Anda di halaman 1dari 13

Tugas : Farmakologi

1. ERNAWATI NIM : 201202036


2. NUR EPI NIM : 2012020
3. MARIANA NIM : 201202041
4. ROSMIATI NM : 201202052

STIKES ST. FATIMAH MAMUJU


TAHUN 2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhana Wataala, Karena dengan
limpahan rahmatnya penyusunan makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya,

Makalah ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan mata kuliah
Farmakologi, adapun judul dari makalah ini adalah Obat Esensal.

Kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah, kami ucapkan
banyak terima kasih atas bantuannya,jika ada kekeliruan dalam penyusunan makalah
kami harap saran dan masukan untuk dapat menyempurnakan makalah ini, semoga
makalah ini dapat diterima dan dapat bermanfaat bagi pembaca.

Mamuju, 14 Juni 2015

Penyusun
DAFTAR ISI

Sampul ................................................................................................................

Kata Pengantar .................................................................................................... i

Daftar isi .............................................................................................................. ii

Bab I : PENDAHULUAN ............................................................................... 1

A. Latar Belakang ............................................................................. 1


B. Rumusan Masalah ......................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan .......................................................................... 1

Bab II : ISI

A. Pengertian Obat ............................................................................ 2


B. Ketentuan Umum
Penerapan Daftar Obat Esensial Nasional .................................... 2

Bab III : PENUTUP

A. Kesimpulan ...................................................................................... 9
B. Saran ................................................................................................ 9

Daftar Pustaka ..................................................................................................... 10


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah Pertumbuhan dan perkembangan dunia dewasa ini semakin pesat.
Semakin pesatnya pertumbuhan dan perkembangan didunia ini yang mengakibatkan
kemajuan teknologi tersebut, semakin banyak pula penyakit yang ditemukan oleh
para medis kedokteran. Pendidikan farmasi berkembang seiring dengan pola
perkembangan teknologi agar mampu menghasilkan produk obat yang meemnuhi
persyaratan dan sesuai dengan kebutuhan. Kurikulum pendidikan bidang farmasi
disusun lebih kea rah teknologi pembuatan obat untuk menunjang keberhasilan anak
didiknya dalam melaksanakan tugas profesinya.
B. Rumusan Masalah
Pada penulisan makalah ini penyusun menyajikan tentang pengertian obat, dan
ketentuan umum penerapan daftar obat Esensial Nasional (DOEN),
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu :
1. Untuk meningkatkan pengetahuan tentang obat Esensial dan ketentuan mengenai
penerapan daftar obat Esensial Nasioanl (DOEN).
2. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Farmakologi.
3. Untuk menambah wawasan yang lebih luas tentang dunia kefarmasian.
BAB II
ISI

A. Pengertian Obat
Obat adalah setiap zat, baik kimia maupun alami yang digunakan untuk menyembuhkan,
mendiaknosa, melunakkan dan mencegah penyakit baik pada manusia maupun hewan. Obat
dapat menjadi racun apabila dikonsumsi dalam dosis yang berlebihan dan tidak sesuai aturan
pakai sehingga dapat membahayakan bagi kesehatan.

B. Ketentuan Umum, Penerapan Daftar Obat Esensian Nasional (DOEN) 1994

(Sumber/ Source: Noname.1994.Daftar Obat Esensial Nasional 1994.Jakarta:Direktorat


Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.)
(Rewritten by Dimas Erda Widyamarta: www.ithinkeducation.blogspot.com)
1. Obat Esensial
Obat Esensial adalah obat terpilih yang paling dibutuhkan untuk pelayanan
kesehatan bagi masyarakat terbanyak, mencakup upaya diagnosa, profilaksi, teapi dan
rehabilitasi, yang harus diusahakan selalu tersedia pada unit pelayanan kesehatan sesuai
dengan fungsi dan tingkatnya.
Penerapan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dimaksudkan untuk
meningkatkan ketepatan, keamanan, kerasionalan penggunaan dan pengelolaan obat
yang sekaligus meningkatkan daya guna dan hasil guna biaya yang tersedia sebagai
salah satu langkah untuk memperluas, memeratakan dan meningkatkan mutu pelayanan
kesehatan kepada masyarakat. Penerapan DOEN harus dilaksanakan secara konsisten
dan terus-menerus di unit pelayanan kesehatan pemerintah.
2. Kriteria pemilihan obat esensial:
Pemilihan obat esensial didasarkan atas kriteria berikut:
a. Memiliki rasio manfaat-risiko (benefit-risk ratio) yang paling menguntungkan
penderita.
b. Mutu terjamin, termasuk stabilitas dan bioavailabilitas.
c. Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan.
d. Praktis dalam penggunaan dan penyerahan yang disessuaikan dengan tenaga,
sarana dan fasilitas kesehatan.
e. Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh penderita.
f. Memiliki rasio manfaat-biaya (benefit cost ratio) yang tertinggi berdasarkan
biaya langsung dan tidak langsung.
g. Bila terdapat lebih dari satu pilihan yang memiliki efek terapi yang serupa,
pilihan dijatuhkan pada:
i. Obat yang sifatnya paling banyak diketahui berdasarkan data ilmiah.
ii. Obat dengan sifat farmakokinetik yang diketahuo paling menguntungkan
iii.Obat yang stabilitasnya lebih baik
iv. Mudah diperoleh
h. Obat jadi kombinasi tetap, harus memenuhi kriteria:
i. Obat hanya bermanfaat bagi penderita dalam bentuk kombinasi tetap
ii. Kombinasi tetap harus menunjukkan khasiat dan keamanan yang lebih tinggi
daripada masing-masing komponen
iii. Perbandingan dosis komponen kombinasi tetap merupakan perbandingan yang
tepat untuk sebagian besar penderita yang memerlukan kombinasi tersebut.
iv. Kombinasi tetap harus meningkatkan rasio manfaat- biaya (benefit-cost ratio)
v. Untuk antibiotika kombinasi tetap harus dapat mencegah atau mengurangi
terjadi resistensi dan efek merugikan lainnya.

3. Susunan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN)


a. DOEN secara keseluruhan
b. DOEN untuk masing-masing unit pelayanan kesehatan, yaitu DOEN untuk
Rumah Sakit, DOEN untuk Puskesmas dan DOEN untuk Pos Obat Desa.
i. DOEN Rumah Sakit, Obat esensial yang dimaksudkan hanya untuk Rumah
Sakit kelas A-B diberi tanda (*), sedangakn yang hanya untuk kelas C/D
diberi tanda (**)
ii. DOEN puskesmas
iii. DOEN Pos Obat Desa
c. Suatu jenis obat dipergunakan dalam beberapa jenis bentuk sediaan dan satu
bentuk sediaan dapat terdiri dari beberapa jenis kekuatan.
d. Dalam DOEN, oba dikelompokkan berdasarkan kelas, subkleas dan kadang-
kadang sub sub kelas terapi. Dalam setiap subkelas atau sub kelas terapi obat
disusun berdasarkan abdjad nama obat.
4. Tata Nama
a. Nama obat dituliskan sesuai dengan Farmakope Indonesia edisi terakhir dan jika
tidak ada dalam Farmakope Indonesia maka digunakan nama INN (generik) latin
yang diterbitkan WHO.
b. Obat yang sudah lazim digunakan dan tidak mempunyai nama INN (generik)
ditulis dengan nama lazim, misalnya garam oralit.
c. Obat kombinasi yang tidak mempunyai nama INN (generik) diberi nama yang
disepakati sebagai nama generik untuk kombinasi dan dituliskan masing-masing
komponen zat berkhasiatnya disertai kekuatan masing-masing komponen.
d. Untuk beberapa hal yang dianggap perlu nama sinonium, dituliskan diantara
tanda kurung.
5. Pengertian dan Singkatan
a. Pengertian
i. Bentuk sediaan. Bentuk sediaan adalah bentuk obat sesuai proses pembuatan
obat tersebut dalam bentuk seperti yang akan digunakan, misalnya: tablet salut
enterik, injeksi intravena dan sebagainya.
ii. Kekuatan sediaan. Kekuataan sediaan adalah kadar zat berkhasiat dalam
sediaan obat jadi.
iii. Kemasan. Kemasan adalah wadah terkecil yang berbhubungan langsung
dengan obat.
iv. Besar kemasan. Besar kemasan adalah jumlah satuan sediaan atau kemasan
terkecil dalam satu kemasan standar, misalnya kotak 100 vial.
b. Singkatan:
i. Amp : ampul
ii. Btl : botol
iii. Bls : blister
iv. Ih : inhalasi
v. Inj : injeksi
vi. Inj dlm minyak: injeksi dalam minyak
vii. Inj i.a. : injeksi intraarteri
viii. Inj infltr : injeksi infiltrasi
ix. Inj i.k. : injeksi infiltrasi
x. Inj i.k. : injeksi intrakutan
xi. Inj i.m. : injeksi intra muskular
xii. Inj i.v. : injeksi intravena
xiii. Inj p.v. : injeksi paravertebral
xiv. Inj s.k. : injeksi subkutan
xv. Kaps : kapsul
xvi. Klg : kaleng
xvii. Ktk : kotak
xviii. Lar : larutan
xix. Lar rektan : larutan rektal
xx. Lar infus : larutan infus
xxi. Serb : serbuk
xxii. Serb aktif : serbuk aktif
xxiii. Serb injk : serbuk injeksi
xxiv. Serb inj i.v. : serbuk injeksi intravena
xxv. Serb kering : serbuk kering
xxvi. Sir : sirup
xxvii. Sir kering : sirup kering
xxviii. Sup : supositoria
xxix. Susp : suspensi
xxx. Tab : tablet
xxxi. Tab kunyah : tablet kunyah
xxxii. Tab salut : tablet salut
xxxiii. Tab salut enterik: tablet salut enterik
xxxiv. Tab scored : tablet scored (tablet dengan tanda belah)
xxxv. Tab sublingual : tablet sublignual
xxxvi. Tab vagina : tablet vagina
xxxvii. Tts : tetes
xxxviii. Tts hidung : tetes hidung
xxxix. Tts mata : tetes mata
xl. Tts telinga : tetes telinga
6. Pedoman Penggunaan DOEN. Bentuk sediaan, kekuatan sediaan dan besar kemasan
yang tercantum dalam DOEN adalah mengikat. Besar kemasan untuk masing-masing
unit pelayanan kesehatan didasarkan pada efisiensi pengadaan dan distribusinya
dikaitkan dengan penggunaan.
7. Revisi DOEN. DOEN perlu untuk direvisi dan disempurnakan secara berkala. Revisi
tidak hanya untuk menyesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga
untuk kepraktisan dalam penggunaan dan penyerahan yang disesuaikan dengan
tenaga kesehatan dan sarana fisk yang ada.
Revisi dan penyempurna DOEN dilakukan secara periodik setiap 3 (tiga) tahun
sekali.
Usulan materi untuk revisi DOEN yang berasal dari Rumah Sakit Kelas C/D
serta Puskesmas, harus melalui Kantor Wilayah Departemen Kesehatan setepat,
sedangkan usulan materi yang berasal dari Rumah Sakit Kelas A dan B dengan
sepengetahuan Kantor Wilayah Departemen Kesehatan setempat.
8. Jaga Mutu (Quality Assurance). Jaga mutu obat (Qualty Assurance) yang meliputi
Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan monitoring mutu obat secara
menyeluruhan pada jaringan distribusi sampai penggunaan obat, merupakan unsur
yang sangat menentukan dalam pelaksanaan program obat esensial.
Dalam kaitan ini, jaga mutu obat esensial (Quality Assurance) telah diterapkan
dengan ketat karena sesuai ketentuang perundang-undangan yang berlaku maka
industri farmasi yang memproduksi obat esensial harus memenuhi persyaratan CPOB
sesuai pedoman WHO. Inspeksi terhadap penerapan CPOB dilaksanakan secara
berkala.
Disamping itu, mutu obat esensial telah memenuhi persyaratan kualitas yang
tercantum dalam farmakope Indonesia edisi terakhir dan atau persyaratan lain yang
ditetapkan, termasuk persyaratan uji disolusi dan bioavailabilitas yang dapat
mempengaruhi khasiat obat.
9. Penelitian dan Evaluasi. Pelaksanaan penelitian dan evaluasi terhadap obat esensial
dalam DOEN, utamanya di unit pelayanan kesehatan pemerintah, akan lebih
memantapkan penerpaan konsepsi obat esensial. Penelitian dan evaluasi tersebut
dilaksanakan dalam bentuk penelitian farmasetik, klinik, epidemiologik dan atau
pemantauan paska penerapan. Dalam proses revisi dan penyempurnaan DOEN secara
berkala, pemilihan obat esensial didasarkan pada kriteria yang telah ditetapkan dengan
memperhatikan hasil penelitian dan evaluasi, sehingga obat yang terpiliih adalah benar
obat yang dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat terbanyak.
10. Komunikasi, Informasi dan Edukasi
Informasi mengenai obat dan produk farmasi merupakan suatu prasyarat untuk
mendorong penggunaan obat yang tepat dan penulisan resep yan rasional oleh tenaga
kesehatan. Setiap obat yang tercantum dalam DOEN harus disertai dengna informasi
yang akurat dan obyektif serta dapat dimengerti oleh tenaga kesehatan. Informasi
tersebut meliputi indikasi, kontraindikasi, dosis, cara penggunaan, peringatan, efek
samping, interaksi dan bentuk sediaan yang tercantum dalam Informatorium Obat
Esensial. Pendidikan kepada tenaga kesehatan dan masyarakat dalam rangka
peningkatan penggunaan obat yang rasional perlu ditingkatkan dan dilaksanakan
secara terus menerus. KIE tentang penerapan DOEN terutama ditujukan kepada
semua tenaga kesehatan yang terkait, terutama dokter dan apoteker dan diperkenalkan
sejak tingkat pendidikan tenaga yang bersangkutan.
Pelaksanaan KIE dilakukan melalui jalur:
i. Instansi Pemerintah
ii. Organisasi profesi yang terkait
iii. Jalur lain yang memungkinkan
11. Pemantauan, Bbibingan dan Pengendalian
Pemantauan, bimbingan dan pengendalian terhadap pelaksanaan DOEN
khususnya yang berkaitan dengan pengadaan dan penggunaannya dilaksanakan oleh
Kantor Wilayah Departemen Kesehatan berdasarkan peraturan yang berlaku.
12. Ketentuan lain
a) Penulisan informasi pada kolom catatan dimaksudkan untuk obat dengan
pemakaian sebagai berikut:
i. Diperlukan pemantauan terhadap kemungkinan timbulnya efek samping
ii. Pembatasan indikasi
iii. Terbatas untuk kaus tertentu
iv. Diperlukan monitoring ketat atau pertimbangan medis
v. Diperlukan perhatian terhadap sifat atau cara kerja obat
vi. Diperlukan cara atau perlakuan khusus
vii. Diperlukan fasilitas tertentu
viii. Dikombinasikan dengan obat lain
ix. Di daerah tertetnu (daerah endemis)
x. Pemakaian sesuai program di bidang kesehatan
Untuk pemakaian obat yang memerlukan perhatian khusus, maka informasi
tersebut ditulis dengan warna merah.
b) Penulisan istilah teknis atau kata bahasa asing digunakan huruf miring.
c) Penulisan nama obat kombinasi pada indeks nama obat menurut abjad,
ditunjukkan dengan tanda (o)
d) Pemaparan DOEN rumah sakit dalam kertas berwarna merah muda

e) Pemaparan DOEN puskesmas dan DOEN Pos Obat Desa dalam kertas berwarna
biru muda.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah penyusun menyelesaikan makalah yang berjudul obat esensial ini maka
penyusun dapat menyimpulkan bahwa di era globalisasi yang kemajuannya semakin
pesat ini. Selain itu, informasi tentang obat juga sangat dibutuhkan oleh masyarakat agar
obat tersebut tidak dipersalahgunakan.
B. Saran
Berdasarkan simpulan yang telah ditulis, penyusun mencoba memberikan
saran-saran yaitu: seorang perawat diharapkan setidak-tidaknya mengetahui informasi
obat baik untuk masyarakat maupun untuk diri sendiri dan keluarga agar dapat
memberikan pelayanan yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
1. Ansel, H. C., 1985, Introduction to Pharmaceutical Dosage Forms, Ed 4, Lea &
Febiger, Philadelphia USA.
2. Herfindal, E. T., 1992, Clinical Pharmacy and Therapeutics, Ed 5, Williams &
Wikins, Philadelphia USA.
3. Gennaro, A. R., 1995, Rhemington's Pharmaceutical Sciences, Ed 19, Mack
Publishing Comp, Easton Pensylvania, USA
4. Feldman, E. G., 1990, Handbook of Non Prescription Drugs, Ed 9, APHA, USA
5. Wade, A., 1980, Pharmaceutical Handbook, Ed 19, The Pharmaceutical Society of
Great Britain, The Pharmaceutical Press, London.