Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN REFARAT

REFARAT

KETUBAN PECAH DINI

Digunakan Guna Mengikuti Persyaratan Dalam Mengikuti Kepanitraan Klinik Senior

SMF Obstetry & Ginekologi RSUD DR. RM. DJOELHAM

Di Susun Oleh :

ADHI MARFITRA

102117088

Pembimbing:

Arusta Tarigan, Sp.OG

OBGYN & GINEKOLOGY RSUD DR. RM. DJOELHAM BINJAI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BATAM
LAPORAN REFARAT ADIMARFITRA@GMAIL.COM
LAPORAN REFARAT

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ketuban pecah dini (KPD) merupakan masalah penting dalam obstetri berkaitan
dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi korioamnionitis sampai
sepsis, yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal dan menyebabkan
infeksi ibu (Sarwono, 2008). Ketuban pecah dini (KPD) didefenisikan sebagai
pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir
kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. Dalam keadaan normal 8-
10% perempuan hamil aterm akan mengalami ketuban pecah dini (Sarwono, 2008).
Insidensi ketuban pecah dini terjadi 10% pada semua kehamilan. Pada kehamilan
aterm insidensinya bervariasi 6-19%, sedangkan pada kehamilan preterm
insidensinya 2% dari semua kehamilan. Hampir semua ketuban pecah dini pada
kehamilan preterm akan lahir sebelum aterm atau persalinan akan terjadi dalam satu
minggu setelah selaput ketuban pecah. 70% kasus ketuban pecah dini terjadi pada
kehamilan cukup bulan, sekitar 85% morbiditas dan mortalitas perinatal disebabkan
oleh prematuritas, ketuban pecah dini berhubungan dengan penyebab kejadian
prematuritas dengan insidensi 30-40% (Sualman, 2009).
Penyebab ketuban pecah dini ini pada sebagian besar kasus tidak diketahui.
Banyak penelitian yang telah dilakukan beberapa dokter menunjukkan infeksi
sebagai penyebabnya. Faktor lain yang mempengaruhi adalah kondisi sosial
ekonomi rendah yang berhubungan dengan rendahnya kua litas perawatan
antenatal, penyakit menular seksual misalnya disebabkan oleh chlamydia
trachomatis dan nescheria gonorrhea. Selain itu infeksi yang terjadi secara langsung
pada selaput ketuban, fisiologi selaput amnion/ketuban yang abnormal, servik yang
inkompetensia, serta trauma oleh beberapa ahli disepakati sebagai faktor
predisposisi atau penyebab terjadinya ketuban pecah dini. Trauma yang didapat
misalnya hubungan seksual dan pemeriksaan dalam (Sualman, 2009).

LAPORAN REFARAT ADIMARFITRA@GMAIL.COM


LAPORAN REFARAT

Penelitian lain di sebuah Rumah Bersalin Tiyanti, Maospati Jawa Barat,


menyebutkan faktor paritas yaitu pada multipara sebesar 37,59% juga
mempengaruhi terjadinya ketuban pecah dini, selain itu riwayat ketuban pecah dini
sebelumnya sebesar 18,75% dan usia ibu yang lebih dari 35 tahun mengalami
ketuban pecah dini (Agil, 2007).
Komplikasi paling sering terjadi pada ketuban pecah dini sebelum usia
kehamilan 37 minggu adalah sindrom distress pernapasan, yang terjadi pada 10-
40% bayi baru lahir. Resiko infeksi meningkat pada kejadian ketuban pecah dini.
Semua ibu hamil dengan ketuban pecah dini prematur sebaiknya dievaluasi untuk
kemungkinan terjadinya korioamnionitis (radang pada korion dan amnion). Selain
itu kejadian prolaps atau keluarnya tali pusar dapat terjadi pada ketuban pecah dini
(Ayurai, 2010).
Kejadian ketuban pecah dini dapat menimbulkan beberapa masalah bagi ibu
maupun janin, misalnya pada ibu dapat menyebabkan infeksi puerperalis/masa
nifas, dry labour/partus lama, dapat pula menimbulkan perdarahan post partum,
morbiditas da n mortalitas maternal, bahkan kematian (Cunningham,2006).
Resiko kecacatan dan kematian janin juga tinggi pada kejadian ketuban pecah
dini preterm. Hipoplasia paru merupakan komplikasi fatal yang terjadi pada ketuban
pecah dini preterm. Kejadiannya mencapai hampir 100% apabila ketuban pecah dini
preterm ini terjadi pada usia kehamilan kurang dari 23 minggu (Ayurai, 2010).
Winkjosastro (2006) dalam bukunya mengatakan penatalaksanaan ketuban pecah
dini tergantung pada umur kehamilan dan tanda infeksi intrauterin. Pada umumnya
lebih baik untuk membawa semua pasien dengan ketuban pecah dini kerumah sakit
dan melahirkan bayi yang usia gestasinya > 37 minggu dalam 24 jam dari pecahnya
ketuban untuk memperkecil resiko infeksi intrauterin.

LAPORAN REFARAT ADIMARFITRA@GMAIL.COM


LAPORAN REFARAT

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi Ketuban Pecah Dini (KPD)


Kantung ketuban adalah sebuah kantung berdinding tipis yang berisi cairan
dan janin selama masa kehamilan. Dinding kantung ini terdiri dari dua bagian.
Bagian pertama disebut amnion, terdapat di sebelah dalam. Sedangkan bagian
kedua, yang terdapat di sebelah luar disebut korion.
Cairan ketuban adalah cairan yang ada di dalam kantung amnion. Cairan ini
dihasilkan selaput ketuban dan diduga dibentuk oleh sel-sel amnion, ditambah
air kencing janin, serta cairan otak pada anensefalus.
Ketuban pecah dini adalah ketuban yang pecah sebelum ada tanda-tanda
inpartu yaitu pembukaan pada primi kurang dari 3 cm dan pada multi kurang
dari 5 cm. Bila periode laten terlalu panjang dan ketuban sudah pecah, maka
dapat terjadi infeksi yang dapat meningkatkan angka kematian ibu dan anak.
Normalnya selaput ketuban pecah pada akhir kala I atau awal kala II persalinan.
Bisa juga belum pecah sampai saat mengedan, sehingga kadang perlu
dipecahkan (amniotomi).
Prinsip prinsip dasar ketuban pecah dini:
- Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan
berlangsung
- Ketuban pecah dini merupakan masalah penting dalam obstetrik berkaitan
dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi khoriokarsinoma
sampai sepsis, yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal dan
menyebabkan infeksi ibu.
- Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan
membran atau meningkatnya tekanan intrauterin atau oleh kedua faktor
tersebut. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan oleh adanya infeksi
yang dapat berasal dari vagina dan serviks.

LAPORAN REFARAT ADIMARFITRA@GMAIL.COM


LAPORAN REFARAT

- Penanganan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia gestasi,


adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin dan adanya tanda-tanda
persalinan

2. Epidemiologi Ketuban Pecah Dini (KPD)


Kejadian KPD berkisar 5-10% dari semua kelahiran, dan KPD preterm terjadi
1% dari semua kehamilan.
70% kasus KPD terjadi pada kehamilan cukup bulan.
KPD merupakan penyebab kelahiran prematur sebanyak 30%.

3. Etiologi Ketuban Pecah Dini (KPD)


Penyebab KPD masih belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti.
Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD,
namun faktor-faktor mana yang lebih berperan sulit diketahui. Kemungkinan yang
menjadi faktor penyebabnya adalah:
1. Infeksi
Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenderen
dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD.
2. Servik yang inkompetensia
Kanalis sevikalis yang selalu terbuka oleh karena kelainan pada servik uteri
(akibat persalinan, kuretase).
3. Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan
(overdistensi uterus)
Misalnya trauma, hidramnion, gemelli. Trauma oleh beberapa ahli disepakati
sebagai faktor predisposisi atau penyebab terjadinya KPD. Trauma yang didapat
misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam, maupun amniosintesis
menyebabkan terjadinya KPD karena biasanya disertai infeksi.

4. Kelainan letak

LAPORAN REFARAT ADIMARFITRA@GMAIL.COM


LAPORAN REFARAT

Misalnya sungsang, sehingga tidak ada bagian terendah yang menutupi pintu
atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap membran bagian
bawah.

Beberapa faktor risiko yang memicu terjadinya ketuban pecah dini ialah:
1. Kehamilan multipel :
- Kembar dua (50%), kembar tiga (90 %).
2. Riwayat persalinan preterm sebelumnya :
- Risiko 2-4x
3. Tindakan koitus :
- Tidak berpengaruh kepada risiko, kecuali jika higienitas buruk, predisposisi
terhadap infeksi.
4. Perdarahan pervaginam:
- Trimester pertama (risiko 2x), trimester kedua/ketiga (20x)
5. Bakteriuria :
- Risiko 2x (prevalensi 7%)
6. PH vagina di atas 4,5 :
- Risiko 32% (vs. 16%)
7. Servix tipis / kurang dari 39 mm :
- Risiko 25% (vs 7%)
8. Flora vagina abnormal :
- Risiko 2-3x
9. Fibronektin > 50 mg/ml :
- Risiko 83% (vs 19%)
10. Kadar CRH (corticotropoin releasing hormone) maternal tinggi
- Misalnya pada stress psikologis, dsb. Dapat menjadi stimulasi persalinan
preterm.

LAPORAN REFARAT ADIMARFITRA@GMAIL.COM


LAPORAN REFARAT

4. Patofisiologi Ketuban Pecah Dini (KPD)


- Mekanisme terjadinya ketuban pecah adalah selaput ketuban berfungsi
untuk menahan air ketuban keluar dari kantongnya, ini semua dipengaruhi
oleh infeksi, tekanan intra uteri, servik yang inkompeten, apabila faktor-
faktor di atas ada kelainan umpamanya tekanan intra uteri meningkat maka
uterus menegang sehingga selaput ketuban makin tipis dan lemah dan tidak
sanggup menahan dorongan dari dalam sehingga pecah dan keluarlah air
ketuban.

5. Manifestasi Ketuban Pecah Dini (KPD)


Tanda yang terjadi adalah:
- Keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina.
- Warnanya putih agak keruh
- Aroma air ketuban berbau amis dan tidak seperti bau amoniak
- Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai
kelahiran. Tetapi bila ibu hamil duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah
terletak di bawah biasanya "mengganjal" atau "menyumbat" kebocoran
untuk sementara.
- Uterus lunak
- Kalau ada gejala seperti ini: demam, bercak vagina yang banyak, nyeri
perut, denyut jantung janin bertambah cepat menunjukkan kalau infeksi
sudah terjadi.

6. Penegakan Diagnosis Ketuban Pecah Dini (KPD)


- Menegakkan diagnosa KPD secara tepat sangat penting. Karena diagnosa yang
positif palsu berarti melakukan intervensi seperti melahirkan bayi terlalu awal
atau melakukan seksio yang sebetulnya tidak ada indikasinya.
- Sebaliknya diagnosa yang negatif palsu berarti akan membiarkan ibu dan janin
mempunyai resiko infeksi yang akan mengancam kehidupan janin, ibu atau
keduanya.

LAPORAN REFARAT ADIMARFITRA@GMAIL.COM


LAPORAN REFARAT

- Oleh karena itu diperlukan diagnosa yang cepat dan tepat. Diagnosa KPD
ditegakkan dengan cara :
1. Anamnesa
Penderita merasa basah pada vagina
Mengeluarkan cairan yang banyak secara tiba-tiba dari jalan lahir
Cairan berbau khas
His belum teratur atau belum ada, dan belum ada pengeluaran lendir
darah
2. Pemeriksaan fisik
Inspeksi
- Pengamatan dengan mata biasa akan tampak keluarnya cairan
dari vagina, bila ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban
masih banyak, pemeriksaan ini akan lebih jelas.
Auskultasi
- Denyut jantung janin cepat (fetal distress)
Inspekulum
- Pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tampak keluar
cairan dari orifisium uteri eksternum (OUE), kalau belum juga
tampak keluar, fundus uteri ditekan, penderita diminta batuk,
mengejan atau mengadakan manuver valsava, atau bagian
terendah digoyangkan, akan tampak keluar cairan dari ostium
uteri dan terkumpul pada fornik anterior.
Pemeriksaan dalam (VT)
- Didapat cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah
tidak ada lagi.
- Mengenai pemeriksaan dalam vagina dengan vagina toucher
perlu dipertimbangkan, pada kehamilan yang kurang bulan
yang belum dalam persalinan tidak perlu diadakan
pemeriksaan dalam.

LAPORAN REFARAT ADIMARFITRA@GMAIL.COM


LAPORAN REFARAT

- Karena pada waktu pemeriksaan dalam, jari pemeriksa akan


mengakumulasi segmen bawah rahim dengan flora vagina
yang normal.
- Mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi patogen.
- Pemeriksaan dalam vagina hanya dilakukan kalau KPD yang
sudah dalam persalinan atau yang dilakukan induksi persalinan
dan dibatasi sedikit mungkin.
3. Pemeriksaan penunjang
3.1 Pemeriksaan laboraturium
- Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa :
warna, konsentrasi, bau dan pH nya. Cairan yang keluar dari vagina
ini kecuali air ketuban mungkin juga urin atau sekret vagina. Sekret
vagina ibu hamil pH : 4-5, dengan kertas nitrazin tidak berubah
warna, tetap kuning.
- Tes Lakmus (Tes Nitrazin)
Jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan
adanya air ketuban (alkalis), pH air ketuban 7-7,5, darah dan infeksi
vagina dapat menghasilkan tes yang positif palsu.
- Mikroskopik (Tes Pakis)
Dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan
kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun
pakis.
3.2 Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
- Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban
dalam kavum uteri.
- Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit.
- Walaupun pendekatan diagnosis KPD cukup banyak macam dan
caranya, namun pada umumnya KPD sudah bisa terdiagnosis
dengan anamnesa dan pemeriksaan sederhana.

LAPORAN REFARAT ADIMARFITRA@GMAIL.COM


LAPORAN REFARAT

7. Diagnosis Banding Ketuban Pecah Dini (KPD)

8. Penatalaksanaan Ketuban Pecah Dini (KPD)


- Penatalaksanaan KPD tergantung pada umur kehamilan.
- Kalau umur kehamilan tidak diketahui secara pasti segera dilakukan
pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk mengetahui umur kehamilan dan
letak janin.
- Resiko yang lebih sering pada KPD dengan janin kurang bulan adalah RDS
dibandingkan dengan sepsis.
- Oleh karena itu pada kehamilan kurang bulan perlu evaluasi hati-hati untuk
menentukan waktu yang optimal untuk persalinan.
- Pada umur kehamilan 34 minggu atau lebih biasanya paru-paru sudah
matang, chorioamnionitis yang diikuti dengan sepsi pada janin merupakan
sebab utama meningginya morbiditas dan mortalitas janin.
- Pada kehamilan cukup bulan, infeksi janin langsung berhubungan dengan
lama pecahnya selaput ketuban atau lamanya periode laten.

LAPORAN REFARAT ADIMARFITRA@GMAIL.COM


LAPORAN REFARAT

1. Penatalaksanaan KPD pada kehamilan aterm (> 37 Minggu)


Beberapa penelitian menyebutkan lama periode laten dan durasi
KPD keduanya mempunyai hubungan yang bermakna dengan
peningkatan kejadian infeksi dan komplikasi lain dari KPD.
Jarak antara pecahnya ketuban dan permulaan dari persalinan
disebut periode laten = L.P = latent period.
Makin muda umur kehamilan makin memanjang L.P-nya. Pada
hakekatnya kulit ketuban yang pecah akan menginduksi persalinan
dengan sendirinya.
Sekitar 70-80% kehamilan genap bulan akan melahirkan dalam
waktu 24 jam setelah kulit ketuban pecah.
Bila dalam 24 jam setelah kulit ketuban pecah belum ada tanda-
tanda persalinan maka dilakukan induksi persalinan, dan bila gagal
maka dilakukan bedah caesar.
Pemberian antibiotik profilaksis dapat menurunkan infeksi pada
ibu. Walaupun antibiotik tidak berfaedah terhadap janin dalam
uterus namun pencegahan terhadap chorioamninitis lebih penting
dari pada pengobatannya sehingga pemberian antibiotik profilaksis
perlu dilakukan. Waktu pemberian antibiotik hendaknya diberikan
segera setelah diagnosis KPD ditegakkan dengan pertimbangan :
tujuan profilaksis, lebih dari 6 jam kemungkinan infeksi telah
terjadi, proses persalinan umumnya berlangsung lebih dari 6 jam.
Beberapa penulis menyarankan bersikap aktif (induksi persalinan)
segera diberikan atau ditunggu sampai 6-8 jam dengan alasan
penderita akan menjadi inpartu dengan sendirinya. Dengan
mempersingkat periode laten durasi KPD dapat diperpendek
sehingga resiko infeksi dan trauma obstetrik karena partus tindakan
dapat dikurangi.
Pelaksanaan induksi persalinan perlu pengawasan yang sangat ketat
terhadap keadaan janin, ibu dan jalannya proses persalinan
berhubungan dengan komplikasinya. Pengawasan yang kurang baik

LAPORAN REFARAT ADIMARFITRA@GMAIL.COM


LAPORAN REFARAT

dapat menimbulkan komplikasi yang fatal bagi bayi dan ibunya (his
terlalu kuat) atau proses persalinan menjadi semakin kepanjangan
(his kurang kuat). Induksi dilakukan dengan mempehatikan pelvis
score jika >5 induksi dapat dilakukan, sebaliknya jika <5 dilakukan
pematangan servik, jika tidak berhasil akhiri persalinan dengan
seksio sesaria.10

2. Penatalaksanaan KPD pada kehamilan preterm (<37 minggu)


Pada kasus-kasus KPD dengan umur kehamilan yang kurang bulan
dan tidak dijumpai tanda-tanda infeksi pengelolaannya bersifat
konservatif disertai pemberian antibiotik yang adekuat sebagai
profilaksis.
Penderita perlu dirawat di rumah sakit, ditidurkan dalam posisi
trendelenberg, tidak perlu dilakukan pemeriksaan dalam untuk
mencegah terjadinya infeksi dan kehamilan diusahakan bisa
mencapai 37 minggu, obat-obatan uteronelaksen atau tocolitic
agent diberikan juga tujuan menunda proses persalinan.
Tujuan dari pengelolaan konservatif dengan pemberian
kortikosteroid pada penderita KPD kehamilan kurang bulan adalah
agar tercapainya pematangan paru, jika selama menunggu atau
melakukan pengelolaan konservatif tersebut muncul tanda-tanda
infeksi, maka segera dilakukan induksi persalinan tanpa
memandang umur kehamilan
Induksi persalinan sebagai usaha agar persalinan mulai
berlangsung dengan jalan merangsang timbulnya his ternyata dapat
menimbulkan komplikasi-komplikasi yang kadang-kadang tidak
ringan. Komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi gawat janin
sampai mati, tetani uteri, ruptura uteri, emboli air ketuban, dan juga
mungkin terjadi intoksikasi.
Kegagalan dari induksi persalinan biasanya diselesaikan dengan
tindakan bedah sesar. Seperti halnya pada pengelolaan KPD yang

LAPORAN REFARAT ADIMARFITRA@GMAIL.COM


LAPORAN REFARAT

cukup bulan, tindakan bedah sesar hendaknya dikerjakan bukan


semata-mata karena infeksi intra uterin tetapi seyogyanya ada
indikasi obstetrik yang lain, misalnya kelainan letak, gawat janin,
partus tak maju, dll.
Selain komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi akibat tindakan
aktif, ternyata pengelolaan konservatif juga dapat menyebabkan
komplikasi yang berbahaya, maka perlu dilakukan pengawasan
yang ketat. Sehingga dikatakan pengolahan konservatif adalah
menunggu dengan penuh kewaspadaan terhadap kemungkinan
infeksi intrauterin.
Sikap konservatif meliputi pemeriksaan leukosit darah tepi setiap
hari, pemeriksaan tanda-tanda vital terutama temperatur setiap 4
jam, pengawasan denyut jantung janin, pemberian antibiotik mulai
saat diagnosis ditegakkan dan selanjutnya stiap 6 jam.
Pemberian kortikosteroid antenatal pada preterm KPD telah
dilaporkan secara pasti dapat menurunkan kejadian RDS. The
National Institutes of Health (NIH) telah merekomendasikan
penggunaan kortikosteroid pada preterm KPD pada kehamilan 30-
32 minggu yang tidak ada infeksi intra amnion. Sedian terdiri atas
betametason 2 dosis masing-masing 12 mg i.m tiap 24 jam atau
dexametason 4 dosis masing-masing 6 mg tiap 12 jam.

Kesimpulan penanganan KPD


1. Kehamilan > 37 minggu
Setelah ketuban pecah tunggu samapai 8 jam, selama menunggu
diberikan medikamentosa seperti antibiotik dan kortikosteroid
- Jika selama 8 jam ada tanda-tanda inpartu maka lahir spontan
- Jika tidak ada tanda-tanda inpartu maka lakukan induksi
persalinan
- Jika induksi persalinan gagal maka lakukan sectio caesarea
2. Kehamilan < 37 minggu

LAPORAN REFARAT ADIMARFITRA@GMAIL.COM


LAPORAN REFARAT

Kehamilan dipertahankan dengan melakukan tindakan konservatif


seperti
- Antibiotik untuk mencegah infeksi
Pemberian antibiotic pada pasien ketuban pecah dini dapat
menekan infeksi neonatal dan memperpanjang periode latensi.
Sejumlah antibiotik yang digunakan meliputi ampisilin 2 gram
dengan kombinasi eritromisin 250 mg setiap 6 jam selama 48
jam, diikuti pemberian amoksisilin 250 mg dan eritromisin 333
mg setiap 8 jam untuk lima hari. Pasien yang mendapat
kombinasi ini dimungkinkan dapat mempertahankan kandungan
selama 3 minggu setelah penghentian pemberian antibiotik
setelah 7 hari.
- Kortikosteroid untuk pematangan paru janin bila
kehamilan tidak bisa dipertahankan
Pemberian kortikosteroid dapat menekan morbiditas dan
mortalitas perinatal pasca ketuban pecah dini preterm.
Kortikosteroid juga menekan risiko terjadinya sindrom distress
pernafasan (20-35,4%), hemoragi intraventrikular (7,5-15,9%),
enterokolitis nekrotikans (0,8-4,6%). National Institute of
Health merekomendasikan pemberian kortikosteroid sebelum
masa gestasi 30-23 minggu, dengan asumsi viabilitas fetus dan
tidak ada infeksi intra amniotik.
- Agent tokolitik
Pemberian agent tokolitik diharapkan dapat memperpanjang
periode latensi namun tidak memperbaiki luaran neonatal. Tidak
banyak data yang tersedia mengenai pemakaian agen tokolitik
untuk ketuban pecah dini. Pemberian agen tokolitik jangka
panjang tidak diperkenankan dan hingga kini masih menunggu
hasil penelitian lebih jauh.
- Posisi Trendelenburg

LAPORAN REFARAT ADIMARFITRA@GMAIL.COM


LAPORAN REFARAT

- Kehamilan diterminasi bila ada tanda-tanda infeksi dengan


cara
Induksi persalinan,jika gagal maka lakukan sesar caesarea

9. Komplikasi Ketuban Pecah Dini (KPD)


1. Tali pusat menumbung
2. Prematuritas, persalinan preterm, jika terjadi pada usia kehamilan preterm.
3. Oligohidramnion, bahkan sering partus kering (dry labor) karena air ketuban
habis.
4. Infeksi
5. Komplikasi ibu : endometritis, penurunan aktifitas miometrium (distonia,
atonia), sepsis CEPAT (karena daerah uterus dan intramnion memiliki
vaskularisasi sangat banyak), dapat terjadi syok septik sampai kematian ibu.
6. Komplikasi janin : asfiksia janin, sepsis perinatal sampai kematian janin.

10. Prognosis Ketuban Pecah Dini (KPD)


Morbiditas ketuban pecah dini menjadi kurang serius bila terjadi pada kehamilan
yang mendekati aterm dibandingkan kehamilan yang lebih awal. Pada kasus
ketuban pecah dini biasanya 80-90% akan mengalami partus dalam kurun waktu 24
jam. Ada beberapa hal perlu dipertimbangkan pada ketuban pecah dini :
1. Ketuban pecah dini merupakan penyebab pentingnya persalinan prematur
dan prematuritas janin.
2. Resiko terjadinya ascending infection akan lebih tinggi jika persalinan
dilakukan setelah 24 jam onset
3. Insiden prolaps tali pusat (cord prolapse) akan meningkat bila dijumpai
adanya malpresentasi
4. Pengeluaran cairan ketuban untuk waktu yang lama akan menyebabkan dry
labour atau persalinan kering
5. Hipoplasia pulmonal janin sangat mengancam janin, khususnya pada kasus
oligohidramnion.

LAPORAN REFARAT ADIMARFITRA@GMAIL.COM


LAPORAN REFARAT

BAB III
KESIMPULAN

Ketuban pecah dini adalah ketuban yang pecah sebelum ada tanda-tanda inpartu
Penanganan KPD tergantung pada usia kehamian
Prognosisnya semakin jelek apabila KPD terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu
Medikamentosa seperti antibiotik, kortikosteroid dan anti tokolitik perlu diberikan
pada kasus KPD terutama pada usia kehamilan <37 minggu

LAPORAN REFARAT ADIMARFITRA@GMAIL.COM


LAPORAN REFARAT

DAFTAR PUSTAKA

1. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas kedokteran Universitas Padjajaran

Bandung Obstetri Fisiologi, Elstar offset, Bandung, 2010

2. Moctar, rustam. Sinopsis Obstetri, EGC, Jakarta, 2000

3. Taber Ben-Zion, Kedaruratan Obstetric dan Ginekologi, EGC, Jakarta, 2010

4. Gary Cunningham. F, Williams Obstetri Edisi 21. EGC, Jakarta, 2006

5. http://ibudanbayi.grc.jp/

6. http://istikuma.wordpress.com/2008/03/17/yang-terjadi-ketika-ketuban-pecah-

dini/

7. http://www.ayahbunda.co.id/artikel/Kehamilan/Gizi+dan+Kesehatan/ketuban.p

ecah.dini/001/001/1790/2

8. http://www.klikdokter.com/medisaz/read/2011/04/04/249/ketuban-pecah-dini

LAPORAN REFARAT ADIMARFITRA@GMAIL.COM