Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu permasalahan kesehatan di
dunia. Insidensi penyakit TB secara keseluruhan pada tahun 2011 diperkirakan
8,7 juta pada tahun 2011 yaitu setara dengan 125 kasus per 100.000 penduduk.
Sebagian besar kasus terjadi di Asia (59%) dan Afrika (26%). Jumlah kasus
terbesar berada di India sekitar 2,5 juta dan China 1,1 juta. Tuberkulosis masih
banyak memakan korban, terutama pada kelompok perekonomian menengah
ke bawah, kelompok usia produktif dan orang-orang dengan imunosupresan.
Sebanyak 1,4 juta orang meninggal akibat tuberkulosis pada tahun 2011.
Penyakit TB menyerang kelompok usia 15-64 tahun sebanyak 88% dan anak -
anak (<15 tahun) sebanyak <10% kasus pada hampir di semua negara
(Glaziou et al., 2013). Tuberkulosis paru di Indonesia diperkirakan teradpat
500.000 kasus baru setiap tahunnya. Sebanyak 200.000 kasus (40%)
ditemukan di sekitar pusat kesehatan, 250.000 (50%) kasus ditemukan dalam
pelayanan di Rumah Sakit atau klinik pemerintah dan swasta, sedangkan
sisanya (10%)berasal dari unit kesehatan yang tidak terjangkau (Lidya, 2017).
Bakteri Mycobacterium tuberculosis juga dapat menyerang organ
ekstrapulmoner seperti tulang, otak, kelenjar getah bening, kulit, dan lain-
lainnya (Lidya, 2017). Infeksi ekstrapulmonal yang paling sering terjadi pada
tulang belakang atau yang sering disebut sebagai spondilitis tuberculosis (TB).
Prevalensi spondilitis TB berkisar 1-2% dari seluruh kejadian tuberkulosis
(Mbata et al., 2012). Spondilitis TB merupakan manifestasi tuberkulosis
musculoskeletal yang sering dijumpai yaitu sebanyak 50% dan 15% dari
semua kasus tuberkulosis ekstrapulmonal (Zuwanda dan Raka, 2013). Infeksi
tuberkulosis tulang belakang atau spondilitis tuberkulosis (TB) lebih besar
pada negara berkembang. Permukiman di daerah Afrika dan Asia Tenggara
merupakan daerah yang rentan untuk terinfeksi oleh M. tuberculosis karena
menjadi daerah endemis. Keterlibatan spinal biasanya merupakan akibat dari
penyebaran secara hematogen dari lesi pulmonal ataupun infeksi pada system
genitourinarius. Kelainan neurologis dapat terjadi hingga 50% kasus pada
spondilitis TB (Sahputra dan Irsal, 2015).
Spondilitis TB sangat berpotensi menyebabkan morbiditas serius, oleh
karena itu diagnosis dini dan pengobatan yang tepat sangatlah penting.
Diagnosis dini spondilitis TB sulit ditegakkan, seringkali baru dapat
ditegakkan pada stadium lanjut, saat sudah terjadi deformitas tulang belakang
yang berat dan defisit neurologis yang bermakna seperti paraplegia atau
bahkan tetraplegia.
Durasi pemberian obat anti tuberculosis masih menjadi perdebatan.
Manajemen intensif tuberkulosis adalah 2 bulan dan diikuti fase lanjutan
dengan menggunakan 2 obat selama 4 bulan. Namun untuk mengurangi
penetrasi antibiotik sehingga pemberian terapi pada spondilitis TB lebih lama.
Durasi terapi lebih pendek memiliki keuntungan jepatuhan pasien yang lebih
baik, namun memiliki resiko rekurensi tinggi. The British Thoracic Society
menyarankan terapi spondilitis TB selama 6 bulan jika tanpa keterlibatan saraf
pusat, apabila mengenai saraf pusat pemberian rimfampisin dan isoniazid
hingga 12 bulan (Dunn, 2010). Pasien spondilitis TB dengan defisit neurologis
non progresif dan parsial dapat sembuh hanya dengan pengobatan konservatif
yaitu menggunkan obat anti TB. Operasi dilakukan jika defisit neurologis
tidak mengalami perbaikan setelah 3-4 minggu istirahat dan kemoterapi (Jain
dan Dhammi, 2007). Pengobatan konservatif pada penderita spondilitis TB
yang mengalami defisit neurologis parsial di negara Korea menunjukkan hasil
yang buruk (Mak dan Kenneth, 2013). Pasien spondilitis TB dengan
deformitas tulang belakang juga mengalami perburukan sebanyak 3-5% kasus
yang hanya diberikan terapi konservatif saja (Jain dan Saurabh, 2012).
Pendekatan dengan obat anti tuberkulosis memberikan efek yang bagus, akan
tetapi pada praktiknya beberapa kasus tetap memerlukan terapi pembedahan
untuk menunjang perbaikan kondisi klinis pasien (Mak dan Kenneth, 2013).
International Orthopaedics (SICOT) (2012) 36:285292

Instrumented stabilization in spinal tuberculosis


Anil Kumar Jain & Saurabh Jain

National Collaborating Centre for Chronic Conditions Tuberculosis: clinical


diagnosis and management of tuberculosis and measures for its prevention and control.
London: Royal College of Physician, 2006. ISBN 1860162770. 19. Canadian tuberculosis
standards 6th ed. Published online by authority of the Minister of Health 2007. HP40-
18/2007E-PDF. ISBN 978-0-662-45955-2.

E L H J Teo, W C G Peh. Imaging of tuberculosis of the spine. Singapore Med J


2004 Vol 45(9):439-45.

G.C.Mbata, E.Ofondu, B.Ajuonuma, V.C.Asodike, D.Chukwumam.


Tuberculosis of the spine (Potts disease) presenting as hemiparesis. African
Journal of Respiratory Medicine. 2012;8:18- 20.

Hildago JA, George A, Burke AC, Thomas EH, Joseph FJ, Fransisco T. Potts
Disease (Tuberculous Spondylitis). Emedicine. Updated 13 Juli 2012. Diakses tanggal 23
Juli 2013

Seminars in Respiratory and Critical Care Medicine Vol. 34 No.


1/2013 3-14

Global Epidemiology of Tuberculosis


Philippe Glaziou, MD, MPhil1 Dennis Falzon, MD, MSc1 Katherine Floyd, MA, MSc,
PhD1
Mario Raviglione, MD1

Jain AK, Dhammi IK (2007) Tuberculosis of the spine: a review.


Clin Orthop Relat Res 460:3949. doi:10.1097/BLO.0b013e318
065b7c3
Developing Expert System for Tuberculosis Diagnose
to Support Knowledge Sharing in the Era of National
Health Insurance System
L Lidya
Materials Science and Engineering, Volume 180, Number 1 2017

G.C.Mbata, E.Ofondu, B.Ajuonuma, V.C.Asodike, D.Chukwumam.


Tuberculosis of the spine (Potts disease) presenting as
hemiparesis. African Journal of Respiratory Medicine. 2012;8:18-
20.

SA orthop. j. vol.9 n.1 Pretoria Jan. 2010

Dunn R. The medical management of spinal tuberculosis. SA Orthopaedic J.


2010: 9(1). 37-41