Anda di halaman 1dari 32

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori

1. Konsep Pengetahuan

a. Pengertian pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi

setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek

tertentu. Penginderaaan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni

indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.

Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan

telinga (Notoatmodjo, 2012).

b. Tingkat pengetahuan

Dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang

didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku

yang tidak didasari oleh pengetahuan. Pengetahuan yang cukup

didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat yaitu (Notoadmodjo,

2012) :

1) Tahu ( Know )

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat

ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang

spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang

telah diterima. Oleh sebab itu TAHU ini adalah merupakan

tingkat pengetahuan yang paling rencah. Kata kerja untuk


7

mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari yaitu

menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasi, menyatakan dan

sebagainya.

2) Memahami ( Comprehention )

Memahami artinya sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan

dimana dapat menginterprestasikan secara benar. Orang yang

telah paham terhadap objek atau materi terus dapat

menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan

dan sebagainya terhadap suatu objek yang dipelajari.

3) Aplikasi ( Application )

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk

menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi ataupun

kondisi rill (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi

atau penggunaan hukum-hukum, rumus, rumus, metode, prinsip

dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

4) Analisis ( Analysis )

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menyatakan

materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi

masih dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada

kaitannya satu sama lain.

5) Sintesis ( Syntesis )

Sintesis yang dimaksud menunjukan pada suatu

kemampuan untuk melaksanakan atau menghubungkan bagian-


8

bagian di dalam suatu keseluruhan yang baru. Dengan kata lain

sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi

baru dan formulasi yang ada.

6) Evaluasi ( Evaluation )

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk

melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau

objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan suatu kriteria yang

ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah

ada.

c. Cara memperoleh pengetahuan

Cara memperoleh pengetahuan adalah sebagai berikut

(Wawan & Dewi, 2010) :

1) Cara kuno untuk memperoleh pengetahuan

a) Cara kuno salah ( trial and Error )

Cara ini telah dipakai orang sebelum kebudayaan,

bahkan mungkin sebelum adanya peradapan. Cara coba salah

ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam

memecahkan masalah dan apabila kemungkinan itu tidak

berhasil maka dicoba. Kemungkinan yang lain sampai

masalah tersebut dapat dipecahkan.

b) Cara kekuasaan atau otoritas

Sumber pengetahuan cara ini dapat berupa pemimpin-

pemimpin masyarakat baik formal atau informal, ahli agama,

pemegang pemerintah dan berbagai prinsip orang lain yang


9

menerima mempunyai yang dikemukakan oleh orang yang

mempunyai otoritas, tanpa menguji terlebih dahulu atau

membuktikan kebenarannya baik berdasarakan fakta empiris

maupun penalaran sendiri.

c) Berdasarkan pengalaman pribadi

Pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai

upaya memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang

kembali pengalaman yang pernah diperoleh dalam

memecahkan permasalahan yang dihadapi masa lalu.

2) Cara modern dalam memperoleh pengetahuan

Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih

popular atau disebut metodologi penelitian. Cara ini mula-mula

dikembangkan oleh Francis Bacon (1561-1626), kemudian

dikembangkan oleh Deobold Van Daven. Akhirnya lahir suatu

cara untuk melakukan penelitian yang dewasa ini kita kenal

dengan penelitian ilmiah.

d. Proses perilaku TAHU

Menurut Rogers (1974) yang dikutip oleh Notoatmodjo

(2011) baik yang dapat diamati langsung dari maupun tidak dapat

diamati oleh pihak luar. Sedangkan sebelum mengadopsi perilaku

baru di dalam diri orang tersebut terjadi proses berurutan, yakni :

1) Awareness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari

dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).


10

2) Interest (merasa tertarik) dimana individu mulai menaruh

perhatian dan tertarik pada stimulus.

3) Evaluation (menimbang-nimbang) individu akan

mempertimbangkan baik buruknya tindakan terhadap stimulus

tersebut bagi dirinya, hal ini berrarti sikap responden sudah

lebih baik lagi.

4) Trial, dimana individu mulai mencoba perilaku baru.

5) Adaption, dan sikapnya terhadap stimulus

e. Faktor faktor yang mempengaruhi pengetahuan

1) Faktor Internal

a) Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan

seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah

cita-cita tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat

dan mengisi kehidupan untuk mencapai keselamatan dan

kebahagiaan. Pendidikan diperlukan untuk mendapat

informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan

sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Pendidikan

dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku

seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk

sikap berperan serta dalam pembangunan pada umumnya

makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima

informasi (Wawan & Dewi, 2010).


11

b) Pekerjaan

Pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan

terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan

keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi

lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang

membosankan, berulang dan banyak tantangan. Sedangkan

bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu.

Bekerja bagi ibu- ibu akan mempunyai pengaruh terhadap

kehidupan keluarga (Wawan & Dewi, 2010).

c) Umur

Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat

dilahirkan sampai berulang tahun. Semakin cukup umur,

tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih

matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan

masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari

orang yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini akan

sebagian dari pengalaman dan kematangan jiwa (Wawan &

Dewi, 2010).

2) Faktor Eksternal

a) Faktor Lingkungan

Lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada

disekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat

mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau

kelompok (Wawan & Dewi, 2010).


12

b) Sosial Budaya

Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat

dapat mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi

(Wawan & Dewi, 2010).

f. Kriteria tingkat pengetahuan

Menurut Wawan dan Dewi (2010) pengetahuan seseorang

dapat diketahui dan diinterpretasikan dengan skala yang bersifat

kualitatif, yaitu :

1) Baik : Hasil presentase 76% - 100%

2) Cukup : Hasil presentase 56% - 75%

3) Kurang : Hasil Presentase < 56

g. Cara mengukur tingkat pengetahuan

Data akan diberi penilaian skor dilakukan dengan cara

setiap pernyataan yang dijawab dengan benar diberi skor 1 dan

pernyataan yang dijawab dengan salah diberi skor 0. Setelah data

terkumpul kemudian data tersebut dikelompokkan dan diolah

menggunakan rumus (Riwidikdo, 2010) :


= 100%

Keterangan :

P = prosentase (%)

a = skor yang diperoleh responden

b = total skor maksimal yang seharusnya diperoleh


13

Kemudian setelah diperoleh hasil, dimasukkan kedalam

kategori pengetahuan yaitu :

1) Pengetahuan baik bila responden menjawab dengan benar

pernyataan yang ada sebanyak 76% - 100%

2) Pengetahuan cukup bila responden menjawab benar

pernyataan yang ada sebanyak 56% - 75%

3) Pengetahuan kurang bila responden menjawab benar

pernyataan yang ada sebanyak <56% (Wawan dan Dewi, 2010).

2. Konsep Sikap

a. Pengertian sikap

Sikap merupakan konsep paling penting dalam psikologi

sosial yang membahas unsur sikap baik sebagai individu maupun

kelompok (Wawan dan Dewi, 2010).

Sikap adalah evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap

dirinya sendiri, orang lain, obyek, atau issue (Wawan dan Dewi,

2010).

b. Komponen sikap

Struktur sikap terdiri atas 3 komponen yang saling

menunjang yaitu (Wawan & Dewi, 2010) :

1) Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai

oleh individu pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan

stereotype yang dimiliki individu mengenai sesuatu dapat

disamakan penanganan (opini) terutama apabila menyangkut

maslaah isu atau problem yang kontroversial.


14

2) Komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek

emosional. Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling

dalam sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang

paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin

adalah mengubah sikap seseorang komponen afektif disamakan

dengan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.

3) Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku

tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang. Dan

berisi tendensi atau kencenderungan untuk bertindak/bereaksi

terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu. Dan berkaitan

dengan objek yang dihadapinya adalah logis untuk

mengharapkan bahwa sikap seseorang adalah dicerminkan

dalam bentuk tendensi perilaku.

c. Tingkatan sikap

Sikap terdiri dari berbagai tingkatan yakni (Wawan & Dewi,

2010) :

1) Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan

memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek).

2) Merespon (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan

menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi sikap

karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau


15

mengerjakan tugas yang diberikan. Lepas pekerjaan itu benar

atau salah adalah berarti orang itu menerima ide tersebut.

3) Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau

mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah

adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga, misalnya seorang

mengajak ibu yang lain (tetangga, saudaranya, dsb) untuk

menimbang anaknya ke posyandu atau mendiskusikan tentang

gizi adalah suatu bukti bahwa si ibu telah mempunyai sikap

positif terhadap gizi anak.

4) Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah

dipilihnya dengan segala resiko adalah mempunyai sikap yang

paling tinggi. Misalnya seorang ibu mau menjadi akseptor KB,

meskipun mendapatkan tantangan dari mertua atau orang

tuanya sendiri.

d. Sifat sikap

Sikap dapat pula bersifat positif dan dapat pula bersifat

negatif (Wawan & Dewi, 2010) :

1) Sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati,

menyenangi, mengharapkan obyek tertentu.

2) Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi,

menghindari, membenci, tidak menyukai obyek tertentu.


16

e. Ciri ciri sikap

Ciri ciri sikap adalah (Wawan & Dewi, 2010) :

1) Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau

dipelajari sepanjang perkembangan itu dalam hubungan dengan

obyeknya. Sifat ini membedakannya dengan sifat motif-motif

biogenis seperti lapar, haus, kebutuhan akan istirahat.

2) Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan

sikap dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-

keadaan dan syarat-syarat tertentu yang mempermudah sikap

pada orang lain.

3) Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai

hubungan tertentu terhadap suatu objek dengan kata lain, sikap

itu terbentuk, dipelajari atau berubah senantiasa berkenan

dengan suatu objek tertentu yang dapat dirumuskan dengan

jelas.

4) Objek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga

merupakan kempulan dari hal-hal tersebut.

5) Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan,

sifat alamiah yang membedakan sikap dan kecakapan-

kecakapan atau pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki orang.

f. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap

Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap terhadap obyek

sikap antara lain:


17

1) Pengalaman Pribadi

Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap

pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat.

Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila

pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang

melibatkan faktor emosional.

2) Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap

yang konformis atau searah dengan sikap orang lain yang

dianggap penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh

keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari

konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.

3) Pengaruh Kebudayaan

Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis

pengarah sikap kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan

telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena

kebudayaanlah yang memberi corak pengalaman individu-

individu masyarakat asuhannya (Wawan& Dewi, 2010).

4) Media Massa

Dalam pemberian surat kabar maupun radio atau media

komunikasi lainnya, berita yang seharusnya faktual disampaikan

secara obyektif cenderung dipengaruhi oleh sikap penulisnya,

akibatnya berpengaruh terhadap sikap konsumennya (Wawan&

Dewi, 2010). Pada era komunikasi dan teknologi ini informasi


18

bisa kita peroleh dengan cepat dan akurat yang bisa kita jadikan

sebagai sumber informasi (Soetjiningsih, 2007).

5) Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama

Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan

lembaga agama sangat menentukan system kepercayaan

tidaklah mengherankan jika kalau pada gilirannya konsep

tersebut mempengaruhi sikap (Wawan& Dewi, 2010).

6) Faktor Emosional

Kadang kala suatu bentuk sikap merupakan pernyataan

yang didasari emosi yang berfungsi sebagai semacam

penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme

pertahanan ego (Wawan& Dewi, 2010).

g. Cara Mengukur Sikap

Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung

maupun tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan

bagaimana pendapat/pernyataan responden terhadap suatu objek.

Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan

pernyataanpernyataan hipotesis kemudian ditanyakan pendapat

responden melalui kuesioner (Wawan dan Dewi, 2010).

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran

sikap (Wawan dan Dewi, 2010), yaitu :

1) Keadaan objek yang diukur

2) Situasi pengukuran

3) Alat ukur yang digunakan


19

4) Penyelenggaraan pengukuran

h. Pengukuran sikap

Salah satu problem metodologi dasar dalam psikologi sosial

adalah bagaimana mengukur sikap seseorang. Ada beberap teknik

pengukuran sikap, salah satunya dengan menggunakan Method Of

Summateds Ratings/Skala Likert. Likert (1932) mengajukan

metodenya sebagai alternatif yang lebih sederhana. Pengukuran

sikap dapat dilakukan dengan menilai pernyataan sikap seseorang.

Pernyataan sikap mungkin berisi atau menyatakan hal-hal yang

positif mengenai objek sikap, atau kalimatnya bersifat memihak

atau mendukung pada objek sikap. Pernyataan ini disebut dengan

pernyataan yang favourable. Sebaliknya pernyataan sikap mungkin

pula berisi hal-hal negatif yang bersifat tidak mendukung

pernyataan ini disebut pernyataan yang unfavourable (Wawan &

Dewi, 2011).

Untuk pernyataan yang favorable (positif) yaitu: sangat

setuju = 4, setuju =3, tidak setuju=2, sangat tidak setuju= 1 dan

untuk pernyataan yang unfavorable (negatif) yaitu: sangat setuju =

1, setuju = 2, tidak setuju 3 dan sangat tidak setuju = 4. Hasil yang

ditabulasi dengan mengunakan metode statistik sederhana

(distribusi frekuensi), untuk menganalis sikap menjadi unfavorable

atau favorable. Untuk menentukan skor akhir responden digunakan

rumus :


T= 50 + 10 ( )

20

Keterangan :

T = Nilai skor akhir responden

x = Nilai skor responden

= Nilai rata-rata kelompok

SD = standar deviasi (simpangan baku/kelompok)

Dimana nilai SD dapat dicari dengan menggunakan rumus :

( )2
SD =
1

Keterangan :

= jumlah pengamatan

n = jumlah sampel

Setelah nilai T ditentukan kemudian dikategorikan sebagai berikut :

Sikap Positif : jika T mean

Sikap Negatif : jika T < mean

Selanjutnya untuk menentukan sikap responden dalam

favorable (positif) atau unfavorable (negatif) dengan menentukan

nilai mean T. Sikap favourable (positif) bila nilai T mean T. Sikap

unfavourable (negatif) bila nilai T < mean T (Azwar, 2013).


21

3. Konsep Obesitas

a. Pengertian Obesitas

Obesitas adalah ketidakseimbangan jumlah makanan yang

masuk dibanding dengan pengeluaran energi oleh tubuh (Koernia,

2011). Obesitas yaitu kegemukan atau kelebihan berat bedan yang

melampaui berat badan normal, merupakan salah satu problem

kesehatan masyarakat yang cukup mempunyai dampak yang

cukup besar bagi orang-orang tertentu yang mengalaminya, baik

dari segi kosmetika, estetika, yang lebih banyak dikaitkan dengan

penampilan seseorang (Misnadiarly, 2007).

Obesitas adalah permasalahan umum yang dialami anak-

anak pada masa sekarang ini. Obesitas atau kelebihan berat badan

dapat menyebabkan efek negatif untuk kesehatan. Anak kita yang

lugu tentu tidak memahami bahaya tersebut, maka dari itu orang

tua adalah orang pertama yang bertanggung jawab atas kesehatan

anaknya. Anak harus tetap sehat dan tidak sering sakit-sakitan oleh

karena itu orang tua harus mengetahui apa penyebab dan

bagaimana cara mencegah dan mengatasi masalah obesitas pada

anak-anaknya (Nirwana, 2012).

b. Kriteria Obesitas

Umumnya untuk menentukan anak mengalami obesitas

atau tidak dilakukan pengukuran IMT (Indeks Massa Tubuh) dan

menentukan di mana posisinya pada tabel pertumbuhan sesuai

usia. Indeks massa tubuh menunjukkan bila anak mengalami


22

kelebihan berat badan untuk usia dan tinggi badannya. Untuk

menghitung Indeks Massa Tubuh, bagi berat badan dengan tinggi

badan yang dipangkat dua atau BB/ TB2 (Misnadiarly, 2007).

Kategori untuk menggolongkan BMI berdasarkan usia pada

anak-anak dan remaja menurut Central for Disease Control

Prevention (CDC) adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Kategori Status Berat Anak


No Kategori Status Rentang Persentil
1 Underweight (kurang berat badan) Kurang dari persentil ke-5
2 Healthy weight (berat badan sehat) Persentil ke-5 sampai
kurang dari persentil ke-
85
3 Overweight (kelebihan berat Persentil ke-85 sampai
badan) kurang dari persentil ke-
95
4 Obese (obesitas) Persentil ke-95 atau lebih
tinggi
Sumber : Rina, 2011

c. Tanda Obesitas

Obesitas dapat terjadi pada usia berapa saja, tetapi yang

tersering pada tahun pertama kehidupan, usia 5-6 tahun dan pada

masa remaja. Anak yang obesitas tidak hanya lebih berat dari anak

seusianya, tetapi juga lebih cepat matang pertumbuhan tulangnya.

Anak yang obesitas relatif lebih tinggi pada masa remaja awal,

tetapi pertumbuhan memanjangnya selesai lebih cepat, sehingga

hasil akhirnya mempunyai tinggi badan relatif lebih pendek dari

anak sebayanya (Soetjiningsih, 2012).


23

Bentuk muka anak yang obesitas tidak proporsional, hidung

dan mulut relatif kecil, dagu ganda. Terdapat timbunan lemak pada

daerah payudara, dimana pada anak laki-laki sering merasa malu

karena payudaranya seolah-olah tumbuh. Perut menggantung dan

sering disertai striae. Alat kelamin pada anak laki-laki seolah kecil,

karena adanya timbunan lemak pada daerah pangkal paha. Paha

dan lengan atas besar, jari-jari tangan relatif kecil dan runcing.

Sering terjadi gangguan psikologis, baik sebagai penyebab ataupun

sebagai akibat dari obesitasnya. Anak lebih cepat mencapai masa

pubertas. Kematangan seksual lebih cepat, pertumbuhan payudara,

menarke, pertumbuhan rambut kelamin dan ketiak juga lebih cepat

(Soetjiningsih, 2012).

d. Cara menentukan kategori obesitas

Ada beberapa metode yang biasa digunakan profesional

kesehatan untuk menetapkan apakah seorang anak masuk pada

kategori obesitas atau tidak, yaitu (Rina, 2011) :

1) Tabel berat-tinggi

Tabel ini memberikan rentang umum antara bobot sehat

dan kelebihan berat badan untuk tinggi anak. Banyak dokter

yang menetapkan obesitas pada anak yang memiliki berat 20%

atau lebih dari rentang sehat. Walaupun begitu, tabel ini tidak

memperhitungkan karakteristik individu dari anak itu sendiri.

Penyedia layanan kesehatan harus pula mempertimbangkan

usia anak dan pola pertumbuhan mereka saat


24

menginterpretasikan grafik, misalnya berapa berat anak sebelum

lonjakan pertumbuhan.

2) Persentase lemak

Persentase lemak tubuh termasuk penanda baik lainnya

untuk obesitas. Anak laki-laki dengan lebih dari 25% lemak dan

anak perempuan dengan lebih dari 32% lemak dianggap

obesitas.

Persentase lemak tubuh memang sulit diukur secara

akurat, namun ahli kesehatan bisa menggunakan peralatan

khusus yang mungkin tidak ditemukan di pusat medis biasa.

Adapun metode dengan mengukur ketebalan lipatan kulit tidak

terlalu bisa diandalkan, kecuali dilakukan dengan benar oleh ahli

terlatih dan berpengalaman.

3) BMI (Body Mass Index)

BMI memang cukup diandalkan untuk menilai berat badan

seorang anak. Ini sama dengan indeks massa tubuh yang

digunakan untuk mengidentifikasi obesitas pada orang dewasa,

hanya saja penggunaannya pada anak-anak tidak diterima

secara universal. Angka BMI anak diolah dengan

memplotkannya di grafik pertumbuhan (Terlampir) untuk

mendapatkan peringkat persentil berdasarkan usia dan jenis

kelamin.
25

4) Lingkar pinggang

Teknik lainnya untuk mengidentifikasi apakah seorang

anak obesitas adalah melalui pengukuran lingkar pinggang. Ahli

kesehatan melakukannya dengan membentangkan meteran di

lingkar perut anak yang terluas (biasanya pada pusar atau

dibawahnya, yang disebut umbilikus). Setiap nilai di atas

persentil ke-90 sesuai usia dan jenis kelamin anak, membawa

risiko tinggi pada obesitas.

e. Penyebab Obesitas

Secara ilmiah obesitas dapat terjadi akibat mengkonsumsi

kalori lebih banyak dari yang diperlukan oleh tubuh. Obesitas

cenderung dipengaruhi oleh turunan dari keluarga. Apabila ada

orang tua yang obesitas, kemungkinan anaknya juga akan

menderita obesitas. Namun tidak sedikit dari ahli kesehatan menilai

bahwa faktor genetik bukanlah penentu dominan dalam obesitas

pada anak. Obesitas pada anak juga ditentukan oleh faktor resiko

lainnya (Lakshita, 2012).

Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak mengalami

obesitas, diantaranya (Nirwana, 2012) :

1) Faktor genetik

Faktor genetik ini merupakan faktor turunan dari orang

tua. Faktor inilah yang sulit untuk dihindari. Apabila ibu dan

bapak anak mempunyai kelebihan berat badan maka ini bisa

dipastikan pula akan menurun pada anaknya. Biasanya anak


26

yang berasal dari keluarga yang juga mengalami overweight, dia

akan beresiko untuk memiliki berat badan berlebih, terutama

pada lingkungan dimana makanan tinggi kalori selalu tersedia

dan aktivitas fisik tidak terlalu diperhatikan.

2) Faktor Lingkungan

a) Makanan cepat saji dan makanan ringan dalam kemasan

Maraknya restoran cepat saji merupakan salah satu

faktor penyebab. Anak-anak sebagian besar menyukai

makanan cepat saji atau fast food bahkan banyak anak yang

akan makan dengan lahap dan menambah porsi bila makan-

makanan siap disaji. Padahal makanan seperti itu umumnya

mengandung lemak dan gula yang tinggi yang menyebabkan

obesitas. Orang tua yang sibuk sering menggunakan makanan

siap cepat saji yang praktis dihidangkan untuk diberikan pada

anak-anak mereka, walaupun kandungan gizi untuk

pertumbuhan dan perkembangan anak. Itu sebabnya

makanan cepat saji sering disebut dengan istilah junk food

atau makanan sampah. Selain itu, kesukaan anak-anak pada

makanan ringan dalam kemasan atau makanan manis menjadi

hal yang patut diperhatikan.

b) Minuman ringan

Sama seperti makanan cepat saji, minuman ringan soft

drink terbukti memiliki kandungan gula yang tinggi sehingga

berat badan akan cepat bertambah bila mengkonsumsi


27

minuman ini. Rasa yang nikmat dan menyegarkan menjadikan

anak-anak sangat menggemari minuman ini.

c) Kurangnya aktivitas fisik

Masa anak-anak identik dengan masa bermain. Dulu

permainan anak umumnya adalah permainan fisik yang

mengharuskan anak berlari, melompat atau gerakan lainnya.

Tetapi hal itu telah tergantikan dengan game

elektronik, komputer, internet, atau televisi yang cukup

dilakukan dengan hanya duduk didepannya tanpa harus

bergerak. Hal inilah yang menyebabkan anak kurang

melakukan gerak badan sehingga menyebabkan kelebihan

berat badan.

d) Fakor Psikologi

Beberapa anak makan berlebih untuk melupakan

masalah, melawan kebosanan, atau meredam emosi, seperti

stres. Masalah-masalah inilah yang menyebabkan terjadinya

overweight pada anak.

e) Faktor keluarga

Jika orang tua selalu membeli makanan ringan, seperti

biskuit, chips dan makanan tinggi kalori yang lain, hal ini juga

berkontribusi pada peningkatan berat badan anak. Jika orang

tua dapat mengontrol akses anak ke makanan yang tinggi

kalori, mereka dapat membantu anaknya untuk menurunkan

berat badan.
28

f. Dampak Obesitas

Anak yang kelebihan berat badan dapat menderita masalah

kesehatan yang cukup serius seperti diabetes dan penyakit jantung

dan sering kali juga membawa kondisi ini sampai ke masa

dewasanya. Anak yang kelebihan berat badan memiliki risiko lebih

tinggi untuk menderita :

1) Diabetes tipe 2, resisten terhadap insulin.

2) Sindrom metabolisme : kegemukan terutama di daerah perut,

kadar lemak tinggi, tekanan darah tinggi, resistensi terhadap

insulin, rentan terhadap terbentuknya sumbatan pembuluh darah

dan rentan terhadap proses peradangan.

3) Tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi dan tingkat blood lipid yang

abnormal.

4) Asma dan masalah saluran pernafasan lainnya (misalnya nafas

pendek yang dapat membuat olahraga, senam atau aktivitas fisik

lainnya sulit dilakukan).

5) Masalah tidur.

6) Penyakit liver dan kantong empedu.

7) Pubertas dini : Anak yang kelebihan berat badan dapat tumbuh

lebih tinggi dan secara seksual lebih matang dari anak-anak

sebaya, membuat orang-orang berharap mereka dapat

berperilaku sesuai ukuran tubuh mereka, bukan sesuai usia

mereka; gadis-gadis yang mengalami kelebihan berat badan


29

seringkali mengalami siklus menstruasi tidak teratur dan

menghadapi masalah fertilitas pada usia dewasanya.

8) Masalah makan.

9) Infeksi kulit

10) Masalah pada tulang dan persendian.

Kelebihan berat badan dapat juga menyebabkan terjadinya

masalah yang menyangkut perkembangan sosial dan emosional

anak seperti (Misnadiarly, 2007) :

1) Percaya diri rendah dan rawan diganggu anak lain

Anak-anak sering kali mengganggu atau mencela kawan

mereka yang kelebihan berat badan dan sering kali

mengakibatkan anak tersebut kehilangan rasa percaya diri dan

meningkatkan risiko terjadinya depresi.

2) Problem pada pola tingkah laku dan pola belajar

Anak-anak yang kelebihan berat badan cenderung lebih

sering merasa cemas dan memiliki kemampuan bersosialisasi

lebih rendah daripada anak-anak dengan berat normal. Masalah-

masalah ini akan menyebabkan anak tersebut :

a) Meledak dan mengganggu ruang

b) Menarik diri dari pergaulan sosial

3) Depresi

Isolasi sosial dan rendahnya rasa percaya diri menimbulkan

rasa perasaan tidak berdaya pada sebagian anak yang kelebihan

berat badan. Bila anak-anak kehilangan harapan bahwa hidup


30

mereka akan menjadi lebih baik, pada akhirnya mereka akan

mengalami depresi. Seorang anak yang mengalami depresi akan

kehilangan rasa tertarik pada aktivitas normal, lebih banyak tidur

dari biasanya atau seringkali menangis.

g. Tatalaksana Obesitas

Penanganan komprehensif obesitas meliputi penanganan

obesitas dan dampak yang muncul. Prinsip penatalaksanaannya

adalah mengurangi asupan energi dan meningkatkan pengeluaran

energi. Caranya dengan pengaturan diet, peningkatan aktivitas

fisik, memodifikasikan perilaku dan yang terpenting adalah

keterlibatan orang tua dan keluarga dalam proses terapi (Syarif,

2002 ).

Pendekatan yang digunakan dalam pengobatan dan

kecepatan dari pengobatan tergantung pada faktor risiko, termasuk

umur, tingkat obesitas dan angka kesakitan, riwayat keluarga dan

faktor pendukung (Kliegman, 2006). Tujuan utama untuk semua

anak obesitas yang tidak mengalami komplikasi adalah dengan

menerapkan pola makan yang sehat dan meningkatkan aktivitas.

Untuk anak obesitas dengan komplikasi, mengatasi komplikasi

menjadi tujuan yang penting. Untuk anak umur 2-7 tahun dengan

IMT lebih dari atau sama dengan persentil 95 tanpa komplikasi,

tujuannya adalah mempertahankan berat badan tetap pada dasar

garis berat, untuk anak yang sedang tumbuh akan terus bertambah
31

tinggi dengan IMT akan berada pada rentang normal (Kliegman,

2006).

Untuk anak usia lebih dari 7 tahun dengan IMT antara

persentil 85-95 tanpa komplikasi mempertahankan berat badan

menjadi tujuan utama. Menurunkan berat badan direkomendasikan

jika ditemukan adannya komplikasi, dengan tujuan berat badan 1

kilogram setiap bulan sampai IMT menjadi kurang dari persentil 85.

Karena anak-anak kehilangan atau penurunan berat badan tidak

dianjurkan karena akan berkontribusi terhadap garis pertumbuhan

dan menjadi kurang nutrisi (Kliegman, 2006).

Program penatalaksanaan obesitas pada anak dan remaja

dapat dengan menurunkan berat badan meurunkan IMT ketika

penatalaksanaan difokuskan pada perubahan perilaku dan

berpusat pada keluarga. Perubahan perilaku dapat dilakukan

dengan cara kembali ke pola makan yang sehat dan meningkatkan

aktivitas fisik. Kebiasaan makan makanan yang sehat lebih mudah

dimulai dari keluarga, dengan orang tua memberi contoh memilih

makanan yang sehat, mengontrol pembelian makanan dirumah dan

membatasi jumlah/porsi yang dimakan oleh anak (Rina, 2011).

Membatasi sedentary actifity dapat lebih efektif daripada

secara khusus mempromosikan peningkatan akitifitas. American

academic pediatric (AAP) merekomendasikan tidak ada menonton

televisi untuk anak kurang dari 2 tahun dan maksimum hanya 2 jam
32

per hari untuk menonton televisi dan bermain video game atau

komputer untuk anak yang lebih dari 2 tahun (Koernia, 2011).

Ketika akan melakukan terapi atau pengobatan, ada tiga hal

yang perlu diperhatikan yaitu usia anak, kemampuan dan kesiapan

keluarga untuk melakukan perubahan kesepakatan antara orang

tua dan anak dan keterampilan/kemampuan dari tenaga kesehatan

(Kliegman, 2006).

Ada tiga petunjuk yang perlu diperhatikan ketika akan

melakukan terapi atau pengobatan, yaitu :

1) Petunjuk umum : Kaji masalah identifikasi tentang diet dan

riwayat aktivitas fisik. Anjurkan untuk makan-makanan yang

sehat dan tingkatkan aktivitas khususnya untuk

mempertahankan berat badan anak yang obesitas. Anjurkan

semua anak untuk meningkatakan aktivitas bermain, mengurangi

waktu untuk menonton televisi, meningkatkan konsumsi buah

dan sayur dan membatasi konsumsi minuman bersoda dan jus.

2) Petunjuk sistematis : Pendekatan lebih spesifik pedoman diet,

seperti menyusun menu dan jadwal latihan aktivitas fisik untuk

mencapai tujuan. Kegiatan ini bisa dilakukan pusat pelayanan

kesehatan primer atau ke klinik khusus penanganan anak

obesitas.

3) Program pengobatan kelompok : Tipe program ini umumnya

digunakan untuk anak yang lebih besar atau remaja dengan

tingkatan untuk anak yang lebih besar atau remaja dengan


33

tingkatan variasi ketergantungan pada orang tua dan umur anak.

Beberapa program dipublikasikan melalui institusi kesehatan

nasional, yang menyebabkan informasi tentang program

mengontrol berat badan.

Tidak ada satu penanganan yang paling efektif untuk

semua anak obesitas. Dokter harus melihat cara yang paling baik

dengan mengkaji apakah anak yang obesitas mengalami

komplikasi atau tidak, penanganan pada anak obesitas dukungan

dan kemampuan keluarga dan akses dari berbagai sumber

(Kliegman, 2006 ).

Untuk modifikasi perilaku, tatalaksana diet dan aktivitas fisik

merupakan komponen yang efektif untuk pencegahan, serta

menjadi perhatian paling penting bagi ahli fisiologi untuk

mendapatkan bagaimana memperoleh perubahan makna dan

aktifitas perilakunya. Beberapa cara perubahan perilaku tersebut

diantarannya adalah pengawasan orangtua terhadap rangsangan

stimulus, mengubah perilaku makna penghargaan dan hukuman

dari orang tua dan pengendalian diri (Syarif, 2002).

Peran serta orang tua, anggota keluarga, teman dan guru

telah terbukti efektif dalam penurunanan berat badan atau

keberhasilan pengobatan. Peran tersebut dapat berupa

menyediakan nutrisi yang sesuai dengan petunjuk ahli gizi,


34

berpartisipasi mendukung program diet atau memberikan pujian

bila anaknnya berhasil menurunkan berat badannya (Syarif, 2002).

h. Pencegahan obesitas pada anak sekolah

Pencegahan dilakukan melalui pendekatan kepada anak

sekolah beserta orang-orang terdekatnya (orang tua, guru, teman,

dll) untuk mempromosikan gaya hidup sehat meliputi pola dan

perilaku makan serta aktivitas fisik. Strategi pendekatan dilakukan

pada semua anak sekolah baik yang berisiko menjadi kegemukan

dan obesitas maupun tidak (Kemenkes, 2012).

Usaha pencegahan dimulai dari lingkungan keluarga,

sekolah, masyarakat dan fasilitas pelayanan kesehatan.

Lingkungan sekolah merupakan tempat yang baik untuk pendidikan

kesehatan yang dapat memberikan pengetahuan, keterampilan

serta dukungan sosial dari warga sekolah. Pengetahuan,

keterampilan serta dukungan sosial ini memberikan perubahan

perilaku makan sehat yang diterapkan dalam jangka waktu lama.

Tujuan pencegahan ini adalah terjadinya perubahan pola dan

perilaku makan meliputi meningkatkan kebiasaan konsumsi buah

dan sayur, mengurangi konsumsi makanan tinggi energi dan

lemak, mengurangi konsumsi junk food, serta peningkatan aktivitas

fisik dan mengurangi sedentary life style (Kemenkes, 2012).

Sebetulanya banyak strategi yang bisa menghasilkan

penurunan berat badan dan mencegah obesitas pada anak-anak

dan remaja. Sebagian besar tip-tip dewasa dapat pula dipraktikkan


35

untuk anak-anak dan remaja. Walaupun begitu, berikut ini adalah

tip-tip yang lebih spesifik untuk anak-anak dan remaja (Rina, 2011)

1) Makan sekitar 5 porsi buah dan sayuran setiap hari.

2) Menimbang dan berlatih membaca label makanan.

3) Hindari memakan-makanan yang padat energi, atau yang

mengandung tinggi kalori dalam bagian kecil makanan.

4) Pilihlah makanan gandum, beras, roti gandum daripada makanan

yang diproses dengan tepung putih halus, gula, dan lemak jenuh.

5) Periksalah BMI agar mengetahui berat tubuh termasuk normal

atau obesitas

6) Dianjurkan berolahraga sedang setidaknya 30 menit setiap hari,

atau paling tidak dua kali dalam seminggu.

7) Pastikan selalu aktif setiap hari. Dunia hari ini telah

memenjarakan jutaan anak dengan video game, acara TV,

internet dan bahkan permainan di telepon seluler. Olahraga

adalah cara bagus untuk menjaga berat badan yang sehat.

8) Makan teratur juga sangat penting.

9) Mengikuti kegiatan-kegiatan yang bisa membuat aktif secara

fisik, seperti piknik, berlibur ke bukit, bersepeda bersama,dan

lain-lain.

10) Pastikan sarapan setiap pagi.

11) Kue dan snack di antara makan sore dapat menjaga agar tidak

makan terlalu banyak di malam hari.


36

12) Biasakan untuk makan di rumah daripada membeli atau jajan di

luar.

13) Batasi menonton tv, bermain video game, dan waktu yang

dihabiskan di komputer.

14) Membawa bekal dengan makanan rendah kalori dan sehat saat

pergi sekolah atau mengikuti kegiatan lainnya di luar.

15) Dianjurkan makan ketika lapar dan makan secara perlahan-

lahan.

16) Dianjurkan meminum air putih, bukan dengan minuman bergula

atau soda.
37

B. Kerangka Konsep

FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI
PENGETAHUAN

FAKTOR INTERNAL :

1. PENDIDIKAN
2. PEKERJAAN PENGETAHUAN
3. UMUR
1. Baik
FAKTOR EKSTERNAL:
2. Cukup
1. LINGKUNGAN
2. SOSIAL BUDAYA
3. Kurang TINDAKAN

PENCEGAHAN
FAKTOR-FAKTOR YANG OBESITAS
MEMPENGARUHI SIKAP

1. PENGALAMAN
PRIBADI
2. PENGARUH ORANG
LAIN YANG
DIANGGAP PENTING SIKAP
3. PENGARUH
KEBUDAYAAN
4. MEDIA MASSA 1. Sikap
5. LEMBAGA
PENDIDIKAN DAN Positif
LEMBAGA AGAMA
6. FAKTOR 2. Sikap
EMOSIONAL
Negatif

Keterangan :

= Diteliti = Tidak diteliti

Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian Pengetahuan dan Sikap Siswa


Tentang Pencegahan Obesitas Modifikasi Teori Notoatmodjo
(2012) dan Teori Rina (2011).