Anda di halaman 1dari 6

56

BAB V

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab IV,

maka dalam bab ini akan dibahas hasil penelitian tersebut sesuai dengan

tujuan penelitian yaitu mengetahui sejauh mana pengetahuan dan sikap

siswa tentang pencegahan obesitas di SDN 02 Cakranegara tahun 2014.

A. Pengetahuan Responden Tentang Pencegahan Obesitas di SDN 02

Cakaranegara Tahun 2014

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 85

responden, dapat diketahui bahwa jumlah tertinggi yaitu responden

dengan pengetahuan yang baik sebanyak 72 responden (84,8%),

pengetahuan yang cukup sebanyak 12 responden (14,1%), dan

pengetahuan yang kurang sebanyak 1 responden (1,1%).

Jika dilihat dari hasil penelitian pengetahuan siswa tentang

pencegahan obesitas, 15,29% siswa masih tidak mengerti mengenai

cara untuk menjaga berat badan yang sehat, faktor-faktor yang

menyebabkan obesitas, dan mengenai strategi agar tidak jajanan di

sekolah. Hal tersebut kemungkinan dikarenakan oleh kurangnya

informasi tentang cara pencegahan obesitas yang diberikan oleh pihak

sekolah maupun orang tua.

Hal tersebut diperkuat oleh Jurnal Buletin sehat (2014)

mengatakan bahwa pengetahuan anak yang kurang tentang

pencegahan obesitas disebabkan karena masih kurangnya pendekatan-


57

pendekatan yang dilakukan dari orang tua, guru, tenaga kesehatan dan

pihak lainnya.

Selain faktor diatas, pengetahuan responden dipengaruhi juga

oleh beberapa faktor. Menurut Notoatmodjo (2012), perbedaan

pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain

pendidikan, pekerjaan, dan sumber informasi.

Berdasarkan hasil pengumpulan data, didapatkan orang tua

responden yang berpendidikan akademi/D3/S1/S2 menempati urutan

teratas yaitu sebanyak 64 responden (75%). Menurut Wawan dan Dewi

(2011), pengetahuan itu sendiri dipengaruhi oleh faktor pendidikan

formal. Pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan,

dimana diharapkan bahwa dengan pendidikan yang tinggi maka orang

tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya.

Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi misalnya hal-

hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas

hidup. Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga

perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk

sikap berperan serta dalam pembangunan. Wawan dan Dewi (2011)

juga mengatakan pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang

makin mudah menerima informasi. Oleh karena sebagian besar orang

tua responden berpendidikan tinggi, otomatis mempengaruhi

pengetahuan anak-anaknya.

Hal tersebut diperkuat oleh penelitian yang dilakukan Ani (2011)

mengatakan bahwa pendidikan yang diperoleh orang tua dalam


58

melaksanakan kegiatan pengajaran dalam rumah tangga sangat penting

bagi keberhasilan pendidikan anggota keluarganya (anak-anaknya).

Selain itu juga, dalam penelitian yang dilakukan oleh Arysetyono (2009)

mengatakan bahwa tingkat pendidikan orang tua akan berpengaruh

pada pola pikir dan orientasi pendidikan anak.

Sedangkan berdasarkan pengumpulan data tentang pekerjaan

orangtua, jumlah tertinggi yaitu responden yang orangtuanya bekerja

sebagai PNS/TNI/ABRI/POLRI sejumlah 42 responden (49%). Lawrence

(1999) menyatakan bahwa secara tidak langsung pekerjaan turut andil

dalam mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang, pekerjaan

berhubungan erat dengan faktor interaksi sosial dan kebudayaan,

sedangkan interaksi sosial dan budaya berhubungan erat dengan proses

pertukaran informasi. Dan hal ini tentunya akan mempengaruhi tingkat

pengetahuan seseorang. Dari uraian diatas mengisyaratkan bahwa

pekerjaan orangtua juga berperan penting dalam peningkatan

pengetahuan anak karena bekerja memberikan peluang untuk

mendapatkan informasi yang lebih tentang kesehatan khususnya tentang

pencegahan obesitas pada anak.

Pengetahuan juga dipengaruhi oleh arus informasi. Sesuai yang

dipaparkan oleh Wied Hary A (1996) dalam Notoatmodjo (2012),

menyatakan bahwa informasi akan memberikan pengaruh pada

pengetahuan seseorang. Sebagian besar responden memanfaatkan

televisi sebagai sumber untuk mendapatkan informasi, yaitu sebanyak

77 responden (91%). Meskipun seseorang memiliki pendidikan yang


59

rendah tetapi jika ia mendapatkan informasi yang baik dari berbagai

media misalnya TV, radio atau surat kabar maka hal ini akan dapat

meningkatkan pengetahuan seseorang. Dan seperti yang dikatakan oleh

Soetjiningsih (2007), bahwa pada era komunikasi dan tekhnologi ini

informasi bisa kita peroleh dengan cepat dan akurat yang bisa kita

jadikan sebagai sumber informasi. Sumber informasi ini meliputi media

massa, elektronik, dan internet, sumber-sumber informasi ini sangat

bermanfaat bagi masyarakat dan anak-anak khususnya untuk

memperoleh informasi yang mereka inginkan.

B. Sikap Responden Tentang Pencegahan Obesitas di SDN 02

Cakranegara Tahun 2014

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan siswa memiliki sikap

positif yaitu mendukung terhadap pencegahan obesitas, yaitu sebanyak

47 orang (55,2%) mempunyai sikap positif (Favorable). Dalam hal ini

yang dimaksud siswa memiliki sikap postif adalah siswa mendukung

terhadap pentingnya aktivitas fisik, mengatur pola makan yang benar

dan berperilaku makan yang benar untuk mencegah obesitas. Menurut

Wawan dan Dewi (2011), adapun faktor-faktor yang mempengaruhi sikap

salah satunya adalah media massa (sumber informasi).

Sikap siswa yang positif ini didukung oleh arus informasi melalui

media. Dimana sebagian besar jumlah siswa menggunakan sumber

informasi televisi (tv), yaitu sebanyak 77 orang (91%). Menurut tulisan

dalam website http:www.stikim.ac.id yang diperoleh tanggal 18 Maret

2014, siswa merupakan salah satu kelompok penduduk yang mudah


60

terpengaruh oleh arus informasi baik yang negatif maupun positif. Dalam

hal ini, sikap siswa yang sudah positif terpengaruh oleh arus informasi

yang positif juga.

Berpengaruhnya arus informasi melalui media terhadap sikap

siswa ini didukung oleh pendapat Azwar, S (2007) yang mengatakan

bahwa berbagai bentuk media massa seperti radio, televisi, surat kabar,

karena sumber informasi sangat mempunyai pengaruh besar dalam

pembentukan pendapat dan kepercayaan siswa. Dalam penyampaian

informasi sebagai sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula

pesan-pesan yang berisi sugesti yang mengarahkan pendapat

siswa/siswi tentang pencegahan obesitas. Adanya informasi baru

mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi

terbentuknya sikap terhadap hal tersebut.

Selain dipengaruhi oleh arus informasi melalui media, sikap siswa

juga dipengaruhi oleh pengetahuan. Dimana berdasarkan hasil

penelitian, lebih banyak responden yang memiliki pengetahuan yang

baik yaitu sebanyak 72 responden (84,8%). Seseorang yang memiliki

pengetahuan baik, tentunya akan memiliki sikap positif. Pendapat

tersebut senada dengan apa yang diungkapkan Azwar, S (2007) yang

menyatakan salah satu pembentuk struktur sikap adalah komponen

kognitif, dimana komponen kognitif tersebut berasal dari kepercayaan

yang datangnya dari apa yang dilihat dan apa yang diketahui.

Hal selanjutnya yang menarik untuk disampaikan adalah

kenyataan bahwa 38 responden (44,8 %) memiliki kategori sikap negatif


61

atau tidak mendukung (Unfavorable), berkaitan dengan hal tersebut

menurut hasil kuesioner, bahwa 44,8% siswa lebih menyukai jajanan dan

aktivitas yang tidak mendukung untuk pencegahan obesitas.

Bondika (2011) mengatakan, kebiasaan seseorang berhubungan

dengan karakteristik personal dan faktor lingkungan. Dalam hal ini,

lingkungan yang paling berpengaruh pada perilaku makan anak adalah

keluarga dan sekolah. Anak cenderung untuk membeli makanan jajanan

yang tersedia paling dekat dengan keberadaanya tanpa memperdulikan

kandungan dari makanan tersebut.

Selain itu, saat ini teknologi telah mempengaruhi sifat dan perilaku

anak-anak. Dimana video game, gadget, dan teknologi-teknologi lainnya

membuat anak-anak menjadi malas bergerak. Sebagian anak lebih

memilih permainan indoor yang menyebabkan anak menjadi kurang

bergerak. Hal-hal tersebutlah yang dapat menyebabkan obesitas pada

anak. Dalam Jurnal Kemenkes (2012), hal ini perlu perhatian paling

penting dari orang-orang terdekatnya (orang tua, guru, teman, dll) untuk

mempromosikan gaya hidup sehat meliputi pola dan perilaku makan

serta aktivitas fisik. Strategi pendekatan dilakukan pada semua anak

sekolah baik yang berisiko menjadi kegemukan dan obesitas maupun

tidak.