Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PBL SISTEM TRAUMATOLOGI

MODUL MULTIPLE TRAUMA-KESADARAN MENURUN


KELOMPOK 6

Tutor :
dr. Pitut Aprilia S, MKK
Anggota :
Dzaki Murtadho 2014730023
Taufiq Zulyasman 2014730089
Abraham Isnan 2014730001
Mehdi Bennet 2014730055
Khilda Zakiyyah S 2014730047
Mutia Rahmawati 2014730066
Amalia Grahani Prasetyo 2014730006
Azkia Rizka Hakim 2014730014
Try Marzela Perdana Ayu 2014730092
Frylie Fremiati 2014730034
Ravena Maharawarman 2014730081
Anis Julianti 2014730010

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan
Karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Diskusi Tutorial Modul Kesadaran
Menurun ini tepat pada waktunya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi
Muhammad SAW, keluarga serta pengikutnya hingga akhir zaman. Aamiin.

Laporan ini kami buat untuk memenuhi tugas yang wajib dilakukan setelah selesai
membahas kasus PBL. Pembuatan laporan ini pun bertujuan agar kami bisa mengetahui dan
memahami materi-materi yang ada pada Modul Kesadaram Menurun ini.

Terimakasih kami ucapkan kepada tutor kami, dr. Pitut Aprilia S, MKK yang telah
membantu kami dalam kelancaran diskusi tutorial dan pembuatan laporan ini. Terimakasih
juga kepada seluruh pihak yang telah membantu kami dalam mencari informasi,
mengumpulkan data, dan mneyelesaikan laporan ini. Semoga laporan ini bermanfaat bagi
anggota kelompok kami dan para pembaca.

Laporan kami bukanlah laporan yang sempurnna, oleh karena itu kritik dan saran
yang membangun dari para pembaca sangatlah kami harapkan untuk menambah
kesempurnaan laporan kami.

Wassalamuaalaikum Wr. Wb

Jakarta, 28 Mei 2017

Penyusun
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Multipletrauma terjadi ketika seseorang mengalami lebih dari satu cedera
simultan, seperti beberapa patah tulang, laserasi, kerusakan pada organ dalam
seperti hati, limpa, ginjal, dll. Biasanya akibat kecelakaan mobil, luka bakar dan
jatuh, beberapa Kejadian trauma dapat memerlukan perawatan medis yang
ekstensif dan penanganan medis yang penuh perhatian.
II. Tujuan
Setelah menyelesaikan modul ini, mahasiswa diharapkan dapat mengerti dan
menjelaskan bagaimana cara mengenal, menilai, dan mengambil tindakan yang
cepat dan tepat pada penderita dengan multiple trauma .
III. Kegiatan Yang Dilakukan

Kegiatan yang dilakukan berupa diskusi kelompok yang dibimbing oleh seorang
tutor. Kegiatan diskusi dilakukan sesuai dengan tujuh langkah penyelesaian
masalah (seven jumps) sebagai berikut :

Langkah 1 : Mencari kata/istilah yang tidak diketahui dalam skenario dan


mencari artinya

Langkah 2 : Membuat pertanyaan berdasarkan masalah yang ada pada skenario

Langkah 3 : Melakukan curah pendapat

Langkah 4 : Merumuskan jawaban sementara

Langkah 5 : Menentukan sasaran belajar

Langkah 6 : Belajar mandiri untuk mengumpulkan data atau informasi

Langkah 7 : Mensintesis informasi dan menyusun rangkuman sebagai jawaban


dari permasalahan pada skenario
PEMBAHASAN
I. Skenario

Pasien laki-laki 19 tahun mengendarai sepeda motor tidak memakai helm.


Tergeletak di jalan raya setelah terjatuh dari motor dengan kecepatan tinggi
Ditemukan tergeletak , agresif gelisah dengan deformitas di tungkai kanan .. Di
tempat kejadian , pasien tidak dapat menjawab pertanyaan dengan tepat.

II. Kata Sulit

Tidak ditemukan kata sulit

III. Kata/kalimat kunci

Laki-laki 19 tahun

Tergeletak di jalan raya setelah terjatuh dari motor dengan kecepatan tinggi .

Agresif

Gelisah

Deformitas di tungkai kanan

Pasien tidak dapat menjawab pertanyaan dengan tepat.

IV. Informasi Tambahan

RPD: tidak ada

Riwayat pengobatan/keluarga/alergi: tidak ada

Tanda vital:

HR: 124 O2 Sats (RA): 98%

BP: 90/50 mmHg RR:18

Suhu: 37o

Keadaan umum: gelisah, tidak menjawab pertanyaan dengan baik

GCS: 12

Pemeriksaan Fisik:
Kepala leher: hematom parietal kanan, nyeri tekan tidak ada, keluar cairan
dari telinga atau hidung tidak ada, terpasang collar neck, trachea ditengah.

Paru-paru: suara nafas normal

Jatung: tachicardi, irama regular

Abdomen: supel, nyeri tekan tidak ada

Pelvis: unstable, krepitasi (+)

Punggung: nyeri tekan dan deformitas tidak ada

Extremitas: luka terbuka di tungkai kanan dengan pulsasi nadi negative.

V. Mind Map

VI. Analisis Masalah

1. Jelaskan definisi dari mutiple trauma!

2. Jelaskan biomekanika trauma?

3. Jelaskan patofisio trauma!

4. Jelaskan mekanisme mutiple trauma dan faktor risiko yang memperberat!


5. Bagaimana penyebab dan patomekanisme penurunan kesadaran yang disebabkan oleh
trauma kepala?

6. Bagaimana interpretasi GCS 12 Pada skenario dan apa hubungan MT dengan tanda
vital skenario?

7. Bagaimana penatalaksaan pada awal dari mutiple trauma?

8. Bagaimana tindakan lanjut apabila terjadi kegagalan pada tindakan awal?

9. Bagaimana syarat melakukan transportasi dan rujukan pada penderita mutiple trauma?

10. Bagaimana cara melakukan tindakan khusus pada pasien mutiple trauma?

11. Bagaimana cara pemakaian obat-obatan darurat sesuai dengan penyebab penurunan
kesadara?

12. Bagaimana penatalaksanaan pada fraktur pelvis dan ekstremitas?

PEMBAHASAN ANALISIS MASALAH

Nama: Anis Julianti


Nim: 2014730010

1. Jelaskan definisi Multipletrauma!


Multipletrauma terjadi ketika seseorang mengalami lebih dari satu cedera simultan, seperti
beberapa patah tulang, laserasi, kerusakan pada organ dalam seperti hati, limpa, ginjal, dll.
Biasanya akibat kecelakaan mobil, luka bakar dan jatuh, beberapa Kejadian trauma dapat
memerlukan perawatan medis yang ekstensif dan penanganan medis yang penuh perhatian.

Cedera ini mempengaruhi banyak sistem sekaligus (muskuloskeletal, neurologis dan


psikologis) dan perawatan di pusat trauma. Pasien dapat diimobilisasi selama berminggu-
minggu atau berbulan-bulan karena risiko komplikasi otot dan kardiovaskular.
Kondisi penting untuk penggunaan istilah polytrauma adalah kejadian syok traumatis dan /
atau hipotensi hemoragik dan merupakan bahaya serius dari satu atau lebih fungsi vital
organisme.

Nama: Ravena Maharawarman


NIM: 2014730081

2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan biomekanika trauma!

Biomekanika Trauma adalah ilmu yang mempelajari kejadian cidera pada suatu jenis
kekerasan atau kecelakaan. Biomekanika trauma ini penting diketahui untuk membantu
dalam menyelidiki akibat yang di timbulkan trauma dan waspada terhadap perlukaan yang
diakibatkan trauma.
Informasi yang rinci mengenai biomekanik dari suatu kecelakaan dapat membantu
identifikasi sampai dengan 90 % dari trauma yang diderita penderita. Informasi yang rinci
dari biomekanik trauma ini dimulai dengan keterangan dari keadaan / kejadian pada fase
sebelum terjadinya kecelakaan seperti minum alkohol, pemakaian obat, kejang, sakit dada,
kehilangan kesadaran sebelum tabrakan dan sebagainya.

Tabrakan Kendaraan (mobil)

1. Tabrakan depan / Frontal


Benturan frontal adalah tabrakan / benturan dengan benda didepan kendaraan, yang
secara tiba-tiba mengurangi kecepatannya, sehingga secara tiba-tiba kecepatannya berkurang.
Pada suatu tabrakan frontal dengan penderita tanpa sabuk pengaman, penderita akan
mengalami beberapa fase sebagai berikut :

Fase 1
Bagian bawah penderita tergeser kedepan, biasanya lutut akan menghantam dash
board dengan keras yang menimbulkan bekas benturan pada dashboard tersebut.

Kemungkinan cedera yang akan terjadi :


Fraktur femur karena menahan beban berlebihan
Dislokasi pelvis karena terdorong kedepan
Dislokasi atau fraktur patella karena benturan yang keras pada dashboard

Fase 2

Bagian atas penderita turut tergeser kedepan sehingga dada dan atau perut akan menghantam
setir. Kemudian cedera yang akan terjadi diantaranya:

Cedera abdomen sampai terjadi pendarahan internal karena terjadi perlukaan pada
organ seperti hati, limpa, lambung dan usus
Fraktur costae
Fase 3

Tubuh penderita akan naik, lalu kepala membentur kaca mobil bagian depan atau samping.
Dan kemungkinan cedera yang terjadi adalah:

Cedera kepala (ringan, sedang, berat)


Fraktur cervikal

Fase 4

Setelah muka membentur kaca, penderita kembali terpental ketempat duduk. Perlu
mendapat perhatian khusus apabila kursi mobil tersebut tidak terdapat head rest, karena
kepala akan melenting dibagian atas sandaran kursi. Kemungkinan cedera yang akan terjadi
adalah, fraktur servikal.
2. Tabrakan dari belakang

Tabrakan seperti ini terjadi ketika kendaraan berhenti atau pada kendaraan ynag
kecepatan lajunya lebih lambat. Badan penumpang akan terakselerasi kedepa, sedangkan
kepala seringkali tidak ikut terakselerasi sehingga akan menyebabkan hiperekstensi leher.
Kemungkinan yang akan terjadi adalah fraktur servikal.

3. Tabrakan dari samping

Tabrakan samping seringkali terjadi diperempatan yang tidak memiliki rambu lalu
lintas. Tabrakan seperti ini penyebab kematian kedua setelah benturan frontal. Bebrapa
kemungkinan yang akan terjadi akibat tabrakan ini adalah:

Fraktur cervikal
Fraktur costae
Trauma paru-paru
Trauma hati/limpa
Trauma pelvis
Trauma skeletal
4. Terbalik (roll over)

Pada kendaraan yang terbalik, penumpang dapat terbentur pada semua bagian tubuh.
Dalam menangani hal seperti ini harus lebih berhati-hati karena semua bagian bisa
mengalami cedera, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Kemungkinan yang
akan terjadi adalah, multiple trauma, fraktur cervical dan vetebra.

5. Terlempar keluar

Trauma yang dialami penumpang pada kejadian ini dapat lebih berat. Kemungkinan
terjadinya trauma dapat meningkat 300% apabila mengalami kejadian ini. Kemungkinan
cedera yang akan terjadi adalah, multiple trauma, trauma capitis, trauma organ dalam, fraktur
cervical.

Tabrakan Kendaraan (motor)

Mekaisme trauma yang terjadi pada pengendara sepeda motor meliputi:

o Benturan frontal
Bila roda depan menabrak suatu objek dan berhenti mendadak, maka
kendaraan akan berputar kedepan. Pada saat gerakan ini kepala, dada atau
perut pengendara akan membentur stang kemudi.
Bila pengendara terlempar keatas melewati stang kemudi, maka tungkainya
akan membentur stang kemudi, kemudian akan terjadi fraktur femur bilateral.

o Benturan lateral
Pada benturan samping, mungkin akan terjadi fraktur terbuka atau tertutup
pada tungkai bawah.
o Laying the bike down
Untuk menghindrai terjepit kendaraan atau objek yang akan ditabrak, biasanya
pengendara menjatuhkan dirinya dari kendaraan. Cara ini dapat menimbulkan
cedera jaringan lunak yang sangat parah.

Kecelakaan pada pejalan kaki


Kecelakaan pada pejalan kaki dapat
terjadi, misalnya tertabrak oleh kendaraan yang sedang melaju. Terdapat dua
mekanisme kecelakaan pada pejalan kaki, yaitu:
1. Kecelakaan karena kecepatan rendah
Kecelakaan ini dapat mengakibatkan fraktur tibia, cedera ligament lutut,
cedera kepala, thorak, dan abdomen.
2. Kecelakaan karena kecepatan tinggi
Kecelakaan ini dapat mengakibatkan trauma multiple yang mengancam jiwa.

Jatuh
Pada kecelakaan ini dapat mengakibatkan beberapa kondisi diantaranya,
1. Jatuh dalam posisi supine
Secara umum dapat menyebabkan axial dan appendicular skeletal injury.
2. Jatuh dalam posisi prone
Dapat mengakibatkan cedera deselerasi thorak dan abdomen
3. Jatuh dengan kepala di bawah
Cedera kepala dan cervical
4. Jatuh dalam keadaan berdiri
Dapat menyebabkan fraktur thoracolumbar, pelvis, dan ekstremitas bawah.
Trauma tajam
1. Leher anterior
Hematom retrofaring yang berpotensi menyumbat airway, cedera
esophagus.
2. Bokong
Cedera rectum dan peritoneum.
3. Thorak
Cedera jantung dan aorta.

TRY MARZELA PERDANA AYU

2014730092

REF : GERARD M D, 2006

3. Bagaimana patofisiologi trauma ?

Trauma dapat menyebabkan terjadinya kerusakan jaringan serta infeksi pada tubuh
penderita. Adanya kerusakan jaringan serta infeksi pada tubuh penderita tersebut
menyebabkan timbulnya respon inflamasi yang merupakan respon adaptif tubuh untuk
mengeliminasi jaringan yang rusak untuk mengeliminasi jaringan yang terinfeksi.

Selain disfungsi beberapa organ tubuh, juga terjadi gangguan terhadap sistem
imunitas tubuh pasien berupa supresi imun. Sindrom tersebut dikenal dengan multiple organ
dysfunction syndrome (MODS). MODS kemudian akan menyebabkan terjadinya multiple
organ failure (MOF) yang kemudian berakhir dengan kematian.

Selain MODS, respon inflamasi yang berlebihan juga dapat menyebabkan terjadinya
acute respiratory distress syndrome (ARDS) . Hal tersebut disebabkan oleh karena respon
inflamasi yang berlebihan akan terjadi kerusakan pada permukaan alveolar-capillary sehingga
menyebabkan kebocoran cairan kaya protein ke rongga alveoli yang akan menimbulkan
manifestasi klinis ARDS.

Nama: Frylie Fremiati

Nim: 201430034

4.Jelaskan mekanisme multiple trauma pada skenario dan factor risiko yang
memperberat!
Faktor yang memperberat: 1. Beratnya cedera primer
2. Komplikasi intracranial 6. Usia
3. Hiperkarbia 7. Peralatan RS yang tidak memandai
4. Hipotensi 8. Operasi definitive
5. Anemia 9. Waktu pre-hospital yang lama
10. Rujukan terlambat/tidak memadai
Nama :Amalia Grahani Prasetyo
NIM : 2014730006
5. Bagaimana penyebab dan patomekanisme terjadinya penurunan kesadaran yang
disebabkan trauma kepala ?

Etiologi
1. Gangguan metabolic / fungsional

Berupa keadaan hipoglikemik/hiperglikemik, gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal,


gangguan keseimbangan elektrolit, intoksikasi obat obatan, intoksikasi makanan serta bahan
kimia, infeksi otak

2. Gangguan struktural

A. Lesi supratentorial
I. Perdarahan intraserebral
II. Infark
III. Tumor Otak
B. Lesi infratentorial
I. Perdarahan : serebelum pons
II. Infark : batang otak
III. Tumor : serebelum
IV. Abses : serebelum

Patomekanisme penurunan kesadaran pada trauma

Pada saat terjadi trauma kepala mengalami akselerasi dimana kepala terjatuh secara cepat
dan mendadak yang seketika menimbulkan penggeseran otak serta pengembangan gaya
kompresi yang destruktif. Akselerasi yang kuat berarti pula hiperekstensi kepala. Karena itu
kepala membentang batang otak terlampau kuat, sehingga menimbulkan blockade reversible
terhadap lintasan ascending retikularis difus (ARAS) . Akibat blockade itu otak tidak
mendapat input aferen karena itu lah kesadaran hilang, kemudian terjadi dekaselerasi dimana
terhentinya akselerasi yaitu saat kepala terbanting pada tanah atau lantai.

Referensi:

1. Dian S, Basuki. 2012. Altered consciousness basic, diagnostic, management. Bandung

2. Mardjono M, Sidharta P. 2012. Neurologi Klinis Dasar. Dian Rakyat : Jakarta

Nama: Khilda Zakiyyah S

Nim:2014730047

6. bagaimana interpretasi GCS dan Tanda Vital!

Jenis Pemeriksaan Hasil Interpretasi


GCS 12 Apatis

HR 124x/menit Takikardi

BP 90/50 mmHg Hipotensi

Temprature 37C Normal

SaO2 98% Normal

RR 18x/menit normal

Nama: Dzaki Murtadho

Nim: 2014730023

7. Jelaskan penatalaksanaan awal pada pasien di skenario!


Cervical collar neck

Airway
MEHDI BENNET

2014730055

8. Bagaimana cara memberikan tindakan lanjut apabila terjadi kegagalan pada


tindakan awal?

Penatalaksanaan pada Pasien Multiple Trauma

Tujuan utama dari penanganan awal pasien multiple trauma adalah untuk membuat pasien
bertahan hidup. Prioritas awal adalah resusitasi untuk memastikan perfusi dan oksigenasi
yang adekuat ke semua organ vital. Hal tersebut dapat dicapai dengan cara konservatif seperti
intubasi, ventilasi, dan volume replacement sesuai dengan protokol Advanced Trauma and
Life Support / ATLS. Bila dengan cara konservatif tidak bisa memberikan respon yang positif
maka dapat dilakukan immediate life-saving surgery (Solomon, 2001; Rockwood, 2006).
Prioritas dan Timing Pembedahan pada Pasien Multiple Trauma

Pada pasien multiple trauma, keputusan untuk memilih cedera yang akan ditangani terlebih
dahulu dapat menjadi sulit, terutama bila cedera tersebut berbahaya dan dapat menyebabkam
gangguan hemodinamik. Ketika cedera yang berbeda memerlukan tindakan spesialisasi yang
berbeda maka dapat menimbulkan perbedaan pendapat mengenai prioritas tindakan yang
akan dilakukan. Penelitian mengenai epidemiologi mortalitas pada pasien trauma serta
pengalaman klinis yang dimiliki

dapat memilah cedera tertentu yang sangat fatal dan harus menjadi prioritas untuk ditangani
dibandingkan cedera lainnya. Terkadang pada cedera tertentu dapat dilakukan tindakan
pembedahan dini tanpa dilakukannya prosedur diagnostik yang bertujuan untuk
menyelamatkan nyawa. Cedera-cedera yang dimaksud adalah penetrating thoracic injury
yang mengakibatkan cardiac tamponade, open arterial injury, dan trauma pelvis. Adanya
perdarahan yang terus-menerus disertai syok yang resisten terhadap resusitasi pada area
thorak, abdomen, atau pelvis merupakan indikasi untuk dilakukannya tindakan pembedahan
(Pape et al, 2002; Rockwood, 2006).

Timing untuk melakukan pembedahan harus mempertimbangkan kondisi pasien serta respon
pasien terhadap resusitasi awal (Trentz O L, 2000).

Rehabilitasi

Rehabilitasi pada pasien multiple trauma harus dimulai sedini mungkin. Pada pasien multiple
trauma dengan cedera kepala, rehabilitasi bertujuan untuk memfasilitasi stimulasi terhadap
fungsi kognitif dari pasien. Sebelum dilakukan rehabilitasi sebaiknya dipastikan terlebih
dahulu bahwa pasien tersebut sudah tidak dalam pengaruh dari obat sedatif (Rockwood,
2006).

Pada rehabilitasi pasien multiple trauma yang disertai dengan cedera pada sistem
muskuloskeletal maka rehabilitasi bertujuan untuk melatih mobilisasi dari ekstremitas yang
mengalami cedera. Saat perawatan di bangsal, rehabilitasi dilakukan dengan latihan aktif oleh
pasien tersebut serta diawasi oleh trained physiotherapist. Sering terjadi ketakutan pada
pasien saat melakukan mobilisasi, hal tersebut memerlukan penjelasan yang baik dari dokter
bedah maupun physiotherapist mengenai tujuan dari mobilisasi tersebut yaitu untuk
mempertahankan mobilitas sendi serta untuk mencegah terjadinya osteoporosis yang
disebabkan oleh imobilisasi (Rockwood, 2006).
Nama: Mutia Rahmawati
Nim: 2014730066
9. Syarat rujukan dan transportasi!
Rujukan dan transportasi
A. Dokter yang merujuk

1. Identitas Penderita

2. Anamnesis singkat kejadian, termasuk data pra-rumah sakit


yang penting

3. Penemuan awal pada pemeriksaan penderita, serta respon


terhadap terapi

B. Informasi untuk petugas yang akan mendampingi

1. Pengelolaan jalan nafas penderita

2. Cairan yang telah/ akan diberikan

3. Prosedur khusus yang mungkn akan diperlukan

4. Revised Trauma Score, Prosedur resusitasi, dan perubahan-


perubahan yang mungkin terjadi selama dalam perjalanan

C. Dokumentasi

1. Permasalahan penderita

2. Terapi yang telah diberikan

3. Keadaan penderita saat akan dirujuk


D. Sebelum merujuk

1. Airway

A. Pasang airway atau intubasi bila perlu

B. Suction bila perlu

C. Pasang NGT untuk cegah aspirasi

2. Breathing
A. Tentukan laju pernafasan(RR) dan berikan oksigen

B. Ventilasi mekanik bila diperlukan

C. Pasang chest tube dimana perlu

3. Circulation

A. Kontrol perdarahan luar

B. Pasang 2 jalur infus dan mulai pemberian kristaloid

C. Perbaiki kehilangan darah dengan kristaloid atau darah,


dan teruskan pemberian selama trasportasi

D. Pasang kateter uretra untuk monitor keluaran urin

E. Monitor kecepatan dan irama jantung

4. Susunan syaraf pusat

A. Bila penderita tidak sadar, bantu pernafasan

B. Berikan manitol atau diuretik bila diperlukan

C. Intubasi kepala, leher, toraks, dan atau vetebra lumbalis

5. Pemeriksaan diagnostik

A. Foto rontgen servikal, thoraks, pelvis dan ekstremitas

B. Pemeriksaan Hb, golongan darah dan cross match,


analisis gas darah, tes kehamilan untuk wanita usia
subur

C. Penentuan denyut jantung dan saturasi hemoglobin


(EKG dan Pulse Oximetry)

6. Luka (tidak boleh memperlambat rujukan)

A. Setelah kontrol perdarahan, bersihkan dan perban luka

B. Berikan profilaksis tetanus

C. Antibiotik bila diperlukan

7. Fraktur : bidai dan traksi

Pengelolaan selama transport


1. Monitoring tanda vital dan pulse oximetry
2. Bantuan kardio-respirasi bila diperlukan

3. Pemberian darah bila diperlukan

4. Pemberian obat sesuai instruksi dokter atau sesuai prosedur tetap

5. Menjaga komunikasi dengan dokter selama transportasi

6. Melakukan dokumentasi selama transportasi

referensi:
2014. Buku panduan BT & CLS basic trauma and cardiac life support.
Jakarta. RS islam jakarta pondok kopi

2012. Advanced Trauma Life Support Student Course Manual 9th


edition pg 306-310. USA. American College of Surgeon

Nama : Taufiq Zulyasman

Nim : 2014730089

10. Klasifikasi Kondisi Pasien Multiple Trauma!

Setelah dilakukan assessment dan intervensi awal maka kondisi pasien sebaiknya
diklasifikasikan diantara empat kategori dengan tujuan untuk memandu langkah perawatan
berikutnya. Keempat kategori tersebut adalah stable, borderline, unstable, dan in extremis.
Kategori ini berdasarkan atas derajat keparahan trauma,adanya cedera spesifik,dan keadaan
hemodinamik. Sebelum pasien dimasukkan dalam salah satu kategori,terlebih dahulu harus
dicapai end points of resuscitation. Yang termasuk end poin of resuscitation adalah
hemodinamik yang stabil, saturasi oksigen yang normal, urine ouput di atas 1
mL/kgBB/jam,dan tidak diperlukannya inotropic.

Pasien dikatakan stable bila pasien tidak memiliki cedera yang mengancam jiwa
dengan segera,berespon terhadap terapi awal,dan memiliki hemodinamik stabil tanpa
dukungan inotropik. Pada pasien tidak terdapat gangguan fisiologis,seperti
koagulopati,respiratory distress, atau ongoing occult hypoperfusion yang bermanifestasi
sebagai gangguan keseimbangan asam basa,serta pada pasien tidak terdapat hipotermia.
Pasien dalam kondisi stable memiliki physiologic reserve untuk mampu bertahan
menghadapi tindakan pembedahan yang panjang.

Pasien dikatakan borderline bila pasien telah distabilkan dan berespon terhadap
resusitasi awal tetapi memiliki beberapa manifestasi klinis atau cedera sebagai berikut :

ISS <40
Hipotermia dengan temperature <35oC
Mean pulmonary arterial pressure awal >24 mmHg atau peningkatan >6 mmHg pada
pulmonary artery pressure selama dilakukannya intramedullary nailing atau tindakan
operasi lainnya
Multiple injuries (ISS>20) yang disertai dengan trauma thorak (AIS>2)
Multiple injuries yang disertai dengan cedera abdomen pelvis yang parah serta
mengalami syok hipovolemik pada awal datangnya pasien tersebut (systolic BP <90
mmHg)
Adanya kontusio paru pada pemeriksaan radiologis
Pasien dengan fraktur femur bilateral
Pasien dengan cedera kepala sedang atau berat (AIS>3)

Faktor-faktor di atas berkaitan dengan outcome yang buruk dan berisiko


menyebabkan pasien memburuk. Pada pasien tersebut harus tetap dilakukan pengawasan
dan dapat pula digunakan invasive monitoring.

Pasien dikatakan unstable bila kondisi hemodinamin pasien masih unstable walaupun
telah dilakukan resusitasi awal. Pada pasien tersebut berisiko tinggi untuk mengalami
perburukan secara cepat, yang kemudian diikuti dengan multiple organ failure dan
kematian. Pada kategori ini maka penatalaksanaan menggunakan damage control
approach,dimana pendekatan tersebut menekankan rapid life saving surgery hanya bila
diperlukan secara absolute serta diikuti dengan mentransfer pasien ke ICU untuk
stabilisasi dan monitoring lebih lanjut. Disarankan untuk dilakukan temporary
stabilization dari fraktur dengan menggunakan external fixation dan juga dilakukan
hemorrhage control. Tindakan pembedahan yang kompleks sebaiknya ditunda hingga
tercapainya kondisi pasien yang stabil serta respon inflamasi telah berkurang. Hal tersebut
bertujuan untuk mengurangi dampak second hit dari suatu tindakan pembedahan.

Pasien yang termasuk kategori in extremis adalah pasien yang akan meninggal akibat
cedera yang terlalu parah dan sering didapatkan adanya ongoing uncontrolled blood loss.
Pasien terssebut tetap severely unstable walaupun telah dilakukan usaha resusitasi yang
agresif. Pada pasien tersebut juga ditemukan triad of death, yaitu hipotermia,asidosis,dan
koagulopati. Sebaiknya tetap dilakukan damage control approach yang bertujuan untuk
menyelamatkan jiwa kemudian setelah tindakan tersebut pasien ditransfer ke ICU untuk
invasive monitoying dan advanced hematological,pulmonary, dan cardiovascular
support. Cedera orthopaedi dapat distabilkan dengan cepat dengan mengguakan external
fixation. Tindakan pembedahan yang bersifat rekonstruktif sebaiknya ditunda dan dapat
dikerjakan bila nyawa pasien tersebut terselamatkan.
Nama: Abraham Isnan

Nim: 2014730001

11. Obat-obat gawat darurat!

Obat Indikasi Keterangan

Adrenalin Henti jantung, Meningkatkan perfusi otak


bradikardi, syok dan koroner
(injection, 0,1 ml/ml)
anafilaktik, hipotensi

Dopamin Kondisi-kondisi Merangsang efek alfa dan


dengan hipotensi beta adrenergic agar
(drip infuse, 2-10
berat kontraktilitas miokard,
g/kgBB/menit)
curah jantung (cardiac
output) dan tekanan darah
meningkat

Lidocaine Takiaritmia Ventrikel takikardi dengan


hydrochloride denyut nadi carotis masih
teraba
(injection, 5 mg/ml,
10 mg/ml)

Furosemid Gagal jantung Menurunkan beban preload


kongestif, gagal sehingga meringankan
(dosis awal 20-40
ginjal, edema paru kerja jantung
mg IV atau IM)
akut, edema karna
sebab lain
Nama: Azkia Rizka Hakim
Nim: 2014730014
12. Penanganan Trauma Pelvis pada Skenario

Teknik sederhana dapat dikerjakan untuk stabilisasi pelvis sebelum dirujuk. Traksi kulit
longitudinal atau trakasi skeletal dapat dikerjakan sebagai tindakan pertama. Karna
cedera ini membuat hemipelvis mengalami eksorotasi, rotasi internal tungkai dapat
mengecilkan volume pelvis.
Prosedur sebelumnya dapat ditambah dengan memberi stabilitas langsung pada pelvis
secara sederhana dengan memasang kain pembungkus melilit pelvis yang berfungsi
sebagai sling atau vacuum type long spine splinting device, atau PASG. Cara-cara
sementara ini dapat membantu stabilisasi awal. Pengobatan definitive penderita dengan
hemodinamik tidak normal memerlukan kerjasama team spesialis bedah danortopedi,
serta disiplin lain yang mungkin diperlukan.
Fraktur pelvis terbuka dengan perdarahan yang jelas, memerlukan balut tekan dengan
tampon untuk menghentikan perdarahan. Konsultasi bedah segera sangat diperlukan.

Penangan Perdarahan Tungkai

Hentikan perdarahan aktif dengan cara menekan langsung pada bagian yang mengalami
perdarahan. Dapat juga dilakukan pemasangan bidai. Pemasangan bidai yang baik dapat
menurunkan perdarahan secara nyata dengan mengurangi gerakan, mengurangi nyeri,
dan mencegah kerusakan jaringan lunak lebih lanjut.
Resusitasi cairan yang agresif merupakan hal yang penting disamping usaha
menghentikan perdarahan.

Referensi
ATLS
SIMPULAN
Berdasarkan diskusi kelompok kami, pasien pada kasus di skenario untuk penanganan
gawat daruratannya sebagai berikut:

1. Curiga cedera kepala dan leher

2. Pemasangan Cervical collar neck

3. Primary Survey yaitu:

a. Airway:

Look, listen and feel

Chin lift, jaw thrust

Jika curiga cedera kepala dan leher hanya boleh jaw thrust

Masih sulit bernafas: orofaringeal/nasofaringeal

Jika masih: krikotiroidotomi

b. Breathing:

Pemeriksaan laju dan dalam pernapasan

IPPA

c. Circulation:

Kesadaran, warna kulit, nadi

Cek perdarahan

Pasang spalk udara

Pesmasangan infus/pemberian cairan IV

d. Disability:

Kesadaran: Skor GCS


Pemeriksaan pupil

Lihat level cedera spinal