Anda di halaman 1dari 7

BAB V

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada BAB IV, maka

pada bab ini penulis akan membahas tentang personal hygiene pada

lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Puspakarma Mataram tahun 2014.

A. Kebersihan Kulit Pada Lansia


Berdasarkan hasil penelitian tentang kebersihan kulit pada lansia

didapatkan responden terbanyak adalah dalam kategori kurang. Hal ini

mengungkapkan bahwa lansia yang ada di Panti Sosial Tresna Werdha

Puspakarma Mataram masih banyak yang belum memenuhi standar

kebersihan kulit.
Berdasarkan hasil observasi dari lansia mereka mandi hanya 1

kali dalam sehari dan kadang-kadang tidak mandi hal ini dikarenakan

kondisi yang sudah tua dan keadaan yang kurang sehat sehingga tidak

mampu untuk sering ke kamar mandi. Beberapa pengakuan lansia

mereka malas mandi dikarenakan kondisi cuaca yang dingin.

Kebanyakan dari para lansia dengan kebersihan kulit kurang, rata-rata

mereka tidak menggosok tubuh mereka setelah mandi menggunakan

handuk, tidak membedakan penggunaan sabun, sabun yang digunakan

untuk badan juga digunakan untuk wajah, tidak pernah menggunakan

lotion atau pelembab untuk kulit setelah mandi, menurut mereka itu

karena kebiasaan yang mereka lakukan sejak dulu, dan

ketidakmampuan mereka dalam hal membeli handuk dan lotion atau

pelembab untuk kulit.

30
31

Hal ini sesuai dengan teori Potter & Perry (2005) dan Mubarak

(2007) yang mengatakan bahwa personal hygiene itu dapat dipengaruhi

oleh beberapa faktor, yaitu dalam penelitian ini faktor yang

mempengaruhi diantaranya status kesehatan dan kondisi fisik lansia

dimana orang yang sudah lajut usia seringkali terjadi penurunan tenaga

untuk pemeliharaan kebersihanya. Selanjutnya status sosial ekonomi

karena untuk melakukan hygiene personal yang baik membutuhkan

sarana dan prasarana yang memadai, kesukaan pribadi lansia untuk

memilih kapan waktunya mandi, dan memilih peralatan mandi yang

akan digunakan. Dan yang terakhir pengetahuan lansia tentang

pentingnya mandi untuk menjaga kebersihan dan kelembaban kulitnya.


Cara-cara perawatan kulit menurut teori Potter & Perry (2005)

yaitu : biasakan mandi minimal 2 kali sehari atau setelah beraktifitas,

gunakan sabun yang tidak bersifat iritatif, sabuni seluruh tubuh

terutama daerah lipatan kulit seperti sela-sela ketiak, belakang telinga,

jangan menggunakan sabun mandi untuk wajah, segera keringkan

tubuh dengan handuk yang lembut dari wajah, tangan, badan, hingga

kaki, menggunakan krim pelembab atau lotion setelah mandi.


B. Kebersihan Kuku Pada Lansia
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan kepada 65

responden yang ada didapatkan responden terbanyak adalah dalam

kategori cukup. Dari hal ini dapat dilihat bahwa dari lansia yang ada,

sebagian besar sudah bisa menjaga hygiene kuku mereka.


Berdasarkan hasil observasi pada lansia dengan kebersihan

kuku yang cukup rata-rata mereka memotong kuku sesuai dengan

bentuk kuku, tidak memotong kukunya terlalu pendek, selalu memotong


32

kuku bila sudah panjang, dan tidak pernah menggigit kuku. sedangkan

pada lansia dengan kebersihan kuku yang kurang, mereka sering

menggunakan benda tajam untuk membersihkan kuku. Seharusnya

membersihkan kuku dibersihkan tidak menggunakan benda tajam

karena hal itu dapat menyebabkan cedera pada jari terutama kuku.

Kemudian pada saat memotong kuku kaki lansia tidak merendam dulu

kuku kakinya menggunakan air atau memotong kuku kaki setelah

mandi untuk memudahkan ketika memotong, karena kuku kaki memiliki

tekstur yang lebih keras dan tebal dibandingkan kuku tangan terutama

pada lansia. Sehingga pada sebagian besar lansia dengan kebersihan

kuku yang kurang tampak kuku kaki mereka tidak pernah dipotong,

tampak panjang dan kotor. Hal ini di karenakan para lansia kebanyakan

tidak memiliki alat khusus pemotong kuku dan mereka sudah terbiasa

melakukan hal tersebut sejak lama.


Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Mubarak

(2007) dan Potter & Perry (2005), yang mengatakan bahwa personal

hygiene itu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu dalam

penelitian ini faktor yang mempengaruhi diantaranya yaitu kesukaan

pribadi karena setiap lansia memiliki cara-cara sendiri untuk

memelihara kebersihan kukunya, status sosial ekonomi lansia dan

pengetahuan dari lansia tentang bagaimana cara perawatan kuku yang

benar.
Cara-cara merawat kuku menurut teori Potter & Perry (2005)

meliputi : Kuku tangan dapat di potong mengikuti bentuk kuku jari

sedangkan kuku kaki di potong dalam bentuk lurus, jangan memotong


33

kuku terlalu pendek karena bisa melukai selaput kulit dan kulit sekitar

kuku, jangan membersihkan kotoran di balik kuku dengan benda tajam,

sebab akan merusak jaringan di bawah kuku, potong kuku seminggu

sekali atau sesuai kebutuhan, khusus untuk jari kaki sebaiknya kuku

dipotong setelah mandi atau di rendam dalam air hangat, jangan

menggigit kuku karena akan merusak bagian kuku.


C. Kebersihan Rambut Pada Lansia
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan kepada 65

orang responden yang didapatkan responden terbanyak dalam kategori

kebersihan rambut kurang, dalam hal ini dapat dilihat bahwa masih

banyak lansia yang belum mengetahui cara-cara perawatan rambut

yang benar.
Berdasarkan dari hasil observasi beberapa lansia dengan

kebersihan rambut kurang, lansia mencuci rambut hanya sekali dalam

seminggu, jarang sekali lansia yang menggunakan shampo, sehingga

terlihat kondisi rambut lansia tampak kusam. Saat mencuci rambut

lansia jarang bahkan tidak pernah memijat-mijat kulit kepala, ini

bertujuan untuk merangsang pertumbuhan rambut. Dan sebagian besar

lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Puspakarma Mataram tidak

pernah menggunakan minyak rambut untuk menjaga kelembaban

rambut. Hal ini dikarenakan sebagian besar lansia dengan kebersihan

rambut kurang mengatakan ini adalah kebiasaan yang mereka lakukan

sejak dahulu, ketidak mampuan mereka dalam membeli minyak rambut

atau pelembab rambut.


Hal ini sesuai dengan teori yang di kemukakan oleh Mubarak

(2007) dan Potter & Perry (2005) yang mengatakan bahwa personal
34

hygiene dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu diantaranya

adalah pengetahuan dari lansia tentang bagaimana cara perawatan

rambut yang benar, status sosial ekonomi yang terbatas sehingga

mereka tidak bisa membeli prasarana yang tidak disediakan oleh panti,

dan kesukaan pribadi lansia karena setiap lansia memiliki cara-cara

sendiri untuk memelihara kebersihan rambutnya.


Menurut teori dari Mubarak (2007) cara-cara merawat rambut

meliputi : Cuci rambut minimal 2 hari sekali atau 3 kali seminggu

menggunakan shampoo, pijat-pijat kulit kepala pada saat mencuci

rambut untuk merangsang pertumbuhan rambut, pangkas rambut agar

terlihat rapi, menyisir rambut, jangan menggunakan sisir yang bergigi

tajam karena bisa melukai kulit kepala, mengolesi rambut dengan

minyak rambut.
D. Kebersihan Gigi dan Mulut Pada Lansia

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada 65 orang

responden yang ada, didapatkan responden terbanyak pada kategori

kebersihan gigi dan mulut kurang. Hal ini membuktikan bahwa

sebagian besar lansia yang ada di Panti Sosial Tresna Werdha

Puspakarma Mataram sangat kurang dalam menjaga kebersihan gigi

dan mulut mereka.

Berdasarkan dari hasil observasi, lansia yang berada pada

kategori kebersihan gigi dan mulut kurang mereka jarang bahkan tidak

pernah melakukan sikat gigi minimal 2 kali sehari, tidak pernah

menyikat gigi saat sehabis makan atau sebelum tidur, tidak pernah

memeriksakan gigi minimal setiap 6 bulan sekali, dan jarang


35

mengganti sikat gigi yang mereka pakai. Hal ini disebabkan oleh

keadaan lansia yang tidak memungkinkan untuk melakukan

perawatan gigi dan mulut yang sesuai dikarenakan hampir sebagian

besar lansia yang ada tidak memiliki gigi dikarenakan usia yang sudah

tua, mereka juga tidak memungkinkan untuk melakukan

pemerikasaan gigi secara rutin. Beberapa dari mereka juga

mengatakan malas untuk menyikat gigi, mereka lebih memilih

berkumur-kumur saja untuk membersihkan gigi dan mulut mereka.

Terdapat hanya beberapa lansia yang menggunakan gigi palsu

dikarenakan keadaan sosial ekonomi yang tidak memungkinkan untuk

mereka membeli dan menggunkan gigi palsu.

Dalam teori yang dikemukakan oleh Potter & Perry (2005) dan

Mubarak (2007) dikatakan personal hygiene atau kebersihan diri itu

dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya dalam penelitian

ini dipengaruhi oleh kondisi fisik dan status kesehatan dari lansia yang

tidak memungkinkan mereka untuk melakukan perawatan gigi dan

mulut secara optimal. Kesukaan pribadi dari lansia, karena mereka

memiliki keinginan dan pilihan sendiri untuk menjaga kebersihan gigi

dan mulut mereka, status sosial ekonomi lansia yang tidak

memungkinkan untuk mereka melakukan perawatan gigi secara

optimal dan maksimal, dan pengetahuan dari lansia itu mengenai cara

perawatan gigi dan mulut yang benar dan sesuai.

Menurut teori yang dikemukakan oleh Potter & Perry (2005)

cara-cara menjaga kebersihan gigi dan mulut sebagai berikut : Tidak


36

makan makanan yang terlalu manis atau asam, sikat gigi minimal 2

kali sehari dengan pasta gigi, sikat gigi/ berkumur sesudah makan,

sikat gigi saat sebelum tidur, periksa gigi minimal 6 bulan sekali, tidak

menggunakan gigi untuk menggigit atau mencongkel benda keras.

(misal : membuka tutup botol), mengganti sikat gigi yang digunakan

setiap 3 bulan sekali.