Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka teoritis

1. Pengertian

a. Personal hygiene

Personal Hygiene berasal dari bahasa Yunani yaitu

personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat.

Kebersihan seseorang adalah suatu tindakan untuk memelihara

kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik

dan psikis (Tarwoto, 2006).

Personal hygiene adalah upaya yang dilakukan individu

dalam memelihara kebersihan dan kesehatan dirinya baik

secara fisik maupun mental. Penampilan bersih, harum dan rapi

merupakan dimensi yang sangat penting dalam mengukur

tingkat kesejahteraan individu secara umum. Tingkat kebersihan

sendiri dinilai dari penampilan individu serta upayanya dalam

menjaga kebersihan dan kerapian tubuhnya setiap hari.

Meningkatkan kebersihan merupakan kebutuhan dasar utama

yang dapat mempengaruhi status kesehatan dan kondisi

psikologis individu secara umum (Mubarak, 2007).

b. Lansia

Menurut UU No. 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan

lanjut usia pada pasal 1 Ayat 2 menyebutkan bahwa lanjut usia

5
6

(lansia) merupakan seseorang yang telah mencapai usia 60

tahun keatas (Nugroho, 2008).

Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya

secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki

diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga

tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki

kerusakan yang diderita (Siti Bandiyah, 2009).

Menurut pasal 1 Undang-undang no. 4 tahun 1965 :

seseorang dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia

setelah bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak

mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk

keperluan hidupnya sehari-hari, dan menerima nafkah dari orang

lain (Mubarak, 2009)

c. Panti sosial tresna werdha

Panti sosial adalah pelayanan kesejahteraan sosial yang

memiliki tugas dan fungsi untuk meningkatkan kualitas sumber

daya manusia (SDM) dan memberdayakan penyandang

masalah kesejahteraan sosial kearah kehidupan normatif secara

fisik, mental dan sosial (Kepmensos, No. 50/HUK/2004).

Panti sosial tresna werdha merupakan panti sosial yang

mempunyai tugas memberikan bimbingan dan pelayanan bagi

lanjut usia terlantar agar dapat hidup secara wajar didalam

kehidupan bermasyarakat (Kepmensos, No. 50/HUK/2004).


7

2. Personal hygiene

a. Prinsip kebersihan kulit

Kulit merupakan organ aktif yang berfungsi pelindung,

sekresi, ekskresi, pengatur temperatur dan sensasi. Kulit

normalnya elastis, terhidrasi baik, kuat dan halus. Sejalan dengan

usia kulit kehilangan daya kenyal dan kelembaban. Khas kulit

lansia adalah kering dan berkerut. Masalah yang umum terjadi

pada kulit diantaranya kulit kering, jerawat, hirsutisme, ruam kulit,

dermatitis kontak dan abrasi. Tujuan utama menjaga kebersihan

kulit (mandi) adalah untuk menjaga kebersihan tubuh,

mengurangi infeksi akibat kulit kotor, memperlancar sistem

peredaran darah, meningkatkan citra diri, dan menambah

kenyamanan (Potter & Perry, 2005). Cara-cara perawatan kulit

meliputi :

1) Biasakan mandi minimal 2 kali sehari atau setelah beraktifitas.

2) Gunakan sabun yang tidak bersifat iritatif

3) Sabuni seluruh tubuh terutama daerah lipatan kulit seperti

sela-sela ketiak, belakang telinga, dll.

4) Jangan menggunakan sabun mandi untuk wajah.

5) Segera keringkan tubuh dengan handuk yang lembut dari

wajah, tangan, badan, hingga kaki (Mubarak, 2007).

6) Menggunakan krim pelembab atau lotion setelah mandi

(Potter & Perry, 2005).


8

b. Prinsip kebersihan kuku

Kuku seringkali memerlukan perhatian khusus untuk

mencegah infeksi, bau dan cedera pada jaringan. Menjaga

kebersihan kuku penting dalam mempertahankan personal

hygiene karena berbagai kuman dapat masuk kedalam tubuh

melalui kuku. Kuku normal dan sehat yaitu transparan, lembut

dan konveks dengan alas jari pink dan ujung putih tembus

cahaya. Pada lansia, jari dapat menjadi tebal dan kuning. Lansia

seringkali memiliki kaki yang kering karena penurunan sekresi

kelenjar sebasea, dehidrasi sel epidermis dan kondisi alas kaki

yang buruk. Kuku yang panjang mudah menyebabkan

berkumpulnya kotoran bahkan kuman penyakit (Potter & Perry,

2005). Cara-cara merawat kuku meliputi :

1) Kuku tangan dapat di potong mengikuti bentuk kuku jari

sedangkan kuku kaki di potong dalam bentuk lurus

2) Jangan memotong kuku terlalu pendek karena bias melukai

selaput kulit dan kulit sekitar kuku.

3) Jangan membersihkan kotoran di balik kuku dengan benda

tajam, sebab akan merusak jaringan di bawah kuku.

4) Potong kuku seminggu sekali atau sesuai kebutuhan.

5) Khusus untuk jari kaki sebaiknya kuku dipotong setelah mandi

atau di rendam dalam air hangat.

6) Jangan menggigit kuku karena akan merusak bagian kuku

(Mubarak, 2007).
9

c. Prinsip kebersihan rambut

Seperti juga kuku, rambut tumbuh di luar epidermis.

Rambut mendapat nutrisi dari dari pembuluh darah sekitar

rambut. Menyisir dan keramas adalah cara-cara dasar untuk

perawatan rambut. Seiring bertambahnya usia rambut menjadi

lebih kering dan lebih rapuh. Warna rambut ditentukan oleh

adanya pigmen. Masalah yang sering terjadi pada rambut dan

kulit kepala diantaranya ketombe, kutu, dan kehilangan rambut/

rambut rontok. Bila tidak dibersihkan, rambut menjadi kotor dan

debu melekat pada rambut. (Potter & Perry, 2005)

Tujuan dari perawatan rambut adalah menjaga agar

rambut tetap terlihat rapi, membersihkan kuman-kuman yang ada

di kulit kepala, menambah rasa nyaman, membasmi kutu atau

ketombe yang ada pada kulit kepala, serta memperlancar sistem

peredaran darahdi bawah kulit (Hidayat, 2006). Cara-cara

merawat rambut meliputi :

1) Cuci rambut minimal 2 hari sekali atau 3 kali seminggu

menggunakan shampo.

2) Pijat-pijat kulit kepala pada saat mencuci rambut untuk

merangsang pertumbuhan rambut.

3) Pangkas rambut agar terlihat rapi

4) Menyisir rambut

5) Jangan menggunakan sisir yang bergigi tajam karena bisa

melukai kulit kepala


10

6) Mengolesi rambut dengan minyak rambut (Mubarak, 2007)

d. Prinsip kebersihan gigi dan mulut

Kebersihan mulut dan gigi harus tetap dijaga dengan

menyikat gigi dan berkumur secara teratur meskipun sudah

ompong. Gigi pada lanjut usia biasanya menjadi lebih rapuh, lebih

kering dan berwarna lebih gelap. Gigi menjadi tidak rata, bergerigi

dan patah setelah bertahun-tahun digosok dan diasah. Gusi

kehilangan vaskularitas dan elastisitas jaringan yang

menyebabkan gigi palsu kurang pas. Penurunan sensitivitas

rasa, penipisan mukosa mulut dan penurunan massa dan

kekuatan otot mastikasi huga terjadi. Hygiene mulut yang baik

termasuk kebersihan, kenyamanan dan kelembapan stuktur

mulut. Perawatan mulut adalah suatu tindakan untuk

membersihkan rongga mulut, gigi dan lidah untuk

mempertahankan mulut tetap bersih dan sehat. Hygiene mulut

yang baik memberikan rasa sehat dan selanjutnya menstimulasi

nafsu makan (Potter & Perry, 2005). Cara-cara merawat gigi dan

mulut meliputi :

1) Tidak makan makanan yang terlalu manis atau asam.

2) Sikat gigi minimal 2 kali sehari dengan pasta gigi

3) Sikat gigi/ berkumur sesudah makan

4) Sikat gigi saat sebelum tidur

5) Periksa gigi minimal 6 bulan sekali


11

6) Tidak menggunakan gigi untuk menggigit atau mencongkel

benda keras. (misal : membuka tutup botol) (Mubarak, 2007).

7) Mengganti sikat gigi yang digunakan setiap 3 bulan sekali

(Potter & Perry, 2005).

e. Prinsip kebersihan hidung, mata, dan telinga

Perhatian khusus diberikan untuk membersihkan mata,

telinga dan hidung saat mandi. Secara normal tidak ada

perawatan khusus yang diperlukan untuk mata karena secara

terus menerus dibersuhkan air mata. Hygiene telinga mempunyai

implikasi untuk ketajaman pendengaran bila substansi lilin atau

benda asing berkumpul pada kanal telinga luar yang

mengganggu konduksi suara. Khusus lansia rentan terkena

masalah ini. Hidung memberikan indera penciuman tetapi juga

memantau temperature dan kelembaban udara yang dihirup

serta mencegah masuknya partikel asing kedalam system

pernafasan. Akumulasi sekresi yang mengeras di dalam nares

dapat merusak sensori olfaktori dan pernafasan (Potter & Perry,

2005). Cara-cara merawat mata hidung dan telinga meliputi :

1) Usaplah kotoran mata dari sudut mata dari dalam ke luar, jika

mata sakit cepat di periksakan ke dokter.

2) Jaga agar lubang hidung tidak kemasukan air atau benda

asing, jangan mengeluarkan kotoran dari lubang hidung

dengan menggunakan jari karena dapat mengiritasi mukosa

hidung.
12

3) Bersihkan telinga bagian luar dan dalam, bila ada kotoran

yang menyumbat telinga keluarkan secara pelan dengan

menggunakan penyedot telinga, jangan mengeluarkan

menggunakan peniti atau jepit rambut untuk membersihakan

kotoran telinga karena dapat merusak gendang telinga

(Mubarak, 2007).

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi personal hygiene

a. Gambaran tubuh

Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi

kebersihan diri. Gambaran tubuh merupakan konsep subjektif

seseorang tentang penampilan fisiknya. Keadaan lansia secara

umum bisa mempengaruhi hygiene. Bagi lansia yang tidak

tertarik dengan hygiene dapat diberikan pendidikan tentang

pentingnya hygiene (Potter & Perry, 2005).

b. Status kesehatan

Kondisi sakit atau cedera akan menghambat kemampuan

individu dalam melakukan perawatan diri. Hal ini akan

berpengaruh pada tingkat kesehatan individu. Individu akan

semakin lemah yang pada akhirnya jatuh sakit (Mubarak, 2007).

c. Status sosial ekonomi

Sumber ekonomi lansia mempengaruhi jenis kebiasaan

hygiene. Untuk melakukan hygiene personal yang baik di

butuhkan sarana dan prasarana yang memadai, seperti kamar

mandi, peralatan mandi serta perlengkapan mandi yang cukup


13

dan itu semua membutuhkan biaya. Dengan kata lain, sumber

keuangan individu akan berpengaruh pada kemampuannya

mempertahankan hygene personal yang baik (Mubarak, 2007).

d. Pengetahuan.

Pengetahuan tentang pentingnya kebersihan untuk

mencapai tingkat kesehatan yang baik mempengaruhi

pelaksanaan hygiene. Pembelajaran tentang penyakit atau

kondisi yang mendorong individu untuk meningkatkan personal

hygienenya (Potter & Perry, 2005).

e. Faktor kebudayaan

Kepercayaan seseorang dan nilai-nilai kebudayaan

mempengaruhi perawatan hygiene. Lansia dari latar belakang

yang berbeda akan mempengaruhi pelaksanaan kebersihan

yang berbeda (Potter & Perry, 2005).

f. Kondisi fisik

Orang yang sudah lajut usia seringkali terjadi penurunan

tenaga untuk pemeliharaan kebersihanya. Dan lansia yang cacat

fisik atau tidak mampu beraktifitas perlu bantuan untuk mandi.

Kebersihan merupakan faktor penting dalam mempertahankan

derajat kesehatan individu (Potter & Perry, 2005).

g. Kesukaan pribadi

Setiap individu memiliki kesukaan pribadi dan memiliki

keinginan dan pilihan kapan untuk mandi bercukur atau

melakukan pemeliharaan rambut. Lansia mempunyai pilihan


14

produk misalnya; sabun, shampo,deodorant, dan pasta gigi.

Lansia juga mempunyai pilihan sendiri dalam melakukan hygiene

(Mubarak, 2007).