang akan
dilakukan serta indikator capaian outcomes
program/output kegiatan.
8. Masing-masing Kementerian/Lembaga pelaksana
berkewajiban untuk melaporkan capaian
pengarusutamaannya yang telah dilaksanakan secara
berkala kepada Koordinator Pengarusutamaan.

D. Kerangka Ekonomi Makro


1. Rumusan strategi pembangunan nasional yang mencakup
ekonomi makro untuk menjadi bahan dalam perumusan
arah kebijakan pembangunan nasional jangka menengah.
2. Kerangka ekonomi makro memuat gambaran umum
perekonomian secara menyeluruh, termasuk arah
kebijakan fiskal untuk periode jangka menengah 2015-
2019.

E. Kaidah ...
-36-

E. Kaidah Pelaksanaan
1. Kerangka Pendanaan, memuat sumber-sumber
pendanaan yang bisa digunakan dalam pembangunan, tata
cara optimalisasi penggunaan sumber dana dan
peningkatan kualitas belanja.

2. Kerangka Regulasi adalah perencanaan pembentukan


regulasi dalam rangka memfasilitasi, mendorong maupun
mengatur perilaku masyarakat, termasuk swasta dan
penyelenggara negara dalam rangka mewujudkan tujuan
bernegara. Perencanaan kerangka regulasi sejak awal
perencanaan dimaksudkan untuk :
a. mengarahkan proses perencanaan pembentukan
peraturan perundang-undangan agar sesuai dengan
kebutuhan pembangunan;
b. meningkatkan kualitas peraturan perundang-
undangan dalam rangka mendukung pencapaian
prioritas pembangunan; dan
c. meningkatkan efisiensi pengalokasian anggaran untuk
keperluan pembentukan peraturan perundang-
undangan.
d. Ketentuan lebih lanjut mengenai kerangka regulasi
dapat dilihat dalam Petunjuk Pelaksanaan
Penyusunan Kerangka Regulasi.
3. Kerangka Kelembagaan menjadi upaya untuk melakukan
penataan kelembagaan agar pemerintah memiliki fungsi
dan kewenangan yang tepat, aturan main dan hubungan
kerja inter dan antar lembaga yang sinergis, serta didukung
oleh kualitas aparatur sipil negara yang profesional dan
berintegritas. Dengan demikian kelembagaan pemerintah
akan sejalan dengan visi pembangunan nasional dan dapat

melaksanakan ...
-37-

melaksanakan kebijakan/rencana pembangunan dengan


efektif dan efisien.

Ketentuan lebih lanjut tentang penyusunan kerangka


kelembagaan dalam RPJMN menjadi anak lampiran dan
bagian yang tidak terpisahkan dari Petunjuk Pelaksanaan
Penyusunan RPJMN 2015-2019.

4. Kerangka Evaluasi memberikan gambaran tata cara


evaluasi kinerja pembangunan secara menyeluruh dalam
rangka mengetahui dan menilai dengan pasti pencapaian
rencana pembangunan, kemajuan dan kendala yang
dihadapi dalam pelaksanaan rencana pembangunan serta
tindak lanjut yang diperlukan dalam rangka perbaikan
rencana pembangunan dimasa yang akan datang.

F. Buku RPJMN 2015-2019


Buku RPJMN 2015-2019 terdiri dari tiga (3) buku yang saling
terkait.

1. Buku I RPJMN memuat Prioritas Nasional, Program


Lintas, dan program/kegiatan Prioritas Nasional. Buku I
mencerminkan Platform Presiden sehingga Prioritas
Nasional dapat bersifat lintas bidang dan atau sama dengan
Prioritas Bidang. Namun pada saat penyusunan rancangan
teknokratik RPJMN, karena Prioritas Nasional belum
ditentukan maka Prioritas pembangunan pada Buku I
dipilih dari isu-isu strategis utama 9 (sembilan) Bidang
Pembangunan.

2. Buku II RPJMN memuat Prioritas Bidang, Program Lintas,


dan program/kegiatan Prioritas Bidang. Satu bidang dapat
berkontribusi terhadap lebih dari satu Prioritas Nasional.

3. Buku ...
-38-

3. Buku III RPJMN berisi rencana pengembangan wilayah


pulau, dan sinergi pembangunan pusat-daerah dan antar
daerah. Buku III merumuskan rencana pembangunan
Bidang/K-L untuk mendukung arah pengembangan pulau
dengan basis wilayah Provinsi, sehingga secara
komprehensif dapat terlihat program-program yang akan
dilaksanakan oleh Nasional di masing-masing Provinsi.

G. OUTLINE BUKU RPJMN 2015-2019

1. OUTLINE BUKU I : PRIORITAS PEMBANGUNAN


NASIONAL

BAB I : PENDAHULUAN
Merupakan gambaran mengenai RPJMN 2015-2019 yang terkait
dengan RPJPN 2005-2025 dan visi, misi dan program Presiden
terpilih. Pendahuluan juga menjelaskan tentang tujuan RPJMN,
dan deskripsi Buku I, Buku II, dan Buku III yang merupakan
satu kesatuan dalam RPJMN 2015-2019.

BAB II : RPJPN 2005-2025


1.1 Visi dan Misi RPJPN 2005-2025
Berisi uraian mengenai visi dan misi RPJPN 2005-2025 dan
strategi pencapaian visi dan misi tersebut melalui skala
prioritas utama dalam pentahapan RPJMN.
1.2 Arah Pembangunan Jangka Menengah ke-3 (2015-2019)
Berisi arah kebijakan pembangunan pada RPJMN tahap
ke-3 (2015-2019).

BAB III : KONDISI UMUM


Menjelaskan tentang pencapaian pembangunan periode 2010-
2014 dan permasalahan utama yang terindentifikasi dan harus

diselesaikan ...
-39-

diselesaikan selama periode 2015-2019. Bab ini juga antara lain


menjelaskan tentang tantangan utama yang akan dihadapi 5
tahun kedepan dan lingkungan strategis yang berisi isu
nasional dan isu global yang perlu dipertimbangkan dalam
rangka mencapai sasaran pokok pembangunan.

BAB IV : KERANGKA EKONOMI MAKRO

Memberi penjelasan tentang gambaran umum ekonomi secara


menyeluruh termasuk gambaran ekonomi makro pada RPJMN
periode sebelumnya, proyeksi ekonomi, keuangan negara dan
arah kebijakan fiskal pada RPJMN 2015-2019.
4.1 Kondisi Ekonomi 2014
Merupakan gambaran kondisi ekonomi makro pada tahun
2014.
4.2 Prospek Ekonomi 2015-2019
Merupakan gambaran proyeksi ekonomi Indonesia tahun
2015-2019. Bagian ini membahas hal-hal yang akan
menjadi prospek dan hal-hal yang berpengaruh terhadap
pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2015-2019.
4.3 Keuangan Negara dan Kebijakan Fiskal
Menjelaskan tentang arah kebijakan fiskal dan perkiraan
pendapatan dan belanja negara.

BAB V : SASARAN, ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI


PEMBANGUNAN NASIONAL

Berisi sasaran pokok/utama pembangunan nasional selama 5


tahun ke depan, disertai dengan arah kebijakan pembangunan
pada RPJMN tahap ke-3 (2015-2019) dan strategi pembangunan
secara umum dengan penekanan pada Pembangunan
Berkelanjutan, Inklusif dan Berkeadilan.
5.1 Visi Indonesia
5.2 Misi Pembangunan Nasional

5.3 Sasaran ...


-40-

5.3 Sasaran Pokok Pembangunan Nasional


5.4 Prioritas Nasional

Prioritas Nasional berisi Prioritas Nasional untuk periode


2015-2019. Prioritas Nasional tersebut merupakan
perumusan dan penjabaran yang lebih operasional dari Visi
dan Misi pembangunan nasional 2015-2019 sehingga lebih
mudah untuk diimplementasikan dan diukur tingkat
keberhasilannya.
5.4.1. Prioritas Nasional 1 : ....................................
5.4.1.1. Sasaran (Impact)
5.4.1.2. Arah Kebijakan dan Strategi
Pembangunan
5.4.2. Prioritas Nasional 2 : ...................................
5.4.3. Prioritas Nasional 3 : ...................................
dst.

BAB VI : KEGIATAN STRATEGIS NASIONAL

Kegiatan strategis nasional merupakan kegiatan-kegiatan


Kementerian/Lembaga yang dipilih untuk menjadi kegiatan
prioritas berdasarkan platform Presiden dan pertimbangan
penting lainnya, antara lain :
1. Kegiatan yang paling utama atau penting.
2. Kegiatan dengan anggaran besar.
3. Kegiatan yang memiliki dampak yang besar.
4. Kegiatan lintas bidang dan atau lintas wilayah.
5. Kegiatan yang merupakan Direktif Presiden.
Kegiatan strategis nasional ini dikelompokkan berdasarkan
Prioritas Nasional dan dituangkan dalam bentuk matrik sebagai
berikut :

Gambar 13...
-41-

Gambar 13
Daftar Kegiatan Strategis Nasional dalam RPJMN 2015-2019

No Kegiatan Sasaran Indikator Target Pagu Program K/L Lokasi


Strategis Output Anggaran Terkait
Nasional

PRIORITAS NASIONAL 1 : .............................................

PRIORITAS NASIONAL 2 : .............................................

Masing-masing kegiatan strategis tersebut perlu didetailkan ke


dalam infomasi kegiatan, yang memuat informasi tentang nama
kegiatan/program, waktu pelaksanaan, lokasi, K/L penanggung
jawab, instansi terkait dan informasi penting lainnya, sebagai
berikut :

Gambar 14 ...
-42-

Gambar 14
Informasi Detail Kegiatan Strategis Nasional
1. Kegiatan :
2. Program :
3. Waktu Pelaksanaan :
4. Lokasi :
5. K/L Penanggungjawab :
6. Instansi Terkait :

7. Latar Belakang (Permasalahan)


____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________

8. Ruang Lingkup Kegiatan


____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________

9. Output dan Outcome


a. Output :
b. Outcome :

10. Regulasi Terkait


____________________________________________________________
____________________________________________________________

11. Pendanaan

RUPIAH MURNI PHLN

TOTAL :

BAB VII : KAIDAH PELAKSANAAN

7.1 Kerangka Pendanaan

Kerangka pendanaan memuat kebijakan pendanaan secara


umum, sumber-sumber pendanaan yang bisa digunakan
dalam pembangunan, tata cara optimalisasi penggunaan
sumber dana dan peningkatan kualitas belanja termasuk
didalamnya kebijakan transfer ke daerah.

7.2 Kerangka ...


-43-

7.2 Kerangka Regulasi

Berisi tentang prinsip-prinsip/koridor kerangka regulasi


dan cara penerapannya pada masing-masing bidang
pembangunan. Pada prinsipnya bagian ini menjelaskan
mengenai substansi kerangka regulasi dan tata cara untuk
merumuskannya.

7.3 Kerangka Kelembagaan

Berisi tentang prinsip-prinsip/koridor tentang tatanan


kelembagaan yang efektif dan efisien dalam rangka
melaksanakan pembangunan.

7.4 Kerangka Evaluasi

Berisi tentang prinsip-prinsip/koridor kerangka evaluasi


dan tata cara penerapan evaluasi kinerja pembangunan.

BAB VIII : PENUTUP

Lampiran : Matriks Prioritas Nasional

2. OUTLINE ...
-44-

2. OUTLINE BUKU II : PRIORITAS PEMBANGUNAN BIDANG

BAB I : PENGARUSUTAMAAN DAN PEMBANGUNAN LINTAS


BIDANG
1.1 Arah Kebijakan dan Strategi Pengarusutamaan
Menjelaskan arah kebijakan dan strategi pembangunan
yang bersifat pengarusutamaan. Pengarusutamaan
dilakukan dengan cara yang terstruktur dengan kriteria
sebagai berikut: (1) pengarusutamaan bukanlah
merupakan upaya yang terpisah dari kegiatan
pembangunan sektoral; (2) pengarusutamaan tidak
mengimplikasikan adanya tambahan pendanaan (investasi)
yang signifikan; dan (3) pengarusutamaan dilakukan pada
semua sektor terkait namun diprioritaskan pada sektor
penting yang terkait langsung dengan isu-isu
pengarusutamaan.

1.1.1 Pengarusutamaan 1

1.1.1.1 Permasalahan dan Isu Strategis


Menggambarkan permasalahan-
permasalahan yang dihadapi saat ini
dan perkiraan masalah yang akan
dihadapi dalam jangka waktu 5 (lima)
tahun ke depan serta menjelaskan isu
strategis pengarusutamaan.
1.1.1.2 Sasaran (impact)
Memuat sasaran utama pembangunan
pengarusutamaan yang ingin dicapai
dalam rangka mencapai tujuan utama
pada 5 (lima) tahun ke depan.
1.1.1.3 Arah Kebijakan dan Strategi

Arah ...
-45-

Arah Kebijakan menjelaskan tentang


kebijakan umum yang diambil oleh
pemerintah untuk mengatasi
permasalahan yang dihadapi dan
sasaran yang ingin dicapai. Arah
kebijakan memuat strategi
pembangunan yang berisi program-
program atau kegiatan-kegiatan
pembangunan yang dilaksanakan dalam
rangka mencapai sasaran
pembangunan.

1.1.2 Pengarusutamaan 2

dst.
1.2 Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan Lintas Bidang
Memuat penjelasan tentang isu-isu lintas bidang, yang
mencakup juga arah kebijakan dan strategi pembangunan
lintas bidang. Masing-masing isu lintas bidang perlu
ditunjuk koordinatornya. Koordinator Lintas Bidang
bersama dengan Kementerian/Lembaga pelaksana terkait
menyepakati sasaran utama lintas bidang dan rencana
tindak yang akan dilakukan serta indikator capaian
outcome program. Masing-masing Kementerian/Lembaga
pelaksana berkewajiban untuk melaporkan capaian
program yang telah dilaksanakan secara berkala kepada
Koordinator.
Arah kebijakan dan strategi pembangunan lintas bidang,
memuat hal-hal sebagai berikut :
1.2.1. Lintas Bidang 1
1.2.1.1. Permasalahan dan Isu Strategis
1.2.1.2. Sasaran (Impact)

1.2.1.3 Arah ...


-46-

1.2.1.3. Arah Kebijakan dan Strategi


Pembangunan
1.2.1.4. Kerangka Pendanaan
1.2.1.5. Kerangka Regulasi dan Kerangka
Kelembagaan
1.2.2. Lintas Bidang 2
dst.

BAB II : BIDANG SOSIAL BUDAYA DAN KEHIDUPAN


BERAGAMA
2.1 Permasalahan dan Isu strategis
2.2 Sasaran Bidang (Impact)
2.3 Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan Bidang
2.4 Kerangka Pendanaan
2.5 Kerangka Regulasi dan Kerangka Kelembagaan

BAB III : BIDANG EKONOMI


BAB IV : BIDANG ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
BAB V : BIDANG POLITIK
BAB VI : BIDANG PERTAHANAN DAN KEMANAN
BAB VII : BIDANG HUKUM DAN APARATUR
BAB VIII : BIDANG PEMBANGUNAN WILAYAH DAN TATA
RUANG
BAB IX : BIDANG PENYEDIAAN SARANA DAN PRASARANA,
BAB X : BIDANG PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN
LINGKUNGAN HIDUP

Setiap Bidang Pembangunan harus dibuatkan kerangka pikir


logis yang menggambarkan alur logika mulai dari program lintas,
prioritas bidang, dampak dan goal (tujuan akhir) yang
diharapkan dengan gambar sebagai berikut :

Gambar 16 ...
-47-

Gambar 16
Gambar Kerangka Pikir Pembangunan Bidang

Lampiran Buku II:


1. Matrik Lintas Bidang
2. Matrik Prioritas Bidang
3. Matrik Pembangunan Jangka Menengah Per
Kementerian/Lembaga

GAMBAR 17 ...
-48-

GAMBAR 19
-49-

2. OUTLINE BUKU III : PENGEMBANGAN WILAYAH

BAB I : ARAH KEBIJAKAN NASIONAL PENGEMBANGAN


WILAYAH TAHUN 2015-2019
1.1 Pendahuluan
1.2 Sasaran Pokok Pengembangan Wilayah
1.3 Arah Kebijakan dan Strategi Pengembangan Wilayah
1.3.1. Arah Kebijakan dan Strategi Tata Ruang Wilayah
Nasional (Darat, Laut dan Pesisir)
1.3.2. Arah Kebijakan dan Strategi Pengembangan
Otonomi Daerah
1.3.3. Arah Kebijakan dan Strategi Pengembangan
Kawasan Strategis
1.3.4. Arah Kebijakan dan Strategi Pengembangan Wilayah
Perkotaan
1.3.5. Arah Kebijakan dan Strategi Pengembangan Wilayah
Perdesaan
1.3.6. Arah Kebijakan dan Strategi Pengembangan
Kawasan Perbatasan dan Daerah Tertinggal

1.3.7 Arah ...


-50-

1.3.7. Arah Kebijakan dan Strategi Pemerataan Pelayanan


Dasar
1.4 Sinergi Pusat-Daerah dan Kerjasama Antardaerah
1.5 Kerangka Pendanaan
1.6 Kerangka Regulasi
1.7 Kerangka Kelembagaan

BAB II : PENGEMBANGAN WILAYAH PAPUA

2.1 Kondisi Umum


2.2 Sasaran Pengembangan Wilayah Papua
2.3 Arah Kebijakan dan Strategi Pengembangan Wilayah Papua
2.3.1 Arah Kebijakan Pengembangan Wilayah Papua
2.3.1.1 Arah Kebijakan Pengembangan Tata Ruang
Wilayah (Darat, Laut dan Pesisir)
2.3.1.2 Arah Kebijakan Pengembangan Otonomi
Daerah
2.3.1.3 Arah Kebijakan Pengembangan Kawasan
Strategis
2.3.1.4 Arah Kebijakan Pengembangan Wilayah
Perkotaan
2.3.1.5 Arah Kebijakan Pengembangan Wilayah
Perdesaan
2.3.1.6 Arah Kebijakan Pengembangan Kawasan
Perbatasan dan Daerah Tertinggal
2.3.2 Arah Kebijakan dan Strategi Pemenuhan Pelayanan
Dasar Wilayah Papua
2.3.3 Prioritas Program Pembangunan Wilayah Papua
2.4 Kerangka Regulasi
2.5 Kerangka Kelembagaan

BAB III ...


-51-

BAB III : PENGEMBANGAN WILAYAH MALUKU

BAB IV : PENGEMBANGAN WILAYAH NUSA TENGGARA

BAB V : PENGEMBANGAN WILAYAH SULAWESI

BAB VI : PENGEMBANGAN WILAYAH KALIMANTAN

BAB VII : PENGEMBANGAN WILAYAH JAWA-BALI

BAB VIII : PENGEMBANGAN WILAYAH SUMATERA

Lampiran Buku III :


Matriks Sinkronisasi Pusat dan Daerah dalam Pencapaian
Prioritas Nasional (Matrik dibuat Per-Prioritas Nasional)

BAB IV
-52-

BAB IV
PENUTUP

RPJMN merupakan acuan bagi seluruh komponen bangsa


dalam melaksanakan pembangunan dan mencapai visi dan misi
Indonesia. Oleh karena itu RPJMN harus disusun dengan baik,
mengikuti alur berfikir logis sehingga menunjukkan keterkaitan yang
jelas antar level kebijakan pembangunan dan keterkaitan antara
program/kegiatan dengan sasaran yang ingin dicapai.

Melalui panduan ini, diharapkan dapat menjaga keterkaitan


dan konsistensi antara sasaran, arah kebijakan dan strategi
pembangunan yang ada dalam dokumen Renstra K/L dan RPJMD
dengan yang ada dalam RPJMN 2015-2019.

Dengan diterbitkannya panduan ini, Kementerian


PPN/Bappenas berharap agar Tata Cara Penyusunan RPJMN 2014-
2015 dapat berjalan secara efektif, efisien dan akuntabel sesuai
arah sebagaimana tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
Dengan demikian RPJMN 2015-2019 tersusun dengan baik, mudah
dilaksanakan dan mudah dievaluasi.

SEKRETARIS KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/


SEKRETARIS UTAMA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL,

SLAMET SENO ADJI


-1-

ANAK LAMPIRAN I
PETUNJUK PELAKSANAAN
NOMOR 3 /JUKLAK/SESMEN/2014
TANGGAL 26 JUNI 2014

CONTOH WORKSHEET KERANGKA KERJA LOGIS:

Program Peningkatan Ketersediaan dan Keterjangkauan


Pelayanan Kesehatan Ibu Terkait Proses Reproduksi
Serta Pelayanan Kesehatan Anak

Kriteria Sukses
Indikator
Uraian (Pencapaian
Kinerja
Target)

Meningkatnya
derajat
Sasaran kesehatan ibu
Prioritas: dan anak melalui
peningkatan
Pernyataan kesehatan ibu,
DAMPAK/ bayi dan balita,
Impacts dengan adanya
peningkatan
pengetahuan dan
keterampilan
dikalangan
masyarakat
maupun tenaga
kesehatan serta
peningkatan
penanganan
masalah gizi pada
ibu hamil/
menyusui, bayi
dan balita
Penurunan Menurunnya Angka
Angka Angka Kematian
Kematian Ibu Kematian Ibu Ibu (AKI)
sebesar 102
Per 100.000
kelahiran
hidup pada
2019

Penurunan Menurunnya Angka


Angka Angka Kematian
Kematian Kematian Bayi Bayi (AKB)
Bayi sebesar 23 Per
1.000
kelahiran
hidup tahun

Uraian ...
-2-

Kriteria Sukses
Indikator
Uraian (Pencapaian
Kinerja
Target)

2019

dst dst dst

Meningkatnya Meningkatnya Jumlah Ibu


status Angka Ibu Bersalin
OUTCOME kesehatan Bersalin dalam
ANTARA dan gizi ibu Sehat Sebesar Keadaan
(manfaat hamil dan 25% pada Sehat
antara : menyusui, tahun 2018
rangkaian dari bayi dan
beberapa balita
outcomes
langsung): Meningkatnya Tenaga Persentase
pelayanan kesehatan tenaga
kesehatan ibu yang memiliki kesehatan
dan anak oleh sertifikat yang
tenaga meningkat bersertifikat
kesehatan 75% pada Persentase
berkualitas tahun 2018 Cakupan
pertolongan
Cakupan persalinan
pertolongan oleh tenaga
persalinan kesehatan
oleh tenaga
kesehatan (PN)
sebesar 90%
pada tahun
2018

dst dst dst

Meningkatnya 90% Cakupan Persentase


kesadaran Kunjungan Cakupan
OUTCOME bagi Neonatus (KN) Kunjungan
LANGSUNG Neonatus
kesehatan ibu pada tahun
(manfaat (KN)
dan anak 2017 Persentase
langsung :
Cakupan
hasil yang bisa 90% Cakupan kunjungan
dikendalikan kunjungan bayi
atau akibat bayi pada
langsung dari tahun 2017
output) Perbaikan gizi 90% ibu Persentase
pada ibu hamil/ ibu hamil/
(perubahan menyusui,
hamil/menyu menyusui,
pada target bayi dan

Uraian ...
-3-

Kriteria Sukses
Indikator
Uraian (Pencapaian
Kinerja
Target)

group -sui, bayi dan bayi dan balita balita


masyarakat balita dengan gizi dengan gizi
perubahan baik pada baik
yang tahun 2017
diakibatkan Meningkatnya Meningkatnya Persentase
langsung oleh jumlah tenaga tenaga tenaga
output yang kesehatan kesehatan kesehatan
dihasilkan) yang yang
yang
berkualitas berkualitas
berkualitas sebesar 80%
pada tahun
2017
dst dst dst

Peningkatan 100.000 Jumlah


pengetahuan masyarakat masyarakat
OUTPUT: masyarakat mengikuti yang
akan sosialisasi dan meningkat
(Keluaran
pentingnya meningkat penge-
yang
peningkatan pengetahuan tahuannya
diharapkan
kualitas nya pada karena
dari kegiatan-
kesehatan. akhir tahun sosialisasi
kegiatan
2017
prioritas
Peningkatan 100.000 ibu Jumlah ibu
melalui
jumlah ibu hamil/menyu- hamil/
pendanaan
hamil/ sui mendapat menyusui
pemerintah)
menyusui, tambahan gizi dengan
bayi dan pada tahun masalah gizi
balita 2017 Jumlah bayi
yang 100.000 bayi dan balita
mendapat dan balita mendapat
tambahan mendapat tambahan
makanan tambahan makanan
bergizi makanan bergizi
bergizi 2017

Peningkatan 1500 Tenaga Jumlah


kapasitas kesehatan tenaga
Tenaga yang terlatih kesehatan
kesehatan dan terampil yang terlatih
pada tahun dan terampil
2017
dst dst dst

Pelaksanaan Terselenggara Frekuensi


sosialisasi nya sosialisasi sosialisasi
KEGIATAN kesehatan kesehatan ibu kesehatan
PRIORITAS ibu dan anak dan anak di ibu dan
tingkat anak

Uraian
-4-

Kriteria Sukses
Indikator
Uraian (Pencapaian
Kinerja
Target)

kecamatan ditingkat
kecamatan

Penanganan Terselenggara Persentase


masalah gizi nya 100% pemberian
dengan pemberian MP-ASI pada
MP-ASI pada
pemberian anak usia 6-
anak usia 6
ASI dan 24 bulan pada 24 bulan
makanan keluarga pada
pendamping miskin keluarga
ASI miskin

Pelayanan Terselenggara Jumlah


posyandu dan nya kegiatan posyandu
puskesmas pelayanan di yang
dalam rangka 269.000 melayani
peningkatan Posyandu kesehatan
kesehatan ibu Terselenggara Jumlah
dan anak nya kegiatan puskesmas
pelayanan pelayanan
kesehatan kesehatan
bagi ibu bagi ibu dan
bersalin di anak
puskesmas
melalui 2.269
fasilitas
pelayanan
kesehatan
Penyelenggara Terselenggara Frekuensi
an pelatihan nya pelatihan pelatihan
untuk peningkatan bagi tenaga
peningkatan pengetahuan kesehatan
pengetahuan dan
dan ketrampilan
ketrampilan tenaga
bagi tenaga kesehatan di
hatan seluruh
Kabupaten/
Kota.
dst dst dst

Dana untuk 100 % Jumlah


sosialisasi penyerapan dana untuk
INPUTS dana untuk sosialisasi
sosialisasi kesehatan
Antara lain:
kesehatan ibu ibu dan
- Dana dan anak anak

Uraian ...
-5-

Kriteria Sukses
Indikator
Uraian (Pencapaian
Kinerja
Target)

- SDM Dana untuk 100 % Jumlah


penanganan penyerapan dana untuk
- Managemen
gizi buruk dana untuk penanganan
dll
penanganan gizi buruk
gizi buruk
Dana untuk 100% Jumlah
pemberdaya penyerapan dana untuk
an posyandu dana untuk pemberda
dan pemberdayaan yaan
puskesmas puskesmas puskesmas
dan posyandu dan
posyandu

Dana untuk 100 % Jumlah


pelatihan penyerapan dana untuk
dana untuk pelatihan
pelatihan tenaga
tenaga kesehatan
kesehatan
Tersedianya 30 orang Jumlah
pelatih dan pelatih dan pelatih dan
ekspert ekspert ekspert
pendamping pendamping pendamping
yang yang
kompeten berkualitas

dst dst dst

Permasalahan :
Rendahnya
tingkat kesehatan
ibu dan anak,
yang
diindikasikan,
antara lain oleh:

1. Tingginya
PERMASALA angka
HAN DAN kematian ibu
PENYEBAB dan bayi
PERMASALA 2. Masih
HAN rendahnya
status
(Perumusan kesehatan dan
permasalahan) gizi (gizi
kurang dan
gizi buruk)
pada ibu

Uraian ...
-6-

Kriteria Sukses
Indikator
Uraian (Pencapaian
Kinerja
Target)

hamil dan
menyusui,
bayi dan
balita
3. Rendahnya
tingkat
keberlanjutan
pelayanan
kesehatan
(continuum of
care) pada ibu
dan anak,
khususnya
pada
penduduk
miskin

Penyebab
permasalahan
yang akan
diselesaikan:
1. Masih
terbatasnya
pengetahuan
dan
ketrampilan
tentang
kesehatan
ibu, bayi dan
balita baik
dikalangan
masyarakat
maupun
tenaga
pelayanan
kesehatan
2. Rendahnya
penanganan
masalah gizi
pada ibu
hamil dan
menyusui,
bayi dan
balita

ANAK ...
-1-

ANAK LAMPIRAN II
PETUNJUK PELAKSANAAN
NOMOR 3 /JUKLAK/SESMEN/2014
TANGGAL 26 JUNI 2014

KERANGKA PIKIR LOGIS


Program Peningkatan Ketersediaan dan Keterjangkauan Pelayanan Kesehatan Ibu Terkait Proses
Reproduksi Serta Pelayanan Kesehatan Anak

ANAK
-1-

ANAK LAMPIRAN III


PETUNJUK PELAKSANAAN
NOMOR 3 /JUKLAK/SESMEN/2014
TANGGAL 26 JUNI 2014

TATA CARA PENYUSUNAN KERANGKA KELEMBAGAAN


Keberhasilan pencapaian sasaran pembangunan dalam RPJMN 2015-2019
salah satunya ditentukan oleh tersedianya kerangka kelembagaan yang
baik, yang terdiri dari lembaga-lembaga pemerintah yang efektif, efisien,
dan akuntabel. Hal ini ditandai dengan fungsi dan kewenangan yang tepat,
aturan main dan hubungan kerja yang efektif, efisien dan sinergis baik
inter dan antar lembaga, serta didukung oleh aparatur sipil negara yang
profesional dan berintegritas.

Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa lembaga-lembaga


pemerintah saat ini belum berfungsi optimal dalam melaksanakan
kebijakan pembangunan. Dalam laporan Bank Dunia tahun 2012 yang
berjudul Investing in Indonesias Institutions menyebutkan bahwa,
problem utama di Indonesia bukanlah masalah pembiayaan semata, tetapi
lack of effective and accountable institutions that can translate available
resources into better development outcomes. Penyebabnya antara lain
adanya ketidakjelasan fungsi/kewenangan, tumpang tindih
kewenangan/fungsi inter dan antar lembaga, hubungan antar
fungsi/kewenangan yang kurang sinergis, serta rendahnya kuantitas dan
kualitas aparatur sipil negara pada lembaga pemerintah.

Oleh karena itu, perlu dilakukan pengintegrasian kerangka kelembagaan


dalam perencanaan pembangunan nasional dalam rangka menyediakan
lembaga pemerintah yang efektif, efisien, dan akuntabel dalam
melaksanakan kebijakan pembangunan untuk mendukung pelaksanaan
program pembangunan dan mencapai sasaran pembangunan.

1. Sasaran dan Arah Kebijakan Kerangka Kelembagaan Pemerintah


Kerangka kelembagaan pemerintah adalah susunan kelembagaan
pemerintah yang dibentuk untuk melaksanakan urusan
pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan publik. Sesuai
peraturan perundangan yang ada, kerangka kelembagaan pemerintah
mencakup: (1) Lembaga Negara; (2) Kementerian Negara; (3) Lembaga
Pemerintah Non Kementerian; (4) Lembaga Non Struktural, seperti
Komisi Pemberantasan Korupsi; dan (5) Pemerintah Daerah beserta
Satuan Kerja Perangkat Daerah, serta (6) bila dipandang perlu dapat
dibentuk lembaga koordinasi pelaksanaan pembangunan, utamanya

untuk
-2-

untuk pelaksanaan program pembangunan lintas K/L dan/atau lintas


sektor, yang besar dan kompleks.

Untuk memastikan pelaksanaan program pembangunan berjalan


dengan efektif dan efisien maka diterapkan manajemen kinerja
pembangunan yang pelaksanaannya dikoordinasikan oleh Menteri
yang bertanggung jawab di bidang perencanaan pembangunan
nasional.

Sasaran penguatan kerangka kelembagaan pemerintah adalah untuk


mewujudkan kerangka kelembagaan yang mampu melaksanakan
kebijakan pembangunan secara efektif dan efisien. Kerangka
kelembagaan ditandai dengan adanya lembaga-lembaga yang tepat
fungsi, tepat ukuran, dengan aturan main inter dan antar lembaga
yang harmonis dan sinergis, dan didukung oleh aparatur sipil negara
yang profesional. Untuk mencapai sasaran tersebut maka arah
kebijakannya adalah sebagai berikut:

a. Memastikan adanya fungsi/kewenangan yang jelas dan tepat


untuk setiap lembaga;
b. Meminimalisasi adanya tumpang tindih fungsi/kewenangan inter
maupun antar lembaga;
c. Memastikan adanya aturan main dan/atau hubungan kerja yang
harmonis dan sinergis antar fungsi/kewenangan, baik inter
maupun antar lembaga;
d. Memastikan tersedianya Aparatur Sipil Negara yang profesional
untuk melaksanakan fungsi/kewenangan yang ada di setiap
lembaga.

2. Prinsip Penguatan Kerangka Kelembagaan


Penyusunan kebijakan kerangka kelembagaan dilakukan dengan
memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. Sejalan dengan kebutuhan untuk pelaksanaan kebijakan


pembangunan, yang terdiri dari sasaran, arah kebijakan dan
strategi pembangunan nasional;
b. Sejalan dengan kewenangan yang diatur oleh peraturan-
perundangan yang berlaku, termasuk sesuai dengan kebijakan
desentralisasi dan otonomi darah;
c. Efisien dan efektif yang sesuai dengan ketersediaan anggaran dan
prinsip-prinsip pengorganisasian yang baik;
d. Pada prinsipnya pembentukan lembaga baru dibatasi, kecuali
manfaatnya jauh lebih besar dari biayanya. Oleh karena itu,
analisis biaya dan manfaat menjadi prasyarat bagi pembentukan
lembaga baru;

e. Dilakukan
-3-

e. Dilakukan dengan transparan, partisipatif, dan akuntabel.

ANAK
-1-

ANAK LAMPIRAN IV
PETUNJUK PELAKSANAAN
NOMOR 3 /JUKLAK/SESMEN/2014
TANGGAL 26 JUNI 2014

Tahapan dan Tatacara Perumusan Kebijakan Kerangka Kelembagaan dalam RPJMN 2015-2019
No. Tahapan Keluaran Penanggung
Jawab
1. Perumusan dan penetapan kebijakan Isu Strategis, Sasaran, Arah Kebijakan, Program, Deputi Penanggung
pembangunan bidang dan Kegiatan Jawab Bidang dan
Deputi terkait,
bekerjasama dengan
K/L dan stakeholder
lainnya
2. Identifikasi kelembagaan yang Lembaga yang dibutuhkan, disertai gambaran Idem
dibutuhkan untuk melaksanakan fungsi dan kewenangan, dan identifikasi Aparatur
kebijakan pembangunan Sipil Negara (ASN) yang dibutuhan
3. Penilaian terhadap lembaga-lembaga Hasil assessment berupa kesimpulan sementara Idem
yang sudah ada, yang meliputi: yang berisi:
Apakah sudah terdapat lembaga yang Ada/tidaknya lembaga yang relevan untuk
dipandang relevan untuk melaksanakan kebijakan pembangunan;
melaksanakan kebijakan Kualitas lembaga yang dipandang relevan
pembangunan; dilihat dari aspek fungsi/kewenangan, aturan
Bila telah ada: main/hubungan kerja internal dan eksternal,
o Bagaimana kinerjanya. Bila dan kualitas ASN
kinerjanya sudah baik, tidak perlu
ada perubahan.
o Bila kinerjanya belum baik, lihatlah
aspek-aspek berikut ini:
Apakah fungsi dan
kewenangannya sudah tepat,
Apakah terdapat aturan main
atau hubungan kerja yang tidak

No ...
-2-

sinergis dan harmonis antar unit


internal maupun dengan lembaga
lain;
Bagaimana kuantitas dan kualitas
ASN di dalamnya
4. Merumuskan konsep kebijakan kerangka Rumusan konsep kebijakan kerangka Idem
kelembagaan dalam rencana kelembagaan dalam bidang pembangunan, yang
pembangunan bidang. dapat berisi usulan:
Hasil rumusan disampaikan kepada Penyesuaian fungsi dan kewenangan: bisa
Deputi Bidang Politik, Hukum, dan diperkuat atau dikurangi agar harmonis
Hankam dengan fungsi dan kewenangan lembaga lain;
Penyempurnaan aturan main dan/atau
hubungan kerja untuk meningkatkan sinergi
antara unit internal dan eksternal;
Penguatan kapasitas SDM untuk mendukung
pelaksanaan fungsi/kewenangan dengan efektif
5. Assessment dan sinkronisasi kebijakan Hasil analisis dan rekomendasi rumusan Deputi
kerangka kelembagaan antar bidang kebijakan kerangka kelembagaan bidang
Polhukhankam,
pembangunan pembangunan. Bappenas dengan
Deputi Polhukhankam melakukan Hasil analisis dan rekomendasi ini disampaikanarahan dari Wamen
asesmen terhadap usulan rumusan Deputi Polhukhankam kepada Deputi
PPN/Wakil Kepala
kebijakan kerangka kelembagaan masing- Penanggung Jawab Bidang Bappenas dan
masing bidang pembangunan, melakukan Menteri PPN/
pembahasan dengan Deputi Penanggung Kepala Bappenas
jawab bidang, dan melakukan koordinasi Deputi
dengan Kementerian PAN dan RB dan Polhukhankam
instansi terkait lainnya. bekerjasama
dengan Deputi
Kelembagaan dan
Ketatalaksanaan,
Kementerian PAN
dan RB
6. Penuangan rumusan kebijakan kerangka Rumusan kebijakan kerangka kelembagaan Deputi Penanggung
kelembagaan pada bidang pembangunan masing-masing bidang menjadi bagian dari Jawab Bidang

No ...
-3-

dalam RPJMN 2015-2019 RPJMN 2015-2019.


Rumusan kebijakan kerangka
kelembagaan ditulis dengan ketentuan
sebagai berikut:
Di awali dengan uraian tentang isu
pembangunan yang terkait dengan isu
kebijakan kerangka kelembagaan yang
bersangkutan;
Uraian tentang isu kelembagaan terkait
isu pembangunan yang relevan;
Uraian tentang arah kebijakan
penguatan kerangka kelembagaan yang
diperlukan. Di sini ditekankan bahwa
rumusan kebutuhan penguatan kerangka
kelembagaan dalam RPJMN dicantumkan
pada level arah kebijakan . Sebagai
contoh, terkait dengan kerangka
kelembagaan yang terkait dengan isu
konektivitas kebijakan transportasi. Isu
diskonektivitas kebijakan transportasi
jalan dengan moda transportasi lainnya,
bisa terkait dengan isu penggabungan
Ditjen Bina Marga ke Kementerian
Perhubungan. Hal seperti ini kita coba
menghindari, misalnya dengan hanya
merumuskan menjadi perlu penataan
kelembagaan untuk meningkatkan
konektivitas kebijakan pembangunan
transportasi.

Catatan
1. Tahapan/ alur penyusunan kerangka kelembagaan disajikan dalam bagan yang tertuang pada Anak Lampiran 5
dan Anak Lampiran 6.

2. Ringkasan
-4-

2. Ringkasan dari langkah-langkah di atas agar dituangkan dalam tabel. Contoh tabel ada pada Anak Lampiran 7.

ANAK ...
-1-

ANAK LAMPIRAN V
PETUNJUK PELAKSANAAN
NOMOR 3 /JUKLAK/SESMEN/2014
TANGGAL 26 JUNI 2014

ALUR/MEKANISME PENYUSUNAN KEBIJAKAN KERANGKA KELEMBAGAAN DALAM RPJMN 2015-2019

PERUMUSAN DAN
PENETAPAN KEBIJAKAN ARAH/RANCANGAN
PEMBANGUNAN LEMBAGA YANG
(SASARAN, ARAH DIBUTUHKAN
KEBIJAKAN, STRATEGI, KEBIJAKAN PEMBAHASAN
PROGRAM, KEGIATAN) KELEMBAGAAN DALAM DALAM KOMITE PERLU PEMBENTUKAN
RPJMN KELEMBAGAAN LEMBAGA BARU

MERGE ATAU SPLIT


IDENTIFIKASI LEMBAGA FUNGSI/LEMBAGA
YANG DIBUTUHKAN YANG ADA

PENATAAN
FUNGSI/KEWENANGAN

ASESMEN TERHADAP BILA LEMBAGA YANG ADA


DIPANDANG TIDAK LIKUIDASI LEMBAGA
FUNGSI DAN KINERJA YANG ADA (DUPLIKASI,
LEMBAGA YANG ADA RELEVAN DAN BELUM
EFEKTIF ATAU TERDAPAT FRAGMENTASI, DLL)
KEKOSONGAN
KELEMBAGAAN, PERLU
PENATAAN HUBUNGAN KERJA
PERUBAHAN INTER DAN ANTAR LEMBAGA
LEMBAGA YANG ADA
DIPANDANG MASIH
RELEVAN DAN EFEKTIF PENGUATAN KAPASITAS
ASN

INSTITUSI KOORDINASI
TETAP MENGGUNAKAN DAN MANAJEMEN
LEMBAGA YANG SUDAH KINERJA
ADA

ANAK
-1-

ANAK LAMPIRAN VI
PETUNJUK PELAKSANAAN
NOMOR 3 /JUKLAK/SESMEN/2014
TANGGAL 26 JUNI 2014

ALUR KEGIATAN PENYUSUNAN KEBIJAKAN KERANGKA KELEMBAGAAN

DEPUTI KELEMBAGAAN DAN


KEMENTERIAN/ KETATALAKSANAAN
LEMBAGA TERKAIT KEMENPAN DAN RB

KOORDINASI

KOORDINASI KOORDINASI
PROGRAM DAN TEKNIS
KELEMBAGAAN KELEMBAGAAN

MERUMUSKAN KORIDOR
KEBIJAKAN KELEMBAGAAN
DEPUTI SEKTOR KOMPILASI, ASESMEN, MENTERI PPN/
SINKRONISASI & KA BAPPENAS
REKOMENDASI

MERUMUSKAN KEBIJAKAN DRAFT


PEMBANGUNAN KEBIJAKAN
DEPUTI
MENGIDENTIFIKASI KELEMBAGAAN
KEBUTUHAN KERANGKA POLHUKHANKAM
DALAM DRAFT
KELEMBAGAAN
RPJMN

ANAK
-1-

ANAK LAMPIRAN VII


PETUNJUK PELAKSANAAN
NOMOR 3/JUKLAK/SESMEN/2014
TANGGAL 26 JUNI 2014

IDENTIFIKASI KERANGKA KELEMBAGAAN RPJMN 2015-2019 (DISERTAI CONTOH)


Sasaran Dan
Identifikasi Asesmen Terhadap Kebutuhan Konkrit Rumusan Kebijakan
Arah
Kerangka Kerangka Kerangka Dit. Penang-
Isu Strategis Kebijakan Penguatan Dit. Terkait
Kelembagaan Yang Kelembagaan Yang Kelembagaan Dalam gung Jawab
RPJMN 2015- Kelembagaan
Dibutuhankan Ada Rpjmn Bidang
2019
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

BIDANG PEMBANGUNAN: HUKUM DAN APARATUR


Reformasi Meningkat-nya Perlunya sinergi Belum sinkronnya Penataan fungsi dan Perencanaan dan Direktorat Direktorat
Birokrasi pemerintahan kebijakan pelaksanaan fungsi kewenangan Ditjen pengangaran memiliki Alokasi Keuangan
dan efektif dan perencanaan dan perencanaan dan Anggaran dan peranan yang sangat Pendanaan Negara,
efisien dalam penganggaran untuk penganggaran baik di Bappenas, dan penting dan strategis Pembangunan Direktorat
merumuskan meningkatkan tingkat eksekutif penguatan aturan dalam menentukan Aparatur
dan kualitas belanja maupun legislatif, main dan hubungan efektifitas dan Negara
melaksanakan pemerintah guna mengakibatkan tidak kerja yang sinergis efisiensi pelaksanaan
kebijakan mendukung sinkronnya kebijakan antara fungsi pembangunan melalui
perumusan dan perencanaan dan perencanaan dan peningkatan kualitas
pelaksanaan penganggaran yang penganggaran. belanja pemerintah.
kebijakan akhirnya Namun hal ini belum
pembangunan menyebabkan belum berjalan optimal
optimalnya kualitas mengingat fungsi
belanja pemerintah. perencanaan dan
penganggaran belum
berjalan secara
harmonis. Oleh
karena itu diperlukan
penataan dan
penguatan fungsi
perencanaan dan
penganggaran.

ANAK
-1-

ANAK LAMPIRAN VIII


PETUNJUK PELAKSANAAN
NOMOR 3 /JUKLAK/SESMEN/2014
TANGGAL 26 JUNI 2014

PENYESUAIAN RPJMD DENGAN RPJMN 2015-2019

Penyesuaian RPJMD dengan RPJMN 2015-2019 dilakukan dengan


tujuan :
1. Menjaga konsistensi dan sinergitas sasaran dan arah kebijakan
pembangunan yang tertuang dalam RPJMN 2015-2019 menjadi
prioritas dalam RPJMD terkait.
2. Meningkatkan koordinasi dan kesepahaman dalam rangka mencapai
sasaran pembangunan nasional.

Mekanisme penyesuaian RPJMD dengan RPJMN 2015-2019


1. RPJMN 2015-2019 yang telah ditetapkan disosialisasikan kepada
Pemerintah Daerah.
2. Berdasarkan hasil sosialisasi, Pemerintah Daerah melakukan
penyesuaian RPJMD dengan RPJMN. Hal-hal yang perlu disesuaikan
adalah sebagai berikut :
a. konsistensi sasaran pokok RPJMD dengan sasaran pokok
nasional.
b. konsistensi arah kebijakan dan strategi pembangunan daerah
dalam mendukung pencapaian prioritas nasional.
c. penyesuaian target dalam RPJMD dengan target prioritas
nasional terkait.
d. penyesuaian pendanaan yang dialokasikan.
3. Khusus untuk Kegiatan Strategis Nasional, RPJMD harus
menyesuaikan arah kebijakan dan strategi, sasaran program dan
kegiatan yang mendukung kegiatan strategis nasional tersebut.
4. Bagi pemerintah daerah yang sedang menyusun RPJMD maka
penyusunannya harus memperhatikan RPJMN 2015-2019, sedangkan
pemerintah daerah yang telah memiliki dokumen RPJMD maka harus

memperhatikan .....
-2-

memperhatikan RPJMN sebagai bahan untuk melakukan perbaikan


jika terdapat perbedaan mendasar antara sasaran dan arah kebijakan
daerah dengan nasional. Jika perbedaannya tidak terlalu mendasar
maka penyesuaian dapat dilakukan pada rencana tahunan (RKPD).
5. RPJMD yang telah disesuaikan disampaikan kepada Bappenas untuk
ditelaah dan dibahas dalam Bilateral Meeting penyesuaian RPJMD
dengan RPJMN.
6. Berdasarkan hasil Bilateral Meeting maka RPJMD yang sudah sesuai,
disampaikan kembali kepada pemerintah daerah untuk ditetapkan.
RPJMD yang masih belum sesuai dengan RPJMN perlu
disempurnakan kembali. Hasil penyempurnaan harus disampaikan
kembali kepada Bappenas.

Gambar
Mekanisme Penyesuaian RPJMD dengan
RPJMN 2015-2019

SEKRETARIS KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/


SEKRETARIS UTAMA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

SLAMET SENO ADJI


PETUNJUK PELAKSANAAN
NO. 2 /JUKLAK/SESMEN/06/2014

TENTANG

PEDOMAN PENGINTEGRASIAN KERANGKA REGULASI


DALAM
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA
KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

PETUNJUK PELAKSANAAN
NOMOR 2/JUKLAK/SESMEN/03/2014
TENTANG
PEDOMAN PENGINTEGRASIAN KERANGKA REGULASI DALAM
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL

Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan amanat Pasal 17


Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional
Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyusunan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019,
perlu menetapkan Petunjuk Pelaksanaan tentang Pedoman
Pengintegrasian Kerangka Regulasi dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional;

Mengingat : 1. UndangUndang Nomor 17 Tahun 2003 tentang


Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4286);

2. Undang Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem


Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

3. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang


Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5234);

4. Peraturan ...
-2-

4. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang


Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional;

5. Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2007 tentang Badan


Perencanaan Pembangunan Nasional;

6. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang


Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara
sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan
Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2013;

7. Peraturan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan


Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional Nomor PER. 005/M.PPN/10/2007 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara
Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional, sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional Nomor 7 Tahun 2012;

8. Peraturan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan


Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pedoman
Perencanaan, Pelaksanaan, Pelaporan, Pemantauan dan
Evaluasi Kegiatan dan Anggaran di Kementerian
Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional;

MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PETUNJUK PELAKSANAAN TENTANG PEDOMAN
PENGINTEGRASIAN KERANGKA REGULASI DALAM
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH.

PERTAMA
-3-

PERTAMA : Menetapkan Petunjuk Pelaksanaan tentang Pedoman


Pengintegrasian Kerangka Regulasi dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah, sebagaimana tercantum
dalam Lampiran Petunjuk Pelaksanaan ini yang merupakan
satu kesatuan dan bagian tak terpisahkan dalam Petunjuk
Pelaksanaan ini.

KEDUA : Pedoman Pengintegrasian Kerangka Regulasi dalam Rencana


Pembangunan Jangka Menengah Nasional dimaksudkan
untuk memberikan panduan bagi Kedeputian Bidang di
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional untuk melakukan
pengintegrasian Kerangka Regulasi dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional.

KETIGA : Petunjuk Pelaksanaan ini mulai berlaku pada tanggal


ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 25 Maret 2014

SEKRETARIS KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/


SEKRETARIS UTAMA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL,

SLAMET SENO ADJI


LAMPIRAN
PETUNJUK PELAKSANAAN
NOMOR 2/JUKLAK/SESMEN/03/2014
TANGGAL 25 MARET 2014

PETUNJUK PELAKSANAAN TENTANG


PEDOMAN PENGINTEGRASIAN KERANGKA REGULASI DALAM
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL
ii

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang................................................................................ 1
B. Maksud dan Tujuan........................................................................ 2
C. Ruang Lingkup................................................................................ 2
D. Prinsip-Prinsip Penyusunan Kerangka Regulasi............................... 4
E. Definisi............................................................................................ 4

II TATA CARA PENGINTEGRASIAN KERANGKA REGULASI 7


A. Tahapan dalam Tata Cara Pengintegrasian Kerangka Kebijakan
dengan Kerangka Regulasi............................................................... 7
B. Tata Cara Pengintegrasian Kerangka Kebijakan dengan Kerangka 11
Regulasi Jangka Menengah.............................................................

III PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROSES PENGINTEGRASIAN 13


KERANGKA REGULASI KE DALAM RENCANA PEMBANGUNAN
JANGKA MENENGAH NASIONAL
13
A. Arah Kebijakan Partisipasi Masyarakat dalam Kerangka Regulasi ...
14
B. Wahana Partisipasi Masyarakat.......................................................

IV PENUTUP 15

ANAK LAMPIRAN
1. Tata Cara Pengintegrasian Kerangka Regulasi
2. Contoh Tabel Identifikasi Kerangka Regulasi RPJMN 2015-
2019
3. Lembar Penilaian Usulan Kerangka Regulasi
4. Tahapan dan Langkah Analisis Biaya dan Manfaat (Cost and
Benefit Analysis (CBA)) dalam Rangka Sinergitas Kerangka
Kebijakan dengan Kerangka Regulasi
-1-

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem


Perencanaan Pembangunan Nasional secara tegas mengamanatkan
kerangka regulasi menjadi bagian dari salah satu dokumen
perencanaan pembangunan nasional yaitu dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Hal ini tercantum
dalam Pasal 4 ayat (2) yang berbunyi :

RPJM Nasional merupakan penjabaran dari visi, misi, dan


Program Presiden yang penyusunannya berpedoman pada
RPJP Nasional, yang memuat strategi pembangunan Nasional,
kebijakan umum, program Kementerian/Lembaga dan lintas
Kementerian/Lembaga, kewilayahan dan lintas kewilayahan,
serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran
perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan
fiskal dalam rencana kerja yang berupa kerangka regulasi
dan kerangka pendanaan.

Peran kerangka regulasi sangat penting dalam perencanaan


pembangunan nasional. Regulasi sendiri merupakan sarana untuk
mengoperasionalkan kebijakan pemerintah atau dengan kata lain,
regulasi adalah bentuk formal (formalisasi) suatu kebijakan agar
mempunyai kekuatan memaksa (untuk dipatuhi, dilaksanakan dan
ditegakkan).

Regulasi merupakan sarana utama bagi pemerintah untuk


mengoperasionalkan kebijakan-kebijakannya, terutama yang bersifat
strategis. Sedangkan kebijakan merupakan pilihan tindakan
pemerintah yang bersifat umum dan ditujukan kepada masyarakat
umum. Dengan demikian, regulasi tidak dapat dipisahkan dari
kebijakan, namun kebijakan sendiri tidak harus selalu
dioperasionalkan dengan regulasi.

Kerangka Regulasi dimaksudkan untuk memberi arahan dan


landasan pengaturan (regulasi) dalam melaksanakan kegiatan
penyelenggaraan negara dan pembangunan, dengan muatan indikasi
atau arah kebijakan mengenai rancangan peraturan perundang-
undangan yang diusulkan dalam kurun waktu tertentu.

Inti ...
-2-

Inti dari kerangka regulasi adalah upaya mewujudkan tertib


peraturan perundang-undangan (regulasi) sejak tahapan yang
sangat awal, yaitu tahapan perencanaan dan penganggaran.

Dalam rangka memberikan pedoman dan panduan bagi


Kedeputian Bidang di Kementerian Perencanaan Pembangunan
Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional untuk
melakukan pengintegrasian Kerangka Regulasi dalam RPJMN serta
untuk melaksanakan ketentuan Pasal 17 Peraturan Menteri
Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor 1 Tahun 2014 tentang
Pedoman Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional Tahun 2015-2019, perlu menetapkan Petunjuk Pelaksanaan
tentang Pedoman Pengintegrasian Kerangka Regulasi dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional.

B. Maksud dan Tujuan

Petunjuk Pelaksanaan ini disusun untuk memberikan panduan


bagi Kedeputian Bidang di Kementerian Perencanaan Pembangunan
Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dalam
melakukan pengintegrasian Kerangka Regulasi dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional yang bertujuan untuk :
1. Mengarahkan proses perencanaan pembentukan peraturan
perundang-undangan agar sesuai dengan kebutuhan
pembangunan;
2. Meningkatkan kualitas peraturan perundang-undangan dalam
rangka mendukung pencapaian prioritas pembangunan; dan
3. Meningkatkan efisiensi pengalokasian anggaran untuk keperluan
pembentukan peraturan perundang-undangan.

C. Ruang Lingkup

Petunjuk Pelaksanaan ini mencakup pedoman pengintegrasian


kerangka regulasi jangka menengah. Untuk pengintegrasian kerangka
regulasi jangka menengah digambarkan dalam Gambar 1 :

Gambar 1 ...
-3-

Gambar 1. Pengintegrasian Kerangka Regulasi Jangka Menengah

Ruang Lingkup Pedoman Pengintegrasian Kerangka Regulasi


Jangka Menengah antara lain:

1. Persiapan dilakukan melalui proses serial diskusi antara


Kedeputian Bidang Politik, Hukum dan Pertahanan dan Keamanan
dengan Kedeputian Bidang yang membahas tentang evaluasi awal
terkait kebijakan dan regulasi pada periode sebelumnya. Dalam
proses ini masing-masing Unit Kerja Eselon 2 menetapkan Focal
Point pada masing-masing unitnya. Hasil tiap diskusi serial harus
dikoordinasikan oleh Focal Point kepada Kementerian/Lembaga
yang menjadi mitranya.

2. Proses penyusunan merupakan tindak lanjut dari hasil serial


diskusi yang didalamnya melibatkan masyarakat (stakeholders
terkait) dengan hasil akhir berupa draf arah kerangka regulasi
dan/atau kebutuhan regulasi dalam dokumen perencanaan
pembangunan jangka menengah.

3. Penentuan dan penetapan Arah Kerangka Regulasi dan/atau


Kebutuhan Regulasi sejalan dengan proses penyusunan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah.

D. Prinsip ...
-4-

D. Prinsip-Prinsip Penyusunan Kerangka Regulasi

Prinsip-prinsip dalam penyusunan Kerangka Regulasi adalah


sebagai berikut :
1. Penyusunan Kerangka Regulasi dalam penyusunan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dimaksudkan
untuk memfasilitasi, mendorong dan mengatur perilaku
masyarakat, termasuk swasta dan penyelenggara negara dalam
rangka mewujudkan Tujuan Bernegara sebagaimana tercantum
pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.

2. Penyusunan Kerangka Regulasi dilakukan dengan


mempertimbangkan dampak, biaya, manfaat dan kerugiannya
untuk masyarakat.

3. Penyusunan Kerangka Regulasi dilakukan dengan


mempertimbangkan asas pembentukan dan asas materi
peraturan perundang-undangan yang baik.

4. Penyusunan Kerangka Regulasi dilakukan dengan melibatkan


stakeholder terkait.

5. Kerangka Regulasi Jangka Menengah berisi kebutuhan Regulasi


dan/atau arah kerangka regulasi yang akan dibentuk sejalan
dengan kebijakan pembangunan nasional yang tertuang pada
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

E. Definisi

Dalam Petunjuk Pelaksanaan ini yang dimaksud dengan:


1. Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan
masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan
memperhitungkan sumber daya yang tersedia.

2. Pembangunan Nasional adalah upaya yang dilaksanakan oleh


semua komponen bangsa dalam rangka mencapai tujuan
bernegara.

3. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, yang


selanjutnya disingkat RPJMN adalah dokumen perencanaan
pembangunan nasional untuk periode 5 (lima) tahunan.

4. Kerangka ...
-5-

4. Kerangka Rencana Pembangunan Nasional adalah arahan yang


disepakati bersama yang menjabarkan unsur-unsur pokok
pembangunan dan menjelaskan keterkaitannya dalam rangka
menyusun RPJMN.

5. Kerangka Regulasi adalah perencanaan pembentukan regulasi


dalam rangka memfasilitasi, mendorong dan mengatur perilaku
masyarakat dan penyelenggara Negara dalam rangka mencapai
tujuan bernegara.

6. Arah Kerangka Regulasi adalah proyeksi kebijakan yang


memberikan arahan bagi penyelenggara negara dalam
menetapkan strategi kebijakan yang berimplikasi pada diambilnya
suatu keputusan yang berupa pembentukan regulasi dan/atau
kebijakan lainnya.

7. Pengkajian adalah serangkaian kegiatan yang meliputi penetapan


masalah dan penetapan tujuan/sasaran dengan tetap
memerhatikan regulasi yang berlaku.

8. Penelitian adalah pendalaman masalah dan tujuan/sasaran yang


telah ditetapkan dengan mempertimbangkan dan
memperhitungkan Analisis Biaya dan Manfaat (Cost and Benefit
Analysis) atau Analisis Efektifitas Biaya (Cost Effectiveness
Analysis).

9. Analisis Biaya dan Manfaat (Cost and Benefit Analysis) adalah


suatu metode yang digunakan untuk membandingkan berbagai
biaya atau resiko sebagai implikasi dan manfaat yang diharapkan
dapat diperoleh dari sebuah kebijakan atau regulasi.

10. Biaya adalah berbagai variabel yang perlu diperhitungkan


termasuk resiko untuk mencapai tujuan kebijakan/regulasi yang
akan ditetapkan.

11. Manfaat adalah harapan yang akan diperoleh dengan


ditetapkannya suatu kebijakan/regulasi.

12. Kedeputian Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan


adalah Deputi pada Kementerian Perencanaan Pembangunan
Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang
bertugas melaksanakan perumusan kebijakan dan pelaksanaan
penyusunan rencana pembangunan nasional di bidang politik,
hukum, pertahanan, dan keamanan.

13. Kedeputian ...


-6-

13. Kedeputian Bidang Pendanaan Pembangunan adalah Deputi pada


Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional yang bertugas
melaksanakan perumusan kebijakan dan pelaksanaan
penyusunan rencana pembangunan nasional di bidang
pendanaan pembangunan.

14. Kedeputian Bidang adalah Deputi pada Kementerian Perencanaan


Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional yang bertugas melaksanakan perencanaan
pembangunan bidang terkait yang merupakan mitra dari
Kementerian/Lembaga.

15. Focal Point adalah perseorangan yang ditunjuk oleh Unit Kerja
Eselon 2 sebagai penanggung jawab teknis untuk kelancaran
pengintegrasian Kerangka Regulasi dalam RPJMN.

BAB II ...
-7-

BAB II
TATA CARA PENGINTEGRASIAN KERANGKA REGULASI

A. Tahapan dalam Tata Cara Pengintegrasian Kerangka Kebijakan


dengan Kerangka Regulasi

1. Pada tahapan awal penyusunan kerangka kebijakan perlu


dilakukan evaluasi terhadap regulasi yang sudah ada yang
memuat substansi kebijakan terdahulu.

2. Tahapan awal terdiri dari Pengkajian dan Penelitian.

3. Pengkajian yang meliputi kegiatan:


a. identifikasi masalah (problem definition);
b. penetapan tujuan (objective setting); dan
c. identifikasi regulasi yang ada (existing regulation).

4. Penelitian yang meliputi kegiatan:


a. Analisis mendalam (indepth analysis) terhadap hasil
pengkajian termasuk Analisis Biaya dan Manfaat.
b. Penggunaan Analisis Biaya dan Manfaat adalah sebagai
berikut :
1) Tujuan
Penggunaan Analisis Biaya dan Manfaat untuk
membantu pengambil kebijakan dan/atau pembentuk
regulasi untuk memilih alternatif kebijakan/regulasi
yang terbaik.
2) Prinsip-Prinsip dari Analisis Biaya dan Manfaat
a) Perlu mendasarkan pada analisis keadaan yang
mengacu pada visi-misi Presiden untuk memenuhi
tujuan pembangunan Nasional.
b) Dalam melakukan analisis perlu
mempertimbangkan semua aspek terkait (antar
bidang, lintas bidang, dan kewilayahan).
c) Analisis dapat dilakukan baik sebelum maupun
setelah kebijakan dan/atau regulasi dibentuk.
d) Dilakukan oleh pihak yang memahami bidang
terkait sehingga dapat menemukenali dan
mempertimbangkan dampak finansial maupun
dampak non finansial.

e) Analisis ...
-8-

e) Analisis dilakukan dengan melibatkan semua


pemangku kepentingan yang akan terkena dampak
baik resiko dan manfaat.
f) Analisis Biaya dan Manfaat harus diumumkan
kepada masyarakat.
3) Langkah-langkah dalam Menerapkan Analisis Biaya dan
Manfaat
a) Mengidentifikasi siapa saja yang akan terkena
dampak. Pihak yang terkena dampak dapat terdiri
dari Pemerintah, swasta/dunia usaha, kelompok
atau golongan di dalam masyarakat (pemuda,
perempuan, anak-anak, lansia, masyarakat adat,
petani, nelayan, orang miskin, orang sakit, dan lain
sebagainya).
b) Mengidentifikasi semua jenis manfaat dan biaya
pada masing-masing kelompok masyarakat yang
akan terdampak.
4) Contoh Biaya antara lain meliputi:
a) Pemerintah: biaya yang harus dikeluarkan dalam
hal perumusan kebijakan, pembentukan regulasi,
penerapan regulasi dan penegakannya;
b) Dunia usaha: ongkos produksi, kesempatan
berusaha/bekerja yang hilang/berkurang,
keuntungan yang hilang/berkurang;
c) Masyarakat umum: pencemaran atau kerusakan
lingkungan hidup, banjir, kekeringan, penyakit,
kehilangan mata pencaharian/pekerjaan,
kehilangan jiwa, kehilangan tempat tinggal,
kehilangan sumber mata pencaharian, kehilangan
kesempatan sekolah, kehilangan kebebasan
berkumpul, mahalnya ongkos transportasi;
d) Masyarakat Adat: berkurangnya mata pencaharian,
kehilangan tempat tinggal, dan lain-lain.

5) Contoh ...
-9-

5) Contoh Manfaat antara lain meliputi:


a) Pemerintah: penerimaan negara, berkurangnya
beban anggaran negara;
b) Dunia usaha: terbukanya kesempatan
berusaha/kemudahan berusaha, meningkatnya
keuntungan, produktivitas dan sebagainya;
c) Masyarakat Umum: meningkatnya kualitas
lingkungan hidup, kesehatan, harapan hidup,
kesejahteraan; bertambahnya akses pendidikan dan
kesehatan bagi masyarakat miskin, dan lain-lain.
6) Mengukur/menilai (dalam rupiah) semua manfaat dan
biaya, bila memungkinkan.
Seluruh biaya dan manfaat di atas diukur nilainya
dalam rupiah. Untuk jenis biaya dan manfaat yang sulit
untuk mengukur nilai rupiahnya, maka penghitungan
dilakukan berdasarkan penghitungan willingness to pay
atau willingness to accept.
7) Mengukur/menilai (dalam rupiah) baseline manfaat dan
biaya, yaitu manfaat dan biaya dalam kondisi saat ini
ketika kebijakan dan atau regulasi belum dibentuk
(dalam kondisi Business As Usual).
8) Membandingkan manfaat dan biaya antara baseline
dengan apabila ada intervensi (kebijakan dan atau
regulasi) dalam rupiah.
9) Untuk mengetahui apakah manfaat yang diperoleh dari
pembentukan kebijakan/regulasi adalah lebih besar
daripada biaya dalam konsisi Business As Usual. Bila
manfaat yang akan diperoleh adalah sama dengan ketika
kondisi Business As Usual, maka tidak perlu ada
kebijakan baru/regulasi baru.
10) Membuat laporan hasil Analisis Biaya dan Manfaat dan
menyusun rekomendasi berdasar hasil Analisis Biaya
dan Manfaat.
11) Hasil Analisis Biaya dan Manfaat dan rekomendasi
diumumkan kepada masyarakat.

c. Hasil ...
-10-

c. Hasil penelitian tidak selalu merekomendasikan


pembentukan/amandemen/penggantian Undang-Undang.
Dalam hal hasil penelitian tidak bersifat regulatory pada level
Undang-Undang, maka rekomendasi meliputi:
1) Pembentukan peraturan pelaksanaan Undang-Undang
(Peraturan Pemerintah ke bawah), dan/atau;
2) Kegiatan lain yang bersifat peraturan kebijakan atau
legislasi semu (contoh: surat perintah atau instruksi
mengenai kebijakan yang ditetapkan dengan Keputusan
Presiden atau Instruksi Presiden).

5. Proses pembentukan regulasi mengacu pada ketentuan yang telah


diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

6. Untuk memudahkan dalam memahami proses pengintegrasian


Kerangka Kebijakan dengan Kerangka Regulasi maka dapat dilihat
pada Gambar 2 berikut ini.

Gambar. 2 Proses Pengintegrasian Kerangka Kebijakan dengan


Kerangka Regulasi

B. Tata ...
-11-

B. Tata Cara Pengintegrasian Kerangka Kebijakan dengan Kerangka


Regulasi Jangka Menengah

1. Bagan Tata Cara Pengintegrasian Kerangka Regulasi dapat dilihat


pada Anak Lampiran I.

2. Draf awal kebutuhan regulasi dan/atau arah kerangka regulasi


disusun oleh masing-masing Kedeputian Bidang berdasarkan
hasil kajian background study Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional termasuk hasil evaluasi dari regulasi terkait
yang diidentifikasi bermasalah dan/atau menghambat pencapaian
tujuan Pembangunan nasional pada periode sebelumnya. Contoh
Formulir Tabel Identifikasi Kerangka Regulasi dapat dilihat pada
Anak Lampiran II.

3. Hasil evaluasi meliputi urgensi pembentukan dan/atau revisi


regulasi untuk menjawab apakah regulasi yang ada dianggap
belum cukup memadai atau perlu menyesuaikan dengan kondisi
terikini serta review terhadap peraturan yang ada. Formulir
Lembar Penilaian Usulan Kerangka Regulasi dapat dilihat pada
Anak Lampiran III.

4. Draf awal kebutuhan regulasi dan/atau arah kerangka regulasi


yang ditetapkan wajib melalui analisis biaya dan manfaat dalam
rangka pelaksanaan kebijakan pembangunan yang akan
ditetapkan dalam draf Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional. Formulir pengisian Analisis Biaya dan Manfaat dapat
dilihat pada Anak Lampiran IV.

5. Dalam membahas kebutuhan regulasi dan/atau arah kerangka


regulasi dari satu Kedeputian Bidang yang membutuhkan
dukungan dari Kedeputian Bidang lain, wajib melakukan
koordinasi dan komunikasi agar sejalan dengan prioritas
kebijakan pembangunan yang akan dicapai.

6. Kedeputian Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan


bertindak selaku koordinator penyusunan kerangka regulasi
dengan didukung oleh Sekretariat yang dalam hal ini yaitu
Direktorat Analisa Peraturan Perundang-undangan.

7. Kedeputian Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan


berkoordinasi dengan Kedeputian Bidang Pendanaan
Pembangunan serta Kedeputian-kedeputian Bidang untuk
memastikan kebutuhan regulasi dan/atau arah kerangka regulasi
sejalan dengan proses penyusunan teknokratis RPJMN.

8. Masing-masing ...
-12-

8. Masing-masing Kedeputian Bidang wajib menunjuk satu orang


Focal Point di masing-masing Unit Kerja Eselon-2 yang bertugas
untuk mengawal proses koordinasi dan komunikasi, serta
internalisasi kebutuhan regulasi dan/atau arah kerangka regulasi
yang disusun agar sejalan dengan prioritas kebijakan
pembangunan yang akan dicapai.

9. Focal Point bertugas melakukan proses koordinasi dan


komunikasi dengan stakeholder terkait kebutuhan regulasi
dan/atau arah kerangka regulasi yang disusun, baik di internal
Kementerian PPN/Bappenas yakni, dengan Unit Kerja Eselon 2
maupun secara eksternal dengan Kementerian/Lembaga yang
menjadi mitranya dalam hal ini Unit Kerja Eselon yang secara
langsung terkait kebutuhan regulasi dan/atau arah kerangka
regulasi yang diusulkan.

10. Hasil koordinasi dan komunikasi pembahasan kebutuhan regulasi


dan/atau arah kerangka regulasi tersebut berupa identifikasi awal
Arah Kerangka Regulasi dan/atau Kebutuhan Regulasi yang
sinergi dengan prioritas kebijakan termasuk melalui analisis biaya
dan manfaat. Contoh Formulir Tabel Identifikasi Kerangka
Regulasi dapat dilihat pada Anak Lampiran III.

11. Hasil identifikasi awal menjadi bahan bagi dokumen draf


Background Study RPJMN yang kemudian diproses menjadi draf
RPJMN Teknokratik yang selanjutnya disampaikan kepada
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas
dan Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas oleh Deputi
Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan selaku
koordinator pengintegrasian Kerangka Regulasi dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional.

12. Hasil konsolidasi terkait kebutuhan regulasi dan/atau arah


kerangka regulasi akan menjadi bahan penyusunan Program
Legislasi Nasional (Prolegnas) Jangka Menengah Pemerintah.

BAB III ...


-13-

BAB III

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROSES PENGINTEGRASIAN


KERANGKA REGULASI KE DALAM RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA
MENENGAH NASIONAL

A. Arah Kebijakan Partisipasi Masyarakat dalam Kerangka Regulasi


1. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan pembentukan
peraturan perundang-undangan/regulasi menjadi amanat dari:
a. Pasal 2 ayat (4) huruf d Undang-Undang Nomor 25 Tahun
2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional,
dan Pasal 96 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan;
b. Pasal 10 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun
2006 tentang Cara Penyusunan Rencana Pembangunan
Nasional;
c. Pasal 8 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Menteri PPN/Kepala
Bappenas Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional Tahun 2015-2019.
2. Partisipasi masyarakat dimulai sejak pengusulan hingga
penetapan kerangka regulasi. Pelibatan masyarakat dalam
pengusulan kebijakan/regulasi disesuaikan dengan karakteristik
Kementerian/Lembaga masing-masing.
3. Keterlibatan masyarakat dalam kerangka regulasi pada prinsipnya
bukan semata-mata karena adanya hak berpartisipasi dalam
proses kebijakan dan pembangunan, namun juga merupakan
upaya pembelajaran dalam rangka mendukung peningkatan
kualitas regulasi secara lebih nyata dan berkesinambungan.
4. Pemangku kepentingan (stakeholder) yang dilibatkan :
a. Instansi/Lembaga/Pihak Utama (Main Stakeholders), antara
lain:
1) Instansi/Lembaga Pemrakarsa (Inisiator);
2) Instansi yang terkait secara langsung; atau
3) Pihak yang mempunyai kepentingan secara langsung.

b. Pihak ...
-14-

b. Pihak yang terkena dampak secara langsung (Affected


Parties), antara lain :
1) Pihak yang paling memperoleh manfaat; atau
2) Pihak yang secara potensial akan terkena dampak
(negatif) yang paling besar.
c. Kelompok Masyarakat yang berkepentingan (Interest Groups),
antara lain:
1) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM);
2) asosiasi;
3) pakar; dan
4) media massa.
d. Masyarakat luas (Public at Large), antara lain:
1) konsumen, kelompok advokasi lingkungan dan
kelompok advokasi lainnya;
2) penduduk asli, minoritas dan grup etnik; dan
3) asosiasi masyarakat sipil yang berbasis agama.

B. Wahana Partisipasi Masyarakat


Masyarakat perlu meningkatkan kesadaran, pengetahuan dan
pemahaman serta apresiasi terhadap regulasi. Beberapa wahana yang
dapat dilakukan untuk pengembangan partisipasi masyarakat tersebut
antara lain melalui :
1. Pengembangan model koalisi Organisasi Masyarakat Sipil (OMS)
untuk memberi masukan dan mengawal kerangka regulasi;
2. Pengembangan model komunikasi interaktif dengan
Kementerian/Lembaga untuk mengetahui berbagai perkembangan
terkait kerangka regulasi.

BAB IV ...
-15-

BAB IV
PENUTUP

Pedoman ini merupakan penjabaran dari Peraturan Menteri


Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.
Pedoman ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi Unit Kerja
Eselon 1 dan Unit Kerja Eselon 2 dalam menyusun Kerangka Regulasi
untuk diintegrasikan kedalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional.

SEKRETARIS KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/


SEKRETARIS UTAMA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL,

SLAMET SENO ADJI


-1-

ANAK LAMPIRAN I
PETUNJUK PELAKSANAAN
NOMOR 2/JUKLAK/SESMEN/03/2014
TANGGAL 25 MARET 2014

TATA CARA PENGINTEGRASIAN KERANGKA REGULASI

MENTERI Draf RPJMN


PPN/KEPALA
Teknokratik
BAPPENAS

DEPUTI DEPUTI
Evaluasi urgensi
BIDANG
pembentukan
regulasi; dan review
Identifikasi
terhadap peraturan Awal Arah
yang ada Kerangka Draf
Regulasi Background
dan/atau Study
DEPUTI BIDANG Kebutuhan RPJMN
POLHUKHANKAM Regulasi yang
Teknokratik
sinergi dengan
kebijakan
termasuk
DEPUTI BIDANG
melakukan
PENDANAAN analisis biaya
PEMBANGUNAN dan manfaat
-2-

ANAK LAMPIRAN II
PETUNJUK PELAKSANAAN
NOMOR 2/JUKLAK/SESMEN/03/2014
TANGGAL 25 MARET 2014

CONTOH
TABEL IDENTIFIKASI KERANGKA REGULASI RPJMN 2015-2019

Evaluasi
Arah
Arah terhadap
Urgensi Direktorat
Isu Kebijakan Direktorat
Kerangka Kebutuhan Regulasi Pembentukan/
Existing Penanggung
Strategis RPJMN Terkait
Regulasi Revisi UU
Regulation Jawab
2015-2019
Terkait
KEDEPUTIAN BIDANG KEMISKINAN, KETENAGAKERJAAN DAN UKM

Penyusunan aturan
Peningkatan
pelaksanaan UU No. 17
daya saing
tahun 2012 tentang
UMKM dan
Landasan Perkoperasian (5 RPP
koperasi
Peningkatan hukum untuk tentang Perkoperasian Direktorat Jasa
untuk
Daya Saing mendukung yang sedang dibahas: Amanat UU Direktorat Keuangan dan
memperkuat
UMKM dan peningkatan RPP Penyelenggaraan No.17/2012 tentang Pemberdayaan BUMN; Direktorat
ketahanan
Koperasi daya saing Koperasi, RPP KSP, RPP Perkoperasian Koperasi dan UKM Penanggulangan
perekonomian
(UMKMK) UMKM dan Lembaga Pengawas Kemiskinan
domestik dan
koperasi KSP, RPP Koperasi
membangun
Syariah dan RPP
keunggulan
Lembaga Penjamin
global
Simpanan Koperasi)
-3-

Evaluasi
Arah
Arah Urgensi terhadap Direktorat
Isu Kebijakan Direktorat
Kerangka Kebutuhan Regulasi Pembentukan/ Existing Penanggung
Strategis RPJMN Terkait
Regulasi Revisi UU Regulation Jawab
2015-2019
Terkait
Direktorat Pangan
dan Pertanian;
Belum ada
Direktorat
landasan hukum
Kelautan dan
yang menaungi
Perikanan;
Peraturan setara pelaksanaan
Regulasi diperlukan Direktorat
dengan Peraturan program
untuk menguatkan Kehutanan;
Presiden terkait nasional yang Direktorat
koordinasi dan Direktorat
koordinasi dan terkait dengan Pemberdayaan
sinkronisasi Perdagangan,
sinkronisasi peningkatan Koperasi dan UKM
pemberdayaan Investasi dan KEI;
Pemberdayaan Koperasi daya saing
UMKM dan Koperasi Direktorat
dan UMKM UMKM dan
Industri, IPTEK
melibatkan
dan Parekraf;
sinergi berbagai
Direktorat Jasa
K/L
Keuangan dan
BUMN
KEDEPUTIAN BIDANG PENGEMBANGAN REGIONAL DAN OTONOMI DAERAH
Yurisdiksi kasus
Peraturan tentang pertanahan yang
pembentukan kamar belum jelas Belum ada
khusus pertanahan di sehingga satu peraturan
Penyelesaian
Penyusunan Pengadilan Negeri yang kasus perundangan
kasus
kebijakan dan meliputi: pertanahan bisa yang mengatur
pertanahan
peraturan diproses pada pembentukan
pada Percepatan Tata Cara Beracara
perundang- beberapa kamar khusus
pengadilan penyelesaian di Pengadilan Negeri Direktorat Tata
undangan peradilan yang pertanahan di Direktorat Hukum
cenderung kasus Khusus untuk Ruang dan
untuk berbeda. pengadilan dan HAM
berlarut- pertanahan di kasus-kasus Pertanahan
mempercepat Sehingga negeri dan juga
larut karena pengadilan pertanahan;
penyelesaian keputusan yang perangkat
yurisdiksi
kasus Hakim yang dikeluarkan peradilannya
yang tidak
pertanahan mengadili; terhadap satu sehingga belum
jelas
kasus dapat dapat dilakukan
Bentuk keputusan; berbeda-beda evaluasi
dan sulit di
Jenjang karier SDM
eksekusi
-4-

Evaluasi
Arah
Arah Urgensi terhadap Direktorat
Isu Kebijakan Direktorat
Kerangka Kebutuhan Regulasi Pembentukan/ Existing Penanggung
Strategis RPJMN Terkait
Regulasi Revisi UU Regulation Jawab
2015-2019
Terkait
hakim dan Kerangka waktu
penyelesaian
Pelatihan khusus
kasus
bagi aparat terkait
pertanahan tidak
seperti: hakim,
dibatasi sehingga
panitera, jaksa, dan
dengan tiga
kepolisian.
kemungkinan
pengadilan yang
berbeda menjadi
semakin berlarut-
larut
Percepatan
penyelesaian
kasus
pertanahan dapat
meningkatkan
kepastian hukum
hak atas tanah
yang berdampak
pada
pembentukan
kondisi yang
kondusif bidang
ekonomi, sosial-
budaya, politik,
juga dapat
mengurangi dan
mencegah
timbulnya konflik
-5-

ANAK LAMPIRAN III


PETUNJUK PELAKSANAAN
NOMOR 2/JUKLAK/SESMEN/03/2014
TANGGAL 25 MARET 2014

LEMBAR PENILAIAN USULAN KERANGKA REGULASI


1. Judul Proposal Kebijakan/Regulasi : .....................................................................................................................
2. Kementerian/Lembaga Pengusul : .....................................................................................................................
3. Tahun usulan : .....................................................................................................................
4. Direktorat Mitra di Bappenas : .....................................................................................................................
5. Penilaian :

1 POLICY/KEBIJAKAN
a. Jelaskan apakah substansi
Tujuan utama analisis kebijakan ini adalah untuk menilai konsistensi
proposal usulan sesuai dengan
antara kebijakan/regulasi yang diusulkan
arah pembangunan yang telah
ditetapkan? Konsistensi dengan kebijakan/regulasi lain yang terkait.
b. Apakah substansi proposal Konsistensi dengan tema dan kebijakan/prioritas nasional pada RPJMN
usulan berpotensi
konflik/inkonsisten dengan
kebijakan sektor lain?
2 REGULASI/LEGALITAS
a. Jelaskan apakah substansi Tujuan utama analisis regulasi/legalitas adalah untuk menjaga sistem
kebijakan telah sesuai dengan regulasi nasional baik secara kualitatif maupun kuantitatif agar tetap
tingkat regulasi yang diusulkan sederhana dan tertib.
(i.e. UU)?
Kualitatif: menjaga/mengelola kualitas regulasi dan mencegah potensi
b. Sebutkan regulasi lain yang
konflik, inkonsisten, duplikasi, dsb.
mengatur substansi yang
Kuantitatif:mengelola proporsi regulasi agar tetap rasional.
sama?
-6-

3 PROYEKSI FINANSIAL
a. Berikan gambaran awal
mengenai proyeksi finansial
(CBA atau CEA) yang timbul Tujuan utama analisis finansial ini adalah untuk
apabila kebijakan ini meningkatkan efisiensi regulasi dengan membandingkan
diimplementasikan
Catatan: Biaya pembentukan, penerapan dan penegakan regulasi,
Proyeksi finansial meliputi Potensi manfaat yang diperkirakan akan di diperoleh.
aspek-2 yang dapat diukur Analisis dilakukan dengan CBA atau CEA
dengan uang dan bersifat
kuantitatif/dapat
dikuantitatifkan.

b. Berikan gambaran awal


mengenai proyeksi sosial (CBA
atau CEA) yang timbul apabila
kebijakan ini Penilaian secara umum memberikan penilaian dan
diimplementasikan pertimbangan(berdasarkan informasi di atas) mengenai perlu
Catatan: atau tidak perlunya suatu proposal dari K/L untuk
Proyeksi sosial meliputi aspek- diakomodasi di dalam RPJM.
aspek sosial yang bersifat Penilaian secara umum juga dapat merekomendasikan
kualitatif/tidak dapat pilihan tindakan lain (misalnya pengaturan pada regulasi di
dikuantitatifkan.
bawah UU).
-7-

4 PENILAIAN SECARA UMUM

5 DIREKTORAT SEKTOR NAMA TANDA TANGAN


KEMENTERIAN PPN/BAPPENAS
-8-

ANAK LAMPIRAN IV
PETUNJUK PELAKSANAAN
NOMOR 2/JUKLAK/SESMEN/03/2014
TANGGAL 25 MARET 2014

TAHAPAN DAN LANGKAH ANALISIS BIAYA DAN MANFAAT (COST AND BENEFIT ANALYSIS (CBA))
DALAM RANGKA SINERGITAS KERANGKA KEBIJAKAN DENGAN KERANGKA REGULASI

TAHAP LANGKAH KETERANGAN

I. Identifikasi siapa Pihak yang terkena dampak dapat terdiri Semakin banyak pihak yang bisa
saja yang terkena dari: teridentifikasi maka akan semakin
dampak dan analisis akan semakin kaya.
pengaruh dari isu
strategis
1. Pemerintah,
2. Sektor privat/swasta/bisnis

dan golongan-
3. Organisasi-organisasi masyarakat sipil

golongan di dalam masyarakat (pemuda,


4. Kelompok-kelompok

perempuan, anak, orang tua, suku, dan


lain sebagainya)

II. Identifikasi biaya a. Apakah ada biaya yang harus Urut-urutan ini berlaku sebagai daftar
dan manfaat apa dikeluarkan? Berapa? periksa (scorecard) sebagai alat bantu
yang akan diperoleh b. Apakah ada kesempatan mendapatkan identifikasi awal mengenai biaya-dan
oleh masing-masing keuntungan yang hilang?
manfaat suatu kebijakan.
pihak terkait c. Apakah ada dampak menurutnya
kesehatan?
d. Apakah ada dampak kehilangan mata
-9-

TAHAP LANGKAH KETERANGAN

pencaharian
e. Apakah ada dampak terhadap
keselamatan jiwa?
f. Apakah ada dampak terhadap kehilangan
lingkungan tempat tinggal yang baik?
g. Apakah ada dampak terhadap
kesempatan mendapatkan pendidikan
yang baik?
h. Apakah ada dampak terhadap kebebasan
berkumpul?
i. Apakah ada dampak terhadap kebebasan
beragama?
j. Apakah ada dampak terhadap
diskiriminasi?
k. Apakah ada dampak terhadap persaingan
usaha dan kemudahan perijinan?
l. Apakah ada potensi korupsi?

Pada langkah ketiga ini pembuat kebijakan Setiap pengeluaran yang mampu dinilai
diminta untuk melakukan kuantifikasi atas secara ekonomis oleh masing-masing
III. Kuantifikasi atas
tiap dampak dari kebijakan. Tidak seluruh aktor harus bisa diidentifikasi secara riil,
dampak kebijakan
dampak mudah dikuantifikasi, namun dengan menggunakan asumsi dasar yang
dianjurkan untuk memonetasinya seoptimal paling umum. Sementara untuk aktivitas
mungkin yang belum bisa diidentifikasi nilai
ekonomisnya maka alternatif yang
diusulkan adalah dengan menghitung
-10-

TAHAP LANGKAH KETERANGAN

potensi manfaat yang hilang apabila


kebijakan tersebut tidak diambil.

Pada langkah ini pembuat kebijakan bisa Tahapan valuasi ini kemungkinan besar
menggunakan teknik tersendiri yang membutuhkan supply data lebih jauh
IV. Valuasi terbatas
diperkenalkan untuk melakukan kuantifikasi karena untuk membuktikan market price
dan valuasi. Pada tahapan awal, biasanya dan willingnes to pay bisa jadi K/L belum
ditentukan impact yang akan diperoleh dari memiliki sumberdaya-nya. Selain
sebuah aturan dapat diukur dan verifikasi soal market price/willingnes to
dikuantifikasi atau tidak. Apabila bisa, pay, studi perilaku (behavioural studies)
biasanya digunakan market price untuk patut dipertimbangkan sebagai salah
menilainya. Apabila tidak bisa, salah satu satu alat bantu untuk menentukan
tekniknya adalah menentukan willingness to valuasi.
pay dalam konteks keuntungan atau
willingness to accept dalam konteks biaya.

V. Kuantifikasi Pada langkah kelima semua manfaat dan Cukup jelas


Sepenuhnya biaya sudah terhitung sepenuhnya dalam
satuan mata uang. Jadi, pada tahapan itu,
pembuat kebijakan telah dapat menentukan
pilihan yang paling baik dari kebijakan yang
akan diambil.